Ringkasan Daurah Syar’iyyah ke 5 – Sesi ke 1
Daurah Syariah: Risalah Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad bin Hambal yang disampaikan oleh Ustaz Dr. Iqbal Gunawan (meringkas penjelasan Syekh Muhammad Hisyam Thahiri).

بسم الله الرحمن الرحيم
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
اللهم علمنا ما ينفعنا وانفعنا بما علمتنا وزدنا علما. اللهم أصلح لنا شأننا كله ولا تكلنا إلى أنفسنا طرفة عين. اللهم إنا نسألك الهدى والسداد.
Pemirsa Rodja TV, kaum muslimin dan muslimat di mana pun Anda berada. Alhamdulillah di siang hari ini, baru saja sejak pagi tadi sampai menjelang salat Zuhur, kami menghadiri daurah akidah yang disampaikan oleh Fadilatus Syekh Muhammad Hisyam Thahiri hafizahullahu ta’ala wa ra’ah. Dan beliau menjelaskan tentang kitab أصول السنة (Ushulus Sunnah) yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullahu ta’ala.
Dan beliau memulai dengan beberapa mukadimah, pendahuluan-pendahuluan yang sangat penting untuk kita ketahui semuanya. Beliau mengatakan hafizahullah bahwasanya di zaman Imam Ahmad rahimahullah ada beberapa kitab-kitab yang ditulis menjelaskan tentang akidah Ahlusunah wal Jamaah. Di antaranya kitab ini, kitab القدر (Al-Qadar), kitab السنة (As-Sunnah) yang ditulis oleh Imam Al-Muzani rahimahumullahu ta’ala.
Dan jika kita memperhatikan semua kitab-kitab tersebut, maka pasti kita akan dapatkan bahwasanya semuanya bersumberkan dari Al-Qur’an dan sunah Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang para ulama kita tulis dalam kitab-kitab akidah tersebut adalah wahyu dan sunah yang disampaikan oleh Nabi ‘alaihis salatu wassalam.
Adapun selainnya, dari kitab-kitab ahlul bid’ah dan orang-orang yang menyimpang, maka mereka menulis kitab-kitab mereka hasil dari buah pikiran mereka sendiri. Sehingga tentunya tidak maksum apa yang mereka sampaikan. Adapun yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla yang disampaikan oleh Nabi ‘alaihis salatu wassalam, maka tidak mungkin ada kesalahan di dalamnya. Allah Ta’ala berfirman:
بلغ ما أنزل إليك من ربك
“Sampaikanlah apa yang diturunkan oleh Allah kepadamu dari Rabb-mu.”
Maka Allah Azza wa Jalla memerintahkan Nabi kita sallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyampaikan kepada umatnya apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepadanya dari wahyu. Maka akidah Ahlusunah adalah akidah asariyah, semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih. Tidak akan kita temukan jika kita membuka buku-buku atau kitab-kitab akidah yang ditulis oleh ulama kita, baik yang panjang maupun yang ringkas. Contohnya شرح أصول اعتقاد أهل السنة والجماعة (Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah) yang ditulis oleh Imam Al-Lalaka’i, kitab الشريعة (Asy-Syari’ah) yang ditulis oleh Imam Al-Ajurri rahimahumullahu ta’ala. Maka pasti yang kita dapatkan isinya penuh dengan ayat-ayat Al-Qur’an, penuh dengan hadis-hadis Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka sumber dari akidah Ahlusunah wal Jamaah adalah murni. Semuanya diambil dari Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi ‘alaihis salatu wassalam. Karena permasalahan akidah adalah permasalahan yang tidak terperbaharui. Bahkan, kalau kita membaca tentang hadis-hadis Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, kita dapati beliau menyampaikan hafizahullah bahwasanya sejak zaman Nabi Nuh, tidak ada satupun rasul yang diutus kecuali memperingatkan umatnya tentang bahaya Dajjal. Padahal dipastikan tidak mungkin Dajjal itu keluar di zaman Nabi Nuh, juga sampai di zaman Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tentunya diketahui bahwasanya Dajjal tidak akan keluar di zaman Nabi ‘alaihis salatu wassalam.
Tapi ini menunjukkan bahwasanya permasalahan akidah adalah permasalahan yang tidak pernah berubah, tidak berganti. Bahkan seluruh nabi yang diutus oleh Allah Azza wa Jalla, mereka membawa akidah yang satu, akidah yang sama. Dan inilah yang membuat kita semakin bahagia, semakin bangga dengan sunah yang alhamdulillah Allah Subhanahu wa Ta’ala beri petunjuk kita untuk mengikuti sunah Nabi ‘alaihis salatu wassalam.
Sebagaimana perkataan Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah:
لا أدري بأيهما أفرح: بالإسلام أو بالسنة
“Aku tidak mengetahui yang mana yang lebih aku bahagia karenanya, apakah dengan Islam atau karena aku diberi petunjuk dengan sunah.”
Juga Imam Waki’ rahimahullah disebutkan bahwasanya beliau mempunyai badan yang gemuk, dan beliau mengatakan: إني بفرحي بالسنة (Ini karena bahagianya saya dengan sunah). Beliau mengatakan ini karena bahagianya saja dengan sunah Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika muridnya saja, Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengatakan bahwasanya, “Aku mendengar satu ilmu, satu hadis dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, فيتلى به جميع جسدي (maka seluruh anggota tubuhku merasakan bahagia, merasa senang).” Maka tentunya guru dan murid semuanya menunjukkan kebahagiaan dan kesenangan mereka terhadap ilmu, dan kita juga pantas untuk bahagia dengan ilmu yang kita pelajari, sunah yang kita amalkan.
Kemudian beliau juga menjelaskan tentang perkara sanad. Bahwasanya sebagian meragukan beberapa kitab-kitab akidah yang ditulis dengan sanad. Beliau menjelaskan bahwasanya sanad itu tujuannya diletakkan untuk hadis-hadis Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun untuk kitab-kitab, untuk asar-asar, maka seandainya asar itu tidak sahih atau daif, maka tidak wajib. Karena yang paling penting, penisbatan kitab kepada suatu seorang penulis ya cukup asy-syuhrah (cukup terkenal), sehingga tidak perlu diragukan tentang sanad-sanad tersebut.
Kemudian beliau juga menjelaskan tentang hadis, pentingnya kita mengikuti sunah Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mengatakan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين
Kita wajib untuk mengikuti sunah Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunah para Khulafaur Rasyidin. Karena ada beberapa kejadian-kejadian yang belum terjadi di zaman Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga para Khulafaur Rasyidin, mereka adalah orang-orang yang paling paham dengan sunah Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga mereka mempraktikkan secara nyata apa yang disampaikan dalam hadis-hadis Nabi ‘alaihis salatu wassalam.
Kemudian secara ringkas, beliau juga menyebutkan apa saja yang termasuk dalam pembahasan-pembahasan dari kitab risalah أصول السنة yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Dan beliau meringkas ada 12 pembahasan:
- Beliau mengatakan bahwasanya risalah ini atau kitab yang ringkas ini memuat tentang معنى السنة ومنهج السلف (makna sunah dan manhajus salaf). Apa yang dimaksud dengan sunah dan apa yang dimaksud dengan manhajus salaf atau metode para salaf dalam beragama.
- Risalah ini mencakup pembahasan مصادر التلقي في الاعتقاد (sumber pengambilan dalam akidah), dari mana kita mengambil sumber akidah kita.
- Tentang hakikat iman. Apa definisi iman? Apa saja yang masuk ke dalam pembahasan iman?
- Juga dijelaskan yaitu perkara-perkara yang diselisihi oleh ahlul bid’ah. Perkara-perkara yang ahlul bid’ah menyelisihi Ahlusunah wal Jamaah dalam perkara-perkara tersebut.
- Dijelaskan di dalam risalah ini منهج السلف في الصفات (manhajus salaf dalam sifat). Bagaimana metode para salafus saleh dalam sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, yaitu إثبات بلا تشبيه ولا تمثيل (menetapkan tanpa menyerupakan dan memisalkan). Mereka menetapkan semua sifat-sifat Allah yang tertera dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan mereka tidak menolak sedikit pun dari ayat-ayat dan hadis-hadis tentang sifat-sifat Allah Azza wa Jalla.
- Dibahas di dalam kitab ini, para pemirsa yang semoga dirahmati oleh Allah Azza wa Jalla: القرآن كلام الله غير مخلوق. Dijelaskan bahwasanya Al-Qur’an itu adalah benar-benar ucapan Allah Azza wa Jalla dan bukan bagian dari makhluk.
- Risalah ini membahas tentang iman terhadap takdir.
- Dijelaskan di dalam risalah ini موقف أهل السنة من الصحابة (sikap Ahlusunah terhadap para sahabat). Bagaimana sikap Ahlusunah wal Jamaah terhadap sahabat-sahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam.
- Dijelaskan di dalam risalah ini yaitu perkara penting tentang السمع والطاعة بالمعروف (mendengar dan taat dalam kebaikan). Pentingnya kita taat dan patuh kepada pemimpin kita dalam perkara yang bukan maksiat.
- Dijelaskan tentang البدع والأهواء والتحذير منها (tentang bid’ah-bid’ah, hawa nafsu, dan peringatan darinya). Tentang bid’ah-bid’ah, perkara-perkara baru dalam agama, hawa nafsu, dan peringatan dari mengikutinya.
- Risalah ini mencakup tentang pembahasan أمور الآخرة (perkara-perkara akhirat), perkara-perkara yang akan terjadi di hari kiamat. Seperti الميزان (timbangan) dan الصراط (jembatan), tentang adanya mizan, adanya hisab, adanya sirat. Juga رؤية الله عز وجل (melihat Allah Azza wa Jalla), bahwasanya orang-orang beriman nanti diperkenankan untuk melihat Allah Azza wa Jalla.
- Adalah المنهج العام (manhaj umum). Secara umum manhaj Ahlusunah wal Jamaah yang dituliskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, yaitu ترك الجدال والخصومة (meninggalkan debat dan pertikaian). Seorang dilarang untuk berdebat dengan ahlul bid’ah.
Kemudian setelahnya, Syekh Fadilatus Syekh hafizahullahu ta’ala mulai masuk ke pembahasan kitab ini. Dan kitab yang kita bahas ini yaitu riwayat dari Abdus bin Malik Al-Aththar, murid Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau mengatakan: سمعت أبا عبد الله أحمد بن حنبل رضي الله عنه (Aku mendengar dari Abu Abdillah, Imam Ahmad bin Hanbal radhiyallahu ‘anhu) يقول (beliau berkata).
Kemudian beliau menyebutkan bahwasanya penyebutan atau doa رضي الله عنه (radhiyallahu ‘anhu) ini seharusnya dikhususkan untuk para sahabat. Meskipun dibolehkan seorang ketika mendoakan syekhnya, mendoakan kawannya: رضي الله عنك (semoga Allah meridaimu). Tapi Ahlusunah wal Jamaah sejak dahulu, apabila mereka menyebut nama sahabat, siapapun dia, maka ditutup dengan atau ditambahkan dengan رضي الله تعالى عنه. Doa keridaan, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridai semua para sahabat.
Karena kita ketahui para pemirsa di mana pun Anda berada, kita ketahui bahwasanya Al-Khawarij, mereka mengkafirkan sahabat Ali, mengkafirkan sahabat Utsman, mengkafirkan sahabat Muawiyah, Amru bin Ash, dan sahabat-sahabat yang lainnya. Adapun Syiah Ar-Rafidhah, mereka mengkafirkan hampir semua sahabat kecuali beberapa sahabat saja. Dan juga Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan jelas di dalam Al-Qur’anul Karim menjelaskan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah rida kepada para sahabat. Maka merekalah orang-orang yang pantas untuk disebutkan ketika mendoakan mereka dengan رضي الله عنه. Dan inilah doa yang penting untuk kita selalu mendoakan para sahabat. Dan tanda di antara ciri penting Ahlusunah wal Jamaah, mereka mendoakan keridaan kepada semua sahabat Nabi ‘alaihis salatu wassalam.
Kemudian masuk ke pembahasan kitab ini. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan:
أصول السنة عندنا التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Ushulus Sunnah…” Yang dimaksud dengan sunah di sini adalah الاعتقاد (al-i’tiqad/akidah). Dan kenapa dinamakan akidah itu dengan sunah? Karena dalam hadis yang sahih Nabi ‘alaihis salatu wassalam mengatakan: فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين.
Siapapun yang panjang usianya di antara kalian, maka akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka Nabi ‘alaihis salatu wassalam memberikan solusi: فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين. Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunahku dan sunah para Khulafaur Rasyidin. Kemudian juga dalam hadis yang lain, ketika Nabi ‘alaihis salatu wassalam mengabarkan umatnya akan terpecah menjadi 73 kelompok, Nabi ‘alaihis salatu wassalam mengatakan hanya satu yang selamat. Dan ketika ditanya siapa mereka, Nabi kita ‘alaihis salatu wassalam menjawab:
ما أنا عليه وأصحابي
“Barang siapa yang berada di atas sunahku (jalanku) dan jalan yang dilewati oleh para sahabatku.”
Ini menunjukkan bahwasanya sunah yang dimaksud di sini adalah akidah. Perkara akidah yang di antara nama-nama akidah selain As-Sunnah adalah الاعتقاد (Al-I’tiqad), الشريعة (Asy-Syari’ah)—sebagaimana Imam Al-Ajurri menulis kitab Asy-Syari’ah dan isinya adalah pembahasan-pembahasan tentang akidah—juga التوحيد (At-Tauhid). Karena pembahasan tauhid adalah pembahasan yang paling penting dalam akidah. Sehingga penamaan akidah itu atau pembahasan akidah dengan nama tauhid menunjukkan pentingnya pembahasan tauhid dalam masalah akidah.
Kemudian juga di antara nama akidah yaitu الإيمان (Al-Iman). Banyak para ulama kita menulis kitab akidah dengan menamakan kitabnya Al-Iman. Dan itu beberapa nama-nama yang dinisbatkan kepada akidah yang menunjukkan pentingnya akidah ini. Karena sesuatu jika mempunyai banyak nama, itu menunjukkan suatu yang penting untuk diperhatikan. Berbeda dengan ilmu fikih yang hanya punya nama satu, ya fikih. Adapun akidah, maka mempunyai banyak nama menunjukkan pentingnya kita memperhatikan akidah ini. Karena sesuatu jika mempunyai banyak nama itu menunjukkan suatu yang penting untuk diperhatikan.
Kemudian beliau mengatakan: أصول السنة عندنا. Maksudnya pokok-pokok akidah, pokok-pokok keyakinan yang harus kita pegang, yang harus kita yakini. Yang pertama adalah:
التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم
Kita harus berpegang teguh dengan apa yang telah dijalani oleh sahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena diyakini bahwasanya tidak ada satupun sahabat تلطخ بالبدعة (tercemar dengan bid’ah). Tidak ada satupun sahabat yang terpengaruh dengan bid’ah. Sehingga tentunya mereka adalah secara umum, para sahabat adalah manhaj para sahabat adalah manhaj yang maksum. Dan inilah yang dimaksud dengan ucapan para ulama kita: العلم قال الله وقال رسوله (Ilmu adalah apa yang disampaikan oleh Allah dan rasul-Nya).
Dan tentunya di sini juga pentingnya kita memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, pemahaman para salaf. Karena banyak di antara kaum muslimin, banyak di antara manusia yang mereka tidak bisa memahami dengan benar. Sebagaimana orang-orang ahlul bid’ah pun, orang-orang Khawarij mengatakan قال الله وقال رسوله, tapi tidak menggunakan kacamata para salaf dalam memahami nas-nas Al-Qur’an, nas-nas hadis sallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga ketika mereka membaca Al-Qur’an tidak sampai masuk ke dalam hatinya dan berhenti hanya di kerongkongannya.
Maka ini menunjukkan pentingnya kita memahami Al-Qur’an, As-Sunnah, nas-nas yang tertera dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat. Inilah yang membedakan Ahlusunah (As-Salafiyyun) dengan selain mereka. Karena mereka memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan paham para sahabat. Karena mereka adalah orang-orang yang menyaksikan langsung turunnya wahyu Allah Azza wa Jalla. Mereka adalah orang-orang yang belum rusak bahasa mereka dan mendengar langsung penjelasan dari Nabi ‘alaihis salatu wassalam.
Kemudian beliau mengatakan: وترك البدع (dan meninggalkan semua bid’ah). Dan beliau secara gampang menjelaskan bahwasanya Al-Bid’ah ini sangat mudah untuk kita terangkan, yaitu semua ucapan, semua perbuatan yang Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bertaqarub dengannya kepada Allah dengan perkara tersebut. Maka semua yang tidak dilakukan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak diperintahkan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi ‘alaihis salatu wassalam tidak beribadah, tidak mencari pahala kepada Allah dengan perbuatan dan ucapan tersebut, maka itulah yang disebut dengan bid’ah.
Dan beliau juga menjelaskan tentang وكل بدعة ضلالة. Ini adalah kaidah yang umum yang mencakup semua bid’ah. Tidak ada satu bid’ah pun yang keluar dari sini. Dan yang dimaksud tentunya adalah في الدين (dalam agama). Karena dalam perkara dunia Nabi ‘alaihis salatu wassalam mengatakan: أنتم أعلم بأمور دنياكم (Kalian yang lebih tahu tentang perkara dunia kalian). Maka tentu tidak diragukan bahwasanya jika dimaksud itu adalah sarana-sarana yang baru, maka tidak masuk dalam perkara ini. Jadi yang dimaksud dengan وكل بدعة ضلالة adalah perkara agama. Semua perkara agama yang di zaman Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bukan agama, di zaman sahabat bukan agama, maka فلا يكون اليوم دينا (maka hari ini pun dia bukan agama) yang boleh kita melaksanakannya atau bertaqarub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan amalan tersebut.
Kemudian وترك الخصومات في الدين (dan meninggalkan perdebatan dalam agama), beliau panjang lebar menjelaskan tentang perkara ini. Beliau mengatakan: لا تخاصم مبتدعا (jangan sama sekali berdebat, berdialog dengan ahlul bid’ah). Tinggalkan mereka. Dan beliau hanya mengecualikan jika pemerintah, hakim yang menyuruh seorang alim untuk berdebat dengan ahlul bid’ah, atau dalam keadaan yang sangat darurat yang apabila ditinggalkan perdebatan tersebut maka bisa menjadi mudarat yang besar bagi kaum muslimin. Adapun secara mutlak, maka dilarang seorang untuk berdebat dengan ahlul bid’ah sebagaimana yang dilakukan oleh para aimah kita.
Beliau memberikan contoh Imam Malik rahimahullahu ta’ala ketika didatangi oleh seorang ahlul bid’ah mengajak beliau berdebat. Imam Malik mengatakan, “Bagaimana seandainya saya menang?” Ia mengatakan, “Saya mengikutimu.” “Bagaimana jika kamu yang menang?” “Maka engkau mengikutiku.” Kemudian Imam Malik mengatakan, “Bagaimana jika datang seorang yang lebih alim dari kita berdua atau lebih pintar berdebat dari kita berdua?” Maka dia mengatakan, “Kita mengikuti dia.” Maka Imam Malik mengatakan, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah datang membawa agama yang sangat jelas, dan aku melihat engkau tiap hari pindah dari satu agama ke agama yang lain.” Menunjukkan sikap para aimah kita yang sangat jelas. Mereka enggan berdebat dengan ahlul bid’ah, dan cukup bagi kita menjelaskan kebenaran kepada mereka. Jika mereka terima, alhamdulillah. Jika tidak, maka sudah lepas tanggung jawab kita.
Kemudian beliau juga menjelaskan tentang larangan untuk duduk bersama أصحاب الأهواء (ashabul ahwa), orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya, dan meninggalkan perdebatan dengan mereka karena bisa merusak hati kita dan bisa mempengaruhi agama kita.
Kemudian beliau juga menjelaskan tentang ciri Ahlusunah wal Jamaah yang paling utama, yang paling jelas, yang paling penting, di antaranya adalah تقديم النقل على العقل مطلقا (mendahulukan nas-nas/dalil di atas akal secara mutlak). Mendahulukan nas-nas Al-Qur’an dan As-Sunnah daripada akal.
Beliau mengatakan—Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah melanjutkan: والسنة عندنا آثار رسول الله صلى الله عليه وسلم. Dan sunah adalah semua (atsar) yang diriwayatkan dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan beliau menjelaskan tentang kedudukan sunah dalam Al-Qur’an, yang mana As-Sunnah ini merupakan wahyu dari Allah Azza wa Jalla. Baik itu sesuatu yang diilhamkan kepada diri Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun perbuatan dan ucapan yang diikrar, ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Karena tidak mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala membiarkan Nabi kita sallallahu ‘alaihi wa sallam salah dalam menyampaikan agama ini.
Kemudian Imam Ahmad mengatakan: والسنة تفسر القرآن (Dan As-Sunnah itu menjelaskan Al-Qur’anul Karim). Karena tentunya banyak perkara-perkara dalam Al-Qur’an yang tidak dijelaskan secara detail dalam Al-Qur’an. Contohnya perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala: وأقيموا الصلاة (Dan tegakkanlah salat, dirikanlah salat). Dan kita tidak dapati dalam Al-Qur’an tentang rakaat-rakaat salat, tentang jumlah salat dan tata cara salat. Tapi kita dapati dalam sunah Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam: صلوا كما رأيتموني أصلي (Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat).
Demikian pula dengan harta-harta yang wajib dizakati. Tidak semua disebutkan dalam Al-Qur’an tentang nisab-nisab zakat, berapa yang harus dikeluarkan. Tentang perkara ibadah haji, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Ibrahim: وأذن في الناس بالحج (Dan serulah manusia untuk berhaji). Juga disebutkan: ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا. Tapi tidak dijelaskan di dalam Al-Qur’an tentang cara ibadah haji, cara manasik haji. Maka dalam sunah kita dapati Nabi kita ‘alaihis salatu wassalam mengatakan: خذوا عني مناسككم.
Kemudian وهي دلائل القرآن (Sunah adalah dalil dari Al-Qur’an) atau apa yang dikerjakan, semua yang dikerjakan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dalilnya ada di dalam Al-Qur’an. Karena semua perbuatan Nabi ‘alaihis salatu wassalam, baik dalam rumah tangga, baik dalam perang, baik dalam bertetangga, bermuamalah dengan sahabat-sahabatnya, sesungguhnya beliau hanya mempraktikkan apa yang diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla kepada beliau.
وليس في السنة قياس
Dan tidak ada di dalam sunah (akidah) itu qiyas. Perkara akidah tidak ada qiyas, tidak ada penggunaan akal dalam akidah. Tapi yang benar adalah التسليم والانقياد (tunduk dan patuh) terhadap semua apa yang disampaikan oleh Allah Azza wa Jalla. Karena apabila kita memasukkan akal kita dalam perkara yang gaib, pasti akan tersesat. Karena apa yang disampaikan dalam perkara-perkara akidah, perkara-perkara gaib adalah perkara yang tidak sampai akal kita untuk bisa mengetahuinya tanpa bimbingan wahyu dari Allah Azza wa Jalla.
Dan semua perkara-perkara yang disampaikan oleh Allah Azza wa Jalla tidak mustahil dalam akal kita. Karena pada dasarnya akal itu adalah kosong dan siap untuk disampaikan apa saja. Bahkan beliau menyebutkan satu contoh: bahwa 100 tahun yang lalu, jika ada orang mengatakan “Saya bisa berbicara menggunakan benda ini dengan orang yang ada di Makkah,” maka mereka semua sepakat mengatakan bahwa Anda orang gila. Tapi sebaliknya, saat ini kalau kita katakan “Dengan benda ini, dengan HP ini saya bisa berbicara dengan seorang yang ada di Makkah,” maka yang membantahnya dialah yang tidak percaya dengan perkara ini, dialah yang majnun. Ini menunjukkan bahwasanya perkara yang masuk akal atau tidak masuk akal itu sangat bisa berubah dan berbeda dari satu orang ke orang yang lain.
Sehingga perkara-perkara akidah tidak menggunakan akal, tapi kita benar-benar tunduk kepada wahyu dari Allah Azza wa Jalla.
وإنما هو الاتباع
Hanya mengikuti apa yang disampaikan Allah Azza wa Jalla dalam Al-Qur’an dan apa yang disampaikan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sunahnya. Betapa banyak perkara-perkara gaib yang tentunya tidak mungkin kita bisa mengetahui dengan akal kita. Tentang sifat-sifat malaikat, tentang sifat-sifat atau keadaan-keadaan yang terjadi di alam barzah, tentang pertanyaan dua malaikat, bagaimana dia mendudukkan. Kemudian kejadian-kejadian di hari akhir, tentang hisab, tentang sirat yang disebutkan sangat tipis, sangat licin, sangat panas. Juga manusia ada yang keringatnya sampai di mata kakinya, ada yang sampai di pinggangnya, ada yang sampai di lehernya. Ya tentunya kalau perkara ini kita menggunakan akal kita, maka banyak mungkin di antara kaum muslimin yang menolaknya.
Juga beliau menyebutkan bagaimana orang-orang musyrikin dahulu tidak percaya kepada Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menyampaikan beliau diperjalankan dari Makkah ke Baitul Maqdis hanya separuh malam. Padahal saat ini, ya kita seandainya dikatakan ada orang yang hanya 10 jam dari Indonesia ke Makkah, maka ini perkara yang biasa saja. Ini menunjukkan bahwasanya sesuatu yang dahulu atau mungkin tidak masuk akal berubah menjadi sesuatu yang sangat masuk dalam akal kita. Maka kewajiban kita hanyalah mengimani apa yang disampaikan. Maka yang paling penting adalah jika hadis itu sahih, maka kewajiban kita على الرأس والعين. Kita harus percaya dan yakin seyakin-yakinnya tentang perkara tersebut.
Kemudian beliau juga memperingatkan tentang sebagian perkara-perkara penting yang seharusnya kita kembali kepada para sahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara perkara yang sebagian diributkan oleh manusia tentang masalah iman. Apakah dia syarat sah iman? Apakah dia rukun dari iman dan lain sebagainya? Ini perkara yang tidak ditanyakan oleh para sahabat. Maka cukup bagi kita mengatakan: الإيمان قول وعمل (Iman adalah ucapan dan perbuatan). Demikian juga perkara yang tidak ditanyakan oleh para sahabat tentang turunnya Allah Azza wa Jalla ke langit dunia. Apakah Arsy itu kosong atau tidak? Ini juga perkara yang tidak perlu kita panjang untuk membahasnya karena para sahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bertanya tentang perkara tersebut.
Kemudian para pemirsa Radio Roja di mana pun Anda berada, pembahasan selanjutnya yaitu perkataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah:
ومن السنة اللازمة التي من ترك منها خصلة – ولم يقبلها – لم يكن من أهلها
“Dan di antara sunah (keyakinan) yang wajib kita yakini,” kata beliau, “Barang siapa yang meninggalkan satu perkara, barang siapa yang tidak meyakini atau menolak, tidak menetapkan perkara ini, maka dia bukan termasuk Ahlusunah wal Jamaah.”
Kemudian Imam Ahmad menyebutkan beberapa perkara penting, dan Syekh hafizahullahu Azza wa Jalla beliau menyebutkan ada lima perkara besar, perkara penting yang barang siapa menyelisihi salah satu dari empat atau lima perkara ini, maka dia telah keluar dari Ahlusunah wal Jamaah.
Beliau menyebutkan yang paling utama, yang pertama adalah السمع والطاعة لولي الأمر وإن جار وظلم. Beliau menyebutkan bahwasanya perkara yang mengeluarkan seorang dari Ahlusunah wal Jamaah jika menyelisihi Ahlusunah dalam perkara السمع والطاعة (taat dan patuh) kepada waliul amr, kepada penguasa muslim meskipun mereka zalim, meskipun mereka berbuat maksiat. Dan beliau memberi contoh, bagaimana Khalifah Al-Ma’mun, Al-Mu’tashim, dan Al-Watsiq membunuh banyak ulama Ahlusunah, menyiksa, memenjara. Tapi para imam Ahlusunah wal Jamaah, para ulama Ahlusunah wal Jamaah, dan yang paling terdepan adalah Imam Ahmad bin Hanbal, tetap menyuruh kaum muslimin untuk taat dan patuh, bahkan mendoakan penguasa di zaman tersebut. Maka barang siapa yang menyelisihi perkara ini, maka dia telah keluar dari Ahlusunah wal Jamaah. Jika dia mengatakan bahwasanya yang wajib ditaati hanyalah pemimpin yang adil, maka ini adalah perkara yang bertentangan dengan keyakinan dan pokok akidah Ahlusunah wal Jamaah.
Kemudian yang kedua, perkara yang barang siapa menyelisihinya berarti dia telah keluar dari Ahlusunah wal Jamaah yaitu التكلم في حق الصحابة رضي الله عنهم أو واحد منهم. Yaitu orang yang mencela sahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, baik seluruhnya ataupun hanya salah satu di antara mereka. Maka ini adalah ciri ahlul bid’ah. Orang yang mencela para sahabat, mencela agama mereka, atau bertaqarub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mencela para sahabat, maka ini adalah ciri seorang telah keluar dari Ahlusunah wal Jamaah.
Kemudian yang ketiga, الإيمان بالقدر (beriman terhadap takdir). Yaitu wajibnya beriman terhadap takdir. فلا نقول بقول الجبرية ولا بقول القدرية (Kita tidak mengikuti perkataan Jabariyah dan tidak mengikuti perkataan Qadariyah). Jabariyah adalah kelompok yang mengatakan bahwasanya manusia tidak punya kehendak, tidak punya kekuasaan, dan tidak punya pilihan. Sehingga semua yang dilakukan oleh manusia adalah ciptaan Allah Azza wa Jalla dan Allah yang menggerakkan mereka, dan manusia tidak punya pilihan sama sekali. Sebaliknya Al-Qadariyah, mereka mengatakan bahwasanya manusia مستقل بفعله (mandiri dengan perbuatannya). Dia sendiri yang melakukan perbuatan, menciptakan perbuatannya, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak punya andil sama sekali dalam hal tersebut.
Dua kelompok ini kelompok sesat dalam bab أفعال العباد (perbuatan hamba) dan bab takdir. Ahlusunah wal Jamaah meyakini bahwasanya manusia punya kehendak, punya pilihan, dan pilihan mereka tidak keluar dari kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan banyak sekali tentunya ayat-ayat yang menjelaskan tentang hal ini. Di antaranya:
وما تشاؤون إلا أن يشاء الله
“Dan tidaklah kalian menghendaki sesuatu kecuali itu dikehendaki oleh Allah Azza wa Jalla.”
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pilihan kepada manusia: وهديناه النجدين (Dan Kami berikan mereka dua pilihan/jalan). Yaitu barang siapa yang ingin beriman maka beriman, barang siapa yang memilih kesesatan (dia akan sesat), tapi tentunya dia akan mengetahui konsekuensi dari perbuatan tersebut.
Kemudian beliau juga menjelaskan tentang perkara yang mengeluarkan seorang dari Ahlusunah wal Jamaah yaitu perkara iman. Bahwasanya iman itu adalah ucapan dan perbuatan. Barang siapa yang menyelisihi Ahlusunah dalam bab iman ini, maka dia telah keluar dari barisan Ahlusunah wal Jamaah.
Dan yang terakhir adalah تقديم العقل على النقل, yaitu ciri utama ahlul bid’ah, yaitu mereka mendahulukan akal daripada nas-nas Al-Qur’an dan mereka tidak berhujah dengan sunah-sunah Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian setelahnya beliau melanjutkan tentang pembahasan kitab ini:
الإيمان بالقدر خيره وشره
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menjelaskan, “Di antara keyakinan yang wajib untuk diyakini oleh setiap muslim, barang siapa yang meninggalkannya, tidak percaya dengannya, tidak menerimanya, maka dia telah keluar dari Ahlusunah atau bukan dari kelompok Ahlusunah wal Jamaah, yaitu الإيمان بالقدر خيره وشره (beriman kepada takdir baiknya dan buruknya).”
Dan beliau juga menjelaskan tentang tingkatan takdir yang empat:
- العلم (Ilmu). Yaitu beriman bahwasanya Allah mengetahui ما كان وما يكون وما لم يكن كيف يكون. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui semua yang telah terjadi, yang akan terjadi, yang sedang terjadi, yang tidak terjadi seandainya terjadi (bagaimana kejadiannya), Allah mengetahui semua. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan dalam Al-Qur’an: وما تسقط من ورقة إلا يعلمها (Dan tidak ada satu daun pun yang jatuh kecuali Allah mengetahuinya). Bahkan para ulama kita menjelaskan bahwasanya berapa kali daun tersebut berbolak-balik, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahuinya. Allah mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, yang akan terjadi, bahkan yang tidak terjadi. Dan beliau memberikan contoh, yaitu nanti para penduduk neraka, orang-orang kafir, mereka meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dikembalikan ke dunia agar mereka beramal saleh dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan mereka. Tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh mereka diam dan tidak berbicara. Dan Allah mengatakan seandainya mereka dikembalikan ke dunia, mereka akan kembali melakukan kekafiran. Ini adalah contoh perkara bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Karena tidak mungkin Allah mengembalikan mereka ke dunia. Tapi seandainya dikembalikan ke dunia, Allah sudah tahu bahwasanya mereka akan kembali kepada kekufuran.
- الكتابة (Penulisan). Yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan pena dan memerintahkan pena tersebut untuk menuliskan semua yang akan terjadi sampai hari kiamat. Dan beliau menjelaskan bahwasanya yang ditulis oleh pena tersebut adalah apa yang dilakukan oleh Allah Azza wa Jalla dan apa yang akan dilakukan oleh manusia. Jadi disebutkan semua, dituliskan semua di dalam Lauhul Mahfuz bahwasanya Allah memerintahkan Jibril untuk menyampaikan wahyu, dan segala sesuatu tentang yang terjadi baik itu perbuatan Allah Azza wa Jalla maupun perbuatan manusia, semuanya dituliskan di Lauhul Mahfuz. Dan ini adalah tingkatan yang kedua.
- المشيئة (Kehendak). Yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki segala sesuatu. Dan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala ini juga harus dipahami bahwasanya ada dua iradah: إرادة كونية (iradah kauniyah) dan إرادة شرعية (iradah syar’iyah). Iradah kauniyah artinya semua yang terjadi itu menunjukkan bahwasanya Allah menghendakinya. Adapun iradah syar’iyah itu semua yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla dan tidak mesti terjadi. Maka semua yang terjadi di alam semesta ini adalah berdasarkan iradah kauniyah Allah Azza wa Jalla. Adapun iradah syar’iyah, contohnya yaitu Allah menginginkan manusia beriman, tapi tidak semua manusia beriman. Maka muradif atau makna dari iradah syar’iyah adalah apa yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla, namun tidak mesti terjadi. Dan tentu di antara nama Allah Subhanahu wa الحكيم (Al-Hakim). Tidak mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan sesuatu tanpa ada hikmah di baliknya, baik kita mengetahuinya ataupun tidak mengetahuinya.
- الخلق والإيجاد (Penciptaan dan Pengadaan). Allah menciptakan dan mengadakan semua yang telah diketahui, dituliskan, dan dikehendaki oleh Allah Azza wa Jalla.
Dan barang siapa yang mengingkari dua tingkatan pertama (ilmu dan penulisan), maka dia telah keluar dari agama Islam. Barang siapa yang mengingkari ilmu Allah Azza wa Jalla, mengingkari Allah menuliskan di Lauhul Mahfuz, maka dia telah keluar dari Islam. Dan barang siapa mengingkari tingkatan yang ketiga dan keempat, maka dia tidak dikeluarkan dari Islam, tapi dihukumi sebagai kelompok yang sesat, yaitu mengingkari المشيئة (kehendak Allah Azza wa Jalla) dan penciptaan Allah terhadap segala sesuatu.
Kemudian beliau menjelaskan tentang perkataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah:
لا يقال لم ولا كيف
“Tidak boleh kita bertanya kenapa dan bagaimana.” Karena ini menunjukkan penolakan terhadap apa yang ditetapkan oleh Allah Azza wa Jalla. Dan kaifa (bagaimana) menunjukkan tentang memasukkan akal dalam perkara-perkara yang tidak sampai akal bisa memahaminya. Bagaimana malaikat yang diutus ke rahim? Bagaimana mencatatnya? Di mananya dicatat? Ini perkara-perkara yang tidak dijelaskan dan tidak perlu untuk kita cari-cari dan pertanyakan.
ومن لم يعرف تفسير الحديث، وبلغه عقله، فقد كفي ذلك وأحكم له فعليه الإيمان به
“Dan barang siapa yang tidak mengetahui penjelasan suatu hadis, dan tidak sampai akalnya untuk memahaminya,” kata Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dalam kitab ini—ya sebagian perkara-perkara gaib, perkara-perkara takdir, perkara-perkara yang mungkin akal kita belum sampai untuk memahaminya—”maka dia telah dicukupkan, tidak wajib untuk dipahami maknanya. Tapi yang wajib adalah mengimani perkara-perkara tersebut dan menyerahkannya dan berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla.”
Sebagaimana hadis الصادق المصدوق, yaitu tentang perintah Allah Azza wa Jalla kepada malaikat ketika janin berumur 4 bulan untuk menuliskan ajalnya, rezekinya, apakah dia bahagia atau sengsara. Dan semua tentang pena yang diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla tidak perlu ditanyakan bagaimana bentuk pena tersebut. Dan perkara-perkara tidak dijelaskan maka tidak perlu untuk ditanyakan, karena para sahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menanyakan tentang perkara-perkara tersebut. Termasuk أحاديث الرؤية, yaitu tentang melihat Allah Azza wa Jalla.
وإن نبت عن الأسماع
Meskipun ini artinya pendengaran kita atau perkara yang sulit untuk dipahami, sulit untuk sampai pada akal kita.
واستوحش منها المستمع
Dan agak aneh menurut sebagian orang (pendengar).
وإنما عليه الإيمان بها
Kita wajib untuk tetap mengimaninya. Yang wajib bagi kita hanya memeriksa apakah hadis tersebut atau kabar tersebut sahih benar. Maka apabila sahih dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak boleh kita untuk menolaknya meskipun kita tidak mampu untuk memahaminya.
وألا يرد منها حرفا واحدا
Bahkan satu kalimat, satu huruf pun tidak boleh ditolak.
وغيرها من الأحاديث المأثورات عن الثقات
Dan semua riwayat-riwayat yang siqah dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam wajib bagi setiap muslim untuk mengimaninya. Karena seorang tidak dibebankan untuk memahami segala sesuatu yang dia tidak bisa memahaminya. Tapi apabila perkara tersebut sahih dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak ada pilihan bagi seorang muslim kecuali untuk mempercayainya.
ولا يخاصم أحدا ولا يناظره ولا يتعلم الجدل
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengulangi lagi perkara penting untuk tidak berdebat dengan siapapun, tidak mendebatnya, dan tidak mempelajari ilmu debat. Dan perdebatan dengan ahlul bid’ah ini dikecualikan hanya jika seorang hakim memerintah seorang alim untuk berdebat dengan ahlul bid’ah, atau seorang berada dalam kondisi darurat sehingga dia harus berdebat dengan ahlul bid’ah. Adapun selainnya, maka ini bukan dari jalan Ahlusunah wal Jamaah. ولا يتعلم الجدل (Tidak belajar bagaimana cara berdebat), sebagaimana yang dipelajari dalam ilmu mantik.
فإن الكلام في القدر والرؤية والقرآن وغيرها من السنن مكروه ومنهي عنه
Karena pembicaraan dalam bab takdir, bab rukyah, Al-Qur’an dan selainnya dengan tidak mengikuti cara Ahlusunah wal Jamaah adalah perkara yang dibenci dan dilarang oleh Nabi kita ‘alaihis salatu wassalam.
وإن أصاب صاحبه بكلامه السنة
Seorang meskipun berbicara dengan benar, tapi menyelisihi apa yang seharusnya dia lakukan, maka dia termasuk dianggap salah. Seperti ketika seorang berbicara tentang Al-Qur’anul Karim bukan dari pemahaman yang benar. Meskipun dia ternyata benar ucapannya, maka dia telah berbuat kesalahan, karena memahami Al-Qur’an harus mengikuti pemahaman para sahabat dan apa yang disampaikan oleh para sahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam.
Inilah beberapa perkara-perkara yang disampaikan dalam pembahasan Ushulus Sunnah sesi pertama dan sesi kedua. Semoga bermanfaat bagi kita semua dan semoga kita senantiasa diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menambahkan ilmu kita dan mengamalkan apa yang wajib kita amalkan.
Barakallahu fikum. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

