Dr. Firanda Andirja, MATematik

Peristiwa-Peristiwa Besar di Bulan Ramadhan Yang Mengubah Sejarah Islam

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ (Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sebagai pengagungan terhadap ketetapan-Nya).

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ (Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang menyeru kepada keridaan-Nya).

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ (Ya Allah, limpahkanlah selawat kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan saudara-saudaranya).

Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang peristiwa-peristiwa besar di bulan Ramadan yang merubah sejarah Islam menjadi lebih baik. Tentunya kita ketahui bahwasanya bulan Ramadan adalah bulan berkah. Berkah dalam ibadah. Dan ibadah tidak dimaknakan secara makna sempit, yaitu hanya ibadah mahdhah kita, yaitu baca Al-Qur’an, salat malam, atau puasa. Tentunya itu ibadah-ibadah yang agung. Tetapi ibadah secara umum di bulan Ramadan, ketika seorang berbakti kepada orang tua, kemudian juga misalnya mencari nafkah buat anak istri, itu juga ibadah dan itu semua berpahala besar di bulan Ramadan.

Di antaranya juga perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh kaum muslimin di bulan Ramadan. Di antaranya peperangan-peperangan, futuhat islamiyah (penaklukan-penaklukan Islam), bagaimana Islam jaya banyak terjadi di bulan Ramadan. Sehingga dari sini kita tahu bahwasanya Ramadan bukan dipahami dengan makna sempit, yaitu hanya sekadar untuk ibadah mahdhah murni kita dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi kalau ada hal-hal yang merupakan maslahat bagi kaum muslimin dan dikerjakan di bulan Ramadan, maka juga diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh karena itu, para sahabat pada 20 hari pertama mereka beraktivitas biasa. Sampai kita tahu bagaimana kisah Qais bin Shirmah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu yang bekerja sampai siang hari. Kemudian karena tidak sempat berbuka, besok dia kerja lagi, akhirnya dia pingsan. Akhirnya dia pingsan karena dia kerja, menunjukkan dia aktif bekerja sebagaimana sahabat-sahabat lain juga bekerja. Tidak datang dalam riwayat bahwa saat Ramadan mereka kemudian libur, tidak ada kegiatan. Tidak. Itu terjadi pada 10 hari terakhir, baru mereka kemudian iktikaf, waktunya mereka konsentrasi untuk full ibadah di 10 hari terakhir. Adapun 20 hari pertama mereka ada kegiatan seperti biasa.

Demikian juga Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepadanya), pada 20 hari pertama Rasulullah mendatangi istri-istri beliau, menjalankan tugas sebagai suami seperti biasa. Nah, ketika 10 hari terakhir baru kemudian fokus untuk dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk iktikaf.

Oleh karenanya, ini mengajarkan kepada kita bahwasanya Islam memberikan perkara sesuai dengan kadarnya. Kadarnya. Bahkan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyuruh berbuka puasa di bulan Ramadan jika ada maslahat. Dalam hadis yang masyhur, ketika para sahabat melakukan Fathu Makkah (Penaklukan Makkah) di bulan Ramadan, mereka berjalan dari Madinah sekitar tanggal 10 Ramadan. Kemudian sampai di Makkah pada 19 Ramadan. Di tengah perjalanan antara Makkah dan Madinah, disebutkan ada sebagian orang kepayahan karena perjalanan berat dari Madinah ke Makkah membawa pasukan. Waktu itu Rasulullah membawa pasukan 10.000 orang untuk menaklukkan kota Makkah.

Maka di antara sahabat ada yang kesulitan. Maka Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ—padahal sudah asar menjelang magrib, sudah asar bentar lagi magrib—segera meminta didatangkan susu. Kemudian Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berbuka puasa di atas untanya. Semua orang lihat Rasulullah menyuruh berbuka. Padahal kalau kita pikir tanggung, sebentar lagi apa (magrib)? Tapi Rasulullah melihat ini ada maslahat. Kita mau jihad, nanti kalau dipaksa tanggung sampai magrib tahu-tahu sakit, padahal kita butuh energi untuk menaklukkan Makkah.

Maka akhirnya Rasulullah berbuka diikuti oleh para sahabat yang juga berbuka. Sebagian ada yang tetap ngeyel, tetap berpuasa. Maka dikabarkan kepada Nabi bahwa ada sebagian orang tetap berpuasa. Mungkin tanggung. Maka kata Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

أُولَئِكَ الْعُصَاةُ (Mereka adalah orang-orang yang bermaksiat).

Menunjukkan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ marah dan menegur mereka bahwa itu adalah sikap yang salah. Kenapa? Karena ada ibadah yang agung yang sedang mereka kerjakan, yaitu berjihad untuk menaklukkan kota Makkah dan itu butuh energi.

Jadi maksud saya, Islam adalah agama yang melihat porsi, dan masing-masing orang beda-beda. Ada orang yang dimudahkan iktikaf, ada yang tidak bisa. Dia harus kerja. Kalau dia tidak kerja, dia tidak bisa memberi makan anak istri. Kita tidak bisa memaksa dia untuk iktikaf. Islam tidak memandang iktikaf sebagai suatu kewajiban. Dia adalah perkara yang sunah.

Islam juga, kita dapati asar sebagian salaf, seperti Imam Syafi’i, dalam 1 bulan 60 kali khatam. Itu Imam Syafi’i. Antum 60 kali khatam apa yang dibaca? Gimana cara bacanya? Imam Syafi’i kalau baca, masyaallah, kita beda-beda orang. Jadi apa yang dianjurkan kepada para ulama, dianjurkan kepada kaliber seperti Imam Syafi’i, dengan yang dianjurkan kepada antum, kepada pekerja, itu beda-beda. Ada kadar wajib yaitu puasa, ada kadar-kadar yang seseorang beda satu dengan yang lainnya. Maka dia melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan di bulan Ramadan.

Ada orang di bulan Ramadan dia harus kerja di rumah sakit, mengurusi banyak orang sakit. Kalau dia puasa mungkin dia lemah, ya sudah, mungkin dia harus berbuka atau dia tidak bisa banyak baca Al-Qur’an karena sibuk mengurusi orang sakit. Maka Islam mengukur porsi masing-masing orang, tidak disamakan satu dengan yang lainnya. Maka jangan paksa orang seperti antum. “Antum nih gini terus, sudah berhenti kerja.” Tagihan tidak bisa bayar.

Tapi ada kisah sering saya dengar, ada seorang da’i di kampung dia berdakwah, kemudian dakwah lagi dia tidak dapat apa-apa. Istrinya bilang, “Sudah kau berhenti dakwah, kita tidak makan.” Tidak semua orang bisa memberi penghargaan, yang didakwahi mungkin orang miskin juga. Akhirnya istrinya bilang, “Sudah berhenti dakwah-dakwah terus kita makan apa?” Berhenti kerja maksudnya. Orang beda-beda, tidak sama satu dengan yang lain. Kita tidak bisa memaksakan orang seperti kita, kondisi kita tidak sama dengan yang lainnya.

Maka demikian juga ada kondisi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berjihad, tidak bisa iktikaf. Sedang mau jihad, gimana mau iktikaf? Ada orang mungkin lagi mengurus orang tua, orang tuanya sakit. Gimana mau iktikaf? Mengurus orang tua sakit. Kalau kondisi wajar-wajar, kondusif, iktikaf. Ngapain tidak iktikaf? Duit fulus lagi banyak terus tidak iktikaf. Bahlul namanya. Kalau duit lagi tidak ada, kondisi masing-masing orang tidak bisa kita samakan. Oleh karenanya Islam melihat situasi dan kondisi tidak sama satu dengan yang lainnya.

Maka kita akan bahas tentang peristiwa-peristiwa besar di bulan Ramadan. Kita bisa bagi menjadi tiga bagian. Pertama, kejadian-kejadian besar sebelum Islam. Kedua, peristiwa-peristiwa besar di zaman Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dan yang ketiga, kejadian-kejadian besar setelah wafatnya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, yaitu zaman para sahabat atau zaman para tabiin, atau zaman setelah para tabiin. Ada peristiwa-peristiwa besar yang dicatat oleh sejarah yang terjadi di bulan Ramadan.


Peristiwa-Peristiwa Besar Sebelum Islam

Yang pertama kita bahas adalah peristiwa-peristiwa besar yang terjadi sebelum Islam. Ada sebuah hadis yang diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian mendaifkannya, sebagian menghasankannya atau mensahihkannya. Hadis ini dihasankan oleh Syekh Al-Albani rahimahullahu ta’ala. Kemudian dijadikan dalil oleh sebagian ulama seperti Al-Baihaqi, Al-Halimi, dan juga Ibnu Katsir yang juga merupakan ahli hadis. Kemudian sebagian ulama mendaifkan hadis ini karena ada perawinya yang bermasalah. Tetapi banyak ulama berdalil dengan hadis ini. Ini masalah khilafiah.

Hadisnya bagaimana? Ini kisah tentang turunnya kitab-kitab suci terdahulu juga pada bulan Ramadan. Jadi yang diturunkan di bulan Ramadan bukan cuma Al-Qur’an, tetapi kitab-kitab suci terdahulu juga diturunkan di bulan Ramadan.

عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ (Dari Watsilah bin Al-Asyqa’ bahwasanya Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda), hadisnya riwayat Ahmad dan Tabrani:

أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ (Suhuf Ibrahim alaihissalam diturunkan pada malam pertama dari bulan Ramadan).

Bahwasanya suhuf Ibrahim—kita tahu di antara firman Allah yang Allah turunkan kepada Nabi Ibrahim adalah suhuf, disebut صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى (Suhuf Ibrahim dan Musa), yaitu lembaran-lembaran berisi firman Allah—diturunkan kepada Ibrahim di malam pertama bulan Ramadan.

Kemudian kata Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ (Dan Taurat diturunkan setelah berlalu enam hari dari bulan Ramadan). Taurat turun kepada Nabi Musa tanggal 6, yaitu malam ke-7. Setelah lewat 6 Ramadan berarti malam ke-7.

Kemudian: وَأُنْزِلَ الْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ (Dan Injil diturunkan setelah berlalu tiga belas hari dari bulan Ramadan). Injil turun pada tanggal 13, yaitu malam ke-14 Ramadan.

وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ (Dan Al-Qur’an diturunkan pada hari kedua puluh empat dari bulan Ramadan). Dan Al-Qur’an diturunkan tanggal 24 Ramadan, yaitu malam 25.

Al-Baihaqi ketika mengomentari di sini, beliau menukil:

قَالَ الْحَلِيمِيُّ: يُرِيدُ بِهِ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ (Al-Halimi berkata: Beliau bermaksud dengannya malam kedua puluh lima).

Ketika Nabi berkata Al-Qur’an diturunkan pada tanggal 24 Ramadan, maksudnya kata Al-Halimi yaitu malam ke-25.

Ini hadis yang marfuk dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, ada khilaf. Ada yang mendaifkan, ada yang menghasankan, ada yang mensahihkan. Yang menjadikan ini sebagai dalil di antaranya adalah Ibnu Katsir rahimahullah. Sebelumnya juga Al-Baihaqi, Al-Halimi, dan ulama zaman sekarang Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu ta’ala. Dan datang dengan sanad yang sahih dari beberapa tabiin, dari Abu Khalid, dari Qatadah, dan satu lagi seorang tabiin, yang mereka berpendapat bahwasanya kitab-kitab suci terdahulu juga diturunkan di bulan Ramadan.

Saya akan bacakan perkataan Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menafsirkan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ (Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda).

Kata Ibnu Katsir:

يَمْدَحُ تَعَالَى شَهْرَ الصِّيَامِ مِنْ بَيْنِ سَائِرِ الشُّهُورِ… بِأَنِ اخْتَارَهُ مِنْ بَيْنِهِنَّ لِإِنْزَالِ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ فِيهِ (Allah Ta’ala memuji bulan puasa di antara bulan-bulan lainnya… dengan memilihnya di antara bulan-bulan tersebut untuk menurunkan Al-Qur’an yang agung di dalamnya).

Allah memuji bulan puasa dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya. Di antara keistimewaannya Allah pilih bulan Ramadan untuk menurunkan Al-Qur’an. Sebagaimana Allah mengkhususkan hal tersebut dengan Al-Qur’an, Ibnu Katsir melanjutkan:

وَقَدْ وَرَدَ الْحَدِيثُ بِأَنَّهُ الشَّهْرُ الَّذِي كَانَتِ الْكُتُبُ الْإِلَهِيَّةُ تَنْزِلُ فِيهِ عَلَى الْأَنْبِيَاءِ (Dan telah datang hadis yang menyebutkan bahwa ia adalah bulan di mana kitab-kitab ilahiah diturunkan di dalamnya kepada para nabi).

Kemudian Ibnu Katsir menukil dari Al-Imam Ahmad dari hadis Watsilah bin Al-Asyqa’ yang tadi saya sebutkan, bahwasanya suhuf Ibrahim diturunkan malam pertama bulan Ramadan, Taurat malam ke-7, Injil malam ke-14, dan Al-Qur’an malam ke-25. Datang pula riwayat dari hadis Jabir bin Abdillah:

أَنَّ الزَّبُورَ أُنْزِلَ لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ (Bahwasanya Zabur diturunkan setelah berlalu dua belas malam dari bulan Ramadan). Zabur diturunkan malam ke-13 bulan Ramadan.

Ini menunjukkan bahwasanya ada peristiwa besar kalau kita menganggap hadis ini adalah sahih atau ini adalah pendapat para tabiin. Maka ini dalil bahwasanya bulan Ramadan adalah bulan yang istimewa sampai Allah pilih untuk menurunkan kitab-kitab suci sebelumnya di bulan tersebut. Ternyata semuanya; suhuf Ibrahim, Taurat Musa, Zaburnya Nabi Daud, sama Injilnya Nabi Isa, semuanya diturunkan bulan Ramadan.

Peristiwa berikutnya yang kedua yang terjadi sebelum Islam adalah diangkatnya Nabi Isa Alaihissalam. Ini datang dalam asar diriwayatkan dari Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Ketika Ali bin Abi Thalib terbunuh oleh Khawarij di bulan Ramadan, kebiasaannya adalah membangunkan orang-orang sebelum subuh. Tiba-tiba datang Abdurrahman bin Muljam kemudian menikam Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Maka kemudian dia meninggal di bulan Ramadan.

Ketika itu cucu Nabi, Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib berkata:

قُتِلَ لَيْلَةَ أُنْزِلَ الْقُرْآنُ (Beliau dibunuh pada malam diturunkannya Al-Qur’an). Ayahku Ali bin Abi Thalib dibunuh di malam diturunkannya Al-Qur’an.

وَلَيْلَةَ أُسْرِيَ بِعِيسَى (Dan pada malam diangkatnya Nabi Isa).

وَلَيْلَةَ قُبِضَ مُوسَى (Dan pada malam diwafatkannya Nabi Musa).

Ini menambah informasi bagi kita bahwasanya Nabi Isa ketika hendak disalib oleh orang-orang Yahudi yang bekerja sama dengan penguasa Romawi saat itu karena mereka membuat isu bahwa Isa akan mengambil tahta, raja Romawi terprovokasi. Namun firman Allah:

وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ (Mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka).

Mereka tidak pernah membunuh Nabi Isa. Kata Allah:

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ (Sebaliknya, Allah mengangkatnya kepada-Nya). Kapan diangkatnya? Di malam Ramadan. Ini asar diriwayatkan oleh Abu Abdillah al-Hakim dan disahihkan oleh Az-Zahabi.

Al-Hasan adalah seorang sahabat karena lahir di zaman Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dicium dan digendong oleh Nabi. Ketika Ali terbunuh, dia bilang ayahku terbunuh di malam Nabi Isa diangkat ke langit, di malam di mana Nabi Musa diwafatkan oleh Allah. Ini semua peristiwa-peristiwa besar yang terjadi sebelum Islam.


Peristiwa-Peristiwa di Zaman Nabi Muhammad SAW

Kita masuk pada bagian kedua, peristiwa di zaman hidupnya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Pertama adalah turunnya Al-Qur’an. Al-Qur’an turun di bulan Ramadan. Allah berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya [Al-Qur’an] pada malam kemuliaan).

Hanya saja ada khilaf Lailatulqadar itu tanggal berapa. Kalau riwayat Watsilah bin Al-Asyqa’ kita sahihkan, maka turunnya Al-Qur’an malam ke-25. Adapun Al-Mubarakfuri dengan ilmu astronomi yang dia miliki, dia menghitung Al-Qur’an turun malam ke-21.

Apa maknanya firman Allah: إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ? Datang dalam riwayat Ibnu Abbas bahwasanya diturunkannya secara sekaligus dari Lauhulmahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia. Mekanisme Al-Qur’an turun kepada Nabi; Allah bicarakan ke Jibril, Jibril dengar, kemudian Jibril sampaikan kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Jibril hanyalah rasul malaikat yang menyampaikan kepada rasul manusia. Sebelum Allah turunkan, Allah sudah mencatat takdir seluruh kejadian di Lauhulmahfuz.

Kemudian Allah turunkan Al-Qur’an di malam Lailatulqadar ke Baitul Izzah secara sekaligus, baru kemudian diturunkan kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ secara bertahap sesuai dengan peristiwa-peristiwa. Sebelum Allah turunkan kepada Jibril, Al-Qur’an juga sudah tertulis di:

صُحُفٍ مُطَهَّرَةٍ (lembaran-lembaran yang disucikan).

Pendapat kedua, dikuatkan oleh Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullahu ta’ala, maksudnya adalah turun pertama kali yaitu surah Al-Alaq:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ، خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ، اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ، الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (Bacalah dengan [menyebut] nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar [manusia] dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya).

Di antara peristiwa besar berikutnya adalah sariyyah (pasukan perang yang Nabi tidak ikut serta) pertama kali. Pasukan perang pertama yang Allah kirim untuk menghadang kafilah dagang Quraisy adalah Sariyyah Hamzah bin Abdul Muthalib pada tanggal 1 Ramadan tahun pertama Hijriah. Puasa baru diwajibkan pada tahun 2 Ramadan.

Pada tahun ke-2 Ramadan, terjadi Perang Badar. Ini awal pertama kali wajib puasa di bulan Ramadan. Artinya puasa tidak menghalangi kaum muslimin untuk beraktivitas. Berangkatlah para sahabat menuju ke Badar yang jaraknya kurang dari 200 kilometer. Karena kaum muslimin dalam kondisi miskin, satu ekor unta dinaiki oleh tiga orang bergantian. Di antaranya Nabi bersama-sama dengan Ali bin Abi Thalib dan satu sahabat lagi. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, Engkau saja yang naik unta, jatahmu kami yang jalan.”

Kata Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

لَسْتُمَا بِأَقْوَى مِنِّي (Kalian berdua tidak lebih kuat dariku).

وَلَسْتُ بِأَغْنَى عَنِ الْأَجْرِ مِنْكُمَا (Dan aku juga tidak lebih kaya/tidak butuh pahala daripada kalian berdua).

Maka Rasulullah akhirnya bergantian, kadang jalan, kadang naik unta.

Terjadilah perang yang disebut dengan Yaumul Furqan (hari pembeda). Di antara dampaknya adalah tewasnya Abu Jahal:

فِرْعَوْنُ هَذِهِ الْأُمَّةِ (Firaun umat ini).

Kemudian juga tewasnya Umayyah bin Khalaf, majikan yang menyiksa Bilal. Ketika perang usai, Abdurrahman bin Auf menangkap Umayyah bin Khalaf sebagai tawanan. Tiba-tiba Bilal melihatnya dan berkata:

مَا نَجَوْتُ إِنْ نَجَا (Aku tidak akan selamat jika dia selamat).

Bilal berteriak memanggil kaum Anshar dan akhirnya Umayyah bin Khalaf tewas. Pada bulan Ramadan itu juga wafat Ruqayyah, istri Utsman bin Affan. Makanya Utsman tidak ikut Perang Badar karena disuruh mengurus istrinya yang sakit.

Di pertengahan Ramadan tahun 3 Hijriah, Fatimah radhiyallahu ‘anha melahirkan Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Nabi memuji Al-Hasan dan Al-Husain:

هُمَا سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ (Keduanya adalah pemuka pemuda ahli surga).

Namun Al-Hasan mendapat pujian spesial:

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ (Sesungguhnya cucuku ini adalah seorang pemuka, dan semoga melaluinya Allah mendamaikan dua kelompok besar dari kaum muslimin).

Benar saja, ketika dia menjadi khalifah, setelah 6 bulan ia menyerahkan kepemimpinan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan demi mencegah pertumpahan darah, sehingga tahun itu dikenal dengan:

عَامُ الْجَمَاعَةِ (Tahun persatuan).

Banyak ulama Ahlusunah mengatakan Imam Mahdi kelak adalah keturunan Al-Hasan, karena kakeknya dulu pernah meninggalkan kekuasaan demi umat. Kata Nabi:

يُوَاطِئُ اسْمُهُ اسْمِي، وَاسْمُ أَبِيهِ اسْمَ أَبِي (Namanya sama dengan namaku, dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku).

Kejadian heboh di bulan Ramadan tahun 5 Hijriah adalah peristiwa Haditsatul Ifki ketika Aisyah radhiyallahu ‘anha dituduh berzina dengan Shafwan bin Mu’atthal As-Sulami oleh orang-orang munafik. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak bisa membela karena perkara gaib, sehingga beliau merubah sikap dan hanya bertanya:

كَيْفَ تِيكُمْ (Bagaimana keadaan kalian/kamu?).

Sampai Aisyah minta izin pulang ke rumah orang tuanya. Akhirnya Rasulullah datang dan berkata:

إِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرِي اللهَ (Jika engkau telah melakukan suatu dosa, maka mohon ampunlah kepada Allah).

فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ تَابَ اللهُ عَلَيْهِ (Karena sesungguhnya seorang hamba jika mengakui dosanya lalu bertobat, Allah akan menerima tobatnya).

وَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللهُ (Dan jika engkau bersih, maka Allah akan membersihkanmu).

Aisyah kecewa dan berkata kepada ayahnya:

أَجِبْ عَنِّي رَسُولَ اللهِ (Jawablah Rasulullah untukku).

Ternyata Allah yang membela Aisyah dengan menurunkan sekitar 15 ayat dalam Surah An-Nur:

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ (Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu).

Sampai ayat:

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ (Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik. Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh orang-orang).

Aisyah berkata:

وَلَشَأْنِي فِي نَفْسِي أَحْقَرُ… (Sungguh kedudukanku di mataku sendiri lebih hina…). Dia mengira Allah hanya akan membelanya lewat mimpi, ternyata turun ayat Al-Qur’an. Allah menegaskan:

أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (…selama-lamanya jika kamu orang-orang yang beriman).

Di antara kejadian hebat lainnya adalah peristiwa Fathu Makkah pada tahun 8 Hijriah. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ membawa 10.000 pasukan.

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ. وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong).

Rasulullah menaklukkan Makkah dengan penuh tawadu sambil membaca firman Allah diulangi berkali-kali:

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا (Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata).

Rasulullah datang ke sekitar Ka’bah yang ada 360 berhala. Rasulullah mengarahkan tongkatnya membacakan:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ (Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”).

Berhala berjatuhan. Rasulullah mengirim Sariyyah Sa’ad bin Zaid Al-Asyhali menghancurkan berhala Manat, Khalid bin Walid menghancurkan Uzza, dan Amr bin Ash menghancurkan Suwa.


Peristiwa-Peristiwa Setelah Wafatnya Nabi SAW

Bagian yang ketiga adalah peristiwa-peristiwa setelah wafatnya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yaitu zaman sahabat, tabiin, dan setelahnya.

Di antaranya pada tahun 92 Hijriah, penaklukan Andalus oleh panglima Thariq bin Ziyad di zaman kekhilafahan Al-Walid bin Abdul Malik (Daulah Umawiyah). Islam membuka cabang di Andalus dan bertahan sekitar 800 tahun. Musa bin Nusair adalah gubernur di Afrika Utara yang banyak mengislamkan bangsa Barbar (Amazigh). Thariq bin Ziyad ini adalah orang Barbar, bukan Arab. Ini membuktikan Islam tidak membedakan Arab dan non-Arab.

Musa bin Nusair mengirim Thariq bin Ziyad. Terdapat tokoh bernama Julian yang memberikan penawaran bantuan kapal untuk menyeberang selat dan melawan Raja Roderick (Ludrik). Thariq bin Ziyad dengan 12.000 pasukan melawan 100.000 pasukan Roderick dan akhirnya menang. Adapun cerita Thariq membakar kapal, itu tidak ada riwayat sanad yang benar, karena pasukan kaum muslimin maju mencari mati syahid, bukan pasukan penakut yang perlu kapalnya dibakar agar tidak kabur. Pada tahun 92 Hijriah di bulan Ramadan, mereka menaklukkan daerah yang kemudian dikenal dengan Jabal Thariq (Gibraltar).

Selain itu, ada Perang Zallaqah yang dipimpin oleh Yusuf bin Tasyfin dari Daulah Murabithin (Barbar/Amazigh) yang berhasil melawan pasukan Nasrani.

Kemudian Perang Ain Jalut pada 15 Ramadan 658 Hijriah. Ini adalah perang Saifuddin Qutuz melawan Mongol. Setelah Baghdad jatuh dan Daulah Abbasiyah hancur dengan jutaan korban tewas karena pengkhianatan Ibnu Al-Alqami yang bermazhab Syiah, Mongol sangat menakutkan. Di Mesir, sejarah kekuasaannya bermula dari zaman Firaun, Romawi, lalu ditaklukkan Amr bin Ash. Kemudian berganti ke Thuluniyah, Ikhsyidiyah, Daulah Fathimiyah (Syiah Ismailiyah) yang kejam, lalu direbut oleh Salahuddin Al-Ayyubi (Daulah Ayyubiyah), hingga masuk era Daulah Mamluk (Al-Mamlukiyah).

Salah satu raja Mamluk adalah Saifuddin Qutuz. Beliau mengalahkan Mongol di bulan Ramadan sehingga mematahkan dongeng bahwa Mongol tidak terkalahkan. Ulama di zaman itu adalah Al-Izz bin Abdus Salam yang mewajibkan pajak negara untuk biaya perang dengan aturan yang benar demi maslahat negara. Itu semua terjadi pada bulan Ramadan.

Jadi intinya, kalau kita lihat Ramadan banyak silsilah peperangan. Sekarang berubah jadi silsilah sinetron, silsilah film.

وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ (Dan Allah Maha Mengetahui yang kebenarannya).

Jadi Ramadan tidak menghalangi seorang untuk beraktivitas. Jika ada maslahat, dia beraktivitas. Ramadan bukan untuk malas-malasan. Masing-masing punya aktivitas yang bermanfaat bagi keluarganya, bagi Islam, kaum muslimin, silakan dia lakukan. Jangan menjadikan Ramadan sebagai penghalang. Justru dia adalah penyemangat untuk seorang berbuat yang terbaik untuk Islam dan kaum muslimin.

وَبِاللهِ التَّوْفِيقُ وَالْهِدَايَةُ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Related Articles

Back to top button