TABLIGH AKBAR Syekh Dr. Muhammad Hisyam Thahiri | “Mengapa Aku Memilih Dakwah Salafiyyah?”
Tablig Akbar: Mengapa Aku Memilih Dakwah Salafiyah? oleh Syaikh Dr. Muhammad Hisyam Thahiri hafizahullah.

Tablig Akbar: Mengapa Aku Memilih Dakwah Salafiyah? oleh Syaikh Dr. Muhammad Hisyam Thahiri hafizahullah.
Pemateri: Syaikh Dr. Muhammad Hisyam Thahiri hafizahullah
Penerjemah: Ustadz Dr. MH Hasan Ayatullah hafizahullah
Waktu & Tempat: Sabtu, 19 Syakban 1447 H / Masjid Jami’ Al-Barkah, Cileungsi
MUKADIMAH (PEMBUKAAN)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.
Amma ba’du, sesungguhnya aku memuji Allah Jalla wa ‘Ala yang telah memudahkan pertemuan kita dengan antum semua pada pagi hari ini di Masjid Al-Barkah yang diberkahi, pada waktu Dhuha, hari Sabtu tanggal 19 Syakban 1447 Hijriah (7 Februari 2026), untuk bersama-sama mengkaji pembahasan penting, yaitu: “Kenapa Aku Memilih Manhaj atau Dakwah Salafiyah?”
فأسأل الله تبارك وتعالى أن يوفقنا ويسددنا لبيان هذا الموضوع في هذه المحاضرة إن شاء الله
(Semoga Allah Tabaraka wa Ta’ala memberikan taufik dan bimbingan kepada kita untuk menjelaskan pembahasan ini pada kajian pagi hari ini, insyaallah).
ISI KAJIAN
1. Kondisi Awal Umat: Persatuan di Atas Sunnah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berada pada petunjuk dan jalan yang lurus. Mereka berada pada kondisi persatuan, kesatuan kalimat, dan keteguhan. Allah berfirman:
﴿ ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا ﴾
(Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah…) [QS. Al-Jatsiyah: 18].
Maka ikutilah akidah yang dipraktikkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat ini. Dakwah ini diajarkan beliau kepada para sahabat, kemudian dipraktikkan oleh seluruh kaum muslimin. Keadaan ini terus berlangsung hingga muncul benih-benih perpecahan, karena ada usaha tangan-tangan yang tidak kelihatan yang menginginkan kerusakan bagi Islam dan kaum muslimin, sehingga muncullah berbagai perbedaan.
2. Munculnya Fitnah & Perpecahan (Abdullah bin Saba’)
Ada seseorang yang muncul di zaman dahulu bernama Abdullah bin Saba’. Dia berasal dari bangsa Yahudi, berpura-pura menampakkan keislaman namun merusak Islam dari dalam. Dia menyebarkan dua pemikiran sesat:
- Hasutan untuk memberontak kepada pemerintah yang sah dan mengganti kekuasaan dengan cara kekerasan (kudeta).
- Berusaha mencela para sahabat Nabi Ridwanullahi ‘alaihim.
Mencela para sahabat itu hakikatnya adalah mencela Al-Qur’an dan Hadis. Mengapa? Karena Al-Qur’an dan Hadis sampai kepada kita melalui perantaraan para sahabat. Jika para sahabat dicela, maka agama ini tidak lagi diambil dari Al-Qur’an dan Hadis, melainkan akan berpindah diambil dari pendapat, akal, dan perasaan semata. Wal ‘iyadzu billah.
Abdullah bin Saba’ hanyalah satu contoh, namun orang-orang semacam ini banyak. Mereka bekerja sama menebar fitnah hingga terjadinya pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Setelah itu muncullah sekte Khawarij yang memiliki pemimpin sendiri di zaman Khalifah Ali radhiyallahu ‘anhu. Ini semua adalah buah dari hasutan Abdullah bin Saba’.
3. Hilangnya Persatuan Umat
Dahulu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat bagaikan satu kekuatan yang utuh, saling erat berpegangan. Mereka mempraktikkan firman Allah:
﴿ إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ ﴾
(Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara) [QS. Al-Hujurat: 10].
Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
المُسْلِمُ أَخُو المُسْلِمِ
(Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya).
Namun ketika fitnah Abdullah bin Saba’ muncul, persatuan itu terpecah menjadi berbagai sekte dan kelompok. Islam seakan tersobek-sobek. Muncul Khawarij, yang bahkan sesama mereka saling mengkafirkan. Khawarij Kufah mengkafirkan Khawarij Basrah, Khawarij Basrah mengkafirkan Khawarij Khurasan. Muncul pula kelompok Pencela Sahabat (Syiah). Maka tugas seorang muslim adalah melihat: Mana di antara ajaran-ajaran ini yang merupakan prinsip dasar yang dulu dipraktikkan oleh Nabi dan para Sahabat?
Setelah itu muncul sekte Qadariyah, Murji’ah, Jahmiyah, dan Mu’tazilah. Di tengah kebingungan ini, inilah inti dari pembahasan muhadharah hari ini: Siapa yang berhak diikuti?
4. Kewajiban Mengikuti Dalil, Bukan Fanatisme Golongan
Kita tidak bisa menutup mata dan asal memilih kelompok hanya karena berkata, “Saya ikut kelompok ini karena ini kelompok sepupu saya, atau tradisi kampung saya.” Tidak. Pilihan harus berdasarkan dalil.
Perpecahan adalah Sunnatullah kauniyah (takdir alam semesta) yang pasti terjadi, tidak mungkin ditolak. Allah Azza wa Jalla berfirman:
﴿ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ * إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ ﴾
(Dan mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu) [QS. Hud: 118-119].
Tugas kita adalah berupaya agar tidak masuk ke golongan yang “senantiasa berselisih”, melainkan masuk ke dalam pengecualian: “Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu.”
5. Hadis Iftiraqul Ummah (Perpecahan Umat)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat sayang kepada umatnya. Beliau siap menjadikan ayah dan ibunya sebagai tebusan. Beliau menjelaskan bahwa umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Beliau bersabda:
كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً
(Semuanya di neraka, kecuali satu).
Maksudnya “semuanya di neraka” adalah mereka terancam masuk neraka karena melakukan kebid’ahan dan hal baru dalam agama, bukan sekadar karena dosa maksiat biasa. Kecuali satu yang selamat. Para sahabat bertanya: “Siapa mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:
مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
(Mereka yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya hari ini).
Inilah alasan mendasar kenapa kita memilih Manhaj Salaf: Karena inilah jalan yang ditempuh Nabi dan para sahabat dengan dalil yang kuat.
6. Karakteristik Dakwah Salafiyah: Berlandaskan Wahyu
Ketika Nabi ditanya oleh Yahudi, Nasrani, atau Musyrikin, beliau tidak menjawab dengan akal atau “kata nenek moyang”. Beliau menunggu wahyu. Dakwah Salafiyah dibangun di atas Al-Qur’an dan Sunnah, bukan di atas filsafat, perasaan (dzauq), atau mimpi.
Allah berfirman:
﴿ اتَّبِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ ﴾
(Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya) [QS. Al-A’raf: 3].
Banyak orang yang mengaku Islam tapi seperti orang Munafik yang diceritakan Allah:
﴿ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ﴾
(Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”) [QS. Luqman: 21].
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan orang yang menolak Sunnah dengan dalih cukup Al-Qur’an saja:
لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يَأْتِيهِ الْأَمْرُ مِنْ أَمْرِي مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُولُ: لَا نَدْرِي، مَا وَجَدْنَا فِي كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ. أَلَا وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ
(Jangan sampai aku mendapati salah seorang dari kalian bersandar di atas dipannya, datang kepadanya perintah dariku atau larangan dariku, lalu dia berkata: “Kami tidak tahu, apa yang kami temukan di Kitabullah kami ikuti.” Ketahuilah, sesungguhnya apa yang diharamkan Rasulullah sama dengan apa yang diharamkan Allah) [HR. Abu Dawud].
7. Metode Pemahaman (Manhajut Talaqqi): Pemahaman Salaf
Kenapa kita memilih dakwah ini? Karena kita memahami Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana dipahaminya para Sahabat. Kita tidak menafsirkan sendiri dengan akal atau perasaan. Jika menafsirkan ayat, kita lihat tafsir Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Mujahid, dan para Tabi’in.
Allah berfirman:
﴿ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ ﴾
(Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu) [QS. An-Nahl: 89].
Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
(Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali wajib atasnya untuk menunjukkan umatnya kepada kebaikan yang ia ketahui bagi mereka, dan memperingatkan mereka dari keburukan yang ia ketahui bagi mereka).
Kita tidak ingin menggunakan kacamata sendiri dalam memahami agama, tapi kacamata para Sahabat. Allah berfirman:
﴿ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ ﴾
(Berimanlah kalian sebagaimana orang-orang (para sahabat) itu telah beriman) [QS. Al-Baqarah: 13].
8. Hadis Irbad bin Sariyah: Wasiat Saat Perpecahan
Dalam Sunan Abi Dawud dan Tirmidzi dengan sanad shahih, dari Irbad bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu:
وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ. فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا. قَالَ: أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ؛ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ
(Rasulullah memberikan nasihat yang membuat hati kami bergetar dan air mata berlinang… Beliau bersabda: “Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemimpin)… Barang siapa di antara kalian yang hidup setelahku akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan hati-hatilah kalian terhadap perkara-perkara baru (dalam agama)…).
9. Thaifah Manshurah (Kelompok yang Ditolong)
Kita mengikuti Manhaj Salaf karena inilah cerminan kelompok yang selamat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam Sahih Bukhari:
لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ
(Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak di atas kebenaran, tidak akan membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka atau menyelisihi mereka).
10. Jalan Para Imam Mazhab
Manhaj ini adalah manhajnya Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, Ahmad, Bukhari, Muslim, dan lainnya.
Imam Al-Lalaka’i rahimahullah dalam kitab Syarah Ushul I’tiqad berkata bahwa akidah ini dinukil dari lebih 500 ulama dari berbagai negeri, dan mereka semua sepakat.
Para ulama Salaf menjaga agama ini dari bid’ah. Nabi bersabda:
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
(Hati-hatilah kalian dari perkara baru, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat) [HR. Jabir].
11. Pentingnya Amal, Bukan Sekadar Nasab/Klaim
Keselamatan tidak didapat hanya dengan klaim atau nasab, tapi dengan amal. Allah berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ ﴾
(Wahai sekalian manusia, sembahlah Tuhanmu) [QS. Al-Baqarah: 21].
Dakwah Salafiyah mengajak menyembah Allah semata, mengajak kembali kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mengajak bersatu di atas tali Allah:
﴿ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ﴾
(Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai) [QS. Ali Imran: 103].
12. Wasathiyah (Pertengahan)
Manhaj Salaf adalah pertengahan (wasath), jauh dari sifat Ghululuw (berlebihan) ala Khawarij, dan jauh dari sifat meremehkan ala Murji’ah. Allah berfirman:
﴿ وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ﴾
(Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia) [QS. Al-Baqarah: 143].
13. Referensi Utama: Kitab-Kitab Sunnah
Akidah kita ada di kitab-kitab induk.
- Bicara iman? Lihat Kitab Al-Iman dalam Shahih Bukhari.
- Bicara tauhid? Lihat Kitab At-Tauhid di akhir Shahih Bukhari.
- Bicara berpegang teguh pada sunnah? Lihat Kitab Al-I’tisham bil Kitab was Sunnah dalam Shahih Bukhari.
Semua ini dinukil dari ulama hadis, bukan karangan baru. Akidah Salaf tidak dinisbatkan kepada individu (seperti Asy’ariyah atau Khawarij), tapi kepada Salaf (pendahulu) umat ini.
TANYA JAWAB (AS-ILAH)
1. Sikap Saat Berdakwah di Lingkungan Ahli Bid’ah
Pertanyaan: Ada dai sunnah di lingkungan ahli bid’ah yang tidak berani terang-terangan karena takut mudarat. Bagaimana hukumnya?
Jawaban: Jika niatnya tulus menunda demi kemaslahatan dan menunggu waktu tepat, semoga Allah menolong. Tapi jika karena mencari muka atau dunia, itu kehinaan.
2. Dua Kali Adzan Jumat
Pertanyaan: Apakah menjawab dua adzan Jumat itu sunnah?
Jawaban: Di zaman Nabi, Abu Bakar, Umar, adzan sekali. Di zaman Utsman, beliau menambah adzan pertama di pasar. Mengikuti Utsman adalah sunnah Khulafaur Rasyidin.
Nabi bersabda: فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ. Jadi, melaksanakan satu adzan itu sunnah, dua adzan juga sunnah. Jika ada dua adzan, disyariatkan menjawab keduanya.
3. Ujian Setelah Hijrah
Pertanyaan: Banyak yang hijrah ke manhaj Salaf lalu diuji masalah hidup, lalu menyalahkan manhaj. Bagaimana agar istiqamah?
Jawaban:
Pertama, bersyukur atas hidayah.
Kedua, ujian adalah Sunnatullah. Allah berfirman:
﴿ أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ * وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ ﴾
(Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka…) [QS. Al-Ankabut: 2-3].
4. Kesempitan Rezeki
Pertanyaan: Nasihat bagi yang diuji ekonomi sulit.
Jawaban: Contohlah Nabi. Beliau pemimpin manusia dan jin, tapi sering kelaparan. Istri-istri beliau tidak mengeluh. Ingatlah, Al-‘Afiyah (kesehatan dan keselamatan agama) lebih mahal dari harta.
5. Menerjemahkan Al-Qur’an dan Hadis
Pertanyaan: Bolehkah penuntut ilmu menerjemahkan dalil?
Jawaban: Boleh menerjemahkan makna (bukan menafsirkan sendiri), dengan 3 syarat:
- Paham Bahasa Arab (sumber).
- Paham Bahasa Tujuan (Indonesia) dengan baik.
- Paham disiplin ilmu syar’i yang diterjemahkan.
6. Baca Qur’an di Kuburan & Kirim Pahala
Pertanyaan: Benarkah Mazhab Imam Ahmad membolehkan baca Qur’an di kuburan?
Jawaban:
- Nukilan itu tidak benar. Riwayatnya munqathi’ (terputus). Imam Ahmad sangat anti-bid’ah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membantahnya.
- Masalah kirim pahala bacaan Qur’an ke mayit adalah khilafiyah. Pendapat mayoritas sahabat dan Imam Syafi’i adalah tidak sampai. Yang sampai adalah doa, sedekah, haji/umrah.
PENUTUP
Beliau menutup dengan wasiat Imam Malik rahimahullah:
لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا
(Tidak akan menjadi baik generasi akhir umat ini, kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya).
Dan wasiat Umar bin Abdul Aziz rahimahullah:
مِنَ اللَّهِ الرِّسَالَةُ، وَعَلَى الرَّسُولِ الْبَلَاغُ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ
(Dari Allah datangnya risalah, kewajiban Rasul adalah menyampaikan, dan kewajiban kita adalah menerima dan tunduk).
Semoga Allah wafatkan kita di atas akidah Ahlusunnah wal Jamaah.
Wallahu a’lam bish-shawab.


