Hakikat Lailatulqadar – Dr. Emha Hasan Ayatullah, M.A

Transkrip Program Nasihat Ramadan: Hakikat Lailatulqadar
Host / Pembawa Acara:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepada kalian).
Ustad:
وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Dan semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya juga tercurah kepada kalian).
Ustad:
الْحَمْدُ لِلَّهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ (Segala puji bagi Allah, aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Adapun setelah itu).
Host 1:
Sahabat Roja di mana pun Anda berada. Alhamdulillah, di kesempatan yang berbahagia ini kita berjumpa kembali dalam program Nasihat Ramadan. Meluruskan niat dan menghidupkan hati tentunya, Kang, insyaallah. Pak Erik, hari ini kita mau membahas apa nih, Pak Erik? Kita ada tema ini, Kang E, malam Lailatulqadar. Apa itu hakikat Lailatulqadar itu sendiri? Dan alhamdulillah di studio sudah hadir tamu kita, Kang Asep. Masyaallah. Guru kita yang mulia, Ustad Dr. M.A. Hasan Ayatullah حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى (Semoga Allah Yang Maha Tinggi menjaganya). السَّلَامُ عَلَيْكُمْ (Semoga keselamatan atasmu), Ustad.
Ustad:
وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Dan semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya juga tercurah kepada kalian). أَهْلًا وَسَهْلًا (Selamat datang) di studio podcast Roja, perdana, Ustad.
Host 1:
Perdana, Ustad. Masyaallah. Mudah-mudahan tambah manfaat.
Ustad:
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ (Kabulkanlah doa kami, wahai Tuhan semesta alam).
Host 1:
Ustad, kita ingin bincang-bincang seputar di bulan Ramadan, ada program Nasihat Ramadan dan kita ingin meminta pencerahan tentang Lailatulqadar nih, Ustad. Lailatulqadar ini banyak yang mengartikan malam yang penuh ketenangan, malam berpanen pahala lah intinya begitu, ya. Namun, sebetulnya apa hakikat dari Lailatulqadar itu, Ustad?
Ustad:
Iya. Nah, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَبَعْدُ (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, serta selawat dan salam semoga tercurah kepada utusan Allah. Adapun setelah itu).
Jadi, kesempatan untuk beribadah ini termasuk di antara karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada peluang untuk dapat keuntungan sebesar-besarnya. Tapi kalau kita tidak manfaatkan, bukan hanya rugi begitu, tapi malah terancam. Ya. Karena dalam hadis yang sahih, Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ (Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadan namun tidak diampuni dosanya). Orang dapat Ramadan tidak diampuni, celaka dia. Nah, di antara keistimewaan itu malam Lailatulqadar.
Yang harus kita ketahui bahwa kita berbicara tentang urusan gaib. Dan para ulama menegaskan, urusan gaib kita tidak boleh menganalisa atau berspekulasi, ya. Tetapi kita betul-betul harus melandasi perbincangan kita dengan dalil. Iya. Maka, ketika orang berusaha mengambil pelajaran, sah-sah saja dia ingin mengambil hikmah. Karena hikmah mesti ada begitu, banyak, dan boleh saja orang akan mendapat keuntungan dari ibadah dia. Tapi untuk menetapkan sesuatu butuh dalil. Nah, termasuk ketika Lailatulqadar ini merupakan malam mulia, pahala yang banyak. Kemudian ada syariatnya untuk dihidupkan.
Nah, kalau kita mengatakan, “Saya punya ibadah dengan berdiam atau main perasaan saja karena tujuannya mengingat Allah,” akhirnya tidak beribadah tapi pokoknya mengingat Allah saja. Seperti ini kan menjadi sebuah tuntunan yang justru melenceng begitu. Maka kita katakan Lailatulqadar ada contohnya dan ada penerapannya di zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kalau kita mau mencontoh, itu yang terbaik dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Begitu.
Host 2:
Namun Ustad, mengapa banyak orang yang merasa sudah mencari atau mendapatkan Lailatulqadar tapi hidupnya tetap sama setelah Ramadan itu, Ustad?
Ustad:
Iya, ini disebutkan, ya, oleh Ibnu Rajab al-Hambali dan juga beberapa ulama lain, bahwa di antara tanda amal kita diterima oleh Allah itu ada perubahan kebaikan. Jadi, kalau sebelumnya baik menjadi lebih baik, kalau sebelumnya ada kurangnya, kita jadi lebih baik dari sebelumnya. Nah, ini bukan sesuatu yang pasti. Artinya, mereka mengatakan, ثَوَابُ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا (Balasan dari sebuah kebaikan adalah kebaikan setelahnya).
Di antara bukti pahala sebuah kebaikan, orang itu dimudahkan untuk melakukan kebaikan setelahnya. Ini adalah harapan. Artinya tanda, ya. Tanda orang itu menjadi lebih baik. Tapi bukan berarti kalau tidak seperti itu pasti tertolak. Atau orang kalau belum seperti itu berarti belum berhasil. Atau orang yang tidak seperti itu pasti dia tidak ada, apa namanya, pahalanya. Tidak ada kepastian seperti itu. Sehingga termasuk Lailatulqadar, kalau seandainya ini orang bejat banget, “Ini kayaknya pasti enggak dapat Lailatulqadar.”
Dulu ada ungkapan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu: مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ (Barang siapa yang mendirikan salat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan mendapatkan Lailatulqadar). Kalau dia salat malam terus, setiap hari sepanjang satu tahun, dia pasti dapat tuh. Ya, dia pasti dapat.
Nah, dulu juga salah seorang masyaikh (guru-guru) kita bilang ketika kita di awal pertama belajar di Jamiah Islamiyah tahun 2005. Beliau mengatakan, “Karena kita Ramadan masih masuk, nih.” Iya. Beliau ketika menjelang 10 hari terakhir sudah mulai mahasiswa, mulai ada yang iktikaf di Makkah, sudah mulai gaib-gaib begitu. Beliau mengatakan tentang Lailatulqadar, padahal guru Nahwu, beliau masyaallah, beliau bilang, “Orang yang bisa bangun terus malam, tidak tidur, insyaallah dia dapat.”
Artinya bisa jadi orang yang tidak saleh-saleh amat juga ada kesempatan itu. Nah, tentunya orang yang bermaksiat di malam itu kacau sekali, celaka dia. Waktu istimewa disia-siakan. Tetapi maksudnya tidak harus orang yang dapat itu orang saleh, hafiz Quran, imam masjid, santri, atau orang yang tidak ada maksiat sama sekali. Tidak ada kepastian seperti itu.
Sementara akhlak juga kita akan tahu ada tabiat, ada yang memang muktasab atau belajar sehingga kekurangan itu tidak memastikan orang tidak dapat. Apalagi orang yang memang galak banget, ini masih marah-marah juga begitu. Kita katakan marah memang menunjukkan orang ini tidak bisa menguasai diri sendiri. Tapi tipikal itu sudah dari sananya, kita bilang bukan berarti kalau orang seperti itu berarti adalah orang yang memang ditakdirkan tidak dapat Lailatulqadar. Tidak ada yang seperti itu. Iya, bertabiat ya, Ustad ya. Iya. Artinya ya memang ada pengaruhnya, akan tetapi tidak bisa dipastikan.
Host 2:
Berarti semua bisa mendapatkan kesempatan siapa pun, Ustad ya. Yang penting syaratnya muslim, Ustad ya.
Ustad:
Otomatis itu. Otomatis [tertawa].
Host 1:
Ustad, ini masalah waktunya, ini kejadian Lailatulqadar itu sebenarnya kapan? Dan kalaupun Allah tidak menetapkan, merahasiakan, ada hikmahnya tidak Allah merahasiakan Lailatulqadar itu sendiri, Ustad?
Ustad:
Iya. Tadi yang disebutkan oleh Abdullah bin Mas’ud, مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ (Barang siapa yang mendirikan salat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan mendapatkan Lailatulqadar). Orang kalau bisa sepanjang tahun sudah salat malam terus, dapat di Lailatulqadar. Nah, ini disampaikan ke sahabat yang lain. Oh, ya. Ya, ditanya ini Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu tentang Ibnu Mas’ud, beliau bilang, “Pengen dapat Lailatulqadar, sudah salat malam saja terus begitu, tidak usah dibatasi.”
Maka Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu mengatakan, يَرْحَمُ اللهُ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنَّهُ لَيَعْلَمُ أَنَّهَا فِي رَمَضَانَ، وَلَكِنَّهُ أَرَادَ أَنْ لَا يَتَّكِلَ النَّاسُ (Semoga Allah memberikan rahmat kepada Abu Abdurrahman [maksudnya Abdullah bin Mas’ud]. Sesungguhnya beliau sangat mengetahui bahwa Lailatulqadar itu berada pada bulan Ramadan. Akan tetapi, beliau bermaksud agar orang-orang tidak sekadar berpangku tangan). Beliau sampaikan fatwa itu agar orang tidak malas, hanya mengandalkan Ramadan saja, sisanya tidak ibadah.
Jadi para ulama sepakat bahwa Lailatulqadar bisa terjadi lagi. Kenapa dikatakan demikian? Ada juga sebagian pendapat yang ini tidak kuat, ya, mengatakan Lailatulqadar terjadi zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam saja, setelah itu sudah diangkat oleh Allah. Nah, tapi pendapat ini tidak sahih. Yang kedua, ada yang mengatakan, ini pendapat yang lemah, bahwa Lailatulqadar terjadi di luar bulan Ramadan. Nah, ini pendapat yang tidak kuat juga. Kemudian ada lagi pendapat yang ketiga yang mengatakan Ramadan, tapi di awal. Nah, ini juga tidak kuat, ya.
Dalilnya banyak. Di antaranya Nabi sallallahu alaihi wasallam iktikaf, kemudian lanjut, kemudian lanjut sampai 10 hari terakhir. Lalu beliau bilang dalam hadis itu, إِنَّ الَّذِي تَطْلُبُهُ أَمَامَكَ (Sesungguhnya apa yang engkau cari ada di hadapanmu). Kata Jibril, “Yang kamu cari-cari itu depanmu.” Maksudnya belum. Belum lanjut lagi iktikaf di 10 hari kedua. Lanjut lagi di 10 hari ketiga. Lalu beliau mengatakan cari di 10 hari ketiga. Artinya ada berarti Lailatulqadar. Kemudian yang kedua, ternyata spesifiknya di 10 hari terakhir.
Nah, kok tidak ketahuan ya? Nah, itu disebutkan oleh Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah. Beliau mengatakan, “Sengaja disembunyikan agar orang tidak hanya ibadah di satu malam itu.” Kalau mereka sudah tahu Lailatulqadar ini di malam tertentu, sudah setelahnya sudah tidur tidak lagi ibadah. Dan sekarang sudah kelihatan orang-orang itu ketika diberitahu kemungkinan besarnya itu malam ganjil. Nah, itu sudah malam genap kita lihat di masjid itu tidak seramai malam ganjil. Iya. Ini semuanya sampai di Haramain (Makkah-Madinah) seperti itu, sama Lailatulqadar apa namanya, malam-malam ganjil dengan malam-malam genap terasa perbedaannya. Apalagi malam ke-27. Malam ke-27 full banget. Iya. Tapi malam ke-26 dan ke-28 sunyi. Bukan sepi ya. Tetapi tidak seperti ke-27 atau ke-29.
Nah ini memang sampai sebagian ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, beliau sampai mengatakan, “Antum itu kalau kita perhatikan malam ganjil itu kan kita lihat dari hitungan depan.” Nah itu, iya kan. Padahal dalam sebuah riwayat disebutkan, فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، لِتِسْعٍ يَبْقَيْنَ، لِسَبْعٍ يَبْقَيْنَ، لِخَمْسٍ يَبْقَيْنَ (Maka carilah Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir, pada sembilan malam yang tersisa, tujuh malam yang tersisa, lima malam yang tersisa). Hitungnya di belakang berarti. [tertawa] Nah, kalau hitung dari belakang nanti hitungannya tidak bisa sama. Kalau pas 29 hari, kalau Ramadan 29 hari mungkin bisa bareng, ya. Jadi witir (ganjil) depan, witir dari belakang. Tapi kalau 30 hari maka genap dari depan, witir dari belakang. Kata Syaikhul Islam, “Ini hikmahnya biar kita 10 hari ini full.” Begitu ya.
Host 1:
Artinya hikmahnya itu agar kita menghidupkan seluruh Ramadan, Ustad, ya. Bukan satu malam saja, Ustad.
Ustad:
Iya. Dan itu yang dicontohkan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Beliau waktu itu ibadah 10 hari full. Bahkan dalam riwayat yang sahih dalam Sahih Bukhari Muslim, beliau iktikaf dari tanggal 11. Tanggal 11 Ramadan. Kemudian 10 hari yang kedua selesai, beliau kemudian khotbah di depan para sahabat. مَنِ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ (Barang siapa yang masih ingin iktikaf bareng aku, maka hendaklah ia beriktikaf pada sepuluh malam terakhir). Lanjut nih sampai 10 hari terakhir. Artinya, di-full-kan ibadah itu, tidak hanya ganjil tok, malam tok begitu. Istirahat, Ustad. Iya, [tertawa] otomatis. Tapi kan kita pengin betul-betul ada yang istimewa begitu. Karena memang sifatnya rahasia, Ustad, ya. Iya.
Dan ini, Ustad, perbedaan saja Indonesia sama Saudi misalkan ya. Ada yang mendahului misalkan, ini sini genap, sana ganjil, itu tidak terlalu diperhatikan oleh para ulama. Karena bukan berarti Ramadan di Arab Saudi lebih istimewa dari Ramadan di tempat kita. Karena Allah-nya orang-orang Saudi Allah kita. Iya. Allah Azza wa Jalla punya kita semua. Kemudian ibadah itu berlaku untuk kita semua. Dan tidak perlu kita terjebak dalam hitung-hitungan orang yang baru belajar matematika. “Jadi kalau nanti Allah turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir, ini sepertiga malam terakhirnya siapa ini begitu?” [tertawa]. Kita tidak perlu dibingungkan kita ini sudah apa. Jadi tujuan kita amal ini justru kita manfaatkan Ramadan itu untuk ibadah tanpa memikirkan ah ana Ramadannya Saudi Ramadannya Indonesia. Iya.
Host 2:
Ada kisi-kisinya tadi dari Ustad. Jadi intinya tadi dari kisah Ibnu Mas’ud Ustad ya. Yang menghidupkan malam dengan salat malam bisa mendapatkan juga itu. Nah itu salah satu kunci juga. Nah salat malamnya itu tarawih saja atau ditambah dengan tahajud?
Ustad:
Ya, bebas saja. Jadi Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah salat di awal malam, pernah di pertengahan sehingga Nabi sallallahu alaihi wasallam يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فِي أَوَّلِهِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ (Beliau salat malam pada awal malam, pertengahannya, dan akhirnya). Kata Aisyah dalam Sahih Muslim, Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah salat di awal malam, pernah di pertengahan, pernah di akhir.
Bahkan Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah salat panjang banget satu rakaat sampai 6 juz itu. Kemudian Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah salat sampai menjelang sahur. Sampai orang-orang pada bingung, “Ini jangan-jangan kita enggak kebagian sahur.” Nah, artinya salatnya panjang banget. Nah, orang kalau bisa kayak gitu entah dengan memperbanyak rakaat atau dengan menambah panjang, maka ini bagus banget. Dan para ulama mengatakan ini khilaf ya, memang ada khilafnya. Sebagian ulama mengatakan tidak boleh lebih dari 11 rakaat. Artinya orang kalau sudah selesai dari salat malam 11 rakaat sudah tidak nambah begitu.
Tapi pendapat yang rajih, wallahu a’lam, boleh. Ya, ini yang diyakini oleh jumhurul ulama dengan keumuman dalil salat malam itu مَثْنَى مَثْنَى (dua rakaat, dua rakaat) tanpa pembatasan. Kadang-kadang Nabi sallallahu alaihi wasallam 11 rakaat dan itu yang paling sering. Itu yang dimaknai dengan hadis Aisyah: مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ (Beliau tidak pernah menambah pada bulan Ramadan dan tidak pula pada bulan lainnya). Tapi dalam riwayat lain, Aisyah juga cerita beliau salat 13 rakaat. Ya, memang ada tambahan 13 rakaat, dua rakaat itu إِمَّا (adapun/baik itu) dua rakaat setelah salat Isya atau dua rakaat sebelum salat Subuh. Tapi sebenarnya ada juga riwayat yang betul-betul 13 itu 13, 13 begitu, artinya ya sudah 8 tambah 5 tambah 5 tambah 5, ya itu menunjukkan 13 itu rangkaian salat malam semua.
Nah, sehingga kita diminta untuk memperbanyak, memperindah, memperbaiki. Dan kalaupun seandainya orang tidak salat malam, dia pengin salat mutlak, boleh lagi iktikaf. Kemudian tadi salat tarawih bersama imam, “Sudah ana mau salat lagi.” Salat sudah salat sunah. Kalau seandainya dia wudu, dia salat lagi apa namanya salat zuhur itu. Kemudian kalau seandainya dia mau salat tahiyatul masjid kalau baru masuk, itu semuanya salat-salat yang insyaallah bisa menghidupkan malam.
Tapi menghidupkan memang identik dengan ibadah, قِيَامُ اللَّيْلِ (salat malam), baca Quran begitu. Kalau qiyamnya sambil ngopi ya tidak apa-apa. Boleh juga iktikaf ditemani kopi mendapatkan manisnya iman tengah malam kopi manis. Ya, artinya sah-sah saja. Dan Ibnu Mubarak mengatakan dalam bahasa Arab itu kalau kita tidur sebentar kemudian lagi salat, istirahat baca Quran, kemudian salat, kemudian mungkin sambil ngobrol sebentar, ini tidak menafikan bahwa dia قِيَامُ اللَّيْلِ (salat malam). Ya. Bahkan bisa dikatakan, “Oh, itu salat terus begitu.” Salat terus padahal dia kan ada ngobrolnya, ada makannya begitu. Tidak masalah, dalam bahasa Arab itu waktu yang paling banyak bisa disebut seperti semuanya. Ya, artinya juga jangan dipaksakan juga, Ustad ya. Tidur saja nanti bangun lagi begitu, Ustad.
Host 1:
Ini Kang, Ustad, bicara Lailatulqadar ini ya. Bulan 1000 bulan nih. Jadi Lailatulqadar itu lebih baik dari 1000 bulan. Ustad, apa makna “lebih baik” yang Allah maksud?
Ustad:
Iya, itu disebutkan dalam buku-buku tafsir, kan. Lebih baik dari 1000 bulan. Kebaikan dan kelebihan itu apa begitu? Banyak tafsir para ulama mengatakan الْعَمَلُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْعَمَلِ فِي غَيْرِهَا (Beramal pada malam tersebut lebih baik daripada beramal pada malam-malam lainnya). Jadi amal di malam itu jauh lebih baik dari 1000 bulan atau sekitar 83 tahun orang pada ngitung, itu kalau seandai tidak ada Lailatulqadarnya. Ya 83 tahun tanpa Lailatulqadar itu masih kalah sama Lailatulqadar satu malam begitu. Nah, itu berarti maksudnya pahala memang. Jadi, orang beramal di situ dia memiliki pahala yang banyak, ya. Memiliki pahala yang berpotensi untuk banyak dikabulkan Allah seperti itu.
Host 2:
Masyaallah. Nah, Ustad, bicara tentang malam Lailatulqadar, saya pernah dengar, Ustad, itu adalah malam penetapan takdir. Nah, seperti apa, Ustad, itu? Apakah memang takdir tahunan diturunkan kepada umat manusia itu, Ustad?
Ustad:
Iya. Kita tahu bahwa para ulama ahlusunah menyatakan bahwa takdir sudah selesai, ditulis di Lauhulmahfuz. Iya. Tetapi ada takdir tahunan pula yang antum sampaikan itu, ditulisnya per waktu dan kala yang memang Allah Azza wa Jalla tentukan. Nah, disebutkan dalam tafsir surah itu ayat 4 itu, ya, pada malam itu Allah tentukan semua urusan. Ya, di tafsir Ibnu Katsir dikatakan مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ إِلَى الْكَتَبَةِ أَمْرَ السَّنَةِ (Dari Lauhulmahfuz kepada para malaikat pencatat mengenai urusan setahun).
Jadi yang ada dalam Lauhulmahfuz yang sudah catatan takdir itu di-full, dilengkapkan. Nah, itu mulai diurai rinci-rincinya. Nah, disampaikan kepada para malaikat. Lauhulmahfuz tidak ada yang tahu kecuali Allah. Hatta malaikat penulis itu mereka diberitahu nih. Tapi diberitahunya seperti itu sesuai dengan kehendak Allah. Maka termasuk di antaranya ini yang di tafsir Ibnu Katsir dikatakan para malaikat yang para penulis itu mereka dirincikan itu di malam itu. Iya. Selama 1 tahun ini begini begitu.
Host 1:
Masyaallah. Lalu bagaimana memahami takdir agar tidak membuat kita pasrah dan justru semakin semangat berdoa dan beramal, Ustad?
Ustad:
Iya. Ini betul-betul perbedaan, ya, antara orang mau belajar dan tidak. Kita sama-sama lahir dalam fitrah, ya. Artinya orang ketika tidak diselewengkan oleh orang tuanya masyaallah, artinya dididik jelek begitu, ya kan dalam hadis disebutkan orang tuanyalah yang membuat dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. Mau jadi orang ahlusunah atau orang yang ahli maksiat.
Tapi maksudnya, kita ini ketika belajar tentang akidah, mengenal Allah lebih dekat, maka kita akan lebih khusyuk dan bisa memaknai ibadah. Ya, ketika orang berbicara tentang takdir, itu salah satu iman dari yang enam, rukun iman yang enam. Nah, sehingga posisinya sama dengan iman kepada Allah, iman kepada malaikat, kepada rasul, kitab begitu, dan hari akhir. Artinya orang ketika berbicara tentang takdir, kita tahu bahwa kita semua sudah dituliskan Allah Azza wa Jalla, sehingga kita tidak mungkin keluar dari arahan Allah.
Tetapi ini yang sering ditanyakan, kalau memang semuanya sudah ditakdirkan sama Allah, kenapa harus kita beramal? Kalau takdir ana masuk dalam surga sudah ana mau enggak salat juga masuk surga begitu. Tapi kan kalau sudah ditakdirkan na’udzubillah selainnya begitu. Nah ini dulu pernah ditanyakan oleh sahabat dalam hadis yang sahih Nabi sallallahu alaihi wasallam ditanya ketika beliau mengatakan مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلَّا وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ (Tidaklah di antara kalian satu jiwa pun kecuali telah diketahui tempatnya di surga atau di neraka). Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, فَفِيمَ الْعَمَلُ؟ (Lalu untuk apa beramal?)”. Dalam riwayat lain dikatakan, “Kenapa kita tidak pasrah saja begitu?” Maka Nabi mengatakan kalian beramal saja. Orang itu akan diarahkan Allah sesuai garisnya. Artinya kalau menggarisnya surga dia akan digampangkan. Garisnya neraka maka dia akan digampangkan seperti itu.
Padahal dalam hadis Ibnu Mas’ud dikatakan, orang itu terkadang beramal dengan calon penghuni surga, sudah dia itu. Ternyata karena takdirnya meleset dia tidak kebayang tuh. Ya, takdirnya menjadi neraka. Di akhir-akhir hayat itu tahu-tahu saja dia na’udzubillah begitu murtad jadi pelaku na’udzubillah begitu. Sudah hampir, sudah hampir mati. Nah ini su’ul khatimah namanya. Kemudian yang sebaliknya, sudah kelihatan bejat, sampah masyarakat, begal, apa segala macam. Tapi di akhir hayat dia balik menjadi orang saleh bertobat.
Artinya orang betul-betul tidak mengerti dan semua bisa berbalik. Untuk orang yang alhamdulillah Allah karuniai kesempatan beramal, ini bersyukur dia. Tapi dia tidak bisa menjamin, apalagi ujub bangga ini yang paling baik. Tidak. Tidak ada jaminan. Dulu para ulama sampai seperti itu. Mereka sampai sering menangis seperti Sufyan Ats-Tsauri, Al-Hasan Al-Bashri ketika mereka ditanya gimana ana mau bahagia? Ana tidak ngerti dalam catatan takdir ini bagaimana nanti.
Yang kedua, untuk orang yang fasik yang banyak kekurangannya, ini ada kesempatan untuk beramal begitu. Nah, tapi Allah Azza wa Jalla sudah tentukan jalan juga. Ya. Kalau kita pengin misalkan dapat pekerjaan yang layak, gaji besar begitu, sampai orang milih sekolah. Ya. Sampai siap bayar untuk kursus, untuk apa. Meskipun kursus tidak jaminan. Sekolah itu tidak jaminan juga dia dapat pekerjaan yang itu, tetapi orang kan punya harapan, “Saya kalau di situ peluang untuk itu lebih besar,” begitu. Artinya ini tidak disamakan cuma ini kasih contoh saja.
Memberikan contoh orang itu dituntut untuk mengikuti alurnya, kita melaksanakan salat, menjaga kehormatan, tahu akidah, biar kita juga tidak menggantungkan tapi tidak menantang. Ya, dalam masalah takdir itu ada dua sekte sesat. Yang satu mengatakan tidak ada takdir. Nah, ini sesat. Yang satu mengatakan semua sudah takdir. Maksudnya saya mencuri juga takdir begitu. Saya tidak salat tidak salat takdir saya seperti ini. Ini salah begitu. Jadi orang tetap tertuntut untuk beramal sekaligus dia serahkan semuanya kepada Allah karena semuanya sudah ada catatannya. Iya, ada garisnya. Walaupun semua sudah ditakdirkan tapi kita tetap berusaha untuk yang terbaik setiap hari, Ustad. Ya. Dan jangan merasa zona nyaman, aman itu, Ustad. Betul. Jadi tidak ada jaminan takut. Iya. Dan takut di akhirnya kita kan tidak tahu akhir kayak gimana. Berusaha setiap hari, Ustad. Ya. Masyaallah.
Host 2:
Nah, Ustad ini bagaimana dengan tanda-tanda Lailatulqadar itu sendiri? Apakah terasa setelah Ramadan itu berlalu atau masih Ramadan itu sudah tampak begitu dengan?
Ustad:
Iya. Ini sering dibahas oleh para ulama tentang tanda-tanda Lailatulqadar. Dan tanda Lailatulqadar ini banyak riwayat yang memang tidak sahih, ya. Tapi ada yang sahih di antaranya seperti yang disebutkan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu anhu ketika beliau mengatakan aku ngerti itu malam itu malam apa begitu. Beliau mengatakan الَّتِي أَمَرَنَا الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا (Malam yang kita diperintahkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam untuk mendirikannya/ibadah).
Nah, lalu disebutkan وَهِيَ الَّتِي تَطْلُعُ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَتِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا (Dan itu adalah hari di mana matahari terbit pada pagi harinya tampak putih bersih tanpa silau cahayanya). Dia putih, bersih tapi tidak silau. Tapi memang itu berarti sudah lewat. Oh iya. Jadi kalau ciri Lailatulqadar itu, nah apa namanya, matahari besoknya, berarti kalau besoknya sudah oh tadi malam Lailatulqadar begitu, ketinggalan.
Ada beberapa ungkapan riwayat yang disebutkan malam itu tenang, semua tumbuh-tumbuhan sujud. Kalau seandainya musim panas tidak terasa panas, kalau musim dingin tidak terasa dingin. Tapi ini kebanyakan kalaupun diriwayatkan secara marfu atau kepada Nabi sebagai hadis, tidak sahih. Tidak sahih. Nah, sehingga sama pesannya sebenarnya. Jadi kita ibadah saja, kita ibadah saja tanpa terlalu meruncingkan urusan pada tanda. “Aduh, kayaknya sudah lewat tuh.” Begitu. Iya, kayaknya yang kemarin itu kayak tenang banget ya begitu. Tidak usah itu terlalu dipikirkan. Sekarang kita ibadah sudah seperti itu. Nantinya akan menumbuhkan kekhawatiran sendiri, Ustad. Ya, kekhawatiran, kemalasan juga. Iya. Jadi disangka sudah lewat Lailatulqadar sudah tidak ibadah lagi dia. Iya. Putus asa. [tertawa]
Host 1:
Nah, Ustad, jika seorang melewatkan Lailatulqadar, apakah ia benar-benar merugi di sisi Allah, Ustad?
Ustad:
Iya. Memang dalam hadis yang riwayat Tirmidzi ya dan An-Nasa’i, kalau salah An-Nasa’i, Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ (Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di dalamnya). Nah di akhirnya itu disebutkan فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ (Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh ia telah terhalang dari seluruh kebaikan). Ya.
Jadi di Ramadan itu ada satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Yang terhalangi dari kebaikannya dia betul-betul dia seperti terhalangi dari semua kebaikan. Artinya peluang ini kita kelewat begitu. Peluang ampunan, peluang ibadah kelewat, dan terlewatnya itu bisa karena ketiduran, bisa karena tidak perhatian, bisa justru karena bermaksiat. Atau bisa jadi dia sudah ibadah tapi dia merasa yang macam-macam itu. Wah, ini sudah sepantasnya begini begini dan seterusnya. Secara umum dan secara zahir memang Lailatulqadar dicari dan diajak semua orang untuk mencari. Maka ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam, apa namanya, sudah masuk ke 10 hari terakhir dikatakan وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ (Dan beliau membangunkan keluarganya), sampai keluarganya dibangunkan. Ini menunjukkan bahwa Lailatulqadar ini sampai orang-orang biasa pun diajak begitu. Diajak artinya biar kita tidak kehalang itu. Nah, kita ada kesempatan untuk cari itu.
Host 2:
Nah, ini mungkin Ustad ada nasihat nih untuk kita dan sahabat Anda berada untuk para pencari Lailatulqadar ini. Apa, Ustad, trik-trik dan kiat-kiat motivasi dari Ustad?
Ustad:
Ini ada sebuah hadis ya yang ini disebutkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim bahwa para sahabat sampai mimpi, mimpi lihat Lailatulqadar. Ini disebutkan dalam hadis Ibnu Umar para sahabat sampai mimpi ngelihat Lailatulqadar. Enggak cuma satu dua orang, banyak mereka lihat Lailatulqadar di 7 hari terakhir. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan tentang الْأَوَاخِرِ (malam-malam terakhir), “Aku melihat mimpi kalian kayak sepakat ini.” Iya, 7 hari terakhir. Ya sudah yang pengin cari, cari di 7 hari terakhir. Karena ada dalam riwayat yang mengatakan 10 hari terakhir ini 7 hari terakhir. Tidak kontradiksi ini. 7 hari terakhir lebih dikuatkan lagi dari 10 hari terakhir.
Nah, ini menunjukkan orang kalau sampai mimpi itu kan berarti kebayang banget, pengin banget begitu. Kita kalau mau pekerjaan atau mau safar terutama mimpinya ada saja ketinggalan bisa apa begitu. Kalau belum kita kepikiran banget itu. Nah, maksud ana kalau memang kita jujur dan kita cari Lailatulqadar, kita belajar fadilahnya. Dan memang Lailatulqadar ini dulu para sahabat ada yang cerita 21 malam 21, ada yang cerita 23, ada yang cerita malam 25, ada yang 27. Sampai yang sumpah ini Ubay bin Ka’ab mengatakan إِنِّي أَحْلِفُ بِاللهِ (Sesungguhnya aku bersumpah demi Allah) bahwa itu lahir malam 27 begitu. Ubay bin Ka’ab bilang malam 27 itu artinya berarti malam-malam itu para sahabat cerita dan mereka dapat betul mereka dapat.
Nah, kalau kita betul-betul ngerti fadilahnya, kemudian ada orang-orang dapat, kok kita tidak dapat begitu kan kayak sayang kita. Nah, ini paling tidak kita ikut belajar persiapan. Ana sering sampaikan di pengajian kalau orang paling berbahagia di Ramadan itu orang yang paling berilmu. Artinya orang semakin siap dengan ilmunya, dengan imannya, maka dia bisa manfaatkan waktu dan cari amal yang benar. Ya. Nah, termasuk siap-siap Lailatulqadar ini dengan iktikaf. Kemudian berdoa dari sekarang. Iya. Berdoa dari sekarang. “Ya Allah berikan kemudahan untuk ibadah Ramadan. Kemudian anugerahkan Lailatulqadar.” Dan tidak menutup kemungkinan orang dapat Lailatulqadar, satu tahun berikutnya dapat lagi. Masyaallah.
Seperti Abu Bakar radhiyallahu anhu. Nabi sallallahu alaihi wasallam ke mana saja beliau suka ikut terus begitu. Nah kalau Nabi sallallahu alaihi wasallam iktikaf itu mustahil Abu Bakar tidur di rumah. Nah, kalau seandainya itu terjadi, Abu Sa’id cerita itu betul-betul malam 21, Abu Bakar tidak mungkin absen itu. Kemudian ketika sahabat yang cerita Muawiyah apa siapa itu bilang 23, tidak mungkin Abu Bakar juga absen. Artinya kemungkinan juga Abu Bakar ini dapat 10 hari 10 kali itu meskipun tidak ada kepastian, tetapi kemungkinan besar itu karena beliau tidak akan absen dari ibadah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Wallahu a’lam. Seperti itu. Masyaallah. Insyaallah. [tertawa]
Host 1:
Dan apakah semua amal ibadah pasti diterima di amalan itu, Ustad? Atau tetap bergantung pada keikhlasan dan kesungguhan kita?
Ustad:
Yang bisa memastikan hanya Allah Azza wa Jalla. Tapi makanya para ulama sampai mengatakan tanda amal itu diterima orang itu menjadi lebih baik keadaannya. Tapi kita katakan tadi tidak ada kepastian, tidak ada jaminan apalagi kalau seandainya terlihat begitu. Terlihat baik tapi wallahu a’lam begitu. Maka semua juga kembali kepada syarat diterimanya amal.
Host 2:
Tapi bisa juga apa, Ustad misalkan dirasakan tadi dampaknya perubahan dalam diri sendiri itu bisa jadi salah satu?
Ustad:
Iya bisa salah satu. Ada orang salat dalam Al-Qur’an dikatakan تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ (Mencegah dari perbuatan keji dan mungkar). Orang salat saja sebenarnya dia bisa menghilangi, menghilangkan apa? Kekejian dan kemungkaran. Tapi kalau seandainya tidak terjadi seperti itu bukan berarti salatnya salah dan orangnya gagal. Ya mungkin masih perlu ditambah lagi nih ibadahnya lebih baik lagi begitu. Wallahu a’lam.
Jadi tetap semuanya harus kita minta kepada Allah, ikhlas, tidak boleh riya. Kemudian juga harus benar. Harus benar apa namanya, salatnya harus benar, iktikafnya harus benar. Sebagian orang bilang, “Ana yang penting sudah iktikaf setelah itu sudah lewat.” Artinya iktikaf itu kan kalau sebagian orang memahaminya bangun malam tinggal di masjid baca zikir tertentu, balik habis itu ah salat subuhnya bablas. Nah ini kelihatan banyak banget. Jadi di malam-malam kalau kita lihat di masjid-masjid beberapa kampung kita ini, sayangnya mereka pokoknya ana iktikaf itu berangkat jam 11.00 jam 12.00, nanti jam 03.30 balik ke rumah habis sahur tidur dia salat subuh kelewat.
Kita katakan itu semuanya sunah. Kemudian salat subuhnya wajib. Kalau dia tidak iktikaf, tapi dia salat subuh, itu lebih afdal daripada salat subuhnya bablas, iktikafnya dibela-belain. Artinya, ini gimana dia berharap amalnya diterima sementara dia salah mengatur strategi begitu. Jadi, wallahu a’lam. Semua kembali seperti kaidah umum. Diterimanya amal itu harus ikhlas, harus مُتَابَعَةٌ (mengikuti tuntunan) sesuai dengan ajaran yang benar dari syariat ini, begitu. Dan mudah-mudahan kita sukses semuanya. Amin ya rabbal alamin. Itu yang kita harapin. Insyaallah. Barakallah fik ustad.
Host 1:
Syukran Ustad atas pencerahannya nih. جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا (Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan), Ustad. Dan tentunya ini bermanfaat untuk sahabat Roja di manapun Anda berada. Dan Kang Asep kita sudah berakhir nih sesinya nih. Masyaallah. Ya, intinya pemirsa semangat terus untuk menghidupkan malam-malam Ramadan dan jangan sampai menjadi orang yang merugi di bulan yang mulia ini. Semoga ilmu yang disampaikan hari ini bermanfaat untuk kita semua dan dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita semua. Amin. Amin rabbal alamin. Kami tutup dengan doa kafaratul majelis.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu).
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepada kalian).
Ustad:
وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Dan semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya juga tercurah kepada kalian).
Semua penulisan sudah disesuaikan dengan permintaan Anda. Apakah ada penyesuaian lain yang ingin dilakukan, mungkin terkait pembagian peran host atau jeda waktunya?
Halo! Sebagai Editor Kajian STDI, saya siap membantu merapikan transkrip kajian ini. Mengingat instruksi Anda yang sangat detail—yaitu mempertahankan keaslian setiap kata, memperbaiki tata bahasa, mengonversi lafaz Latin menjadi teks Arab murni yang dicetak tebal beserta terjemahannya, dan menyusun ulang paragraf—saya telah menyunting dokumen ini secara saksama agar sesuai dengan standar akademis dan tetap nyaman dibaca.
Sesuai permintaan Anda, saya juga memastikan tidak ada format blok kode (code block) agar mudah disalin ke dokumen Anda. Berikut adalah hasil suntingan akhirnya:
Transkrip Program Nasihat Ramadan: Hakikat Lailatulqadar
Host / Pembawa Acara:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepada kalian).
Ustaz / Peserta:
وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Dan semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya juga tercurah kepada kalian).
Ustaz:
الْحَمْدُ لِلَّهِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ (Segala puji bagi Allah, aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Adapun setelah itu).
Host 1:
Sahabat Roja di mana pun Anda berada. Alhamdulillah, di kesempatan yang berbahagia ini kita berjumpa kembali dalam program Nasihat Ramadan. Meluruskan niat dan menghidupkan hati tentunya, Kang, insyaallah. Pak Erik, hari ini kita mau membahas apa nih, Pak Erik? Kita ada tema ini, Kang E, malam Lailatulqadar. Apa itu hakikat Lailatulqadar itu sendiri? Dan alhamdulillah di studio sudah hadir tamu kita, Kang Asep. Masyaallah. Guru kita yang mulia, Ustaz Dr. M.A. Hasan Ayatullah حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى (Semoga Allah Yang Maha Tinggi menjaganya). السَّلَامُ عَلَيْكُمْ (Semoga keselamatan atasmu), Ustaz.
Ustaz:
وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Dan semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya juga tercurah kepada kalian). أَهْلًا وَسَهْلًا (Selamat datang) di studio podcast Roja, perdana, Ustaz.
Host 1:
Perdana, Ustaz. Masyaallah. Mudah-mudahan tambah manfaat.
Ustaz:
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ (Kabulkanlah doa kami, wahai Tuhan semesta alam).
Host 1:
Ustaz, kita ingin bincang-bincang seputar di bulan Ramadan, ada program Nasihat Ramadan dan kita ingin meminta pencerahan tentang Lailatulqadar nih, Ustaz. Lailatulqadar ini banyak yang mengartikan malam yang penuh ketenangan, malam berpanen pahala lah intinya begitu, ya. Namun, sebetulnya apa hakikat dari Lailatulqadar itu, Ustaz?
Ustaz:
Iya. Nah, بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَبَعْدُ (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, serta selawat dan salam semoga tercurah kepada utusan Allah. Adapun setelah itu).
Jadi, kesempatan untuk beribadah ini termasuk di antara karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada peluang untuk dapat keuntungan sebesar-besarnya. Tapi kalau kita tidak manfaatkan, bukan hanya rugi begitu, tapi malah terancam. Ya. Karena dalam hadis yang sahih, Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan, رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ (Celakalah seseorang yang mendapati bulan Ramadan namun tidak diampuni dosanya). Orang dapat Ramadan tidak diampuni, celaka dia. Nah, di antara keistimewaan itu malam Lailatulqadar.
Yang harus kita ketahui bahwa kita berbicara tentang urusan gaib. Dan para ulama menegaskan, urusan gaib kita tidak boleh menganalisa atau berspekulasi, ya. Tetapi kita betul-betul harus melandasi perbincangan kita dengan dalil. Iya. Maka, ketika orang berusaha mengambil pelajaran, sah-sah saja dia ingin mengambil hikmah. Karena hikmah mesti ada begitu, banyak, dan boleh saja orang akan mendapat keuntungan dari ibadah dia. Tapi untuk menetapkan sesuatu butuh dalil. Nah, termasuk ketika Lailatulqadar ini merupakan malam mulia, pahala yang banyak. Kemudian ada syariatnya untuk dihidupkan.
Nah, kalau kita mengatakan, “Saya punya ibadah dengan berdiam atau main perasaan saja karena tujuannya mengingat Allah,” akhirnya tidak beribadah tapi pokoknya mengingat Allah saja. Seperti ini kan menjadi sebuah tuntunan yang justru melenceng begitu. Maka kita katakan Lailatulqadar ada contohnya dan ada penerapannya di zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam. Kalau kita mau mencontoh, itu yang terbaik dari Nabi sallallahu alaihi wasallam. Begitu.
Host 2:
Namun Ustaz, mengapa banyak orang yang merasa sudah mencari atau mendapatkan Lailatulqadar tapi hidupnya tetap sama setelah Ramadan itu, Ustaz?
Ustaz:
Iya, ini disebutkan, ya, oleh Ibnu Rajab al-Hambali dan juga beberapa ulama lain, bahwa di antara tanda amal kita diterima oleh Allah itu ada perubahan kebaikan. Jadi, kalau sebelumnya baik menjadi lebih baik, kalau sebelumnya ada kurangnya, kita jadi lebih baik dari sebelumnya. Nah, ini bukan sesuatu yang pasti. Artinya, mereka mengatakan, ثَوَابُ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا (Balasan dari sebuah kebaikan adalah kebaikan setelahnya).
Di antara bukti pahala sebuah kebaikan, orang itu dimudahkan untuk melakukan kebaikan setelahnya. Ini adalah harapan. Artinya tanda, ya. Tanda orang itu menjadi lebih baik. Tapi bukan berarti kalau tidak seperti itu pasti tertolak. Atau orang kalau belum seperti itu berarti belum berhasil. Atau orang yang tidak seperti itu pasti dia tidak ada, apa namanya, pahalanya. Tidak ada kepastian seperti itu. Sehingga termasuk Lailatulqadar, kalau seandainya ini orang bejat banget, “Ini kayaknya pasti enggak dapat Lailatulqadar.”
Dulu ada ungkapan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu: مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ (Barang siapa yang mendirikan salat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan mendapatkan Lailatulqadar). Kalau dia salat malam terus, setiap hari sepanjang satu tahun, dia pasti dapat tuh. Ya, dia pasti dapat.
Nah, dulu juga salah seorang masyaikh (guru-guru) kita bilang ketika kita di awal pertama belajar di Jamiah Islamiyah tahun 2005. Beliau mengatakan, “Karena kita Ramadan masih masuk, nih.” Iya. Beliau ketika menjelang 10 hari terakhir sudah mulai mahasiswa, mulai ada yang iktikaf di Makkah, sudah mulai gaib-gaib begitu. Beliau mengatakan tentang Lailatulqadar, padahal guru Nahwu, beliau masyaallah, beliau bilang, “Orang yang bisa bangun terus malam, tidak tidur, insyaallah dia dapat.”
Artinya bisa jadi orang yang tidak saleh-saleh amat juga ada kesempatan itu. Nah, tentunya orang yang bermaksiat di malam itu kacau sekali, celaka dia. Waktu istimewa disia-siakan. Tetapi maksudnya tidak harus orang yang dapat itu orang saleh, hafiz Quran, imam masjid, santri, atau orang yang tidak ada maksiat sama sekali. Tidak ada kepastian seperti itu.
Sementara akhlak juga kita akan tahu ada tabiat, ada yang memang muktasab atau belajar sehingga kekurangan itu tidak memastikan orang tidak dapat. Apalagi orang yang memang galak banget, ini masih marah-marah juga begitu. Kita katakan marah memang menunjukkan orang ini tidak bisa menguasai diri sendiri. Tapi tipikal itu sudah dari sananya, kita bilang bukan berarti kalau orang seperti itu berarti adalah orang yang memang ditakdirkan tidak dapat Lailatulqadar. Tidak ada yang seperti itu. Iya, bertabiat ya, Ustaz ya. Iya. Artinya ya memang ada pengaruhnya, akan tetapi tidak bisa dipastikan.
Host 2:
Berarti semua bisa mendapatkan kesempatan siapa pun, Ustaz ya. Yang penting syaratnya muslim, Ustaz ya.
Ustaz:
Otomatis itu. Otomatis [tertawa].
Host 1:
Ustaz, ini masalah waktunya, ini kejadian Lailatulqadar itu sebenarnya kapan? Dan kalaupun Allah tidak menetapkan, merahasiakan, ada hikmahnya tidak Allah merahasiakan Lailatulqadar itu sendiri, Ustaz?
Ustaz:
Iya. Tadi yang disebutkan oleh Abdullah bin Mas’ud, مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ (Barang siapa yang mendirikan salat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan mendapatkan Lailatulqadar). Orang kalau bisa sepanjang tahun sudah salat malam terus, dapat di Lailatulqadar. Nah, ini disampaikan ke sahabat yang lain. Oh, ya. Ya, ditanya ini Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu tentang Ibnu Mas’ud, beliau bilang, “Pengen dapat Lailatulqadar, sudah salat malam saja terus begitu, tidak usah dibatasi.”
Maka Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu mengatakan, يَرْحَمُ اللهُ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، إِنَّهُ لَيَعْلَمُ أَنَّهَا فِي رَمَضَانَ، وَلَكِنَّهُ أَرَادَ أَنْ لَا يَتَّكِلَ النَّاسُ (Semoga Allah memberikan rahmat kepada Abu Abdurrahman [maksudnya Abdullah bin Mas’ud]. Sesungguhnya beliau sangat mengetahui bahwa Lailatulqadar itu berada pada bulan Ramadan. Akan tetapi, beliau bermaksud agar orang-orang tidak sekadar berpangku tangan). Beliau sampaikan fatwa itu agar orang tidak malas, hanya mengandalkan Ramadan saja, sisanya tidak ibadah.
Jadi para ulama sepakat bahwa Lailatulqadar bisa terjadi lagi. Kenapa dikatakan demikian? Ada juga sebagian pendapat yang ini tidak kuat, ya, mengatakan Lailatulqadar terjadi zaman Nabi sallallahu alaihi wasallam saja, setelah itu sudah diangkat oleh Allah. Nah, tapi pendapat ini tidak sahih. Yang kedua, ada yang mengatakan, ini pendapat yang lemah, bahwa Lailatulqadar terjadi di luar bulan Ramadan. Nah, ini pendapat yang tidak kuat juga. Kemudian ada lagi pendapat yang ketiga yang mengatakan Ramadan, tapi di awal. Nah, ini juga tidak kuat, ya.
Dalilnya banyak. Di antaranya Nabi sallallahu alaihi wasallam iktikaf, kemudian lanjut, kemudian lanjut sampai 10 hari terakhir. Lalu beliau bilang dalam hadis itu, إِنَّ الَّذِي تَطْلُبُهُ أَمَامَكَ (Sesungguhnya apa yang engkau cari ada di hadapanmu). Kata Jibril, “Yang kamu cari-cari itu depanmu.” Maksudnya belum. Belum lanjut lagi iktikaf di 10 hari kedua. Lanjut lagi di 10 hari ketiga. Lalu beliau mengatakan cari di 10 hari ketiga. Artinya ada berarti Lailatulqadar. Kemudian yang kedua, ternyata spesifiknya di 10 hari terakhir.
Nah, kok tidak ketahuan ya? Nah, itu disebutkan oleh Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah. Beliau mengatakan, “Sengaja disembunyikan agar orang tidak hanya ibadah di satu malam itu.” Kalau mereka sudah tahu Lailatulqadar ini di malam tertentu, sudah setelahnya sudah tidur tidak lagi ibadah. Dan sekarang sudah kelihatan orang-orang itu ketika diberitahu kemungkinan besarnya itu malam ganjil. Nah, itu sudah malam genap kita lihat di masjid itu tidak seramai malam ganjil. Iya. Ini semuanya sampai di Haramain (Makkah-Madinah) seperti itu, sama Lailatulqadar apa namanya, malam-malam ganjil dengan malam-malam genap terasa perbedaannya. Apalagi malam ke-27. Malam ke-27 full banget. Iya. Tapi malam ke-26 dan ke-28 sunyi. Bukan sepi ya. Tetapi tidak seperti ke-27 atau ke-29.
Nah ini memang sampai sebagian ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, beliau sampai mengatakan, “Antum itu kalau kita perhatikan malam ganjil itu kan kita lihat dari hitungan depan.” Nah itu, iya kan. Padahal dalam sebuah riwayat disebutkan, فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، لِتِسْعٍ يَبْقَيْنَ، لِسَبْعٍ يَبْقَيْنَ، لِخَمْسٍ يَبْقَيْنَ (Maka carilah Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir, pada sembilan malam yang tersisa, tujuh malam yang tersisa, lima malam yang tersisa). Hitungnya di belakang berarti. [tertawa] Nah, kalau hitung dari belakang nanti hitungannya tidak bisa sama. Kalau pas 29 hari, kalau Ramadan 29 hari mungkin bisa bareng, ya. Jadi witir (ganjil) depan, witir dari belakang. Tapi kalau 30 hari maka genap dari depan, witir dari belakang. Kata Syaikhul Islam, “Ini hikmahnya biar kita 10 hari ini full.” Begitu ya.
Host 1:
Artinya hikmahnya itu agar kita menghidupkan seluruh Ramadan, Ustaz, ya. Bukan satu malam saja, Ustaz.
Ustaz:
Iya. Dan itu yang dicontohkan Nabi sallallahu alaihi wasallam. Beliau waktu itu ibadah 10 hari full. Bahkan dalam riwayat yang sahih dalam Sahih Bukhari Muslim, beliau iktikaf dari tanggal 11. Tanggal 11 Ramadan. Kemudian 10 hari yang kedua selesai, beliau kemudian khotbah di depan para sahabat. مَنِ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَعْتَكِفِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ (Barang siapa yang masih ingin iktikaf bareng aku, maka hendaklah ia beriktikaf pada sepuluh malam terakhir). Lanjut nih sampai 10 hari terakhir. Artinya, di-full-kan ibadah itu, tidak hanya ganjil tok, malam tok begitu. Istirahat, Ustaz. Iya, [tertawa] otomatis. Tapi kan kita pengin betul-betul ada yang istimewa begitu. Karena memang sifatnya rahasia, Ustaz, ya. Iya.
Dan ini, Ustaz, perbedaan saja Indonesia sama Saudi misalkan ya. Ada yang mendahului misalkan, ini sini genap, sana ganjil, itu tidak terlalu diperhatikan oleh para ulama. Karena bukan berarti Ramadan di Arab Saudi lebih istimewa dari Ramadan di tempat kita. Karena Allah-nya orang-orang Saudi Allah kita. Iya. Allah Azza wa Jalla punya kita semua. Kemudian ibadah itu berlaku untuk kita semua. Dan tidak perlu kita terjebak dalam hitung-hitungan orang yang baru belajar matematika. “Jadi kalau nanti Allah turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir, ini sepertiga malam terakhirnya siapa ini begitu?” [tertawa]. Kita tidak perlu dibingungkan kita ini sudah apa. Jadi tujuan kita amal ini justru kita manfaatkan Ramadan itu untuk ibadah tanpa memikirkan ah ana Ramadannya Saudi Ramadannya Indonesia. Iya.
Host 2:
Ada kisi-kisinya tadi dari Ustaz. Jadi intinya tadi dari kisah Ibnu Mas’ud Ustaz ya. Yang menghidupkan malam dengan salat malam bisa mendapatkan juga itu. Nah itu salah satu kunci juga. Nah salat malamnya itu tarawih saja atau ditambah dengan tahajud?
Ustaz:
Ya, bebas saja. Jadi Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah salat di awal malam, pernah di pertengahan sehingga Nabi sallallahu alaihi wasallam يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فِي أَوَّلِهِ وَأَوْسَطِهِ وَآخِرِهِ (Beliau salat malam pada awal malam, pertengahannya, dan akhirnya). Kata Aisyah dalam Sahih Muslim, Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah salat di awal malam, pernah di pertengahan, pernah di akhir.
Bahkan Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah salat panjang banget satu rakaat sampai 6 juz itu. Kemudian Nabi sallallahu alaihi wasallam pernah salat sampai menjelang sahur. Sampai orang-orang pada bingung, “Ini jangan-jangan kita enggak kebagian sahur.” Nah, artinya salatnya panjang banget. Nah, orang kalau bisa kayak gitu entah dengan memperbanyak rakaat atau dengan menambah panjang, maka ini bagus banget. Dan para ulama mengatakan ini khilaf ya, memang ada khilafnya. Sebagian ulama mengatakan tidak boleh lebih dari 11 rakaat. Artinya orang kalau sudah selesai dari salat malam 11 rakaat sudah tidak nambah begitu.
Tapi pendapat yang rajih, wallahu a’lam, boleh. Ya, ini yang diyakini oleh jumhurul ulama dengan keumuman dalil salat malam itu مَثْنَى مَثْنَى (dua rakaat, dua rakaat) tanpa pembatasan. Kadang-kadang Nabi sallallahu alaihi wasallam 11 rakaat dan itu yang paling sering. Itu yang dimaknai dengan hadis Aisyah: مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ (Beliau tidak pernah menambah pada bulan Ramadan dan tidak pula pada bulan lainnya). Tapi dalam riwayat lain, Aisyah juga cerita beliau salat 13 rakaat. Ya, memang ada tambahan 13 rakaat, dua rakaat itu إِمَّا (adapun/baik itu) dua rakaat setelah salat Isya atau dua rakaat sebelum salat Subuh. Tapi sebenarnya ada juga riwayat yang betul-betul 13 itu 13, 13 begitu, artinya ya sudah 8 tambah 5 tambah 5 tambah 5, ya itu menunjukkan 13 itu rangkaian salat malam semua.
Nah, sehingga kita diminta untuk memperbanyak, memperindah, memperbaiki. Dan kalaupun seandainya orang tidak salat malam, dia pengin salat mutlak, boleh lagi iktikaf. Kemudian tadi salat tarawih bersama imam, “Sudah ana mau salat lagi.” Salat sudah salat sunah. Kalau seandainya dia wudu, dia salat lagi apa namanya salat zuhur itu. Kemudian kalau seandainya dia mau salat tahiyatul masjid kalau baru masuk, itu semuanya salat-salat yang insyaallah bisa menghidupkan malam.
Tapi menghidupkan memang identik dengan ibadah, قِيَامُ اللَّيْلِ (salat malam), baca Quran begitu. Kalau qiyamnya sambil ngopi ya tidak apa-apa. Boleh juga iktikaf ditemani kopi mendapatkan manisnya iman tengah malam kopi manis. Ya, artinya sah-sah saja. Dan Ibnu Mubarak mengatakan dalam bahasa Arab itu kalau kita tidur sebentar kemudian lagi salat, istirahat baca Quran, kemudian salat, kemudian mungkin sambil ngobrol sebentar, ini tidak menafikan bahwa dia قِيَامُ اللَّيْلِ (salat malam). Ya. Bahkan bisa dikatakan, “Oh, itu salat terus begitu.” Salat terus padahal dia kan ada ngobrolnya, ada makannya begitu. Tidak masalah, dalam bahasa Arab itu waktu yang paling banyak bisa disebut seperti semuanya. Ya, artinya juga jangan dipaksakan juga, Ustaz ya. Tidur saja nanti bangun lagi begitu, Ustaz.
Host 1:
Ini Kang, Ustaz, bicara Lailatulqadar ini ya. Bulan 1000 bulan nih. Jadi Lailatulqadar itu lebih baik dari 1000 bulan. Ustaz, apa makna “lebih baik” yang Allah maksud?
Ustaz:
Iya, itu disebutkan dalam buku-buku tafsir, kan. Lebih baik dari 1000 bulan. Kebaikan dan kelebihan itu apa begitu? Banyak tafsir para ulama mengatakan الْعَمَلُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْعَمَلِ فِي غَيْرِهَا (Beramal pada malam tersebut lebih baik daripada beramal pada malam-malam lainnya). Jadi amal di malam itu jauh lebih baik dari 1000 bulan atau sekitar 83 tahun orang pada ngitung, itu kalau seandai tidak ada Lailatulqadarnya. Ya 83 tahun tanpa Lailatulqadar itu masih kalah sama Lailatulqadar satu malam begitu. Nah, itu berarti maksudnya pahala memang. Jadi, orang beramal di situ dia memiliki pahala yang banyak, ya. Memiliki pahala yang berpotensi untuk banyak dikabulkan Allah seperti itu.
Host 2:
Masyaallah. Nah, Ustaz, bicara tentang malam Lailatulqadar, saya pernah dengar, Ustaz, itu adalah malam penetapan takdir. Nah, seperti apa, Ustaz, itu? Apakah memang takdir tahunan diturunkan kepada umat manusia itu, Ustaz?
Ustaz:
Iya. Kita tahu bahwa para ulama ahlusunah menyatakan bahwa takdir sudah selesai, ditulis di Lauhulmahfuz. Iya. Tetapi ada takdir tahunan pula yang antum sampaikan itu, ditulisnya per waktu dan kala yang memang Allah Azza wa Jalla tentukan. Nah, disebutkan dalam tafsir surah itu ayat 4 itu, ya, pada malam itu Allah tentukan semua urusan. Ya, di tafsir Ibnu Katsir dikatakan مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ إِلَى الْكَتَبَةِ أَمْرَ السَّنَةِ (Dari Lauhulmahfuz kepada para malaikat pencatat mengenai urusan setahun).
Jadi yang ada dalam Lauhulmahfuz yang sudah catatan takdir itu di-full, dilengkapkan. Nah, itu mulai diurai rinci-rincinya. Nah, disampaikan kepada para malaikat. Lauhulmahfuz tidak ada yang tahu kecuali Allah. Hatta malaikat penulis itu mereka diberitahu nih. Tapi diberitahunya seperti itu sesuai dengan kehendak Allah. Maka termasuk di antaranya ini yang di tafsir Ibnu Katsir dikatakan para malaikat yang para penulis itu mereka dirincikan itu di malam itu. Iya. Selama 1 tahun ini begini begitu.
Host 1:
Masyaallah. Lalu bagaimana memahami takdir agar tidak membuat kita pasrah dan justru semakin semangat berdoa dan beramal, Ustaz?
Ustaz:
Iya. Ini betul-betul perbedaan, ya, antara orang mau belajar dan tidak. Kita sama-sama lahir dalam fitrah, ya. Artinya orang ketika tidak diselewengkan oleh orang tuanya masyaallah, artinya dididik jelek begitu, ya kan dalam hadis disebutkan orang tuanyalah yang membuat dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. Mau jadi orang ahlusunah atau orang yang ahli maksiat.
Tapi maksudnya, kita ini ketika belajar tentang akidah, mengenal Allah lebih dekat, maka kita akan lebih khusyuk dan bisa memaknai ibadah. Ya, ketika orang berbicara tentang takdir, itu salah satu iman dari yang enam, rukun iman yang enam. Nah, sehingga posisinya sama dengan iman kepada Allah, iman kepada malaikat, kepada rasul, kitab begitu, dan hari akhir. Artinya orang ketika berbicara tentang takdir, kita tahu bahwa kita semua sudah dituliskan Allah Azza wa Jalla, sehingga kita tidak mungkin keluar dari arahan Allah.
Tetapi ini yang sering ditanyakan, kalau memang semuanya sudah ditakdirkan sama Allah, kenapa harus kita beramal? Kalau takdir ana masuk dalam surga sudah ana mau enggak salat juga masuk surga begitu. Tapi kan kalau sudah ditakdirkan na’udzubillah selainnya begitu. Nah ini dulu pernah ditanyakan oleh sahabat dalam hadis yang sahih Nabi sallallahu alaihi wasallam ditanya ketika beliau mengatakan مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلَّا وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ (Tidaklah di antara kalian satu jiwa pun kecuali telah diketahui tempatnya di surga atau di neraka). Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, فَفِيمَ الْعَمَلُ؟ (Lalu untuk apa beramal?)”. Dalam riwayat lain dikatakan, “Kenapa kita tidak pasrah saja begitu?” Maka Nabi mengatakan kalian beramal saja. Orang itu akan diarahkan Allah sesuai garisnya. Artinya kalau menggarisnya surga dia akan digampangkan. Garisnya neraka maka dia akan digampangkan seperti itu.
Padahal dalam hadis Ibnu Mas’ud dikatakan, orang itu terkadang beramal dengan calon penghuni surga, sudah dia itu. Ternyata karena takdirnya meleset dia tidak kebayang tuh. Ya, takdirnya menjadi neraka. Di akhir-akhir hayat itu tahu-tahu saja dia na’udzubillah begitu murtad jadi pelaku na’udzubillah begitu. Sudah hampir, sudah hampir mati. Nah ini su’ul khatimah namanya. Kemudian yang sebaliknya, sudah kelihatan bejat, sampah masyarakat, begal, apa segala macam. Tapi di akhir hayat dia balik menjadi orang saleh bertobat.
Artinya orang betul-betul tidak mengerti dan semua bisa berbalik. Untuk orang yang alhamdulillah Allah karuniai kesempatan beramal, ini bersyukur dia. Tapi dia tidak bisa menjamin, apalagi ujub bangga ini yang paling baik. Tidak. Tidak ada jaminan. Dulu para ulama sampai seperti itu. Mereka sampai sering menangis seperti Sufyan Ats-Tsauri, Al-Hasan Al-Bashri ketika mereka ditanya gimana ana mau bahagia? Ana tidak ngerti dalam catatan takdir ini bagaimana nanti.
Yang kedua, untuk orang yang fasik yang banyak kekurangannya, ini ada kesempatan untuk beramal begitu. Nah, tapi Allah Azza wa Jalla sudah tentukan jalan juga. Ya. Kalau kita pengin misalkan dapat pekerjaan yang layak, gaji besar begitu, sampai orang milih sekolah. Ya. Sampai siap bayar untuk kursus, untuk apa. Meskipun kursus tidak jaminan. Sekolah itu tidak jaminan juga dia dapat pekerjaan yang itu, tetapi orang kan punya harapan, “Saya kalau di situ peluang untuk itu lebih besar,” begitu. Artinya ini tidak disamakan cuma ini kasih contoh saja.
Memberikan contoh orang itu dituntut untuk mengikuti alurnya, kita melaksanakan salat, menjaga kehormatan, tahu akidah, biar kita juga tidak menggantungkan tapi tidak menantang. Ya, dalam masalah takdir itu ada dua sekte sesat. Yang satu mengatakan tidak ada takdir. Nah, ini sesat. Yang satu mengatakan semua sudah takdir. Maksudnya saya mencuri juga takdir begitu. Saya tidak salat tidak salat takdir saya seperti ini. Ini salah begitu. Jadi orang tetap tertuntut untuk beramal sekaligus dia serahkan semuanya kepada Allah karena semuanya sudah ada catatannya. Iya, ada garisnya. Walaupun semua sudah ditakdirkan tapi kita tetap berusaha untuk yang terbaik setiap hari, Ustaz. Ya. Dan jangan merasa zona nyaman, aman itu, Ustaz. Betul. Jadi tidak ada jaminan takut. Iya. Dan takut di akhirnya kita kan tidak tahu akhir kayak gimana. Berusaha setiap hari, Ustaz. Ya. Masyaallah.
Host 2:
Nah, Ustaz ini bagaimana dengan tanda-tanda Lailatulqadar itu sendiri? Apakah terasa setelah Ramadan itu berlalu atau masih Ramadan itu sudah tampak begitu dengan?
Ustaz:
Iya. Ini sering dibahas oleh para ulama tentang tanda-tanda Lailatulqadar. Dan tanda Lailatulqadar ini banyak riwayat yang memang tidak sahih, ya. Tapi ada yang sahih di antaranya seperti yang disebutkan oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu anhu ketika beliau mengatakan aku ngerti itu malam itu malam apa begitu. Beliau mengatakan الَّتِي أَمَرَنَا الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا (Malam yang kita diperintahkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam untuk mendirikannya/ibadah).
Nah, lalu disebutkan وَهِيَ الَّتِي تَطْلُعُ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَتِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا (Dan itu adalah hari di mana matahari terbit pada pagi harinya tampak putih bersih tanpa silau cahayanya). Dia putih, bersih tapi tidak silau. Tapi memang itu berarti sudah lewat. Oh iya. Jadi kalau ciri Lailatulqadar itu, nah apa namanya, matahari besoknya, berarti kalau besoknya sudah oh tadi malam Lailatulqadar begitu, ketinggalan.
Ada beberapa ungkapan riwayat yang disebutkan malam itu tenang, semua tumbuh-tumbuhan sujud. Kalau seandainya musim panas tidak terasa panas, kalau musim dingin tidak terasa dingin. Tapi ini kebanyakan kalaupun diriwayatkan secara marfu atau kepada Nabi sebagai hadis, tidak sahih. Tidak sahih. Nah, sehingga sama pesannya sebenarnya. Jadi kita ibadah saja, kita ibadah saja tanpa terlalu meruncingkan urusan pada tanda. “Aduh, kayaknya sudah lewat tuh.” Begitu. Iya, kayaknya yang kemarin itu kayak tenang banget ya begitu. Tidak usah itu terlalu dipikirkan. Sekarang kita ibadah sudah seperti itu. Nantinya akan menumbuhkan kekhawatiran sendiri, Ustaz. Ya, kekhawatiran, kemalasan juga. Iya. Jadi disangka sudah lewat Lailatulqadar sudah tidak ibadah lagi dia. Iya. Putus asa. [tertawa]
Host 1:
Nah, Ustaz, jika seorang melewatkan Lailatulqadar, apakah ia benar-benar merugi di sisi Allah, Ustaz?
Ustaz:
Iya. Memang dalam hadis yang riwayat Tirmidzi ya dan An-Nasa’i, kalau salah An-Nasa’i, Nabi sallallahu alaihi wasallam menyatakan أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ (Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di dalamnya). Nah di akhirnya itu disebutkan فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ (Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang terhalang dari kebaikannya, maka sungguh ia telah terhalang dari seluruh kebaikan). Ya.
Jadi di Ramadan itu ada satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Yang terhalangi dari kebaikannya dia betul-betul dia seperti terhalangi dari semua kebaikan. Artinya peluang ini kita kelewat begitu. Peluang ampunan, peluang ibadah kelewat, dan terlewatnya itu bisa karena ketiduran, bisa karena tidak perhatian, bisa justru karena bermaksiat. Atau bisa jadi dia sudah ibadah tapi dia merasa yang macam-macam itu. Wah, ini sudah sepantasnya begini begini dan seterusnya. Secara umum dan secara zahir memang Lailatulqadar dicari dan diajak semua orang untuk mencari. Maka ketika Nabi sallallahu alaihi wasallam, apa namanya, sudah masuk ke 10 hari terakhir dikatakan وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ (Dan beliau membangunkan keluarganya), sampai keluarganya dibangunkan. Ini menunjukkan bahwa Lailatulqadar ini sampai orang-orang biasa pun diajak begitu. Diajak artinya biar kita tidak kehalang itu. Nah, kita ada kesempatan untuk cari itu.
Host 2:
Nah, ini mungkin Ustaz ada nasihat nih untuk kita dan sahabat Anda berada untuk para pencari Lailatulqadar ini. Apa, Ustaz, trik-trik dan kiat-kiat motivasi dari Ustaz?
Ustaz:
Ini ada sebuah hadis ya yang ini disebutkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim bahwa para sahabat sampai mimpi, mimpi lihat Lailatulqadar. Ini disebutkan dalam hadis Ibnu Umar para sahabat sampai mimpi ngelihat Lailatulqadar. Enggak cuma satu dua orang, banyak mereka lihat Lailatulqadar di 7 hari terakhir. Maka Nabi sallallahu alaihi wasallam mengatakan tentang الْأَوَاخِرِ (malam-malam terakhir), “Aku melihat mimpi kalian kayak sepakat ini.” Iya, 7 hari terakhir. Ya sudah yang pengin cari, cari di 7 hari terakhir. Karena ada dalam riwayat yang mengatakan 10 hari terakhir ini 7 hari terakhir. Tidak kontradiksi ini. 7 hari terakhir lebih dikuatkan lagi dari 10 hari terakhir.
Nah, ini menunjukkan orang kalau sampai mimpi itu kan berarti kebayang banget, pengin banget begitu. Kita kalau mau pekerjaan atau mau safar terutama mimpinya ada saja ketinggalan bisa apa begitu. Kalau belum kita kepikiran banget itu. Nah, maksud ana kalau memang kita jujur dan kita cari Lailatulqadar, kita belajar fadilahnya. Dan memang Lailatulqadar ini dulu para sahabat ada yang cerita 21 malam 21, ada yang cerita 23, ada yang cerita malam 25, ada yang 27. Sampai yang sumpah ini Ubay bin Ka’ab mengatakan إِنِّي أَحْلِفُ بِاللهِ (Sesungguhnya aku bersumpah demi Allah) bahwa itu lahir malam 27 begitu. Ubay bin Ka’ab bilang malam 27 itu artinya berarti malam-malam itu para sahabat cerita dan mereka dapat betul mereka dapat.
Nah, kalau kita betul-betul ngerti fadilahnya, kemudian ada orang-orang dapat, kok kita tidak dapat begitu kan kayak sayang kita. Nah, ini paling tidak kita ikut belajar persiapan. Ana sering sampaikan di pengajian kalau orang paling berbahagia di Ramadan itu orang yang paling berilmu. Artinya orang semakin siap dengan ilmunya, dengan imannya, maka dia bisa manfaatkan waktu dan cari amal yang benar. Ya. Nah, termasuk siap-siap Lailatulqadar ini dengan iktikaf. Kemudian berdoa dari sekarang. Iya. Berdoa dari sekarang. “Ya Allah berikan kemudahan untuk ibadah Ramadan. Kemudian anugerahkan Lailatulqadar.” Dan tidak menutup kemungkinan orang dapat Lailatulqadar, satu tahun berikutnya dapat lagi. Masyaallah.
Seperti Abu Bakar radhiyallahu anhu. Nabi sallallahu alaihi wasallam ke mana saja beliau suka ikut terus begitu. Nah kalau Nabi sallallahu alaihi wasallam iktikaf itu mustahil Abu Bakar tidur di rumah. Nah, kalau seandainya itu terjadi, Abu Sa’id cerita itu betul-betul malam 21, Abu Bakar tidak mungkin absen itu. Kemudian ketika sahabat yang cerita Muawiyah apa siapa itu bilang 23, tidak mungkin Abu Bakar juga absen. Artinya kemungkinan juga Abu Bakar ini dapat 10 hari 10 kali itu meskipun tidak ada kepastian, tetapi kemungkinan besar itu karena beliau tidak akan absen dari ibadah Nabi sallallahu alaihi wasallam. Wallahu a’lam. Seperti itu. Masyaallah. Insyaallah. [tertawa]
Host 1:
Dan apakah semua amal ibadah pasti diterima di amalan itu, Ustaz? Atau tetap bergantung pada keikhlasan dan kesungguhan kita?
Ustaz:
Yang bisa memastikan hanya Allah Azza wa Jalla. Tapi makanya para ulama sampai mengatakan tanda amal itu diterima orang itu menjadi lebih baik keadaannya. Tapi kita katakan tadi tidak ada kepastian, tidak ada jaminan apalagi kalau seandainya terlihat begitu. Terlihat baik tapi wallahu a’lam begitu. Maka semua juga kembali kepada syarat diterimanya amal.
Host 2:
Tapi bisa juga apa, Ustaz misalkan dirasakan tadi dampaknya perubahan dalam diri sendiri itu bisa jadi salah satu?
Ustaz:
Iya bisa salah satu. Ada orang salat dalam Al-Qur’an dikatakan تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ (Mencegah dari perbuatan keji dan mungkar). Orang salat saja sebenarnya dia bisa menghilangi, menghilangkan apa? Kekejian dan kemungkaran. Tapi kalau seandainya tidak terjadi seperti itu bukan berarti salatnya salah dan orangnya gagal. Ya mungkin masih perlu ditambah lagi nih ibadahnya lebih baik lagi begitu. Wallahu a’lam.
Jadi tetap semuanya harus kita minta kepada Allah, ikhlas, tidak boleh riya. Kemudian juga harus benar. Harus benar apa namanya, salatnya harus benar, iktikafnya harus benar. Sebagian orang bilang, “Ana yang penting sudah iktikaf setelah itu sudah lewat.” Artinya iktikaf itu kan kalau sebagian orang memahaminya bangun malam tinggal di masjid baca zikir tertentu, balik habis itu ah salat subuhnya bablas. Nah ini kelihatan banyak banget. Jadi di malam-malam kalau kita lihat di masjid-masjid beberapa kampung kita ini, sayangnya mereka pokoknya ana iktikaf itu berangkat jam 11.00 jam 12.00, nanti jam 03.30 balik ke rumah habis sahur tidur dia salat subuh kelewat.
Kita katakan itu semuanya sunah. Kemudian salat subuhnya wajib. Kalau dia tidak iktikaf, tapi dia salat subuh, itu lebih afdal daripada salat subuhnya bablas, iktikafnya dibela-belain. Artinya, ini gimana dia berharap amalnya diterima sementara dia salah mengatur strategi begitu. Jadi, wallahu a’lam. Semua kembali seperti kaidah umum. Diterimanya amal itu harus ikhlas, harus مُتَابَعَةٌ (mengikuti tuntunan) sesuai dengan ajaran yang benar dari syariat ini, begitu. Dan mudah-mudahan kita sukses semuanya. Amin ya rabbal alamin. Itu yang kita harapin. Insyaallah. Barakallah fik ustaz.
Host 1:
Syukran Ustaz atas pencerahannya nih. جَزَاكُمُ اللهُ خَيْرًا (Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan), Ustaz. Dan tentunya ini bermanfaat untuk sahabat Roja di manapun Anda berada. Dan Kang Asep kita sudah berakhir nih sesinya nih. Masyaallah. Ya, intinya pemirsa semangat terus untuk menghidupkan malam-malam Ramadan dan jangan sampai menjadi orang yang merugi di bulan yang mulia ini. Semoga ilmu yang disampaikan hari ini bermanfaat untuk kita semua dan dapat kita aplikasikan dalam kehidupan kita semua. Amin. Amin rabbal alamin. Kami tutup dengan doa kafaratul majelis.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu).
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepada kalian).
Ustaz:
وَعَلَيْكُمُ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ (Dan semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya juga tercurah kepada kalian).


