Mukadimah: Kemuliaan Mempelajari Hadis

Mempelajari hadis adalah sebuah kemuliaan bagi yang menginginkan dunia dan petunjuk bagi yang menginginkan akhirat. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan, “Aku tidak pernah mengetahui amalan di muka bumi ini yang lebih utama daripada mempelajari hadis, jika niatnya ikhlas mencari rida Allah subhanahu wa ta’ala.”

Semua amal memang harus ikhlas, namun ibadah memiliki tingkatan, dan di antara ibadah yang berat adalah belajar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ” (“Ketahuilah, barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, barang dagangan Allah itu adalah surga”). Jika belajar ilmu agama adalah jalan termudah menggapai surga, maka prosesnya tidak akan semudah yang kita bayangkan.

Orang yang belajar ilmu umum siap mengorbankan segalanya dan bangga dengan apa yang ia dapat, karena harapannya besar untuk apa yang mereka sebut “masa depan”. Akan tetapi, masa depan yang hakiki membutuhkan korelasi antara pemahaman, kesadaran, dan keimanan. Kita berharap, setelah sering mengetahui teori dari Al-Qur’an dan hadis, Allah membuka dan melunakkan hati kita untuk mudah menerima kebenaran dan memperbaiki keadaan.

Malam ini, kita akan mempelajari tiga hadis. Dua di antaranya menjelaskan tentang orang-orang yang paling dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana orang baik bertingkat-tingkat, orang jelek pun demikian. Kita perlu mengetahui kejelekan bukan untuk dikerjakan, tetapi untuk dihindari. Sebagaimana syair Arab mengatakan, “Aku mengetahui kejelekan bukan untuk melakukannya, tetapi untuk menjaganya. Barang siapa tidak mengenal keburukan, ia bisa jatuh ke dalamnya.”

Hadis Pertama: Manusia Paling Dibenci Allah (Ahli Debat)

Hadis dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَبْغَضُ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

“Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah al-aladdul khashim.”

  • Ar-Rijal (laki-laki): Disebutkan sebagai perwakilan, karena mayoritas yang memiliki sifat ini adalah laki-laki. Namun, hukumnya berlaku sama untuk perempuan.
  • Abghad (Paling Dibenci): Ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat marah dan benci. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini sifat-sifat Allah sebagaimana yang disebutkan dalam dalil, tanpa menanyakan “bagaimana” (بِلَا كَيْفٍ). Sebagaimana kita meyakini Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar, namun penglihatan dan pendengaran-Nya tidak sama dengan makhluk, begitu pula kemarahan-Nya tidak sama dengan kemarahan makhluk. Ketika sebuah dosa diancam dengan kemurkaan Allah, itu menunjukkan bahwa dosa tersebut adalah dosa besar.
  • Al-Aladd (الْأَلَدُّ): Artinya orang yang sangat piawai berdebat, yang selalu berusaha mengalahkan lawan bicaranya.
  • Al-Khashim (الْخَصِمُ): Artinya orang yang banyak membantah dan tidak mau kalah.

Sisi tercela dari dua sifat ini adalah ketika perdebatan itu dilakukan untuk membela kebatilan. Adapun jika seseorang pandai berbicara untuk menjelaskan kebenaran dan membantah kebatilan, maka itu adalah perbuatan terpuji. Yang dibenci Allah adalah orang yang menggunakan kepandaiannya bersilat lidah untuk membela sesuatu yang ia tahu salah, demi kepentingan tertentu.

Hadis Kedua: Tiga Golongan yang Paling Dibenci Allah

Hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam Shahih al-Bukhari:

أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللهِ ثَلَاثَةٌ

“Manusia yang paling dibenci oleh Allah ada tiga golongan.”

Penyebutan angka tiga adalah salah satu metode Nabi dalam mengajar agar mudah dipahami, bukan untuk membatasi. Tiga golongan tersebut adalah:

1. Orang yang Melakukan Penyimpangan di Tanah Haram (مُلْحِدٌ فِي الْحَرَمِ).

Ilhad (إِلْحَاد) artinya menyeleweng atau menyimpang. Di Tanah Haram (Makkah dan Madinah), amal saleh dilipatgandakan pahalanya, sebaliknya, maksiat di sana juga diancam dengan dosa yang sangat besar. Ibnu ‘Abbas di akhir hayatnya sampai pindah ke Thaif karena khawatir tidak bisa menunaikan hak-hak Tanah Haram. Penyimpangan ini bisa berupa dosa fisik seperti mencuri, berzina, hingga sihir, maupun dosa keyakinan seperti melakukan ibadah yang tidak ada tuntunannya (bid’ah).

2. Orang yang Ingin Menerapkan Tradisi Jahiliah di dalam Islam (مُبْتَغٍ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ).

Ini adalah orang yang sudah masuk Islam, tetapi masih ingin melestarikan tradisi, keyakinan, atau kebiasaan dari masa jahiliah. Contohnya adalah keyakinan tathayyur (percaya pertanda sial dari burung atau kejadian tertentu), khurafat, meratapi mayit secara berlebihan, perdukunan, hingga turut merayakan hari raya agama lain. Nabi bersabda, “أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُوْنَهُنَّ” (“Ada empat perkara jahiliah pada umatku yang tidak akan mereka tinggalkan…”), di antaranya adalah berbangga dengan nenek moyang, mencela nasab, dan meratapi mayit.

3. Orang yang Berusaha Menumpahkan Darah Orang yang Tidak Bersalah (وَمُطَّلِبٌ دَمَ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهْرِيْقَ دَمَهُ).

Di dalam Islam, darah seorang muslim sangat terhormat. Dosa membunuh adalah dosa besar yang paling besar. Nabi bersabda, “لَقَتْلُ مُؤْمِنٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ مِنْ زَوَالِ الدُّنْيَا” (“Sungguh, membunuh seorang mukmin lebih besar (dosanya) di sisi Allah daripada hancurnya dunia”). Seorang pembunuh telah melanggar tiga hak sekaligus: hak Allah (bisa ditebus dengan taubat), hak keluarga korban (bisa ditebus dengan qisas, diyat, atau maaf), dan hak orang yang dibunuh, yang akan dituntut di hari kiamat.

Hadis Ketiga: Perhatikanlah Orang-orang Lemah

Hadis dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ابْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Carikanlah untukku orang-orang yang lemah. Sesungguhnya kalian diberi rezeki dan ditolong karena sebab orang-orang lemah di antara kalian.”

  • Adh-Dhu’afa (orang-orang lemah): Maksudnya adalah orang-orang miskin dan yang lemah kondisinya.
  • Sebab Pertolongan: Mengapa orang lemah menjadi sebab datangnya rezeki dan pertolongan? Karena ketika seseorang merasa dirinya lemah dan tidak punya andalan selain Allah, ia akan benar-benar pasrah. Doanya menjadi lebih kuat dan mustajab dibandingkan orang kuat yang terkadang masih mengandalkan kekuatannya.
  • Pesan Hadis: Hadis ini berisi pesan agar kita tidak melupakan dan meremehkan orang-orang miskin. Ada isyarat untuk membatasi pergaulan yang berlebihan dengan orang kaya, larangan bersikap sombong di hadapan orang miskin, serta perintah untuk menjaga perasaan mereka. Luqman al-Hakim menasihati anaknya, “Jangan sekali-kali kamu meremehkan orang lain karena pakaiannya yang usang, karena Tuhanmu dan Tuhannya adalah satu.”

Hadis ini tidak bertentangan dengan hadis lain yang menyatakan “الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ” (“Mukmin yang kuat lebih baik daripada mukmin yang lemah”). Karena “kekuatan” yang dipuji dalam hadis tersebut adalah kekuatan iman, bukan kekuatan fisik atau finansial.

Tanya Jawab

Pertanyaan: Apakah berbangga diri termasuk kesyirikan?

Jawaban: Berbangga diri atau ‘ujub termasuk dalam kategori dosa, tetapi tidak sampai pada kesyirikan, kecuali jika kesombongan itu membuatnya menolak kebenaran secara sadar (juhud), seperti yang dilakukan Fir’aun atau sebagian orang Yahudi yang menolak kenabian karena kesombongan ras.

Pertanyaan: Apakah orang yang melakukan bid’ah termasuk golongan yang dibenci Allah, meskipun dalil sudah sampai kepadanya?

Jawaban: Bisa jadi demikian, dan perbuatan bid’ah lebih disukai setan daripada maksiat biasa, karena pelakunya menganggap perbuatannya baik sehingga sulit untuk bertaubat. Namun, tidak semua orang yang melakukan bid’ah dihukumi sama. Bisa jadi ia melakukannya karena ketidaktahuan atau mengikuti tokoh yang ia percayai. Menghukumi perbuatannya lebih mudah daripada menghukumi pelakunya.

Pertanyaan: Apa kriteria seseorang disebut ahli debat? Apakah adu argumentasi untuk meluruskan kesalahpahaman dilarang?

Jawaban: Debat yang tercela adalah yang bertujuan membela kesalahan. Adapun diskusi atau adu argumen untuk mencari kebenaran atau dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar, maka diperbolehkan. Allah berfirman, “وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ” (“Dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik”). Namun, harus diwaspadai karena debat dapat memicu emosi dan menghilangkan wibawa. Jika bisa dihindari, maka hindarilah.

Ikhtitam (Penutup)

Abdullah bin Mubarak rahimahullah sangat menikmati belajar hadis hingga berkata, “Bagaimana aku bisa bosan, sementara aku seolah-olah sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.” Ketika ditanya sampai kapan ia akan belajar hadis, beliau menjawab, “Bisa jadi kalimat yang benar-benar akan bermanfaat untukku belum aku dengar.” Semoga Allah menjadikan kita istiqamah dan terus bersemangat dalam menuntut ilmu.


6

#Prolog

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ’anhu. Dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu secara langsung dengan melenyapkan ilmu itu dari manusia. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mencabut nyawa para ulama. Sehingga apabila Allah tidak menyisakan orang berilmu lagi, orang-orang pun mengangkat para pemimpin yang bodoh. Mereka pun ditanya dan berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.’” (HR. Bukhari)

Sumber: https://muslim.or.id/93486-malapetaka-akhir-zaman.html
Copyright © 2025 muslim.or.id