، بسم الله، الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه والتابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.
يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالًا كثيرًا ونساءً واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبًا. يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولًا سديدًا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزًا عظيمًا. أما بعد.
Kaum muslimin dan muslimat, pemirsa Rodja TV, pendengar Radio Rodja, dan seluruh kaum muslimin yang mengikuti pengajian ini, semoga Allah عز وجل memberi kita kekuatan dan taufik untuk memakmurkan hari-hari ini, 10 hari pertama bulan Zulhijah. Dan kita berharap Allah memberi kita taufik agar menjadi orang yang bisa memanfaatkan hari-hari ini untuk beribadah kepada Allah. Kita pernah mendengar Nabi صلى الله عليه وسلم berdoa setiap habis salat, mewasiatkan kepada Mu’adz رضي الله عنه dengan memberi mukadimah agar lebih diperhatikan: “والله يا معاذ إني لأحبك، أوصيك يا معاذ”, “Wahai Mu’adz, demi Allah aku cinta kepada engkau. Maka jangan engkau tinggalkan setiap habis salat untuk engkau doakan, engkau panjatkan kepada Allah: اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك.” “Ya Allah, aku minta pertolongan-Mu dalam menunaikan ibadah yang baik, zikir, dan bersyukur kepada Engkau.”
Ini menunjukkan bahwa sepandai apa pun orang dalam menunaikan ibadah, ketika dia tahu dalil dan berupaya untuk ikhlas membersihkan tujuan ibadahnya, kalau bukan karena pertolongan Allah, susah seseorang untuk melaksanakan ibadah. Maka kita minta pertolongan kepada Allah dalam masalah ibadah ini, agar betul-betul kita menjadi orang yang sukses. Dan pengajian ini kita juga berharap menjadi salah satu amal ibadah kita yang bisa memakmurkan 10 hari pertama ini.
Sebagaimana yang dulu pernah disampaikan sebagian masyaikh waktu di Madinah ketika belajar di perkuliahan, lalu ada sebagian mahasiswa seperti biasa mengatakan, “Ya Syekh, kita ini sudah di 10 hari pertama bulan Zulhijah, sebentar lagi musim haji. Alangkah baiknya kita bersiap untuk musim haji. Kita libur saja atau kita belajar dikurangi, tidak terlalu banyak seperti hari-hari biasanya.” Maka Syekh mengingatkan, “Justru 10 hari pertama bulan Zulhijah yang diperintahkan untuk ibadah ini kita bisa manfaatkan untuk belajar.” Apalagi yang dipelajari adalah hadis, maka justru ini merupakan ibadah yang mulia di antara ibadah utama lainnya.
Kaum muslimin رحماني ورحمكم الله, seperti yang disampaikan tadi, kita bersyukur kepada Allah setelah selesai mengkhatamkan kitab mukadimah Sahih Muslim, maka بإذن الله mulai malam hari ini kita akan memulai kitab hadis yang berbicara tentang semua pembahasan dalam syariah, dalam kebiasaan, maupun kategori penulisan para ulama dalam menyusun hadis Nabi صلى الله عليه وسلم.
Mereka memiliki berbagai cara dan metodologi. Sebagian ulama, terutama para متقدمون (ulama hadis terdahulu), mereka mengumpulkan berbagai riwayat dengan sanad dalam jumlah besar, dan ini yang kemudian dikenal menjadi buku-buku induk dan referensi utama seperti الأمهات الست, enam buku rujukan utama dalam hadis: Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Daud, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah. Kemudian ada Musnad Imam Ahmad, ada Muwatha’ Malik, kemudian Sunan Ad-Darimi. Ada lagi Musannafat, seperti Musannaf Abdurrazzaq Ash-Shan’ani, kemudian Musannaf Ibnu Abi Syaibah. Ada pula Sunan lainnya seperti Sunan Sa’id bin Mansur, kemudian ada Al-Muntaqa karya Ibnul Jarud. Kemudian ada Mu’ajim seperti Al-Mu’jam Al-Kabir karya Ath-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Ausath.
Ada beberapa tulisan yang dikhususkan untuk memfasilitasi kitab-kitab itu agar diketahui apakah sahih atau tidak. Maka ditulislah buku-buku tentang berbagai biografi para ulama dari sisi الجرح والتعديل, apakah kuat hafalannya, pantaskah dipelajari ilmunya, seperti yang kita pelajari ada kaitannya dengan yang kita sebutkan dalam mukadimah Syarah Sahih Muslim. Ada buku رجال namanya, ada Tarikh al-Kabir karya Al-Bukhari, ada At-Tabaqat al-Kubra karya Muhammad Ibnu Sa’ad. Kemudian ada Al-Majruhin karya Ibnu Hibban, Ats-Tsiqat karya beliau juga, ada Al-Kamil fi Dhu’afa ar-Rijal karya Ibnu ‘Adi, dan buku lainnya yang berkaitan dengan masalah رجال الأحاديث (para perawi hadis).
Kemudian ada juga buku yang disusun untuk memberikan pemahaman, penjelasan, dan faedah yang dikandung dalam lafaz-lafaz hadis, yang dikenal dengan كتب الشروح (buku-buku penjelasan). Maka ada Fathul Bari dalam mensyarah Sahih Bukhari, kemudian ada A’lamul Hadis yang ditulis oleh Al-Khaththabi juga syarah Sahih Bukhari. Ada juga syarah An-Nawawi namanya Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn al-Hajjaj. Untuk mensyarah Sahih Muslim, ada ‘Aunul Ma’bud karya Al-‘Azhim Abadi dalam mensyarah Sunan Abi Daud, dan seterusnya.
Ada pula para ulama yang berupaya memberikan kemudahan bagi kaum muslimin untuk memahami hadis dengan menguasai muatannya: pembahasan ibadah, pembahasan akhlak, pembahasan akidah. Sehingga mereka menyusun buku-buku yang berkaitan dengan hadis موضوعي (sesuai dengan judul dan tema). Di antaranya كتب الأحكام, buku yang menjelaskan tentang dalil fikih halal haram, contohnya Bulughul Maram. Bulughul Maram yang ditulis oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar isinya adalah hadis yang berkaitan dengan pembahasan fikih yang sering digunakan oleh para fuqaha dalam menjelaskan tentang masalah ibadah, masalah akad, dan seterusnya, dari awal كتاب الطهارة sampai di bagian akhir tentang buku akhlak, kemudian yang bisa membuat seorang tertarik kepada ibadah sehingga dikenal dengan الترغيب والترهيب. Nah, dikumpulkanlah hadis-hadis itu. Ada pula hadis yang berkaitan dengan perintah untuk mengingat akhirat seperti الزهد والرقائق, isinya hadis. Sebagian menggunakan sanad, sebagian tidak menggunakan sanad.
Baik, kitab yang akan kita bahas judulnya صحيح الجامع الصغير. Asalnya adalah karya Al-Hafizh As-Suyuthi رحمه الله. Al-Hafizh As-Suyuthi meninggal tahun 911 H. Beliau ini dikenal dengan صاحب القلم السيال, seorang penulis handal dan memang banyak sekali karyanya, sampai disebutkan dalam beberapa biografi beliau ini memiliki sampai 1000 tulisan karya tulis ilmiah karena memang rajin dalam menulis dan ilmunya yang luas dan dalam. Beliau ini memiliki kumpulan hadis-hadis yang banyak ketika beliau menjadi seorang ulama yang bisa dikategorikan متأخرين. Salah satu murid dari Al-Hafizh Ibnu Hajar. Al-Hafizh Ibnu Hajar meninggal tahun 852 H, sementara beliau meninggal tahun 911 H. Beliau dilahirkan di tahun 849 H, sehingga ketika wafat usia beliau sekitar 62 tahun. Namun karya beliau banyak sekali dimanfaatkan oleh kaum muslimin hingga saat ini, diterima, kemudian dipelajari.
Kita bayangkan bagaimana seorang alim memiliki tulisan kemudian tulisannya dipelajari oleh murid-muridnya, bahkan kaum muslimin yang berganti abad dari berbagai generasi. Kira-kira tanpa didoakan saja, pahala mengalir menjadi علم ينتفع به, ilmu yang bermanfaat. Maka والله أعلم bisa jadi ini menjadi salah satu tanda keikhlasan mereka, bermanfaatnya ilmu mereka. Tidak perlu kita doakan saja, manfaat itu mengalir dan mereka akan mendapatkan pahalanya. Nah, kita pun berharap seperti itu, bagaimana para ulama menulis, mengajarkan, mengamalkan, kita meniti jalan mereka.
Al-Hafizh As-Suyuthi رحمه الله, karya hadis beliau banyak. Di antaranya seperti Tadribur Rawi dalam ilmu mustalah, dalam ilmu Al-Qur’an memiliki kitab Al-Itqan fi Ulumil Qur’an. Kemudian dalam tafsir, beliau kita sering dengar ada Tafsir Al-Jalalain. Ini karya beliau dan ada satu Jalaluddin lain namanya Jalaluddin Al-Mahalli. Nah, yang beliau tulis sendiri ada juga Ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma’tsur. Ini dicetak dalam sekitar 12 jilid. Kemudian beliau juga punya buku tentang bahasa Al-Asybah wan Nazha’ir. Termasuk beliau juga memiliki kitab yang sedang kita akan bahas. Beliau ini seorang Arab, bermazhab Syafi’i, dan dilahirkan di daerah Mesir. “As-Suyuthi” sendiri dinisbatkan kepada sebuah daerah namanya Suyut atau Asyut. Maka beliau juga dikatakan As-Suyuthi karena memang ini merupakan salah satu bagian daerah di negeri Mesir, bahkan sekarang menjadi satu provinsi, والله أعلم, ada kampus namanya juga Kampus Asyut.
Beliau dilahirkan di sana dan سبحان الله ayahnya wafat di usia 6 tahun. Tetapi seperti kondisi para penuntut ilmu di zamannya, hal itu tidak membuat beliau mundur, kendor, dan juga patah arang. Justru beliau semangat untuk mulai belajar. Di usia itu beliau menghafal Al-Qur’an, bahkan menghafal Alfiyah Nahwu. Kemudian beliau mulai membaca kitab-kitab dalam mazhab Syafi’i seperti Minhajut Thalibin karya Al-Imam An-Nawawi. Lalu beliau mulai memperdalam, mulai membaca kepada guru-guru, kemudian sampai mendapatkan kepercayaan mulai diberikan izin untuk mengajar di usia yang masih belia. Beliau mulai bisa menyampaikan ilmu di masjid jami’, ada istilah namanya جامع شيخون kalau tidak salah. Itu disebutkan dalam biografi beliau, ada sebuah masjid besar, beliau diizinkan untuk memberikan pelajaran kepada kaum muslimin ketika usia beliau baru 18 tahun, ketika memang keilmuannya menjadi sesuatu yang tidak diragukan, dengan ijazah kemudian persaksian dari para alim di zaman itu.
Nah, beliau ini menulis karya yang banyak, di antaranya beliau memiliki kumpulan hadis-hadis karena banyaknya sampai dikatakan الجامع الكبير, kumpulan yang sangat besar dari hadis-hadis Nabi صلى الله عليه وسلم atau sering juga dikenal dengan جمع الجوامع. Setelah itu, beliau ingin meringkas agar mudah untuk dipelajari kaum muslimin. Maka beliau pilih beberapa hadis, diringkas dari hadis yang tadi الجامع الكبير itu, akhirnya dikasih nama الجامع الصغير, kumpulan hadis-hadis yang lebih kecil daripada kumpulan hadis yang besar tadi. Tapi meskipun الجامع الصغير kecil begini, jumlahnya ada lebih dari 10.000 hadis. Akan tetapi beliau katakan bahwa hadis ini aku sengaja untuk meringkas dari karyaku sebelumnya الجامع الكبير. Dan beliau memang sengaja membuat tulisan ini mudah dengan cara meringkas hadis yang disebutkan. Beliau tidak menyebutkan hadis yang panjang, meskipun sebagian hadisnya panjang seperti hadis yang keempat. Akan tetapi beliau lebih ingin agar hadis yang beliau sampaikan ini mudah dicerna, dipelajari, sehingga yang dipilih adalah hadis-hadis yang rata-rata pendek atau beliau ringkas.
Kemudian beliau susun bukan seperti kebiasaan para ulama disesuaikan urutan pembahasan fikih: air, bejana, kemudian tata cara bersuci, kemudian mulai tayamum, lalu salat, dan seterusnya. Tidak. Beliau menyusunnya dengan cara memulai sesuai urutan huruf hijaiyah, dimulai dari hadis-hadis yang diawali dengan huruf alif atau hamzah, baru setelah itu dilanjutkan dengan hadis-hadis yang diawali dengan huruf ba’, dan seterusnya. Ini memang unik seperti daftar isi, akan tetapi para ulama mereka memiliki karakter khusus dalam tulisan mereka, kita tinggal menikmati karya-karya mereka.
Buku ini diterima oleh kaum muslimin, dipelajari, dan banyak yang membaca. Bahkan ditulislah syarah-syarah, termasuk di antaranya adalah syarah yang sangat dikenal penulisnya namanya Al-Munawi dalam فيض القدير. Ya, فيض القدير في شرح أحاديث البشير النذير, karena kitab yang kita bahas ini adalah الجامع الصغير من حديث البشير النذير, kumpulan hadis yang sedikit atau yang kecil kata penulisnya dari hadisnya seorang rasul صلى الله عليه وسلم, pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.
Nah, kemudian hadis ini ketika banyak kaum muslimin mempelajari, Asy-Syaikh Al-Albani رحمه الله beliau mengatakan sangat sayang ketika hadis ini bercampur antara yang sahih dengan yang tidak sahih. Bahkan sebagian hadis ini meskipun Al-Imam Al-Hafizh As-Suyuthi berupaya untuk menyebutkan hadis-hadis yang tidak sampai lemah sekali, akan tetapi beliau juga ternyata menyebutkan pada beberapa tempat hadis ini memang ada yang lemah sekali. Maka kata Asy-Syaikh Al-Albani رحمه الله, “Aku ingin agar manfaat ini lebih besar sehingga aku ingin meneliti, menelaah dari tinjauan sanad. Setelah itu yang sahih aku sendirikan, yang lemah disendirikan agar kaum muslimin tahu mana yang pantas untuk dipegangi karena memang kekuatan sanadnya bisa dipertanggungjawabkan, sementara hadis yang lemah apalagi sampai palsu, memang kaum muslimin perlu tahu bahwa ini sebenarnya kalaupun disebutkan, disebutkan karena itu lemah.”
Asy-Syaikh Al-Albani رحمه الله sendiri seorang ulama, bisa dikategorikan ulama معاصرون atau ulama kontemporer. Kita kenal beliau sosok ulama مجدد. Ilmu yang banyak bahkan karya-karya beliau kebanyakan berkutat tentang hadis, takhrij, menelaah keabsahan, keotentikan sebuah riwayat. Karya beliau yang paling monumental adalah سلسلة الأحاديث الصحيحة dan سلسلة الأحاديث الضعيفة والموضوعة. Rangkaian hadis-hadis yang sahih, rangkaian hadis-hadis yang tidak sahih, yang lemah. Kemudian ada juga beliau takhrij seperti Sunan Abi Dawud. Kemudian beliau juga mengupas tuntas tentang riwayat-riwayat yang berkaitan dengan salat, maka beliau tulis buku صفة صلاة النبي صلى الله عليه وسلم dalam tiga jilid. Lalu beliau ringkas dalam satu jilid yang ringkas ketika sebagian kaum muslimin ingin mempelajari tata cara salat Nabi صلى الله عليه وسلم seperti yang engkau lihat, dimulai dengan takbir hadisnya apa saja, kemudian iftitah bacaannya apa saja, dan seterusnya.
Syekh Al-Albani رحمه الله beliau adalah orang asing, sebenarnya kita katakan asing bukan orang Arab. Seperti namanya الشيخ الألباني, dinisbatkan kepada Albania. Dan memang beliau orang Albania aslinya. Bahkan beliau tinggal di daerah ibu kota Albania di zaman itu. Beliau dididik oleh ayahnya sendiri. Kalau orang bilang Syekh Al-Albani ini hanya orang yang belajar dengan otodidak, tidak pernah punya guru, ini karena tidak kenal kepada beliau. Beliau ini justru seorang yang sekalipun tidak banyak masyaikhnya, tidak seperti As-Suyuthi رحمه الله yang disebutkan dalam biografinya gurunya sampai 300 orang. Kalau kita hitung memang dari sejak kita SD atau bahkan TK atau sebelum TK sampai kita lulus S3 atau yang lebih dari itu, kemudian kita kajian, kita diskusi, kita anggap mereka semua adalah guru kita, barangkali tidak sampai 300. Tapi kita lihat bahwa para ulama mereka memiliki nafas yang panjang dan kesabaran yang luar biasa dalam belajar, sehingga guru mereka, tulisan mereka, bacaan mereka, hafalan mereka sudah seolah-olah memang kita jauh dari mereka.
Akan tetapi, Asy-Syaikh Al-Albani رحمه الله beliau pun menerapkan metode yang diterapkan para ulama ketika belajar kepada orang terdekat. Ayah beliau seorang ulama dalam mazhab Hanafi. Beliau belajar di daerah Turki kemudian pulang ke daerah asalnya di daerah Albania. Kemudian setelah itu beliau merasa bagaimana kondisi sekuler yang sangat keras dan kelihatan sekali sampai disebutkan oleh Syekh Al-Albani رحمه الله bagaimana wanita muslimah di daerah Albania dilarang untuk menggunakan jilbab. Ini kata ayahnya, “Ini bahaya ini keluargaku. Sekarang kita pindah.” Akhirnya Syekh Albani cerita, “Ini aku sampaikan kepada sejarah bahwa saya bersyukur kepada Allah kemudian berterima kasih kepada orang tuaku, dan saya ucapkan selamat kepada semua anak ketika orang tua kita mengajak kita pindah tempat.” Syekh Al-Albani diajak pindah oleh ayahnya dan semua keluarga ketika beliau masih di usia SD ke tanah Arab, daerah Syam, tepatnya di daerah Damaskus, Suriah. Dan beliau katakan, “Saya bersyukur kepada Allah yang tidak bisa dihitung sama sekali, bagaimana setelah aku tinggal di daerah Albania kemudian pindah ke negara Arab, Damaskus, sehingga aku bisa menggunakan bahasa Arab lalu aku bisa belajar semua تراث atau berbagai ilmu agama dalam Islam setelah pindah di situ.” Sehingga kalau kita mendengarkan kajian-kajian Syekh Al-Albani, kita betul-betul merasakan bagaimana logat itu kental dengan logat daerah Syam. Karena memang dari kecil di sana.
Ketika beliau akhirnya dimasukkan ke sekolahan tingkat SD, orang tuanya merasa kurang mantap. “Ah, Nak. Ayah ingin ajarkan sendiri.” Sehingga cukup SD, setelah itu digembleng oleh ayahnya sendiri. Al-Qur’an selesai dari ayahnya, kemudian mazhab Hanafi diselesaikan kepada ayahnya. Bukan hanya itu, beliau diarahkan—beliau cerita sendiri, Syekh Albani—”Akhirnya aku diarahkan ke teman ayahku seorang ulama dalam mazhab Hanafi.” Dan memang beliau belajar fikih mazhab Hanafi karena memang daerah itu kebetulan banyak orang-orang Eropa, sampai sekarang mereka banyak yang menganut mazhab Hanafi, seperti juga orang-orang Pakistan, India, dan sekitarnya. Yang jelas Asy-Syaikh menganut mazhab Hanafi, belajar dari seorang alim mazhab Hanafi namanya Said Al-Burhani waktu itu, mengkhatamkan beberapa kitab dalam mazhab Hanafi. Selesai, kemudian belajar dari seorang Syekh namanya Muhammad Raghib ath-Thabbakh al-Halabi. Bisa dikatakan Syekh itu merupakan salah satu senior dalam ulama di kala itu. Beliau belajar bahasa, Al-Qur’an, tajwid dari ayahnya, kemudian belajar bahasa dari orang-orang situ, dan dalam mazhab Hanafi dari ulama mazhabnya. Lalu setelah itulah beliau mulai mempelajari ilmu hadis. Beliau tinggal atau sempat berangkat ke daerah Hijaz dan beliau tertarik setelah membaca beberapa tulisan beberapa ulama Mesir yang menuliskan tentang ilmu hadis.
Intinya, beliau akhirnya memberikan hidupnya untuk ilmu hadis. Bukan hanya sekedar karena nobel, beliau mendapatkan Nobel Malik Faisal kalau tidak salah dalam خدمة atau memperjuangkan ilmu muslimin, paham dan ‘melek’ kata orang sekarang tentang ilmu hadis, bahwa hadis itu ada yang sahih dan ada yang tidak sahih. Beliau juga bercerita, “Di antara nikmat yang Allah berikan kepadaku, aku bisa menamakan anak-anakku dengan nama penghambaan kepada-Nya.” Beliau memiliki kurang lebih sekitar 15 atau 16 anak, di antaranya ada kisaran 11 anak laki-laki, karena memang beliau sempat menikah empat kali dan dari istri yang keempat tidak memiliki keturunan. Istri yang pertama ada tiga anak laki-laki, beliau kasih nama Abdurrazzaq, Abdul Lathif, dan Abdurrahman. Abdurrahman yang pertama sehingga beliau sering dikenal dengan أبو عبد الرحمن. Kemudian dari istri berikutnya punya anak laki-laki dua lagi, maka dikasih nama Abdul A’la dan satunya Abdul Mushawwir. Kata Syekh Albani, “Aku hampir tidak pernah dengar ada seorang ulama yang menamakan anaknya Abdul Mushawwir,” dan itu boleh karena المصور nama dari sekian nama Allah Subhanahu wa ta’ala. Jadi Abdul Mushawwir ini salah satu anaknya Syekh Albani. Kemudian ketika beliau ke daerah Hijaz di Madinah, beliau punya anak lagi laki-laki baru dikasih nama Muhammad. Setelah itu beliau punya anak lagi, maka dinamakan Abdul Muhaimin. Dan beliau juga punya beberapa anak perempuan seperti Asiyah, Anisah, Salamah, dan beberapa lainnya.
Yang jelas ini sekelumit tentang Asy-Syaikh Al-Albani رحمه الله. Dan beliau ketika menyaksikan kitab الجامع الصغير, beliau mengatakan, “Ini sayang, buku yang benar-benar banyak ditelaah kaum muslimin, akan tetapi masih campur antara hadis yang sahih dan tidak sahih.” Maka beliau tergerak untuk mengabdi istilahnya kepada Islam dengan memberikan penilaian, penelaahan dalam penelitian sanad hadis-hadis kitab الجامع الصغير. Lalu beliau memisahkan hadis yang sahih dari hadis yang dha’if. Dan ini akan kita pelajari, insyaallah, agar lebih mudah untuk kita kenal dan kita pelajari, kita memilih hadis-hadis yang sahih. صحيح الجامع الصغير memuat beberapa hadis yang tidak disebutkan khusus spesifikasi dalam masalah hukum, tidak, tapi intinya berkaitan dengan semuanya: berkaitan dengan tauhid, berkaitan tentang kejadian manusia, berkaitan tentang berita, berkaitan juga tentang akhlak dan أصول الإسلام yang berkaitan dengan pokok-pokok prinsip dalam Islam. Semua disebutkan sebagaimana tujuan As-Suyuthi رحمه الله menamakan kitabnya الجامع, lengkap, kumpulan yang komprehensif dalam hadis-hadis Islam.
Ketika diringkas, As-Suyuthi رحمه الله juga ingin memberikan rumus agar mudah untuk diketahui hadis ini hukumnya bagaimana. Terkadang dikasih tulisan ص alias sahih, terkadang dikasih tulisan ض alias dha’if. Sebagaimana ada beberapa rumus juga yang dituliskan bahwa hadis ini sebenarnya… sebagaimana Al-Suyuthi رحمه الله tidak menyebutkan sanad, maka beliau akan menyebutkan sebagai isyarat siapa di antara pemilik atau penulis buku induk yang sempat menyebutkan hadis ini. Contohnya, sebuah hadis ternyata diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam kitab المعجم, maka beliau akan kasih tulisan ط. طبراني في الأوسط kalau tidak salah, في معجم الكبير. نعم. Kemudian Al-Baihaqi jika seandainya meriwayatkan dalam kitab sunan, maka akan ditulis هق. Kalau seandainya Al-Baihaqi meriwayatkan sebuah hadis dalam kitab lain, maka tetap dalam kitab الجامع الصغير ditulis singkat tapi di belakangnya ditulis هب, contohnya Al-Baihaqi meriwayatkan dalam شعب الإيمان. Nah, kalau seandainya hadis itu ternyata diriwayatkan oleh Abu Daud, kasih tulisan د; ternyata diriwayatkan oleh An-Nasa’i, tulisan ن, dan seterusnya. Dan ini juga akan dipraktikkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani رحمه الله ketika sebuah hadis sahih, ternyata misalkan As-Suyuthi رحمه الله tidak menyebutkan siapa yang meriwayatkan, maka beliau akan tambahi. Beliau akan tambahi tulisan misalkan م, hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan seterusnya. Sehingga, insyaallah, kita akan pelajari contohnya beberapa hadis ini dan seterusnya بإذن الله, kita akan mengkaji hadis-hadis yang sahih ini dengan melihat bahwa hadis ini sangat singkat, ringkas, tapi sarat dengan muatan makna sekaligus rumus-rumus yang tadi sudah disebutkan.
Baik, بإذن الله kita akan pelajari tiga hadis yang disebutkan pada kitab صحيح الجامع الصغير. Hadis yang pertama, kita lihat dari حرف الألف. Dalam kitab حرف الألف, disebutkan hadis yang pertama: آتِي بَابَ الْجَنَّةِ فَأَسْتَفْتِحُ. “Aku mendatangi surga.” Ini Rasul صلى الله عليه وسلم yang bersabda. Rasul صلى الله عليه وسلم bersabda, “Aku akan mendatangi pintu surga, فَأَسْتَفْتِحُ.” Maka aku akan minta agar pintu surga itu dibuka. Al-Munawi رحمه الله dalam kitab فيض القدير beliau mengatakan hadis ini menunjukkan berbagai kandungan faedah. Ketika beliau mengatakan آتِي, kata Al-Munawi—Al-Munawi ini seorang ulama Mesir, orang Arab asli dan ahli bahasa, beliau menukil dari berbagai referensi bahasa juga—beliau mengatakan, “Kenapa menggunakan آتِي?” آتِي itu artinya aku datang. Dalam bahasa Arab yang lain ada kata-kata أَجِيءُ, aku juga datang. Tetapi disebutkan bahwa الإتيان sebuah kedatangan yang disertai dengan ketenangan. Kata beliau, dalam bahasa Arab seperti itu. Orang datang bisa jadi dengan terburu-buru atau datang karena memang mau tidak mau harus datang, atau dia datang dengan tenang, dengan suka dan pilihannya dan dia tidak takut sama sekali, maka digunakanlah kata-kata ini.
Kata Al-Munawi رحمه الله, بَابَ الْجَنَّةِ disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa pintu surga ini memang besar. Sebagian menyebutkan terbuat dari emas, kemudian pegangannya dari perak, sekalipun sebagian hadis-hadis itu memang juga ada yang perlu diperbincangkan sanadnya. فَأَسْتَفْتِحُ, maka aku minta agar pintu itu dibuka. Kata Al-Munawi رحمه الله dalam فيض القدير, beliau mengatakan ini ada isyarat bahwa beliau ini sebenarnya yakin akan dibukakan. Beliau tidak akan datang kemudian mengatakan, “Tolong dibukain,” tidak. Akan tetapi beliau memang sudah tahu, orang pertama yang akan diizinkan untuk masuk ke dalam surga. Beliau sudah tahu hingga beliau ketika sampai di situ, beliau minta agar dibukakan pintu itu. Dan ini juga menunjukkan bahwa di dalam surga ada malaikat yang menjaga pintunya. Baik. Dalam hadis ini disebutkan, فَيَقُولُ الْخَازِنُ, maka penjaga pintu surga akan mengatakan. الْخَازِنُ adalah sang penjaga. Dan ini, kata para ulama, kalau tidak salah disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar atau Al-Imam An-Nawawi dalam syarah hadis ini—hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim seperti kita sebutkan tadi. Coba lihat di bagian akhir, حم م. حم itu artinya hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Sahih. Berarti hadis ini memang sahih. Kemudian م ini adalah rumus untuk Imam Muslim dalam Sahihnya dari sahabat Anas. Adapun الصحيحة ٧٧٤ ini adalah tulisan yang disebutkan oleh Syekh Al-Albani رحمه الله: “Aku telah mentakhrij hadis ini dalam kitab سلسلة الأحاديث الصحيحة. Kalau mau secara lengkap tahu tentang pembahasannya, silakan merujuk pada kitab saya yang itu,” kata Syekh Albani.
Tapi ini sekarang, الْخَازِنُ adalah penjaga surga. Tidak ada dalil yang menunjukkan dengan sanad yang sahih bahwa penjaga pintu surga namanya Ridwan. Ada riwayat-riwayat tapi lemah. Adapun yang sahih adalah ini, hadis di dalam Sahih Muslim. Hadis ini terdapat dalam Sahih Muslim, tidak dikatakan selain الْخَازِنُ. Begitu. Al-Imam An-Nawawi رحمه الله beliau mengatakan, فَيَقُولُ الْخَازِنُ, maka sang penjaga mengatakan. Penjaga itu berapa? Kalau dilihat dari konteksnya ada alif lam, berarti penjaga itu hanya satu. Tetapi والله أعلم, pintu surga tidak terbatas dan penjaganya juga tidak terbatas. Di antara dalil yang disebutkan adalah hadis yang sahih ketika Nabi صلى الله عليه وسلم menyatakan, “مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ دَعَتْهُ خَزَنَةُ الْجَنَّةِ”, “Wahai hamba Allah, ini adalah kebaikan.” Dalam Sahih Bukhari. Dalam beberapa riwayat disebutkan lafaznya مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ دَعَتْهُ خَزَنَةُ الْجَنَّةِ. Dia akan dipanggil oleh para penjaga pintu surga. خَزَنَةُ الْجَنَّةِ, خَزَنَة artinya jamak dari خَازِن. Sehingga ini menunjukkan bahwa penjaga pintu surga ini banyak. Tetapi mungkin saja yang paling gede, yang paling senior, atau yang paling dijadikan terhormat adalah satu orang. Dan ini pantas ketika yang masuk adalah Rasul صلى الله عليه وسلم sebagai سيد البشر, maka yang menyambut adalah sayyidnya para malaikat, para penjaga pintu itu. فَيَقُولُ الْخَازِنُ, maka yang menjaga bertanya, “مَنْ أَنْتَ؟” “Siapa engkau?” فَأَقُولُ مُحَمَّدٌ. Maka aku akan mengatakan, “Aku adalah Muhammad.”
Nah, ini beliau dengan ketawadhu’annya mengatakan namanya. Dan sempat disebutkan oleh Al-Munawi, Rasul صلى الله عليه وسلم mengatakan nama tapi tidak mengatakan “saya”. Ada sebuah hadis yang melarang itu ketika kita datang ke satu rumah orang kemudian orangnya bertanya siapa di luar, lalu kita bilang, “Ini saya.” Maka Nabi صلى الله عليه وسلم marah, “أَنَا أَنَا” begitu. Artinya ketika Nabi صلى الله عليه وسلم mendengar ada orang ditanya, “Kamu siapa?” lalu dia mengatakan, “Saya ini, saya ini,” maka Nabi صلى الله عليه وسلم ingkari, “أَنَا أَنَا”, sebutkan namanya. Ibnu Jauzi رحمه الله sempat mengatakan, “Saya adalah kata-kata yang mengesankan kesombongan. Seolah ini saya, semua orang kenal, tidak perlu saya sebutkan nama saya.” Begitu, meskipun tidak secara mutlak, karena Nabi صلى الله عليه وسلم pun pernah beliau mengatakan, “أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَلَا فَخْرَ”, “Aku adalah seorang pemimpin manusia dan aku tidak sombong dalam menyebutkan ini.” Sehingga kata-kata أَنَا ini tidak bagus kalau seandainya diiringi atau mengesankan kesombongan dan kelebihan diri.
Rasul صلى الله عليه وسلم sampai menyebutkan dirinya dengan nama Muhammad. فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ أَنْ لَا أَفْتَحَ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ. Maka penjaga pintu surga mengatakan, “Untukmulah aku diperintahkan Allah Subhanahu wa ta’ala untuk membukakan dan aku tidak boleh membuka pintu ini sebelum kamu datang.” Ini disebutkan ketika Rasul صلى الله عليه وسلم menyebutkan Muhammad, tidak ada yang ragu bahwa Muhammad ini adalah nama hamba Allah yang banyak sekali. Akan tetapi tidak terjadi kebingungan di sini karena para malaikat tahu siapa Muhammad yang dimaksud. Muhammad Rasul صلى الله عليه وسلم pernah juga datang ke peristiwa Isra’ dan Mi’raj, sehingga tidak perlu dipanjang lebarkan Muhammad siapa dan seterusnya. Dan di sini menunjukkan tentang fadilah Rasul صلى الله عليه وسلم ketika beliau menjadi orang pertama yang akan masuk surga.
Baik. Dalam riwayat ini dikatakan, فَأَسْتَفْتِحُ, aku minta agar dibukakan pintu. Bagaimana caranya membuka pintu? Apakah teriak? Tidak. Nabi صلى الله عليه وسلم dalam sebuah hadis yang sahih oleh Imam Bukhari dan Muslim, beliau mengatakan, “أَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ”, “Aku adalah orang pertama yang akan mengetuk pintu surga.” Sehingga ini merupakan kelebihan yang lebih jelas. Rasul صلى الله عليه وسلم minta dibukakannya dengan cara mengetuk pintu. Ah, ini Muhammad sudah datang. Dan ternyata para malaikat tahu sehingga mereka membukakan pintu untuk beliau صلى الله عليه وسلم. Terkadang beliau akan keluar untuk menyelamatkan umatnya, dan para ulama mengatakan ini tidak bertentangan dengan hadis ini, karena bisa jadi beliau masuk ke dalam surga nanti mungkin keluar lagi kemudian masuk lagi dan seterusnya. Intinya, hadis ini menunjukkan keutamaan Rasul صلى الله عليه وسلم, kemudian adanya surga dan orang beriman akan Allah balas dengan surga. Kemudian yang ketiga, surga ini memiliki pintu dan ada penjaganya. Al-Munawi رحمه الله mengatakan, “Kadang ada orang iseng berpikir, kenapa harus dijaga? Bukankah penjagaan itu untuk mengantisipasi barang hilang? Sementara di surga tidak bakal ada yang dikhawatirkan seperti itu.” Maka beliau mengatakan, “Tidak perlu dipikirkan seperti itu.” Dan bisa jadi tugas para malaikat adalah untuk memberikan hak-hak setiap penghuni surga. Tapi yang jelas ini menunjukkan keistimewaan setiap orang beriman yang bisa masuk ke dalam surga, ketika mereka diizinkan untuk masuk ke dalam surga. Dalam sebuah firman Allah dikatakan, “جَنَّاتِ عَدْنٍ مُفَتَّحَةً لَهُمُ الْأَبْوَابُ”, surga yang pintu-pintunya terbuka. Sebagian ulama mengatakan maksudnya pintu-pintu rumah atau pintu-pintu istana atau pintu-pintu yang memang setelah mereka masuk ke dalamnya terbuka sehingga mereka mudah untuk keluar masuk, kemudian mereka berbahagia menikmati yang ada di dalamnya. Semoga kita termasuk orang-orang yang Allah masukkan ke dalam surga. Baik, ini hadis yang pertama.
Hadis yang kedua yang disebutkan oleh Syekh Al-Albani رحمه الله: “آخِرُ مَا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ.” “Yang paling akhir didapatkan oleh manusia dari warisan perkataan para nabi yang dulu-dulu: Kalau kamu tidak malu, silakan engkau lakukan sesukamu.” Hadis ini sebenarnya disebutkan dalam Sahih Bukhari. Di sini disebutkan sahih, kemudian dikatakan Ibnu Asakir fi Tarikhi, yakni hadis ini disebutkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh, ada Tarikh Dimasyq, Tarikh Damaskus ditulis oleh Ibnu Asakir. Di situ ada kumpulan hadis-hadis yang disebutkan juga dengan sanad dari sahabat Abu Mas’ud al-Badri رضي الله عنه. Tetapi sebenarnya hadis ini ada dalam Sahih Bukhari. Mestinya kebiasaan ahli hadis kalau seandainya mereka menukil sebuah hadis dan ternyata hadis itu ada dalam Sahih Bukhari atau Sahih Muslim, maka tidak perlu diarahkan ke referensi lain lagi, karena tujuan seseorang mengetahui kedudukan hadis itu untuk diamalkan dan diketahui hadis sahih apa tidak. Tapi bisa jadi lafaz آخِرُ مَا أَدْرَكَ النَّاسُ ini memang ada di dalam referensi itu. Dalam Sahih Bukhari dikatakan, “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى”, “Sesungguhnya di antara warisan yang didapatkan oleh kaum muslimin atau manusia dari perkataan para nabi sebelumnya.”
Kata Ibnu Rajab رحمه الله dalam syarah Arbain Nawawiyah, beliau mengatakan ini menunjukkan bisa jadi ini menjadi tulisan pedoman para nabi sebelum Rasul صلى الله عليه وسلم, dan itu diturunkan, diwariskan menjadi kaidah bersama yang disepakati manusia. إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. Kalau kamu tidak malu, silakan lakukan aktivitas itu. Ibnu Rajab mengatakan hadis ini bisa dipahami dengan dua makna: makna yang pertama adalah makna celaan, kemudian makna yang kedua adalah makna sesungguhnya. Bagaimana makna sesungguhnya? Makna sesungguhnya itu, إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ artinya kalau kamu melakukan tindakan yang memang tidak pantas untuk dilakukan dengan rasa malu, maka silakan bebas saja. Contohnya misalkan engkau ingin berjalan pagi, kenapa harus malu? Karena itu memang tidak memalukan, silakan dilakukan. Kalau engkau akan makan dengan makanan yang halal dari orang lain, engkau bayar, dan itu adalah hal yang biasa, tidak memalukan, silakan dilakukan. Ini arti sesungguhnya, kata Ibnu Rajab رحمه الله.
Sedangkan makna pertama adalah makna yang memberikan isyarat menjelekkan, dan ini mungkin diperintah tapi perintahnya mengancam. Contohnya bagaimana? “Kalau kamu tidak malu, ayo coba kerjakan,” begitu. Ini ada hal yang serupa seperti dalam firman Allah, “اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ”, “Ayo kalian kerjakan sesuai dengan keinginan kalian, tapi ingat sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” Artinya kalau kamu tidak malu, ayo kerjakan, tapi siap untuk menanggung risiko dan konsekuensi, seperti itu. Jadi ini adalah sebuah celaan dalam bentuk ancaman. Atau ada bentuk sebuah berita, kayak kaidah, tapi sama saja kaidah ini menunjukkan sesuatu yang dicela. Contohnya, إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ, artinya biasanya yang melakukan ini adalah orang yang sudah hilang rasa malunya. Kalau ada tindakan yang memalukan tapi tetap dilakukan, biasanya yang melakukan itu adalah orang yang sudah hilang urat malunya, kata orang kayak begitu. Nah, ini juga bisa dipahami seperti itu.
Ini ada hadis yang serupa kata Ibnu Rajab seperti hadis “مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ”. “Barang siapa yang sengaja berdusta atas nama aku, hendaklah dia memboking tempat di neraka.” Ini kata Nabi صلى الله عليه وسلم sebuah berita: orang yang berdusta sengaja atas nama aku, dia seolah-olah sudah dipersilakan untuk boking tempat di neraka. Ini berita, tapi berita ini memang memuat sebuah celaan dan semacam ancaman juga. Begitu. Nah, hadis ini juga demikian. Dan ini penting ketika malu ini menjadi bandrol, menjadi ukuran kebaikan akhlak seseorang. Dan kita lihat ketika masyarakat yang sudah kehilangan rasa malu atau berkurang drastis rasa malunya, kemungkaran itu dilakukan terang-terangan di depan orang. Entah berjoget, orang berumur, tidak lagi perhatikan moral, di depan khalayak melakukan itu. Kenapa? Malunya hilang. Meskipun yang melakukan banyak, tetapi rasa malu yang sudah hilang bersama ini menjadikan maksiat semakin banyak.
Bahkan para ulama mengatakan, malu itu apa? Malu itu secara bahasa artinya seorang menahan dan istilahnya انكفاف, menahan tidak mau. Istilahnya juga disebutkan sebagian ulama dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar, orang tidak mau dicela orang gara-gara salah dalam bersikap. Itu juga rasa malu. Dan malu adalah sebuah sikap yang membuat orang tidak mau melakukan tindakan jelek. Itu adalah rasa malu. Maka di dalam syariat, الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ, rasa malu merupakan bagian dari keimanan seseorang. Ketika seseorang memiliki rasa malu, maka dia rem setiap akan bermaksiat. Artinya malu ini bisa menghilangkan, menghindarkan seseorang dari sikap yang berbahaya, baik untuk orang lain atau minimal dari diri sendiri, urusan dunia maupun urusan akhirat. Dan kita lihat bagaimana kemungkaran, bahkan moral yang hilang, kalaupun kita tidak membicarakan tentang syariat, kita membicarakan juga tentang sesuatu yang sepakat di tengah masyarakat: mengambil harta orang lain, merampas, atau bahkan والعياذ بالله hal-hal yang sampai merusak nama baik juga dilakukan ketika rasa malu itu hilang. Semoga Allah jaga kita semuanya dengan keistimewaan rasa malu ini. Baik, ini hadis yang kedua.
Kemudian hadis yang ketiga, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “آخِرُ مَنْ يُحْشَرُ رَاعِيَانِ مِنْ مُزَيْنَةَ يُرِيدَانِ الْمَدِينَةَ”. Orang yang paling terakhir akan dibangkitkan kemudian dikumpulkan pada hari kiamat—ini berbicara tentang akhir zaman, berbicara tentang hari kiamat—adalah رَاعِيَانِ مِنْ مُزَيْنَةَ, dua orang penggembala dari Muzainah. Dalam beberapa riwayat disebutkan bukan dua-duanya dari Muzainah, yang satu dari Muzainah, yang satu dari Juhainah. يُرِيدَانِ الْمَدِينَةَ. Mereka mendatangi kota Madinah. Dua orang penggembala ini teriak-teriak saking bingungnya dengan hewan gembalaan dan kambing-kambing mereka. فَيَجِدَانِهَا وُحُوشًا. Mereka masuk ke kota Madinah, menjelang masuk ternyata Madinah ini sudah menyeramkan, tidak ada orang sama sekali. حَتَّى إِذَا بَلَغَا ثَنِيَّةَ الْوَدَاعِ خَرَّا عَلَى وُجُوهِهِمَا. Ketika dua orang ini sampai ke ثنية الوداع. ثنية itu adalah jalan yang ada di sekitar dua gunung untuk dilewati orang. Ada gunung terjal, gunung terjal, kemudian ada jalan yang dilewati, itu namanya ثنية. ثنية الوداع adalah tempat yang menuju ke arah Syam kalau dari Madinah, dikatakan demikian karena kebanyakan orang ketika melepas kepergian keluarga mereka akan berdagang atau mau menuju daerah Syam, mereka lepas sampai daerah itu. Nah, ketika dua orang ini sampai ke tempat ini, belum masuk Madinah, ternyata mereka sudah tersungkur mati.
Hadis ini berkaitan dengan akhir zaman. Disebutkan oleh An-Nawawi رحمه الله dalam syarah Sahih Muslim karena hadis ini, coba kita lihat di sini ya, ada tulisannya sahih. Kemudian di bawahnya ada tulisan ك, ك itu maksudnya diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Abu Hurairah رضي الله عنه, الصحيحة nomor sekian ini, Syekh Al-Albani رحمه الله. Sebenarnya hadis ini bukan hanya diriwayatkan oleh Al-Hakim, bahkan disebutkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim dengan lafaz “يَتْرُكُونَ الْمَدِينَةَ عَلَى خَيْرِ مَا كَانَتْ”. Semua orang akan meninggalkan Madinah padahal Madinah waktu itu dalam kondisi yang paling enak, dalam kondisi subur, orang-orang makmur di situ. Tapi kebanyakan orang akan keluar dari kota Madinah. Ini sebuah kerugian. Al-Imam Bukhari رحمه الله memberi judul hadis ini dengan orang-orang yang tidak suka dengan tinggal di kota Madinah. Rugi hanya karena ingin mendapatkan kemegahan dunia atau mungkin yang lebih menarik, akhirnya mereka keluar dari kota Madinah misalkan. Rugi sekali. Tapi nanti akan terjadi itu.
Maka disebutkan oleh Rasul صلى الله عليه وسلم, “يَتْرُكُونَ الْمَدِينَةَ عَلَى خَيْرِ مَا كَانَتْ لَا يَغْشَاهَا إِلَّا الْعَوَافِي”. Mereka akan tinggalkan Madinah padahal Madinah waktu itu dalam kondisi yang enaknya dipakai. Tidak ada yang masuk ke kota Madinah kecuali hanya beberapa binatang yang membutuhkan makanan. Disebutkan يُرِيدُ عَوَافِي الطَّيْرِ وَالسِّبَاعِ, yang akan masuk kota Madinah cuman burung dan binatang-binatang buas, untuk apa? Untuk cari makan di situ. Dan ternyata Madinah sampai kosong sepi, tidak ada satu orang pun. Bahkan dalam sebuah riwayat dikatakan dalam Sahih, entah Sahih Muslim atau Sahih Bukhari, dikatakan “لَيَتْرُكُنَّ الْمَدِينَةَ”, sungguh mereka akan meninggalkan Madinah sampai Madinah kosong, “فَيَدْخُلُ الذِّئْبُ فَيَعْوِي عَلَى سَوَارِي الْمَسْجِدِ أَوْ عَلَى الْمِنْبَرِ”. Akan ada seekor serigala masuk, dia akan mengaum-ngaum di tembok masjid atau bahkan di mimbarnya. Tidak ada orang. Tidak ada orang nanti di Kota Madinah itu di terakhir sekali, di akhir zaman. Di akhir zaman sudah tidak tersisa, semuanya sudah meninggal. Maka disebutkan dalam hadis ini, “ثُمَّ يَخْرُجُ رَاعِيَانِ مِنْ مُزَيْنَةَ يُرِيدَانِ الْمَدِينَةَ”, lalu orang terakhir, makhluk Allah yang bernama manusia yang paling terakhir ini keluar dari Muzainah. Mereka ingin datang untuk masuk ke kota Madinah. Dalam riwayat yang lain Hafizh Ibnu Hajar cerita, “Yang satu dari Juhainah, yang satu Muzainah ketemu.” Maka saling bertanya, “Di mana orang-orang?” Tidak tahu. Maka mereka mengatakan, “Ayo kita ke Madinah.” Ketika sampai Madinah ternyata فَوَجَدَاهَا وُحُوشًا, ternyata mereka dapatkan Madinah pun juga sudah menjadi buas. وُحُوش itu seperti binatang yang توحش, menjadi buas. Artinya Madinah sudah tidak ditempati. Sebagian ulama mengatakan وُحُوش itu artinya خالياً, kosong. Tidak ada orang sama sekali dalam kondisi bingung, kemudian khawatir dan goncang. Bayangkan tidak ada orang sama sekali. Di kala itu tinggal mereka berdua saja, mereka teriak. Dikatakan mereka sampai teriak tidak ada orang lagi, حَتَّى إِذَا بَلَغَا ثَنِيَّةَ الْوَدَاعِ sampai ketika mereka di tempat itu, ini dalam Sahih Bukhari dan Muslim, خَرَّا عَلَى وُجُوهِهِمَا, mereka akhirnya mati juga. Dalam sebuah riwayat dikatakan Allah utus malaikat kemudian dicabut (nyawa) dua orang ini sampai akhirnya mati di tempat itu.
Baik, dalam hadis yang tadi kita pelajari dikatakan آخِرُ مَنْ يُحْشَرُ, orang yang terakhir akan digiring dikumpulkan. Kata Al-Hafizh Ibnu Hajar dan juga Al-Imam An-Nawawi رحمه الله, pembicaraannya berkaitan dengan hari kiamat. Hari kiamat itu orang akan dikumpulkan setelah mereka dibangkitkan. Tetapi yang diceritakan di sini adalah dua orang yang dimatikan, karena ceritanya ketika mereka masih di dunia dimatikan. Tetapi korelasinya adalah ketika orang itu diwafatkan menjadi orang terakhir, maka nanti pada hari kiamat mereka juga menjadi orang terakhir yang akan dikumpulkan. Mereka akan digiring menjadi terakhir. Dan ini kata Al-Imam An-Nawawi رحمه الله adalah kejadian di akhir zaman, terakhir sekali ketika sudah tidak ada lagi kehidupan kecuali ini, orang yang terakhir. Dan memang tidak disebutkan apakah orang ini adalah orang beriman atau tidak beriman, karena sejelek-jelek orang yang pernah Allah ciptakan di muka bumi adalah orang yang menyaksikan bagaimana kiamat terjadi. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang beriman dan diselamatkan dari segala penampilan yang menyeramkan.
Dan yang penting bagaimana seorang حسن الخاتمة. Hadis-hadis ini adalah wahyu. Nabi صلى الله عليه وسلم sampaikan ketika beliau masih hidup. Sampai sebagian sahabat ketika bertanya dijelaskan oleh Rasul صلى الله عليه وسلم, “Nanti Madinah betul-betul akan dibiarkan kosong sampai tidak ada orang sama sekali.” Lalu ada sebagian sahabat mengatakan, “Ya Rasulullah, berarti siapa yang akan memakan tumbuhan-tumbuhan atau makanan-makanannya?” Maka Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan الْعَوَافِي. الْعَوَافِي artinya adalah hewan-hewan yang memang datang untuk mencari makanan pokoknya. Tapi yang jelas ini merupakan tanda kenabian ketika beliau sampaikan sesuatu yang belum terjadi, tapi seorang muslim meyakini ini pasti akan terjadi. Maka sebaik-baik orang adalah yang bisa mempelajari lalu memperbaiki dan berbekal. Perbedaan orang beriman, mereka adalah orang yang memiliki rambu-rambu, lalu dia bersiap dan berhati-hati. Sementara kita tahu bahwa hari kiamat pasti akan terjadi, mau orang tahu atau tidak tahu, percaya atau tidak percaya. Semoga Allah عز وجل menguatkan iman kita, memperbaiki hidup kita, dan Allah ridha kepada kita. Yang dapat kita pelajari, mudah-mudahan bermanfaat. والله أعلم. وصلى الله وسلم على عبده ورسوله محمد وعلى آله أجمعين. والحمد لله رب العالمين.
Baik. Disebutkan dalam Mushannaf Abdurrazzaq dan juga di dalam kitab Az-Zuhud karya Ibnul Mubarak bahwa Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما pernah berjalan setelah beliau tua, bahkan matanya sudah tidak melihat lagi. Ketika di tengah perjalanan, beliau mendengar ada suara batu diangkat, maka beliau mengatakan, “مَا شَأْنُهُمْ؟” “Mereka lagi ngapain?” قَالُوا: يَرْفَعُونَ الْحَجَرَ يَنْظُرُونَ أَيُّهُمْ أَقْوَى. Orang-orang di sekitar Ibnu Abbas mengatakan, “Tadi itu ada orang-orang yang mengangkat batu untuk mengetahui siapa di antara mereka yang paling kuat.” Komentar Ibnu Abbas رضي الله عنهما, “عُمَّالُ اللَّهِ أَقْوَى مِنْ هَؤُلَاءِ”. “Pekerja-pekerja Allah, orang-orang yang siap untuk beribadah kepada Allah jauh lebih kuat dari orang-orang yang tadi melihat siapa yang paling kuat fisiknya.” Dan kita tahu bahwa kekuatan iman akan berpengaruh kepada kehidupan dan semangat seseorang dalam beribadah, bukan karena fisiknya. Bahkan mungkin ada orang kuat fisik mengangkat berapa kuintal, ton, akan tetapi untuk mengangkat kedua tangan berdoa atau salat dia tidak mampu. Demikian pula ketika orang yang ingin belajar terkadang karena tertarik oleh iming-iming jabatan, kedudukan, kemudian urusan dunia, dia bisa tergerak. Akan tetapi ketika dia belajar untuk menuai faedah dan barokah dari ilmu para ulama, ternyata berat sekali. Maka ini yang perlu kita ingat sebagai seorang hamba Allah. Semoga momen 10 hari pertama bulan Zulhijah menyadarkan kita agar kita menjadi orang yang lebih baik. Ini yang dapat kita pelajari. والله أعلم بالصواب. وصلى الله وسلم على عبده ورسوله محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. والحمد لله رب العالمين.