As-Sirah An-Nabawiyah Ash-Shahihah #8
Sifat Fisik dan Akhlak Rasulullah ﷺ
Transkrip Kajian: Sifat Fisik dan Akhlak Rasulullah ﷺ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. الْحَمْدُ لِلهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ.
Jemaah salat subuh yang kami muliakan. الْحَمْدُ لِلهِ, kita bersyukur kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang telah memudahkan pertemuan kita pada pagi hari ini untuk kembali mengenal lebih jauh orang yang telah diutus oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepada kita. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengeluarkan—dengan sebab beliau—manusia dari kegelapan yang sangat di dalam masalah akidah, ibadah, maupun akhlak kepada cahaya tauhid, cahaya wahyu. Dan insyaallah pada kesempatan kali ini Syaikh أَكْرَم ضِيَاء الْعُمَرِي di dalam kitab beliau السِّيرَةُ النَّبَوِيَّةُ akan menyebutkan sifat-sifat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dari sisi fisik beliau. Dan sebelum kita mulai mungkin agak maju ke depan, tempat masih luas ya.
Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ disebutkan oleh Syaikh: صِفَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (Sifat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ). Dan beliau akan berbicara tentang sifat-sifat fisik beliau. Dan seharusnya seorang umat yang mengaku cinta kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengenal lebih dalam tentang sifat fisik Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Apabila salah seorang di antara kita ketika dia menggemari (nge-fans) terhadap salah seorang pemain olahraga karena dia sangat menggandrungi, sering melihat, ketika ditanya bagaimana sifat fisik si fulan? Maka dengan detailnya dia akan bisa menyebutkan, “Oh, si fulan tinggi. Si fulan hidungnya pesek atau hidungnya mancung, kulitnya berwarna putih.” Dia bisa menyebutkan secara detail karena memang dia punya kecenderungan kagum dengan permainannya, maka dia pun bisa menyebutkan secara detail sifat-sifat fisik yang dimiliki oleh orang tersebut.
Maka seharusnya seorang muslim dan juga muslimah yang sadar bahwasanya kita ini mendapatkan hidayah, hidup kita menjadi terarah, sebabnya adalah Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Tidak ada orang yang lebih berjasa di dalam kehidupan kita di dunia ini daripada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Harusnya makrifah (pengenalan) seorang muslim terhadap Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ—termasuk di antaranya adalah sifat jasad beliau—ini lebih besar daripada makrifah kita kepada yang lain. Makanya para ulama menyebutkan tentang sifat-sifat fisik Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dan insyaallah nanti di akhir akan kita sebutkan mengapa dan apa faedahnya lebih dalam seorang muslim mengenal tentang sifat-sifat tersebut.
Sifat Fisik Rasulullah ﷺ
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ وَجْهًا
(Dahulu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah manusia yang paling indah wajahnya).
Banyak orang yang tampan, dan para sahabat رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ ada di antara mereka yang tampan. Tapi Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, beliau adalah orang yang paling tampan di antara manusia. Sifat ini saja menjadikan seorang muslim penasaran dan semakin cinta dengan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bukan hanya memberikan kepada beliau akhlak yang sempurna, tetapi juga memberikan kepada beliau fisik yang sempurna. Dan apa yang disebutkan oleh Syaikh di sini, ini adalah setelah mengumpulkan dalil-dalil yang di situ para sahabat رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ menceritakan tentang bagaimana sifat fisik Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
- أَبْيَضُ اللَّوْنِ بَيَاضًا مُزْهِرًا (Beliau berkulit putih dengan putih yang bercahaya). Warna kulit beliau adalah putih dengan putih yang bercahaya, bukan putih biasa, berbeda dengan kulit putih yang lain. Dan ini adalah sifat di antara sifat kesempurnaan beliau.
- مُسْتَدِيرَ الْوَجْهِ (Beliau berwajah bulat), مَلِيحَ (dan tampan).
- وَاسِعَ الْفَمِ (Bermulut lebar). Karena di antara manusia ada yang mulutnya sempit dan ada di antaranya yang memiliki mulut yang lebar.
- طَوِيلَ شِقِّ الْعَيْنَيْنِ (Mata beliau panjang celahnya). Mata beliau panjang celahnya, karena sebagian manusia tidak demikian sifatnya; ada yang pendek celahnya dan ada yang panjang celahnya.
Rambut Rasulullah ﷺ
رَجِلَ الشَّعْرِ بَيْنَ الْجُعُودَةِ وَالسُّبُوطَةِ. Beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ wajahnya, mulutnya sudah disebutkan, sifat matanya sudah disebutkan, rambutnya bagaimana? Rambutnya adalah rajil. Dan yang dimaksud dengan rajil adalah antara keriting dengan lurus. Jadi sifatnya tidak keriting banget dan juga tidak lurus sekali, tapi dia adalah antara keriting dan juga lurus. Ini sifat rambut Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
يَصِلُ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ. Bagaimana panjang rambut beliau? Panjang rambutnya kadang sampai daun telinga, kadang rambutnya panjangnya sampai daun telinga.
وَأَحْيَانًا بَيْنَ أُذُنَيْهِ وَعَاتِقِهِ. Dan terkadang rambut beliau antara telinga dengan bahu. Antara telinga dengan bahu. Iya. Jadi ini di antara keadaan panjang rambut Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
وَقَدْ يَمْتَدُّ حَتَّى مَنْكِبَيْهِ أَحْيَانًا أُخْرَى. Pada kesempatan yang lain kadang sampai pada pundak beliau ya, kadang rambut beliau sampai pundak beliau. Dan ini kembali kepada kebiasaan daerah Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di Arab, itu adalah sesuatu yang lumrah bagi mereka memanjangkan (rambut), seorang laki-laki terkadang sampai ke bahu.
Kemudian beliau mengatakan: وَلَمْ يَشِبْ شَعْرُهُ الْأَسْوَدُ… إِلَّا الْيَسِيرَ مِنْهُ (Dan tidaklah rambut hitam beliau menjadi putih… tidaklah rambut beliau menjadi putih kecuali hanya sedikit saja). Artinya sampai beliau sebelum meninggal dunia, 60 tahun lebih, tidaklah menjadi putih rambutnya kecuali sedikit saja dibandingkan dengan seluruh rambutnya.
حَيْثُ قُدِّرَ شَيْبُهُ فِي أَوَاخِرِ عُمُرِهِ بِعِشْرِينَ شَعْرَةً مُوَزَّعَةً فِي الرَّأْسِ. Kira-kira 20 helai di akhir umur beliau. Jadi kalau dihitung kurang lebih 20 saja. وَتَحْتَ الْفَمِ وَالصُّدْغَيْنِ, dan di bawah mulut tersebar rambut-rambut tadi. Yang 20 tadi itu dikumpulkan kan jumlahnya itu 20, dan tersebar di mana? Tersebar di pertama di kepala, kemudian ada rambut putih yang ada di bawah mulut—mungkin maksudnya adalah jenggotnya—kemudian di sini ada berapa belas? Kemudian di sini ada berapa helai? وَالصُّدْغَيْنِ dan yang ada di pelipis. Jadi 20 itu sudah di tiga tempat tadi ya. Mungkin di pelipis ada berapa, kemudian di bawah mulut ada berapa, di kepala ada berapa. Itu kurang lebih ada 20 helai di akhir umur beliau sebelum beliau meninggal dunia.
وَمَالَ اللَّوْنُ إِلَى الْحُمْرَةِ فِي بَعْضِ شَعْرِهِ مِنَ الطِّيبِ. Di antara sifatnya juga—perhatikan—sebagian rambut beliau berwarna kemerahan. Ini juga menunjukkan bagaimana para sahabat dahulu detail dalam memperhatikan fisik Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, karena ini orang yang terbaik sepanjang masa, Utusan Allah. Sebagian rambut beliau berwarna kemerahan karena bekas minyak wangi, karena bekas minyak wangi yang beliau gunakan. Karena dahulu Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga menggunakan minyak wangi, dan terkadang minyak wangi tersebut entah itu misk atau zafaran yang memang ada warna kemerahan—ya terutama zafaran—mungkin saja sampai ke rambut tersebut sehingga warna dari sebagian rambut Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ itu berwarna merah.
Postur Tubuh
وَكَانَ مُتَوَسِّطَ الْقَامَةِ. Dahulu Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah pertengahan, yaitu tinggi beliau adalah sedang, berpostur sedang. Maknanya tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu pendek, dan ini adalah sebuah keindahan. مُتَوَسِّطَ الْوَزْنِ (atau) مُتَوَسِّطَ الْبَدَنِ, badan beliau juga seimbang, standar sesuai dengan tingginya. لَيْسَ بِالنَّحِيفِ وَلَا الْجَسِيمِ. Tidak kurus dan juga tidak gemuk.
عَرِيضَ الصَّدْرِ. Beliau memiliki dada yang lebar, yang bidang. Dan ini juga merupakan sifat kesempurnaan.
ضَخْمَ الْيَدَيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ. Kedua tangan beliau dan kedua kaki beliau adalah besar atau lebar. Dua-duanya adalah lebar. Baik tangannya maupun kakinya. Bukan kaki yang kecil atau tangan yang sempit atau yang kecil, tapi kedua tangannya dan kedua kakinya adalah kedua tangan yang lebar dan kedua kaki yang lebar. مَبْسُوطَ الْكَفَّيْنِ ضَخْمَ الْيَدَيْنِ وَالْقَدَمَيْنِ. Kedua tangannya dan kedua kakinya adalah besar. Afwan sebelumnya, tangan yang dimaksud di sini adalah tangan (secara umum). Kemudian الْقَدَمَيْنِ (kedua kaki) beliau adalah besar dan maksudnya adalah kuat. Ya, kedua tangannya dan kedua kakinya adalah kedua tangan dan kaki yang kuat.
Adapun kedua telapak tangannya maka sifatnya adalah مَبْسُوطَ الْكَفَّيْنِ. Telapak tangan beliau adalah lebar. كَفَّاهُ لَيِّنَتَانِ. Kedua telapak tangan beliau adalah kedua telapak tangan yang lembut. Kedua telapak tangan beliau adalah kedua telapak tangan yang lembut.
قَلِيلَ لَحْمِ الْعَقِبَيْنِ. Tumitnya (الْعَقِبُ adalah tumit) adalah tumit yang tidak banyak dagingnya. Tumit yang tidak banyak dagingnya. Sampai ke arah situ perhatian para sahabat رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ terhadap Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang mereka perhatikan, mereka bandingkan dengan sifat jasad-jasad yang lain, maka mereka mendapatkan sifat jasad Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah seperti ini. Tumitnya tidak berdaging banyak.Shutterstock
Tanda Kenabian (Khatam An-Nubuwwah)
يَحْمِلُ فِي أَعْلَى كَتِفِهِ الْيُسْرَى خَاتَمَ النُّبُوَّةِ. Di bagian atas bahu kiri beliau, ini bahu bagian atasnya, bahu kiri bagian atasnya ada terdapat tanda kenabian, ada terdapat tanda kenabian (khatam). Ya ada tandanya, ada kalau di kertas itu ada stempelnya yang menunjukkan tentang keaslian. Nah, dulu para nabi, masing-masing nabi itu memiliki tanda yang sama. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى jadikan itu sebagai tanda bukti bahwasanya dia adalah seorang nabi. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga demikian. Sehingga dahulu ada sebagian orang Yahudi yang telah diutus kepada mereka banyak nabi, dan mereka tahu masing-masing nabi yang diutus kepada mereka itu memiliki tanda yang sama di bahu kirinya. Maka ada di antara mereka yang berusaha untuk melihat bahu kiri Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk meyakinkan benarkah dia adalah seorang nabi, dan ternyata mereka mendapatkan tanda tersebut ada di bahu kiri Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, tapi dia tidak beriman ya karena حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ (karena mereka hasad terhadap Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ).
وَهُوَ شَعْرٌ مُجْتَمِعٌ كَالزُّرِّ. Apa tandanya? Tandanya adalah sekumpulan rambut yang menggumpal seperti bulatan. Sekumpulan rambut yang menggumpal seperti bulatan, yaitu bulatan kancing. الزُّرُّ artinya adalah kancing, kancing baju. Inilah خَاتَمُ النُّبُوَّةِ. Dan sekali lagi apa yang disebutkan tadi adalah berdasarkan dalil-dalil yang sahih yang dikumpulkan. Sebagiannya ada yang diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim, sebagaimana ada di dalam Sunan At-Tirmidzi. Contoh misalnya tentang tanda kenabian tadi. Ini disebutkan dalam Sahih Bukhari dan juga Muslim.
Kesempurnaan Penampilan dan Makna di Baliknya
Kemudian setelah menyebutkan sifat-sifat tadi, maka beliau mengatakan:
وَهَذِهِ الصِّفَاتُ الْجِسْمِيَّةُ… تَدُلُّ عَلَى جَمَالِ الْمَظْهَرِ (Maka sifat-sifat tubuh, sifat-sifat fisik Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ini menunjukkan tentang keindahan penampilan beliau).
وَاكْتِمَالِ الْجِسْمِ (Dan kesempurnaan tubuh beliau). Ini tentunya adalah sebuah kesempurnaan bagi seorang manusia.
وَهِيَ تُنْبِئُ بِالْقُدْرَةِ عَلَى الْوَاجِبَاتِ الْعَظِيمَةِ الَّتِي أُنِيطَتْ بِهِ (Dan menunjukkan tentang kemampuan beliau dengan jasad yang kuat, jasad yang indah, menunjukkan tentang kemampuan beliau untuk menunaikan tugas-tugas yang agung, tugas-tugas yang besar yang telah diamanahkan oleh Allah kepada beliau).
فَلَمْ يَرَ أَعْدَاؤُهُ فِي مَظْهَرِهِ مَا يَعِيبُونَهُ عَلَيْهِ. Sehingga musuh-musuh beliau, orang-orang musyrikin, orang-orang kafir tidak melihat dan tidak menemukan celah sedikit pun di dalam penampilan beliau. Ya, tidak menemukan celah, kesempatan untuk mencela beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di dalam fisiknya. Sebagaimana ini kadang dilakukan oleh sebagian manusia untuk merendahkan lawannya, maka dia berusaha untuk mencari kekurangan, mencari celah. Termasuk di antaranya adalah dalam penciptaan, ya, menjadikan manusia mereka malu untuk dekat-dekat dengan orang tersebut karena dia memiliki sifat yang aib.
أَوْ يُلَقِّبُونَهُ بِهِ عَلَى سَبِيلِ الِانْتِقَاصِ. Mereka tidak menemukan celah sedikit pun sehingga menjuluki Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dengan sesuatu yang merendahkan. Ya, tidak mengatakan si pendek atau si jangkung atau dan seterusnya.
وَإِضَافَةً لِحُسْنِ خِلْقَتِهِ الْجِبِلِّيَّةِ وَسَلَامَةِ حَوَاسِّهِ. Kemudian beliau mengatakan, “Selain memiliki bentuk ciptaan yang sempurna dan panca indra yang sehat,” ya, tidak buta, tidak tuli, tidak bisu. وَقَدِ اعْتَنَى بِمَظْهَرِهِ مِنَ النَّظَافَةِ وَحُسْنِ الْهَيْئَةِ وَالتَّطَيُّبِ بِالطِّيبِ. Maka beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sangat memperhatikan kebersihan, kerapian, keharuman tubuh beliau. Beliau senang untuk memakai minyak wangi. Kalau diperhatikan tentang sirah beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, beliau adalah orang yang bersihan, tidak senang dengan sesuatu yang kotor.
Para jemaah yang dimuliakan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Tentunya banyak faedah yang bisa kita ambil dari apa yang tadi disebutkan. Kita sebutkan di sini beberapa faedah manfaat ketika seorang muslim dia mengetahui tentang ciri fisik Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
- Menumbuhkan rasa cinta yang mendalam kepada beliau ﷺ. Apa yang sudah dia dengar berupa kesempurnaan akhlak, ditambah lagi dengan kesempurnaan sifat jasmani beliau, maka akan semakin menambah rasa cintanya, kekagumannya kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dan semakin cinta, semakin takjub dengan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, maka akan semakin tergerak hatinya untuk meneladani. Semakin tergerak hatinya atau dirinya untuk berselawat, semakin tergerak untuk rindu bertemu dengan orang yang dia kagumi tersebut. Dan tentunya berusaha bagaimana dia meskipun tidak bertemu di dunia tetapi bisa bertemu dengan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di hari kiamat di dalam surganya. Menemani Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di dalam surga, membangkitkan dia untuk beramal saleh, beriman, istiqamah, menjalankan perintah, menjauhi larangan.
- Menguatkan iman dan juga keyakinan bahwasanya beliau benar-benar utusan Allah. Kesempurnaan fisik Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah tanda kesempurnaan risalah. Karena perlu diketahui bahwa Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak memilih seorang nabi yang hina, yang cacat akhlaknya, cacat rupanya. Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjadikan para nabi أَفْضَلُ النَّاسِ (sebaik-baik manusia). Bahkan jasad mereka adalah sebaik-baik jasad manusia. Ketika kita membaca sifat-sifat jasad Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, maka semakin yakin keyakinan yang sudah ada ditambah dengan keyakinan yang sekarang bahwasanya beliau adalah benar-benar utusan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
- Menambah rindu dan kecintaan untuk bertemu dengan beliau di akhirat. (Sebagaimana disebutkan di atas).
- Menjadikan kita semakin meneladani beliau.
- Menambahkan rasa syukur atas nikmat diutusnya Rasulullah ﷺ. Yaitu ketika seorang muslim mengenal betapa sempurna jasmani beliau dan akhlak beliau, maka ia sadar betapa besarnya nikmat yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berikan kepada kita dengan diutusnya seorang rasul yang membawa petunjuk untuk kita semuanya.
Kemudian kita lanjutkan setelahnya. Beliau mengatakan… Tayib, sebelum kita lanjutkan, ada yang bisa menyebutkan tiga sifat fisik Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tanpa melihat buku? Bisa fadal.
- وَاسِعَ الْفَمِ, artinya beliau adalah orang yang tampan.
- Rambutnya tidak keriting ya. Coba dipakai ini, rambutnya dulu bagaimana? Rambutnya antara lurus dan keriting, dan panjangnya kadang di telinga, kadang di antara telinga dan bahu, dan kadang sampai bahu. Tayib itu rambutnya.
- Terus matanya? Jarak antara kedua matanya lebar atau matanya tadi disebutkan شِقِّ الْعَيْنَيْنِ, matanya lebar.
- Tayib. Terus dadanya bidang. Dadanya bidang.
- Kemudian ضَخْمَ الْيَدَيْنِ وَالْعَقِبَيْنِ, tangannya dan juga kakinya kuat. Kuat. Telapak tangannya lebar. Lebar. Nah, ahsan.
Manfaat Berkaitan dengan Akidah (Mimpi Bertemu Nabi)
Dan bisa juga di antara faedahnya berkaitan dengan akidah juga. Ketika seseorang mengenal Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kemudian dia bermimpi dan di dalam mimpinya dia melihat orang yang mengaku sebagai Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Maka seorang muslim yang mengenal jasad beliau, mengenal fisik beliau, bisa membedakan apakah dia adalah benar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ atau bukan. Apakah dia adalah benar Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ atau setan yang ingin menyesatkan manusia lewat mimpi? Ini dengan cara sebelumnya kita mengenal tentang sifat beliau.
Contoh misalnya ada orang yang bermimpi ada seorang laki-laki datang, kemudian dia mengaku sebagai Rasulullah. Kemudian kalau diperhatikan ternyata jasad beliau, sifat jasadnya seperti yang kita pelajari, sifat jasadnya seperti yang kita pelajari, maka berarti dia telah melihat Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Berarti yang dia lihat adalah benar-benar Rasulullah. Karena yang namanya setan tidak mungkin dia bisa menjelma sebagai Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dia mungkin bisa datang ke dalam mimpi seseorang berwujud bapaknya, berwujud ibunya, berwujud anaknya. Tapi untuk menyerupai Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ maka mereka tidak bisa. Yang bisa dia lakukan adalah mengaku dengan lisannya dia mengatakan “Saya adalah Rasulullah.” Tapi untuk menyerupai Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di dalam mimpi mereka tidak bisa.
Sehingga kalau yang kita lihat sifatnya sama dengan yang ada di sini, semoga yang demikian adalah benar adanya. Karena Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي (Barang siapa yang melihatku di dalam mimpi, sungguh dia telah melihatku). Itu bukan jin yang menyerupai Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Itu benar-benar Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي (Karena sesungguhnya setan tidak bisa menyerupai diriku).
Ini fungsinya. Kalau misalnya ada orang yang datang “Saya melihat Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ,” maka jangan kita benarkan langsung, tapi terlebih dahulu kita cek bagaimana sifat beliau, bagaimana sifat jasad beliau. Kalau dia mengatakan orang tersebut seluruh rambutnya putih, wah ini antum bisa mengatakan, “Oh, bukan. Itu bukan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.” Kenapa? Karena rambut putih beliau sangat sedikit ya, bukan orang yang rambutnya semuanya putih. Atau dia mengatakan bagaimana tinggi beliau? “Oh, dia tinggi sekali. Seperti orang Eropa misalnya.” Ini kita katakan tidak demikian. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ beliau pertengahan, tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu pendek. Maka ini berkaitan juga dengan akidah, yaitu mengenal jasad beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Sifat Akhlak (Khuluqiyah) Rasulullah ﷺ
Tayib. Kemudian أَمَّا صِفَاتُهُ الْخُلُقِيَّةُ (Adapun sifat-sifat beliau yang berkaitan dengan akhlaknya). فَقَدْ وَصَفَهُ الْقُرْآنُ الْكَرِيمُ (Maka Al-Qur’an telah mensifati beliau): وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang mulia).
وَقَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. Aisyah mengatakan—menceritakan tentang akhlak Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ—bahwasanya akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Maksudnya apa? Apa yang beliau praktikkan itu adalah amalan beliau terhadap Al-Qur’an yang telah diturunkan kepada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dan ini adalah sifat umum yang dimiliki oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Apa yang beliau miliki berupa akhlak itu adalah pengamalan beliau terhadap Al-Qur’an. كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. Kalau di dalam Al-Qur’an kita diperintahkan untuk lemah lembut, maka itu ada di dalam diri Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Kalau di dalam Al-Qur’an sifat orang yang beriman adalah saling menyayangi satu dengan yang lain, maka itu ada di dalam diri Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Kalau di dalam Al-Qur’an ada ketegasan terhadap orang-orang yang kafir, maka itu ada dalam diri Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. Sifat beliau dan akhlak beliau adalah apa yang ada di dalam Al-Qur’an. وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang besar).
وَمِنْ تَتَبُّعِ سِيرَتِهِ وَقِرَاءَةِ الْأَحَادِيثِ النَّبَوِيَّةِ فِي صِفَاتِهِ الْخُلُقِيَّةِ…. Apabila kita mempelajari sejarah hidup Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan membaca hadis-hadis Nabi yang berkaitan dengan sifat-sifat akhlak beliau, maka kita akan menemukan gambaran pribadi yang sempurna. Bagaimana?
- التَّوَاضُعِ الْمُقْتَرِنِ بِالْمَهَابَةِ (Kerendahan hati yang disertai dengan kewibawaan). Rendah hati beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dan di waktu yang sama beliau memiliki wibawa. Karena ada sebagian orang mungkin rendah hati tetapi tidak memiliki wibawa. Ada orang yang memiliki wibawa tapi dia bukan orang yang rendah hati. Dikumpulkan di dalam diri beliau: tawadu (rendah hati) kepada manusia dan memiliki kewibawaan.
- وَالْحَيَاءِ الْمُقْتَرِنِ بِالشَّجَاعَةِ (Rasa malu yang bersanding dengan keberanian). Di antara sifat kesempurnaan beliau adalah rasa malu yang bersanding dengan keberanian. Beliau adalah seorang yang memiliki rasa malu, bukan orang yang tidak punya malu. Dan di waktu yang sama Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berikan kepada beliau keberanian. Orang yang paling berani ya Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dahulu para sahabat رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ mereka berada di belakang Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, yang paling depan. Dikenal dengan keberaniannya yang luar biasa.
- وَالْكَرَمِ الصَّادِقِ الْبَعِيدِ عَنْ حُبِّ الظُّهُورِ (Kedermawanan yang tulus… yang jauh dari keinginan untuk dikenal). Di antara sifat akhlak beliau adalah kedermawanan yang tulus. الْكَرَمِ الصَّادِقِ. Kedermawanan yang tulus. Bukan kedermawanan yang tidak tulus, yang menginginkan sesuatu, yang sangat jauh dari keinginan untuk terkenal, memberi, mengasih, dan jauh dari keinginan untuk dikenal oleh manusia. Karena ada sebagian orang memberi dan pemberiannya bukan pemberian yang tulus, tapi di sana ada kepentingan pribadi.
- وَالْأَمَانَةِ الْمَشْهُورَةِ بَيْنَ النَّاسِ (Dan amanah yang masyhur/dikenal di antara manusia). Dan beliau juga dikenal memiliki amanah, dikenal oleh manusia bukan hanya satu atau dua orang. Di antara manusia dikenal sebagai orang yang amanah, termasuk orang-orang musyrikin. Bahkan setelah beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjadi nabi pun mengajak, manusia masih menitipkan barang kepada Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ karena sulit untuk menemukan orang yang amanah seperti beliau. Sehingga tidak heran kalau beliau dijuluki dengan الْأَمِينُ (Al-Amin).
- وَالصِّدْقِ فِي الْعَمَلِ (Dan jujur di dalam perbuatan). Dan beliau adalah orang yang jujur di dalam ucapan maupun perbuatannya. Tidak ada dusta yang pernah diucapkan oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ semenjak kecilnya. Tidak kepada orang yang sebaya dengan beliau atau yang lebih tua atau yang lebih kecil sekalipun beliau tidak pernah berdusta menjaga lisannya.
- وَالزُّهْدِ فِي الدُّنْيَا عِنْدَ إِقْبَالِهَا (Dan zuhud terhadap dunia ketika dunia menghampiri). Dan beliau memiliki sifat zuhud terhadap dunia ketika dunia tersebut menghampirinya, dibuka oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dunia untuk Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dan beliau adalah orang yang zuhud sehingga beliau pun dicintai oleh manusia.
- وَالْإِعْرَاضِ عَنْهَا عِنْدَ إِدْبَارِهَا. Dan beliau tidak menoleh kepada dunia tersebut ketika dia berpaling. Yaitu ketika dunia tersebut berpaling dari beliau. Menunjukkan bahwasanya dunia tidak di hati beliau.
- وَالْإِخْلَاصِ لِلهِ فِي كُلِّ مَا يَصْدُرُ عَنْهُ (Dan ikhlas kepada Allah di dalam setiap apa yang keluar dari beliau).
- مَعَ فَصَاحَةِ اللِّسَانِ. Disertai dengan kefasihan di dalam berbahasa. Jadi kalau beliau berbicara maka ucapan yang beliau ucapkan adalah ucapan yang sangat fasih. Jadi di antara orang-orang Arab pun Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ketika berbicara ucapan beliau adalah dengan bahasa Arab yang fasih.
- وَثَبَاتِ الْجَنَانِ (Dan tetapnya hati). Artinya beliau memiliki hati yang stabil.
- وَقُوَّةِ الْعَقْلِ (Dan memiliki kekuatan akal). Menggunakan akalnya yang merupakan karunia dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى dengan sebaik-baiknya menjadi orang yang berakal.
- وَحُسْنِ الْفَهْمِ. Dan beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memiliki pemahaman yang kuat, pemahaman yang baik, mudah memahami ucapan orang.
- وَالرَّحْمَةِ لِلْكَبِيرِ وَالصَّغِيرِ. Dan beliau adalah orang yang sayang kepada yang lebih tua maupun yang lebih muda. Dan beliau adalah orang yang mudah, ya mudah bergaul dengan orang lain.
- وَرِقَّةِ الشُّعُورِ. Dan memiliki kelemahlembutan perasaan. Orangnya adalah perasa.
- وَالْعَفْوِ عَنِ الْمُسِيءِ. Dan senang untuk memaafkan, mengampuni terhadap orang yang berbuat buruk.
- وَالْبُعْدِ عَنِ الْغِلْظَةِ وَالْجَفَاءِ وَالْقَسْوَةِ. Dan jauh dari kekasaran, kekerasan kepada orang lain, baik dengan ucapannya maupun dengan perbuatannya.
- وَالصَّبْرِ فِي مَوَاطِنِ الشِّدَّةِ. Dan di antara sifat beliau adalah bersabar ketika dalam keadaan diuji.
- وَالْجُرْأَةِ فِي قَوْلِ الْحَقِّ. Dan beliau adalah orang yang berani di dalam mengucapkan yang benar. Kalau memang salah ya beliau katakan salah. Kalau memang perlu diingkari, maka beliau tidak ragu-ragu untuk mengingkari.
Demikian sifat yang sempurna dan akhlak yang sempurna yang Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berikan kepada Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Jemaah yang dimuliakan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Ini adalah ringkasan, dan kalau disebutkan dalil-dalilnya secara keseluruhan tentang akhlak-akhlak tersebut tentunya akan memerlukan banyak pertemuan. Di sini diringkas oleh Syaikh Akram ya tentang bagaimana akhlak Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ terkumpul di dalam diri beliau. Ya, pemaaf, dermawan, bersabar ketika mendapatkan ujian. Ketika waktunya untuk beramar makruf nahi mungkar, maka beliau beramar makruf nahi mungkar, jujur, zuhud, amanah, dan seterusnya.
Di antara dalil-dalilnya misalnya di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْلِسُ مَعَ أَصْحَابِهِ فَيَدْخُلُ الدَّاخِلُ فَلَا يَدْرِي أَيُّهُمْ هُوَ حَتَّى يَسْأَلَ
(Dahulu Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ duduk bersama para sahabatnya. Duduk yaitu duduk sama rendah dengan para sahabatnya. Kemudian masuk seseorang dan dia tidak tahu mana yang merupakan Rasulullah. Karena tidak ada yang membedakan antara beliau dengan para sahabatnya dari sisi pakaian ya, dari sisi tempat duduknya, sehingga ketika ada orang yang datang misalnya dia tidak tahu mana yang merupakan nabi. Hatta yas’al, dia tidak tahu sampai bertanya. Kalau dia tanya mana Rasulullah? Baru dia tahu). Ini menunjukkan bagaimana tawadu beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, sebagian sahabat menceritakan:
كُنَّا إِذَا احْمَرَّ الْبَأْسُ احْتَمَيْنَا بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
(“Kami dahulu ketika peperangan sedang berkecamuk, kami berlindung di belakang Rasulullah”). Jadi para sahabat yang demikian dikenal keberanian mereka, ketika perang berkecamuk kami berlindung di belakang Rasulullah.
فَمَا يَكُونُ أَحَدٌ أَقْرَبَ إِلَى الْعَدُوِّ مِنْهُ
(Tidak ada yang lebih dekat kepada musuh daripada beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ). Ini menunjukkan bahwasanya rasa malu yang ada di dalam diri Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bukan berarti beliau adalah orang yang tidak memiliki keberanian. Ternyata beliau adalah orang yang sangat berani.
مَا سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قَطُّ فَقَالَ لَا
(Dalam Sahih Bukhari, tidak pernah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ diminta sesuatu lalu beliau mengatakan, “Tidak”). Jadi beliau berusaha ketika diminta sesuatu untuk mengabulkan. Ya, selama itu adalah sesuatu yang beliau mampu.
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
(Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia).
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
(Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi. Kemudian yang paling mirip dengan mereka lalu yang setelahnya). Menunjukkan tentang kesabaran beliau.
Tayib syuruk jam berapa? Baik. بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ.
Para jemaah sekalian yang dimuliakan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Di akhir pertemuan ini kita sebutkan beberapa faedah yang bisa kita ambil. Di antaranya adalah kesempurnaan akhlak Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mencakup semua sisi. Maka kita sebagai seorang yang mencintai Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berusaha untuk meneladani beliau. Kita adalah umat beliau, kita adalah pengikut beliau. Dan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah mendorong:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
(Telah ada di dalam diri Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ untuk kalian teladan yang baik).
Sehingga kita bukan hanya mengikuti akidah beliau, tata cara ibadah beliau, tetapi kita berusaha untuk mengikuti akhlak beliau. Jadilah kita seorang salafi yang sejati. Bukan hanya sekedar pengakuan, tapi benar-benar kita mempraktikkan iktida kita dan ittiba kita kepada Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Dan di antara faedah yang bisa kita ambil adalah keyakinan yang semakin yakin bahwasanya beliau صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah seorang nabi. Yaitu kesempurnaan-kesempurnaan ini semakin menjadikan kita yakin dengan apa yang kita ucapkan: وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ (Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah). Nah, semakin kita mengetahui kesempurnaan beliau dari sisi akhlaknya, semakin kita yakin bahwasanya beliau adalah utusan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ. Mungkin itu yang bisa kita sampaikan pada kesempatan kali ini dan insyaallah kita lanjutkan pada kesempatan yang akan datang. Masih ada waktu, mungkin ada pertanyaan? Kami persilakan ya baik.
Sesi Tanya Jawab
Pertanyaan 1: Bersin Terus-Menerus dalam Sujud
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz, di luar tema. Terkait dengan kemarin kan ada salat gerhana, sujudnya kan lama tuh ya. Iya. Lalu di samping—atau bagaimana sikap jika ada seorang bersin terus-menerus dalam sujud? Sikap yang bersin dan sikap di samping kanan kirinya karena itu sujud lama sekali. Terima kasih, Ustaz. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jawaban:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kalau dia bersin, maka mengucapkan الْحَمْدُ لِلهِ. Kalau dia bersin mengucapkan الْحَمْدُ لِلهِ. Dan kalau bisa dia tahan maka dia tahan. Di sana ada mungkin beberapa cara, ada sebagian orang dia bisa menahan ya tanpa melakukan gerakan. Tapi di sana ada orang yang dia harus menutup hidungnya, ya dengan cara seperti ini dia bisa menahan dari bersin. Kalau memang bisa maka dia lakukan. Kalau tidak bisa dan mengatakan dan bersin maka dia mengatakan الْحَمْدُ لِلهِ.
Adapun orang yang di samping kanan kirinya dan orang yang mendengarnya maka tidak mengucapkan apa-apa. Ya, yang bersin mengatakan الْحَمْدُ لِلهِ. Adapun yang di samping kanan kirinya tidak mengucapkan apapun. Tidak usah mengatakan يَرْحَمُكَ اللهُ. Nah, dan tidak harus dan tidak mengeraskan suaranya mengucapkan الْحَمْدُ لِلهِ dengan sir (pelan) ya, tidak mengeraskan suaranya. Dan orang yang seandainya ada orang yang mendengar padahal dia sudah sir-kan maka dia tidak mengucapkan يَرْحَمُكَ اللهُ. Nah, Tayib. Ada pertanyaan yang lain? Nah, iya.
Pertanyaan 2: Membaca Taawudz dalam Salat
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pak Ustaz. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Kalau di dalam salat membaca al-Fatihah selalu takut bagaimana, Pak Ustaz, hukumnya, Pak Ustaz? Terima kasih. Jazakallah, Pak Ustaz. Barakallah.
Jawaban:
Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى mengatakan: فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ (Apabila engkau membaca Al-Qur’an, maka hendaklah engkau berlindung kepada Allah). Yaitu berlindung kepada Allah dari godaan setan, mengatakan أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. Dan ini baik di dalam salat maupun di luar salat. Ketika di dalam salat kita mau membaca Al-Qur’an (al-Fatihah), maka kita membaca istiadah. Dan itu yang dilakukan oleh Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Apakah istiadah yang dibaca cukup dengan istiadah yang ada di rakaat yang pertama, kemudian rakaat yang kedua tidak perlu dia membaca istiadah? Karena ini adalah satu kesatuan kita di dalam satu salat atau masing-masing rakaat kita membaca istiadah? Ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada yang mengambil pendapat yang pertama dan ada di antara mereka yang mengambil pendapat yang kedua. Dan itu adalah pendapat ahlusunah wal jamaah. Dua-duanya adalah pendapat ahlusunah. Dan wallahuaklam yang lebih kuat—dan itu yang saya amalkan secara pribadi—adalah istiadah dibaca di awal saja. Istiadah dibaca di awal saja di rakaat yang pertama. Adapun rakaat yang kedua maka kita langsung membaca al-Fatihah karena ini adalah satu kesatuan. Tapi seandainya ada yang membaca istiadah kembali pada rakaat yang kedua, maka silakan kalau memang dia melihat alasan dan juga dalilnya ini lebih kuat. وَاللهُ تَعَالَى أَعْلَمُ. Nah, Tayib. Ada pertanyaan lain? Nah.
Pertanyaan 3: Amal Anak Mengalir ke Orang Tua
Warahmatullahi wabarakatuh. Sebentar mikrofonnya. Iya, ya. Semoga Allah senantiasa menjaga antum, Ustaz, dalam kebaikan. Yang ana ingin tanyakan, Ustaz, apabila seorang—apa namanya—seorang anak yang melakukan amal kesalehan gitu, Ustaz, apakah otomatis akan mengalir sampai kepada orang tua yang setelah meninggal? Atau anak tersebut perlu berdoa kepada Allah agar amalannya itu sampai kepada orang tuanya tersebut.
Jawaban:
بَارَكَ اللهُ فِيكَ. Orang tua yang dia menjadi sebab anaknya mendapatkan hidayah, dia tarbiah, dia ajarkan adab, dia ajarkan Quran, diajarkan agama, dan dia menjadi sebab anak tersebut mengenal kebaikan-kebaikan itu semuanya; maka diharapkan pahala dari anaknya itu mengalir kepada orang tua. Setiap kali anak tersebut melakukan kebaikan—karena orang tua menjadi sebab dia mendapatkan kebaikan tersebut—akhirnya orang tua pun mendapatkan aliran pahala. Karena Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:
الدَّالُّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ
(Orang yang menunjukkan kebaikan itu seperti orang yang melakukannya).
Dan orang tua dalam kondisi seperti ini, dalam kasus ini, dia merupakan sebab anak tersebut mengenal kebaikan. Termasuk di antaranya apabila seorang ayah dia yang mengantar anaknya sekolah sehingga dia pun mendapatkan manfaat, mendapatkan ilmu, mendapatkan akhlak. Seorang orang tua dialah yang membiayai dan dia melakukan itu semuanya ihtisaban (mengharap pahala) dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Maka semoga apa yang dilakukan oleh anak berupa amal saleh yang dia dapatkan itu semuanya di majelis ilmu, di pondok, maka orang tua mendapatkan pahala dan mendapatkan aliran pahala.
Adapun hanya sekedar sebagai orang tua saja, kemudian anaknya melakukan amal saleh, dan amal saleh tersebut tidak ada kaitannya dengan kesungguhan orang tua—mungkin dia menjadi saleh dengan sebab yang lain ya, bukan dari sebab orang tuanya—maka tidak serta-merta yang demikian kemudian pahalanya mengalir kepada orang tua. Jadi, وَاللهُ أَعْلَمُ. Aliran pahala di sini adalah apabila orang tua itu memiliki peran di dalam kesalehan anak tersebut. Ya, memiliki peran tahunya anak tersebut terhadap kebaikan sehingga dia pun mengamalkan amal kebaikan tadi.
Oleh karena itu di sini para jemaah sekalian, jadilah kita orang tua yang memiliki perhatian yang besar terhadap anak-anak kita, khususnya di dalam agama mereka. Jangan sampai kesibukan kita, aktivitas kita yang numpuk ini kemudian menjadikan kita lalai. Padahal di dalam rumah kita ada kesempatan bagi kita untuk mendapatkan pahala yang besar, yaitu dengan mentarbiah anak kita, mentakdib mereka, yaitu mengajarkan kepada mereka adab, mengajarkan kepada mereka Al-Qur’an. Mereka ada di rumah kita, mereka dekat dengan kita. Ini kesempatan bagi kita untuk bisa berinvestasi, investasi untuk akhirat kita. Ya, seseorang ketika dia meninggal dunia dan meninggalkan anak-anak yang saleh, anak-anak yang bertauhid, anak-anak yang mengingat Allah, anak-anak yang mau berdoa, anak-anak yang tahu bagaimana wajibnya berbakti kepada orang tua, maka tentunya ini adalah investasi yang besar bagi seseorang. Nah, iya.
Pertanyaan 4: Adab Menuntut Ilmu (Terlambat dan Mencatat)
Bismillah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Izin bertanya, Ustaz, terkait dengan di luar tema, Ustaz. Terkait dengan mungkin ini kebiasaan kali ya dari Ana ya. Kadang ini jadi pertanyaan di dalam hati ana, kalau kajian itu kan kadang-kadang ana sering kebanyakan telat, Ustaz, gitu. Kebanyakan telat datangnya, kadang 5 menit, kadang 10 menit gitu kan. Dan kadang bisikan dari setan gitu kan, “Udah enggak usah, enggak punya adab sama ustaz gitu.” Sebenarnya afdalnya gimana, Ustaz, ya, kalau kita menghadapi dilema seperti itu? Terus kiat-kiat, Ustaz, karena juga masih kurang ya dalam adab menuntut ilmu terkait dengan mengikat apa ilmu dengan tulisan. Ustaz, itu aja, Ustaz.
Jawaban:
Baik, pertanyaan tentang adab di dalam bermajelis ilmu. Memang seorang penuntut ilmu ini diharuskan untuk memiliki adab-adab, di mana dengan adab-adab tadi dia mengagungkan ilmu itu sendiri. Semakin seorang thalibul ilm menyadari tentang agungnya ilmu, kedudukan ilmu, maka dia akan semakin memiliki adab. Ketika seseorang mau menghadap pejabat tinggi negara, semakin tinggi kedudukan dia, maka dia akan semakin berusaha mempersiapkan adab: apa yang seharusnya saya perhatikan, ana jaga. Ketika nanti saya berhadapan dengan pejabat tersebut, dia akan perhatikan bagaimana pakaiannya. Dia akan perhatikan nanti pertama harus bagaimana, yang kedua bagaimana, kalau mau pamitan bagaimana, kalau mau mengawali pembicaraan bagaimana, dia akan pelajari.
Dan ilmu ini adalah dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Ini adalah قَالَ اللهُ وَقَالَ الرَّسُولُ. Memang seharusnya seorang penuntut ilmu—kalau dia menghadapi pejabat tinggi di dunia ini saja dia berusaha untuk beradab—kalau sudah ada perjanjian antum datang minggu depan hari Senin jam 09.00. Ya, tentunya kita dari rumah kita perkirakan bagaimana kita sampai di sana jam 08.30. Jangan sampai pejabatnya datang, kita belum datang. Kenapa? Karena kita ada pengagungan kita di sini, ada penghormatan kepada beliau.
Nah, demikian pula seorang yang beriman, seorang penuntut ilmu hendaklah dia beradab dengan ilmu. Kalau bisa datang sebelum guru. Dan dahulu para salaf juga demikian. Ada di antara mereka yang kalau majelisnya setelah subuh, sebelum subuh dia sudah datang di sini ya. Sebelum subuh dia sudah siap, ya. Sehingga diceritakan bahwasanya Imam Malik atau Imam Ahmad ketika dia masih kecil menuntut ilmu, bagaimana dia ingin ya sebelum subuh dia berangkat. Belum azan dia sudah ingin berangkat padahal majelisnya masih setelah subuh. Nah, ditahan oleh ibunya karena masih terlalu malam. Ya, kita berusaha ya sesuai dengan kemampuan kita. Kalau memang tidak ada di sana halangan, tidak ada sesuatu yang lebih penting, kita datang sebelum datangnya ustaz.
Ya. Dan adab-adab yang lain ketika bermajelis ilmu: mendekat. Jangan menyibukkan diri dengan selain ilmu. Fokus ya. Jangan kita melakukan perkara yang lain. Coba seandainya kita berada di depan pejabat, dia ngomong kemudian kita sibuk dengan HP kita, mungkin saat itu kita akan diusir. Ya, saat itu kita akan diusir karena ini tidak menunjukkan ihtiram (penghormatan). Dia ngomong kemudian kita malah noleh ke kanan ke kiri. Bukan memperhatikan ucapannya tapi kita malah menyibukkan diri dengan perkara yang lain. Maka ini bukan termasuk di antara adab yang baik ketika seseorang bermajelis ilmu.
Maka sebaik-baik teladan tentunya mereka adalah para salaf. Dahulu mereka ketika bermajelis ilmu ya itu seperti seandainya ada orang yang mengerut ya pensilnya di pojokan sana akan kedengaran, karena saking sunyinya, senyapnya mereka tidak ada yang bisik-bisik, tidak ada yang melakukan gerakan-gerakan selain menuntut ilmu. Nah, ini yang mungkin perlu menjadi perhatian bagi kita semuanya.
عَلَى كُلِّ حَالٍ، فَاتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ. Hendaklah kalian bertakwa kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian. Kalau memang kita sudah berusaha dan ternyata ada satu sebab sehingga kita pun terlambat, jangan sampai kemudian hal itu menghalangi kita untuk menghadiri majelis ilmu. نُسَدِّدُ وَنُقَارِبُ. Ya, kita berusaha untuk pas kalau memang bisa. Kalau memang tidak bisa ya kita berusaha untuk mendekati pas ya. Telat 5 menit, telat 3 menit, tidak masalah ya. Dan yang namanya majelis ilmu tidak ada yang rugi. Ya, orang yang menghadiri majelis ilmu itu tidak ada yang rugi. Bahkan seandainya dia datang ke sini bermajelis ilmu, tujuannya adalah ingin nagih hutang saja misalnya, maka dia tidak akan rugi.
لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ. Ya, ini adalah majelis yang tidak mendatangkan kerugian. Sampai orang yang datang ke sini pun karena dunia, maka insyaallah dia mendapatkan faedahnya, ada pahalanya. Ada sebagian orang datang ke majelis ilmu hanya karena dunia. Tapi ketika dia mendengar satu kalimat, dua kalimat, masuk di dalam hatinya mendapat menjadi sebab dia mendapatkan hidayah. Ya, yang awalnya adalah karena dunia dia mendengar kebenaran, “Oh, ini bagus juga ini ya. Ini belum pernah saya dengar yang demikian.” Ini beda dengan ceramah yang lain, menjadi sebab akhirnya dia mendapatkan hidayah.
Nah, jadi pertanyaan yang kedua apa? Kiat-kiat untuk bisa apa? Mengikat ilmu dengan tulisan, Ustaz. Ah, iya. Ini juga termasuk di antara adab kita di dalam menuntut ilmu adalah kita ikat ilmu dengan tulisan. Karena seorang penuntut ilmu itu seperti seorang yang berburu ikan. Orang yang berburu ikan. Maka dia berusaha setiap kali mendapatkan buruan tersebut. Namanya juga menuntut ilmu ya, mencari. Ketika dia mencarinya dan mendapatkannya ada faedah, ada sebuah pemahaman yang bermanfaat, maka dia berusaha untuk mengikatnya.
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ
(“Hendaklah kalian mengikat ilmu dengan ikatan dengan dengan menulis”). Ini ucapan yang menunjukkan tentang adab di antara adab-adab menuntut ilmu, yaitu menulis apa yang dia dengar.
Ini faedahnya tentunya banyak. Di antaranya adalah menunjukkan keseriusan. Dan kita ini—ayyuhal ikhwah—pelupa. Jangankan faedah yang kita dengar pada kajian seminggu yang lalu, yang sekarang saja seandainya salah seorang di antara kita suruh menyebutkan, banyak di antaranya yang lupa. Nah, bagaimana solusinya? Solusinya adalah dengan menulis ya. Karena meskipun sudah berapa waktu yang lalu kalau itu ditulis sewaktu-waktu bisa kita murajaah kembali, ya kita baca kembali. Itu fungsinya. Zaman dahulu ada sebagian rawi yang ketika dia punya kitab hafalannya kuat. Qadarullah kitabnya terbakar. Ketika terbakar maka mulai jelek hafalannya. Itu diperhatikan oleh para ulama, si fulan setelah terbakar bukunya سَاءَ حِفْظُهُ (hafalannya menjadi jelek). Ini menunjukkan tentang pentingnya kita menulis ya.
Pentingnya kita menulis ini kalau bisa antum tulis ya. Termasuk di antaranya adalah pertanyaan ya, pertanyaan yang diajukan. Baik pertanyaan yang antum ajukan maupun pertanyaan yang diajukan oleh orang lain. Karena sebagaimana yang disebutkan di dalam majelis itu adalah ilmu, maka dalam tanya jawab pun di situ ada ilmu. Dan demikian pula dahulu para ulama, para imam mereka menulis termasuk di antaranya adalah pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan ya. Terkadang ada penuntut ilmu yang lain bertanya, “Syaikh, bagaimana pendapatmu tentang fulan bin fulan?” Ya, maka dia mengatakan dia adalah orang yang thiqah, dia adalah orang yang dhaif. Dicatat. Seperti yang terjadi pada Baqi Ibnu Makhlad ketika beliau mendatangi majelisnya Yahya bin Main di Baghdad. Kemudian bertanya, karena Yahya bin Main memang termasuk orang yang ahli di dalam jarh wa ta’dil. Dan dia hafal apa yang menjadi pertanyaan manusia. Kemudian beliau pun bertanya ya, beliau pun bertanya tentang seseorang ya. Karena saat itu beliau datang dari tempat yang jauh, dari Andalus.
Intinya di sini adalah dalam tanya jawab pun kalau bisa kita tulis. Di sana ada ulama-ulama yang mereka punya kitab mungkin satu jilid atau lebih, isinya adalah pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan kepada gurunya, ya pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan kepada gurunya. Dia kumpulkan ya dan menjadi sebuah buku dan dicari ya, karena di dalam pertanyaan-pertanyaan tersebut ada ilmu yang tidak didapatkan dalam bukunya ulama tadi. Mungkin ulama tadi mengarang ini, mengarang ini, mengarang ini. Tapi ilmu tadi hanya dapat kita baca, hanya dapat kita ketahui ketika beliau ditanya. Sehingga ketika bertanya pun mereka tulis, “Ini jawabannya apa, Syaikh?” Dan itu dicari oleh ya oleh para ulama. Apa pendapat fulan, Imam fulan tentang permasalahan ini? Terkadang dicari di dalam ya kitab masail tersebut.
بَارَكَ اللهُ فِيكُمْ para ikhwah sekalian. Insyaallah cukup sampai di sini dan insyaallah kita lanjutkan pada kesempatan yang akan datang.
صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.



