Dr. Emha Hasan Ayatullah M.AKajian KitabShahih Jami' As- Shagir

Shahih Jami’ As- Shagir: Kedudukan dan Keutamaan Sahabat Nabi

Kedudukan dan Keutamaan Sahabat Nabi

Mukadimah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ.

Kaum muslimin dan muslimat, pemirsa Rodja TV, pendengar Radio Rodja, dan seluruh kaum muslimin yang mengikuti pengajian pada malam hari ini. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberikan kita keberkahan pada ilmu, umur, keluarga, harta, dan aktivitas yang kita kerjakan. Semoga Allah meridai kita dan memudahkan kita untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat serta mengamalkannya dalam amal saleh.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang beberapa sahabat Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang disebutkan dalam sebuah riwayat dan mendapatkan julukan, gelar, atau rekomendasi langsung dari beliau; di mana saat mereka masih hidup, telah diwartakan bahwa mereka akan meninggal sebagai syahid.

Para ulama menegaskan bahwa seseorang tidak boleh sembarangan menyebut fulan sebagai “orang beriman,” “syahid,” atau “pasti masuk surga” jika tidak ada dalil khusus yang mendasarinya. Urusan akhirat adalah perkara gaib, dan seseorang tidak boleh berbicara mengenai perkara gaib kecuali dengan dalil. Namun, jika sekadar mendoakan, seperti mengucapkan, “كَتَبَ اللَّهُ لَهُ الشَّهَادَةَ” (Semoga Allah menetapkannya sebagai syahid), maka hal itu diperbolehkan.

Kedudukan dan Keutamaan Sahabat Nabi

Para sahabat Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ secara umum adalah orang-orang yang diridai oleh Allah. Mereka bukan sekadar orang-orang yang pandai berbahasa Arab atau sekadar penduduk Arab, melainkan sosok-sosok yang memiliki hati jernih, siap berjuang, dan rela mengorbankan segala yang mereka miliki demi Islam, kaum muslimin, serta demi membela Allah dan Rasul-Nya. Totalitas dan pengorbanan ini dijadikan oleh Allah sebagai sebuah keistimewaan.

Bahkan, perbandingan antara sahabat senior dengan sahabat junior pun memiliki tingkatannya tersendiri. Allah menegaskan dalam surah Al-Hadid ayat 10:

لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ

(Tidak sama di antara kalian orang yang menginfakkan [hartanya] dan berperang sebelum penaklukan [Makkah]).

Orang-orang yang masuk Islam di awal masa, yang rela mendermakan harta dan memperjuangkan segalanya melewati masa-masa yang sulit, memiliki pengorbanan yang sangat teruji dibandingkan mereka yang berbondong-bondong masuk Islam belakangan. Allah memuji mereka dengan firman-Nya: رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ (Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah).

Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun bersabda:

“لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ”

(Janganlah kalian mencela para sahabatku. Demi Zat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya hal itu tidak akan mampu menyamai pahala infak satu mud salah seorang dari mereka, dan tidak pula separuhnya).

Inilah alasan mengapa Ahlusunah memiliki ciri khas: memahami Al-Qur’an dan hadis berdasarkan pemahaman para sahabat. Mereka adalah orang-orang yang jiwanya paling bersih, paling ikhlas, dan paling nyata perjuangannya. Ahlusunah memahami dalil dengan kacamata orang-orang yang paling mengerti dan telah direkomendasikan langsung oleh syariat.

Sahabat-Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

Di antara para sahabat, ada 10 orang yang secara khusus dijamin masuk surga dalam satu hadis (Al-Asyrah Al-Mubashshirun bil Jannah). Mereka adalah: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Sa’id bin Zaid, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.

Mengenal dan meneladani mereka adalah sebuah keharusan. Sangat disayangkan jika seorang muslim justru tidak mengenal pahlawan-pahlawan sejati ini. Oleh karena itu, sebagian ulama ahli hadis merasa bangga memberikan nama anak-anak mereka dengan nama kesepuluh sahabat ini sebagai bentuk tafa’ul (harapan baik).

Selain kesepuluh sahabat tersebut, ada pula sahabat lain yang dijamin surga secara individual, seperti:

  • Bilal bin Rabah: Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda kepadanya, “يَا بِلَالُ… إِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ” (Wahai Bilal… sesungguhnya aku mendengar derap langkah terompahmu di hadapanku di dalam surga).
  • Khadijah binti Khuwailid: Dijanjikan sebuah istana di surga dan mendapat salam langsung dari Malaikat Jibril. Istri-istri Nabi kelak akan menjadi istri beliau di dunia dan di akhirat.
  • Hanzhalah bin Abi Amir: Gugur di Perang Uhud dan dikenal dengan julukan غَسِيلُ الْمَلَائِكَةِ (Orang yang dimandikan oleh para malaikat) karena ia berangkat berjihad dalam keadaan junub belum sempat mandi wajib. Keturunannya bahkan dijuluki ابْنُ الْغَسِيلِ (Anak dari orang yang dimandikan malaikat).
  • Ukasyah bin Mihsan: Ia meminta didoakan agar termasuk dalam 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab dan azab. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjawab, “أَنْتَ مِنْهُمْ” (Engkau termasuk dari mereka) atau dalam riwayat lain, “اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ” (Ya Allah, jadikanlah ia bagian dari mereka).
  • Wanita Hitam yang Terkena Epilepsi: Ia datang mengadu, “إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي” (Sesungguhnya aku terkena penyakit ayan/epilepsi sehingga auratku tersingkap, maka doakanlah aku kepada Allah). Nabi menawarkannya pilihan: didoakan sembuh, atau bersabar dan mendapatkan surga. Ia menjawab, “بَلْ أَصْبِرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ” (Aku memilih bersabar, ya Rasulullah). Ia hanya meminta didoakan agar auratnya tidak tersingkap saat penyakitnya kambuh. Wanita ini adalah calon penghuni surga yang berjalan di muka bumi.

Peristiwa Bergetarnya Gunung Uhud dan Gunung Hira

Ada dua hadis utama yang dibahas pada pertemuan ini.

Pertama, hadis nomor 131 yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi dari sahabat Anas bin Malik, serta beberapa riwayat lainnya. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ naik ke Gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Saat itu, Gunung Uhud bergetar. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pun menghentakkan kakinya dan bersabda:

“اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ”

(Tenanglah wahai Uhud! Karena sesungguhnya di atasmu hanyalah ada seorang Nabi, seorang Shiddiq, dan dua orang Syahid).

Kedua, hadis nomor 132 (terdapat juga dalam Sahih Muslim dari Abu Hurairah) menceritakan bahwa Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berada di atas Gunung Hira, dan gunung tersebut pun bergetar. Beliau bersabda:

“اسْكُنْ حِرَاءُ، فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ أَوْ صِدِّيقٌ أَوْ شَهِيدٌ”

(Diamlah wahai Hira! Karena sesungguhnya di atasmu tidak ada siapa-siapa kecuali seorang Nabi, atau seorang Shiddiq, atau seorang Syahid).

Pada saat itu, di atas gunung Hira turut serta Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqas, dan Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhum. Semua sahabat yang disebutkan mendampingi Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ saat itu kelak meraih kesyahidan, kecuali Abu Bakar.

Gelar “Shiddiq” sangat melekat pada Abu Bakar. Sebagian ahli tafsir merujuk firman Allah pada surah Az-Zumar ayat 33: وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ (Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya) ditafsirkan sebagai Abu Bakar. Ia juga dipuji langsung dalam Al-Qur’an sebagai Shahib (sahabat) dalam surah At-Taubah ayat 40: إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا (Ketika dia berkata kepada sahabatnya: “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”).

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu juga telah berdoa mengharapkan hal ini. Dalam Sahih Bukhari, beliau bermunajat:

“اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ، وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ”

(Ya Allah, karuniakanlah kepadaku mati syahid di jalan-Mu, dan jadikanlah kematianku di negeri Rasul-Mu [Madinah]).

Doa ini dikabulkan oleh Allah. Beliau dibunuh dengan pisau beracun oleh Abu Lu’lu’ah Al-Majusi saat sedang mengimami Sholat di mihrab.

Ujian dan Fitnah: Kisah Utsman bin Affan

Setelah wafatnya Umar—yang menjadi pintu penutup fitnah—berbagai fitnah, pemberontakan, dan bidah (seperti Khawarij, Qadariyah, dan Murji’ah) mulai bermunculan. Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu pun menjadi korban kudeta dan syahid di rumahnya.

Hal ini telah dinubuatkan oleh Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dalam riwayat At-Tirmidzi yang sahih:

“يَا عُثْمَانُ إِنَّهُ لَعَلَّ اللَّهَ يُقَمِّصُكَ قَمِيصًا، فَإِنْ أَرَادُوكَ عَلَى خَلْعِهِ فَلَا تَخْلَعْهُ لَهُمْ”

(Wahai Utsman, bisa jadi kelak Allah akan memakaikanmu sebuah pakaian kebesaran [jabatan khalifah]. Jika orang-orang menginginkan agar engkau melepasnya, maka janganlah engkau lepaskan untuk mereka).

Pemberontakan ini diprakarsai oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang berkeliling menebar fitnah dengan slogan: “أَظْهِرُوا الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَاسْتَمِيلُوا قُلُوبَ النَّاسِ” (Tampakkanlah amar makruf nahi mungkar, dan raihlah simpati hati masyarakat). Ia menghasut kaum muslimin hingga akhirnya Utsman dikepung di rumahnya.

Saat para pemberontak memaksa menjadi imam Sholat di masjid, sebagian kaum muslimin dari luar rumah berteriak meminta fatwa kepada Utsman karena enggan bermakmum kepada imam fitnah. Utsman dengan bijaksana menjawab:

“الصَّلَاةُ أَحْسَنُ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ…”

(Sholat adalah amalan terbaik yang dikerjakan manusia. Maka Sholatlah bersama mereka).

Beliau tidak ingin ada pertumpahan darah di kalangan kaum muslimin dan menahan diri hingga akhirnya terbunuh.

Berita syahidnya Utsman ini juga telah diisyaratkan di Sumur Aris. Dalam riwayat Sahih Bukhari, Abu Musa Al-Asy’ari bertekad: “لَأَخْرُجَنَّ، فَلَأَكُونَنَّ بَوَّابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْيَوْمَ” (Aku akan keluar dan sungguh aku akan menjadi penjaga pintu Rasulullah pada hari ini).

Ketika Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sedang duduk santai di bibir sumur (بِئْرِ أَرِيسٍ), berturut-turut datanglah tiga sahabat utama.

  1. Abu Bakar datang (أَبُو بَكْرٍ يَسْتَأْذِنُ). Nabi bersabda: “ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ” (Izinkan ia masuk dan berikan kabar gembira kepadanya dengan surga).
  2. Umar datang. Nabi bersabda dengan kalimat yang sama: “ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ”.
  3. Utsman datang. Nabi bersabda: “ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ عَلَى بَلْوَى تُصِيبُهُ” (Izinkan ia masuk dan berikan kabar gembira kepadanya dengan surga, atas musibah yang akan menimpanya). Utsman pun menjawab: “اللَّهُ الْمُسْتَعَانُ” (Hanya Allah tempat memohon pertolongan).

Posisi duduk mereka di sumur tersebut ditakwilkan oleh Sa’id bin Musayyib dengan perkataannya: “فَأَوَّلْتُهَا قُبُورَهُمْ” (Maka aku menakwilkannya sebagai letak kuburan mereka kelak). Di mana kuburan Abu Bakar dan Umar berdekatan dengan Nabi, sementara Utsman dimakamkan di Baqi’.

Kisah Sahabat Lainnya dalam Hadis Tersebut

  • Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah: Keduanya adalah Ashabus Syura (enam orang yang ditunjuk Umar untuk bermusyawarah memilih khalifah) sekaligus ipar Nabi. Keduanya terlibat dalam Perang Jamal (sebuah konflik politik/fitnah), namun keduanya memutuskan mundur setelah menyadari bahwa itu adalah pertempuran sesama kaum muslimin. Sayangnya, kelompok provokator mengejar dan membunuh mereka. Saat pembunuh Zubair melapor dengan bangga kepada Ali bin Abi Thalib, Ali justru marah dan bersabda: “بَشِّرْ قَاتِلَ ابْنِ صَفِيَّةَ بِالنَّارِ” (Berikanlah kabar gembira berupa neraka bagi pembunuh putra Shafiyyah [Zubair]).
  • Sa’ad bin Abi Waqqas: Sahabat yang doanya sangat mustajab. Ketika ditanya apa rahasianya, “تُسْتَجَابُ دَعْوَتُكَ مِنْ بَيْنِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ” (Doamu sangat mustajab di antara para sahabat Rasulullah), beliau menjawab: “مَا رَفَعْتُ إِلَى فَمِي لُقْمَةً إِلَّا وَأَنَا عَالِمٌ مِنْ أَيْنَ مَجِيئُهَا وَمِنْ أَيْنَ خَرَجَتْ” (Tidaklah aku mengangkat satu suap makanan ke mulutku kecuali aku tahu dari mana sumbernya dan untuk apa ia dikeluarkan).
  • Ammar bin Yasir: Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menubuatkannya: “وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ” (Kasihan Ammar, ia akan dibunuh oleh kelompok yang melampaui batas). Hal ini membuktikan kebenaran posisi Ali saat konflik terjadi.

Generasi sahabat adalah manusia yang tidak tertandingi. Abdullah bin Mubarak rahimahullah pernah ditanya mengenai perbandingan Muawiyah bin Abi Sufyan dengan Umar bin Abdul Aziz. Beliau menjawab tegas:

“لَغُبَارٌ دَخَلَ فِي أَنْفِ مُعَاوِيَةَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ عُمَرَ”

(Sungguh, debu yang masuk ke hidung Muawiyah saat bersama Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ lebih utama daripada seribu orang seperti Umar bin Abdul Aziz).

Oleh karena itu, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berpesan:

“مَنْ كَانَ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ، أُولَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ”

(Barang siapa yang ingin mencari teladan, maka teladanilah orang-orang yang telah wafat; mereka adalah para sahabat Muhammad صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ).

Imam Malik rahimahullah juga mengatakan:

“كَانَ السَّلَفُ يُعَلِّمُونَ أَوْلَادَهُمْ حُبَّ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ كَمَا يُعَلِّمُونَهُمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ”

(Dahulu para ulama Salaf mengajarkan anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar dan Umar, sebagaimana mereka mengajarkan surah dari Al-Qur’an).

Sebagaimana sebuah syair menyebutkan:

فَتَشَبَّهُوا إِنْ لَمْ تَكُونُوا مِثْلَهُمْ * إِنَّ التَّشَبُّهَ بِالْكِرَامِ فَلاحُ

(Berusahalah menyerupai mereka meskipun kalian tidak bisa menyamai mereka. Sesungguhnya menyerupai orang-orang mulia adalah sebuah keberuntungan).


Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan 1: Batasan Penggunaan Hadis Dhaif (Lemah)

Penanya: Bapak Ibnu Yusuf dari Kota Tangerang bertanya sejauh mana batasan hadis dhaif dapat digunakan untuk fadha’ilul a’mal (keutamaan ibadah).

Jawaban: Pada dasarnya, hadis dhaif diragukan penisbatannya kepada Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Sebagian ulama seperti Imam Muslim melarang mutlak pengamalannya. Namun, mayoritas ulama (jumhur) membolehkan pengamalannya khusus untuk fadha’ilul a’mal (motivasi beramal) dengan syarat yang ketat:

  1. Kelemahannya tidak parah (bukan hadis munkar atau maudhu’ / palsu).
  2. Hadis tersebut memiliki penguat (syawahid/mutaba’at), baik dari hadis lemah lainnya atau dari fatwa para sahabat dan tabiin.
  3. Saat mengamalkannya, tidak boleh meyakini secara pasti bahwa hadis tersebut sahih berasal dari Nabi.
  4. Hadis lemah tersebut tidak boleh digunakan untuk menetapkan syariat/ibadah baru, melainkan hanya menjelaskan pahala, motivasi, atau ancaman dari sebuah ibadah yang landasan hukum utamanya sudah ditetapkan oleh hadis yang sahih.

Pertanyaan 2: Pemahaman Tafsir Sahabat yang Jarang Bertemu Nabi

Penanya: Abu Salman dari Tangerang bertanya, apakah pemahaman sahabat terhadap Al-Qur’an sama meski intensitas pertemuan mereka dengan Nabi berbeda-beda.

Jawaban:

Tingkatan keilmuan para sahabat memang berbeda-beda. Ada yang intens bermulazamah seperti Abu Bakar dan Abu Hurairah, ada ahli fikih seperti Ibnu Mas’ud dan Mu’adz bin Jabal, serta para Qurra seperti Ubay bin Ka’ab. Namun, para sahabat selalu saling mengajarkan dan sangat terpercaya. Mereka sendiri menegaskan:

“مَا كُلُّ حَدِيثٍ سَمِعْنَاهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَكِنْ كَانَ يُحَدِّثُ بَعْضُنَا بَعْضًا”

(Tidak semua hadis kami dengar langsung dari Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, melainkan sebagian dari kami menceritakannya kepada sebagian yang lain).

Contohnya saat perintah peralihan arah kiblat turun; jemaah yang sedang Sholat Subuh di Quba langsung memutar arah Sholat mereka setelah diberitahu oleh satu orang sahabat yang mendengar beritanya.

Pertanyaan 3: Sahabat Nabi Terakhir yang Wafat

Penanya: Bapak Reza dari Mandailing Natal bertanya mengenai siapa sahabat terakhir yang wafat dan di mana makamnya.

Jawaban:

Menurut para ulama sejarah, sahabat yang paling terakhir wafat secara mutlak (آخِرُ الصَّحَابَةِ وَفَاةً) adalah Abu Thufail, Amir bin Watsilah Al-Kinani radhiyallahu ‘anhu (wafat sekitar tahun 100 atau 110 H). Namun, di mana ia dimakamkan tidaklah terlalu esensial untuk diperdebatkan, karena yang paling penting dari para sahabat adalah meneladani iman, ilmu, dan ibadah mereka.


Penutup

Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah bersabda:

“الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ”

(Ruh-ruh itu ibarat prajurit yang berkelompok-kelompok. Yang saling mengenal (memiliki kecocokan sifat) di antaranya akan bersatu, dan yang saling mengingkari akan berpisah).

Berbahagialah mereka yang senantiasa meneladani orang-orang saleh dan mencintai para sahabat, karena orang yang baik akan dikumpulkan bersama orang-orang yang baik pula.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan kepada kita semua. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Related Articles

Back to top button