Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. أَمَّا بَعْدُ.
Kita lanjutkan Bapak dan Ibu-ibu sekalian. Sekarang hadis yang ke-537.
Dari Ammar bin Yasir Semoga Allah meridhainya, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya seseorang selesai dari shalatnya, tidak dituliskan untuknya kecuali sepersepuluh pahala shalat, atau sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, dan setengah.'” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasa’i, dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya).
Lihat Ibu-ibu sekalian, dalam hadis ini ada orang yang selesai shalat, ternyata pahalanya hanya ditulis 1/10, atau 1/9, 1/8, 1/7, 1/6, 1/5, 1/4, 1/3, setengah. Masyaallah. Kenapa ya? Kenapa seseorang itu kok bisa dia hanya diberikan pahala segitu, Bu? Banyak faktor, Bu.
Faktor yang pertama, faktor keikhlasan. Semakin ikhlasnya full 100%, semakin pahalanya sempurna. Semakin keikhlasannya kurang, berkurang juga pahalanya.
Faktor yang kedua yang menyebabkan seseorang itu pahalanya berkurang, kenapa? Yaitu faktor kesesuaiannya dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Semakin amalan seorang hamba itu sesuai dengan sunnah Rasul, semakin besar pahalanya.
Faktor yang ketiga, Ibu-ibu, faktor kekhusyukan seseorang. Semakin khusyuk shalatnya dan semakin berpengaruh dan berbekas pada jiwanya, semakin besar pahalanya. Dan semakin kurang khusyuk dalam shalatnya dan kurang berbekas di hatinya, di jiwanya, ya semakin kurang pahalanya. Makanya Imam Ahmad pernah ditanya tentang amal apa yang paling utama, kata Imam Ahmad, “Yang paling berpengaruh untuk jiwa dan hati kita.” Karena ada orang yang shalat, Ibu-ibu, pikirannya entah ke mana, Bu. Iya, dia pun juga shalat tidak merasakan kenikmatan, maunya pengin cepat selesai aja. Sehingga akhirnya apa? Diberikan pahalanya sedikit. Ada lagi orang yang shalat penuh kekhusyukan sehingga terkadang bahkan ia menangis dalam shalat, di mana shalat itu berpengaruh sekali kepada jiwanya, kepada hatinya, maka ini pahalanya lebih besar lagi.
Kemudian, Ibu-ibu sekalian, di antara hal yang berpengaruh kepada pahala shalat, apalagi? Yaitu di dalam pelaksanaan shalat. Ibu-ibu, ada orang yang melaksanakan yang wajib tapi banyak meninggalkan yang sunah-sunah. Ada orang yang betul-betul dia perhatikan yang wajibnya, yang sunahnya semua dia perhatikan, sehingga ia bisa mendapatkan pahala sempurna di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Nah ini di antara faktor kenapa seseorang itu selesai shalat ternyata hanya diberikan pahala 1/10, ada yang 1/9, ada yang 1/8, sampai setengah.
Dan hadis ini menunjukkan, Ibu-ibu, seseorang melakukan suatu ibadah terkadang tidak dapat pahala yang sempurna karena tadi. Dan ada orang yang diberikan oleh Allah pahala lebih dari itu. Disebutkan dalam hadis bahwa shalat seseorang itu bisa menggugurkan dosa-dosanya, sehingga para ulama berbeda pendapat, apakah shalat itu bisa menggugurkan dosa besar atau hanya menggugurkan dosa kecil? Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat itu bertingkat-tingkat. Semakin sempurna shalat, semakin berpengaruh dalam jiwa raga seorang hamba, maka semakin menggugurkan dosa besar bukan hanya dosa kecil.
Hadits Berikutnya 538
Dari Abil Yasar radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Di antara kalian, kata Rasulullah, ada yang shalatnya sempurna, pahalanya sempurna shalatnya. Di antara kalian ada yang shalat cuma dapat setengah, ada yang sepertiga, ada yang seperempat, ada yang 1/5, sampai 1/10.” Maka dari itu, kewajiban kita berpikir, gimana caranya supaya pahala kita dapat sempurna.
Hadits Selanjutnya
Dari Abu Hurairah, semoga Allah meridhainya, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat itu terbagi menjadi sepertiga, sepertiga, sepertiga. Sepertiganya adalah bersuci, sepertiganya lagi ruku’, dan sepertiga lagi sujud. Siapa yang melaksanakan semua ini, melaksanakan haknya, akan diterima shalatnya dan diterima darinya semua amalnya. Dan siapa yang tidak melaksanakan haknya, dia akan ditolak shalatnya. Dan siapa yang shalatnya ditolak, maka ditolaklah semua amalnya.”
Di sini, Ibu-ibu, menunjukkan bahwa rukun terbesar shalat itu ada tiga, walaupun ada rukun-rukun yang lain, tapi yang paling besar ini, Bu.
- Bersuci: Bersuci dari hadas dan dari najis. Bersuci dari hadas dengan cara berwudu, tapi kalau hadasnya hadas besar, maka dengan mandi. Sekarang kalau wudunya enggak becus gimana? Misalnya dia nyuci kakinya seenaknya aja, tumitnya itu enggak kecuci, kira-kira diterima enggak shalatnya, Bu? Enggak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat ada orang sedang shalat, ternyata di kakinya itu ada sebesar dirham tidak terkena air, maka Rasulullah menyuruh ia mengulangi wudu dan shalatnya. Makanya hati-hati, ya, dalam masalah wudu itu, jangan seenaknya kita mencuci anggota. Perhatikan betul, tapi juga jangan sampai kepada was-was.
- Ruku’ dan Sujud: Maka kita harus perhatikan betul ruku’ kita. Sebagaimana dalam hadis, tidak sah shalat orang yang tidak menegakkan atau meluruskan tulang punggungnya saat ruku’ dan sujud. Ada orang pas mau ruku’, belum sempurna rukuknya, belum lurus punggungnya, udah sami’allahu liman hamidah. Berarti ini orang enggak sempurna ruku’ dan sujudnya. Yang kayak ginian diterima, enggak? Enggak. Dan sudah pernah lewat hadisnya, disebutkan kata Rasulullah, ada orang yang shalat 60 tahun lamanya, enggak diterima satu pun shalatnya. Bagaimana? Dia sempurnakan rukuknya tapi tidak disempurnakan sujudnya, dia sempurnakan sujudnya tapi tidak disempurnakan rukuknya. Akhirnya 60 tahun shalat enggak diterima. Ini kayak gaya-gaya orang yang shalat tarawih tercepat di dunia itu, ya. Ibu lihat, Bapak lihat, orang yang shalat tarawih tercepat di dunia itu, mana sempurnakan ruku’ dan sujudnya? Baru mau bergerak dikit mau ruku’, udah sami’allahu liman hamidah, sujud belum nempel kali, nempel dikit aja langsung Allahu Akbar. Bagaimana akan diterima shalat orang seperti itu?
Hadis ini menunjukkan, Bapak dan Ibu, di sini termasuk dalil mazhab Hambali bahwa orang yang meninggalkan shalat itu kafir menurut mazhab Hambali, karena dalam hadis ini dikatakan, “Siapa yang diterima shalatnya, maka akan diterima semua amalnya. Dan siapa yang ditolak shalatnya, maka akan ditolak semua amalnya.” Berarti itu menentukan, Ibu-ibu, masalah shalat ini penting banget. Sampai-sampai shalat kita itu mempengaruhi amalan-amalan yang lainnya. Makanya al-Hasan al-Bashri berkata apa? Ada dua amal, siapa yang memperbaiki dua perkara ini, Allah akan perbaiki amalan-amalan yang lain: yang pertama shalat, yang kedua lisan.
Hadits 540
Dari Hurais bin Qabisah, semoga Allah merahmatinya, ia berkata, “Aku mendatangi kota Madinah dan aku berdoa, ‘Ya Allah, berikan aku teman yang saleh.'” Ia berkata, “Lalu aku duduklah kepada Abu Hurairah.” Lalu aku berkata, “Sesungguhnya tadi aku berdoa kepada Allah agar memberikan aku rezeki teman duduk yang saleh. Tolong sampaikan kepadaku suatu hadis yang engkau dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mudah-mudahan Allah memberikan manfaat kepadaku dengan hadis tersebut.” Abu Hurairah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya yang pertama kali dihisab oleh Allah pada hari kiamat dari seorang hamba dari amalnya adalah shalatnya. Bila shalatnya bagus, sungguh ia telah beruntung dan sukses. Apabila shalatnya rusak, sungguh ia telah merugi. Dan apabila kurang dari kewajibannya, maka Allah berfirman, ‘Lihatlah, apakah hambaku ini memiliki shalat sunah untuk disempurnakan dengannya dari yang kurang dari yang wajibnya itu?’ Kemudian demikian seluruh amalnya di atas itu.'” (Diriwayatkan Tirmidzi dan yang lainnya).
Hadis ini, Ibu-ibu, kita ambil faedah:
- Anjuran untuk mencari teman duduk yang saleh. Kita sebagai manusia sangat terpengaruh oleh yang namanya teman. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saja mengatakan, “Seseorang itu di atas agama temannya.” Bahkan dalam surat al-Furqan, Allah menceritakan tentang penduduk neraka yang menyesal sekali dia masuk neraka gara-gara temannya. Allah mengatakan: يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا * لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي. “Aduh, Andaikan aku enggak ngambil si Fulan sebagai teman akrabku, sungguh ia telah menyesatkan aku setelah datang kepadaku peringatan.” Tuh, lihat, gara-gara temannya masuk neraka, Bu. Maka dari itu, jangan meremehkan masalah pertemanan. Islam tidak pernah mengajarkan “bertemanlah dengan siapa saja.” Yang ada, kita disuruh selektif dalam memilih teman.Teman saleh ini, Masyaallah, keuntungannya. Di dunia, kalau kita punya teman yang saleh, kalau kita futur dinasihatin. Di akhirat, teman yang saleh itu diizinkan oleh Allah untuk memberikan syafaat buat teman-temannya. Sebagaimana dalam Shahih Bukhari, bahwasanya kaum mukminin ketika melihat teman-temannya masuk neraka, mereka datang kepada Allah dan berkata, “Ya Rabb, yang di neraka itu teman-teman kami, ya Allah. Mereka dahulu shalat bersama kami, berpuasa pun bersama kami. Keluarkan mereka dari neraka, ya Allah.” Terus saja mereka memohon kepada Allah, akhirnya Allah berfirman, “Pergilah ke neraka dan keluarkan dari neraka orang-orang yang kalian kenal.” Akhirnya kaum mukminin pun mengeluarkan temannya dari neraka. Makanya kata al-Hasan al-Bashri, “Banyaklah oleh kalian teman-teman yang saleh.”Teman yang saleh itu yang membuat kita ingat akhirat. Adapun Ibu punya teman, walaupun bercadar, tapi kalau duduk sama dia ngomongin orang aja kerjanya, gibahin orang aja, itu bukan teman saleh. Teman yang saleh itu kalau duduk sama dia membuat kita ingat Allah, membuat kita ingat akhirat. Yang kayak ginian jarang banget. Kalau Ibu-ibu mendapatkan teman kayak gini nih, pegang kuat-kuat.
- Ibadah yang paling pertama kali dihisab adalah shalat. Kalau dalam masalah muamalah, yang pertama kali dihisab masalah darah. Kalau dalam masalah kenikmatan, yang paling pertama kali dihisab adalah kesehatan. Tapi untuk ibadah, yang pertama kali dihisab shalat. Hadis ini menunjukkan, Bu, bahwa orang yang shalatnya bagus, maka dialah orang yang beruntung dan sukses. Dan orang yang shalatnya rusak, maka ia merugi serugi-ruginya. Makanya Allah berfirman, إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar.” Sekarang kalau ada orang shalatnya rajin tapi maksiatnya juga rajin, gimana tuh? Maka penting dilihat shalatnya, kenapa? Itu pasti biasanya shalatnya enggak beres. Entah itu misalnya dia enggak tuma’ninah, atau mungkin karena shalatnya enggak ikhlas. Tapi kalau ternyata orang yang shalatnya bagus tapi kok masih suka melakukan maksiat, maka orang ini kita berharap kebaikan. Insyaallah suatu ketika shalatnya akan mencegah dia dari perbuatan maksiat ini.
- Keutamaan shalat tathawwu’ (shalat sunah). Shalat sunah rawatib, yaitu shalat sunah yang mengiringi shalat wajib, di antara keistimewaannya dia menutup kekurangan yang ada dalam shalat wajib. Disebutkan dalam hadis ini, apabila shalat wajibnya kurang, maka Allah akan berfirman, “Lihat apakah hambaku ini punya shalat sunah tidak?” Kalau punya shalat sunah, maka disempurnakanlah kekurangan yang ada pada shalat fardhunya itu.
Hadits Berikutnya
Dari Abu Hurairah, semoga Allah meridhainya, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari shalat, setelah shalat beliau bersabda kepada seseorang, “Hai Fulan, kenapa kamu tidak membaguskan shalatmu itu? Tidakkah seseorang yang sedang shalat melihat bagaimana ia shalat? Karena sesungguhnya ia shalat untuk keuntungan dirinya. Sesungguhnya aku bisa melihat dari arah belakang sebagaimana aku bisa melihat dari arah depan.” (HR. Muslim, Nasa’i, dan Ibnu Khuzaimah).
Dari hadis ini kita ambil faedah:
- Ini merupakan mukjizat Rasulullah. Di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bisa melihat dari belakang sebagaimana bisa melihat dari depan. Ini khusus untuk Rasul.
- Seorang imam disyariatkan untuk membimbing makmum yang enggak becus shalatnya. Jadi kalau imam melihat ada orang yang shalatnya enggak becus, maka hendaklah diingatkan.
- Penting sekali kita untuk memperhatikan shalat kita. Sangat penting, jangan meremehkan ini. Makanya di sinilah penting kita belajar sifat shalat. Karena Nabi menegur orang ini, “Tidakkah engkau memperbagus shalatmu? Tidakkah seseorang dari kalian itu kalau berdiri sedang shalat, dia sedang bermunajat kepada Rabbnya? Maka hendaklah ia melihat bagaimana ia bermunajat dengan Allah subhanahu wa ta’ala.”
Hadits 542
“Yang pertama kali diangkat dari umat ini adalah kekhusyukan, sehingga kamu tidak melihat ada yang khusyuk dalam shalatnya.” (Diriwayatkan oleh at-Thabrani dengan sanad yang hasan).
Di sini, Ibu-ibu, menunjukkan pentingnya khusyuk dalam shalat. Khusyuk secara bahasa artinya tenang dan diam. Dan khusyuk itu ada dua macam: khusyuk hati dan khusyuk badan.
- Khusyuk hati: Yaitu fokus dalam shalat, pikiran enggak ke mana-mana. Dan khusyuk hati hukumnya tidak wajib. Kok enggak wajib? Iya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam terkadang tidak khusyuk. Pernah Rasulullah kepikiran ada sebatang emas yang belum beliau bagi-bagikan. Pernah juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terganggu karena pakaiannya ada hiasannya.
- Khusyuk badan: Diam, tidak banyak gerak. Kalau dia banyak bergerak terus-menerus tanpa ada keperluan, batal shalatnya, karena itu hukumnya wajib.
Lalu bagaimana caranya supaya kita bisa khusyuk, terutama khusyuk hati kita ini? Khusyuk hati ini memang sulit, Pak, karena kekhusyukan itu biasanya berasal dari pengagungan hati kita kepada Allah. Makanya al-Imam Ibnu Qayyim ketika menyebutkan kenapa shalat itu dimulai dengan takbir, karena takbir itu artinya Allah yang paling besar, dan ini sebetulnya kunci kekhusyukan hati. Siapa yang Allah itu paling besar di hatinya, dia pasti khusyuk.
Sesi Tanya Jawab
Tanya: Dalam shalat itu ada Takbiratul Ihram dan takbir intiqal. Kalau Takbiratul Ihram itu wajib, tapi kalau takbir intiqal itu hukumnya seperti apa? Dan kalau lupa bagaimana cara memperbaiki?
Jawab: Para ulama ijma’ sepakat bahwa Takbiratul Ihram itu hukumnya wajib. Yang menjadi perselisihan adalah takbir intiqal. Jumhur mengatakan sunah muakkadah, sementara sebagian ulama, seingat saya dari mazhab Hambali, mengatakan hukumnya wajib. Dan insyaallah ini pendapat yang paling kuat bahwa takbir intiqal itu wajib hukumnya, dan kalau kita lupa maka diganti dengan sujud sahwi. Adapun sami’allahu liman hamidah itu kekhususan ketika perpindahan dari ruku’ menuju i’tidal dan hukumnya sama dengan takbir intiqal.
Tanya: Di hadis 540, yang ketiga apa Ustadz? Yang pertama shalat, yang kedua muamalah (darah).
Jawab: Kenikmatan, yang pertama kali dihisab adalah kesehatan.
Tanya: Kalau kami wanita dikuncir, lagi wudu apakah kuncirnya harus dibuka Ustadz?
Jawab: Tidak, karena ketika mandi wajib (mandi junub) saja wanita tidak wajib untuk membuka kuncirannya. Demikian pula dalam wudunya.
Tanya: Anak kami mendapatkan beasiswa ke Jepang, tapi beasiswa dari perusahaan rokok, diambil enggak?
Jawab: Jangan, itu jelas dari usaha yang haram, dan rokok itu hukumnya haram.
Tanya: Ketika shalat sendiri, bacaan surat ada yang lupa lalu ganti surat lain, apakah harus sujud sahwi?
Jawab: Tidak. Pendapat yang shahih, sujud sahwi itu khusus untuk meninggalkan perkara-perkara yang wajib saja. Adapun membaca surat itu hukumnya sunah saja.
Tanya: Bagaimana usaha kita untuk menghilangkan was-was setan?
Jawab: Kalau menghilangkan susah, Mas. Yang ada adalah bagaimana cara kita menolaknya. Cara yang paling utama, banyak zikir. Ibnu Abbas berkata, “Setan itu akan terus memperhatikan hati anak Adam, kalau ia lalai dia akan berikan was-was, kalau dia ingat kepada Allah maka dia akan menyelinap.”
Tanya: Bagi wanita yang sedang nifas, ketika ia ingin baca al-Qur’an atau membaca zikir pagi dan petang, apakah berwudu terlebih dahulu?
Jawab: Nifas itu sama dengan haid. Dan wanita yang haid atau nifas yang darahnya terus keluar, wudunya tidak ada manfaatnya karena keluarnya darah itu membatalkan wudu. Berbeda dengan junub. Jadi gimana dong? Wanita yang nifas dan haid kalau ingin membaca Al-Qur’an, boleh saja tapi jangan memegang mushaf. Kalau pegang HP, boleh, enggak apa-apa, karena HP bukan mushaf.
Tanya: Lafaz doa sujud sahwi yang shahih gimana?
Jawab: Sujud sahwi doanya sama dengan sujud biasa.
Tanya: Bagaimana ketika berwudu di dalam kamar mandi yang terdapat toilet atau WC di dalamnya? Apakah kita membaca Bismillah?
Jawab: Iya, tetap dianjurkan baca Bismillah saat mau berwudu walaupun dalam toilet. Tapi tidak diucapkan, karena zikir itu harus diucapkan. (Mungkin maksudnya diucapkan dalam hati atau di luar WC). Kemudian baca dua kalimat syahadat setelah wudunya, setelah keluar WC.
Tanya: Bolehkah kita saat shalat membaca mushaf biar enggak salah bacaannya?
Jawab: Memang ada satu riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah diimami oleh budaknya dalam shalat tarawih dan si budak ini sambil membaca di mushaf. Tapi ini hanya berlaku pada shalat sunah. Adapun shalat wajib, tidak boleh.
Tanya: Kalau kita terlupa shalat Dzuhur, misalnya, saat waktu masuk shalat Ashar baru ingat, apa yang kita lakukan?
Jawab: Shalat Dzuhur dulu, baru setelah itu shalat Ashar.
Tanya: Mana yang harus didahulukan, bayar utang atau kurban? Utangnya kepada orang tua sendiri.
Jawab: Wajib bayar utang dulu, walaupun sama orang tua, wajib.
Tanya: Perempuan safar tanpa mahram karena pekerjaan, boleh enggak?
Jawab: Tidak boleh. “Tidak halal untuk wanita yang beriman kepada Allah dan kehidupan akhirat untuk safar sejarak sehari semalam kecuali bersama mahram.” Wanita enggak wajib kerja, yang wajib kerja itu suami.
Tanya: Apakah boleh mengakhirkan shalat Isya?
Jawab: Shalat Isya itu hanya berakhir sampai pertengahan malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memakruhkan tidur sebelum shalat Isya. Jadi kalau ibu mau akhirkan, jangan tidur dulu.
Tanya: Kalau kita biasanya melakukan rawatib tapi ada keperluan sehingga belum menyelesaikan ba’diyah Dzuhur dan terlupakan, digantikan waktu Ashar, apakah ba’da Dzuhur itu bisa digantikan hari berikutnya?
Jawab: Bisa diqadha setelah shalat Ashar, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tidak sempat shalat (sunah) Dzuhur, maka beliau qadha setelah shalat Ashar.
Tanya: Bagaimana kalau tidak pernah shalat semasa hidupnya, Ustadz?
Jawab: Iblis itu enggak mau sujudnya kepada Adam, kalau disuruh sujud sama Allah masih mau. Ini orang disuruh sujud sama Allah enggak mau, berarti ini sebetulnya lebih sombong dari iblis ini. Makanya ya, banyak ulama mengatakan orang yang enggak pernah shalat sama sekali, enggak mau shalat, ini bukan muslim lagi.
Demikian, saya kira cukup. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.