Kitabul Jami’: Bahaya Kepo dan Beberapa Akhlak Buruk
JUDUL: BAHAYA KEPO DAN AKHLAK TERCELA (KAJIAN KITABUL JAMI’ – BULUGHUL MARAM)
[Pembukaan & Khutbatul Hajah]
Jazakumullah khair. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى الْمَبْعُوثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ وَالتَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ.
Ikhwah sekalian, alhamdulillah pada malam hari ini kita dapat kembali melanjutkan pengajian hadis tentang Kitabul Jami dari Bulughul Maram. Ana melihat catatan terakhir kajian kita 5 bulan yang lalu. Masyaallah, tanggal 12 Oktober. Luar biasa. Masyaallah. Sabar dalam liburan. Masyaallah. Mudah-mudahan اللهُ عَزَّ وَجَلَّ mencatat ilmu yang kita pelajari bermanfaat dan malam hari ini kita bisa menambah iman dan amal.
BAGIAN 1: BAHAYA MENCURI DENGAR (KEPO)
Ikhwah sekalian, seperti yang kita berikan judulnya: “Bahaya Kepo”. Kepo itu apa? Itu bahasa gaul katanya. Saya baru tahu setelah pulang dari Madinah. Artinya orang pengin ngerti aja, padahal dia tidak perlu tahu. Dan sebenarnya orang kalau sekedar hanya pengin tahu tanpa ada ekspresi atau sikap yang akhirnya merugikan, maka tidak terlalu parah. Orang kadang-kadang penasaran, apalagi ketika punya kawan dekat, kadang-kadang tanya juga. Padahal kadang yang ditanya tidak suka ditanya.
Contoh misalkan ketika kita lagi jalan, kemudian kawannya ditelepon, ngomongnya kelihatan serius atau kadang-kadang tertawa, kadang-kadang sampai minggir-minggir. Selesai ditelepon, siapa? Apa urusannya dia mau telepon sama siapa? Tidak ada urusan kita. Meskipun kita kawan dekat, terkadang ada urusan privasi yang orang sungkan untuk menjawab. Maka sebenarnya ketika orang bisa menahan diri untuk tidak membuat orang lain sungkan dengan pertanyaan, dengan perkataan, ini sebenarnya yang dianjurkan dan bisa melanggengkan perkawanan dan persaudaraan.
Tetapi masalahnya sebagian orang ketika dia ingin tahu padahal itu dirahasiakan dari dia, maka ini menjadi sebuah dosa besar. Ini satu hadis aja yang disampaikan dan setelahnya ada beberapa akhlak yang memang tercela. Di antara hadis yang disebutkan ini sahih dalam Sahih Bukhari dari Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا berkata, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
مَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ
“Barangsiapa yang berusaha mencuri dengar pembicaraan suatu kaum, padahal mereka tidak suka (didengar).”
Bahasa gampangnya kita bilang “nguping”. Jadi kita tidak diajak bicara, atau mungkin kita sedang duduk di dekat orang yang sedang berbicara. Lalu kita berusaha untuk serius fokus mendengarkan pembicaraan mereka, dan mereka enggak pengin kita dengar. Bahkan kalau perlu sebagian orang sudah bisik-bisik, kok ada orang tambah mendekatkan. Ini enggak ngerti isyarat namanya. Kalau orang Arab bilang: اللَّبِيبُ بِالْإِشَارَةِ يَفْهَمُ (Orang cerdas/bijak itu hanya kasih isyarat aja dia sudah paham). Ya, orang cerdas, orang bijak itu hanya kasih syarat aja dia sudah tahu maksud yang harus dikerjakan apa. Jadi kalau ada orang mencuri dengar perkataan orang lain padahal 1mereka tidak suka unt2uk didengarkan obrolannya, kata Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
صُبَّ فِي أُذُنَيْهِ الْآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Pada hari kiamat telinganya ini akan dikucurin tembaga (timah panas).”
الْآنُك (Al-Anuk) itu artinya rosos (timah) ya. Tembaga yang di apa namanya? Dicairkan setelah dipanaskan, dikelocorkan di telinganya. Sini sret… pada hari kiamat. Ya, ini disebutkan dalam Sahih Bukhari.
Para ulama mengatakan ancaman pada hari kiamat dengan ungkapan seperti ini merupakan ancaman yang menunjukkan dosa besar. Jadi para ulama menyebutkan dosa besar itu yang kalau seandainya dilakukan diancam dengan laknat Allah, murka Allah, masuk neraka, haram dari surga. Kemudian di antaranya ada hukuman dunia; potong tangan di-qisas, bayar kafarah, bayar diat. Itu semua rangkaian dosa besar. Ketika ada ancaman pada hari kiamat, meskipun di dunia tidak ada, maka ini merupakan dosa besar.
Baik. Sekarang kalau seandainya seorang mencuri dengar, ini gambarannya di zaman itu ya. Di zaman itu kalau seandainya ada orang mencuri dengar, itu orang berbicara lalu ada orang dekat-dekat, atau dia tidak dekat-dekat karena memang sudah dekat, kemudian dia berusaha untuk serius mendengarkan. Ini masuk dalam ancaman yang ketiga. Kalau seandainya ada orang yang sedang berbicara sendirian, bisik-bisik dan serius, tak tahu ada orang bilang, “Ahlah, Assalamualaikum. Ngobrol apa ini? Ana pengin dengar juga gitu.” Ini orang enggak ngerti malu sama sekali. Apalagi kalau seandainya orang yang berbicara sudah tolah-toleh begini. Kalau orang sudah tolah-toleh, dia tidak pengin ada orang lain dengar. Kalau sebisa mungkin dia menjauh, menjauh. Ini bagus sekali.
Perangkat Modern dan Privasi
Baik. Berikutnya berbagai contoh yang semisal, haram juga pasang apa namanya? Mikrofon, atau pasang CCTV, atau ada orang pasang telesandi. Ini urusan lain kalau seandainya memang ada seorang tersangka buron pemerintah sedang mengawasi mujrim (orang jahat) ya, orang yang memang dalam pantauan. Ini urusan lain ya. Akan tetapi ketika kita berbicara tentang kehidupan biasa, bermasyarakat, bersaudara, kemudian ada yang seperti itu.
Kemudian termasuk di antaranya ini disebutkan oleh Syekh Abdullah Ali Bassam, kalau orang mendengar menjadi haram. Apalagi kalau ada orang yang mengincar, ngintip. Ngintip dengan memanfaatkan bangunan rumah yang tingkat. Nah, kenapa seperti ini? Di zaman dulu bangunan tingkat jarang. Bangunan tingkat jarang dan rumah kaum muslimin hanya sekedar bangunan yang bisa menutupi mereka dari pandangan orang yang lewat. Kalau mau ngintip bisa. Kalau dengar dari balik dinding sangat mungkin. Karena rumah mereka sangat-sangat sederhana. Sangat sederhana. Rumah kaum muslimin waktu itu hanya seperti batu ditumpuk, dikasih tanah liat. Atapnya juga terbuat dari pelepah kurma. Dikasih barangkali kayu-kayu. Selesai. Dan tidak tinggi. Tidak tinggi.
Masjid yang memang tidak ada pengeras suara seringkali menggunakan menara. Menara ini manfaatnya untuk menyampaikan suara sampai ada syariat untuk menoleh ke kanan dan ke kiri ketika mengucapkan حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ. Gini. Apakah dia menoleh حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ begini, حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ begini, atau حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ keliling begini. Dalam hadis dikatakan فَاسْتَدَارَ فِي أَذَانِهِ (fastadaro fi adzanihi), maka dia muter ketika azan. Untuk apa? Biar suara itu nyampai dan dengan suara yang dikeraskan dan dikelilingkan. Sehingga para ulama menjadikan itu sebagai tanda. Kalau orang mendengar azan wajib datang salat jemaah. Kalau enggak dengar bagaimana? Kalau enggak dengar sudah dia makzur karena berarti jarak antara rumah dengan masjid jauh. Wajar kalau dia tidak datang.
Baik. Ketika menara itu tinggi, seringkali menyingkap aurat orang-orang yang rumahnya biasa itu tadi. Sampai para ulama menyebutkan, “Hati-hati dengan muadzin yang naik menara harus menghargai rumah kaum muslimin. Jangan sampai matanya tertumbuk pada aurat tetangganya.” Lalu bagaimana dengan rumah orang yang tingkat? Rumah orang tingkat yang akan menampilkan sebagian dalam dari rumah tetangganya. Ini bahaya juga.
Sampai dulu ada sebuah riwayat Umar bin Khattab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. Beliau mengirim utusan untuk menghancurkan rumah seorang yang memang sengaja tingkat. Kata Umar bin Khattab, “Ini bangun dua lantai pengin menoleh kepada aurat tetangganya. Hancurkan.” Dia katakan, “Kalau engkau sudah membaca suratku ini…” (ini dikirimkan ke gubernur Mesir waktu itu), “…kalau engkau sampai membaca surat ini, begitu engkau baca langsung kau hancurkan rumah itu.” Itu sampai ke Amirul Mukminin di Madinah, urusan rumah tingkat.
Bagaimana sekarang kalau ada orang sengaja membuat rumah untuk mengintai? Ini otomatis sudah tidak punya iman sama sekali. Padahal tetangga merupakan orang yang paling terhormat. مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ. Jibril terus berusaha memberikan wasiat, pesan, “Ayo berbuat baik kepada tetanggamu,” sampai aku khawa… aku menyangka kayak entar lagi ada wasiat ini: “Jangan-jangan tetangga ini sudah menjadi ahli waris,” karena dia orang terdekat. Orang terdekat. Ternyata justru kedekatan itu membuat ada pengkhianatan. Ini kalau pengintipan, bagaimana kalau ada setelah pengintipan pengkhianatan lainnya? Nah, ini namanya bukan pagar makan tanaman, tapi pagar makan pagar. Ya, ini sudah parah sekali. Ya, begini ini mungkin sekali untuk orang yang tidak bertakwa kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Oleh karenanya di sini disebutkan pelajaran yang paling inti, digaris bawahi: Haram mendengarkan obrolan rahasia. Kalau obrolan rahasia, apalagi dirahasiakan dari kita, maka tidak boleh seseorang ee apa… mencuri dengar. Kita pernah membahas memang ketika dalam satu majelis hanya ada tiga orang. Dalam satu majelis ada tiga orang. Kemudian orang pertama ngobrol dengan orang kedua tanpa melibatkan orang ketiga. Satu dan dua ngobrol, yang ketiga tidak libatkan. Maka ini salah. Ini salah. Sampai mereka ada pihak keempat atau di tengah masyarakat banyak begini atau majelis orang-orang banyak. Kalau ada orang yang ngobrol hanya berdua, di sini ada orang ngobrol berdua, di sana ada orang ngobrol berdua, ini aman, tidak ada masalah. Tapi kalau seandainya cuman bertiga, ini salah. Tetapi kalau memang ada kalanya obrolan itu harus segera dan memang sungkan untuk diceritakan, maka kalau ada orang yang memang mencuri-curi dengar, ini yang kita bahas termasuk dosa besar.
Hukum Mengintip (At-Tajasus)
Baik. Dan sebenarnya wallahu a’lam ini pernah lewat atau tidak, kalau ada orang (ini disebut oleh Syekh Ali Bassam) kalau ada orang ngintip-ngintip rumah. Rumah itu entah karena jendelanya terbuka atau karena memang ada lubangnya, tidak ada bedanya karena judulnya orang ngintip. Kalau ada orang ngintip kemudian ternyata yang punya rumah ngerasa ada yang ngintip, kemudian dia ambil batu dilempar ke muka orang yang ngintip itu sampai luka keluar matanya, maka tidak dosa dia. Kata Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dalam hadis Sahih Bukhari dan Muslim: لَوْ أَنَّ امْرَأً اطَّلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ. Seandainya ada orang ngintip rumahmu tanpa izin, kemudian kamu lempar batu, kemudian engkau bisa melukai matanya sampai keluar dari tempatnya, maka engkau tidak berdosa.
Dalam riwayat lain dikatakan: فَلَا دِيَةَ لَهُ وَلَا كَفَّارَةَ (Tidak ada bayar denda, tidak ada kafarah). Kalaupun itu sudah keluar dari tempatnya. Karena setiap anggota badan manusia ini di dalam syariat berharga. Manusia terbunuh, ada diat yang membunuh. Kalau seandainya tidak karena sengaja, dia harus membayar 100 ekor unta. Itu kalau mati. Kalau orang yang terbunuh ini tanpa sengaja mati, maka dia bayar kepada ahli mayit 100 ekor unta. Kalau seandainya tidak sampai bunuh, bagaimana? Dia main-main tapi main-mainnya ngawur. Akhirnya membuat jarinya putul. Ini jari ini masing-masing harganya 10 ekor unta. Ini dalam hadis yang sahih disebutkan, jari orang kalau sampai putus karena ada sebuah tindakan kriminal maka masing-masing ada harganya 10 ekor unta. Ini 10, 10 ya. Mau dibayar 10 ekor unta diprotulkan salah satu ya.
Kemudian ini dua mata ini, ini 50, ini 50. Telinga ini 50, ini 50. Sebagian ulama mengatakan, “Kecuali kalau seandainya ada orang yang memang dari lahir matanya cacat satu sehingga dia hanya menggunakan satu mata. Mata ini sudah segala-galanya untuk dia. Kok dicacat sampai dia buta.” Maka sebagian ulama mengatakan harus bayar 100 ekor. 100 ekor unta. Karena ini mata ini posisinya dan fungsinya sama dengan dua mata. Tetapi karena dia melakukan dosa sendiri, ngintip, dilemparin batu sampai keluar matanya, maka dia tidak mendapat denda. Nah, ini menunjukkan bahwa ngintip ini bahaya juga. Ini kalau seandainya yang salah yang ngintip.
Iya. Ini disebutkan oleh para ulama ini. Kalau seandainya yang salah yang punya rumah bagaimana? Yang salah yang rumah bagaimana? Rumahnya dibuka. Sudah rumahnya dibuka, yang punya rumah tidak pakai hijab. Sengaja sudah ngerti di sana ada orang lewat, kalau melihat ke dalam kelihatan. Dia buka aurat, duduk di atas singgahsana, sudah di depan pintu begitu kayak orkes yang tidak terang-terangan. Nah, ini gaya masyarakat yang enggak ngerti agama.
Sampai kalau ada orang bangun rumah kemudian pagarnya tinggi, “Oh, pagarnya ditinggikan.” Itu ngomong kayak gini ada maknanya. Maksudnya orang ini enggak mau bertetangga. Padahal sebenarnya yang pertama itu masalah kebiasaan aja, masalah hobi. Yang kedua ini masalah nutup aurat. Terkadang orang ketika nutup apa namanya? Pagarnya tinggi biar ketika ada aurat tersingkap tidak kelihatan, maka tidak masalah. Ada pintu tidak terbuka, tidak masalah. Antum punya butuh datang, ketuk izin tiga kali, dibukakan alhamdulillah, enggak dibukakan alhamdulillah juga ya. Jangan ngutus orang 10 masing-masing ngetuk tiga kali, tidak perlu ya. Tapi maksudnya ini syariat mengatakan demikian. Tidak perlu ada orang baper menggunakan perasaan sebagai tolak ukur bertetangga. Repot seperti ini. Jadi intinya ternyata dalam syariat dijelaskan secara detail ya. Ngobrol, berinteraksi, komunikasi aja ternyata ada SOP-nya dalam syariat. Lengkap kita ini. Cuman kita enggak mau belajar.
BAGIAN 2: SIBUK DENGAN AIB SENDIRI
Baik, ini hadis pertama. Hadis yang kedua ini disebutkan oleh Anas bin Malik رَضِيَ اللهُ عَنْهُ meskipun di dalam jalur periwayatan ada kelemahannya. Dan kita sampaikan berkali-kali pembahasan Kitabul Jami ini berhubungan dengan akhlak. Ketika menyebutkan pahala atau ancaman dan dosa, terkadang para ulama menggunakan hadis yang memang sanadnya tidak terlalu kuat, tetapi hukumnya sudah didukung dengan hadis-hadis yang kuat.
Baik. Hadis Anas bin Malik رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda):
طُوبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوبِ النَّاسِ
“Alangkah beruntungnya orang yang lebih disibukkan dengan aib sendiri dari aib orang lain.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan dinyatakan hasan. Ya. Jadi Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram beliau mengatakan hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bazzar sanadnya hasan. Para ulama mengatakan kalau diteliti jalurnya ternyata hadis ini semuanya lemah. Termasuk gurunya Al-Hafiz Ibnu Hajar. Al-Hafiz Ibnu Hajar berguru kepada Al-Iraqi dan Al-Iraqi mengatakan jalur periwayatan hadis ini semuanya lemah. Hanya bisa jadi Al-Hafiz Ibnu Hajar menggabungkan semua riwayat itu dan mengambil kesimpulan bisa dihasankan, bisa dinilai hasan karena saling menguatkan. Tapi intinya hadis yang kita bicarakan ini bukan satu-satunya. Karena Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan: مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ (Barang siapa yang menutup aib saudaranya, Allah akan tutup aibnya pada hari kiamat). Artinya itu banyak riwayat yang menunjukkan itu.
Tetapi yang kita bahas sekarang, ketika Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memuji orang yang tidak terlalu mempedulikan aib orang lain, tapi dia sibuk dengan aib pribadi. Yang pertama sudah bagus, dia tidak mau mencari aib orang lain, itu sudah bagus. Apalagi seandainya dia menyibukkan diri dengan aib pribadi. Ini luar biasa. Sehingga para ulama mengatakan kalau ada orang berusaha mencari aib sendiri, dia akan berbaik memperbaiki diri. Tetapi kalau orang mencari aib orang lain, maka dia akan melangkah setelahnya: imma berburuk sangka, imma dia akan mencela, atau dia menyebarkan yang lain-lain. Maka kalau ada orang bisa mencari aib sendiri, ini luar biasa.
Dan masing-masing orang tidak bakal bebas dari aib. Bahkan banyak aib yang hanya Allah dan dia yang tahu. Seandainya itu diungkap di tengah masyarakat, maka orang akan meninggalkan dia. Maka Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ terkadang meskipun beliau tidak suka dengan orang lain, ada kalanya beliau harus simpan ketidaksukaannya. Karena penilaian orang pun dijadikan pertimbangan.
Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah satu saat ada orang datang, beliau jengkel sekali. “بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ” (Bi’sa akhul ‘asyirah). Ini orang jelek sekali. Jelek. Teman paling jelek ini. Tapi begitu masuk rumah maka انْبَسَطَ لَهُ (beliau berseri-seri padanya). Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sambut dengan muka berseri-seri. Sampai Aisyah bingung. Tadi ketika mau datang belum masuk rumah, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengejek-ejek itu, “Ini orang jelek banget, apa macam?” Masuk disambut dengan sumringah, muka berseri. Sampai akhirnya Aisyah bertanya, “Ya Rasul, ketika orangnya sudah pergi, Ya Rasul antum tadi bilang bi’sal ‘asyirah (orang ini jelek sekali segala macam), ketika dia masuk antum sambut dengan muka berseri, antum betul-betul hargai dan hormati dia.” Maka Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan: إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ (Orang paling jelek derajatnya di sisi Allah pada hari kiamat nanti adalah orang yang ditinggalkan masyarakat/orang lain karena takut akhlaknya yang jelek).
Jadi masing-masing orang itu punya thawiyah istilahnya, punya bawaan, punya karakter pribadi. Itu aib. Kadang-kadang aib itu tidak dirasa kalau tidak dinilai oleh orang lain. Nah, kalau ada orang kasih masukan sebenarnya alhamdulillah. Sampai ada sebagian ulama mengatakan: رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي (Semoga Allah memberikan rahmat kepada seseorang yang memberikan hadiah kepadaku aib-aibku). Karena banyak orang yang tidak ngerti. Dia punya aib tapi tidak bisa dikeluarkan sendiri. Kalau ada orang lihat lalu ngasih tahu, “Ana beritahu antum, antum ini kekurangannya begini, begini, begini.” Kalau benar dia ikhlas, dia jujur dan disampaikan, itu menguntungkan. Tapi jangan di depan orang lain aja datang, “Antum ini kekurangannya antum sebenarnya pintar, sayangnya antum malas kayak gitu.” Orang kadang-kadang dikasih seperti itu agak nerima gitu karena sudah dipuji dulu. Padahal mau diulek ya. Artinya seperti itu. Orang kalau betul-betul jujur mau ngasih saran masukan, sebenarnya aib itu memang ada dan orang bisa membaca, tapi untuk diri sendiri nah ini butuh kejujuran. Maka kalau ada orang bisa, ini luar biasa.
Dan disebut dalam hadis ini طُوبَى (Tuba). Para ulama mengatakan Tuba ini artinya untung, atau kebaikan, atau balasan surga. Atau ada yang mengatakan itu nama sebuah pohon di surga yang seandainya ada orang melewati pohon itu selama 100 tahun dia tidak akan melewati pohon itu saking lebarnya. Memang ada hadis dalam Sahih Bukhari atau Muslim disebutkan bahwa di surga itu إِنَّ فِي الْجَنَّةِ شَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ الْجَوَادَ الْمُضَمَّرَ السَّرِيعَ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا. Di surga itu ada sebuah pohon lebarnya, kalau seandainya ada orang melewati lebar pohon itu selama 100 tahun perjalanan menggunakan kuda yang cepat gak selesai. Itu satu pohon, gimana istananya? Nah, itu maksudnya pohonnya aja begitu. Nah, ini kata Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Tuba”. Dia akan mendapatkan pohon itu di surga. Maksudnya dimasukkan ke dalam surga. Baik, ini merupakan ee hadis kedua dan ini juga menjadi pesan bahwa seorang jangan sampai sibuk dengan aib orang lain. Istilah orang itu ee kesalahan yang di depan mata tidak dianggap. Sementara kesalahan kecil dari orang lain justru kelihatan dan diungkit-ungkit seperti itu.
BAGIAN 3: KESOMBONGAN DAN CARA BERJALAN
Hadis ketiga. Insyaallah kita akan menyelesaikan enam hadis insyaallah. Hadis yang ketiga, hadis yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا yang berbicara tentang kesombongan. Sombong itu merupakan sikap dan sifat. Sifat yang kelihatan dan sifat yang merupakan watak. Yang kelihatan dari perilaku seringkali muncul dari watak. Watak itu bisa turunan; keturunan orang sombong bin sombong bin sombong gitu. Jadi itu sudah sombong kuadrat dari gaya ngomongnya, gaya bicaranya, apalagi sampai berbicara dengan orang lain. Kemudian memang dia kelihatan. Nah, ada orang yang memang kelihatannya woh jalannya kayak gimana gitu, tapi orangnya baik. Nah, itu sampai ada orang perlu mencarikan uzur. “Oh, enggak. Itu memang jalannya kayak begitu.” Terlalu gede badannya, terlalu banyak ngangkat barbel sehingga badannya tidak bisa dilipatkan, gitu. Dia gini-gini aja enggak. Tapi enggak sombong, orangnya baik gitu. Tapi masalahnya memang ternyata ada gaya yang menunjukkan kesombongan. Gaya-gaya yang mewakili sifat sombong. Nah, seperti ini meskipun dia punya niat baik maka kenapa tidak dihindari yang seperti ini?
Nah, baik. Disebutkan dalam hadis Ibnu Umar رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا berkata, Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
مَنْ تَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ، وَاخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ، لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ
“Barang siapa yang merasa sombong di dalam hatinya, dan dia angkuh dalam berjalan (maka dia akan ditemui Allah/dia menemui Allah pada hari kiamat nanti) sementara Allah dalam keadaan murka dan marah.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Hakim, وَرِجَالُهُ ثِقَاتٌ. Kata Al-Hafiz Ibnu Hajar, semua jalur periwayatannya orang-orang terpercaya. Dan banyak yang mensahihkan hadis ini termasuk Syekh Albani mensahihkan hadis ini.
Hadis ini juga sama tadi kita sebutkan ada orang yang memang memiliki karakter, watak dan bawaan sombong. Nah, kalau kayak begini, ya kayak begini ini meskipun dia tidak punya sebab sombong tetap bisa sombong. Maksudnya bagaimana? Kalau ada orang kaya kemudian sombong kan masuk akal karena dia punya alat untuk sombong. Sudah pendek, elek, hitam, medit, kikir, pelit, kemudian fakir, apa segala macam. Kira-kira enggak punya barang-barang kesombongan. Sombong gitu. Nah, ini kan kelewatan sekali. Nah, tetapi karena memang tadi disebutkan تَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ (dia merasa dirinya ini lebih baik dari orang lain). Maka ta’azum ini salah satu dari lawan tawadu. Ta’azum (membesarkan diri). Tawadu kata Ibnu Qayyim رَحِمَهُ اللهُ atau sombong ini sebaliknya.
Baik disebutkan dua kali ta’adi, jalannya sombong. Kalau jalan orang [Musik/Suara] begini… menimbulkan kesombongan. Tetapi kalau di film aja saya dibuka sebagai gimik. Orang kalau jalan gitu sombong. Tapi ternyata kayaknya ya… kayaknya memang hampir sama dengan realita ya. Kayaknya begitu. Orang kalau jalan sopan, dia ini betul-betul menunjukkan sikap menghormati orang lain.
Sampai dikatakan oleh Syekh Ali Bassam. Syekh Ali Bassam ini orang yang zaman dengan kita. Beliau salah satu muridnya Syekh Utsaimin. Beliau sering menukil dari Syekh Utsaimin, menukil dari Syekh Sa’di. Ya, beliau katakan di tengah masyarakat sombong itu bisa ditampilkan. Kita ngelihatnya aja beda gitu. Lihatnya ketika orang melihat dengan tatapan marah, tatapan tertawa, tatapan rida, tatapan sudah. Dan orang yang lihat, orang yang dilihat maksudnya dia ngerasa ini ngelihatnya enggak enak banget gitu. Baik. Kemudian termasuk mulut ini belum… belum keluar ini omongannya belum keluar, cuman mulut aja dia mengkot-mengkotnya berbeda saja kelihatan ya. Orang kalau ngeremehkan kan kelihatan. Ini belum lagi tangan, dalam bahasa Arab ada istilah tangan begini, ini orang kalau begini ini sudah “ngenyek” sekali. “Ya Fulan gitu antum enggak ngerti.” Ya, ya. Subhanallah. Ana pernah dengar ada orang kayak begitu tuh langsung subhanallah. Dan ada juga orang yang bikin gitu itu ngwece namanya. Itu sampai betul-betul orang ah kayak gitu. Itu sudah semua orang hampir ngerti. Kalau yang seperti ini seperti menghina, tidak ada harganya sama sekali. Nah, ini kelihatan. Ini kelihatan. Nah, yang disebutkan dalam hadis hanya wakil saja: اخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ (jalannya sombong).
Dalam hadis disebutkan bahwa ada seorang yang jalan di atas sandalnya di kuburan. Lalu Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan: يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ، أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ (Wahai orang yang menggunakan sandal Sibtiah, copot sandalmu). Sebagian ulama mengatakan berarti sunahnya ketika menggunakan sandal itu ketika masuk ke kubur-kuburan dia dicopot sandalnya. Tapi sebagian ulama lain mengatakan tidak. Yang ditegur itu karena dia sombong dengan sandalnya. Akhirnya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ katakan ini copot gitu. Pakai sandal aja sombong. Gimana dengan kendaraan? Ya dulu pernah kita bahas kalau tidak salah ya eh apa? اسْتَكْثِرُوا مِنَ النِّعَالِ، فَإِنَّ الرَّجُلَ لَا يَزَالُ رَاكِبًا مَا انْتَعَلَ. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan: Istaksiru minan ni’al (sering-sering pakai sandal). Orang itu seperti naik kendaraan selama pakai sandal. Pantas ada orang sombong pakai sandal, ya apalagi pakai kendaraan yang asli. Itu itu orang memang kalau mobilnya… mobilnya itu mahal ya turun itu kayak masyaallah banget tuh. Sudah kayak presiden aja tuh tu keluar du… Apalagi kalau dia punya… punya bodyguard gitu dibuka ada yang bukakan pintu begini. Ini memang semua gimik ya, status. Tapi masyarakat sepakat ini berbeda dengan yang biasa. Antum orang tokoh terpandang ya, mobil cari yang mewah-mewah. “Eh, dikira sopir kita nyetir sendiri.” Tapi maksudnya sebagian orang sampai kalau punya mobil ini jangan nyetir sendiri. Pakai sopir antum di belakang duduknya, jangan di depan. Susah banget hidup ya. Hidup sudah susah disusahkan lagi begitu.
Tapi memang beda ketika ada orang naik mobil mewah kemudian dia pakai sopir bukan berarti dia enggak bisa nyupir, tapi dia mungkin gengsi untuk nyupir sendiri. Karena kebanyakan orang kalau punya mobil ini, kalau dia duduk depan kayak dia sopir gitu. Akhirnya dia perlu duduk di belakang, perlu nyewa sopir. Kemudian kalau perlu ada orang yang bukain pintu. Subhanallah. Ana pernah punya sopir, bukan punya sopir, anak supir lembaga yang ana pakai ngajar di situ. Subhanallah itu. Tapi beliau sudah tidak ada. Tapi maksudnya beliau sudah terbiasa dengan disiplin tertentu dalam profesionalisme kerja. Ketika turun langsung lari set… ke tempat pintu ana dibukakan begini. Kemudian ana jalan dikawal begini. “Wah, antum ngapain di situ?” “Gak, gak apa-apa Ustaz. Ana cuma ngelihat rodanya. Ana pengin nemenin antum kayak gitu.” Ya Allah, itu orang kadang-kadang sengaja begitu dulu dibuka gini kemudian masuk ditutup. Ada orang sudah merasa bahagia sekali kayak seolah-olah dia Syaikhul Islam.
Dan antum tahu di dalam sejarah Islam sepertinya tidak pernah ada sampai ketika kaum muslimin berhadapan dengan orang nonmuslim. Ya, ini disebutkan oleh Syekh Ibrahim Amir Ar-Ruhaily dalam kitab beliau Al-Ihkam fi Sabri Ahwalil Hukam kalau salah. Nah, beliau ini menukil dari kalau tidak salah riwayat At-Thabari atau mana gitu tentang awalnya ada pengawal. Umar bin Khattab رَضِيَ اللهُ عَنْهُ Amirul Mukminin di Madinah. Enggak perlu dikawal. Datang ke daerah Syam. Gubernurnya Muawiyah. Ketika datang ke sana, Muawiyah siapkan pengawalan. Umar kaget-kaget dia. Ini apa-apaan ini? Kata Muawiyah رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ جَمِيعًا, dia mengatakan, “Wahai Amirul Mukminin, kalau antum minta ini dibubarkan, tak bubarkan. Tapi ana mau kasih alasan di sini ini kita tinggal bersama orang-orang Syam, orang-orang nonmuslim. Mereka bangga ketika seorang tokoh dilihat antum seperti pandangan yang merendahkan. Akhirnya ana siapkan ini semua agar mereka tahu bahwa kita bisa untuk itu.” Begitu kata Umar bin Khattab, “Ana tidak akan ngelarang kamu, tidak nyuruh kamu juga terserah kamu.”
Dan pengawalan tidak dilaksanakan kecuali setelah banyak fitnah terjadi. Akhirnya Umar bin Khattab terbunuh, Utsman terbunuh, Ali terbunuh, kemudian Hasan dan Husein terbunuh. Banyak para sahabat terbunuh. Saat itu mulailah ada pengawalan. Dan orang pertama dikawal adalah Muawiyah. Karena memang dia sudah terbiasa dengan itu. Tapi maksudnya ada orang tidak ada apa-apa datang pakai pengawal sendiri begitu atau memang mobilnya yang penting ini dalam hatinya ya. Yang penting dalam hatinya kalau ada orang yang sampai nyombong sementara dia tidak punya itu semua. Ada juga ya. Jelek sekali. Jelek sekali.
Ada orang yang masyaallah luar biasa tapi dia tidak nyombong. Ahah. Ini juga luar biasa. Syekh Bin Baz رَحِمَهُ اللهُ beliau orang kaya, orang nomor satu dalam lingkaran para ulama Arab Saudi. Tapi beliau tidak pernah makan sendiri. Dan sejak 14 tahun tidak pernah biasa makan sendiri. Harus ada orang lain nemenin. Sehingga ketika beliau sudah menjadi orang besar, beliau terbiasa makan di waktu zuhur bersama tamu. Semuanya dicampur antara tamu terhormat, tamu yang biasa. Makan, beliau akan makan bersama mereka. Kalau beliau sibuk, maka beliau akan terkadang tangannya tetap dibiarkan begitu. Kadang-kadang beliau ambil kemudian mengatakan, “Mohon maaf saya keburu-buru. Semua harus menyelesaikan makannya. Gak usah bingung saya karena keburu-buru.” Akhirnya beliau pamit. Ada juga sebagian tamu bilang, “Ya Syekh, antum ini didatangi oleh banyak orang tamu-tamu dari jauh ada orang-orang penting. Gimana seandainya ada tempat khusus untuk tamu-tamu antum?” Kata Syekh, “Enggak ingin makan bersama saya?” Hayyah yang enggak, enggak apa-apa saya gaya makan saya seperti ini.
Ada orang modelnya begitu. Ada maling tengah malam ramai di luar. Ternyata satpam nangkap maling. Orang Pakistan itu yang cerita orang Pakistan itu sendiri. Tengah malam Syekh Bin Baz lagi tahajud ini ada apa? Kemudian ditanya oh ternyata ada maling. Panggil dihadapkan Syekh Bin Baz. “Ada apa, Nak?” Gitu. “Syekh ibuku sakit.” Sebelum ditanya begitu, kasih makan dulu. Ini kayaknya malam-malam mau maling ini kayaknya butuh ini makan. Kasih makan dulu. Kasih makan. Kemudian ditanya ada apa? Katanya ibu sakit gitu, dikasih duit suruh pulang. Bayangkan orang ketika kayanya ini di sini bukan di duitnya. Dan ini menunjukkan memang ada orang-orang yang kaya, ada orang-orang yang tawadu. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan orang yang sombong dalam dirinya maupun gaya yang kelihatan maka Allah akan murka pada hari kiamat. Karena kesombongan merupakan hak progresif Allah عَزَّ وَجَلَّ. Seperti itu.
BAGIAN 4: SIFAT TERBURU-BURU (AL-AJALAH)
Baik, kita lanjutkan hadis yang keempat. Hadis tentang beberapa sifat yang dimiliki beberapa orang dalam melakukan aktivitas, yaitu terburu-buru. Ya, terburu-buru ini jelek. Artinya dia melakukan dengan tenang saja bisa. Kenapa harus terburu-buru? Sampai terburu-buru ini bisa mengakibatkan orang tidak mendapatkan yang dia tuju. Padahal dia pengin dapat cepetan. Ya, bahkan ee di dalam riwayat disebutkan orang yang keburu-buru untuk mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, maka dia akan dihukum dengan justru tidak dapat sama sekali. Tetapi sifat ini ada pada beberapa orang. Jadi modelnya ya pengin terburu-buru begitu. Ini lawan dari sikap tenang dan ee mengatur semua langkah tepat pada waktunya.
Yang pertama yang tercela namanya Al-Ajalah, artinya terburu-buru. Yang kedua namanya At-Tais. Yang keempat diriwayatkan dari Sahl Ibnu Sa’ad رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
الْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Sifat terburu-buru itu datangnya dari setan.”
أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَسَنٌ (At-Tirmidzi mengatakan sanadnya hasan).
Dalam riwayat lain disebutkan وَالتَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ (At-Ta’anni minallah). Jadi sifat tidak terburu-buru, tenang. Semua dilakukan sesuai dengan ee apa namanya? Rencana ya, SOP ya. Betul. Nah, ini termasuk dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Dulu di zaman sahabat ada orang yang dipuji oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memiliki sifat itu. Kalau tadi Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan At-Ta’anni minallah, sifat tidak terburu-buru datangnya dari Allah. Maka dalam Sahih Bukhari dan Muslim dikatakan ada seorang sahabat yang dia memiliki dua sifat dicintai Allah namanya Al-Munzir atau ee apa? Asyaj Abdul Qais. Dia dikatakan demikian. Asyaj Abdul Qais ee orang ini ketika datang bersama rombongan bertemu dengan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, orang lain pada terburu-buru, cepat-cepat pengin lihat, cepat hadir. Orang ini santai. Turun ditata dulu semua barang-barangnya, kendaraannya diikat dulu. Kemudian beliau merubah pakaiannya, menata penampilannya baru masuk. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ lihat. Orang ini dari awal sampai akhir tenang sekali dan justru itu yang dihargai. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan: إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ: الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ (Kamu punya dua sifat karakter yang Allah cintai. Apa itu? Al-Hilmu wal Anah). Yang satu bijaksana ya. Yang satu tenang, tidak terburu-buru. Orang bertanya lagi, “Ya Rasulullah, apakah ini sejak dulu atau baru?” Kata Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, “Bal qadim (itu dari dulu).” Maka ee tadi dia mengatakan sahabat tadi dia mengatakan, الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَبَلَنِي عَلَى خُلُقَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ (Alhamdulillah yang telah menjadikan aku memiliki karakter yang dari dulu Allah ciptakan padaku dan Allah cintai).
Artinya ada orang memang tenang itu bawaan dari kecil ya. Orangnya santai begitu tapi terukur. Ada orang yang masyaallah tenangnya luar biasa sampai ketinggalan kereta kemudian kuliah sampai lulus dengan predikat donatur gitu. Jadi dia sudah berubah status gitu. Nah, ini namanya kelewat namanya kelemar-kelemer. Nah, tapi orang yang memang tenang, tidak terburu-buru ini yang ee katakan رُبَّ عَجَلَةٍ تَهَبُ رَيْثًا (Betapa banyak orang terburu-buru malah tidak dapat tujuannya). Nah, dia pengin semuanya selesai. Tapi karena keterburu-buruannya, akhirnya ceroboh ya. Akhirnya tadinya mau bersih malah kotor lagi. Ketika dia ingin selesai sebelum waktunya karena ternyata kelompatan ada yang harus dipelajari, tidak dipelajari, gagallah dia. Begitu sehingga tetap orang harus tenang sambil melihat semuanya dengan ketidak terburu-buruan. Ini kalau memang sifatnya bisa untuk dilakukan dengan santai. Kalau memang ada syariat yang menganjurkan untuk segera lakukan. Nah, ini tidak pantas orang “Ah santai entar dulu.” Enggak.
Dalam syariat dikatakan: “Bersegeralah kalian menggapai magfirah Allah, ampunan dan surganya yang luasnya selangit dan bumi yang disiapkan untuk orang bertakwa.” Di dalam hadis yang sahih, ada seorang sahabat datang kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. “يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فَأَيْنَ أَنَا؟” (Ya Rasulullah, ini perang Uhud. Di perang Uhud sudah bertemu dua pasukan. Dia datang tanya kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, “Ya Rasulullah, kalau aku nanti terbunuh, aku mati, aku kira-kira di mana?”). Kata Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, “فِي الْجَنَّةِ” (Kamu akan masuk surga). Langsung orang itu melemparkan kurma yang sedang digenggam. Itu kurma dipakai untuk makan sebelum dia berjuang. Kelamaan kata dia. Dilempar, maju sampai terbunuh. Ini merupakan salah satu sikap bukan terburu-buru ini, tetapi memang sampai Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memuji orang itu ketika ada orang memang tidak mau menunda dapat surga seperti itu.
Ala kulli hal, ee ini salah satu yang diingatkan oleh ee Al-Hafiz Ibnu Hajar رَحِمَهُ اللهُ penting karena banyak orang yang punya sifat seperti ini ya. Kalau orang pengin cepat tidak apa-apa, artinya tidak ingin menunda. Dan menunda itu malah justru jelek ya. At-Taswif namanya menunda. Menunda itu jelek. Bahkan banyak ulama yang mengatakan bahwa التَّسْوِيفُ مِنْ جُنُودِ إِبْلِيسَ (At-taswif min junudi Iblis – Menunda itu merupakan bala tentaranya setan). Tetapi masalahnya sifat orang yang memang cepat-cepat itu ya. Ada seorang Syekh dulu mengatakan, “Kami sering memberikan teguran kepada beberapa ikhwah.” Dia disebutkan ikhwah dari mana? Disebutkan orang Arab. Itu orang Arab tapi bukan orang Arab di sekitar ee negara itu, tapi Arab yang agak jauh. Dikatakan, “Saya ini punya catatan untuk kalian. Kalian itu orang yang kurang sabar, pengin terburu-buru gitu.” Enggak terima. Beberapa murid yang dari negara itu mengatakan, “Syekh apa coba? Bana nah itu…” jadi mereka ini ketika menjadi watak mereka terkenal itu kalau tanya, kalau jalan, kalau mereka belajar itu kelihatan sekali. Kalau orang kita bilang sgol ya, jadi grusah-gusuh gitu. Nah, diingatkan oleh masyaikh, “Antum itu punya kekurangan, antum itu kurang sabar gitu. Pengin gini, gini, gini, gini. Masa Syekh apa ya?” Itu contohnya gitu. Ngomongnya aja sudah kelihatan gitu.
BAGIAN 5: AKHLAK JELEK ADALAH KESIALAN
Baik. Hadis yang kelima, hadis Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
الشُّؤْمُ سُوءُ الْخُلُقِ
“Kesialan itu adalah akhlak yang buruk.”
أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ وَفِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang lemah).
Penting ya. Syu’m itu artinya jelek, kejelekan. Dan orang dikatakan At-Tasya’um itu artinya punya prasangka kayaknya bakal apes. Itu namanya tasya’um. Punya prediksi sial tasya’um. Berbeda dengan Al-Fa’al. Al-Fa’al itu harapan kebaikan atau optimis. Tafa’ul artinya ya itu tadi orang berharap insyaallah untung, insyaallah tenang, insyaallah sukses dan seterusnya.
Nah, dikatakan الشُّؤْمُ سُوءُ الْخُلُقِ (akhlak yang jelek). Syekh Utsaimin رَحِمَهُ اللهُ beliau mengartikan hadis ini artinya orang yang punya akhlak jelek itu syu’m, syar. Bahkan bisa mencelakakan orang lain, merugikan orang lain. Orang punya akhlak jelek kok punya kawan, kasihan kawannya. Kasihan kawannya. Itu maksudnya seperti dalam hadis ini. Orang kalau punya keluarga yang akhlaknya jelek, waduh subhanallah kayak apes sial gitu. Meskipun tidak ada kesialannya. Itu semua takdir Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Tetapi dalam bahasa Arab Asy-Syu’m atau kata-kata yang memang sering diartikan sial ini ada pada beberapa orang. Ada kendaraan yang menjadi sebab sial ya istilahnya. Kemudian ada rumah, kendaraan, rumah dan pasangan seperti itu.
Baik. Kawan yang jelek akhlaknya sial juga ya. Banyak sekali ee pesan dan wasiat para ulama. Hati-hati dengan teman antum. Kecipratan ruginya. Kalaupun belajar di kancah thaabul ilm, Sufyan Ibnu Uyainah رَحِمَهُ اللهُ. Beliau mengatakan, “Ana ini hampir mengajarkan satu ilmu gara-gara satu murid yang kayaknya tidak kuat ini, tidak pantas menerima ini. Gara-gara dia satu orang saja semua majelis enggak jadi belajar.” Ini Sufyan bin Uyainah رَحِمَهُ اللهُ beliau katakan demikian. Dan diceritakan oleh para ulama ini contoh ketika orang mau belajar saja kok punya teman yang bikin apes. Ruginya semua apalagi yang lain.
Dan subhanallah ada perkataan yang dinukil dari Az-Zahabi رَحِمَهُ اللهُ. Beliau menukil dari seorang ulama, seorang tabiin. Beliau mengatakan, “السَّيِّئُ الْخُلُقِ أَشْقَى النَّاسِ بِهِ نَفْسُهُ” (Orang yang akhlaknya jelek, yang paling merasa apes dan sial tertekan dirinya sendiri). “وَإِنَّهُ لَيَدْخُلُ بَيْتَهُ وَهُمْ فِي سُرُورٍ، فَلَمَّا سَمِعُوهُ هَرَبُوا مِنْهُ وَتَفَرَّقُوا عَنْهُ.” (Dia masuk rumah tetangga… apa keluarganya sedang harmonis lagi ngobrol. Wah bercanda ramai. Ketika dia masuk rumah, buyar. Mereka takut dengan ini). Apakah orang tuanya? Apakah kepala keluarganya, apakah suaminya wibawa? Bukan. Karena perangainya yang tidak disukai semua anggota keluarga. Sampai di keluarga begitu masuk anaknya enggak suka, kakak adiknya enggak suka, kemudian istrinya enggak suka. Tadinya sudah enak-enak duduk buyar. Jangankan buyar, kita kalau ngobrol tadinya enak lagi cair, gara-gara kita masuk terus kaku di begitu. Apalagi sampai buyar, bubar gara-gara dia datang. Enggak enak sekali. Lalu bagaimana dengan masyarakat yang lain? Seperti itu. Nah, sehingga su’ul khuluk atau akhlak yang jelek ini bisa membuat apes. Jangan sampai kita menjadi penyebab itu. نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ ذَلِكَ.
BAGIAN 6: LARANGAN MELAKNAT
Kurang berapa menit? Ini masih lama ya? Masih 5 menit. Masyaallah. Nambah hadis yang banyak lagi ya. Baik. Kemudian hadis yang berikutnya ya. Ini hadis yang terakhir diriwayatkan oleh Imam Muslim. Kita mulai dengan hadis riwayat Bukhari. Kita akhiri dengan riwayat Muslim. Dari Abu Darda رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
إِنَّ اللَّعَّانِينَ لَا يَكُونُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya orang yang suka melaknat tidak bakal menjadi pemberi syafaat, tidak bakal menjadi saksi pada hari kiamat.”
Ini berarti ancaman dan ini menunjukkan bahwa dosanya tidak biasa, tidak remeh, gampang melaknat. Ada hadis yang sering kita bahas dulu dalam pembahasan Kitabul Jami juga: لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ (Tidak pantas seorang beriman mulutnya ini gampang melaknat). لَعْنَةُ اللهِ عَلَيْهِ. Orang beriman tidak ditugaskan untuk melaknat. Sampai pun setan tidak perlu kita melaknat. Kenapa? Yang penting itu kita minta perlindungan kepada Allah dari setan. Ada Firaun tidak perlu dilaknat. Kurang kerjaan melaknat Firaun. Kita sudah tidak berhadapan dengan Firaun. Tapi akhlaknya Firaun jangan diwarisi. Ya, punya perangai kayak Firaun, dia melaknat Firaun. Apa tujuannya? Setan melaknat setan? Ya kan?
Nah, di sini dikatakan bahwa orang beriman tidak gampang melaknat. Apalagi kalau itu sudah menjadi perangai yang mendarah daging. La’an gampang melaknat. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan gak bakal jadi saksi, enggak bakal jadi pemberi syafaat pada hari kiamat. Sampai dikatakan seperti itu. Dalam kondisi orang bisa ngasih syafaat dia enggak kasih.
Syekh Ali Bassam mengatakan, “Ini bukan hanya di hari kiamat nanti, bisa jadi di dunia pun seperti itu. Ketika orang akan dipanggil ke pengadilan sebagai seorang saksi, sebagai seorang saksi, maka dia harus adil. Adil itu dalam agama terpercaya. Orangnya jujur, kemudian bisa diambil pendapatnya sehingga cocok untuk menjadi seorang saksi.” Allah menyatakan dalam Al-Qur’an: وَاشْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ. (Kalian silakan datangkan orang saksi dua laki-laki. Kalau dua laki-laki enggak bisa, satu laki-laki dua orang perempuan yang kalian ridai mereka untuk menjadi saksi). Kalau seorang saksi, setidaknya dia bisa menjaga ucapannya. Sehingga nanti ketika dimintai persaksian yang diucapkan bisa dipertanggungjawabkan. Orang gampang melaknat, orang gampang ngomong tok tok tok tak. Mulutnya lebih dari harimau. Ya, ini bukan hanya sekedar harimau ini, ini lebih parah lagi. Gimana akan diterima nasihat maupun persaksiannya. Maka ini menjadi teguran bahwa orang melaknat ini jelek. Ya, ini semua jelek.
Ini yang dapat kita pelajari. Mudah-mudahan bermanfaat. Kurang lebihnya mohon maaf.
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا وَعَبْدِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.

