Kajian Kitab Lum’atul I’tiqad #19
Beriman kepada Asyratus Sa’ah (Tanda-tanda Hari Kiamat).
Ringkasan Kitab: Lum’atul I’tiqad Al-Hadi ila Sabilir Rasyad karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Rahimahullah.
Topik: Beriman kepada Asyratus Sa’ah (Tanda-tanda Hari Kiamat).
1. Prinsip Akidah Ahlussunnah wal Jamaah
Kewajiban utama seorang mukmin adalah membenarkan seluruh kabar yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika riwayatnya sahih, meskipun hal tersebut bersifat gaib dan tidak masuk akal manusia. Sikap ini membedakan orang beriman dengan kaum rasionalis yang menolak dalil karena keterbatasan logika.
2. Pembagian Tanda Kiamat
- Tanda Kecil (Ash-Shughra): Sebagian besar sudah terjadi, contohnya:
- Diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai nabi terakhir.
- Terbelahnya bulan (Inshiqaqul Qamar) yang terjadi di masa Nabi.
- Tanda Besar (Al-Kubra): Peristiwa besar yang belum terjadi dan bersifat luar biasa (di luar kebiasaan alam).
3. Lima Tanda Besar yang Dibahas:
- Khuruju Ad-Dajjal (Keluarnya Dajjal): Manusia pendusta besar yang akan membawa fitnah terbesar dalam sejarah. Ia memiliki kemampuan memanipulasi hujan dan tanaman atas izin Allah untuk menguji keimanan manusia. Di dahinya tertulis “Kafir” yang hanya bisa dibaca oleh orang beriman.
- Nuzulu Isa Ibni Maryam (Turunnya Nabi Isa): Beliau akan turun di menara putih (Baitul Maqdis) saat kaum muslimin dipimpin Imam Mahdi. Nabi Isa ‘Alaihissalam akan membunuh Dajjal dan menegakkan syariat Islam, bukan syariat baru.
- Khuruju Ya’juj wa Ma’juj (Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj): Dua umat keturunan Adam yang jumlahnya sangat banyak dan memiliki sifat perusak. Mereka akan binasa setelah Nabi Isa ‘Alaihissalam dan kaum muslimin berdoa kepada Allah, yang kemudian mengirimkan ulat ke leher mereka.
- Khuruju Ad-Dabbah (Keluarnya Hewan Melata): Hewan yang keluar dari perut bumi, mampu berbicara kepada manusia, dan memberikan tanda (stempel) pada wajah orang beriman dan orang kafir.
- Thulu’u Asy-Syamsi min Maghribiha (Terbitnya Matahari dari Barat): Peristiwa alam yang menjadi tanda ditutupnya pintu tobat secara total. Keimanan baru atau tobat setelah peristiwa ini tidak akan diterima.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا.
أَمَّا بَعْدُ:
Alhamdulillah, segala puji hanyalah untuk Allahu Rabbul ‘Alamin (Allah Rabb semesta alam), yang telah mencipta, memberikan rezeki, dan mengatur alam semesta. Dan Dialah yang berhak untuk disembah semata. Selawat dan salam semoga senantiasa Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan kepada orang yang telah diutus sebagai Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi seluruh alam), penutup para nabi, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga beliau, para sahabat beliau, para tabiin, para tabiut tabiin, dan tentunya orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai akhir zaman.
Hadirin sekalian, Bapak dan juga Ibu yang kami muliakan.
Insyaallah akan kita lanjutkan pembahasan kitab Lum’atul I’tiqad Al-Hadi ila Sabilir Rasyad (لُمْعَةُ الْاِعْتِقَادِ الْهَادِي إِلَى سَبِيلِ الرَّشَادِ) yang ditulis oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi Rahimahullah. Pada pertemuan yang sebelumnya, telah kita baca dan pelajari bersama bahwa akidah Ahlussunnah wal Jamaah, prinsip yang harus kita pegang bersama di dalam masalah akidah adalah beriman dengan seluruh apa yang dikabarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Percaya dan yakin bahwasanya apa yang beliau sampaikan itu benar adanya, kalau memang itu sahih dari beliau.
Karena sebagaimana kita tahu, di sana ada orang-orang yang lemah di dalam meriwayatkan. Bahkan di sana ada sebagian orang yang sengaja berdusta atas nama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ada yang niatnya baik, ada yang memang niatnya tidak baik. Dan Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan serta menyediakan orang-orang, yakni para ulama, yang siap untuk memilih dan juga memilah hadis-hadis tersebut sehingga sampai kepada umat manusia dalam keadaan bersih, dalam keadaan tidak tercampur dengan kotoran.
Kalau memang hadis tersebut berdasarkan ilmu adalah hadis yang sahih sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan terpenuhi syarat-syaratnya, maka harus kita imani, harus kita benarkan. Tidak boleh ada sedikit pun keraguan di dalam diri kita terhadap apa yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sama saja apakah kita menyaksikannya atau kita tidak menyaksikannya. Sama saja apakah masuk ke dalam akal kita yang kurang ini atau tidak masuk ke dalam akal kita, maka kita harus membenarkan apa yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Ini adalah prinsip yang telah diajarkan oleh para imam-imam Ahlussunnah dan ini yang dipraktikkan oleh para sahabat, para tabiin, dan para tabiut tabiin. Telah berlalu contoh-contoh perkara yang harus kita imani, dan itu adalah perkara yang gaib. Sesuatu yang kadang tidak masuk ke dalam akal manusia, namun wajib bagi kita untuk membenarkannya. Beliau menyebutkan, dan sudah kita jelaskan tentang masalah Isra dan juga Mikraj (الْإِسْرَاءُ وَالْمِعْرَاجُ). Di antara yang beliau sebutkan adalah tentang kisah Malaikat Maut bersama Nabi Musa ‘Alaihissalam. Sudah kita jelaskan tentang dua perkara ini pada kesempatan yang telah lalu.
Nah, beliau setelahnya menyebutkan contoh-contoh yang lain, karena mungkin di zaman beliau atau sebelum beliau ada orang-orang yang mengaku menjadi seorang muslim, tapi ketika berhadapan dengan kabar-kabar seperti ini yang menurut mereka tidak masuk akal, kemudian dengan mudahnya mereka mendhaifkan hadisnya, mentakwil, atau bahkan mengingkari tanpa hak. Tentunya ini adalah sesuatu yang berbahaya.
Maka beliau sebutkan contohnya dan mengatakan setelahnya:
وَمِنْ ذَلِكَ أَشْرَاطُ السَّاعَةِ
“Dan di antara contoh-contohnya adalah tanda-tanda hari kiamat.”
Yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kewajiban kita adalah membenarkan, baik masuk akal atau tidak masuk akal, baik kita menyaksikan sendiri dengan mata kita atau kita hanya mendengar, adalah tentang tanda-tanda dekatnya As-Sa’ah (السَّاعَةُ). As-Sa’ah artinya adalah tiupan sangkakala yang pertama, yang menunjukkan tentang berakhirnya kehidupan ini dan akan dimulainya babak yang baru, kehidupan yang baru bagi seluruh manusia.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan datangnya waktu tersebut didahului dengan tanda-tanda, dan ini adalah rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena sebagaimana kita tahu, berakhirnya dunia berarti sudah tidak ada di sini kesempatan untuk beramal; yang ada adalah hisab, Jaza’ (balasan), perhitungan. Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmat-Nya kepada manusia menjadikan di sana tanda-tanda dekatnya As-Sa’ah.
فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا
“Sungguh telah datang tanda-tandanya.” (QS. Muhammad: 18)
Dan di antara kabar-kabar tersebut, ada yang terdapat dalilnya di dalam Al-Qur’an, ada di antaranya yang disebutkan di dalam hadis yang sahih, dan ada di antaranya yang disebutkan di dalam Al-Qur’an juga di dalam hadis yang sahih. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengabarkan kepada kita tanda-tanda dekatnya As-Sa’ah. Maksudnya adalah supaya kita ingat, supaya kita segera sadar atas kelalaian kita, atas kemalasan kita. Kalau memang tanda-tandanya sudah ada, ya berarti harus bersiap-siap.
Antum dalam kehidupan sehari-hari, di dalam keluarga, dalam masyarakat, pekerjaan, di sana ada tanda-tanda atas sebuah kejadian. Tujuannya adalah supaya kita mempersiapkan diri. Seorang wanita yang akan melahirkan misalnya, maka di sana ada tanda-tandanya; di sana ada rasa sakit, di sana ada waktu, di sana ada sesuatu yang keluar mungkin. Tujuannya apa? Tujuannya supaya kita mempersiapkan diri. “Mau sebentar lagi berarti akan melahirkan. Oh, berarti harus persiapan.” Mungkin sewaktu-waktu harus dibawa ke rumah sakit. Segala sesuatu dipersiapkan karena memang sudah Allah Subhanahu wa Ta’ala nampakkan tanda-tandanya.
Bapak Ibu sekalian, maka As-Sa’ah (tiupan sangkakala yang pertama) Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebelumnya tanda-tanda tersebut. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengabarkan kepada kita tanda-tandanya. Ada di antara tanda-tanda dekatnya As-Sa’ah yang sudah terjadi, dan dia adalah tanda-tanda As-Sa’ah yang kecil dan jumlahnya banyak.
Di antaranya adalah diutusnya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini termasuk di antara tanda-tanda dekatnya As-Sa’ah, karena beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah nabi yang terakhir. Maka umat beliau adalah umat yang terakhir di antara umat-umat yang hidup di dunia ini. Berarti mereka adalah yang paling dekat dengan As-Sa’ah. Munculnya dan diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menunjukkan tentang dekatnya As-Sa’ah. Nah, sudah berlalu tanda ini kurang lebih 1400 tahun yang lalu dan kita terus berjalan mendekati As-Sa’ah.
Terbelahnya bulan menjadi dua bagian, dan telah terjadi yang demikian di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Benar-benar bulan terbagi menjadi dua. Dilihat oleh manusia baik yang ada di Makkah maupun yang ada di luar Makkah. Saat itu sempat orang-orang musyrikin Quraisy menganggap bahwasanya ini adalah sihir yang dilakukan oleh Muhammad, karena mereka juga mengenal sihir. Menganggap bahwasanya Muhammad telah mensihir mata-mata mereka sehingga seakan-akan melihat bulan itu menjadi dua bagian.
Akhirnya disampaikan kepada mereka, “Besok pagi kita lihat, kita tanya orang yang baru datang dari luar Makkah, rombongan pedagang, rombongan musafir. Kita tanya mereka, apakah mereka melihat tadi malam bulan yang terbelah menjadi dua?” Kenapa perlu ditanyakan yang demikian? Karena yang namanya sihir itu pengaruhnya bukan se-satu bumi, paling satu kampung, satu rumah. Sehingga perlu ditanyakan kepada orang yang datang dari luar kota Makkah pagi harinya. Akhirnya mereka pun bertanya kepada mereka, “Apakah kalian melihat tadi malam bulan yang terbelah menjadi dua?” Jawaban mereka sama: “Iya, kami melihat bulan terbelah menjadi dua.”
Dan ilmu pengetahuan telah menemukan di bulan bekas yang sangat jelas yang menunjukkan bahwasanya bulan pernah terbelah menjadi dua. Dan itu terjadi di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kurang lebih 1400 tahun yang lalu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
“Telah dekat As-Sa’ah (hari kiamat) dan telah terbelah bulan.” (QS. Al-Qamar: 1)
Ini menunjukkan bahwasanya terbelahnya bulan ini termasuk di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat. Dan masih banyak lagi. Yang beliau inginkan di sini bahwa Asyratus Sa’ah (tanda-tanda dekatnya hari kiamat) itu ada di antaranya perkara-perkara yang gaib yang belum terjadi. Dan perkara-perkara tersebut adalah perkara-perkara yang besarnya. Sebagian besarnya sudah terjadi dan dilihat oleh manusia.
Perkara yang gaib, dan yang kedua dia adalah perkara-perkara yang kebanyakannya di luar kebiasaan manusia. Yang ini mungkin bagi orang yang lemah imannya bisa saja dia mendustakan dan tidak percaya karena lemah iman, mendudukkan akal tidak pada tempatnya. Maka di sini beliau menyebutkan contoh-contohnya.
مِثْلُ خُرُوجِ الدَّجَّالِ
“Seperti keluarnya Dajjal.”
Maka ini di antara tanda-tanda dekatnya hari kiamat dan dia adalah tanda-tanda yang besar. Dajjal (الدَّجَّالُ) secara bahasa artinya adalah pendusta yang besar, dan dia adalah seorang manusia. Keluarnya Dajjal, karena saat ini dia dalam keadaan diborgol, berada di sebuah pulau yang kita tidak tahu di mana pulau tersebut, sebagaimana hal ini telah datang di dalam hadis yang sahih. Dan kelak suatu saat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengizinkan Dajjal untuk keluar dan membawa fitnah yang besar di dalam sejarah manusia.
Mungkin dari sini pun orang yang lemah imannya bertanya, “Masakan dia sekarang di sebuah pulau yang tidak diketahui di mananya? Padahal manusia sudah memiliki teknologi yang canggih, semua tempat bisa diketahui.” Sehingga ada di antara mereka mungkin yang dari sini saja mereka sudah meragukan tentang kabar Dajjal ini. Adapun orang yang beriman, maka mereka yu’minuna bil ghaib (يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ). Mereka beda dengan orang-orang yang lain. Mereka beriman dengan sesuatu yang gaib karena hadis menyatakan bahwasanya dia ada.
Sebagian sahabat bahkan pernah bertemu di pulau tersebut ketika dahulu dia dalam keadaan masih sebagai seorang Nasrani, kemudian masuk Islam dan menceritakan kisah ini kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membenarkan bahwasanya itu adalah Dajjal. Ada di dalam Sahih Muslim, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ خَلْقٌ أَكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ
“Tidak ada fitnah (perkara) antara penciptaan Nabi Adam ‘Alaihissalam sampai datangnya As-Sa’ah yang lebih besar daripada fitnah Dajjal ini.”
Mungkin kita mengikuti, merasakan, bahkan menghadapi fitnah-fitnah di dunia ini yang mencekam, menakutkan, menggelisahkan; itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan fitnah yang akan dibawa oleh Dajjal. Ini Dajjal artinya adalah pendusta.
Sebelum keluarnya Dajjal, manusia ditimpa oleh kemarau yang panjang. Bertahun-tahun tidak ada air, tidak ada tumbuhan, hidup dalam keadaan kesusahan, kekeringan. Kemudian di masa itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan Dajjal untuk keluar. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji manusia, memberikan kepada Dajjal beberapa kelebihan yang dengannya diketahui siapa yang beriman kepada Allah, beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan siapa yang beriman kepada Dajjal.
Dajjal tersebut mengaku sebagai Rabb. Di saat manusia dalam keadaan kekurangan, dia mengatakan kepada langit, “Turunlah hujan.” Maka turun hujan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan langit untuk menurunkan hujan ketika Dajjal mengatakan “Turunkan hujan.” Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menurunkan, bukan Dajjal. Tapi ketika dia mengatakan “Turunlah,” maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan hujan tersebut turun. Kemudian ketika Dajjal mengatakan, “Tumbuhkan wahai bumi, tumbuhkan,” maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan bumi untuk menumbuhkan tanamannya.
Setelah bertahun-tahun manusia tidak melihat hujan turun, tidak melihat tumbuhan yang tumbuh, antum bayangkan bagaimana besarnya fitnah saat itu manusia dalam keadaan kekurangan. Kemudian datang Dajjal dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kelebihan-kelebihan tadi. Banyak orang yang mengira bahwa dia adalah Rabb. Siapa mereka? Mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah Azza wa Jalla. Ini juga di antara perkara yang mungkin di luar kebiasaan manusia. “Masakan sih tinggal mengatakan wahai langit turunkan hujan terus turun hujan, wahai bumi tumbuhkan tanaman terus tumbuh tanaman?” Orang yang mengedepankan akal di atas dalil, maka dengan mudahnya dia mengingkari kabar-kabar seperti itu.
Kalau memang ini adalah sahih, maka pasti akan terjadi dan tidak ada keraguan sedikit pun sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Terfitnah manusia sehingga orang-orang munafik, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, mereka akan mengikuti Dajjal ini karena mereka tidak mengenal Allah, tidak mengenal sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adapun orang-orang yang beriman, yang mereka mau belajar mempelajari nama dan juga sifat Allah, mempelajari Al-Qur’an dan juga hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menguatkan hati mereka. Allah akan jadikan setiap orang yang beriman bisa membaca di antara dua mata Dajjal akan tertulis Kafarah (ك ف ر) atau Kafir. Yang bisa membacanya hanya orang yang beriman saja. Orang yang tidak beriman tidak akan bisa membaca. Ini sesuatu yang aneh lagi. Bagaimana sesuatu yang jelas kita sama-sama melihat, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala bedakan; orang yang beriman bisa membaca sementara orang yang tidak beriman tidak bisa membacanya. Tapi itu dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang harus kita yakini, itu sesuatu yang bukan berat dan bukan sulit bagi Allah.
وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan Allah Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.”
Kabar-kabar yang luar biasa tentang masalah Dajjal ini, sekali lagi orang yang lemah imannya dengan mudahnya dia mendustakan. Dia mengatakan bahwasanya Dajjal itu sebenarnya yang dimaksud adalah Amerika, misal. Dajjal yang dimaksud adalah teknologi yang membawa kerusakan bagi manusia dan seterusnya. Mengingkari tentang keberadaan Dajjal, karena mereka melihat hadis-hadis, berita-berita, khabar-khabar yang berkaitan dengan Dajjal tidak masuk akal mereka, sehingga mereka pun mengingkari yang demikian. Makanya ini dijadikan oleh beliau sebagai salah satu di antara contoh perkara-perkara yang harus kita imani, baik kita menyaksikan sendiri atau kita tidak menyaksikan, baik masuk ke dalam akal kita maupun tidak masuk di dalam akal kita.
Kemudian kabar yang kedua:
وَنُزُولُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَيَقْتُلُهُ
“Dan turunnya Nabi Isa bin Maryam ‘Alaihissalam kemudian membunuhnya (Dajjal).”
Yang kedua adalah turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam. Turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam kemudian membunuh Dajjal, ini juga termasuk tanda-tanda besar datangnya As-Sa’ah. Disebutkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di sana ada sepuluh yang merupakan tanda-tanda besar. Dan sepuluh perkara ini kalau sudah keluar satu, maka yang lainnya akan beruntun. Kalau sudah keluar satu, maka yang lainnya akan beruntun muncul.
Ada di antara sepuluh tanda ini yang kalau kita melihat dalil, jelas urutannya karena memang ada dalilnya. Dan ada di antaranya yang kita tidak bisa memastikan bahwasanya yang ini datang setelah ini, karena tidak ada dalil yang menjelaskan yang demikian. Sehingga yang jelas urutannya, ya kita sebutkan urutannya. “Oh, ini keluar setelah ini.” Tapi yang tidak jelas urutannya jangan sampai kita berani memastikan bahwasanya ini datangnya setelah ini kalau memang tidak ada di sana dalil yang jelas.
Turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam urutannya adalah setelah keluarnya Dajjal. Dajjal setelah selama satu tahun berada di bumi, dan apa yang tadi kita ceritakan di antara keajaiban-keajaibannya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan Nabi Isa ‘Alaihissalam. Kenapa dinamakan dengan Nuzul atau turun? Karena saat ini Nabi Isa ‘Alaihissalam berada di atas, berada di langit dalam keadaan hidup belum meninggal dunia. Dahulu orang-orang Yahudi berusaha membuat makar dan membunuh Nabi Isa ‘Alaihissalam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan:
وَرَافِعُكَ إِلَيَّ
“Dan mengangkatmu kepada-Ku.” (QS. Ali Imran: 55)
بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ
“Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang mengangkat beliau kepada-Nya (yaitu kepada Allah).” (QS. An-Nisa: 158)
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan satu orang—ada yang mengatakan itu adalah muridnya Nabi Isa, ada yang mengatakan itu adalah musuhnya Nabi Isa—dijadikan dia serupa dengan Nabi Isa ‘Alaihissalam, sehingga dialah yang disalib, dialah yang dibunuh. Bukan Nabi Isa ‘Alaihissalam yang disalib, bukan Nabi Isa yang dibunuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan Nabi Isa ‘Alaihissalam dan mengangkat Nabi Isa ‘Alaihissalam ke atas dan sekarang beliau masih hidup.
Kelak sebelum hancurnya dunia ini, sebelum selesainya dunia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan Nabi Isa ‘Alaihissalam, karena ini Sunnatullah. Semua manusia itu meninggalnya di bumi. Semua manusia meninggalnya di bumi. Sekarang Nabi Isa di atas dan nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan turunkan dan menjadikan turunnya Nabi Isa ini sebagai salah satu di antara tanda-tanda dekatnya As-Sa’ah.
Ini saja sudah merupakan keajaiban. Ini sesuatu yang di luar kebiasaan manusia. Ya, manusia berada di bumi, tidak ada yang naik ke atas atau turun dari langit. Turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam sesuatu yang gaib sekarang ini dan dia adalah sesuatu yang di luar kebiasaan manusia, dalilnya sahih. Maka harus kita imani. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ
“Dan sesungguhnya dia (maksudnya adalah turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam) adalah termasuk tanda dekatnya As-Sa’ah.” (QS. Az-Zukhruf: 61)
Sebagaimana ini ditafsirkan oleh Abdullah Ibnu Abbas ketika beliau menafsirkan ayat ini yang ada dalam surah Az-Zukhruf. Maksud dari ayat itu adalah turunnya Nabi Isa. Wa innahu la’ilmun lis sa’ah, sesungguhnya dia turunnya Nabi Isa adalah termasuk tanda dekatnya As-Sa’ah.
Beliau turun di saat kaum muslimin dalam keadaan genting-gentingnya menghadapi Dajjal. Mereka dikepung berada di Baitul Maqdis. Dan kaum muslimin saat itu bersama Imam Mahdi. Imam Mahdi dia termasuk keturunan Hasan bin Ali, cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Turun Nabi Isa ‘Alaihissalam di waktu subuh, itu menjelang manusia atau kaum muslimin akan melakukan salat subuh.
Kemudian hampir-hampir kaum muslimin mereka mempersilakan Nabi Isa ‘Alaihissalam untuk mengimami. Tetapi beliau menyuruh atau meminta supaya Imam Mahdi dialah yang mengimami kaum muslimin saat itu. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan:
كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ
“Bagaimana kalian jika turun Ibnu Maryam (yaitu Nabi Isa ‘Alaihissalam) di tengah-tengah kalian, dan imam kalian saat itu adalah dari kalian (maksudnya adalah Imam Mahdi).” (HR. Bukhari & Muslim)
Imam Mahdi yang jadi imam dan Nabi Isa ‘Alaihissalam beliau berada di belakang menjadi makmum. Beliau turun sebagai salah satu di antara umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Syariatnya Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berhukum kepada Al-Qur’an, kepada hadis, melaksanakan ibadah sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Karena ini janji, janji dari setiap nabi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengambil janji kepada mereka semuanya. Kalau kalian menemui Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka kalian harus mengikuti syariatnya. Seandainya Nabi Musa hidup dan menemui Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka beliau akan mengikuti. Seandainya Nabi Ibrahim atau Nabi Hud atau Nabi Saleh dan nabi-nabi yang lain mereka menemui Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan mereka masih hidup, maka tidak ada jalan bagi mereka kecuali menjadi pengikut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Beliau akan salat di belakang Imam Mahdi. Setelah salat, maka beliau keluar dari masjid membawa tombaknya kemudian menghampiri Dajjal. Dan Dajjal ketika dia melihat Nabi Isa ‘Alaihissalam, disebutkan dalam hadis hampir-hampir meleleh habis, hampir-hampir meleleh habis seperti melarutnya garam. Kemudian Nabi Isa pun mendekat dan mendekat dan membunuh Dajjal, dan manusia melihat keluarnya darah dari Dajjal. Barulah setelah itu mereka sadar, mereka telah ditipu oleh pembohong besar yang bernama Dajjal. Ternyata dia bukan Rabb, buktinya dia mati, buktinya dia keluar dari dirinya darah.
Setelah itu kaum muslimin mereka memerangi orang-orang yang bersama Dajjal, memerangi orang-orang Yahudi. Dan saat itu batu dan juga pepohonan membantu kaum muslimin. Dan disebutkan di dalam hadis, setiap ada orang Yahudi yang berusaha untuk sembunyi—karena mereka ini pengecut—sembunyi di belakang batu atau di belakang pohon, maka batu dan pohon tadi akan berkata. Berkata sebagaimana manusia berucap didengar oleh kaum muslimin dan dipahami maknanya, dan mengatakan:
يَا مُسْلِمُ، تَعَالَ، هَذَا وَرَائِي يَهُودِيٌّ فَاقْتُلْهُ
“Wahai Muslim, ke sini kamu! Di belakangku ada orang Yahudi, maka bunuhlah dia.”
Ini kabar yang gaib, sesuatu yang di luar kebiasaan manusia. Tapi itu dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka kabar yang demikian harus kita imani. Nabi Isa ‘Alaihissalam akan turun sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kemudian:
وَخُرُوجُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ
“Dan keluarnya Ya’juj dan Ma’juj.”
Dan keluarnya Ya’juj dan juga Ma’juj (يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ) ini juga merupakan tanda-tanda dekatnya As-Sa’ah. Keluarnya dia setelah turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam. Makanya di sini oleh Ibnu Qudamah beliau urutkan: keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam, kemudian keluarnya Ya’juj dan juga Ma’juj.
Ya’juj dan juga Ma’juj ini adalah termasuk umat manusia, keturunan Nabi Adam ‘Alaihissalam. Dia bukan dari kalangan jin. Dajjal juga bukan dari kalangan jin. Mereka adalah manusia keturunan Nabi Adam ‘Alaihissalam. Dan dua umat manusia ini sudah ada sejak zaman dahulu, sejak zaman Zulkarnain, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan di dalam surah Al-Kahfi. Dan sejak dahulu mereka ini sukanya membuat kerusakan di permukaan bumi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan rahmat-Nya melindungi manusia saat itu dari keburukan Ya’juj dan juga Ma’juj. Zulkarnain, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Kahfi, membuat sebuah dinding raksasa besar tebal yang terbuat dari besi dan juga tembaga untuk mencegah keluarnya Ya’juj dan juga Ma’juj sementara waktu sampai waktu yang ditentukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dan setiap hari, disebutkan dalam hadis yang sahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, mereka ini berusaha untuk menggali, berusaha untuk melubangi, berusaha untuk keluar dan membuat kerusakan di permukaan bumi sampai akhirnya nanti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengizinkan mereka untuk keluar. Dan di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengabarkan bahwa dinding tersebut sudah terbuka sedikit. Dinding tersebut sudah terbuka sedikit seperti lingkaran yang dibentuk ibu jari dengan jari telunjuk. Seperti lingkaran yang dibuat oleh ibu jari dan juga jari telunjuk, itu di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan nanti kalau sudah mendekat datangnya As-Sa’ah, maka dinding tersebut akan hancur. Akhirnya mereka pun akan keluar.
فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا
“Apabila datang janji Rabbku maka Dia (Allah) akan menghancur-leburkan dinding tersebut. Dan janji Rabbku adalah benar.” (QS. Al-Kahfi: 98)
وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ
“Maka Kami akan biarkan mereka di hari tersebut bercampur antara satu dengan yang lain.” (QS. Al-Kahfi: 99)
Ini kabar yang juga menurut sebagian orang tidak masuk akal. Karena mereka berarti sekarang ini ada dan jumlah mereka banyak. Mereka berada di bumi, di daratan. Tapi tidak ada di antara kita yang mengetahui di mana posisi Ya’juj dan juga Ma’juj sekarang ini. Tapi harus kita yakini keberadaan mereka. Seperti tadi, mungkin ada sebagian yang mengatakan semua titik yang ada di bumi ini sudah diketahui di Google Map ya atau Google Earth. Mungkin ada sebagian yang mengingkari dengan sebab adanya teknologi yang dibuat oleh manusia.
Tapi kita yakin bahwasanya makhluk-makhluk tersebut ada saat ini dan akan keluar di saat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengizinkan. Kalau mereka sudah keluar, maka mereka akan keluar dengan cepatnya.
حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ
“Hingga apabila dibuka Ya’juj dan juga Ma’juj dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.” (QS. Al-Anbiya: 96)
Apa yang mereka lakukan setelahnya? Mereka akan membuat kerusakan di bumi ini, dan keluarnya mereka inilah yang termasuk tanda-tanda dekatnya As-Sa’ah. Adanya mereka bukan berarti termasuk tanda dekatnya As-Sa’ah, karena mereka sudah ada sekarang, tapi keluarnya mereka maka inilah yang termasuk tanda-tanda As-Sa’ah yang kubra (besar).
Mereka akan membuat kerusakan di bumi dan jumlah mereka adalah sangat banyak. Jumlah mereka sangat banyak. Dibandingkan dengan kaum muslimin bersama Nabi Isa ‘Alaihissalam, maka tidak ada apa-apanya. Sehingga Allah pun mengabarkan kepada Nabi Isa ‘Alaihissalam:
إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لَا يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ، فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ
“Aku telah mengeluarkan hamba-hamba-Ku (atau sebagian makhluk-Ku) yang tidak mungkin ada seorang pun di permukaan bumi yang bisa menghadapi mereka (memerangi mereka). Maka kumpulkanlah hamba-hamba-Ku (yaitu kaum muslimin) di Gunung Tur.” (HR. Muslim)
Akhirnya Nabi Isa pun membawa kaum muslimin naik ke atas Gunung Tur dan tidak memerangi Ya’juj dan juga Ma’juj. Ini menunjukkan bahwasanya terkadang yang namanya jihad di jalan Allah, kaum muslimin mendapatkan uzur dan mereka tidak wajib untuk berjihad. Kenapa? Di antaranya adalah ketidakmampuan mereka. Karena di sini jumlahnya sangat tidak sebanding. Jumlah Ya’juj dan Ma’juj ini sangat banyak sekali.
Sehingga disebutkan di dalam hadis bahwasanya ketika mereka berjalan bersama kemudian mereka melewati sebuah sungai yang tentunya penuh dengan air, kemudian bagian depannya mereka minum dari sungai tersebut, air sungai tersebut kering. Air sungai tersebut kering. Sehingga bagian belakang ketika mereka baru sampai, mereka sudah melihat sungai yang kering, tidak ada air sama sekali. Kemudian mereka mengatakan, “Dahulu di sini ada airnya,” karena sudah habis diminum oleh Ya’juj dan Ma’juj bagian depannya saja, belum yang belakang meminumnya. Ini menunjukkan tentang banyaknya Ya’juj dan juga Ma’juj.
Membuat kerusakan di permukaan bumi, ini juga sesuatu yang banyaknya mereka ini juga sesuatu yang di luar kebiasaan manusia. Mereka berusaha untuk membuat kerusakan sehingga manusia saat itu mereka bersembunyi di benteng-benteng mereka, berusaha membuat kerusakan sebanyak-banyaknya. Pokoknya ingin merusak, merusak, dan merusak. Sampai akhirnya mereka mengatakan, “Kita telah membunuh penduduk bumi.” Menunjukkan bahwasanya mereka berusaha untuk membuat kerusakan yang sebanyak-banyaknya di bumi ini.
Sebagaimana dahulu ketika di zaman Zulkarnain sebelum dibuat dinding raksasa, sampai akhirnya mereka berniat untuk merusak yang ada di langit dan mengatakan, “Maka marilah kita membunuh penduduk langit.” Demikian jiwa perusak yang dimiliki oleh Ya’juj dan juga Ma’juj. Kemudian mereka pun mengarahkan anak panah mereka ke atas dan melemparkan anak panah mereka. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembalikan anak panah tersebut menuju ke bumi kembali dalam keadaan sudah berlumuran darah. Dalam keadaan sudah berlumuran darah. Mereka melihat anak panah mereka berlumuran darah. Bukan berarti dia sampai ke langit kemudian mengenai sesuatu, tidak. Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang dengan Qudrah-Nya mengembalikan anak panah tersebut dan Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan anak panah tersebut berlumuran darah. Sehingga mereka pun mengatakan, “Kita telah mengalahkan penduduk langit.” Habis penduduk bumi dan mereka sudah mengalahkan penduduk langit.
Perkara-perkara yang gaib dan dia adalah sesuatu yang hak yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam hadis-hadis yang sahih, harus kita benarkan. Sampai akhirnya Nabi Isa ‘Alaihissalam bukan berhenti kemudian tidak mengambil sebab. Apa yang bisa mereka lakukan, mereka lakukan. Berperang mereka mendapatkan uzur, dimaafkan, tidak diwajibkan untuk berjihad karena Ya’juj dan juga Ma’juj orang-orang kafir, dan Nabi Isa ‘Alaihissalam bersama pengikut beliau mereka adalah orang-orang muslim. Tidak diwajibkan berperang karena mereka tidak mampu. Apa yang mereka lakukan? Berdoa. Meminta kepada Allah supaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menghancurkan Ya’juj dan juga Ma’juj.
Sampai akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa mereka. Menurunkan ulat, makhluk yang kecil di leher-leher Ya’juj dan juga Ma’juj sehingga meninggallah mereka dalam satu waktu. Bapak Ibu sekalian, ini menunjukkan tentang luar biasanya doa. Dia bisa mengubah sesuatu yang mungkin hampir tidak mungkin menjadi sesuatu yang mungkin terjadi. Jangan kita menyepelekan seperti yang diucapkan oleh sebagian, “Ah, kalian bisanya cuma doa saja. Kalian tidak mau berperang, kalian tidak mau berjihad.” Maka ini ucapan yang besar meremehkan yang namanya doa. Mungkin doa satu orang yang dia mustajab doanya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menghancurkan dengannya pasukan orang-orang kafir yang demikian banyaknya.
Maka seseorang ketika dia tidak diwajibkan untuk berjihad karena satu dan lain hal, ketidakmampuan, karena uzur yang lain, maka dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta kepada Allah supaya Allah menghancurkan musuh-musuh agama ini.
Meninggallah Ya’juj dan juga Ma’juj. Kemudian turunlah Nabi Isa ‘Alaihissalam dan juga kaum muslimin dari Gunung Tur. Kemudian mereka mendapatkan jasad-jasad, mayat-mayat Ya’juj dan juga Ma’juj yang demikian banyaknya. Sampai disebutkan dalam hadis, “Tidaklah mendapatkan satu jengkal tanah kecuali di situ ada bangkai Ya’juj dan juga Ma’juj.” Bangkai. Dan kita tahu bangkai akan mengeluarkan bau busuk, akan merusak kesehatan manusia. Mau menguburkan mereka bukan sesuatu yang mudah ya. Bagaimana mereka menguburkan manusia atau bangkai yang jumlahnya sekian banyak? Kapan selesainya?
Maka dalam keadaan seperti itu kembali mereka mengangkat tangan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan demikian seorang muslim dalam keadaan apapun dia meminta kepada Allah dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meminta kepada Allah supaya Allah Subhanahu wa Ta’ala membersihkan jasad-jasad Ya’juj dan juga Ma’juj.
Akhirnya Allah pun mengirimkan burung-burung yang membawa bangkai-bangkai Ya’juj dan juga Ma’juj. Allah kirimkan Junuduhu (pasukan-pasukan-Nya). Itu adalah sesuatu yang sangat mudah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah datangkan burung-burung yang membawa bangkai-bangkai tersebut. Dan ini terdapat di dalam hadis yang sahih yang harus kita benarkan. Kemudian setelahnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan hujan yang membersihkan bumi kembali sehingga bersih. Tidak ada bangkai-bangkai Ya’juj dan juga Ma’juj, bekas darah mereka atau bau mereka. Maka bumi menjadi hidup kembali seperti sebelumnya, normal.
Dan disebutkan dalam hadis:
سَيُوقِدُ الْمُسْلِمُونَ مِنْ قِسِيِّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَنُشَّابِهِمْ وَأَتْرِسَتِهِمْ سَبْعَ سِنِينَ
“Kaum muslimin akan menggunakan bekas busur anak panah, tameng kayu Ya’juj dan juga Ma’juj sebagai kayu bakar selama 7 tahun.” (HR. Ibnu Majah)
Mereka meninggal dunia meninggalkan senjata-senjata tersebut, anak panah beserta dengan busurnya kemudian juga tameng kayu mereka. Itu dikumpulkan oleh kaum muslimin dan dijadikan sebagai kayu bakar tidak habis selama 7 tahun. Ini menunjukkan tentang banyaknya, menunjukkan bahwasanya kelak manusia akan kembali ke adanya sebelum ditemukannya teknologi seperti sekarang ini. Perang pun kelak akan menggunakan peralatan-peralatan sederhana tersebut. Mereka memasak pun menggunakan kayu bakar sebagaimana dahulu.
Sehingga guru kami Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Hafizhahullahu Ta’ala menyebutkan, itu bukan sesuatu yang sulit bagi Allah Azza wa Jalla menghancurkan teknologi yang sekarang ini kita bangga-banggakan dalam sekejap saja. Kemudian manusia akhirnya kembali kepada zaman tradisional. Semuanya serba tradisional. Sekarang kita ada internet, ada listrik, ada ATM dan lain-lain. Bukan sesuatu yang sulit bagi Allah untuk mengembalikan kita kepada zaman dahulu dalam waktu yang sekejap.
Dan itu pernah dibicarakan oleh sebagian. Karena manusia lama-kelamaan akan bergantung kepada sesuatu. Ya, semuanya serba canggih, semuanya serba terhubung. Seandainya sesuatu tadi dihilangkan saja, maka manusia akan kembali kepada zaman sebelumnya. Listrik yang sekarang kita gunakan apa-apa semuanya pakai listrik. Di rumah, di kantor, di jalan. Kalau tidak ada listrik ya laptop enggak hidup, HP enggak hidup, kamera juga enggak hidup. Ya, kalau tidak ada listrik, kantor-kantor juga tidak akan bisa bekerja. Warung-warung, toko-toko juga tidak akan hidup. Semuanya tergantung dengan listrik. Sehingga seandainya karena satu sebab manusia kehilangan listrik, maka semuanya akan kembali kepada kehidupan tradisional.
Sehingga seorang muslim tentunya jangan sampai dia terperdaya dan jangan sampai juga dia terlalu tergantung dengan peralatan-peralatan seperti ini. Karena kita tidak tahu apa yang terjadi di dunia penuntut ilmu. Kita pun masih meskipun sekarang ada buku-buku PDF, sekarang semuanya ada di internet ada Google dan lain-lain, tetap kita menasihatkan mereka untuk beli buku ya, beli buku, belajar tulis karena kita tidak tahu apa yang terjadi di masa yang akan datang. Adapun orang yang dia masih memperhatikan masalah buku ini, maka meskipun nanti sudah misalnya tidak bisa buka internet, tidak ada listrik, maka dia masih bisa belajar. Ini tentang Ya’juj dan juga Ma’juj termasuk di antara tanda-tanda dekatnya As-Sa’ah.
Kemudian yang beliau sebutkan di sini adalah:
وَخُرُوجُ الدَّابَّةِ
“Dan keluarnya Ad-Dabbah (hewan melata).”
Keluarnya Ad-Dabbah, yaitu hewan yang melata. Keluar dari mana? Keluar dari dalam bumi. Dan ini sesuatu yang juga di luar kebiasaan manusia. Ya, misalnya keluar sapi misalnya dari dalam bumi, sesuatu yang aneh ya. Ini keluar hewan melata dari bumi kemudian menambah keanehan lagi ternyata hewan tersebut bisa berbicara. Bisa berbicara sebagaimana manusia bisa berbicara.
وَإِذَا وَقَعَ الْقَوْلُ عَلَيْهِمْ أَخْرَجْنَا لَهُمْ دَابَّةً مِنَ الْأَرْضِ تُكَلِّمُهُمْ أَنَّ النَّاسَ كَانُوا بِآيَاتِنَا لَا يُوقِنُونَ
“Dan apabila telah datang keputusan atas mereka, maka Kami akan keluarkan untuk mereka seekor hewan melata dari bumi yang berbicara kepada manusia bahwa manusia dahulu tidak yakin dengan ayat-ayat Kami.” (QS. An-Naml: 82)
Dan ini adalah termasuk di antara tanda-tanda dekatnya As-Sa’ah yang kubra. Dan disebutkan dalam hadis bahwasanya hewan ini akan keluar di waktu duha menandai orang yang kafir di hidungnya sebagai tanda kekafiran dia. Sehingga orang-orang kafir saat itu sudah diketahui dari tanda tersebut. Ini berarti orang kafir yang tidak ada tandanya berarti dia adalah seorang muslim. Akan keluar seekor hewan melata dan akan menandai manusia pada hidung-hidung mereka.
Kemudian yang selanjutnya adalah:
وَطُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Dan terbitnya matahari dari arah tenggelamnya (barat).”
Keluarnya matahari dari arah tenggelamnya. Tenggelam matahari, kemudian di hari setelahnya ternyata dia keluar dari arah tenggelamnya. Yang biasanya Sunnatullah Azza wa Jalla menjadikan matahari tenggelam di arah magrib kemudian keluarnya dari arah masyrik, dari arah timur. Tapi di hari tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengizinkan matahari untuk muncul dari arah masyrik dan menyuruh matahari untuk kembali, ya untuk kembali dari tempat dia datang, yaitu dari arah tenggelamnya, arah barat.
Akhirnya terbitlah matahari dari arah tenggelamnya, dari arah barat. Sehingga manusia saat itu yang tentunya ini adalah sudah berabad-abad, beribu-ribu tahun di pagi hari mereka menunggu matahari terbit. Ternyata mereka melihat kok tidak terbit-terbit, kok tidak muncul dari timur, tiba-tiba munculnya dari arah barat.
Maka ini sesuatu yang tentunya sangat besar di mata manusia. Bagaimana sesuatu yang sudah terjadi selama ribuan tahun matahari berputar tenggelam dari arah barat dan terbit dari arah timur, tiba-tiba mereka lihat terbitnya dari arah barat. Sesuatu yang sangat mencengangkan mereka. Sehingga banyak di antara mereka yang setelah melihat matahari terbit dari arah barat, mereka pun beriman. Baru yakin bahwasanya hari kiamat itu ada, baru yakin bahwasanya agama Islam itu benar, tetapi sudah tertutup pintu tobat.
Kalau sudah matahari terbit dari arah barat, maka tidak akan bermanfaat seorang mengatakan “Sekarang saya beriman.” Tidak akan bermanfaat. Kemarin-kemarin kenapa tidak beriman? Sekarang ketika melihat matahari terbit dari arah barat baru mengatakan beriman.
هَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ ۗ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا
“Apakah mereka tidak menunggu-nunggu kecuali datangnya malaikat kepada mereka atau datangnya Rabbmu atau datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu? Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu (maksudnya adalah terbitnya matahari dari barat), tidak berguna lagi keimanan seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (QS. Al-An’am: 158)
Maka tidak akan bermanfaat keimanan seseorang saat itu. Dan tidak akan bermanfaat orang yang baru beramal setelah dia melihat matahari terbit dari barat. Jadi seandainya ada orang Islam pun dia baru beramal setelah melihat matahari terbit dari barat, maka ini juga tidak akan bermanfaat. Siapa yang bermanfaat? Orang yang sudah istiqamah. Sebelum terbitnya matahari dari arah barat, dia sudah istiqamah. Kemudian terbit matahari dari arah barat dan dia terus beramal saleh, maka ini yang bermanfaat. Adapun baru sadar setelah matahari terbit dari barat, maka tidak akan bermanfaat yang demikian.
Di dalam sebuah hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Barang siapa yang bertobat sebelum terbitnya matahari dari barat, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menerima tobatnya.” (HR. Muslim)
Tentunya ini adalah perkara yang besar, Bapak Ibu sekalian. Dan ini dibawakan oleh beliau sebagai contoh di antara kabar-kabar gaib yang terjadi di masa yang akan datang yang mungkin ada sebagian manusia yang mereka meragukan atau mendustakan kabar tersebut karena menganggap ini adalah sesuatu yang tidak masuk di dalam akal mereka.
وَأَشْبَاهُ ذَلِكَ مِمَّا صَحَّ بِهِ النَّقْلُ
“Dan yang semisalnya yang telah sahih dengannya penukilan.”
Ada di antara ulama yang mereka mengatakan bahwa keluarnya matahari atau terbitnya matahari dari arah barat itu adalah satu hari dengan keluarnya hewan melata yang tadi kita sebutkan. Jadi waktu duhanya itu adalah di hari ketika matahari terbit dari arah barat. Ada yang mengatakan demikian.
Beliau mengucapkan setelahnya “Wa asybahu dzalika” (dan yang semisal dengan ini semuanya), maksudnya adalah isyarat kepada tanda-tanda datangnya hari kiamat atau dekatnya hari kiamat yang lain. Karena di sini beliau hanya menyebutkan berapa tadi? Lima saja ya. Keluarnya Dajjal, kemudian turunnya Nabi Isa, keluarnya Ya’juj dan juga Ma’juj, kemudian keluarnya Dabbah, dan terbitnya matahari dari barat.
Nah, di sana ada yang lain dan tidak disebutkan oleh beliau di sini. Cuma kaidahnya sama. Kalau kita mendengar sebuah hadis, melihat sebuah dalil dan sahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam—mimma shahha bihin naqlu—maka harus kita benarkan. Karena di sana ada tanda-tanda yang lain seperti misalnya keluarnya asap, kemudian juga keluarnya api dari arah Yaman. Kemudian terjadi terbenamnya tanah secara besar-besaran di tiga tempat: di barat, di timur, dan juga di Jazirah Arab. Keluarnya api dari Yaman dan api tersebut nanti akan berjalan menggiring manusia. Berjalan menggiring manusia; ketika manusia berhenti maka dia berhenti, ketika manusia berjalan maka dia akan berjalan. Ini sesuatu yang ajaib, sesuatu yang di luar kebiasaan manusia dan itu akan terjadi sebagaimana dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Bapak, Ibu sekalian, itu adalah di antara beberapa berita dan juga khabar yang harus kita yakini. Dan masih ada contoh-contoh yang lain yang belum disebutkan setelahnya. Insyaallah kita bahas pada pertemuan yang akan datang. Masih ada waktu, mungkin ada pertanyaan berkaitan dengan materi bisa ditulis dengan kertas dan disampaikan ke depan.
Dari akhwat ada pertanyaan enggak? Ada. Baik. Ada yang mau tanya langsung silakan ya. Kasih mic. Pakai mic.1
TANYA JAWAB2
Penanya:3
Makasih, Pak Ustaz. Saya ingin menyampaikan pertanyaan mengenai kita memahami hadis Rasul itu benar, kita paham, kita art4inya kita percaya, sangat kita percaya dengan tadi yang disampaikan Rasul mengenai tanda-tanda akan adanya As-Sa’ah ini. Tapi bagaimana kalau kita dengan akal pikiran kita yang ada, kita memahaminya tidak secara apa adanya Ustaz? Gitu Ustaz, apa secara letterlek atau gimana? Tidak serada yang tertulis gitu, Ustaz.
Kita memahaminya mungkin dengan apa yang kita sudah pahami juga akal pikiran kita. Yang disebut Dajjal itu adalah manusia atau dia itu suatu kaum gitu. Kemudian juga yang disebut dengan adanya Ya’juj Ma’juj itu bukan seperti yang dibayangkan dia itu makhluk yang banyak gitu, tetapi mungkin entah berupa makhluk kecil-kecil gitu seperti kayak seperti virus Covid kemarin kan itu juga dia diyakini banyak gitu menyebar di bumi ini sehingga dia membuat manusia menjadi terkena penyakit gitu.
Kemudian juga misalnya ada makhluk melata yang tadi keluar bumi itu, kemudian kita memahaminya bukan seperti makhluk yang berkaki banyak gitu bukan, gitu. Mungkin kita memahaminya secara makhluk yang lain yang canggih gitu, Ustaz. Artinya gini, Ustaz. Kita memahami, kita meyakini itu hadis itu yang sampai Rasul itu benar. Kita yakin benar, tapi kita memahaminya, cara memahaminya karena Rasul kan juga menyampaikan secara artinya Rasul kita bilang enggak mungkin salah ya kan, tapi kita memahaminya dengan secara bukan yang apa ada tertulis itu Ustaz. Gimana Ustaz kalau kita demikian apakah kita termasuk orang yang dianggap sebagai yang menolak dalil Ustaz? Makasih, Pak Ustaz.
Jawaban:
Iya. Mungkin bisa dikatakan ini dinamakan dengan takwil, memahami atau mengartikan sebuah ayat atau sebuah hadis dengan sebuah pemahaman tertentu, sebuah makna tertentu.
Maka Bapak, Ibu sekalian, sebagaimana kita tahu bahwa Al-Qur’an ini turun dengan bahasa Arab dan hadis Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampai kepada kita dengan bahasa Arab. Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seorang Arabi dan beliau adalah orang yang paling fasih dengan bahasa Arab ini. Maka kita memahami Al-Qur’an dan juga hadis dengan bahasa Arab itu sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab, supaya kalian berakal.” (QS. Yusuf: 2)
Kita pahami Al-Qur’an dan juga hadis ini dengan bahasa Arab. Apa makna Dabbah di dalam bahasa Arab itu? Apa? Dan setiap kata yang disebutkan dalam ayat dan juga hadis di dalam bahasa Arab itu apa maknanya? Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita untuk memahami Al-Qur’an dan juga hadis yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bahasa Arab.
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran (Ulul Albab).” (QS. Shad: 29)
Sehingga ini juga poin yang harus kita perhatikan. Jangan sampai kemudian kita menggunakan akal kita, menggunakan pikiran kita, kemudian kita memikirkan, “Oh mungkin maksudnya adalah teknologi, oh mungkin makhluk maksudnya adalah virus.” Karena kata Dabbah dengan bahasa Arab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan atau Ya’juj dan juga Ma’juj misalnya dengan dalil-dalil yang telah sahih dengan sifat-sifat yang disebutkan, maka kita mengetahui bahwasanya itu adalah manusia, bahwasanya mereka membawa senjata, maka harus kita perhatikan satu poinnya ini.
Kemudian yang kedua, adakah di antara para sahabat, para tabiin, para tabiin yang mereka sudah ditazkiah, direkomendasi pemahaman mereka oleh Allah dan juga Rasul-Nya yang memahami dengan pemahaman seperti itu? Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Kalau mereka memahami seperti itu, maka silakan kita mengikuti pemahaman mereka. Kalau mereka tidak memahami demikian, maka jangan sampai kita memahami sesuatu yang berbeda dengan pemahaman para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Semua yang kita perlukan di dalam agama kita yang itu membawa kebahagiaan bagi kita di dunia dan juga di akhirat sudah dijelaskan semuanya. Tidak ada yang ditinggalkan.
Oleh karena itu, termasuk berpegang teguh dengan pemahaman para salaf di dalam memahami Al-Qur’an dan juga hadis ini termasuk jalan keselamatan bagi kita semua. Dan ini yang membedakan antara kita dengan Ahlul Ahwa, antara Ahlussunnah dengan Ahlul Ahwa. Karena Ahlussunnah baik lafaznya maupun maknanya kita berusaha untuk kembali kepada pemahaman para salaf. Adapun Ahlul Ahwa, maka sebagian mereka menggunakan ayat menggunakan hadis tetapi dari sisi pemahaman mereka tidak kembali kepada pemahaman para salaf. Dan ini yang menjadi sebab utama kesesatan orang yang sesat ketika mereka mulai memahami Al-Qur’an dan hadis bukan dengan pemahaman para salaf.
Adanya teknologi, kemudian juga apa yang terjadi misalnya bencana besar ya, Covid dan kerusakan-kerusakan yang terjadi, sesuatu yang kita semua tidak mengingkari. Tapi kita harus memahami itu semuanya dengan pemahaman yang benar. Jangan sampai kemudian kita gatuk-gatukkan, ya kita cocok-cocokkan. “Oh, ini maksudnya adalah demikian.” Karena sebagian orang terutama tentang masalah tanda-tanda dekatnya hari kiamat misalnya ya mereka berlebihan, sehingga kemudian mencocok-cocokkan ya bahwasanya keluarnya ini, dibangunnya ini, kemudian dan seterusnya. “Oh, ini maksudnya adalah di sini arahnya ke sana dan seterusnya.”
Untuk mengingatkan manusia dan menyadarkan mereka untuk beramal saleh kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, cukup seseorang apabila di dalam dirinya ada rasa takut kepada Allah, seandainya diingatkan tanda hari kiamat sudah bermunculan itu sudah menjadikan mereka takut. Ya, menjadikan mereka segera untuk sadar dan bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak perlu seseorang bertakaluf. Bahkan di antara takalufnya yang dibahas berulang-ulang yaitu itu saja. Ditambah lagi kadang menafsirkan sesuatu tidak pada tempatnya. Ini berlebihan ya. Ini berlebihan.
Dan seperti yang tadi kita sebutkan ya, kita cukup menyampaikan sebagaimana yang datang kepada kita tanpa kita membebani diri kita dengan sesuatu yang kita tidak tahu ilmunya.
Baik, itu yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan Insyaallah kita lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. Barakallahu Fikum.
Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Alihi wa Sahbihi Ajma’in.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.




