s-Sirah An-Nabawiyah Ash-Shahihah #9
Nabi yang Terpilih (An-Nabiyyul Mukhtar) dan Kemuliaan Nasab
Transkrip Kajian: Nabi yang Terpilih (An-Nabiyyul Mukhtar) dan Kemuliaan Nasab
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ. آمِين.
Hadirin sekalian, الْحَمْدُ لِلهِ, kita bersyukur kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, kembali pada pagi hari ini Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mudahkan pertemuan kita setelah salat subuh di hari Sabtu pada pekan yang ketiga di Masjid Al-Kautsar untuk mempelajari bersama Sirah an-Nabawiyah, sejarah hidup orang yang paling kita cintai, orang yang telah diutus oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, Rabbul ‘Alamin, sebagai rahmat bagi seluruh alam; mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju alam yang penuh dengan cahaya dan terang benderang. Beliaulah Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai akhir zaman.
Masuk kita pada pembahasan yang baru yang diberi judul oleh beliau al-muallif (penulis) rahimahullah, penulis As-Sirah An-Nabawiyah As-Sahihah. Beliau beri judul dengan النَّبِيُّ الْمُخْتَارُ (Nabi yang Terpilih).
Beliau mengatakan: قَالَ تَعَالَى: ﴿اللهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ﴾ (Dan Allah Subhanahu wa taala, Dialah yang lebih tahu di mana Dia meletakkan risalah-Nya). Yang lebih tahu siapa di antara manusia yang berhak untuk menjadi utusan Allah. Dan sebelumnya telah disebutkan oleh beliau tentang sifat-sifat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, baik sifat-sifat yang berkaitan dengan akhlak beliau maupun sifat-sifat yang berkaitan dengan penciptaan beliau dan sifat fisik beliau. Maka di sini beliau—yaitu al-muallif—menyebutkan tentang nasab Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan bahwasanya itu adalah sebuah pilihan dari Allah.
Maka beliau menyebutkan ayat ini: ﴿اللهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ﴾. Dan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, Dialah yang lebih tahu kepada siapa Allah akan meletakkan risalah-Nya. Siapa yang akan dipilih oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى untuk menjadi utusan-Nya. Karena utusan Allah tentunya ini adalah sebuah kemuliaan. Seorang pemimpin, seorang penguasa ketika dia mengutus utusan, maka dia akan memilih. Karena yang namanya utusan mewakili; utusan di sini akan mencerminkan siapa yang mengutusnya.
وَلِلهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى (Dan bagi Allah Subhanahu wa taala permisalan yang lebih besar/tinggi). Yang lebih tinggi daripada itu, Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan menurunkan wahyu, akan memberikan petunjuk kepada manusia. Dan Allah tidak menjadikan wahyu tersebut kepada setiap manusia, tapi Allah akan mengutus seseorang yang akan disampaikan kepadanya wahyu, dan dialah yang akan menyampaikan wahyu tersebut kepada manusia. Maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan memilih dan Dialah yang lebih tahu siapa di antara manusia yang bisa menjadi utusan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Pilihan Kenabian (Istifa’ An-Nubuwwah)
فَهَذَا اصْطِفَاءُ النُّبُوَّةِ (Maka ini adalah pilihan kenabian). وَفِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ (Dan di dalam hadis yang sahih):
إِنَّ اللهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ
(“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa taala memilih suku Kinanah dari keturunan Nabi Ismail”). Nabi Ismail maksudnya adalah anaknya Nabi Ibrahim Alaihissalam. Beliau memiliki banyak keturunan, banyak suku yang merupakan keturunan Nabi Ismail Alaihissalam. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memilih di antara keturunan Nabi Ismail yaitu Kinanah. Ini siapa yang paling baik di antara mereka?
وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ
(“Dan Allah memilih orang-orang Quraisy dari Kinanah”). Sudah dipilih orang-orang Kinanah, ternyata di dalam suku Kinanah juga ada suku-sukunya. Maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pun memilih siapa di antara yang terbaik. Di antara orang-orang Kinanah ternyata yang Allah pilih adalah orang-orang Quraisy.
وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ
(“Dan Allah Subhanahu wa taala memilih Bani Hasyim dari orang-orang Quraisy”). Masih dipilih lagi. Karena tidak semua orang-orang Quraisy itu memiliki derajat yang sama. Yang Allah pilih adalah yang paling baik. Siapa mereka? Bani Hasyim.
وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ
(“Dan Allah Subhanahu wa taala memilihku di antara Bani Hasyim”). Bani Hasyim banyak. Ada Muhammad bin Abdillah, ada Abdullah bin Abbas, ada Ali bin Abi Thalib, ada Jaafar, dan seterusnya. Maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى—dan Dialah yang أَعْلَمُ, Dialah yang lebih mengetahui apa yang ada di dalam dada mereka, apa yang di luar atau di zahir mereka—maka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memilih Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di antara Bani Hasyim.
Berarti beliau termasuk Bani Hasyim, dan Bani Hasyim termasuk Quraisy, dan Quraisy termasuk Kinanah. Kinanah adalah termasuk keturunan Nabi Ismail, anaknya Nabi Ibrahim. Berarti beliau keturunan Nabi siapa? Nabi Ismail bin Ibrahim. فَهَذَا اصْطِفَاءُ النَّسَبِ (Maka ini adalah pilihan dari sisi nasab).
Di dalam nasab pun nanti ada pilihan dari sisi yang lain. Dari sisi nasab pun, nasab yang dimiliki oleh Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ini adalah nasab yang paling mulia. Tayib. Dari sisi yang lain apa? Dari sisi waktu. Waktu diutusnya beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ itu pun juga dipilih oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
وَفِي حَدِيثٍ صَحِيحٍ آخَرَ (Di dalam hadis yang sahih yang lain), Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:
بُعِثْتُ مِنْ خَيْرِ قُرُونِ بَنِي آدَمَ
(“Aku diutus pada sebaik-baik qurun”). Qurun yang dimaksud adalah generasi. Aku diutus pada generasi yang paling baik di antara generasi-generasi anak-anak Adam.
قَرْنًا فَقَرْنًا
(“Dari satu generasi ke generasi yang lain”).
حَتَّى كُنْتُ فِي الْقَرْنِ الَّذِي كُنْتُ فِيهِ
(“Sehingga aku pun berada di generasi tempat aku diutus atau di generasi di waktu aku diutus”).
Jadi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pun di dalam masalah waktu—yaitu waktu memilih Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan mengutus beliau sebagai seorang rasul—Allah memilih bukan hanya nasab saja, tetapi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى juga memilih waktunya, waktu yang terbaik di mana Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengutus Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dan hadis ini sahih diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim.
Faedah dan Pelajaran
Banyak faedah tentunya di antara faedah-faedah yang bisa kita ambil dari paragraf ini.
- Kenabian adalah Pilihan Allah SemataBahwasanya yang namanya kenabian ini murni pilihan dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Dialah Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang memilih. Siapa di antara hamba-hamba Allah yang pantas menerima wahyu. Bukan karena jabatan atau kekuasaan atau harta itu apa saja. Tapi ini adalah semata-mata pilihan dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
- Rasulullah ﷺ adalah Manusia TerbaikDan ini menunjukkan bahwasanya Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ beliau adalah manusia terbaik, orang yang terpilih di antara manusia-manusia yang terpilih dari seluruh manusia. Tentunya ini semakin menjadikan kita cinta kepada Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Kita kalau ada perlombaan atau pemilihan, “ini adalah siswa teladan di tahun ini” misalnya, atau “inilah pemegang juara pertama dalam bidang ini se-Indonesia”, tentunya kita akan melihat siapa orang ini. Dan kalau kita bertemu dengan dia, mungkin kita akan sangat bahagia, mungkin salaman, dan lain-lain. Kenapa? Karena kita tahu tentang keistimewaan dia, keutamaan dia. Padahal itu mungkin dalam bidang dunia atau dalam satu bidang saja. Mungkin dia juara satu dalam Al-Qur’an atau menghafal hadis atau yang lain. Kita belum tahu tentang akhlaknya, kita belum tahu tentang akidahnya. Tapi demikian keadaan manusia, mereka mencintai apa yang dinamakan dengan keistimewaan, kelebihan.Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah manusia yang terbaik sepanjang masa. Tidak ada manusia sebelum beliau dan setelah beliau yang lebih baik daripada Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Tentunya yang demikian seharusnya menjadikan kita semakin mencintai beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan bersyukur, alhamdulillah, Allah telah menjadikan kita, memuliakan kita menjadi salah satu di antara pengikut manusia yang terbaik di dunia ini.
- Kekuasaan Mutlak Allah dan Bantahan terhadap HasadDan di antara faedah yang bisa kita ambil adalah bahwasanya Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى Dialah yang berkuasa. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, Dialah yang menentukan siapa yang berhak menjadi rasul, bukan manusia. Sehingga apa yang dilakukan orang Yahudi, mereka hasad. Kenapa nabi terakhir bukan dari Bani Israil? Kenapa nabi yang terakhir dari Bani Ismail? Maka tentunya ini adalah sesuatu yang menunjukkan jeleknya adab mereka kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, Dialah yang berhak dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang pantas untuk menjadi rasul yang terakhir.
Kesepakatan Nasab Nabi ﷺ
Kemudian beliau mengatakan:
وَقَدْ أَجْمَعَ النَّسَّابُونَ عَلَى نَسَبِهِ إِلَى عَدْنَانَ
(“Dan sungguh para ahli nasab mereka telah sepakat nasab Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sampai kepada Adnan”).
Ini di sini beliau berbicara tentang nasab karena tadi masih disebutkan secara global di dalam hadis. Mereka sepakat tentang nasab Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kepada seorang yang bernama Adnan. Ini termasuk kakek Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
وَإِنْ لَمْ يُنْقَلْ حَدِيثٌ صَحِيحٌ بِكَامِلِ نَسَبِهِ
(“Meskipun tidak ada di sana hadis yang sahih yang meriwayatkan seluruh rantai nasab Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ secara lengkap”).
وَلَكِنْ صَحَّتْ أَحَادِيثُ بِبَعْضِهِ
(“Akan tetapi di sana ada beberapa bagian dari nasab tersebut yang dicantumkan di dalam hadis yang sahih”).
وَمَنْ خَبَرَ اهْتِمَامَ الْعَرَبِ بِالْأَنْسَابِ قَبْلَهُ… يُدْرِكُ أَنَّ سِلْسِلَةَ نَسَبِهِ إِلَى عَدْنَانَ لَا تَحْتَاجُ إِلَى كَبِيرِ تَوْثِيقٍ
(“Orang yang memahami betapa besar perhatian orang-orang Arab saat itu, bahkan sampai sekarang terhadap nasab pada masa kenabian dan juga sebelumnya, maka dia akan sadar sesadar-sadarnya bahwa rantai silsilah nasab Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sampai kepada Adnan tidak membutuhkan pembuktian yang terlalu detail”).
Sebabnya apa? Karena orang-orang Arab sejak dahulu, apalagi di zaman Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, mereka sangat perhatian dengan yang namanya nasab. Nah, sampai sekarang pun berbeda dengan kita ya. Mereka orang-orang Arab mungkin menghafal kakek mereka sampai yang ketujuh, yang ke-10, karena mereka punya perhatian dengan masalah nasab. Ya, kita saja yang mungkin kurang perhatian; yang kita hafal hanya kakek kita yang pertama, yang kedua pun kita enggak hafal apalagi yang selanjutnya.
مَا دَامَ عُلَمَاءُ النَّسَبِ وَالْأَخْبَارِ مُتَّفِقِينَ عَلَيْهَا مِنَ الْعُلُومِ
(“Selama para ahli nasab dan sejarawan mereka semuanya sepakat di atas nasab ini”).
Jadi baik ahli nasab maupun ahli sejarah, semuanya bersepakat bahwa nasabnya Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ini sampai Adnan, ini adalah suatu yang disepakati. Dan selama hal itu merupakan sebuah pengetahuan yang darurah, maksudnya adalah pengetahuan yang umum diketahui di zaman tersebut. Yang namanya nasab yang tahu ya bukan hanya orang tuanya saja, bahkan yang ada di kampung tersebut mereka sudah tahu: “Oh ini fulan, anaknya fulan, anaknya fulan.” Ini sesuatu yang pengetahuan yang umum, pengetahuan yang daruri diketahui oleh mereka.
Kemudian beliau menyebutkan nasab Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Berarti tadi yang disepakati oleh para ulama sampai siapa? Adnan ya, sampai Adnan. Setelah Adnan—maksudnya adalah menuju ke atas sampai kepada Ismail dan juga Ibrahim, Ismail bin Ibrahim—maka di sana ada perbedaan pendapat. Kalau yang sepakat adalah sampai Adnan. Setelah Adnan maka di sana ada perbedaan pendapat. Nah, nasab sampai kepada Adnan ini sesuatu yang sangat terkenal di antara orang-orang Arab. Dan dengan kesepakatan mereka tidak mungkin adalah suatu yang dusta. Apalagi mereka adalah orang-orang yang sangat memang perhatian dengan masalah nasab ini. Sesuatu yang sangat dikenal di antara mereka dan tidak diperselisihkan bahkan oleh ahli sejarah maupun masyarakat Arab sendiri.
Bapak Ibu sekalian yang dimuliakan oleh Allah. Ini semakin meneguhkan kita semuanya, meyakinkan bahwasanya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berasal dari keturunan yang mulia. Dan ini adalah hikmah dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memilih utusan-Nya, utusan yang terakhir dari keturunan atau dari bangsa Arab yang mereka memiliki perhatian yang luar biasa terhadap nasab. Maksudnya adalah menghafal nasab tersebut. Kenapa ini perlu kita tekankan? Karena ada sebagian orang, khususnya orang-orang di luar Islam, yang mereka ingin merusak Islam dari dalam. Ingin menjadikan orang Islam ragu-ragu terhadap agamanya. Di mana mereka berusaha untuk meragukan silsilah Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, bahwasanya nasab beliau ini enggak jelas. Ini ucapan orang-orang orientalis. Maka perlu kita sampaikan dan dijelaskan oleh beliau di sini bahwasanya nasab beliau adalah nasab yang sangat jelas. Sampai Adnan, ahli sejarah, masyarakat Arab, sejarawan, ahli nasab, mereka sepakat tentang nasab Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan mungkin ini suatu yang mengingatkan kita dan tidak ada salahnya kita masing-masing berusaha untuk menghafal nasab kita masing-masing. Mungkin kita bertanya pada orang tua kita atau keluarga kita yang masih hidup ya tentang kakek kita yang kedua, kakek kita yang ketiga, dan seterusnya. Tujuannya apa? Tujuannya adalah untuk menyambung tali silaturahim. Ya, kalau kita tahu kita masih satu kakek, kita masih satu keturunan, maka ini bisa menjadi pintu bagi kita untuk menyambung tali silaturahim.
Rincian Silsilah Nasab Nabi ﷺ
وَالنَّسَبُ الَّذِي يَسُوقُهُ عُلَمَاءُ النَّسَبِ (Dan nasab beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang telah disebutkan oleh para ulama nasab). Jadi ulama ada yang dinamakan dengan ulama an-nasab. Memang bidang mereka adalah nasab. Antum tanya apa saja tentang nasab orang-orang Arab mereka paham. Ya memang yang mereka pelajari itu-itu saja. Abu Bakar Ash-Shiddiq itu termasuk di antara ahli nasab, sehingga orang-orang Quraisy mereka kalau tanya tentang nasab ya kembalinya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ. “Oh kamu anaknya fulan bin fulan bin fulan dan seterusnya.”
هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمٍ
(Beliau adalah Muhammad bin Abdillah bin Abdul Muthalib bin Hasyim). Antum hafal itu.
بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ، بْنِ قُصَيٍّ، بْنِ كِلَابٍ، بْنِ مُرَّةَ، بْنِ كَعْبٍ، بْنِ لُؤَيٍّ، بْنِ غَالِبٍ، بْنِ فِهْرٍ، بْنِ مَالِكٍ، بْنِ النَّضْرِ، بْنِ كِنَانَةَ، بْنِ خُزَيْمَةَ، بْنِ مُدْرِكَةَ، بْنِ إِلْيَاسَ، بْنِ مُضَرَ، بْنِ نِزَارٍ، بْنِ مَعَدٍّ، بْنِ عَدْنَانَ.
Sampai di sini seperti itu, seperti yang tadi dikatakan ini adalah sebuah kesepakatan, sesuatu yang sudah disepakati sampai kepada Adnan.
Baik. Maksimal antum menghafal sampai kakek yang ke berapa mampunya? Hah? Kedua, ketiga bisa? Oh. Ha. [Tertawa] suaranya tayib. Ada yang hafal sampai kakek yang ketiga? Kakek yang ketiga saja. Ah, ana ulang ya.
Beliau adalah مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمٍ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ بْنِ قُصَيٍّ بْنِ كِلَابٍ بْنِ مُرَّةَ. Sudah sampai situ ya. Fadhal. Siapa yang mencoba nasab Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ? Fadhal. Semua punya? Enggak ada yang hafal? Hah? Fadhal. Ibnu Quraisy? Dari mana itu Ibnu Quraisy? Hah? Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Ahsan. Terus setelahnya? Sampai situ aja, tayib. Ada yang lebih tinggi, yang lebih panjang daripada itu satu saja? Baik. Coba antum hafal 1 menit, 2 menit, 3 menit saja. Ustaz berikan kesempatan. Ustaz tunjuk ya. Saya tunjuk sampai kakek yang berapa? Tiga. Baik. Ya, sebelah sini. Antum yang pakai rah coklat. Bapak, kakek yang pertama siapa? Abdul Muthalib. Tayib. Terus kakek yang kedua? Hasyim. Terus? Abdul Manaf. Ahsan. Baik, antum hafal itu.
Kalau antum tidak hafal nasab antum, minimal antum menghafal nasab Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ya, menghafal nasab Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan ajarkan itu kepada anak-anak kita. Dahulu sebagian sahabat atau sebagian salaf mengatakan, “Bapak-bapak kami mengajarkan kepada kami sejarah Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagaimana mereka mengajarkan kepada kami satu surah di dalam Al-Qur’an.” Artinya apa? Diulang-ulang. Kalau kita bingung apa yang saya ajarkan kepada anak-anak saya? Di antaranya adalah sejarah Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Sekarang alhamdulillah banyak buku dengan berbagai versi, versi untuk anak-anak ya dengan bahasa yang sesuai dengan mereka. Maka ini bisa kita ajarkan kepada anak-anak kita.
Nasab Ibu dan Pengakuan Heraklius
Baik. Kemudian beliau menyebutkan di sini tentang ibunya. Kalau tadi bapaknya, maka sekarang ibunya bagaimana? Dan siapa ibu Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ?
وَأَمَّا أُمُّهُ آمِنَةُ بِنْتُ وَهْبٍ، فَإِنَّهَا مِنْ بَنِي زُهْرَةَ
(“Adapun ibu beliau yaitu Aminah binti Wahab, maka beliau berasal dari Bani Zuhrah”).
Ini juga kita hafal ya. Ibu beliau adalah siapa? آمِنَةُ بِنْتُ وَهْبٍ، فَإِنَّهَا مِنْ بَنِي زُهْرَةَ. Maka beliau berasal dari Bani Zuhrah.
وَقَدْ أَقَرَّ أَبُو سُفْيَانَ أَمَامَ هِرَقْلَ بِعُلُوِّ نَسَبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ سَأَلَهُ
(“Abu Sufyan telah mengakui di depan Heraklius dengan tingginya nasab Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ketika dia ditanya”).
Heraklius ini adalah kaisar, Kaisar Romawi. Saat itu Abu Sufyan masih dalam keadaan musyrik. Salah sahnya (Ringkasnya ceritanya), orang-orang Quraisy mereka biasa melakukan perjalanan dalam rangka berdagang. Termasuk di antaranya adalah berdagang dari Makkah menuju ke Romawi. Mereka membawa barang dagangan dari Makkah ke sana, kemudian di sana pun di sana mereka jual, kemudian mereka membeli dagangan dari sana dibawa ke Makkah dan seterusnya.
Nah, Heraklius dikirimi surat oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ diajak untuk masuk ke dalam agama Islam. Ketika dia menerima, maka dia pun penasaran, siapa ini? Ini dari orang Arab. Maka beliau pun meminta bawahannya untuk mencari sekarang siapa yang ada di kota ini yang berasal dari mereka, dari orang-orang Arab. Sehingga ditemukanlah Abu Sufyan dan bersama beliau saat itu beberapa orang dari Makkah. Kemudian mulailah di situ Heraklius bertanya, penasaran. Abu Sufyan ditaruh di saf yang paling depan. Kemudian di belakangnya ada orang-orang Quraisy yang lain. Sebelum beliau bertanya, maka beliau sudah mewanti-wanti: “Kalau orang ini bohong, maka kalian harus mengisyaratkan bahwa dia bohong.” Di saat itu Abu Sufyan dia berada di depan, di belakangnya adalah orang-orang Quraisy.
Mulailah di situ terjadi dialog dan di antara pertanyaan Heraklius adalah:
كَيْفَ نَسَبُهُ فِيكُمْ؟ (“Bagaimana nasabnya di tengah kalian?”).
فَأَجَابَ أَبُو سُفْيَانَ: هُوَ فِينَا ذُو نَسَبٍ (“Maka Abu Sufyan menjawab: Ia memiliki nasab yang mulia di tengah kami”).
Abu Sufyan yang saat itu masih dalam keadaan musyrik—dan orang Arab secara umum mereka orang yang menjaga lisan ya, tidak berdusta—mengakui hal itu.
فَقَالَ هِرَقْلُ: فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا
(“Maka berkata Heraklius: Demikianlah para rasul, mereka diutus dari kalangan orang-orang yang memiliki nasab yang mulia di kaumnya”).
Karena mereka adalah beragama apa? Nasrani. Mereka beriman dengan rasul-rasul, mengakui adanya rasul-rasul yang diutus oleh Allah yang menciptakan alam semesta ini, dan mereka beriman dengan kitab yang dibawa oleh mereka. Sehingga kata rasul, utusan, dan seterusnya ini bukan sesuatu yang aneh. Maka dia pun mengatakan: فَكَذَلِكَ الرُّسُلُ (Demikianlah para rasul). تُبْعَثُ فِي نَسَبِ قَوْمِهَا (Mereka diutus dari kalangan orang-orang yang memiliki nasab yang mulia di kaumnya).
Jadi dia ingin mengetahui apakah orang yang telah mengirim surat yang isinya adalah dakwah ini benar-benar dia adalah seorang rasul atau tidak. Bagaimana caranya? Ya dilihat ciri-cirinya. Dilihat ciri-cirinya. Termasuk di antaranya adalah nasab. Ternyata nasab dia adalah nasab yang memang diakui oleh orang-orang Arab memiliki nasab yang mulia. Ini termasuk tanda keaslian kenabian. Jadi seluruh nabi dan rasul itu mereka memiliki nasab yang mulia. Kalau antum perhatikan kisah Nabi Hud, kisah Nabi Saleh, dan seterusnya, maka kita akan dapatkan bahwa seluruh nabi-nabi tersebut berasal dari nasab yang mulia di dalam kaumnya. Menunjukkan bahwasanya mereka adalah dari keturunan yang terjaga, dari keturunan yang bersih, dan seterusnya.
Baik, بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ Bapak Ibu sekalian. Mungkin itu yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan insyaallah kita lanjutkan kisah yang setelahnya yang berkaitan dengan air zamzam dan penggalian air zamzam yang dilakukan oleh keturunan Quraisy.
Masih ada waktu mungkin sekitar 5 menit bagi yang memiliki pertanyaan berkaitan dengan materi yang sudah kita sampaikan. Iya. Baik. Kalau tidak ada insyaallah kita cukupkan sampai di sini. جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا atas perhatiannya.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
