Kajian Kitab Lum’atul I’tiqad #18
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ.
Hadirin sekalian, Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat dan juga karunia-Nya. Tentunya nikmat yang senantiasa kita syukuri kepada Allah, dan nikmat yang paling besar adalah nikmat Islam dan juga nikmat iman. Kita berdoa semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghidupkan kita di atas iman dan mematikan kita di atas iman. Selawat dan salam semoga senantiasa Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai akhir zaman.
Masih kita bersama kitab Lum’atul I’tiqad Al-Hadi ila Sabilir Rasyad (لُمْعَةُ الْاِعْتِقَادِ الْهَادِي إِلَى سَبِيلِ الرَّشَادِ) yang ditulis oleh Ibnu Qudamah Al-Maqdisi. Setelah sebelumnya beliau menjelaskan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah beriman dengan seluruh apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahih dari beliau; baik yang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri, maupun sesuatu yang gaib yang belum terjadi dan belum kita saksikan.
Maka kita sebagai seorang muslim meyakini bahwa itu semua adalah Haq (benar). Itu semua adalah benar adanya. Tidak boleh ada sedikit pun di dalam hati kita keraguan terhadap apa yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena beliau tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Apa yang beliau sampaikan berupa perkara-perkara yang gaib adalah wahyu dari Allah. Barang siapa yang membenarkan beliau, berarti dia membenarkan Allah. Dan barang siapa yang mendustakan beliau, berarti dia mendustakan Allah.
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barangsiapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS. An-Nisa: 80)
Kemudian beliau setelahnya menyebutkan hal yang penting juga di dalam permasalahan ini. Baik yang kita pahami dengan akal kita maupun yang tidak bisa kita pahami dengan akal kita. Karena terkadang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan perkara-perkara yang di luar nalar manusia, tidak masuk di dalam akal manusia. Dan itu dikabarkan oleh beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Maka seandainya kita menemukan kabar-kabar yang sahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kalau kita kembali kepada akal maka tidak masuk di dalam nalar manusia, kewajiban kita adalah membenarkan apa yang beliau kabarkan. Kenapa demikian? Karena kita semuanya beriman bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang ‘Ala kulli syai-in qadir (عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ). Dialah yang Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.
Seorang yang beriman yang dia memikirkan apa yang ada di sekitarnya, kekuasaan Allah di dalam diri manusia sendiri, memperhatikan perjalanan matahari siang dan malam, maka dia akan mengetahui bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb kita adalah yang Maha Berkuasa. Dialah yang Maha Mampu untuk melakukan segalanya. Sesuatu yang di mata manusia itu adalah sesuatu yang sulit, maka itu adalah sangat mudah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka orang yang menyadari bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu, akan sangat mudah bagi dia untuk membenarkan apa yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Berbeda dengan orang yang tidak beriman.
Kemudian setelahnya beliau menyebutkan permisalan-permisalan, contoh-contoh dari berita-berita, kabar-kabar yang telah dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang harus kita benarkan. Itu adalah perkara yang luar biasa yang bagi akal yang rusak, ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Di antaranya kata beliau:
مِثْلُ حَدِيثِ الْإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ
“Seperti hadis tentang Isra dan juga Mikraj.”
Ini termasuk di antara kejadian yang luar biasa. Al-Isra (الْإِسْرَاءُ) artinya adalah perjalanan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Makkah menuju ke Al-Masjidil Aqsa, dan ini sudah terjadi. Ini adalah perjalanan yang di luar kebiasaan manusia. Karena zaman dahulu di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, orang yang melakukan perjalanan dari Makkah menuju ke Masjidil Aqsa ini memerlukan waktu kurang lebih satu bulan.
Dan di dalam peristiwa Al-Isra, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan itu dalam waktu yang tidak lama, kurang dari satu malam. Di saat itu tidak mungkin orang bisa melakukan yang demikian. Secepat apapun kuda berlari, maka tidak akan ada yang bisa melakukan perjalanan dari Makkah ke Masjidil Aqsa dalam waktu kurang dari satu malam. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam waktu yang sangat cepat. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” (QS. Al-Isra: 1)
Isra ini adalah kejadian yang benar-benar terjadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjalankan hamba-Nya. Dan yang dimaksud dengan ‘Abdihi (hamba-Nya) di sini adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kembali ke kota Makkah di malam itu juga. Datang Malaikat Jibril ‘Alaihissalam saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam keadaan tidur di kota Makkah. Kemudian beliau menaiki Al-Buraq, seekor hewan. Kemudian dari kota Makkah beliau pun dibawa ke Baitul Maqdis. Kemudian di Baitul Maqdis beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengimami para nabi.
Kemudian setelah itu beliau dimikrajkan. Hanya Isra saja itu merupakan perkara yang luar biasa. Dan Mikraj (الْمِعْرَاجُ) itu lebih luar biasa lagi. Bukan perjalanan dari satu daerah di bumi ke daerah yang lain di bumi, tapi Al-Mikraj adalah perjalanan dari bumi ke langit. Yang belum ada manusia yang sudah sampai ke sana, kecuali Nabi Isa ‘Alaihissalam yang telah diangkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Beliau mengatakan: Wal Mi’raj (dan peristiwa Al-Mikraj). Yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan sebagian dari kejadian dari Al-Mikraj ini di dalam surah An-Najm. Adapun di dalam hadis, maka di sana ada hadis yang sahih yang jelas menceritakan tentang bagaimana Mikrajnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan dengan terperinci menceritakan tentang apa yang beliau lihat, apa yang terjadi. Termasuk di antaranya adalah diwajibkannya salat lima waktu kepada beliau dan juga umatnya.
Al-Isra wal Mi’raj. Ini adalah di antara peristiwa yang luar biasa yang bagi akal yang rusak menurut dia ini adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Sehingga mungkin dia mendustakan adanya Isra, dia mendustakan adanya Mikraj. Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika memikrajkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala memperlihatkan kepada beliau banyak tanda-tanda kekuasaan.
لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا
“Agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra: 1)1
وَلَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ2
“Dan sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 18)3
Beliau melih4at kekuasaan Allah di atas sana yang luar biasa. Di sini kita tidak melihat kecuali bintang-bintang yang kecil karena sangat jauhnya. Tapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dimikrajkan oleh Allah dan beliau melihat pemandangan yang luar biasa di atas. Kita hanyalah setitik di antara miliaran benda-benda angkasa. Allah memperlihatkan kepada beliau kerajaan Allah yang sangat besar, yang sangat luar biasa di atas sana. Allah memperlihatkan beliau tentang surga, neraka, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara kepada beliau mewajibkan salat lima waktu.
Kemudian sebelum datangnya waktu pagi, beliau sudah berada di Makkah. Maka tentunya ini lebih ajaib daripada kejadian Al-Isra. Bagaimana seorang muslim dan juga orang yang beriman ketika dia mendengar kabar seperti ini, tidak ada yang dia lakukan kecuali dia membenarkan apa yang telah dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Itu adalah sesuatu yang sangat mudah bagi Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang setiap hari malaikat ada yang naik, ada yang ke bawah dengan jarak yang sangat jauh. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menurunkan, Allah yang mengangkat mereka. Bukan sesuatu yang sulit bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk melakukan yang demikian untuk Nabi-Nya Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kalau memang kabarnya adalah sahih di dalam Al-Qur’an dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga mengabarkan, maka kewajiban kita adalah membenarkan dan beriman. Jangan seperti orang-orang yang lemah iman yang mereka mengikuti jalan orang-orang kafir yang justru malah menjadikan kabar seperti ini untuk mencela Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana dilakukan oleh orang-orang musyrikin Quraisy di mana ketika mereka mendengar bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengabarkan beliau diisrakkan dan dimikrajkan.
Kemudian mereka menemui Abu Bakar As-Siddiq dan mengatakan bahwasanya, “Ini temanmu, menyangka bahwasanya dia melakukan demikian dan demikian. Dia pergi di malam hari dari Makkah ke Baitul Maqdis diangkat ke langit dalam satu malam.” Maksudnya adalah supaya Abu Bakar menjauhi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Ini orang yang gila, ini menceritakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi di dunia ini.” Tapi ternyata justru Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu bertambah keimanannya, bertambah pembenarannya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan tegasnya beliau mengatakan:
“In kaana qad qaalahu fahuwa kamaa qaal.”
“Kalau memang itu sudah dikatakan oleh beliau, maka itu adalah benar sebagaimana yang beliau ucapkan.”
Ini adalah sikap As-Siddiq. Orang yang sudah mencapai derajat yang tinggi di dalam Tasdiq (pembenaran). Maka kita benarkan kabar tentang Isra dan juga Mikraj sebagaimana dikabarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kemudian beliau mengatakan:
وَكَانَ يَقَظَةً لَا مَنَامًا
“Dan Isra Mikraj tersebut terjadi dalam keadaan bangun (sadar), bukan dalam keadaan tidur (mimpi).”
Karena di sana ada yang mengatakan, “Oh ya saya beriman, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Isra dan beliau juga dimikrajkan dan itu terjadi dalam keadaan beliau tertidur.” Artinya beliau melihat di dalam mimpinya dijalankan dari Makkah menuju Baitul Maqdis dan dari Baitul Maqdis beliau diangkat ke atas, itu adalah dalam mimpi. Itu ucapan sebagian orang yang mungkin dia mengaku dirinya adalah muslim. Nah, kalau dalam mimpi dia bisa menerima, maka itu bisa diterima oleh akal manusia, sehingga dia mentakwil bahwasanya kejadian tersebut adalah kejadian di dalam mimpi. Bukan dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan bangun.
Nah, di sini Ibnu Qudamah beliau menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Isra dan juga Mikraj itu dalam keadaan bangun, dalam keadaan beliau sadar, bukan dalam keadaan mimpi. Kemudian beliau menyebutkan alasannya dan ini adalah alasan yang kuat.
فَإِنَّ قُرَيْشًا أَنْكَرَتْهُ وَأَكْبَرَتْهُ
“Sesungguhnya orang-orang Quraisy mengingkarinya dan menganggapnya sebagai perkara besar.”
Alasan bahwasanya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Isra dan juga Mikraj dalam keadaan bangun bukan dalam keadaan mimpi, alasannya adalah karena saat itu orang-orang Quraisy mereka mengingkari dan mereka menganggap kabar ini adalah sesuatu yang besar. Ini semuanya sepakat bahwasanya orang-orang Quraisy saat itu mereka mengingkari. Tadi sudah sebutkan riwayatnya bagaimana mereka mendatangi Abu Bakar As-Siddiq dan mereka menganggap ini adalah sesuatu yang besar. Ini berita yang besar. Makanya mereka berusaha untuk menggoreng berita ini supaya menjadi sebab orang-orang yang beriman yang lemah imannya keluar dari agama Islam.
Beliau mengatakan:
وَلَمْ تُنْكِرِ الْمَنَامَاتِ
“Dan orang-orang (Quraisy) tidak mengingkari yang namanya mimpi.”
Artinya kalau itu adalah sebuah mimpi dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam cerita kepada orang-orang “Saya bermimpi,” maka orang-orang Quraisy tidak akan mengingkari yang demikian. Siapa saja boleh bermimpi. Ada yang pernah bermimpi jadi Superman? Saya bisa terbang tapi dalam mimpi. Biasa yang seperti itu. “Saya ke sini, saya ke Makkah, saya ke Madinah dalam waktu 5 menit.” Kapan? Dalam mimpi. Oh biasa, semua orang bisa bermimpi.
Tapi yang menjadi sesuatu yang besar, isu yang besar, adalah ketika ini diakui terjadi dalam keadaan bangun, dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan mimpi. Sehingga Al-Qaul (pendapat) bahwasanya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan Isra dan juga Mikraj dalam keadaan mimpi, ini adalah pendapat yang sangat-sangat lemah akibat dari seseorang menggunakan akalnya pada keadaan yang tidak semestinya.
Harusnya di depan dalil seperti ini, di depan Al-Qur’an, di depan hadis, yang ada adalah Al-Istislam (berserah diri), membenarkan apa yang datang dari Allah dan juga Rasul-Nya. Kita menghormati akal, akan tetapi kita gunakan akal tersebut pada tempatnya. Dan di antara permasalahan yang disebutkan oleh para ulama bahwa Isra dan juga Mikraj ini terjadi dengan jasad dan juga roh. Karena ada yang mengatakan bahwasanya itu hanya terjadi pada roh beliau saja, bukan dengan jasadnya. Maka yang sahih pendapat Ahlussunnah wal Jamaah, ini terjadi dalam keadaan beliau bangun dengan jasad dan juga rohnya.
Apa dalilnya? Dalilnya adalah firman Allah di dalam surah Al-Isra tadi:
أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ
“Memperjalankan hamba-Nya.”
Dan hamba (Al-‘Abdu) adalah makhluk yang terdiri dari jasad dan juga roh. Menunjukkan bahwasanya beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diisrakkan oleh Allah dan juga dimikrajkan dalam keadaan dengan jasad beliau dan juga dengan roh beliau, bukan sekedar mimpi.
Kemudian setelahnya:
وَمِنْ ذَلِكَ أَنَّ مَلَكَ الْمَوْتِ لَمَّا جَاءَ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ لِيَقْبِضَ رُوحَهُ لَطَمَهُ فَفَقَأَ عَيْنَهُ
“Dan di antara contohnya adalah bahwasanya Malaikat Maut ketika datang kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam untuk mencabut rohnya, maka Nabi Musa menamparnya hingga matanya terlepas.”
Di antara kabar-kabar yang telah sahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan dipermasalahkan oleh orang-orang yang kurang akalnya, kemudian mereka mengingkari hadis ini adalah kisah tentang Malaikat Maut yang ketika dia datang kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam untuk mencabut rohnya. Diperintahkan oleh Allah untuk mencabut rohnya Nabi Musa ‘Alaihissalam. Maka Nabi Musa ‘Alaihissalam menampar Malaikat Maut kemudian lepas matanya, yang menunjukkan bahwasanya tamparannya itu adalah tamparan yang keras sampai bola matanya ini terlepas dari tempatnya.
فَرَجَعَ إِلَى رَبِّهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ عَيْنَهُ
“Maka dia (Malaikat Maut) kembali kepada Rabb-nya, lalu Allah mengembalikan matanya.”
Maka ini adalah peristiwa yang termasuk di antara peristiwa yang luar biasa dan itu sudah terjadi yang harus kita benarkan. Nabi Musa ‘Alaihissalam didatangi oleh Malaikat Maut dan saat itu datang dalam keadaan menjelma sebagai seorang laki-laki utuh, sempurna jelmaannya sehingga tidak bisa dibedakan antara dia dengan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Malaikat Maut saat itu dalam bentuk sebagai seorang laki-laki sebagai ujian. Dan tentunya di sana ada hikmah yang dalam.
Kemudian datanglah laki-laki tersebut masuk ke dalam rumahnya Nabi Musa ‘Alaihissalam. Dan itu adalah sesuatu yang tentunya enggak semestinya. Bagaimana seorang laki-laki masuk ke dalam rumah orang tanpa izin kemudian mengabarkan bahwasanya dia ingin mencabut nyawa Nabi Musa ‘Alaihissalam.
Nabi Musa ‘Alaihissalam yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada beliau kekuatan yang lebih daripada manusia biasa. Sudah terjadi bahwasanya beliau pernah memukul seorang Qibti dan tanpa maksud untuk membunuh, tapi memang pukulan beliau ini berbeda dengan pukulan manusia biasa sehingga orang tersebut meninggal dunia dengan sebab pukulan Nabi Musa ‘Alaihissalam dan beliau tidak ada maksud untuk membunuh sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka beliau pun menampar laki-laki ini yang tidak tahu ternyata itu adalah malaikat. Kemudian sampai matanya terlepas dari tempatnya. Kemudian dalam keadaan seperti itu, Malaikat Maut kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengatakan, “Ya Allah, Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba yang dia tidak menginginkan kematian.”
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembalikan mata Malaikat Maut kemudian mengatakan kepadanya, “Sekarang engkau kembali lagi ke sana. Sampaikan kepada Musa ‘Alaihissalam untuk meletakkan satu telapak tangannya di atas kulit seekor sapi. Maka bulu yang tertutupi oleh telapak tangan tadi, dari setiap bulu yang ditutupi maka akan diperpanjang umurnya selama 1 tahun.”
Dia diperkenankan untuk masih hidup selama 1 tahun dari setiap bulu. Kurang lebih berapa bulu itu? Hah? Satu telapak tangan seandainya dia menutupi kulit sapi kira-kira berapa bulu? Seratusan mungkin, seribuan. Coba antum hitung sekali-kali ya. Tapi kemudian Nabi Musa ‘Alaihissalam bertanya:
وَبَعْدَ ذَلِكَ؟
“Dan setelah itu apa?”
قَالَ الْمَوْتُ
“(Malaikat) berkata: Kematian.”
Dia mengatakan, “Setelah itu kamu meninggal dunia.” Berarti sama saja mau sekarang mati atau 1000 tahun lagi maka semuanya akan meninggal dunia. Maka beliau pun mengatakan:
إِذًا الْآنَ
“Kalau demikian sekarang (saja) wahai Rabb.”
Dan akhirnya beliau pun dimatikan, diwafatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah kisah lengkap dari Nabi Musa ‘Alaihissalam yang didatangi oleh Malaikat Maut dan hadisnya sahih yang harus kita benarkan kabar ini sebagaimana datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meskipun itu adalah perkara yang aneh, bagaimana malaikat menjelma kemudian bagaimana seorang manusia seperti Nabi Musa ‘Alaihissalam memukul malaikat, maka ini adalah sesuatu yang tidak masuk akal orang yang rusak akalnya. Tapi bagi orang yang beriman, maka itu adalah sesuatu yang sangat-sangat mungkin terjadi.
Dan para ulama menjelaskan bahwasanya Nabi Musa ‘Alaihissalam memukul Malaikat Maut sebabnya adalah karena beliau tidak tahu bahwasanya itu adalah Malaikat Maut. Karena dia datang dalam keadaan menyerupai seorang, menjelma sebagai seorang laki-laki yang sempurna. Tidak ada sedikit pun yang membedakan antara dia dengan manusia biasa. Kemudian dia masuk rumah orang lain tanpa izin, kemudian mengucapkan ucapan yang aneh, “Saya ingin mencabut nyawamu,” seakan-akan ingin membunuhnya.
Nah, seorang laki-laki apalagi di situ adalah mungkin di situ ada istrinya, ada keluarganya, kemudian masuk seorang laki-laki yang asing. Kemudian dia menampar laki-laki tersebut, maka ini adalah suatu yang lumrah. Ini masuk ke dalam kekuasaan orang lain, masuk ke dalam rumah orang lain tanpa izin. Oleh karena itu ketika datang malaikat tersebut dalam keadaan yang di situ Nabi Musa ‘Alaihissalam mengetahui bahwasanya itu adalah Malaikat Maut, maka Nabi Musa ‘Alaihissalam tentunya memiliki sikap yang berbeda.
Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah beliau menyebutkan:
“Nabi Musa ‘Alaihissalam menampar Malaikat Maut tersebut karena dia melihat seseorang yang masuk ke dalam rumahnya tanpa izin, dan beliau tidak tahu bahwasanya itu adalah Malaikat Maut. Dan saat itu syariatnya Nabi Musa ‘Alaihissalam mengharuskan demikian terhadap orang yang melakukan seperti itu.”
Jadi beliau tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah dan bukan pula ingin menolak kematian. Kisah ini adalah termasuk perkara-perkara yang gaib yang kita tidak pernah melihat sendiri tapi dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kewajiban kita adalah menetapkannya.
Kemudian beliau mengatakan:
وَمِنْ ذَلِكَ أَشْرَاطُ السَّاعَةِ
“Dan di antara contohnya adalah tanda-tanda hari kiamat.”
Dan di antara kabar-kabar tersebut, kalau tadi sesuatu yang sudah terjadi di masa yang telah berlalu. Dan di antaranya yang telah sahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah kabar-kabar tentang tanda-tanda dekatnya hari kiamat. As-Sa’ah adalah tiupan sangkakala yang pertama. Asyrath artinya adalah tanda-tanda dekatnya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwa tanda-tanda dekatnya As-Sa’ah itu sudah bermunculan.
فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً ۖ فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا
“Maka tidaklah mereka menunggu kecuali hari kiamat yang datang kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya.” (QS. Muhammad: 18)
Kabar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwasanya tanda-tanda dekatnya As-Sa’ah ini sudah bermunculan berarti dia sudah dekat. Kalau sudah bermunculan berarti dia sudah dekat.
Tanda-tanda hari kiamat terbagi menjadi tiga. Ada di antaranya tanda-tanda dekatnya hari kiamat yang Sughra (kecil) dan sebagian besar tanda-tanda dekatnya hari kiamat yang Sughra ini sudah muncul, sudah terjadi. Sedikit saja yang belum kelihatan. Di antaranya adalah diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kalau sudah diutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berarti kiamat sudah dekat. Karena beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah nabi akhir zaman.
Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah diutus 1400 tahun yang lalu. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ
“Aku dan juga hari kiamat itu diutus seperti ini (seperti dua jari).”
Kemudian beliau menampakkan dua jari beliau, yaitu jari telunjuk dengan jari tengah.
Maksudnya apa? Sangat berdekatan sebagaimana berdampingannya jari telunjuk dengan jari tengah. Beliau tidak menyebutkan jempol dan jari kelingking, tapi beliau menyebutkan jari telunjuk dengan jari tengah. Menunjukkan bagaimana dekatnya. Kalau sudah muncul beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai nabi terakhir, berarti setelahnya akan segera datang hari kiamat.
Dan di antaranya adalah terbelahnya bulan menjadi dua bagian. Benda luar angkasa yang besar ini yang setiap bulan kita senantiasa melihatnya telah terbelah di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
“Telah dekat hari kiamat dan telah terbelah bulan.” (QS. Al-Qamar: 1)
Artinya kalau sudah terbelah bulan berarti sudah dekat hari kiamat, dan itu sudah terjadi.
Nah, di sini yang beliau sebutkan adalah tanda-tanda dekatnya hari kiamat yang Kubra (besar). Yang Kubra maksudnya adalah yang sudah sangat dekat dengan hari kiamat itu sendiri, sudah sangat dekat dengan ditiupnya sangkakala yang pertama. Dan tanda-tanda hari kiamat yang kubra ini ada sepuluh.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam suatu saat beliau melihat para sahabatnya dalam keadaan berkumpul kemudian mengatakan, “Apa yang kalian lakukan?” Mereka mengatakan, “Natadzakarus sa’ah” (Kami sedang berbicara tentang masalah hari kiamat). Kemudian beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan, “Ketahuilah bahwasanya yang namanya hari kiamat itu tidak akan terjadi sampai kalian melihat sepuluh tanda-tanda.”
Di antaranya adalah yang beliau sebutkan di sini:
مِثْلُ خُرُوجِ الدَّجَّالِ وَنُزُولُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ
“Seperti keluarnya Dajjal dan turunnya Nabi Isa bin Maryam.”
Di antaranya adalah keluarnya Dajjal dan turunnya Nabi Isa Ibnu Maryam ‘Alaihis Shalatu was Salam. Dan insyaallah akan kita sebutkan hal-hal yang berkaitan dengan Dajjal dan turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam. Keluarnya Ya’juj dan juga Ma’juj. Keluarnya Dabbah (seekor hewan dari bumi). Munculnya matahari dari barat. Insyaallah pada kesempatan yang akan datang kita cukupkan sampai di sini.
Bagi jemaah yang memiliki pertanyaan yang berkaitan dengan materi kami persilakan. Insyaallah nanti jam 09.00 itu kita ada daurah di Babussalam, daurah kitab Ushulus Sunnah yang ditulis oleh Al-Imam Al-Humaidi, guru dari Al-Imam Al-Bukhari. Semoga selesai dalam satu pertemuan dari jam 09.00 insyaallah sampai asar. Bagi yang ingin ikut nanti bisa menghadiri di Pondok Pesantren Babussalam.
Barakallahu Fikum. Semoga apa yang kita sampaikan bermanfaat dan Jazakumullah Khairan atas perhatian antum semuanya.
Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Alihi wa Sahbihi Ajma’in.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.



