Dr. Emha Hasan Ayatullah M.AKajian KitabKitab Al Kabair

Keutamaan Umat Nabi Muhammad ﷺ dan Bahaya Dosa Al-Baghyu (Melampaui Batas)

Dosa Yang Kelewatan | Kajian Kitab Al-Kaba'ir


Topik: Keutamaan Umat Nabi Muhammad ﷺ dan Bahaya Dosa Al-Baghyu (Melampaui Batas)

بسم الله الرحمن الرحيم، السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Disebutkan dalam hadis yang shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya, Rasulullah (Shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyatakan: أهل الجنة (Ahlul Jannah/Penduduk Surga) jumlahnya ada 120 صف (shaff/barisan). 80 di antaranya diambil dari umat ini, yaitu umatnya Muhammad , dan 40 sisanya dibagi-bagi dari semua umat para Nabi terdahulu. Ini menjadi penjelasan bahwa mayoritas penduduk surga adalah umat Muhammad .

Umat Muhammad adalah umat terbanyak. Kita sudah sering menyampaikan bahwa umat itu ada dua kategori:
– ada أمة الدعوة (Ummatud Da’wah), artinya orang yang didakwahi oleh Nabi, dan
– ada أمة الإجابة (Ummatul Ijabah), artinya orang yang mau menerima dakwah Nabi . Jadi, أمة الإجابة lebih sedikit dari أمة الدعوة karena objek dakwahnya banyak, namun yang menerima (ijabah) tentu lebih sedikit. Meskipun demikian, أمة الإجابة dari umat ini tetaplah banyak dibandingkan dengan umat-umat nabi sebelumnya.

Nabi memiliki umat yang sangat banyak. Maka dalam hadis yang shahih riwayat Imam Bukhari, Rasulullah bersabda: “Pada hari kiamat ditampakkan kepadaku semua umat-umat yang Allah ciptakan.”

Maka aku melihat ada seorang Nabi pada hari kiamat datang hanya membawa pengikut antara 3 sampai 9 orang (الرهط). Ada seorang Nabi pengikutnya cuma satu atau dua, bahkan ada seorang Nabi pada hari kiamat tidak membawa pengikut sama sekali. Nabi ini bukan tidak berdakwah, namun ternyata pada hari kiamat ia tidak memiliki pengikut. Padahal ajarannya Nabi adalah wahyu, ajaran Nabi siapapun adalah توحيد (Tauhid). Maka wajar kalau ada orang mengajak kepada توحيد, kemudian ada orang tidak taat atau tidak menurut kepadanya. Wajar saja, Nabi Nuh عليه السلام saja berdakwah sekian lama tetapi yang beriman sedikit.

Syahidnya (poin pentingnya) adalah, seorang Dai ketika akan menyampaikan nasihat akan membawa pelajaran yang penting. Benar tidak? Penting itu diikuti banyak orang atau tidak, tentunya harus diperhatikan bagaimana cara kita agar pelajaran ini sampai dengan baik.

Kemudian kata Nabi : “Ternyata aku melihat ada سواد عظيم (kumpulan hitam/kelompok besar) yang banyak.” Aku mengira ini adalah umatku. Namun dikatakan kepadaku: “Itu adalah Nabi Musa dan pengikutnya.” Berarti Nabi Musa memiliki banyak pengikut. Tapi kemudian dikatakan kepadaku: “Kamu lihat di ujung sana.” Ternyata ada سواد (kelompok hitam) yang lebih banyak lagi, ternyata ada jumlah yang besar juga. Dikatakan: “Ini baru umatmu.” Jadi umat Nabi Muhammad banyak sekali, lebih banyak dari Nabi Musa.

Nabi Musa termasuk orang yang hampir menyaingi Nabi dalam banyaknya jumlah umat. Umat Nabi Musa itu kuat-kuat secara fisik, namun kalah jumlah dengan umat Nabi . Akan tetapi, penentangan mereka juga lebih kuat. Bani Israil itu kurang ajarnya luar biasa, suka membunuh para Nabi, cengkal (keras kepala), sampai meminta agar diturunkan makanan dari surga, agar melihat Allah secara langsung, dan permintaan-permintaan semacam itu.

Sampai kita pernah sampaikan kemarin ketika kisah Isra Mi’raj. Nabi Musa mengatakan kepada Nabi ketika dikasih tugas untuk salat lima waktu (setelah dikurangi dari 50 menjadi 5). Kata Nabi Musa عليه السلام: “Aku sudah berusaha mengajak Bani Israil untuk salat yang lebih sedikit dari 5 kali itu, ternyata mereka tidak mampu.” Padahal mereka kuat-kuat fisiknya, tetapi tidak mampu.

Maka Nabi Muhammad , umat beliau banyak sekali dan lebih banyak dari Nabi-Nabi sebelumnya. Dan ternyata yang akan masuk surga lebih banyak dari umat Muhammad .

Suatu saat dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, Ibnu Mas’ud bercerita: Bersama dengan Nabi , ada sekitar 40 orang di suatu tempat (di tenda). Maka Nabi mengatakan: “Apakah kalian rela seandainya kalian menjadi seperempat penghuni surga?” Para sahabat mengatakan: “Iya, mau bagaimana lagi?” Jadi di surga itu mau berapa jumlahnya, yang penting jadi penduduk surga, sudah aman. Apalagi menjadi seperempat, itu luar biasa. Kemudian Nabi bersabda: “Apakah kalian rela menjadi sepertiga penduduk surga?” Ini lebih banyak lagi. Mereka mengatakan: “Iya.”

Kemudian Nabi bersabda: “Atau tidakkah kalian mau kalau kalian menjadi setengah penduduk surga? Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, aku berharap kalian betul-betul menjadi setengah penghuni surga.” Surga tidak akan dimasuki kecuali oleh orang-orang yang Muslim. Ini surganya orang Muslim, kalau orang lain merasa punya surga sendiri, silakan. Surganya orang Muslim tidak akan dimasuki kecuali oleh jiwa yang betul-betul berserah diri kepada Allah.

Lalu Nabi mengatakan: “Tidaklah kalian wahai أهل التوحيد (Ahlu Tauhid/orang yang mengesakan Allah) kalau dibandingkan dengan orang-orang yang melakukan kesyirikan, kecuali seperti sehelai bulu putih yang ada di lembu berwarna hitam.”

Berarti sedikit sekali. Mereka mayoritas penduduk surga ini adalah umat Muhammad , tapi kalau dibandingkan dengan orang-orang yang melakukan kesyirikan, أهل التوحيد itu sedikit. Sampai sedikitnya seperti itu. Maka Ibnu Tin رحمه الله dalam Syarah Shahih Bukhari mengatakan, bukan berarti arti sesungguhnya ada satu helai rambut putih pada lembu hitam (atau ubanan), tetapi ini adalah sebuah قياس (kiasan) betapa sedikitnya, hampir tidak kelihatan.

Tapi ketika ada orang menjadi Muslim, menjadi orang bertauhid, itu adalah karunia dari Allah. Ketika banyak orang berbuat syirik, kita dipilih oleh Allah menjadi orang-orang bertauhid. Manusia itu seperti Nabi Ibrahim عليه السلام, kemarin dalam daurah di Lombok disampaikan, ini adalah nikmat dan karunia. Ketika banyak orang syirik, kita alhamdulillah dipilih oleh Allah untuk menjadi orang beriman. Nikmat iman ini akan kelihatan pada saat melihat ada orang lain, “Kok bisa ya punya agama kayak begitu?”

Melihat agama orang macam-macam; ada yang menyembah hewan, menyembah patung, bahkan menyembah kemaluan. Kok bisa? Itu masuk akal tidak? Bahkan kita pernah sampaikan kepada antum, ada buku yang judulnya “Kecerdasan” tetapi isinya menakjubkan (dalam artian negatif terkait akidah). Di antaranya adalah kisah seorang dokter hebat di India, luar biasa. Dokter-dokter negara lain sudah angkat tangan jika ada orang kena penyakit tertentu, tapi dokter India ini terkenal luar biasa, punya tim, dan pengalamannya hebat. Dia bisa mengobati orang yang dengan izin Allah sembuh.

Akan tetapi, meskipun dia piawai dan bisa menyelamatkan orang yang para dokter lain sudah menyerah, setelah berhasil melakukan operasi atau pengobatan, dia masuk ke kamar kecil dan dia menyembah patung kecil. سبحان الله (Maha Suci Allah), bentuk bersyukurnya seperti itu. Keyakinannya seperti itu. Setelah dia bisa memahami alam semesta ini, dia masuk dan beribadah kepada benda mati. Maka kita baru tahu, alhamdulillah Allah pilih kita menjadi orang beriman dan kita mengenal توحيد, tidak menuhankan selain Allah.

Dan kita harus paham juga, kita pernah sampaikan hadis yang shahih. Nabi menyatakan dalam hadis Ibnu Mas’ud: خط لنا رسول الله ﷺ (Rasulullah menggariskan untuk kami sebuah garis lurus), kemudian mengatakan: “Ini jalan Allah.” Kemudian beliau membuat garis banyak sekali ke kanan dan ke kiri. Beliau mengatakan: “Ini jalan-jalan yang banyak (bercabang).” Tapi masing-masing jalan ini ada setan yang mengajak-ngajak orang lewat situ.

Sudah jalannya mayoritas, banyak lagi. Jalan yang lurus cuma satu. Ditambah lagi masing-masing jalan yang menyimpang itu ada setannya: “Ayo lewat sini saja.” Kemudian Rasulullah membaca firman Allah dalam surat Al-An’am (Ayat 153):

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.”

Ini menunjukkan bahwa tadi kita sudah sedikit sekali dibandingkan dengan orang-orang yang melakukan kesyirikan. Memang jalannya cuma satu, jalan untuk menuju Allah cuma satu, dan jalan-jalan yang lain itu banyak. Termasuk orang yang ingin menerapkan Islam dengan jernih, murni, tidak macam-macam, tidak neko-neko, itu juga sedikit sekali.

Maka hadis ini disebutkan oleh Al-Imam Ad-Darimi dalam buku beliau namanya Musnad Ad-Darimi. Beliau memberi judul: “Dibencinya Seseorang Lebih Suka kepada Pendapat (Rasio) Ketika Sudah Ada Dalil.” Dia lebih memilih pendapat, dalilnya dipelintir supaya sesuai dengan pendapat dia. Itu dari ulama sudah lama mengingatkan, hati-hati dengan orang-orang yang mengikuti pendapat rasio (akal semata). Kemudian Ad-Darimi menyebutkan hadis ini dan beliau pada riwayat setelahnya menafsirkan makna السبل (As-Subul/jalan-jalan yang banyak tadi).

Kalau سبيل الله (Sabilullah/Jalan Allah) cuma satu, kemudian jalan yang banyak ini apa saja contohnya? Definisinya apa? Beliau kemudian menukil dengan sanad kepada seorang Tabi’in yang bernama Mujahid. Beliau mengatakan yang dimaksud dengan السبل yang jangan kalian dekati adalah شبهات (Syubhat). Syubhat itu artinya kerancuan berpikir, penyimpangan beraqidah dan beragama. Maka kita sampaikan berkali-kali penyakit hati ada dua: ada شبهات (Syubhat) dan شهوات (Syahwat).

Penyakit شهوات, orang ketika mengerjakan mengerti ini dia salah. Tetapi شبهات (kerancuan berpikir, penyimpangan akidah), ini susah sekali. Orang yang melakukan itu dia tidak mengerti kalau dia sedang sesat, bahkan dia menyangka kalau dia benar. Maka tobatnya lebih susah. Maka kita pernah sampaikan pernyataan Sufyan Ats-Tsauri: البدعة أحب إلى إبليس من المعصية (“Bid’ah itu lebih disukai Iblis daripada maksiat”).

Kenapa? Karena maksiat gampang ditobati, pelakunya sadar salah. Sedangkan bid’ah dianggap baik oleh orang yang mengerjakannya. Seperti orang-orang yang membantah, memberontak (Khawarij), kemudian Qadariyah (orang yang menolak takdir), termasuk bid’ah semua itu. Bid’ah dalam masalah akidah. Tapi semua masuk dalam hal yang sama, orang yang mengerjakan menganggap itu baik dan dia sedang terombang-ambing dalam syubhat, bukan syahwat. Orang mengerti berbuat maksiat, kadang dia sampai minder ketemu dengan orang-orang saleh, dia mengerti kalau dia salah. Tapi ahli syubhat tidak, bahkan dia bisa merasa lebih baik dari orang yang lain.

Maka semoga Allah عز وجل memberikan kita rasa syukur karena sudah diberi kesempatan oleh Allah untuk mengenal ajaran Islam sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis dengan pemahaman para ulama السلف الصالح (Salafus Shalih). Kita berdoa kepada Allah semoga kita menjadi orang yang istiqomah.

Dosa Besar ke-50: Al-Baghyu (Melampaui Batas)

Sekalian pembahasan yang berikutnya, dosa besar yang ke-50, Insyaallah kita akan pelajari sampai 73 (judul dosa besar), tinggal sedikit lagi. Judulnya adalah البغي (Al-Baghyu). البغي ini bisa diartikan dengan kezaliman, melampaui batas, kelewatan. Pokoknya kelewatan sekali dalam menyakiti, merugikan, atau melampaui batas dalam menzalimi orang, itu namanya البغي.

Sebagian ulama menafsirkan البغي termasuk memberontak kepada pemerintah yang sah. Maka orang-orang yang melakukan pemberontakan kepada pemerintah namanya البغاة (Bughat), yaitu orang-orang yang melampaui batas. Tapi pembahasan kita kali ini bukan spesifik tentang Bughat yang memberontak itu, tetapi setiap dosa yang melampaui batas.

Ini disebutkan dalam Al-Qur’an tentang kezaliman yang luar biasa. Orang yang melakukan kezaliman, kalau dia di-قصاص (Qisas) atau dibalas, tidak apa-apa karena dia salah. Kalau seandainya dia dibalas oleh orang yang disalahi, maka tidak apa-apa. Tetapi orang yang membalas pun tidak boleh berlebihan, nanti dia masuk ke dalam البغي (melampaui batas).

Jadi intinya, semua البغي ini dikecam dalam syariat. Ada istilahnya tiga hadis yang disebutkan, kemudian ada satu ayat. Ayat yang pertama disebutkan dalam surat Asy-Syura ayat 42. Allah menyatakan:

إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya jalan (untuk menyalahkan) hanyalah kepada orang-orang yang menzalimi manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa (alasan) yang benar, mereka itu mendapat siksaan yang pedih.”1

رحمه الله (Para ulama tafsir) dan juga ahli tafsir lainnya mengatakan “pedih” atau ya2ng menyakitkan ini hukumannya bisa pedih di hati, bisa pedih di badan. Yang jelas ini menjadi hukuman untuk orang-orang yang zalim, untuk orang-orang yang kelewatan dalam melakukan dosa.

Sebelumnya, ayat ini berkaitan dengan orang-orang yang membela diri ketika dizalimi. Orang yang dizalimi kemudian dia membela diri, maka dia tidak memiliki hak untuk dihukum (tidak boleh dihukum), karena dia membela diri. Selama pembelaan itu tidak melampaui batas. Dipukul, dia pukul balik (setimpal); dicela, dia mencela (setimpal).

Minimal dia mendoakan kejelekan, tidak apa-apa. Ini pendapat para ulama kita pernah sampaikan dulu. Bahwa kalau ada orang dizalimi, dicela, dijelekkan, bahkan dipukul, ditendang, diintimidasi, difitnah, dirobek kertasnya, dibakar rumahnya, lalu dia berdoa: “Mudah-mudahan yang membakar rumah ana, yang memfitnah keluarga ana, dia mati tapi disiksa dulu sama Allah, kepalanya botak tapi tidak langsung mati.” Pokoknya dia doa semaunya dia. Nah, ini sebagian ulama mengatakan ini tidak termasuk doa yang melampaui batas. Ini salah satu mazhab.

Sebagian mazhab yang lain mengatakan tidak hanya berdoa, dia tidak membalas secara fisik. Orang bakar rumah, kemudian datang cari siapa yang bakar rumah, “Oh ini premannya, ini provokatornya,” lalu didatangi rumahnya, diculik, disikat juga. Tidak seperti itu dia. Tapi dia berdoa kepada Allah: “Ya Allah, yang bakar rumah ana, bakar semua yang ada di rumah itu atau hatinya dibakar.” Nah ini berdoa itu sebagian ulama mengatakan dia tidak boleh dalam sebuah hadis (sekalipun wallahu a’lam sanadnya bagaimana) disebut oleh Ibnu Katsir: “Barang siapa yang mendoakan jelek orang yang menzalimi dia, berarti dia sudah berusaha untuk membela diri.”

Ayat sebelum ayat yang kita baca ini Allah mengatakan: “Orang yang berusaha untuk membela diri maka mereka tidak pantas dihukum.” Sedangkan yang berhak dihukum, yang diberi kesempatan untuk dihukum oleh Allah adalah orang yang berbuat zalim. Kalau dizalimi kemudian membela diri, tidak pantas dihukum.

Bahkan ada beberapa sikap dari para ulama, bahkan Nabi , ketika mereka dizalimi tidak mau menyerah, berusaha untuk membela diri. Setelah dia menang, baru dia maafkan. Wah luar biasa ini. Kalau ada orang dizalimi, “Wah ana sabar saja karena tidak berani melawan.” Ini banyak contohnya. Dizalimi, dijelekkan, dipotong haknya macam-macam, dia cuma ngomong (grundel) dari belakang, tapi dia tidak tahu caranya bagaimana mendapatkan haknya. Ini bukan sabar namanya, ini terpaksa untuk dizalimi, tidak bisa membela diri. Ini tidak terpuji.

Yang terpuji itu dia bagaimana caranya untuk membela diri dengan cara yang dibenarkan dalam syariat. Setelah dia menang, baru dia maafkan. Itu luar biasa. Maka ada sebuah perkataan dari ulama, mereka mengatakan: “Ketika mereka disalahi, balas. Ketika mereka sudah menang, baru mereka maafkan.”

Syaikhul Islam رحمه الله menyebutkan Nabi ketika kejadian beliau sedang tertidur, tahu-tahu ada orang kafir menyelinap diam-diam. Ketika Rasulullah sudah terbangun, ini pedang langsung dihunus, mau ditujukan begini (mengancam). Tapi suruh berdiri dulu, dia ingin menghinakan Nabi . Dihunus pedangnya kemudian dihadapkan ke Nabi , kemudian berkata: “Coba sekarang siapa yang bisa menghalangi engkau dari aku?”

Nabi menjawab dengan tenang: “الله (Allah). Allah yang akan menghalangi kamu dari aku.”

Gemetaran orang itu, pedangnya jatuh. Diambil oleh Nabi . “Kalau begitu sekarang siapa yang mau menghalangi aku dari membunuhmu?” Bahkan di depan para sahabatnya (setelah kejadian itu), ada sekitar 80 orang, dikatakan tadi orang ini begini, begini, begini. Setelah itu, “Aku maafkan.” Memaafkannya dalam kondisi kuat. Dia dalam kondisi kuat seperti itu.

Nah ini disebutkan dalam Al-Qur’an: “Kalau kalian ingin membalas, ingin menghukum balas, silakan. Tapi usahakan sesuai dengan yang kalian dapatkan kezaliman itu, jangan dilebih-lebihkan. Tapi kalau kalian bisa memaafkan (sabar), itu lebih bagus.” Tapi sabar yang bagaimana? Sabar yang beneran, bukan yang tadi itu karena tidak mampu untuk membalas. Tapi yang jelas kalau seandainya ada orang ingin membela diri, dia tidak pantas dihukum dalam syariat seperti itu. Maka dalam Al-Qur’an disebutkan orang yang pantas dihukum adalah orang yang memang melampaui batas atau kelewatan dalam menyakiti orang lain.

Kemudian dalam Shahih Muslim, ini hadis yang pertama yang disebutkan. Disebutkan bahwa Nabi menyatakan:

إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada aku agar kalian semua bertawadhu (rendah hati), agar tidak ada yang sombong angkuh satu dengan yang lain, dan tidak ada orang yang berbuat zalim (melampaui batas) antara satu dengan yang lain.”

Hadis ini memerintahkan untuk تواضع (tawadhu). Para ulama menyebutkan tawadhu artinya apa? Artinya dia ridha mendapatkan sesuatu yang lebih rendah dari yang dia berhak dapatkan. Mestinya dia dapatkan upah segini misalnya, atau lebih mendapatkan posisi seperti ini, tapi dia rela saja ketika diberikan kesempatan atau upah atau apa yang lebih rendah. Di antara tafsiran lain adalah mengikis perasaan-perasaan congkak, merasa lebih di atas. Kalau dia bisa untuk mengatasi itu, berarti dia mengalahkan diri sendiri sebelum mengalahkan orang lain. Tidak bisa juga untuk minta atau misalkan dia pengen mendapatkan posisi yang semestinya, tetapi dia lebih suka untuk mengalah. Tawadhu ini luar biasa.

Hadis ini sebenarnya panjang. Nabi pernah berkhotbah di depan para sahabat. Beliau mengatakan: “Aku diperintahkan Allah untuk mengajarkan kepada kalian yang kalian tidak tahu, dan sekarang aku mendapatkan wahyu dari Allah untuk aku sampaikan kepada kalian.”

Kemudian Allah berfirman: كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عَبْدًا حَلَالٌ (“Setiap harta yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku adalah halal”), dengan cara yang syar’i, dengan cara yang mubah, silakan dinikmati.

Nah ini para ulama mengatakan ini sebagai bantahan untuk orang-orang yang mengharamkan sesuatu yang halal dengan tujuan ibadah sekalipun. Tidak boleh orang mengharamkan nikah, “Aku mau ibadah kepada Allah karena tidak mau nikah.” Salah itu. “Aku ingin mendekatkan diri kepada Allah, aku tidak mau makan daging misalkan.” Ini juga salah, karena daging itu dihalalkan. Kok bisa ada orang menganggap ini bagian dari agama? Dia mengharamkan untuk dirinya sendiri sesuatu yang halal, tidak boleh itu.

Kemudian Nabi mengatakan bahwa Allah berfirman: “وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ” (“Dan Aku ciptakan hamba-hamba-Ku semuanya murni/bersih bertauhid, sesuai dengan fitrah”). Kemudian setan datang ke mereka, mengajak-ngajak mereka untuk ikut jalannya setan, sehingga mereka jauh dari agamanya. Kemudian mereka sampai mengharamkan yang aslinya halal untuk mereka. Nah ini hadisnya panjang, kemudian disebutkan berbagai syariat di bawahnya, dan Allah perintahkan kepada kalian agar kalian tawadhu sehingga tidak ada yang sombong, tidak ada yang berbuat dosa.

Ada sebuah hadis, hadis ini lemah menurut Syekh Albani, tetapi tidak ada masalah seandainya dijadikan motivasi. Nabi menyatakan: لَوْ بَغَى جَبَلٌ عَلَى جَبَلٍ لَدُكَّ الْبَاغِي مِنْهُمَا (“Seandainya ada gunung dia congkak/sombong atau menzalimi gunung yang lain, niscaya Allah akan jadikan gunung yang zalim ini hancur lebur”).

Ini biasanya akan membuat orang takut. “Ya ini kenapa ini ada tahu-tahu gunung hancur?” Ini sama gunung kita yang bingung, kita yang di bawahnya ini. “Oh yang zalim kalian, kok kita yang kena?” Tapi ini hadisnya dhaif (lemah). Yang pertama itu. Yang kedua, ini adalah penekanan bahwa Allah itu memerintahkan kita seadil-adilnya, jangan sampai ada kezaliman.

Kemudian dalam hadis yang disahihkan oleh Syekh Albani, Rasulullah menyatakan:

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan hukumannya di dunia bagi pelakunya, di samping tabungan (hukuman) di akhirat, sebagaimana dosa Al-Baghyu (melampaui batas) dan juga قطيعة الرحم (memutus silaturahmi).”

Memutus silaturahmi itu artinya orang yang memang aslinya punya hubungan kerabat. Kalau kita sama kenalan, itu namanya bukan silaturahmi ya. Bahasa kita memang bahasa bakunya orang Indonesia itu kalau kunjung-kunjung, “Silaturahmi.” “Alhamdulillah hari ini saya sudah ada kesempatan silaturahmi.” Yang benar istilahnya زيارة (ziarah/berkunjung). Maksudnya silaturahmi itu artinya menyambung hubungan kekerabatan (الرحم) yang sudah diputus lalu dia sambung lagi. Ini berat sekali. Yang nyambung sedikit, yang mutus banyak.

Asalnya sudah tidak ada apa-apa, tapi dia sengaja untuk memboikot atau sengaja tidak datang terus seperti itu. Dan para ulama mengatakan menyambung hubungan silaturahmi itu bisa berlaku sesuai dengan kebiasaan masyarakat (عرف). Kalau seandainya kita sama-sama sibuk, sana sibuk, kalau kita datangi, kita paksakan, dia juga terganggu. Gimana caranya? Menelepon, sudah cukup itu untuk menyambung silaturahmi. Tapi kalau ada orang sengaja tidak mau menelepon, tidak menyapa, WhatsApp tidak dibalas, dibikin supaya tidak terbaca (centang tidak biru), segala macam lah. Yang penting itu namanya memutus silaturahmi. Dan ini menunjukkan bahwa memutus silaturahmi itu adalah dosa besar. Kita pernah bahas ini, memutus silaturahmi termasuk salah satu dosa besar.

Kisah Qarun dan Kezalimannya

Kemudian kisah berikutnya tentang Qarun. Qarun itu orang yang kayanya luar biasa. Bahkan disebutkan dia ini kaya dan awalnya mengabdi kepada Firaun (atau berada di lingkungannya), tapi dia sebagai contoh simbol kekayaan. Maka orang bilang kan “Harta Karun”, ya kan? Harta Karun itu karena Allah timbun dia dan hartanya semua. Itu di mana dia? Di Mesir. Kok bisa ada orang nemu di sini dibilang harta karun? Apa harta itu “ngoyot” (menjalar akarnya) sampai ke Indonesia nyebrang laut juga?

Maksudnya Qarun ini disebutkan dalam Al-Qur’an: إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ (“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Nabi Musa, maka ia berlaku aniaya/melampaui batas terhadap mereka”). Dia termasuk umat dakwahnya Nabi Musa, tetapi dia justru menyakiti Nabi Musa. “Dan Kami berikan dia kekayaan.” Kekayaannya luar biasa, kunci dari gudang-gudang kekayaannya itu tidak kuat untuk diangkat oleh sejumlah orang yang kuat sekalipun (zaman sekarang atau zaman dulu). Maksudnya ini lambang, kayanya bagaimana sampai kuncinya saja seperti itu.

Jadi sombongnya bagaimana? Antum kalau perhatikan ya, orang itu bisa sombong karena kedudukan, karena harta. Harta itu luar biasa bikin orang sombong. Sampai dia bilang, “Masyaallah.” Jadi kalau mau merokok itu tidak dapat korek, diambil duit, merokok pakai duit dibakar begini. Sombong ya. Tapi lebih dari itu. Jadi kesombongan itu kalau orang sudah kaya luar biasa, seperti dunia sudah di genggaman, mau apa sih? “Tak beli sudah.” Kalau ada yang bisa dibeli, “Ustaz tak beli.” Jelek kan? Jelek di Ustaz-nya, jelek di sininya. Kalau pejabat dibeli gimana? Tapi yang banyak mana, pejabat dibeli atau Ustaz dibeli? Dua-duanya jelek. Tapi maksudnya itu jadi kayak begitu.

Makanya kalau orang kaya kemudian dia punya ketakwaan luar biasa, jadi kayak Utsman bin Affan رضي الله عنه. Orang kalau punya uang biasanya ya Subhanallah ya takdirnya itu jarang ada orang belajar sampai di ujungnya (puncak ilmu) dan dia kaya raya, jarang kayak gitu. Yang biasanya bisnis-bisnis main sukses itu rata-rata paling lulusan SD, lulus SMA. Orang bilang kalau mau usaha jangan diambil sambilan. “Nyambi ini, nyambi ini,” tidak. Kalau bisnis, bisnis total sudah. Kadang bisnis itu kan spekulasi, ada yang gagal ada yang untung.

“Kok jadi rajin sekali?” Kalau sambil belajar, nanti bisnisnya kalah. Otomatis kalau orang belajar sambil bisnis, yang kalah apanya? Belajarnya. Biasanya karena belajar itu berat. Kalau bisnis kan senang, duitnya kan kelihatan. Jadi ketika dia orang sukses punya uang, biasanya yang menang duitnya dia, akhirnya seperti itu, merasa congkak luar biasa. Kita bayangkan gimana orang kayak Firaun dan Qarun ini, luar biasa dia sampai melukai, menyakiti, dan menyerang Nabi Musa. Gimana caranya? Macam-macam.

Maka disebutkan dalam Al-Qur’an: فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ (Maka dia melampaui batas terhadap mereka).

Disebutkan Ibnu Jauzi رحمه الله, tafsirannya banyak tentang “melampaui batas” atau cengkalnya itu. Ada setidaknya 4 tafsiran:

  1. Dia kafir dengan ajaran Nabi Musa.
  2. Dia berlebih-lebihan dalam kekufurannya, bukan hanya kafir bahkan berlebih-lebihan.
  3. Dia sampai memanjangkan baju. Ini sebenarnya Qarun itu menyombong dan memusuhi (melampaui batas) untuk membantah Nabi Musa. Di antara tafsirannya dia memanjangkan bajunya satu jengkal, berarti dia sudah panjang dari ukuran standar. Ukuran standarnya berapa? Dia lebihkan itu, sengaja. Itu salah satu bentuk kesombongan dan permusuhan kepada Nabi Musa. Ternyata baju dipanjang-panjangkan itu lambang sombong, kegedean gitu. Makanya kalau beli baju ya jangan yang ukuran kegedean kayak orang sombong. Tapi bukan itu sebenarnya. Coba antum perhatikan dengan larangan إسبال (isbal/memanjangkan baju). Nabi mengkategorikan atau mendefinisikan itu seperti sombong. “Enggak, aku memanjangkan tapi tidak sombong.” Ini jangan-jangan ini seperti itu.
  4. Termasuk di antara tafsirannya adalah dia menuduh Nabi Musa berzina.

Jadi dia kaya kan, maka dia sewa seorang wanita pelacur (بغي). Kemudian dikasih upah, kemudian dikatakan: “Kamu bilang telah dihamili Nabi Musa.” Subhanallah, ini sejak lama ternyata orang-orang kaya ketika ingin mengotori atau mencemooh nama baik seseorang yang saleh, caranya dengan cara-cara licik seperti ini. Pelacur dibayar, “Kamu ngaku kalau sudah dihamili Fulan.” “Enggak sama sekali.” Dan itu masih dipakai di zaman-zaman sekarang. Kalau ada orang ingin merusak nama baik seseorang, imma (entah) dituduh seperti itu, atau kalau tidak dijebak saja sekalian biar terjadi seperti itu. Jelek sekali kalau seandainya orang yang dijebak itu memang suka doyan jajanan. Tapi yang jelas yang jelek-jelek kayak begini ini sudah ada sejak lama, sekarang masih laku gitu.

Nah ini akhirnya Qarun bayar seorang pelacur: “Kamu ngaku pada Nabi Musa.” Nabi Musa marah. Nabi Musa marah akhirnya ngomong ke pelacur itu: “Kamu bersumpah atas nama Allah, benar apa tidak?” Takut ini pelacur. Pelacur ini masih (ada rasa takut) beriman kepada Allah, disuruh bersumpah tidak mau ceritanya. “Kamu sebenarnya siapa?” Baru dia cerita: “Aku disuruh oleh Qarun, aku dibayar segini segini, aku disuruh ngomong kalau engkau menghamili aku.”

Begitu ngamuk, akhirnya Nabi Musa kemudian ini disebutkan oleh Ibnu Abbas dalam tafsirnya. Wallahu a’lam cerita seperti ini apakah sanadnya shahih atau tidak, tapi dalam tafsir disebutkan banyak kisah yang para ulama menganggap bahwa itu tidak harus diteliti secara ketat (Israiliyat) apakah riwayatnya shahih atau tidak, karena tafsir saja tidak berkaitan dengan amal ibadah kita secara langsung.

Nah kemudian di dalam Al-Qur’an dikatakan dia dengan semua rumah kekayaan dia ditenggelamkan, dimasukkan ke dalam tanah. Ini hukuman yang pernah Allah kasihkan untuk lambang habisnya sebuah kekayaan. Kita bayangkan ada orang kaya punya rumah harganya 2 miliar, dijual saja tidak ada yang beli. Sampul (kelompok) miskin mau patungan tidak cukup untuk beli itu. Ada orang kayak begitu, tahu-tahu rumahnya kebakaran. Mau apa dia? Mungkin stres dia. “Sudah atas… Seandainya dia daftarkan asuransi,” itu kata dia. Tapi yang jelas ketika dia lihat rumah yang begitu tahu-tahu rumahnya kebakaran, habis isinya, apa dia sudah tidak punya kekayaan sama sekali?

Ini sekarang Qarun punya kekayaan, tapi yang menghancurkan Allah. Disebutkan dalam tafsir, kalau Allah سبحانه وتعالى menghancurkan dia pelan-pelan agar dia kerasa. Karena waktu itu sombong sekali, sudah dia sombong sekali.

Nah ketika dalam kisah Qarun ini keluar dengan kekayaan-kekayaannya, sampai orang-orang di masyarakat itu mengatakan: “Duh senangnya kalau kita punya seperti yang dipunyai Qarun.” Semua masyarakat takjub. Apa namanya? Orang-orang bertakwa mengatakan: “Celaka kalian, pahala Allah itu lebih baik bagi orang yang beriman.” Itu akan dapat akhirat nanti.

Tapi intinya setelah sombong yang luar biasa itu, Allah benamkan. Tapi kejadiannya setelah dia menuduh Nabi Musa. Ketika Nabi Musa dituduh berzina dengan seorang pelacur itu, Nabi Musa ngamuk. Maka Nabi Musa mendoakan jelek untuk Qarun. Maka Allah mewahyukan kepada Nabi Musa bahwa Allah sudah perintahkan tanah untuk nurut kepada Nabi Musa. “Silakan kalau mau diperintahkan.”

Akan disebutkan Nabi Musa kemudian mengatakan: “Wahai tanah, telan dia!” Maka tanah itu terbelah, kemudian memakan kekayaannya sampai singgasananya masuk. Tapi orangnya masih aman kan? Orangnya di atas. Qarun-nya itu di atas kursi, kekayaan kemegahannya itu diterbenamkan dalam tanah baru sampai di singgasananya saja, tapi orangnya masih di atas.

فَلَمَّا رَأَى (Ketika dia melihat) kekayaannya sudah mulai tenggelam dikit-dikit, “Sudah main-main ini.” Akhirnya dia mulai merayu: “Wahai Musa, Ar-Rahm (ingat hubungan kekerabatan), tolong…” Minta maaf, minta maaf dia mengiba. Tapi Nabi Musa sudah marah. Akhirnya Nabi Musa ngomong lagi, maka tanah kembali nyedot lagi. Tanah ini nyedot lagi sampai kedua kakinya masuk tanah. Kemudian Nabi Musa masih terus berdoa: “Wahai tanah, ayo makan terus!” Sampai akhirnya habis itu Qarun, habis beneran.

Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa: “Wahai Musa, tadi itu Qarun kalau minta tolong kepada-Ku, tak tolong benar lho.” Subhanallah. Sampai dalam kondisi kejepit kayak gitu tidak minta tolong sama Allah. Padahal Allah itu Maha Kasih Sayang lebih dari seorang ibu kepada anaknya. Subhanallah. Kalau minta tolong… sudah kurang ajar kayak apa, sudah kafir, nuduh berzina lagi seorang Nabi. “Tapi kalau dia minta tolong kepada-Ku, pasti Aku tolong,” kata Allah.

Seperti anaknya Nabi Nuh, karu-karuan sudah. Dari atas turun hujan, dari bawah keluar air, kemudian banjir semakin kelihatan. Nabi Nuh kapalnya sudah berlayar, ternyata ada tempat mereka dipisahkan dengan gelombang. “Jangan jadi orang kafir, ikut saya!” “Enggak, aku mau naik Jabal (gunung), aku naik gunung.” Tetapi kita lihat bagaimana kecongkakan itu sudah mau mati akhirnya ini.

Dan berbeda ya Nabi Muhammad , ketika beliau dihantam oleh orang-orang Thaif, dilempar batu sampai darahnya mengucur, dicela segala macam. Kemudian Allah wahyukan bahwa ada Malaikat Gunung (Penjaga Gunung) menawarkan: “Apa namanya?” Kata Malaikat itu dalam hadis yang shahih dikatakan: “Kalau kamu Muhammad ridha (mau), dua gunung ini (Akhsyabain) tak tancapkan (timpakan) ke orang-orang penduduk Thaif, sudah.”

Tapi Nabi mengatakan demikian: “بَلْ أَرْجُو (Justru aku berharap) di antara keturunan mereka ada yang mau mentauhidkan Allah.” Oh luar biasa Nabi Muhammad, nabi kita itu Nabi luar biasa, Nabi yang paling hebat. Nabi Musa sudah ngamuk-ngamuk kayak begini. Alhamdulillah tawaran itu tidak ke kita. “Mau tidak Gunung Ijen tak hantamkan gitu?” Kira-kira mau siapa?

Maksudnya ini Nabi Musa akhirnya beliau berdoa seperti itu. Ibnu Abbas menceritakan, Allah benamkan Qarun itu sampai ke tanah yang paling bawah. Mengatakan bahwa Allah menciptakan langit itu bertingkat-tingkat sampai 7 lapis, tanah juga seperti itu. Allah ciptakan langit berlapis 7 dan tanah pun seperti itu. Ini dibenamkannya tidak cuman tenggelam hilang wujudnya, tapi sampai ke dalam untuk menunjukkan bahwa dia betul-betul dihinakan. Tafsirnya beliau mengatakan setiap hari dibenamkan seukuran satu qamah (satu ukuran manusia berdiri). Setiap hari keluar lagi di sana (terus merosot). Mungkin kita karena akal kita ini terlalu cepat, kadang-kadang bukan cepat saja, kotor juga untuk bantah dalil begitu.

Kalau Muqatil bin Sulaiman, ini seorang ahli tafsir, beliau ceritakan orang Bani Israil mereka sempat-sempatnya ngomong ketika Allah sudah menghancurkan Qarun ditenggelamkan dalam tanah. Mereka sempat ngomong (Bani Israil itu adalah orang-orang yang sering dibantu oleh Nabi Musa): “Oh, itu Qarun diterbenamkan oleh Nabi Musa agar Musa bisa menguasai kekayaan Qarun.”

Kurang ajarnya kayak begitu ya. Akhirnya setelah mereka ngomong begitu, maka Allah juga terbenamkan (harta sisanya). Allah benamkan semua kekayaannya 3 hari setelah itu, dan dia tidak mendapatkan penolong selain Allah untuk menghadapi akibat itu. Kemudian uang (hartanya lenyap) agar dia tidak bisa membela diri. Tapi intinya ini salah satu contoh bagaimana ketika seseorang sudah berbuat kelewatan (البغي), Allah bisa saja untuk menunjukkan kekuatan-Nya di dunia sebelum di akhirat.

Mudah-mudahan kita dilindungi oleh Allah dari sifat zalim yang seperti itu. Ini dapat kita pelajari, mudah-mudahan bermanfaat.


Sumber: https://youtu.be/Vd_qgQyJS5s

Related Articles

Back to top button