Kisah Perang Badar dan Kematian Umayyah bin Khalaf
Kisah Perang Badar dan Kematian Umayyah bin Khalaf

Topik: Kisah Perang Badar dan Kematian Umayyah bin Khalaf
بسم الله الرحمن الرحيم، السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين، وبه نستعين على أمور الدنيا والدين، والصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين نبينا محمد وعلى آله وصحبه والتابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ…
Ikhwah sekalian, kita akan membahas dan melanjutkan hadis tentang kisah perjuangan Nabi ﷺ dalam beberapa penggal perang yang dialami oleh Nabi ﷺ.
Kalau kita membaca berita kecelakaan dan korbannya meninggal dunia, kita membacanya dengan prihatin dan sedih. Tetapi secara umum kalau tidak kenal, ya sudah. Tapi kalau kenal, “Lho, itu baru kemarin ketemu ana (saya). Oh, itu teman ana,” kalau seandainya kenal. Baik. Lebih sedih lagi kalau kemudian biasanya berita ini akan diperinci dengan wawancara dengan keluarganya. “Itu Fulan sebelum berangkat, detik-detik menjelang wafatnya sempat berpesan kepada anaknya: ‘Nanti kalau seandainya ana tidak ada, tolong ini…'” “Ya, Pak.”
“Oh, itu si almarhum orang biasa begitu,” kan dibilang sebelum sempat dia meninggal, dia sempat memperbaiki dulu talang yang rusak di rumah. Ini jarang-jarang sekali terjadi ya, jam kerja balik hanya untuk memperbaiki talang rumah yang rusak. Habis itu berangkat dia, eh ternyata kecelakaan meninggal. Orang mendengarnya itu jadi lebih terkesima dengan cerita itu, lebih sedih ya.
Di dalam peristiwa Sirah Nabi ﷺ, ada kisah yang sempat diceritakan dengan lebih detail pada saat perbincangan orang yang menjadi korban Perang Badar, bukan orang Islam. Karena kita pun akan sedih dengan para syuhada Perang Badar dan perang lainnya. Akan tetapi, ini justru terjadi di rumah tangga orang kafir yang termasuk orang paling kriminal dalam mencelakakan kaum Muslimin. Ya, di antaranya adalah kisah Umayyah bin Khalaf.
Umayyah bin Khalaf adalah pembesar di kalangan Quraisy. Dia dengan Abu Jahal, ini dua-duanya merupakan orang yang paling besar penentangannya terhadap dakwah Nabi ﷺ. Tetapi Nabi ﷺ terhalangi ketika akan disiksa karena beliau memiliki sebab lain, yaitu Abu Thalib. Abu Thalib pembesar juga. Mereka semua adalah keturunan orang Quraisy yang saling menghormati.
Sampai dalam hadis yang shahih disebutkan bahwa Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه mengatakan: “أول من أظهر إسلامه سبعة” (Orang pertama yang betul-betul menunjukkan Islamnya terang-terangan ada tujuh orang). Yang disebutkan di antara ceritanya adalah Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar. Ini dua orang ini yang menunjukkan Islam terang-terangan. Yang mendakwahkan Rasul ﷺ dan Abu Bakar.
Kemudian berikutnya ada Sumayyah. Siapa Sumayyah? Pertama kali terbunuh. Iya. Siapa dia? Dia ibunya Ammar. Iya, ibunya Ammar. Ini nama-nama akhwat di kampung Arab. Iya. Ini kita berbahagia karena banyak أبناء المسلمين (anak-anak kaum muslimin) atau أولاد المسلمين diberi nama dengan orang-orang yang terhormat, terpandang di sisi Allah سبحانه وتعالى ya. Ada Sumayyah, ada Ammar, ada ayahnya Yasir.
Jadi Yasir ini ceritanya orang Yaman. Yasir dengan dua saudaranya datang ke Makkah untuk mencari saudara mereka. Karena terbiasa di saat itu perang, kemudian diambil, kemudian dibawa jadi budak di tempat mana, mereka datang untuk menebus dan seterusnya. Ini Ammar, eh bukan Ammar, tapi si ayahnya, Yasir ini datang bersama dua saudaranya mencari saudara mereka. Dapat, dibawa pulang ke Yaman. Tapi Yasir tidak. Yasir tetap tinggal di Makkah.
Dia imma (entah) menjadi budak atau dia kerja sama dengan seseorang dari Bani Makhzum. Ketika akhirnya dinikahkan juga oleh seorang wanita dari kalangan mereka, entah budak atau orang yang mereka miliki, namanya Sumayyah. Ini ketika menikah kemudian punya anak namanya Ammar, dibebaskan ini Sumayyah juga. Nah, tetapi mereka mantan budak, orang rendahan dari status ekonomi mereka, orang di bawah, sehingga ketika masuk Islam disiksa. Disiksa dan parah sekali.
Abu Jahal ini datang kepada Sumayyah, dijelek-jelekkannya di depan orang. Setelah disiksa di depan orang, kemudian ditusuk kemaluannya. Ini meninggal dalam keadaan mengenaskan. Ammar disiksa sampai meninggal… eh bukan, afwan, Yasir maksudnya. Ammar disiksa juga sampai tidak mengerti yang diomongkan. Sampai ketika beliau dipaksa untuk mencela Muhammad ﷺ, dia mencela karena sudah terpaksa sekali, sakit. Bapak ibunya dibunuh, kemudian dia dipaksa untuk memuji tuhan-tuhan dan berhala orang kafir.
Akhirnya sampai beberapa kaum Muslimin meragukan keislaman Ammar. Akhirnya dia sedih cerita kepada Nabi ﷺ: “Aku begitu, begini, begini.” Kata Nabi ﷺ: “Bagaimana hatimu?” “Hatiku aman, aku tetap beriman.” Maka turun firman Allah:
مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ
(Orang-orang yang kafir maka mereka akan mendapat siksa dari Allah سبحانه وتعالى, kecuali kalau terpaksa sedangkan hati mereka tetap tenang dan kuat dengan keimanan itu). Yakni Ammar bin Yasir.
Nah, beliau termasuk disiksa sekeluarga. Ada lagi yang disiksa adalah Bilal. Kemudian ada juga Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud cerita ya, “Kita disiksa semuanya. Kita disiksa.” Ada juga namanya Suhaib Ar-Rumi, yang sampai Khabbab bin Al-Arats juga diceritakan. Khabbab bin Al-Arats ini sampai besi panas yang menyala dicoskan (ditempelkan) begitu di badannya, sampai akhirnya mati apa besi yang menyala tadi apinya itu karena kena lemak yang terbakar.
Kata Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه: “أما رسول الله ﷺ فمنعه الله بعمه أبي طالب” (Adapun Rasulullah ﷺ, Allah melindunginya dengan pamannya Abu Thalib). Pamannya membela Nabi ﷺ sehingga beliau tidak disiksa. “وأما أبو بكر فمنعه الله بقومه” (Adapun Abu Bakar, Allah melindunginya dengan kaumnya). Beliau juga pembesar bangsawan sehingga beliau tidak disiksa.
Tapi yang sisanya ini disiksa. Di antara yang menyiksa adalah Umayyah bin Khalaf. Sampai disebutkan oleh Ibnu Mas’ud رضي الله عنه, semua yang disiksa rata-rata mereka akhirnya menyerah. Apa yang mau diomongkan, dipaksakan oleh orang Quraisy, mereka turuti karena kesulitan sekali, berat. Kecuali Bilal. هانت عليه نفسه في الله (Dia anggap jiwanya ini remeh di jalan Allah). Tidak ada apa-apanya badanku ini di depan Allah عز وجل, hancur sudah tidak apa-apa. Mati juga tidak apa-apa mati.
Sehingga dia hanya mengatakan: “أحد، أحد” (Ahad, Ahad/Esa, Esa). Mereka mau apa tidak, umum tidak, suruh apa tidak, sampai disiksa dipakai mainan untuk anak kecil, ditindih batu di siang yang panas sekali. Badan dibuka dari bajunya semuanya. Bilal.
Nah, ketika Umayyah ini akhirnya akan berhadapan dengan Perang Badar, dia merasakan Bilal sudah hijrah, ini menjadi musuhnya ini. Setelah akhirnya dibebaskan oleh Abu Bakar رضي الله عنهم أجمعين. Kemudian akhirnya bertemu ini dua orang yang dulu pernah menyiksa. Dan siapa yang sangka bahwa Umayyah bin Khalaf, dia sempat ketakutan dalam Perang Badar. Mati dia akhirnya, mati. Tapi dalam Shahih Bukhari ternyata dia sempat ketakutan sebelum terjadi Perang Badar.
Nah, ini disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari رحمه الله:
باب ذكر النبي ﷺ من يقتل ببدر
(Bab: Nabi ﷺ menyebutkan orang-orang yang akan terbunuh di Perang Badar).
Ketika Nabi ﷺ menyebutkan beberapa orang yang akan terbunuh di Perang Badar dari kalangan Quraisy. Dan ini disebutkan jauh-jauh hari. Sehingga kata Al-Hafizh Ibnu Hajar, ini merupakan tanda kenabian. Ketika Nabi ﷺ menyebutkan bahwa رؤوس الكفار (tokoh-tokoh kekafiran), ini pembesar-pembesar orang kafir ini akan mati terbunuh mereka. Di antaranya Umayyah itu, ada juga Abu Jahal. Dia mati juga nanti. Mati dengan cara yang mengenaskan Abu Jahal. Kemudian ada beberapa orang kafir juga sama, mereka akan mati mengenaskan.
Nabi ﷺ sebutkan yang lama. Sejak lama disebutkan begitu. Dan yang lucu, orang kafir percaya mereka. Orang kafir percaya. Dalam Shahih Muslim, sampai disebutkan… eh bukan Shahih Muslim tapi dalam Al-Baihaqi, dinukil oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar, mereka mengatakan: “وما يكذب محمد إذا حدث” (Muhammad tidak pernah berdusta kalau berbicara). Muhammad kalau ngomong jujur, dia tidak bakal bohong. Jadi ketakutan dia.
Baik. Ini diceritakan dalam hadis yang disebut dalam Shahih Bukhari bahwa Nabi ﷺ menyebutkan tentang orang-orang yang terbunuh, di antaranya Umayyah. Tapi dalam Shahih Muslim dari hadis Umar, Nabi ﷺ menjelang perang pun sempat beritahu. أن رسول الله ﷺ قال… Nabi ﷺ menunjukkan nanti tempat terbunuhnya beberapa orang itu tempatnya di sini, di sini, sini. Ini Perang Badar. Mereka sudah sampai di tempatnya. Kemudian Nabi ﷺ mengatakan: “هذا مصرع فلان إن شاء الله” (Ini tempat kematian Fulan, Insyaallah). “Besok Fulan mati terbunuh di sini.” ﷺ memberitahu para sahabatnya, besok yang disebut itu adalah orang-orang yang dulu tokoh yang melawan dakwah. Mati di sini, mati di sini, mati di sini.
Masyaallah. Ini bukan hanya mental ya, perang mental, tetapi ini adalah wahyu. Kalau perang mental memang orang kadang, “Wah tak sikat kamu besok,” apa segala macam orang kalau mau tinju katanya, “Wah akan begitu.” Padahal akhirnya kalah dia. Tapi ini beda. Nabi ﷺ menunjukkan cara wahyu. Nabi ﷺ mengatakan bahwa Umar رضي الله عنه yang cerita ditunjukkan ini besok tempat matinya ini. Kata Umar رضي الله عنه: “فوالذي بعثه بالحق ما أخطأ الحدود” (Demi Allah yang mengutus Muhammad ﷺ dengan kebenaran, beliau tidak salah, itu yang ditunjuk titik ini nanti tempat matinya Fulan). Benar di situ mati itu orang. Baik.
قال حدثني أحمد بن عثمان، قال حدثنا شريح بن مسلمة، قال حدثنا إبراهيم بن يوسف عن أبيه عن أبي إسحاق.
Nah, ini Ibrahim bin Yusuf meriwayatkan dari ayahnya. Ayahnya namanya Yusuf bin Ishaq bin Abi Ishaq. Nama ayahnya ini yang meriwayatkan hadis adalah Ibrahim bin Yusuf. Ibrahim bin Yusuf dari siapa? Dari bapaknya. Bapaknya namanya Yusuf bin Ishaq bin Abi Ishaq. Meriwayatkan dari siapa? Dari Abi Ishaq. Berarti dari mbahnya. Berarti ada anak riwayat dari bapak, bapak dari mbahnya bapak itu. Berarti ini keluarga ahli hadis semuanya. Luar biasa.
قال حدثني عمرو بن ميمون، أنه سمع عبد الله بن مسعود رضي الله عنه حدث عن سعد بن معاذ
Yang cerita Ibnu Mas’ud dari Sa’ad bin Mu’adz. Sa’ad bin Mu’adz siapa dia? Sahabat. Iya betul sahabat. Sahabat yang mana maksudnya? Iya maksudnya beliau adalah pembesar suku. Suku apa? Suku apa? Aus. Aus. Iya. Aus. Kalau Khazraj, Sa’ad bin Ubadah.
Nah, Sa’ad bin Mu’adz cerita, dia كان صديقًا لأمية بن خلف (adalah teman dekat bagi Umayyah bin Khalaf). Jadi Sa’ad bin Mu’adz ini pembesar suku Aus. Dia teman dekat sama Umayyah bin Khalaf. Umayyah pembesar Quraisy, dia pembesar Aus. Wajar. Pendekar sama pendekar, pembesar sama pembesar, kawanan temenan. Umayyah ini kalau ke Madinah menginapnya di rumah Sa’ad. Kemudian kebalikannya begitu, Sa’ad kalau ke Makkah menginapnya di rumah Umayyah.
فلما كان رسول الله ﷺ بالمدينة
Ketika Nabi ﷺ sudah hijrah ke Madinah, Sa’ad bin Mu’adz sudah Islam dan penduduk Madinah sudah banyak yang Islam. Sekarang Sa’ad bin Mu’adz berangkat umrah, berarti umrahnya sudah masuk Islam. Antum tahu kisah Nabi ﷺ mau umrah tidak boleh? Iya. Kejadian di apa itu? Perjanjian Hudaibiyah. Ya, padahal beliau mau umrah sudah di tahun keenam, tidak boleh. Tapi para sahabat kalau mau umrah, umrah saja mereka dengan catatan jamin keselamatan sendiri.
Nah, Sa’ad bin Mu’adz pembesar. Beliau datang ke orang-orang Quraisy diamankan. Disebutkan di sini seperti kebiasaannya beliau menginap di rumah Umayyah bin Khalaf. Dan ini juga menunjukkan bahwa umrah itu tetap berlangsung untuk orang Arab dulu sebelum mereka menerima Islam juga mereka umrah biasa ya. Dan ketika Nabi ﷺ sudah hijrah, umrah pun tetap berjalan.
Nah, di antara cuplikan kisahnya, Sa’ad bin Mu’adz sudah Islam, berangkat ke Makkah dilindungi sama Umayyah bin Khalaf yang dulu menyiksa Bilal itu, yang menyiksa juga para Muslimin. Ternyata beliau berlindung sama Umayyah ini, Sa’ad bin Mu’adz. Baik.
فقال لأمية: انظر لي ساعة غفلة لعلي أطوف بالبيت
Dia ni Sa’ad bin Mu’adz ngomong sama Umayyah bin Khalaf: “Coba kamu perhatikan kira-kira kapan sepi beritahu aku, aku pengin tawaf gitu.”
فخرج به قريبًا من نصف النهار
Maka dalam riwayat yang lain disebutkan enaknya siang saja orang itu lagi istirahat panas, tidak ada apa-apa. Mau siang malam terserah. Dulu orang siang itu sudah panas sekali malas keluar. “Sudah kita tawafnya siang-siang,” dan itu akhirnya diiyakan oleh Sa’ad. “Ayo keluar.” Keluar mereka di siang hari ketika orang-orang pada istirahat.
فلقيهما أبو جهل
Eh, Abu Jahal ketemu. Abu Jahal ini begal lagi nih ya. Penjahat yang diikuti oleh Nabi ﷺ. فرعون هذه الأمة (Firaunnya umat ini), si Abu Jahal ya. Ketemu ini.
فقال: يا أبا صفوان، من هذا معك؟
“Abu Shafwan,” ini kunyah dan panggilan untuk Umayyah. Disapa sama temannya ini. “Eh Abu Shafwan, siapa nih yang sama kamu ini?”
قال: هذا سعد
“Ini adalah Sa’ad bin Mu’adz, temanku.”
فقال له أبو جهل
Abu Jahal langsung ngomong, ini tidak basa-basi. Orang Arab itu kalau ngomong begitu, tidak tahu kalau orang Arab di kampung Jawa ya. Tapi orang Arab kalau ngomong ya mereka dilindungi sama Umayyah. Ini Umayyah yang melindungi Sa’ad. Ketemu Abu Jahal. Abu Jahal langsung bilang sama itu: “Hei, Sa’ad, kamu tidak perhatikan. Mau umrah kapan saja aman kamu. Tapi gara-gara perlakuan kamu ini, kamu menyangka bahwa ada nabi, kalian siap untuk membela mati-matian dan kamu siap untuk melindungi mereka. Demi Allah, kalau bukan karena Abu Shafwan ini,” maksudnya Umayyah bin Khalaf ini, “tidak bakal kamu balik selamat ke keluargamu.”
Dalam kondisi sudah sembunyi-sembunyi, eh ketemu si penjahat satu ini. Ngomong lagi begini, kira-kira rasanya gimana? Tidak melengkeret (menciut)? Tidak. Ini orang Arab punya iman ini sekarang. Yang satu punya kufur, yang satu punya iman. Dibalas oleh Sa’ad bin Mu’adz. Dia mengatakan:
ورفع صوته عليه
“Oh, mengamuk suaranya banter (keras) juga.” Dia marah besar dengan suara lantang. Dijawab: “أما والله لئن منعتني هذا لأمنعنك ما هو أشد عليك منه” (Demi Allah, kalau kamu berani melarang aku untuk tawaf sekarang, aku akan larang kamu dari yang lebih afdal/penting dari ini). Maksudnya apa? “Kalau kamu sampai lewat Madinah, habis kamu.”
Dan dulu orang-orang Makkah ketika mereka akan berdagang ke Syam, mesti lewat di sekitaran Madinah. Kalaupun tidak lewat Madinah, mereka akan lewat Badar. Kalau tidak lewat Badar, ya mereka susah itu melewati tempat-tempat yang kosong lewat ke seperti kejadian Perang Badar itu.
Nah, ini berarti kejadian memang belum Perang Badar karena memang belum terjadi Perang Badarnya. Ini menunjukkan bahwa kisah ini awal-awal Nabi ﷺ hijrah sehingga kebengisan dan kejengkelan orang Quraisy kepada orang Islam yang tambah besar di Madinah waktu itu masih panas-panasnya. Ini Muhammad dakwah 13 tahun pindah tambah gede di sana. Wah ditolong sama orang Arab di kalangan Anshar. Bawa jengkel mereka. Datang satunya ke sini, temannya Umayyah. Dibilang kayak gini, bantah dia. Eh, dibilang, “Kamu macam-macam ya, macam-macam. Aku juga bisa macam-macam gitu.” Baik.
Akhirnya فقال له أمية: لا ترفع صوتك يا سعد على أبي الحكم، سيد أهل الوادي.
Maka Umayyah tidak enak toh. Ini teman relasi politiknya digertak sama tamunya. “Eh, Sa’ad jangan keras-keras kalau ngomong sama ini. Ini pembesar suku Quraisy. Ini semua ahli lembah dan penduduk Makkah ini. Ini pembesarnya kalau ngomong pelan-pelan gitu.”
فقال سعد: دعنا عنك يا أمية
Wah, Sa’ad ini juga ini temannya ini yang sudah melindungi. Antum bayangkan ngomong kayak begitu karena sungkan sama temannya, dibantah sekalian satu kali habiskan semua. Dia bilang: “Eh, eh kamu Umayyah diam kamu ya.”
فإني سمعت رسول الله ﷺ يقول: إنهم قاتلوك
Ini bilang ini: “Eh, Umayyah, kamu tidak usah macam-macam juga. Aku pernah mendengar Nabi ﷺ menyatakan bahwa mereka akan membunuh kamu.” Mereka akan bunuh kamu. Ini kata Al-Hafizh Ibnu Hajar, “mereka” ini siapa yang akan bunuh? Bisa dikatakan المسلمون (orang Islam) akan membunuh kamu. Tapi bisa jadi artinya adalah Rasul ﷺ. Muhammad ﷺ akan membunuh kamu. Membunuh kamu tapi dengan kata-kata yang besar. “Muhammad, sesungguhnya mereka akan membunuhmu.” Maksudnya Rasul ﷺ ini menurut saya ini adalah orang agung sekali. Dia akan mengalahkan kamu, bunuh kamu.
Percaya Umayyah. Umayyah diberitahu dalam kondisi dia sungkan sama Abu Jahal. Kemudian dia di posisi kuatnya di Makkah. Kemudian dia sedang melindungi inilah. Sekarang ancaman datang dari orang yang dilindungi. Kalau dia seandainya dia takut kemudian dia merasa, “Ah, ana tidak bisa berani lindungi ente sekarang,” sudah selesai. Tapi dia sekarang dengar itu takut dia.
Dia ketika dibilang Muhammad ﷺ akan membunuh kamu, dia tanya: “بمكة؟” (Di Makkah?). Muhammad bunuh saya di Makkah apa tidak? Nah, ini tadi yang kita sebutkan dalam riwayat Al-Baihaqi. Muhammad itu kalau ngomong tidak akan dusta. Maka dikatakan dia: “Dia bunuh saya di mana? Di Makkah apa di luar Makkah?” Sampai percaya itu ceritanya.
قال: لا أدري
Kata Sa’ad: “Ana tidak mengerti dia membunuh ente di mana ya? Di rumah ente apa di luar.” Umayyah ini ketakutan sekali. Takut banget dia.
ففزع أمية فزعًا شديدًا
Sampai rumah dia bilang sama istrinya: “يا أم صفوان” (Wahai Ummu Shafwan). Ya ini “Safwan” ini menjadi gelar si Umayyah dan istrinya Abu Shafwan dan Ummu Shafwan. Karena Shafwan ini anak pertama mereka. Shafwan ini kata Al-Hafizh Ibnu Hajar menjadi panggilan karena ini anak mereka berdua. “Eh, kamu tadi dengar tidak? Sa’ad ngomong apa coba?” Kata istrinya ngomong apa dia? “Dia bilang Muhammad ﷺ beritahu mereka bahwa dia akan bunuh saya.” Istrinya kemudian dia mengatakan:
فقلت له: بمكة؟ قال: لا أدري
Maka Umayyah bilang: “Tadi aku langsung tanya ke dia, ‘Ini Muhammad mau bunuh saya di Makkah apa tidak?’ Ternyata Sa’ad ngomong, ‘Tidak mengerti aku.'” “Mau bunuh kamu di mana?” “Tidak mengerti.”
فقال أمية: والله لا أخرج من مكة
Akhirnya Umayyah bilang: “Demi Allah, sejak saat ini aku tidak akan keluar dari kota Makkah selamanya.” Takut mati. Karena Muhammad ﷺ sudah mengancam. Dia akan bunuh. Daripada dibunuh macam-macam. Sudah di Makkah saja ana tidak keluar-keluar. Khalas, ini pertama dulu.
فلما كان يوم بدر، استنفر أبو جهل الناس
Ketika Perang Badar, Abu Jahal bilang ke orang-orang semua: “Ayo kita sudah saatnya keluar dari Makkah.” استنفر artinya mengajak-ngajak perang. Kasih motivasi mereka, “Ayo kita keluar perang semuanya.” Dikatakan di sini: “أدركوا عيركم” (Tolong selamatkan harta kalian). Harta ini maksudnya adalah harta kafilah dagang Abu Sufyan. Abu Sufyan mengirim Dhamdham bin Abdillah Al-Ghifari. Ini adalah orang yang penunggang kuda cepat, dipercaya oleh Abu Sufyan. Memberitahu orang Makkah bahwa Muhammad ﷺ sudah datang membawa pasukan yang banyak sekali.
“Selamatkan harta kalian karena harta itu banyak sekali.” Dikatakan ada 1.000 unta mereka datang dari Syam. Kita bayangkan 1.000 unta itu seberapa? Ini kayaknya sekolahan ini penuh kalau untuk diisi unta 1.000 ya. Kemudian tambah ada 50.000 dinar. Ada sekitar 60 orang yang ikut dagang di situ. “Kalau diserang habis kita, kekayaan yang suak (banyak sekali) luar biasa itu, selamatkan.”
Tapi ternyata memang setelah selamat dan Abu Sufyan dengan hati-hati dia berangkat menuju ke Makkah dari jalur laut ya atau di sekitaran pesisir pantai ya. Pelan-pelan selamat dia sampai Makkah. Diberitahulah Abu Jahal: “Tidak usah, sudah kita sudah selamat.”
Ada dua pasukan di situ, dua kelompok besar. Yang satu Abu Sufyan yang dikejar oleh orang Islam. Orang Islam ingin mencari Abu Sufyan. Abu Sufyan bawa duit banyak. 1.000 unta, 50.000 dinar. Orang-orang yang tidak bersenjata karena mereka mau dagang. Eh, selamat. Ketemunya Abu Jahal. 3.000 orang… eh 1.000 orang bersenjata semua dan uangnya tidak banyak.
Allah menyatakan: “وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ” (Ingatlah ketika Allah عز وجل menjanjikan kepada kalian salah satu dari dua kelompok untuk kalian). Kalian orang-orang Islam pengin rombongan yang tidak ada senjatanya. Maksudnya Abu Sufyan. Abu Sufyan tidak ada senjatanya. Dia orangnya banyak, duitnya banyak. Tapi Allah punya keinginan lain, ingin agar kebenaran ini lebih terlihat, akan kelihatan. Maka yang terjadi Perang Badar.
Perang Badar juga orang Islam sudah tidak mengerti bakal terjadi apalagi bakal menang. Maka Nabi ﷺ sempat berdoa, يستغيث بربه, sampai mengajak bisik-bisik Allah عز وجل berdoa sampai selendangnya jatuh, sampai Abu Bakar kasihan melihat Nabi ﷺ akhirnya mengatakan: “Sudah cukup, Allah tidak akan menyia-nyiakan dan mengkhianati engkau, pasti akan dikabulkan.” Dan Nabi ﷺ yang menunjukkan nanti ini tempat ini mati Fulan, mati Fulan, menang semenang-menangnya.
Baik, ini kisahnya. Maka ketika Perang Badar itu akhirnya Abu Jahal mengajak-ngajak orang: “Ayo kita keluar semuanya.” Terus ini kan Umayyah lagi ketakutan. Dia kan sudah dari awal: “Ana tidak mau keluar dari Makkah.” Akhirnya كره أمية أن يخرج. Dia sudah ngomong juga: “Ana tidak mau keluar Makkah pokoknya.”
Maka Abu Jahal bilang: “يا أبا صفوان” (Wahai Abu Shafwan). “Antum ini pembesar. Kalau antum tidak ikut, begitu orang tahu mereka tidak bakal ada yang ikut.” Sekarang kondisinya genting. Apa kata orang nanti? Antum tidak berangkat, banyak yang tidak berangkat. Gagal kita ini, gitu.
فلم يزل به أبو جهل حتى قال: أما إذ غلبتني فوالله لأشترين أجود بعير بمكة
Akhirnya terus dirayu oleh Abu Jahal. Kalah dia. Kalah. Kalah. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Abu Jahal ini mempengaruhi ada seorang dari mereka namanya Uqbah bin Abi Mu’aith. Datang ke Abu… eh ke Umayyah ini, Abu Shafwan. Dibilang dia: “Kamu tidak berangkat? أنت من النساء (Kamu perempuan).” Dikasih wewangian wanita begitu kan? Jadi Umayyah ini ketika tahu dia sudah mau tidak mau keluar itu dibilang sama Uqbah bin Mu’aith seperti ini. Wah, marah besar dia. “Mau dah aku mau keluar.” Dia mau keluar. Akhirnya dia mengatakan: “Kalau kamu sudah mengalahkan aku dengan argumenmu, ya sudah aku akan beli unta yang paling bagus di Makkah ini untuk persiapan perangku.” Kalau laqadarallah, bukan laqadarallah dia bilang, “Ya, kalau nanti terjadi apa-apa aku belum terdesak atau apa, aku bisa mengandalkan unta yang paling bagus ini.”
Nah, ketika dia mau berangkat, dia bilang sama istrinya: “يا أم صفوان، جهزيني” (Wahai Ummu Shafwan, siapkan aku). Dia bilang sama istrinya: “Siapkan perlengkapan, aku mau berangkat.”
فقالت له زوجته: يا أبا صفوان، وقد نسيت ما قال لك أخوك اليثربي؟
Istrinya bilang: “Kamu lupa dengan yang diomongkan oleh Sa’ad itu? Saudaramu orang Madinah (Yathribi)?” Dinisbatkan kepada Yathrib. Yathrib nama Madinah ketika masa jahiliah. “Kamu lupa ya sama temanmu yang mengingatkan kamu itu?” Nah, ini dikatakan “أخوك” (saudaramu). Karena dulu maksudnya mereka betul-betul dekat, akrab gitu.
قال: لا، ما نسيت
“Tidak, tidak lupa itu. Aku masih ingat gitu.”
ما أريد أن أجوز معهم إلا قريبًا
“Aku tidak pengin selamanya ikut mereka. Aku mau keluar sebentar saja. Mau keluar sebentar saja.” Setiap berangkat di tempat peristirahatan. Karena Makkah itu jauh dari Badar, jauh. Jauh. Jangankan dari Makkah, dari Madinah saja jauh Badar itu. Ana bilang kemarin itu ada sekitar 200-an kilo. Apalagi dari Makkah ada 350-an kilo. Itu jauh mereka. Setiap berhenti untanya diikat biar tidak jauh-jauh larinya. Dan memang biar tidak cepat maju ke depan. Diikat begitu.
Tapi karena sudah berangkat, فلم يزل بذلك حتى قتله الله عز وجل في بدر. Tapi dia sudah berangkat akhirnya dia kedorong, dorong, dorong, dorong sampai Badar, sampai mati dia. Ada yang mengatakan bahwa yang membunuh dia adalah beberapa orang Anshar, anak-anak muda yang mengatakan ada orang lain termasuk Bilal. Bilal ini dulu yang disiksa sampai dihantam batu segala macam. Wah, sekarang ketemu. “Oh, ini nih. Ini nih. Gitu.” Selesaikan sudah situ.
Nah, ini akhirnya dia meninggal dan ini menjadi salah satu catatan tanda kenabian Nabi ﷺ ketika beliau memberitahu di antara yang akan mati pembesarnya. Dan yang kedua mereka ini percaya dengan Nabi ﷺ. Mereka tahu Muhammad ﷺ ini percaya, terpercaya. Tapi mereka susah untuk beriman. Termasuk orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ, Abu Thalib. Abu Thalib hampir beriman. Dia hatinya sudah beriman tapi dia takut celaan bangsanya.
Dan ini menunjukkan bagaimana قرناء السوء (teman-teman yang buruk), lingkungan yang jelek. Orang kalau sudah punya lingkungan yang jelek, dia sudah menerima kebenaran. Mau cek gitu saja tidak jadi. Jadi, Subhanallah luar biasa kawan-kawan kotor dan buruk ini bisa menghambat orang masuk surga. Hampir masuk surga tidak jadi. Abu Thalib sudah beriman dia sampai ada gubahan syair. “Kalau bukan karena celaan dari bangsaku, maka aku sudah akan mendapati hatiku ini sudah percaya dengan apa yang dibawa oleh Rasul ﷺ.”
Kalau Abu Thalib saja tidak bisa untuk itu, bagaimana orang-orang lain? Tidak menutup kemungkinan mereka tahu bahwa yang dibawa oleh Muhammad ﷺ ini benar tapi gengsi mereka, gengsi. Maka kita bersyukur alhamdulillah kita beriman. Banyak orang yang sudah tahu itu kebenaran tapi kalau bukan karena hidayah dari Allah atau karena gengsi, susah beriman. Dan ini hidayah semuanya bukan hanya orang mau masuk Islam. Kita sangka bahwa orang ini mendapat hidayah atau tidak kalau dia bisa masuk Islam. Padahal para ulama mengatakan untuk mengamalkan Islam ada hidayah lain. Kadang orang sudah menerima kebenaran itu. “Oh iya, ini ajaran Nabi ﷺ.” Gara-gara قرناء السوء lingkungan pengikut kebiasaan. Akhirnya tidak jadi untuk beriman. Maka kita bersyukur kepada Allah bahwa hidayah itu mahal sekali.
Baik. Kemudian pelajaran berikutnya disebutkan ini merupakan keberanian orang Arab. Antum bayangkan tidak basa-basi dan tidak takut Sa’ad ini apa? Dia dalam kapasitas tamu, dilindungi, mau tawaf saja sembunyi-sembunyi. Tapi begitu ada lho sendiri dia. Kalau dikawal urusan lain, tidak? Tidak dikawal. Kalau mati, mati sudah. Tapi ini namanya mental. Orang Arab sudah berani ditambah dengan imannya yang lebih berani. “Sudah ente macam-macam,” yang diajak bicara Firaun tapi dia berani.
Dan Sa’ad bin Mu’adz رضي الله عنه akhirnya meninggal. Meninggal di Perang Ahzab kalau tidak salah. Dan beliau sangat dihormati sekali oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Ini menunjukkan bagaimana orang Islam itu kalau punya iman sudah semestinya dia percaya diri. “Saya benar kok dan saya tidak merugikan orang lain.” Kenapa saya harus malu ketika saya menunjukkan penampilan dan identitas ana, sementara orang bermaksiat, orang buka aurat, orang memakai pakaian-pakaian yang memperlihatkan dia tidak Islami. Entah Islam atau nonmuslim. Kok malah itu yang kita acungi jempol, kita tidak PD untuk menunjukkan identitas Islam kita itu. Nah, ini perlu memantapkan lagi mental orang Islam kita itu. Baik, silakan azan dulu.
(Adzan berkumandang)
Baik, pembahasan berikutnya tentang cuplikan lagi ketika terjadi Perang Badar. Beberapa bab yang akan kita lewati insyaallah nanti berkaitan dengan Perang Badar. Bagaimana malaikat akan ikut-ikutan. Ada cawe-cawe malaikat yang turun di medan pertempuran Badar. Ya. Kemudian termasuk janji yang disiapkan, kemudian peristiwa itu dan seterusnya.
Nah, tetapi ini menjadi pembukanya: باب قصة بدر (Bab Kisah tentang Perang Badar). Dan Perang Badar ini disebutkan Perang Badar karena tempatnya. Ada yang mengatakan ini kata Al-Hafizh Ibnu Hajar bahwa ini dinisbatkan kepada orang Arab dari Bani Kinanah namanya Badar bin Makhlad bin Nadhir. Dia dari Bani Kinanah pernah menempat di Badar bikin rumah, kemudian sampai tempat itu dikenal dengan kampung Badar bin Harits. Maka dinamakan Badar karena orang yang datang pertama namanya Badar dan sampai sekarang orang Saudi banyak namanya Badar ya. Di Indonesia kayaknya juga banyak namanya Bader gitu.
Ada yang mengatakan Badar ini nama sumur. Nama sumur airnya jernih. Sehingga karena namanya jernih itu akhirnya dikenal tempat itu yang luas dikatakan Badar. Dan antum tahu bahwa sebuah tempat yang belum ditempati orang kosong. Orang tidak kebayang bakal ada kehidupan di sini. Apalagi kalau bentuknya padang pasir kayak hutan begitu. Hutan orang pertama menempati namanya “babat alas” ya. Dan orang itu akan menjadi orang pertama, imma menjadi sesepuh atau menjadi tuan tanah atau apa begitu.
Nah, ini Badar tempat yang tandus. Tempat yang tandus hanya tempatnya strategis karena suka dilewati oleh kafilah dagang. Allah عز وجل menceritakan tentang Badar ini dalam beberapa tempat di Al-Qur’an. Surah Ali Imran ayat 123, Allah menyatakan:
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ
(Dan sungguh Allah telah menolong kalian di kejadian Perang Badar sementara kalian dulu orang yang hina). Kenapa hina? Di antara tafsirannya karena kalian قليلون (sedikit). Kalian dikit kan tujuannya menyerang kafilah dagang yang ikut 300 orang. 300 sudah besar tujuannya bukan untuk perang ternyata ini luput dapat yang gede, 1.000 orang pasukan yang sudah siap tempur. 300 lawan 1.000 gimana ceritanya ini? Bukan 3.000, 1.000 afwan 1.000.
Nah maka dikatakan di antara tafsiran “أَنْتُمْ أَذِلَّةٌ” kalian terhina itu kalian sedikit. Yang kedua, kebanyakan para sahabat jalan kaki 200 kilo itu jalan kaki gimana? Bukan karnaval ini ya. Mau perang wah tempatnya terjal gitu. Kemudian ada yang mengatakan عراة من السلاح (telanjang dari senjata/minim senjata). Tidak ada yang bawa senjata, cukup pedang saja. Dan orang Arab biasa bawa pedang untuk kebutuhan harian. Kalaupun mereka berhadap-hadapan dengan orang kafilah, ya sudah mereka tidak membawa persiapan perang. Eh, ketemu pasukannya Abu Jahal. Maka Allah tolong mereka dengan kondisi yang tidak siap tadi.
فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Bertakwalah kepada Allah agar kalian bisa bersyukur). Ingat tidak kamu Muhammad ketika engkau mengajak atau memberitahu para sahabatmu orang-orang beriman: “Kalian cukup tidak mau dibantu 3.000 malaikat?” Ya salam. Satu malaikat saja kalau bantu aman sudah. Ya, kalau dibantu malaikat masalahnya ini jihad. Kalau orang demo dibantu malaikat ini subhanallah kelewatan kalau bikin cerita ya. Tapi yang jelas ini Nabi ﷺ mengatakan kepada para sahabat: “Kalian nanti akan dibela malaikat, aman.”
Dan memang nanti ada kisahnya bagaimana malaikat itu betul-betul terjun kelihatan sampai membawa ciri-ciri yang kelihatan. Dikatakan مسومين sampai ada tanda yang mencolok. Apa mencoloknya? Mereka menggunakan العمامة السوداء (sorban yang hitam). Apakah sunnah pakai sorban hitam? Itu tahu-tahu habis pengajian pada pakai sorban hitam. Pakaiannya malaikat ya. Itu pakaiannya dukun juga itu dihitam-hitam begitu ya. Tapi ini menunjukkan dulu Nabi ﷺ sempat memberitahukan mereka.
Kenapa sampai diberitahu seperti ini? Kemarin kita sebutkan ada orang kafir sebelum kejadian Perang Badar sempat memberikan teror, mengobrak-abrik atau membawa pasukan menyerang di sekitaran Madinah. Namanya Kurz bin Jabir Al-Fihri. Ya, dia datang mengacau di sekitar Madinah. Nabi ﷺ baru datang kondisi belum kondusif masih khawatir-khawatir ini menyerang, sudah dikejar sama Nabi ﷺ sampai Perang Badar itu gitu.
Ditambah lagi ada informasi kaum Muslimin mendengar Kurz bin Jabir ini siap mem-back up kebutuhan orang-orang yang akan menyerang kaum Muslimin. Orang Islam ini sudah lemah, orang kafir banyak, sudah siap juga ada donaturnya. Nah, ini kita siapa ini? Maka kata Nabi ﷺ: “Sudah, kalian akan dibantu oleh 3.000 malaikat.” Eh, 3.000 malaikat. 3.000 malaikat begitu.
Kata Allah عز وجل: “Iya, kalau kalian sabar, kalian tetap bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى, yang dibantu tadi 3.000, sekarang tambah lagi menjadi 5.000. 5.000 malaikat-malaikat yang dikasih apa namanya? Ciri khas oleh Allah. Tanda-tanda مسومين artinya mereka punya cap-cap atau nama-nama dan kelihatan sekali mereka. Begitu. Dan ini disebutkan juga وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ orang kafir. Orang kafir tiba-tiba saja mau berangkat menuju kalian dengan marah-marah dan semacamnya, sudah aman kalian.
Sampai dalam sebuah riwayat disebutkan ada seorang namanya Ar-Rabi’ bin Anas mengatakan: “أمد الله المسلمين بألف من الملائكة” (Allah menolong kaum Muslimin dengan 1.000 malaikat). Kemudian Allah tambah mereka malaikat menjadi 3.000. Kemudian ditambahi lagi sehingga malaikat yang ikut 5.000. Malaikat 5.000 kaum Musliminnya cuman 300 ya. Gimana tidak menang kayak begitu.
Kemudian disebutkan: “وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَىٰ لَكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوبُكُمْ بِهِ“. Semua yang diceritakan ini sengaja Allah سبحانه وتعالى siapkan untuk menjadi kabar gembira untuk kalian agar hati kalian tenang. Sementara “وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ“, bahwa pertolongan itu semuanya datang dari Allah سبحانه وتعالى Yang Mahaperkasa dan Bijaksana, untuk menghancurkan kekuatan-kekuatan orang kafir dan melindas mereka semuanya sehingga mereka balik dalam keadaan rugi dan terhina.
Dan memang betul terhina sekali mereka. Subhanallah. Di antara tanda kekuatan orang kalau sudah menang, mereka tidak langsung pulang dari tempat perangnya. Jadi kaum Muslimin ketika mereka mengalahkan orang kafir, mereka tidak langsung pulang ke Madinah. Perang selesai. Yang terbunuh-terbunuh, yang lari kocar-kacir sudah lari ke sana. Kemudian yang tertangkap, tertangkap. Ghanimah-nya atau rampasannya dapat. Maka mereka tetap di situ selama 3 hari 3 malam. Menunjukkan kita ini sudah menguasai tempat kita, sudah menang ini. Kalau mau ada yang laut (luar) tidak terima, silakan datang lagi ke sini.
Maka dikatakan bahwa ini mestinya kemenangan yang hakiki. Beda dengan Perang Uhud. Perang Uhud ketika Abu Sufyan dia sempat di putaran terakhir mengacak-acak atau apa namanya? Menghancurkan kaum Muslimin, dia langsung pulang. Dia tidak diam dulu di situ. Padahal dia mengerti Muhammad ﷺ masih hidup, Abu Bakar masih hidup, Umar masih hidup, kaum Muslimin juga masih banyak yang hidup. Tapi dia langsung pulang. Sehingga banyak yang mengatakan kaum Muslimin tidak kalah di situ. Apalagi di awal kaum Muslimin sudah menang. Di bagian akhir saja kaum Muslimin tidak kalah karena pasukan Abu Sufyan ngacir langsung pulang. Begitu.
Nah, ini agar Allah عز وجل menunjukkan orang Islam menang semenang-menangnya. Dan di tahun itu orang Arab Quraisy hancur nama baik mereka sehancur-hancurnya. Menyebar itu viral berita itu. Orang Makkah dikalah benar sama Muhammad ﷺ. Hancur mereka. Nah, makanya Perang Uhud mereka betul-betul balas dendam.
Dan berkata Wahsyi. Wahsyi ini budak yang ahli dalam menggunakan tombak. Tapi dia adalah budak saja ya. Dia yang membunuh ee siapa? Hamzah. Ya. قتل حمزة طعيمة بن عدي بن الخيار يوم بدر. Dia katakan yang membunuh Hamzah adalah Thu’aimah bin ‘Adi bin Al-Khiyar yauma Badr. Tetapi Hamzah wafatnya di Perang Uhud bukan di Perang Badar.
Surat Al-Anfal, Allah menyatakan: “Ingat kalian ketika Allah عز وجل memberikan janji kepada kalian ada dua kelompok yang akan kalian hadapi. Kalian memilih yang tidak ada senjatanya,” maksudnya yang tadi itu. “Tapi Allah pengin kalian hadap-hadapan dengan yang lebih kuat agar kebenaran ini lebih terlihat.” الشوكة adalah kekuatan, maksudnya adalah senjata. Wallahualam.
Hadisnya satu saja yang disebutkan dari Ka’ab bin Malik رضي الله عنه:
عن يحيى بن عبد الله بن عبد الرحمن بن كعب بن مالك، أن عبد الله بن كعب قال: سمعت كعب بن مالك
Ini juga sama. Ini dari cucu meriwayatkan dari bapaknya, bapaknya dari sang sahabat. Sahabat yang cerita Ka’ab bin Malik. Antum tahu Ka’ab bin Malik adalah sahabat yang tidak ikut Perang Tabuk sampai di-hajr, tidak diajak bicara oleh Nabi ﷺ selama 50 hari. Luar biasa itu.
Nah, beliau cerita dalam riwayat ini: “لم أتخلف عن رسول الله ﷺ في غزوة غزاها إلا في غزوة تبوك، وبدر لم يعاتب أحدًا تخلف عنه” (Aku tidak pernah absen dari semua pertempuran Nabi ﷺ kecuali satu pertempuran saja, yaitu Perang Tabuk. Iya, aku tidak ikut Perang Badar. Tapi Perang Badar itu tidak ada yang disalahkan tidak ikut karena memang banyak yang tidak ikut dan tidak perang aslinya).
Beliau mengatakan: “إنما خرج رسول الله ﷺ والمسلمون يريدون عير قريش حتى جمع الله بينهم وبين عدوهم على غير ميعاد“.
Nabi ﷺ keluar untuk menghadang kafilah dagang Quraisy sampai Allah tumpukkan, kumpulkan, dan dipertemukan dua pasukan antara orang Islam dengan orang-orang kafir tanpa janjian sama sekali. Kalau Uhud janjian, dan semua perang janjian. Maksud janjian itu semua tahu kita ke sana mau perang gitu. Dan dulu orang ketika akan kumpul untuk perang itu ya memang janjian, “Ayo kumpul di mana?” Kemudian nanti biasanya diawali dengan perang tanding juga ada gaya dan SOP-nya.
Tetapi ini Perang Badar tidak pakai karena Perang Badar tujuannya adalah untuk menghadang kafilah dagang. Dan kemarin kita ceritakan Nabi ﷺ menghadang sampai tiga kali. Gagal terus, tidak jadi, tidak ketemu apa-apa. Kemudian ada yang terjadi tapi hanya beberapa kelompok kecil. Kemudian terakhir ketika Nabi ﷺ akhirnya Perang Badar ini. Sehingga perang yang tidak ada niat, istilahnya yang tidak pakai niat. Banyak para sahabat yang tidak ikut.
Nah, sehingga nanti ketika Perang Uhud, banyak para sahabat yang bilang: “Kami pengin mendapatkan kemuliaan yang didapatkan orang-orang yang ikut Perang Badar. Yang ikut Perang Badar kita pengin dapat kemuliaan. Nah, sekarang Perang Uhud, ayo!” Gitu. Itu ceritanya.
Nah, para sahabat yang ikut bukan kebetulan, tetapi kebanyakan mereka memang orang-orang yang setia dan dekat. Maka Abu Bakar dan Umar tidak pernah ketinggalan, tidak pernah absen seperti itu. Ini sekelumit kita bilang tentang Perang Badar pada pertemuan yang akan datang masih membahas tentang pertempuran ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan kurang lebihnya mohon maaf.
وصلى الله وسلم وبارك على عبدك ونبيك محمد وعلى آله


