بسم الله الرحمن الرحيم.
الحمد لله رب العالمين وبه نستعين على أمور الدنيا والدين، والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين، نبينا محمد وعلى آله وصحبه والتابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.
يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالًا كثيرًا ونساءً واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبًا.
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولًا سديدًا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزًا عظيمًا. أما بعد.
Kaum muslimin dan muslimat, pemirsa Rodja TV, pendengar Radio Rodja, dan seluruh kaum muslimin yang mengikuti pengajian malam hari ini. Semoga Allah عز وجل menambah kekuatan iman kita, menjaga kita dari segala kemungkaran, dan kita diberikan husnul khatimah dengan berpegang dengan sunah.
Kita tahu bahwa orang yang berhati-hati, orang yang tidak berbicara sembarangan, apalagi bersikap yang merugikan orang lain, adalah orang yang beriman dan bisa mencerminkan ketakwaan di dalam hati. Tidak pantas orang mengatakan yang penting hatinya, karena keimanan itu membutuhkan bukti. Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan dan menegaskan, iman mewakili Islam, mewakili ihsan jika disebutkan sendiri. Artinya ketika seseorang mengatakan saya muslim, maka dia adalah orang beriman, dia adalah orang yang muhsin, berusaha untuk menjalankan syariat Islam. Demikian pula di dalam dalil banyak disebutkan tafsir makna iman dengan amal-amal yang tampak. Orang beriman adalah orang yang salat, orang beriman yang menjalankan rukun iman dan rukun Islam, termasuk ketika dia menjaga ucapan, menjaga perbuatan agar tidak merugikan dan tidak merusak kehormatan diri maupun kehormatan orang lain.
Ini mukadimah pertama. Yang kedua, orang yang mudah berbicara tanpa memeriksa berita, apalagi sampai menjadi orang pertama yang sekedar mendengar informasi langsung disebarluaskan, ini disebut oleh Nabi صلى الله عليه وسلم sebagai seorang pendusta. Dalam hadis yang sahih disebutkan, “كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ.” “Cukuplah seorang dikatakan pendusta pada saat dia menceritakan setiap yang dia dengarkan.”
Ketiga, membicarakan sesuatu yang sifatnya kehormatan, apalagi berkaitan dengan tindak asusila, padahal ini tidak terjadi sama sekali. Menuduh orang berzina merupakan sebuah dosa besar. Disebutkan di dalam Al-Qur’an contoh bahwa orang itu fasik dan dilaknat. Perzinaan merupakan dosa besar, adapun tuduhan berzina merupakan dosa besar lain yang juga mengakibatkan orangnya dilaknat dan dia akan dicambuk. Ditambah lagi persaksian dia tidak akan diterima.
Keempat, dan ini penting sekali, ketika sebuah tuduhan dosa besar dilayangkan kepada orang yang bertakwa, yang mulia, dia tidak tahu apa-apa, menjaga kehormatannya lalu dituduh dengan tuduhan yang paling mengotori dan memuakkan ini, maka dosanya semakin besar. Kelima, seandainya tuduhan ini diberikan kepada orang yang menjadi sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم, bahkan paling dekat dengan beliau, ketika dituduhkan kepada keluarga Nabi صلى الله عليه وسلم yang akan mengakibatkan rumah tangga beliau tercoreng, dan rumah tangga Nabi صلى الله عليه وسلم mewakili perangai dan karakter beliau, maka kerusakan yang ada pada keluarga akan merembet kepada nama baik Rasul صلى الله عليه وسلم. Ketika hal ini digulirkan, maka tuduhan ini menjadi sebuah dosa besar yang tidak bisa dihitung.
Baik, hadis yang akan kita pelajari satu saja dari kitab صحيح الجامع الصغير, tetapi sejatinya hadis ini disebutkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Cuplikan satu penggal kisah saja disebutkan oleh penulis As-Suyuthi رحمه الله dan kemudian dipilih oleh Syekh Al-Albani رحمه الله karena ada kata-kata أَبْشِرِي, artinya “gembiralah,” dan ini merupakan sebuah berita yang membahagiakan. Padahal ini merupakan kisah yang panjang dan memiliki pelajaran yang penting diketahui oleh setiap muslim.
Hadis yang ke-38, Nabi صلى الله عليه وسلم menyatakan kepada Aisyah رضي الله عنها: “أَبْشِرِي يَا عَائِشَةُ، أَمَّا اللَّهُ فَقَدْ بَرَّأَكِ.” “Bergembiralah wahai Aisyah, karena Allah Subhanahu wa ta’ala telah menuliskan pensucian dirimu, telah menyelamatkan kamu, membersihkan kamu dari tuduhan nista yang disematkan oleh orang-orang lain.”
Baik, ini memiliki kisah yang menyedihkan. Ketika Aisyah رضي الله عنها bukan hanya terhormat, memiliki nasab baik, cerdas, menjadi istri yang paling dicintai Nabi صلى الله عليه وسلم, terlebih dari itu, beliau adalah orang yang lugu, tidak tahu apa-apa. Jangankan terpikir melakukan perzinaan, beliau bahkan tidak terbayang. Abu Bakar رضي الله عنه, ayahnya, bahkan tidak pernah minum khamr ketika dalam kondisi jahiliyah dan kafir, tidak pernah menyembah berhala. Beliau adalah orang yang menjaga pembawaannya. Ini keistimewaan Abu Bakar dan keluarganya. Aisyah رضي الله عنها masih kecil pula ketika beliau menikah dengan Nabi صلى الله عليه وسلم, baru beranjak dewasa dan belum tahu tentang apa-apa, lugu sekali. Akan tetapi demikianlah Allah menentukan sebuah kisah menjadi sebuah pelajaran untuk umat sampai saat ini, dan Allah jadikan beberapa ayat di dalam surah An-Nur sebagai tinta emas yang menentukan ada orang beriman dan ada orang-orang munafik yang akan berada sampai hari kiamat.
Kita sengaja ingin membaca riwayat Aisyah رضي الله عنها yang disebutkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Beliau mengatakan, “Di antara kebiasaan Nabi صلى الله عليه وسلم, apabila mau safar, beliau akan mengundi istri-istrinya. Siapa yang keluar namanya maka dia akan dipilih untuk menemani beliau.” Menurut jumhur ulama, mengundi ini dibolehkan di dalam syariat. Nabi Yunus, Nabi Zakaria, dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم menggunakan undian. An-Nawawi رحمه الله menyebutkan agar terjadi adil dalam memilih. Aisyah mengatakan, “Maka Nabi صلى الله عليه وسلم mengundi istri-istrinya, keluarlah namaku, maka aku pun bersama beliau di salah satu perang.” Kebanyakan ulama mengatakan ini adalah perang Al-Muraisi’. Yang jelas, Aisyah mengatakan, “Maka aku terpilih dan aku mengikuti pertempuran itu bersama Nabi صلى الله عليه وسلم. Di saat itu hijab sudah diwajibkan. Maka aku diajak dinaikkan ke haudaj.” Haudaj adalah sebuah bilik kecil yang diletakkan di atas unta. “Dan aku selalu naik itu, kalaupun diturunkan maka aku tetap berada dalam haudaj itu.”
“Sampai ketika perang itu selesai, Nabi صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya pulang. Ketika kami mendekati kota Madinah, satu malam, beliau pun mengatakan, ‘Ayo segera kita lanjutkan perjalanan.'” Aisyah cerita, “Waktu itu aku ada hajat untuk buang air, aku pun turun kemudian aku melewati pasukan itu untuk menjauh. Setelah selesai, ternyata aku mau balik, aku pegang dadaku, ternyata kalungku terputus. Aku harus balik mencari lagi. Maka aku kembali mencari kalungku yang terjatuh itu. Pada saat itu, orang-orang mendatangi haudaj-ku, mereka angkat diletakkan di atas untaku, mereka menyangka aku sudah di situ, lalu mereka berangkat, padahal aku belum naik.”
“Dulu perempuan itu tidak gemuk-gemuk, mereka rata-rata kurus sehingga badannya ringan. Mereka hanya makan beberapa suap saja. Sehingga ketika orang-orang mengangkat haudaj-ku, mereka tidak merasa aneh, ‘Oh ini kok ringan?’ Tidak, karena perempuan-perempuan waktu itu adalah orang-orang yang tidak berat. Aku dulu juga masih kecil, belum dewasa. Maka mereka angkat lalu mereka pergi. Aku akhirnya menemukan kalungku yang hilang tadi, setelah itu aku segera berangkat menuju ke tempat pasukan itu, ternyata tidak ada orang. Aku panggil-panggil tidak ada yang menjawab. Maka aku menyangka biasanya pasukan itu akan ada orang yang menyisir di belakang, akan mencari siapa yang tertinggal. Maka aku kembali ke tempatku yang tadi, siapa tahu ada orang yang mencari, dia akan mendapati aku. Setelah aku menunggu di tempatku tadi, aku mengantuk maka aku ketiduran.”
“Ada seorang sahabat namanya Safwan Ibnu Mu’atthal As-Sulami Adz-Dzakwani, ini seorang sahabat yang akhirnya dituduh berzina dengan Aisyah. Beliau yang ditugaskan untuk menyisir itu. Beliau istirahat tengah malam, kemudian beliau jalan malam. Maka dia sampai ke tempatku, maka dia melihatku. Aku tadi tidur. Maka dia melewati, kok ada hitam-hitam kayak ada orang di situ, maka dia datang, maka dia segera melihat aku dan dia tahu dulu sebelum ada kewajiban berhijab, dia pernah melihat aku. Begitu melihat aku, tahu ini adalah istri Nabi صلى الله عليه وسلم, maka beliau istirja’, mengucapkan إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ. Aku bangun karena mendengar beliau mengucapkan itu, aku bangun segera aku tutupi mukaku.” Ini menunjukkan bahwa kebiasaan wanita di zaman itu, orang-orang terhormat, mereka menutupi mukanya dari orang-orang yang tidak mahram.
Aisyah رضي الله عنها mengatakan, “Demi Allah, dia tidak mengajak bicara aku, tidak mengobrol. Dia menghormati aku. Aku bukan siapa-siapanya dan dia bukan siapa-siapa aku. Maka kami tidak terlibat perbincangan apapun. Beliau memberhentikan untanya, kemudian didudukkan sehingga unta itu mudah untuk dinaiki. Maka aku pun naik dengan mudah, dia tidak menoleh kepada aku sama sekali. Kemudian kami berjalan, selama perjalanan tidak terjadi perbincangan apapun sampai kami datang ke kota Madinah menyusul pasukan itu. Pasukan dalam kondisi capek, mereka masuk kota Madinah dalam keadaan siang terik sekali.” Dimulailah pada saat itu kisah tuduhan kepada Aisyah رضي الله عنها masuk terlambat berdua.
“Begitu sampai Madinah, aku sakit karena perjalanan capek. Orang-orang sudah mulai dimakan oleh isu itu, mereka menyebarkan berita tentang aku, aku tidak mengerti apa-apa. Aku sakit selama satu bulan dan tidak ada yang membuat aku heran kecuali satu saja: ketika Nabi صلى الله عليه وسلم masuk rumah menemui aku, aku tidak melihat kehangatan dari muka dan sikap yang selama ini aku lihat dari beliau. Beliau adalah seorang yang hangat, lemah lembut, santun, dan perhatian. Itu yang tidak aku dapatkan hari-hari ini, tapi aku tidak merasakan curiga. Nabi صلى الله عليه وسلم kalau masuk hanya mengatakan, ‘السلام عليكم,’ kemudian beliau mengatakan, ‘Bagaimana kabarmu hari ini?’ Itu saja. Aku masih sakit.”
“Sampai satu malam aku keluar bersama Ummu Mistah ketika aku sudah mulai agak enakan, tapi belum sembuh total. Aku keluar ke daerah Manasi’, itu adalah tempat kami buang hajat. Kami keluarnya malam-malam. Kami adalah orang yang memegang tradisi Arab, kami tidak terbiasa membuat kamar mandi di rumah, bahkan kami menilainya sesuatu yang mengganggu. Beliau keluar bersama Ummu Mistah yang selalu menemani Aisyah رضي الله عنها. Ummu Mistah ini merupakan sepupu Abu Bakar. Akhirnya kami jalan bersama, kemudian kami balik. Setelah selesai, tiba-tiba Ummu Mistah ini terjerat bajunya sendiri, akhirnya jatuh dia. Ketika jatuh, reflek omongannya, ‘Celaka Mistah!’ Mistah itu anaknya sendiri, dibilang celaka.” Maka kata Aisyah رضي الله عنها, “Jelek sekali ucapanmu, kamu mencela seorang laki-laki yang ikut Perang Badar?” Ini diyakini oleh para sahabat bahwa orang-orang yang hadir di Perang Badar merupakan orang-orang mulia.
Kata Ummu Mistah, “Wahai Aisyah, kamu lugu sekali, kamu betul-betul polos, Nak. Kamu tidak dengar ya apa yang diomongkan Mistah tentang kamu?” Kaget Aisyah. “Dia ngomong apa?” “Maka diceritakanlah kejadian orang-orang yang membicarakan tentang isu aku berzina dengan Safwan ibn Mu’atthal. Maka tambah sakit aku.”
“Ketika aku pulang ke rumah, Nabi صلى الله عليه وسلم masuk, aku manfaatkan untuk minta izin. ‘Ya Rasulullah, apakah antum izinkan aku untuk balik ke rumah kedua orang tuaku?’ Rencanaku, aku pulang ke rumah, aku betul-betul ingin bertanya, apakah benar berita yang sekarang ini sedang menyebar. Maka Rasul صلى الله عليه وسلم mengizinkan aku. Langsung aku tanyakan, ‘Apa yang diomongkan orang? Apakah benar?’ Maka ibunya, Ummu Ruman, beliau tahu bagaimana perasaan Aisyah, beliau mengatakan, ‘Wahai anakku, tenang saja. Di mana-mana ketika ada seorang cerdas, cantik, dicintai suaminya, dan suaminya memiliki istri yang banyak, maka biasanya para madu itu akan mencari kesalahan-kesalahan.'”
Aisyah tidak mempedulikan itu. Maka ternyata setelah diberitahu oleh ibunya, Aisyah mengatakan, “سبحان الله, berarti betul ya orang-orang sudah membicarakan aku.” Dan ternyata klop ini, selama ini sikap Nabi صلى الله عليه وسلم yang dingin, ini ternyata dipengaruhi oleh berita yang berkembang. “Maka aku menangis, air mata ini tidak bisa berhenti. Sampai pagi pun aku nangis.”
Nabi صلى الله عليه وسلم sampai memanggil Usamah bin Zaid dan Ali bin Abi Thalib, meminta pertimbangan mereka tentang perpisahan dengan istrinya. Usamah kita tahu adalah orang dekat Nabi صلى الله عليه وسلم. Demikian pula Ali bin Abi Thalib, sepupu beliau. Nabi صلى الله عليه وسلم minta pertimbangan, “Kira-kira bagaimana kalau aku menceraikan Aisyah ini?” Usamah bin Zaid memberikan saran berdasarkan pengetahuannya tentang kebaikan keluarga Nabi صلى الله عليه وسلم, “Ya Rasulullah, mereka adalah keluargamu, dan kami tidak mengetahui kecuali kebaikan.”
Maka Ali bin Abi Thalib ternyata pandangannya berbeda. “Ya Rasul, Allah tidak akan membuat engkau kesempitan di dunia ini, perempuan banyak. Kenapa antum harus bingung dengan satu urusan perempuan sampai satu bulan ini engkau kelihatan murung? Tapi kalau antum ingin memastikan kepada budakmu, Barirah, maka dia tidak bakal memberitahu kecuali yang benar, dia pasti jujur.” Tapi yang jelas, apakah Ali benci Aisyah? Bukan. Yang disebutkan oleh An-Nawawi, Ibnu Hajar, dan para ulama bahwa Ali رضي الله عنه adalah orang tegas, paham bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم sosok pemimpin, urusannya banyak, kenapa harus capek memikirkan satu orang? Ini merupakan pandangan tegas seorang Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.
Nabi صلى الله عليه وسلم akhirnya tidak memilih pendapat beliau. Maka ditanya Barirah. Barirah ini adalah seorang budak yang akhirnya dibebaskan oleh Aisyah رضي الله عنها. Ditanya, “Ya Barirah, kamu pernah melihat sesuatu yang mencurigakan pada Aisyah?” Maka dia mengatakan, “Ya Rasul, aku tidak tahu tentang Aisyah kecuali dia itu anak kecil polos, lugu, tidak pernah ada salahnya kecuali satu saja. Dia pernah ketiduran menjaga adonan roti antum, ternyata beliau mengantuk, akhirnya tidur, datang kambing masuk dimakan itu adonan roti antum, itu saja. Sisanya Aisyah adalah orang yang baik sekali.”
Maka Nabi صلى الله عليه وسلم naik mimbar kemudian menyatakan, “Wahai para sahabatku, kaum muslimin, siapa kira-kira yang akan membela aku ketika aku akan menuntut balas orang yang telah merusak kehormatan keluargaku? Demi Allah, aku tidak kenal keluargaku kecuali orang baik semua. Dan dia dituduh dengan seorang yang baik pula, Safwan Ibnu Mu’atthal. Siapa kira-kira yang akan membela aku kalau seandainya aku ambil sikap tegas untuk menghukum Abdullah bin Ubay bin Salul?”
Maka berdirilah Sa’ad bin Mu’adz, pembesar kabilah Aus. “Ya Rasul, aku siap bela kamu. Kalau orang yang menyakiti antum dari bangsa kami Aus, langsung aku bunuh dia sekarang. Tapi kalau seandainya dia dari Bani Khazraj, saudara kami, dan engkau perintahkan, aku akan bunuh juga.” Di situlah mulai marah orang-orang Khazraj. Maka berdirilah pembesar suku Khazraj, namanya Sa’ad ibnu ‘Ubadah. Dia adalah orang saleh, kata Aisyah, tapi dalam kondisi panas seperti itu, dia disulut oleh perasaan gengsinya. “Dusta kamu, kamu tidak bakal bisa membunuh orang Khazraj.” Maka berdirilah Usaid bin Hudhair, pembesar suku Aus, membela Sa’ad bin Mu’adz. Dia mengatakan, “Sa’ad bin ‘Ubadah, kamu yang bohong, kamu ini munafik, kamu akan melindungi orang munafik juga. Demi Allah, kita bakal berhasil membunuh si munafik itu.” Mulailah akhirnya dua kubu naik, ramai, bahkan mereka hampir serang-serangan lagi. Nabi صلى الله عليه وسلم masih di atas mimbar, akhirnya beliau mengatakan, “Sudah, sudah, diam, diam.” Nabi صلى الله عليه وسلم merayu mereka agar mereka tenang kembali.
Aisyah melanjutkan cerita, “Aku nangis terus, air mata tidak mengerti bagaimana cara berhentinya. Besoknya masih begitu lagi. Ayahku serta ibuku juga sudah menyangka kayaknya tangisan ini sudah sampai dalam hati.” “Ketika aku dalam kondisi sedih seperti itu, seorang wanita masuk, minta izin untuk berbagi rasa denganku, dia ingin menangis bersamaku saja. Maka aku izinkan. Dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba Nabi صلى الله عليه وسلم masuk. Sudah lama beliau tidak pernah duduk di sebelahku. Hari itu beliau datang kemudian duduk di sebelahku. Wahyu tidak turun selama kejadian itu. Ada sekitar satu bulan Nabi tidak pernah duduk di dekatku, dan saat ini tiba-tiba beliau duduk.”
“Ternyata Nabi صلى الله عليه وسلم memulai sebuah khotbah formal, resmi. Beliau mengatakan أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ, أَمَّا بَعْدُ. Beliau kemudian mengatakan, ‘Wahai Aisyah, sungguh aku sudah mendengar semuanya. Kalau memang kamu tidak benar, maka Allah akan mensucikan kamu. Tetapi kalau kamu memang melakukan itu dan engkau bertobat, silakan bertobat. Orang yang bertobat, Allah akan terima tobatnya.'” Apa kata Aisyah رضي الله عنها? “Ketika Nabi صلى الله عليه وسلم selesai, seolah-olah air mata ini kering. Aku bilang kepada bapakku, ‘Wahai bapakku, jawab Rasulullah,’ kata Abu Bakar, ‘Aku tidak mengerti aku mau jawab apa.’ Lalu aku bilang ke ibuku, ‘Ibu, jawab Rasulullah,’ ibu juga mengatakan, ‘Aku tidak tahu bagaimana harus menjawab.'”
“Aku anak kecil kata Aisyah, aku tidak banyak hafalan Qur’anku, maka aku sendiri yang harus menjadi juru bicara. Aku bilang, ‘Aku tahu kalian sudah dengar semua infonya ini dan semua berita itu bercokol di hati kalian dan kalian sudah percaya itu. Kalau aku bilang tidak, demi Allah aku tidak mengerjakan, kalian akan mengatakan, ‘Ah, tidak percaya kami.’ Kalau aku justru mengaku aku mengerjakan, kalian mungkin justru percaya.’ Kata Aisyah, ‘Aku tidak bisa memberikan sebuah permisalan antara aku dan kalian semua kecuali firman Allah yang menceritakan tentang bapaknya Nabi Yusuf, Nabi Ya’qub.’ Dia mengatakan, “فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ.” ‘Allah saja satu-satunya yang bisa dimintai pertolongan.’ Setelah itu aku sudah tidak perhatikan lagi siapa, aku tidur saja sudah.”
“Aku waktu itu sudah yakin seyakin-yakinnya aku tidak mengerjakan apa-apa dan aku pasti tahu Allah akan membersihkan namaku. Akan tetapi aku tidak pernah menyangka bahwa Allah akan menurunkan ayat khusus tentang aku. Aku merasa aku ini tidak pantas sampai disebutkan dalam ayat-ayat yang akan dibaca kaum muslimin. Aku hanya berharap Nabi صلى الله عليه وسلم melihat mimpi, dan mimpi itulah yang akan menjadi argumen bahwa Allah menunjukkan aku suci.”
“Setelah aku berbicara itu, Nabi صلى الله عليه وسلم belum sampai beranjak dari tempatnya, tidak ada juga satu orang yang di dalam rumahku keluar. Tiba-tiba Nabi صلى الله عليه وسلم mulai kelihatan seperti akan menerima wahyu. Dan kebiasaan beliau ketika menerima wahyu, beliau berat sekali, seperti orang yang demam, berkeringat sampai keringat itu besar keluar butir-butir. Ketika Nabi صلى الله عليه وسلم mulai tersadar dari proses penerimaan wahyu tadi, beliau sadar langsung tertawa. Beliau kemudian mengatakan, “أَبْشِرِي يَا عَائِشَةُ، أَمَّا اللَّهُ فَقَدْ بَرَّأَكِ.” ‘Bergembiralah wahai Aisyah, Allah telah mensucikan kamu.’ Ibuku langsung mengatakan, ‘Aisyah, ayo bangun, berterima kasih kepada Nabi صلى الله عليه وسلم.'” “فَقُلْتُ: وَاللَّهِ لَا أَقُومُ إِلَيْهِ وَلَا أَحْمَدُ إِلَّا اللَّهَ الَّذِي أَنْزَلَ بَرَاءَتِي.” “Aku tidak mau berterima kasih kepada siapapun, aku tidak mau berdiri untuk menemuinya, aku tidak mau memuji kecuali Allah karena Allah satu-satunya yang melepaskan tuduhan ini.”
“Maka Allah turunkan firman Allah di surah An-Nur ada 10 ayat menceritakan tentang bagaimana orang-orang yang mulai menyebar isu untuk menghancurkan kehormatan Aisyah. Maka Abu Bakar, yang tadinya marah ketika tahu bahwa Mistah, keponakannya yang selama ini disantuni, ternyata ikut menyebarkan isu itu, berkata, ‘Demi Allah aku tidak mau kasih santunan dia sama sekali setelah ini.’ Ternyata muncul firman Allah Subhanahu wa ta’ala menegur Abu Bakar, “وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.” ‘Hendaklah orang-orang dermawan di antara kalian jangan enggan untuk memberi santunan kepada orang-orang miskin, muhajirin, dan kerabat. Maafkan mereka, lupakan itu. Tidakkah kamu ingin dimaafkan Allah? Sungguh Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.’ Begitu turun ayat itu, Abu Bakar mengatakan, ‘Demi Allah, aku mau untuk diampuni,’ akhirnya kembali untuk memberikan santunan meskipun Mistah akhirnya dihukum oleh Nabi صلى الله عليه وسلم dicambuk 80 kali.”
“Aisyah mengenang, ketika dalam situasi genting, Nabi صلى الله عليه وسلم sempat bertanya kepada salah satu istrinya, yaitu Zainab binti Jahsy, ‘Bagaimana pendapatmu tentang Aisyah?’ Zainab binti Jahsy merupakan salah satu istri yang cantik dan termasuk yang menyaingi Aisyah. Apa kata Zainab binti Jahsy? Dia adalah orang yang bertakwa. Dia berkata, ‘Ya Rasulullah, aku selalu menjaga pendengaran dan penglihatanku. Aku tidak bakal mengatakan sesuatu yang tidak aku dengar dan tidak aku lihat. Aku hanya kenal Aisyah sebagai orang yang baik.’ Kata Aisyah, ‘Dia yang menyaingi aku di sisi Nabi صلى الله عليه وسلم, akan tetapi Allah jaga mulutnya dari fitnah ini karena kehati-hatiannya.’ Sayangnya adiknya, Hamnah binti Jahsy, seorang sahabat, dia ketika ada berita seperti ini, dia tahu bahwa saudarinya adalah saingan Aisyah, ‘Ah, kesempatan aku bela kakakku, aku sikat Aisyah.’ Sehingga Hamnah termasuk orang yang menyerang Aisyah dan termasuk yang dicambuk oleh Nabi صلى الله عليه وسلم.”
Kesimpulannya, ini ujian oleh Allah kepada Rasul صلى الله عليه وسلم dan Aisyah رضي الله عنها. Termasuk di antaranya tanda bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم tidak tahu ilmu ghaib, kecuali kalau diberitahu Allah عز وجل. Dan pelajaran kedua yang penting sekali, ketika seorang berbicara tentang Aisyah رضي الله عنها, menjelekkan, bahkan sampai masih bisa menuduh beliau, para ulama mengatakan dia bisa kafir bahkan pantas dibunuh. Ibnu Hazm رحمه الله menukil perkataan Imam Malik رحمه الله, “مَنْ سَبَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ جُلِدَ.” “Orang yang berani mencela Abu Bakar dan Umar, dia pantas dicambuk.” “وَمَنْ سَبَّ عَائِشَةَ قُتِلَ.” “Tapi kalau ada orang berani mencela Aisyah رضي الله عنها, pantas dibunuh dia.” “Kenapa kok dibedakan?” Imam Malik mengatakan, “Karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah An-Nur, “يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ.” ‘Allah sudah mengingatkan, Allah sedang memberikan peringatan kepada kalian, hati-hati jangan sampai terulang kembali kasus Aisyah kalau memang kalian beriman.’ Kalau masih saja ada orang menuduh Aisyah berzina, dia telah membangkang, menyelisihi Al-Qur’an, dan orang yang berani mengingkari Al-Qur’an pantas dibunuh.” Dan ini dikatakan sebuah kesepakatan dalam tafsir Ibnu Katsir. Beliau mengatakan, “Semua ulama sepakat bahwa orang yang mencela Aisyah setelah kejadian ini atau menuduh dia berzina setelah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an ini, maka dia kafir karena membangkang dari isi Al-Qur’an.” Semoga Allah عز وجل menjaga kita semua dari semua fitnah dan memuliakan kita ketika mengusung pengagungan terhadap sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم termasuk ibu kita Aisyah رضي الله عنها.
“Dengan Pak Ali di Pasar Minggu. Pembunuhan itu adalah dosa besar kedua setelah musyrik. Tetapi kenapa pada zaman sahabat itu sudah banyak terjadi pembunuhan? Bahkan ketiga khalifah itu juga matinya dibunuh. Apakah mereka tidak tahu ini dosa besar?”
“Baik. Dalam sebuah hadis dikatakan, “إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ.” ‘Sesungguhnya setan sudah putus asa untuk disembah di Jazirah Arab oleh orang-orang beriman yang melakukan salat, akan tetapi setan akan berusaha untuk memecah belah mereka.’ Ini yang pertama. Jadi memang jangankan masalah pembunuhan, masalah yang lain saja, syahwat-syahwat itu kenapa terjadi? Karena setan tidak diam. Wajar, tidak semua orang seperti Nabi صلى الله عليه وسلم aman dari setan. Yang aman dari godaan setan itu para nabi.
Kedua, kejadian yang ada pada para sahabat ini merupakan satu situasi yang kita tidak bisa memahami secara mutlak 100%. Sehingga para ulama ahlussunnah dalam pembahasan akidah ini, kita perlu perhatikan, setiap kejadian yang berkobar di tengah para sahabat, kita meyakini mereka memiliki pandangan ilmu untuk berijtihad. Mereka memandang bahwa amar ma’ruf nahi mungkar misalkan harus ditegakkan. Sehingga perbedaan pandangan di kalangan para sahabat ini berangkat dari ijtihad mereka masing-masing. Kalau kita tidak dibenarkan membunuh sama sekali, dan bukan berarti pembunuhan ketika dilakukan oleh para sahabat berarti boleh, tidak. Akan tetapi, siapapun tahu bahwa para sahabat tidak bakal menghalalkan pembunuhan. Apa yang mereka kerjakan tidak berniat membunuh, mereka ingin memberikan teguran yang keras atau mereka ingin beramar ma’ruf nahi mungkar dengan situasi politik yang memang banyak dirusak juga oleh pentolan-pentolan munafik, Abdullah bin Saba’ al-Yahudi misalnya.
Sekarang ahlussunnah, apa yang harus kita kerjakan? Yang kita kerjakan adalah husnuzan kepada semua sahabat. Bukan, ‘Kok mereka tidak mengerti?’ Bukan seperti itu, tetapi kita husnuzan kepada mereka, bisa jadi ijtihad mereka salah. Dan orang yang berijtihad kemudian salah, tetap mendapatkan pahala karena mereka sampai pada derajat ijtihad itu. Kita ini yang memang ilmu kita dangkal, kita tidak mengerti bagaimana mengambil kesimpulan. Kita setidaknya bersyukur situasi itu tidak kita hadapi. Tapi untuk menyikapi para sahabat, orang-orang mulia, pilihan Allah yang dijadikan sahabat nabi-Nya صلى الله عليه وسلم, maka kita berhusnuzan kepada mereka. Ijtihad itulah yang membuat mereka kebetulan ada yang salah, ada yang benar, tapi mereka berkisar antara satu pahala atau dua pahala. Kalau kita ikut-ikutan mereka, wah kita dosa. Tapi mereka beda kondisinya dengan apa yang kita lihat. Dan memang situasi pembunuhan ini juga merupakan salah satu yang telah dijanjikan Nabi صلى الله عليه وسلم, akan terjadi banyak tandanya, di antaranya الْهَرْج, pembunuhan. Maka kita minta perlindungan kepada Allah agar kita diselamatkan dari fitnah-fitnah yang bisa menyesatkan. والله أعلم بالصواب.“
“Apakah mungkin Ummul Mukminin Aisyah tidak mengetahui tentang gosip itu setelah berjalan berapa hari kemudian? Dan apakah ada kemungkinan Aisyah memang bersalah tetapi peristiwa ini ditutup dengan turunnya ayat untuk menjaga nama baik Nabi shallallahu alaihi wasallam?”
“Yang pertama ini adalah suuzan. Jadi sudah dijelaskan, Aisyah رضي الله عنها adalah orang yang lugu, sakit, dan tidak pernah keluar rumah selama satu bulan. Dia tidak tahu juga apa yang terjadi dengan yang diperbincangkan orang. Kenapa harus mencari kemungkinan-kemungkinan yang diyakini oleh orang-orang musuh Islam? Musuh-musuh Islam sampai sekarang masih menuduh Aisyah رضي الله عنها berzina. Apakah ada kemungkinan? Tidak ada kemungkinan. Kita sebagai orang Islam, apakah kita bisa bersuuzan dengan orang yang kita kenal baik, bahkan itu ibu kita??
Yang kedua, mungkinkah Aisyah berzina? Kita katakan tidak.
Kenapa? Karena Aisyah رضي الله عنها lebih khusus dari sahabat yang lain.
Para sahabat adalah orang-orang yang Allah pilih untuk menjadi sahabat nabi-Nya dan untuk menegakkan agamanya.
Sekarang Aisyah رضي الله عنها dipilih oleh Allah untuk menjadi istri Nabi صلى الله عليه وسلم. Para istri Nabi صلى الله عليه وسلم adalah orang yang siap untuk menjadi istrinya di surga di akhirat, ini diyakini oleh ahlussunnah wal jamaah, sehingga tidak boleh lagi istri-istri Nabi صلى الله عليه وسلم menikah lagi setelah beliau wafat. Mereka adalah pilihan Allah. Para sahabat saja tidak ada yang kafir seperti tuduhan orang-orang yang memang suka mengkafirkan para sahabat. Disebutkan dalam Al-Qur’an, “وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا,” para sahabat tidak ada yang merubah syariat ini setelah Rasul صلى الله عليه وسلم wafat. Al-Qur’an sudah menjelaskan rekomendasi tentang para sahabat, apalagi Aisyah رضي الله عنها, dipilih oleh Nabi صلى الله عليه وسلم untuk istrinya kemudian menjadi orang yang menyampaikan hadis-hadisnya, lalu ternyata ada yang menuduhnya. Ini merupakan kejanggalan. Orang yang menjaga dan menyebar-nyebarkan isu itu adalah orang yang paling parah, لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ, mendapatkan siksa yang besar. Allah sudah tegaskan itu, kok bisa ada orang meyakini jangan-jangan ada kemungkinan? Tidak mungkin ada. والله أعلم بالصواب.“
Sebelum kita akhiri perjumpaan, kami minta kepada Ustaz menyampaikan ikhtitam.
Di dalam hadis yang sahih, Anas bin Malik رضي الله عنه pernah mendengar seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ, “Ya Rasulullah, kapan terjadi hari kiamat?”
Nabi ﷺ menjawab, “Apa yang telah engkau siapkan?”
Orang tadi berkata, “Aku tidak punya persiapan apa-apa, kecuali bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Maka, Nabi ﷺ bersabda, “الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ” (Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya pada hari kiamat).
Mendengar hal itu, sahabat lain bertanya, “Ya Rasulullah, apakah itu hanya berlaku untuk orang tersebut atau untuk kami juga?” Nabi ﷺ menjawab, “Untuk kalian juga.”
Anas bin Malik رضي الله عنه kemudian berkata, “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan setelah masuk Islam yang melebihi kebahagiaan kami saat mendengar hadis ini.” Anas melanjutkan, “Dan aku, aku mencintai Abu Bakar dan Umar, dan aku berharap dapat dikumpulkan bersama mereka di hari kiamat, meskipun amalku tidak seperti amalan mereka.”
Kita pun berharap, sebagai orang-orang beriman, dapat dikumpulkan bersama para ummahatul mukminin (ibu-ibu kaum beriman), istri-istri Nabi ﷺ, dan bersama orang-orang saleh. Oleh karena itu, tidak pantas seseorang mencela orang yang ia percayai atau berkhianat kepada orang yang ia cintai.
‘Aisyah رضي الله عنها pernah diberitahu, “Ada sebagian orang yang mengatakan bahwa engkau bukanlah ibu mereka (kaum beriman).” ‘Aisyah رضي الله عنها menjawab, “Dia benar. Aku adalah ibunya orang-orang beriman, tetapi bukan ibunya dia. Aku adalah Ummul Mukminin, dan jika dia tidak suka (mengakuiku sebagai ibunya), silakan saja jika tidak mau beriman.”
Maka, kita berharap semoga Allah عز وجل memuliakan kita untuk dikumpulkan bersama Nabi ﷺ dan keluarganya, bersama para sahabatnya, dan kita bisa mengikuti jejak serta cara ibadah mereka semua. Ini yang dapat kita pelajari, semoga bermanfaat.
صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ