Kajian Kitab Lum’atul I’tiqad #20
Iman Kepada Alam Kubur dan Hari Akhir
Ringkasan Materi Kajian: Iman Kepada Alam Kubur dan Hari Akhir
1. Azab dan Nikmat Kubur
- Kebenaran Azab Kubur: Azab dan nikmat kubur adalah perkara haq (benar adanya) yang wajib diimani, meskipun tidak bisa dinalar sepenuhnya oleh logika manusia.
- Dalil Al-Qur’an:
- QS. At-Taubah: 101: Allah mengazab orang munafik dua kali (di dunia dan alam kubur) sebelum dikembalikan ke azab yang lebih besar (neraka).
- QS. Ghafir: 46: Firaun dan pengikutnya ditampakkan neraka pagi dan petang di alam kubur sebelum kiamat tiba.
- Dalil Hadis:
- Nabi Muhammad ﷺ selalu berlindung dari azab kubur dalam setiap salatnya sebelum salam.
- Hadis Al-Bara’ bin ‘Azib menjelaskan secara detail perjalanan ruh orang mukmin yang mendapat nikmat kubur (diluaskan kuburnya, ditemani amal saleh) dan orang kafir/munafik yang mendapat azab (disempitkan kuburnya hingga tulang rusuk bersilang, ditemani amal buruk).
2. Fitnah Kubur (Pertanyaan Munkar dan Nakir)
- Definisi: Fitnah kubur adalah ujian berupa tiga pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir: Siapa Rabbmu? Siapa Nabimu? Apa Agamamu?
- Kunci Jawaban: Kemampuan menjawab bukan berdasarkan hafalan, melainkan cerminan keimanan dan pengamalan di dunia. Orang mukmin akan dimudahkan menjawab, sedangkan orang munafik dan kafir tidak akan mampu menjawab.
- Doa untuk Mayit: Disunnahkan mendoakan ampunan (istighfar) dan keteguhan (tasbit) bagi jenazah yang baru dikuburkan agar mampu menjawab pertanyaan malaikat.
3. Golongan yang Terbebas dari Fitnah Kubur
- Syuhada: Orang yang mati syahid di jalan Allah. Kilatan pedang di atas kepala mereka sudah cukup sebagai ujian keimanan.
- Wafat Hari/Malam Jumat: Orang mukmin yang meninggal pada waktu ini dijaga dari fitnah kubur (HR. Tirmidzi).
- Catatan: Terbebas dari fitnah kubur (pertanyaan) belum tentu terbebas dari azab kubur jika masih membawa dosa yang belum diampuni.
4. Hari Kebangkitan (Al-Ba’ts)
- Proses: Dimulai dengan tiupan sangkakala kedua oleh Malaikat Israfil. Manusia dibangkitkan dari kubur dengan jasad yang utuh kembali dan ruh dikembalikan.
- Kondisi: Manusia dibangkitkan sesuai keadaan matinya (misal: orang yang ihram bangkit sambil bertalbiyah, pemakan riba bangkit seperti orang kesurupan).
5. Padang Mahsyar (Al-Hasyr)
- Kondisi: Manusia dikumpulkan di dataran luas yang putih kemerahan, tanpa bangunan atau tanda apapun.
- Keadaan Manusia: Tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan.
- Matahari Didekatkan: Matahari berjarak satu mil. Manusia berkeringat sesuai kadar dosanya (ada yang sampai mata kaki, lutut, pinggang, atau tenggelam oleh keringatnya).
- Durasi: Satu hari di sana setara 50.000 tahun di dunia. Namun, bagi orang beriman yang sempurna imannya, waktu tersebut terasa singkat (seperti waktu antara Ashar ke Maghrib).
6. Tujuh Golongan yang Mendapat Naungan Allah Di hari yang sangat panas itu, ada 7 golongan yang mendapat naungan Arsy Allah:
- Pemimpin yang adil.
- Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.
- Seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid.
- Dua orang yang saling mencintai karena Allah (bertemu dan berpisah karena-Nya).
- Laki-laki yang diajak berzina oleh wanita cantik dan kaya, namun menolak karena takut kepada Allah.
- Orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi.
- Orang yang berzikir dalam kesendirian hingga meneteskan air mata.
- Tambahan: Orang yang memberi tangguh atau membebaskan utang orang yang kesulitan juga mendapat naungan.
Berikut adalah transkrip lengkap dari materi kajian
Kitab: Lum’atul I’tiqad Al-Hadi ila Sabilir Rasyad
Tema: Azab Kubur, Hari Kebangkitan, dan Padang Mahsyar
[MUKADIMAH]
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ
Alhamdulillah, segala puji hanyalah untuk Allah Rabbul ‘alamin, Rabb semesta alam, الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Dan di antara kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang-orang yang beriman adalah diberikan hidayah kepada Islam dan sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang dengannya mereka mengarungi kehidupan yang sementara ini di atas ilmu, di atas sesuatu yang jelas, mengetahui tujuan hidupnya, ke mana dia akan pergi, dan dari mana asalnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga untuk kita semuanya nikmat hidayah ini sampai kita meninggal dunia.
Kemudian tidak lupa selawat dan salam semoga senantiasa Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai akhir zaman.
[MATERI INTI: KEBENARAN AZAB DAN NIKMAT KUBUR]
Hadirin sekalian, setelah sebelumnya kita membahas tentang contoh-contoh di antara perkara-perkara yang wajib kita imani dan kita benarkan yang telah dikabarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam—meskipun peristiwa-peristiwa tersebut apabila ditimbang dengan akal manusia dan logika manusia adalah perkara-perkara yang tidak masuk akal, dan telah disebutkan oleh beliau tentang beberapa contohnya termasuk di antaranya adalah tanda-tanda dekatnya hari kiamat—kembali beliau melanjutkan penyebutan contoh-contoh tersebut di dalam kitab beliau ini, Lum’atul I’tiqad Al-Hadi ila Sabilir Rasyad.
Masih berkaitan dengan perkara-perkara yang mungkin secara akal manusia tidak masuk, tapi harus kita benarkan dan harus kita imani. Dan secara umum ini adalah sesuatu yang sangat mudah bagi orang-orang yang beriman, karena mereka beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang Mahamampu untuk melakukan segalanya. Bukan sesuatu yang sulit bagi Allah. وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu). Terkadang bisa dengan mudah dicerna oleh akal manusia dan terkadang pula mungkin sulit dicerna oleh akal manusia.
Beliau (Penulis Kitab) mengatakan:
وَعَذَابُ الْقَبْرِ وَنَعِيمُهُ حَقٌّ
“Dan azab kubur serta kenikmatan-kenikmatannya adalah sesuatu yang haq (benar).”
Azab kubur dan juga kenikmatan-kenikmatannya adalah sesuatu yang hak, itu benar adanya, sesuatu yang terjadi, dan pasti terjadi. Yang demikian tentunya berdasarkan dalil-dalil yang sahih dan banyak dalil-dalil yang menunjukkan tentang azab kubur dan juga kenikmatan-kenikmatan yang ada di dalamnya.1
Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang orang-oran2g munafikin:
سَنُعَذِّبُهُم مَّرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَىٰ عَذَابٍ عَظِيمٍ
“Kami akan mengazab mereka dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (QS. At-Taubah: 101)
Perhatikan firman Allah Azza wa Jalla dalam surah At-Taubah ayat 101 ini. “Kami akan mengazab mereka dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang lebih besar.” Berarti azabnya berapa kali? Tiga kali. Al-Imam Ath-Thabari rahimahullah di dalam tafsirnya beliau menjelaskan bahwa:
- Azab yang pertama adalah di dunia. Orang munafik mendapatkan azab di dunia, dan tidak harus azabnya berupa siksaan zahir. Tidak. Mereka bisa diazab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala justru dengan apa yang mereka miliki sendiri. Diazab dengan hartanya, diazab dengan kekuasaannya, diazab dengan keluarganya. Allah azab mereka dengan apa yang mereka miliki. Itu termasuk azab di dunia. Banyak orang yang saling bermusuhan, saling bunuh-bunuhan hanya karena dunia atau karena jabatan. Hidup mereka tidak tenang meskipun bergelimang dengan harta dan juga jabatan.
- Azab yang kedua adalah di kubur. Yaitu di alam kubur.
- Azab yang ketiga di akhirat. Tsumma yuradduna ila ‘adzabin ‘azhim (Kemudian mereka dikembalikan kepada azab yang sangat besar). Lebih besar daripada azab di dunia, lebih besar daripada azab di alam kubur, yaitu di dalam neraka.
Itu di antara dalil tentang azab kubur. Kemudian juga ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang Firaun:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ
“Neraka dinampakkan kepada mereka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): ‘Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang paling keras’.” (QS. Ghafir: 46)
Neraka ditampakkan kepada Firaun dan juga para pengikutnya di waktu pagi maupun di waktu petang. Neraka dinampakkan kepada mereka, “ini tempat kembali kalian di akhirat kelak.” Dinampakkan يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا kemudian وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ (ketika sudah datang hari kiamat), أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (masukkan pengikut-pengikut Firaun ke dalam azab yang lebih pedih). Berarti dinampakkannya di mana? Sebelumnya, sebelum datangnya hari kiamat. Berarti di alam kubur, sebelum mereka dibangkitkan.
Ini adalah termasuk dalil adanya azab kubur. Sehingga beliau mengatakan di sini حَقٌّ (benar), azab kubur itu adalah sesuatu yang hak, sesuatu yang benar, sesuatu yang bukan fiktif, bukan cerita, bukan hanya sekedar menakut-nakuti. Ini adalah sesuatu yang benar adanya.
Bagaimana dengan dalil dari hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Maka di sana juga banyak dalil dari hadis-hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan tentang adanya azab kubur. Di antaranya yang diisyaratkan oleh beliau di sini:
وَقَدِ اسْتَعَاذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُ وَأَمَرَ بِهِ فِي كُلِّ صَلَاةٍ
“Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berlindung dari azab kubur, dan beliau memerintahkan untuk berlindung dari azab kubur di dalam setiap salat.”
Di dalam sebuah hadis beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ الْآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ
“Apabila salah seorang di antara kalian selesai dari tasyahud akhir (maksudnya adalah tasyahud sebelum salam), maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dari empat perkara.”
Hendaklah dia berlindung kepada Allah dari empat perkara (perintah di sini). Beliau mengatakan:
يَقُولُ: اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
“Beliau mengatakan: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam (yang pertama), dan dari azab kubur.”
Menunjukkan bahwasanya azab Jahanam ada (hak) dan azab kubur juga sesuatu yang hak. Karena tidak mungkin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari sesuatu yang tidak ada. Tidak mungkin beliau berlindung dari sesuatu yang tidak ada. Ketika beliau berlindung dari sesuatu, menunjukkan bahwa sesuatu itu adalah sesuatu yang hak, sesuatu yang terjadi, bukan hanya sekedar dongeng saja.
“Dan aku berlindung dari fitnah kehidupan dan juga kematian.” Terlalu banyak fitnah yang bisa memalingkan manusia dari jalan Allah. Baik ketika dia dalam keadaan hidup seperti ini, ataupun dalam keadaan mamat-nya (menjelang kematian). Dalam keadaan sakaratul maut, setan masih berusaha untuk memalingkan manusia dari jalan Allah. Dan tidak mungkin kita bisa selamat dari berbagai fitnah-fitnah tersebut—fitnah harta, fitnah jabatan, fitnah wanita, fitnah-fitnah yang lain—kecuali apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala yang melindungi. “Dan dari kejelekan fitnah Al-Masih Dajjal”. Telah berlalu pembahasan tentang Dajjal. Hadis ini sahih diriwayatkan oleh Imam Muslim.
Sebagian salaf, mereka dahulu mentarbiah (mendidik), membiasakan anaknya untuk membaca doa ini. Tentunya ini didahului dengan kesadaran orang tua terlebih dahulu tentang pentingnya membaca doa ini. Ketika dia sadar ini ada azab kubur, maka tergerak hatinya untuk senantiasa berlindung kepada Allah dari azab Jahanam. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. Kalau kita terus-menerus meminta dan khusyuk di dalam meminta—bukan hanya sekedar rutinitas saja membaca doa ini—maka Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang السَّمِيعُ الْقَرِيبُ مُجِيبُ الدَّعْوَةِ (Maha Mendengar, Maha Dekat, Pengabul Doa).
Kita ulang-ulang terus. Salat lima waktu saja kita sudah minimal lima kali membaca doa ini. Dan doa ini juga disyariatkan dibaca ketika kita melakukan salat sunah, salat rawatib. Antum bisa membaca doa ini. Orang yang mengetahui tentang bahaya dan dahsyatnya azab Jahanam dan juga azab kubur, maka dia tidak akan melewatkan salatnya untuk membaca doa ini. Karena sebagian tergesa-gesa, hanya mencukupkan diri dengan sesuatu yang rukun saja. Padahal tidak ada di sana sesuatu yang mengharuskan dia untuk bersegera. Tapi karena malas, kemudian juga waswas dari setan yang menjadikan kita tergesa-gesa, akhirnya kita tidak membaca doa ini. Doakan dan rutinkan untuk membaca doa ini sebelum kita salam.
Sebagian salaf dahulu mentarbiah anaknya untuk membaca doa ini. Bahkan dikontrol; setiap kali anaknya selesai salat, maka ditanya, “Tadi baca doa ini atau tidak?” Kalau dia mengatakan tidak, maka orang tuanya menyuruh anaknya untuk mengulangi lagi salatnya. Disuruh untuk salat lagi, diulang salatnya. Kenapa? Tujuannya adalah untuk membiasakan, supaya dia di salat-salat yang ke depan dia tidak meremehkan tentang doa meminta perlindungan kepada Allah dari empat perkara ini.
Di dalam hadis yang lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
“Hendaklah kalian berlindung kepada Allah dari azab kubur.”
Jelas di sini adalah perintah, dan hadis ini sahih diriwayatkan oleh Abu Daud dan juga yang lain. Banyak hadis-hadis yang berkaitan dengan azab kubur. Bahkan kalau dihitung, hadis-hadis yang berkaitan dengan azab kubur ini adalah termasuk hadis-hadis yang mutawatir. Banyak para sahabat yang telah meriwayatkan hadis-hadis tentang azab kubur ini.
Di sana ada hadis yang panjang, yaitu hadis Al-Bara’ bin ‘Azib yang menceritakan tentang kisah orang yang beriman dan selain orang yang beriman (baik orang kafir maupun munafik) ketika Malakul Maut akan mencabut nyawanya, sampai kepada diangkatnya nyawa tersebut. Kemudian juga disebutkan tentang apa yang terjadi setelah dimasukkan ke dalam kuburan. Kemudian nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang yang beriman dan azab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang-orang yang tidak beriman.
Disebutkan bahwa orang yang beriman akan mendapatkan berbagai kenikmatan di dalam alam kuburnya. Diberikan alas dari surga, diberikan pakaian dari surga, dibukakan baginya di alam kuburnya pintu menuju surga. Sehingga disebutkan dalam hadis tersebut bahwa orang yang beriman tadi diterpa angin yang berasal dari surga dan mencium wanginya bau surga. Ini kalau diukur dengan akal manusia, maka akal mengatakan ini tidak masuk ke dalam akal. Diluaskan kuburannya sejauh mata memandang. Kalau digali kuburannya maka sama dengan yang lain. Tapi dalam hadis disebutkan bahwasanya orang yang beriman kuburannya diluaskan sejauh mata memandang. Jadi luas sekali, bukan hanya 1 x 2 meter. Allah akan luaskan untuk orang-orang yang beriman.
Ditambah lagi dia akan ditemani oleh amal salehnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mewujudkan amal saleh yang dia kerjakan selama ini—zikirnya, salatnya, puasanya, thalabul ilmi-nya—akan Allah Subhanahu wa Ta’ala wujudkan menjadi seseorang yang berwajah bagus, berpakaian indah, dan berbau wangi. Amal dijadikan wujudnya adalah fisik. Kewajiban kita adalah membenarkan kabar-kabar tersebut sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Adapun orang yang kafir (yang masuk di dalamnya adalah orang munafik), maka mereka akan diberikan alas dari neraka, pakaian dari neraka, dibukakan pintu menuju neraka sehingga dia pun diterpa angin yang panas dari neraka. Disempitkan kuburannya sehingga tulang rusuknya saling bersilangan satu dengan yang lain. Tulang rusuk yang ada di dada manusia, yang kanan jadi di kiri, yang kiri jadi di kanan karena sangat sempitnya, disempitkan kuburannya.
Plus ditemani dosa-dosa yang selama ini dia lakukan. Dosa-dosa yang dia tidak bertobat. Adapun dosa-dosa yang sempat dia bertobat, beristigfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tentunya tidak masuk di dalam hal ini. Ini adalah dosa-dosa yang mereka dahulu di dunia malas, menunda-nunda, ragu-ragu, tidak segera beristigfar dan bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan diwujudkan oleh Allah menjadi orang yang buruk rupanya, jahat, gelap, dalam keadaan dia disiksa dan di sampingnya ada wujud yang sangat buruk rupanya dengan pakaian yang buruk dan badan yang berbau. Ini semua disebutkan dalam hadis Al-Bara’ bin ‘Azib, yang di situ berarti ada dalil tentang azab kubur, tentang nikmat kubur, dan di situ juga ada dalil tentang fitnah kubur.
[FITNAH KUBUR DAN PERTANYAAN MUNKAR & NAKIR]
Yang nanti akan diisyaratkan oleh beliau setelahnya:
وَفِتْنَةُ الْقَبْرِ حَقٌّ، وَسُؤَالُ مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ حَقٌّ
“Dan fitnah kubur itu adalah sesuatu yang hak. Dan pertanyaan Munkar dan juga Nakir ini adalah sesuatu yang hak.”
Di sini beliau menyebutkan fitnah kubur dan menyebutkan tentang pertanyaan Munkar dan juga Nakir. Wallahu a’lam, ini adalah dua perkara yang sama. Karena “fitnah” itu artinya adalah ikhtibar (ujian), dan “soal” artinya adalah pertanyaan. Jadi fitnah kubur pengertiannya adalah pertanyaan yang diajukan oleh Mungkar dan juga Nakir. Di antara dalilnya adalah hadis Al-Bara’ bin ‘Azib tadi.
Dan isi pertanyaannya (ujiannya) yang pertama adalah: “Siapa Rabbmu?” Kemudian yang kedua adalah: “Siapa Nabimu?” Dan yang ketiga adalah: “Apa Agamamu?”
Tiga pertanyaan saja Bapak Ibu sekalian. Masing-masing dari kita akan ditanya. Masing-masing dari kita tidak bisa terlepas dari ujian ini. Kalau di dunia mungkin seseorang bisa menghindar dari beberapa ujian, dari beberapa wawancara. Namun fitnah kubur ini adalah ujian yang masing-masing dari kita akan menghadapinya. Dan persiapannya supaya bisa menjawab tiga pertanyaan tersebut dengan baik adalah dengan praktik nyata di dalam kehidupan kita sehari-hari.
Tidak bisa seseorang mempersiapkan untuk menjawab pertanyaan di alam kubur hanya dengan seseorang menghafal saja. Kalau hanya menghafal saja, itu ujian kita di dunia di SMP, SMA, itu bisa seseorang hanya dengan menghafal semalam dia membuka, menghafal apa yang akan diteskan besok, selesai. Adapun tiga pertanyaan tadi, meskipun hanya tiga pertanyaan saja, tetapi persiapannya adalah umur kita di dunia ini. Jadi persiapan untuk murajaah, persiapan untuk menghadapi tiga pertanyaan tadi adalah ya kehidupan kita selama di dunia ini.
Siapa yang kita sembah? Yang kita serahkan kepadanya ibadah, yang kita bergantung kepadanya, kita berdoa, kita mengharap manfaat, meminta supaya dihindarkan dari mudarat. Siapa yang kita sembah di dunia ini? Kalau dia menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar luar dan dalamnya dia menyembahnya kepada Allah, tidak menyerahkan ibadah kepada selain Allah, ketika dia ditanya “Siapa Rabbmu? Siapa yang kamu sembah?”, maka dengan tegas dan dengan mudah—setelah taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala—dia akan mengatakan:
رَبِّيَ اللهُ
“Rabbku adalah Allah.”
Karena memang selama di dunia dia tidak menyembah kepada Nabi, tidak menyembah kepada wali, tidak menyembah kepada selain Allah. Hanya menyembah kepada Allah saja. Setiap orang yang beriman, setiap muslim zahir dan juga batinnya, luar dan juga dalamnya, maka insyaallah dia bisa menjawab pertanyaan ini.
Adapun orang yang musyrik, orang yang kafir, orang yang munafik, maka sesuai dengan apa yang dia sembah di dunia. Kalau dia dahulu menyembah matahari, ya dia akan mengatakan matahari. Kalau dia menyembah orang yang saleh, maka dia akan menyebutkan sesembahannya.
Bagaimana dengan orang munafik? Orang munafik juga sama. Tidak akan bisa dia menjawab pertanyaan tersebut. Karena orang munafik imannya adalah zahir saja sementara batinnya adalah kafir. Tidak akan diberikan taufik dan juga kemudahan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjawab pertanyaan tadi. Meskipun dia di dunia menghafal dengan baik Rabbiyallah, tapi karena praktik kenyataannya dia tidak menyembah kepada Allah, maka dia tidak akan bisa mengatakan Rabbiyallah.
Sama juga dengan pertanyaan yang kedua, “Siapa Nabimu? Siapa Nabi yang telah diutus kepadamu? Yang engkau ikuti syariatnya, yang engkau yakini kebenaran agamanya, yang engkau ambil akidahnya, tata cara ibadahnya, siapa?” Maka seorang yang muslim yang dia menjadikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panutannya dalam setiap perkara, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan taufik untuk mengatakan: “Nabiku adalah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
“Apa Agamamu?” Agama yang engkau laksanakan, syariat-syariat yang ada di dalamnya, aturan-aturan yang ada di dalamnya yang engkau jadikan pegangan hidupmu. Maka seorang yang beriman akan dengan mudah dia mengatakan: “Agamaku adalah agama Islam.”
Jadi hari-hari kita sekarang ini semuanya adalah untuk mempersiapkan itu semuanya. Dan ini Bapak Ibu sekalian, kalau kita bisa menjawab pertanyaan dengan baik, insyaallah setelahnya baik. Apa yang akan kita hadapi setelahnya adalah kemudahan demi kemudahan. Tapi kalau sampai seseorang gagal dalam menjawab tiga pertanyaan tadi, maka tentunya ini adalah musibah yang besar. Tiga pertanyaan tersebut sangat dekat. Hanya sekedar nyawa kita ini keluar dari jasad kita sekarang ini, maka kita sudah akan masuk ke alam kubur. Itu bukan sesuatu yang jauh ya, bukan 100-200 tahun lagi. Itu sebentar lagi. Sekedar seseorang keluar nyawanya dari jasadnya, maka akan segera dia akan menghadapi tiga pertanyaan tadi.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah menguburkan mayat bersama para sahabatnya. Kemudian setelah selesai maka beliau berbicara di hadapan para sahabat radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan:
اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ، وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ، فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ
“Hendaklah kalian memohonkan ampun untuk saudara kalian, dan hendaklah kalian memohonkan untuk saudara kalian ketetapan (kekuatan), karena sesungguhnya dia sekarang ini sedang ditanya.”
Ini menunjukkan setelah kita menguburkan, di antara yang disyariatkan adalah kita memohonkan ampun untuk saudara kita. Baik dengan bahasa Arab maupun dengan bahasa kita tidak masalah. Dan sungguh-sungguh kita memohonkan ampun. “Wasalul lahu bit-tatsbit”, dan hendaklah kalian memohonkan untuk saudara kalian at-tatsbit, yaitu kekuatan, kekokohan. Karena sesungguhnya dia sekarang ini dalam keadaan ditanya. Datang dua orang malaikat yang bertanya.
Ini menunjukkan bahwa doa yang kedua selain doa dengan ampunan adalah kita memohonkan untuk saudara kita yang baru dikuburkan supaya dikuatkan dalam menjawab pertanyaan. Karena memang bukan sesuatu yang mudah. Bayangkan, dalam keadaan dia sendiri dan dia mendengar orang lain dan manusia meninggalkan kuburannya di tempat yang baru. Baru pertama kali dia memasuki tempat tersebut. Gelap. Kemudian tiba-tiba ada makhluk yang menyeramkan yang baru pertama kali dia lihat. Ditambah lagi dia bertanya. Ini sesuatu yang juga semakin menjadikan seseorang dalam keadaan dia takut. Kalau bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menguatkan, maka seseorang dikhawatirkan dia tidak bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Sehingga orang-orang yang masih hidup diminta untuk mendoakan. Doakan untuk saudara kalian semoga dia dikuatkan dalam menjawab pertanyaan.
Wallahu a’lam, di sini ada isyarat bahwa yang namanya dosa, Bapak Ibu sekalian, ini bisa mempengaruhi kekokohan seseorang dalam menjawab pertanyaan di dalam alam kubur. Sehingga jangan kita bermudah-mudahan dengan dosa. Karena dikhawatirkan itulah yang akan menjadi sebab lemahnya seseorang ketika dia menghadapi pertanyaan dua orang malaikat.
Alhamdulillah nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah membocorkan untuk kita pertanyaannya. Ini nikmat yang besar. Allah memberitahukan kepada kita apa yang akan ditanyakan. Sehingga tentunya orang yang cerdas, kalau memang dia sudah tahu pertanyaannya maka dia mempersiapkan jawabannya. Ya, anak-anak sekolah atau mahasiswa ketika dia tahu “oh ini ada bocoran soal, ustaz memberitahu soal atau kisi-kisinya, kira-kira pertanyaan yang akan muncul apa,” tentunya seorang siswa yang cerdas, mahasiswa yang cerdas, dia akan berusaha untuk mempersiapkan diri, dicari kunci jawabannya apa kira-kira supaya dia bisa menjawab pertanyaan dengan baik. Nah, kita sudah tahu di sini pertanyaannya apa, tinggal kita mempersiapkan dengan baik jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.
[GOLONGAN YANG TERBEBAS DARI FITNAH KUBUR]
Di sana ada beberapa golongan yang kelak tidak akan menghadapi fitnah kubur. Subhanallah. Ini nikmat. Menghadapi fitnah kubur bukan sesuatu yang mudah dengan sebab-sebab yang tadi kita sebutkan. Ada hamba-hamba Allah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan karunia, dia tidak melewati fase ini, tidak ditanya dengan tiga pertanyaan tadi. Nah, ketika kita tahu tentunya kita berusaha untuk mendapatkan keutamaan ini.
- Para Syuhada (Orang yang mati syahid).Siapa mereka? Orang-orang yang meninggal di dalam peperangan di jalan Allah, menghadapi orang-orang kafir, orang-orang musyrikin. Terjadi peperangan antara orang-orang Islam yang dipimpin oleh penguasa kaum muslimin dengan orang-orang kafir. Peperangan untuk meninggikan kalimat Allah sebagaimana terjadi di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para Khulafaur Rasyidin, dan zaman-zaman setelahnya. Maka para syuhada mereka tidak akan ditanya tentang tiga perkara ini. Mereka akan melewati fase tersebut.Disebutkan ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا بَالُ الْمُؤْمِنِينَ يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ إِلَّا الشَّهِيدَ؟”Wahai Rasulullah, mengapa orang-orang yang beriman diuji di dalam kuburan mereka kecuali orang-orang yang mati syahid?”Berarti saat itu para sahabat sudah sampai kepada mereka kabar di antara keutamaan para syuhada adalah tidak akan diuji di dalam kuburan mereka. Mengapa wahai Rasulullah? Apa yang membedakan mereka dengan yang lain? Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً”Cukuplah kilatan pedang yang ada di atas kepalanya itu sebagai ujian.”Cukuplah kilatan pedang yang ada di atas kepalanya sebagai ujian. Karena berjihad di jalan Allah tidak melakukannya kecuali orang yang memang sudah mengalahkan hawa nafsunya. Maka dengan mudahnya dia berjihad di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siap untuk terpotong tangannya, terpenggal lehernya, pulang dalam keadaan cacat atau pulang dalam keadaan dia hanya membawa nama saja. Tidak sampai kepada tingkatan ini kecuali mereka adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang tinggi dan keyakinan yang kuat. Ternyata mereka maju. Cukuplah kilatan pedang di atas kepalanya ini sebagai ujian. Itu sudah cukup. Akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan karunia kepada mereka. Tidak perlu diuji lagi keimanan mereka. Mereka melewati fase pertanyaan fitnah kubur ini. Dan hadis ini sahih, diriwayatkan oleh Al-Imam An-Nasa’i di dalam Sunannya.Sehingga Bapak Ibu sekalian, sebagaimana ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, harusnya ada di dalam diri kita masing-masing niat untuk meninggal di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan niat itu adalah hukumnya wajib. Harus ada niat untuk bisa meninggal di jalan Allah. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ، وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِالْغَزْوِ، مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ”Barang siapa yang meninggal dunia sementara dia tidak berperang atau tidak meniatkan di dalam dirinya untuk berperang (maksudnya adalah di jalan Allah), maka dia meninggal dalam keadaan berada di atas satu cabang di antara cabang-cabang kemunafikan.”Minimal kita punya niat, ada niat untuk melakukan ghazwu atau berjihad di jalan Allah. Dan yang dimaksud dengan jihad di sini tentunya adalah jihad yang syar’i. Bukan sembarang jihad atau sesuatu yang dinamakan jihad oleh sebagian, tapi pada hakikatnya itu bukan merupakan jihad yang Islami, bukan jihad yang syar’i. Karena jihad ini sebagaimana ibadah-ibadah yang lain memiliki aturan. Itu adalah satu di antara ibadah yang disyaratkan di dalamnya dua syarat: Ikhlas dan sesuai dengan sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.Contoh misalnya yang namanya jihad yang Islami di dalam agama Islam itu harus dipimpin oleh penguasa muslim yang sah. Sebagaimana dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh sebagian untuk menjadi panglima, Khalid bin Walid misalnya, beliau sebagai panglima besarnya dengan perintah dari penguasa muslim yang sah. Dan jihad juga berkaitan dengan masalah kemampuan. Tidak cukup hanya dengan modal semangat saja. Kalau kaum muslimin mampu dan terpenuhi syarat-syarat yang lain, maka baru disyariatkan jihad. Adapun dalam keadaan kaum muslimin lemah dan musuh mereka dalam keadaan yang kuat secara zahir, maka dalam keadaan demikian bisa saja yang namanya jihad itu gugur kewajibannya.Demikian pula siapa yang menjadi sasaran di dalam jihad yang syar’i, maka sasarannya jelas. Orang Islam menyerang negara kafir misalnya, yang menjadi sasarannya adalah orang-orang yang berperang. Adapun wanita, orang yang sudah tua, anak-anak, maka ini tidak boleh dibunuh. Itu aturan jihad yang ada di dalam agama ini.
- Orang yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat.Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ”Tidaklah seorang muslim meninggal dunia di hari Jumat atau malam Jumat, kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.”Hadis ini hasan diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah. Apakah orang yang selamat dari fitnah kubur berarti kemudian dia selamat dari azab kubur? Maka jawabannya Wallahu a’lam, belum tentu yang demikian. Mungkin saja seseorang dia adalah pelaku maksiat, meninggal dalam keadaan dia memiliki dosa-dosa yang itu bisa menjadi sebab dia diazab di dalam kuburannya. Mungkin saja dia bisa melewati fase fitnah kubur (tidak ditanya), akan tetapi dia meninggal dalam keadaan memiliki dosa, sehingga dia pun—meskipun tidak ditanya dengan fitnah kubur—tetapi dia mendapatkan azab kubur dengan sebab dosa yang dia lakukan.
[HARI KEBANGKITAN (AL-BA’TS)]
Kemudian setelahnya beliau (Penulis) mengatakan rahimahullah:
وَالْبَعْثُ بَعْدَ الْمَوْتِ حَقٌّ
“Dan kebangkitan setelah kematian adalah sesuatu yang benar.”
Maka di antara hal yang harus kita imani adalah akan adanya hari kebangkitan. Dan yang dimaksud adalah dikembalikannya arwah manusia, nyawa-nyawa manusia kepada jasadnya. Setelah jasad tersebut dikembalikan secara sempurna oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian dikembalikan nyawa kepada jasadnya masing-masing sehingga manusia pun kembali hidup. Maka inilah yang dimaksud dengan kebangkitan.
Akan digoncangkan bumi segoncang-goncangnya. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:
إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2)
“Apabila bumi digoncangkan dengan guncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 1-2)
Maksudnya adalah di antaranya adalah manusia yang sudah disempurnakan kembali oleh Allah jasadnya dan dikembalikan arwah kepada jasad-jasad tersebut. Akan dikeluarkan oleh bumi semuanya. Dari manusia yang pertama sampai manusia yang terakhir yang mereka sebelumnya berada di dalam perut bumi, kemudian sempurna jasadnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membukakan kuburan-kuburan tersebut. Dan pertama kali akan terbuka kuburannya adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ada di Madinah. Itu yang pertama kali akan terbuka kuburannya. Kemudian menyusul manusia-manusia yang lain. Semuanya akan dibangkitkan.
Bagaimana keluarnya mereka? Akan Allah Subhanahu wa Ta’ala bedakan. Tidak akan disamakan antara orang yang beriman dengan orang yang kafir. Bahkan orang yang beriman pun tidak akan disamakan antara yang saleh dengan orang yang tidak saleh. Seseorang akan dibangkitkan saat itu sesuai dengan keadaan ketika dia meninggal dunia.
يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
“Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan dia ketika meninggal dunia.”
Kalau meninggal dunia dalam keadaan beriman, maka dibangkitkan dalam keadaan beriman. Kalau meninggal dunia dalam keadaan beramal saleh, maka akan dibangkitkan dalam keadaan beramal saleh. Di dalam sebuah hadis, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa orang yang meninggal dunia dalam keadaan ihram (haji maupun umrah), maka akan dibangkitkan dalam keadaan dia membaca talbiah. Karena orang yang melakukan haji dan juga umrah dalam keadaan ihram, di antara amalan yang diperbanyak adalah membaca talbiah. Labbaiikallahumma labbaik. Kalau kita mendengar suara tersebut di hari-hari tersebut, berarti kita tahu orang ini berarti dahulu meninggal dunia dalam keadaan dia ihram.
Sebaliknya, orang yang meninggal dunia dalam keadaan tidak baik, maka akan dibangkitkan juga dalam keadaan tidak baik. Seperti disebutkan dalam ayat:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (QS. Al-Baqarah: 275)
Bapak Ibu sekalian, hari kebangkitan inilah yang banyak diingkari oleh orang-orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ
“Orang-orang yang kafir menyangka bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: ‘Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan’.” (QS. At-Taghabun: 7)
Ini keyakinan orang-orang di luar Islam. Orang-orang kafir mereka meyakini bahwasanya mereka tidak akan dibangkitkan. Dalil yang sangat banyak sekali di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan bahwasanya manusia kelak akan dibangkitkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan hari tersebut adalah hari yang sangat sulit. Manusia mereka akan banyak yang menyesal. Orang-orang kafir menyesal, orang-orang beriman pun menyesal mengapa mereka dahulu tidak maksimal di dalam beramal.
Oleh karena itu, sebelum itu semuanya terjadi dan Allah Subhanahu wa Ta’ala masih memberikan kita kesehatan, umur, dan masih Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan untuk menjaga keimanan di dalam diri kita masing-masing, maka kita manfaatkan waktu yang masih ada ini dengan baik. Gunakan kesehatan sebelum sakit kita, kelonggaran kita sebelum kesibukan kita, waktu muda kita sebelum kita tua, dan kehidupan kita sebelum kita meninggal dunia.
[PADANG MAHSYAR]
Setelah dibangkitkan manusia dari kubur-kubur mereka, akan terjadi berbagai kejadian yang dahsyat di alam semesta ini. Gunung yang diterbangkan oleh Allah dan dihancurkan menjadi berkeping-keping. Bumi yang dalam keadaan tenang sebelumnya, Allah goncangkan. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan bumi saat itu menjadi rata. Allah akan mengubah bumi, mengganti bumi, mengganti sifatnya sehingga menjadi sesuatu yang rata tanpa gunung, tanpa lembah, tanpa pohon. Laut yang akan meluap, langit yang akan lemah, bergetar, dan juga pecah.
Bagaimana keadaan manusia saat itu? Mereka tentunya sangat ketakutan, kebingungan, panik, dan mereka berlarian ke sana kemari dalam keadaan tidak tahu arah. Sebagaimana digambarkan oleh Allah:
يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ
“Hari di mana manusia seperti laron yang berhamburan.” (QS. Al-Qari’ah: 4)
Bagaimana keadaan orang yang beriman? Allah Subhanahu wa Ta’ala tentunya tidak akan menyamakan antara orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman.
أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ
“Apakah Kami akan menjadikan orang-orang Islam sama dengan orang-orang yang berdosa (kafir)?” (QS. Al-Qalam: 35)
Pertanyaan yang maknanya adalah pengingkaran. Orang yang beriman, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berikan kepada mereka ketenangan.
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)
Maka merekalah orang-orang yang mendapatkan keamanan. Akan diberikan keamanan oleh Allah Azza wa Jalla. Apakah kadar keamanan kita sama? Tidak sama. Sesuai dengan kadar keimanan. Sehingga ini kembali kepada kita masing-masing. Mau memperkuat iman kita atau tidak?
لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَٰذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
“Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata): ‘Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu’.” (QS. Al-Anbiya: 103)
Kapan terjadi kebangkitan tersebut?
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ
“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.” (QS. Yasin: 51)
Dan yang dimaksud oleh mualif tadi:
حِينَ يَنْفُخُ إِسْرَافِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي الصُّورِ.
Maksudnya adalah ketika Israfil meniup sangkakala yang kedua kalinya. Adapun tiupan sangkakala yang pertama ini adalah akan dimatikannya seluruh manusia yang saat itu dalam keadaan hidup.
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاءَ اللَّهُ ۖ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَىٰ فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنظُرُونَ
“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing).” (QS. Az-Zumar: 68)
Setelah mereka dibangkitkan ke mana mereka? Beliau (Penulis) mengatakan:
وَيُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا
“Mereka akan dikumpulkan dalam keadaan tidak memakai alas kaki, dalam keadaan telanjang, dalam keadaan tidak berkhitan, dan dalam keadaan tidak berbicara (buhman).”
Karena di hari tersebut tidak ada yang berani untuk berbicara di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ
“Mereka tidak berbicara kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah.” (QS. An-Naba’: 38)
Dikumpulkan manusia oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dataran yang sangat luas terbentang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى أَرْضٍ بَيْضَاءَ عَفْرَاءَ كَقُرْصَةِ النَّقِيِّ لَيْسَ فِيهَا عَلَمٌ لِأَحَدٍ
“Akan dikumpulkan manusia pada hari kiamat di atas bumi yang berwarna putih kemerahan seperti roti bundar pipih yang datar yang terbuat dari gandum yang bersih. Tidak ada di sana tanda bagi seorang pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak ada manusia yang ketinggalan semuanya dari manusia yang pertama sampai manusia yang terakhir.
وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الْأَرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا
“Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami perjalankan gunung-gunung dan kamu akan dapat melihat bumi itu datar dan Kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorangpun dari mereka.” (QS. Al-Kahfi: 47)
Bukan hanya manusia saja, jin juga akan dikumpulkan. Hewan-hewan pun juga akan dikumpulkan.
وَإِذَا الْوُحُوشُ حُشِرَتْ
“Dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan.” (QS. At-Takwir: 5)
Semuanya akan dikumpulkan di dalam al-ijtima’ al-akbar (perkumpulan yang paling besar).
[KONDISI MATAHARI DAN KERINGAT]
Ketika semuanya dikumpulkan, di sana banyak kejadian-kejadian yang dahsyat. Di antaranya sebagaimana disebutkan di dalam hadis bahwa matahari di saat itu akan didekatkan oleh Allah sejarak 1 mil, sehingga manusia pun mendapatkan kesusahan yang luar biasa. Disebutkan dalam hadis bahwasanya manusia saat itu mereka berkeringat, bercucuran keringat sesuai dengan kadar dosanya.
- Ada di antara mereka yang keringatnya hanya sampai kedua mata kaki saja.
- Ada yang sampai ke kedua lututnya.
- Ada di antaranya yang keringatnya sampai ke pinggangnya.
- Ada di antaranya yang keringatnya sampai kepada mulutnya (seperti kekang), sehingga dia pun tenggelam dengan dosa-dosa yang dia lakukan.
Ini menunjukkan tentang bahayanya dosa. Dan ini menunjukkan tentang kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana di dalam satu tempat, dalam dataran yang sama, kemudian di sana ada cairan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain.
Perawi yang meriwayatkan hadis ini tentang akan didekatkannya matahari sampai sejarak 1 mil mengatakan: “Saya tidak tahu, demi Allah, apakah yang dimaksud oleh Nabi adalah mil yang berarti jarak (1,6 km) atau mil yang artinya pencelak mata.” Tapi seandainya yang dimaksud adalah jarak 1 mil perjalanan, maka ini sudah jarak yang sangat dekat sekali.
[LAMANYA WAKTU DI PADANG MAHSYAR & NAUNGAN ALLAH]
Di sana bukan 1 hari 2 hari mereka akan berada di padang mahsyar, dalam waktu yang sangat-sangat lama sekali. Satu hari di sana kelak adalah sama dengan 50.000 tahun di dunia.
يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ مِقْدَارَ نِصْفِ يَوْمٍ مِنْ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Manusia akan berdiri untuk Allah Rabbul ‘alamin pada saat itu selama setengah hari dari 50.000 tahun.”
Para ulama menjelaskan perbedaan dan keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Allah tidak akan menyamakan orang-orang yang beriman dengan orang yang kafir, maka kebaikan oleh Allah di padang mahsyar, Allah tidak akan samakan antara orang yang beriman dengan orang yang kafir. Bahkan tidak akan Allah samakan di antara orang-orang beriman sendiri.
Maka dia sebagaimana disebutkan dalam hadis:
فَيَهُونُ ذَلِكَ الْيَوْمُ عَلَى الْمُؤْمِنِ
“Maka hari tersebut akan menjadi ringan bagi orang yang beriman.”3
Perasaan dia waktunya adalah seperti jarak antara menjelang tenggelamnya matahari sampai tenggelamnya matahari. Ini qudratullah juga. Padahal mereka dalam waktu atau di tempat yang sama. Tapi Allah bedakan. Orang yang berim4an merasanya itu sebentar saja.
يَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَن لَّمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِّنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ
“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan.” (QS. Yunus: 45)
[TUJUH GOLONGAN YANG MENDAPAT NAUNGAN]
Ada beberapa golongan dalam keadaan seperti itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala selamatkan mereka dari panas dan juga kesusahan. Di saat manusia merasakan panasnya berkeringat, Allah Subhanahu wa Ta’ala muliakan sebagian hamba-hamba Allah sehingga di hari tersebut Allah berikan teduhan kepada mereka. Dan teduhan tersebut adalah berada di bawah bayangan ‘Arsy.
Siapa mereka? Disebutkan dalam hadis ada tujuh golongan:
- إِمَامٌ عَادِلٌ (Pemimpin yang adil). Baik pemimpin negara, yayasan, DKM, atau pemimpin keluarga (ayah/suami).
- شَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ (Seorang pemuda yang tumbuh dalam keadaan beribadah kepada Allah). Di saat pemuda lain sibuk dengan hura-hura, dia menghafal Al-Qur’an dan mempelajari agama.
- رَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ (Seseorang yang hatinya bergantung dengan masjid).
- رَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ (Dua orang yang saling mencintai karena Allah). Bertemu dan berpisah karena Allah.
- رَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهَ (Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, kemudian dia mengatakan: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”).
- رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ (Seseorang yang bersedekah dengan sedekah yang disembunyikan, sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya).
- رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ (Seorang laki-laki yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sendirian, kemudian meneteskan air mata).
Perlu diketahui bahwa tujuh tadi ternyata bukan pembatasan. Di sana ada hadis-hadis yang lain yang juga menunjukkan keutamaan ini. Seperti orang yang memberikan tempo kepada orang yang kesusahan membayar hutang.
مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ
“Barang siapa yang memberikan tempo bagi orang yang kesusahan (membayar hutang) atau memaafkan hutangnya, maka Allah akan memberikan teduhan kepadanya di bawah naungan-Nya.” (HR. Muslim)
[SESI TANYA JAWAB]
- Tanya: Apakah hadis membaca surah Al-Mulk terhindar dari fitnah kubur sahih?Jawab: Seingat saya hadisnya tidak sahih (dhaif). Coba dicek kembali. Kalau hadisnya dhaif, maka tidak boleh meyakini keutamaannya secara khusus. Tapi jika ada pendapat yang mensahihkan, silakan. Ustaz menyarankan untuk berhati-hati.
- Tanya: Bagaimana kalau seseorang tidak berhasil dalam menjawab fitnah kubur?Jawab: Yang tidak berhasil menjawab adalah orang-orang kafir, musyrik, dan munafik. Mereka akan mendapatkan azab. Orang beriman insyaallah bisa menjawab.
- Tanya: Bisakah mendoakan mayit dengan bahasa Indonesia?Jawab: Bisa. Tidak harus dengan bahasa Arab. Allah Maha Mendengar. Jangan sampai ketidakmampuan bahasa Arab menghalangi kita mendoakan saudara kita.
- Tanya: Bolehkah berdoa tanpa wudhu (tidak suci)?Jawab: Boleh. Tidak masalah seseorang berdoa dalam keadaan tidak suci, meskipun afdalnya dalam keadaan suci.
- Tanya: Apakah boleh berdoa di setiap sujud dalam salat?Jawab: Boleh. Karena Nabi bersabda: أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ (Paling dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia bersujud). Ini umum, baik sujud di rakaat pertama maupun terakhir.
- Tanya: Hukum memanfaatkan tanah fasilitas umum (Fasum) untuk tanaman?Jawab: Lebih hati-hatinya seseorang meminta izin pada yang berhak atau warga setempat. Kalau memang itu fasilitas umum, mungkin ada prosedurnya.
Barakallahu fikum. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita semuanya ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang diamalkan.
صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



