Berbagai Kabar Gembira dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam

بسم الله الرحمن الرحيم. الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وأص حابه ومن تبع هداه إلى يوم القيامة.

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.

يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالًا كثيرًا ونساءً واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبًا.

يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولًا سديدًا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزًا عظيمًا. أما بعد.

Ikhwah sekalian, pemirsa TV, pendengar Radio Rodja, dan seluruh kaum muslimin yang mengikuti pengajian malam hari ini. Semoga Allah عز وجل menjadikan pelajaran ini bermanfaat, mendekatkan diri kepada Allah, dan dihitung sebagai amal, tidak ada yang sia-sia.

Dulu Al-Imam Asy-Syafi’i رحمه الله pernah mengatakan, “لَوْلَا أَهْلُ الْمَحَابِرِ لَخَطَبَتِ الزَّنَادِقَةُ عَلَى الْمَنَابِرِ.” “Kalaulah bukan karena para ulama yang menuliskan ilmu dan hadis menggunakan tinta-tinta mereka, niscaya orang-orang zindiq, orang-orang munafik akan bermain-main dengan dusta mereka di atas mimbar.” Sehingga para ulama ahli hadis berupaya dengan kesungguhan, perjuangan, dan kecerdasan, hafalan mereka membawa hadis Nabi صلى الله عليه وسلم menyampaikan kepada umat. Sehingga dengan izin Allah, peninggalan Nabi صلى الله عليه وسلم dari segala keteladanan beliau dapat kita pelajari. Maka kita betul-betul ingin menelusuri langkah dan jejak mereka. Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat kemuliaan tersebut. Kita mempelajari dan kita berusaha untuk mengamalkan. Semoga kian bertambah umur kita, kian baik amal kita, dan semakin terukur dan terkendali dengan aturan wahyu yang disampaikan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam hadis-hadisnya.

Malam hari ini kita akan membahas beberapa hadis yang merupakan kabar gembira dari Nabi صلى الله عليه وسلم kepada para sahabatnya. Dan ini merupakan salah satu potret kehidupan nyata di zaman itu. Ketika Nabi صلى الله عليه وسلم manusia biasa, sibuk, ada urusan, akan tetapi kesibukan beliau tidak menghalangi untuk melaksanakan kewajiban yang merupakan simbol utama seorang muslim. Kita memiliki tanggung jawab besar menjaga identitas, menunjukkan kepribadian kita, dan merupakan konsekuensi. “Saya seorang muslim,” apa buktinya? Bukan untuk pamer, akan tetapi ini adalah sebuah konsekuensi logis. Kita seorang muslim, kita ingin tunjukkan bahwa saya ini betul-betul muslim, bukan hanya omong, akan tetapi perintah di dalam syariat yang paling jelas kita laksanakan, yaitu salat. Dan salat ketika dilaksanakan dengan istiqamah, disiplin, dan terus-menerus, ini merupakan salah satu bukti keseriusan orang dalam agamanya. Dan kita lihat bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم memotivasi para sahabatnya agar mereka tetap sabar melaksanakan perintah Allah meskipun mereka harus capek dalam melaksanakan rutinitas ini.

Hadis yang pertama kita bahas adalah hadis Abu Musa al-Asy’ari رضي الله عنه. Hadis ini disebutkan dalam Sahih Bukhari dan hakikatnya hadis ini tidak hanya diriwayatkan dari Abu Musa, tetapi dari beberapa sahabat seperti dari Aisyah رضي الله عنها, kemudian dari Anas bin Malik رضي الله عنه dan beberapa sahabat lainnya. Hadis yang ke-33 dari rangkaian صحيح الجامع الصغير. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, “أَبْشِرُوا، إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْكُمْ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ يُصَلِّي هَذِهِ السَّاعَةَ غَيْرَكُمْ.” “Berbahagialah, sesungguhnya di antara nikmat yang Allah berikan kepada kalian, sesungguhnya di saat ini, di malam ini, tidak ada satu orang pun dari manusia yang masih salat selain kalian saja.” Sahabat yang tidak hadir malam hari ini, mereka tidak ada yang mendapatkan keistimewaan bersama kita malam hari ini. Hadis ini sebenarnya merupakan penjelasan tentang waktu salat Isya ketika Nabi صلى الله عليه وسلم melaksanakannya agak terlambat dari biasanya.

Di awal hadis ini, Abu Musa al-Asy’ari رضي الله عنه cerita, “Aku bersama beberapa sahabatku yang kami datang ke kota Madinah setelah kami mengendarai perahu.” Mereka ini merupakan sahabat yang sempat hijrah dari kota Makkah menuju ke Habasyah. Dan kita tahu Habasyah merupakan negeri yang tidak muslim. Di kala itu dikuasai oleh seorang raja Nasrani yang bernama An-Najasyi. Najasyi masuk Islam tapi dia sendirian dan tidak ada satu orang pun dari kalangan pengikutnya yang masuk Islam. Akan tetapi beliau adalah orang yang adil, bijak, dan sabar, bukan orang yang zalim, sehingga kaum muslimin mendapatkan ketenangan dan keamanan. Setelah mereka mendengar Rasul صلى الله عليه وسلم berhijrah, maka mereka menaiki kapal menuju ke Madinah.

Dan kita bayangkan bagaimana seorang hijrah menyelamatkan agamanya bersama keluarganya. Sebagian mereka wafat di sana, dan pada saat itu transportasi tidak semudah seperti sekarang. Dari daerah Jazirah Arab menuju ke daerah Habasyah yang sekarang letaknya di sekitar daerah Ethiopia, Afrika, perjalanan jauh sekali. Bagaimana menghadapi iklim yang berbeda juga, kemudian di keterasingan dan bukan orang muslim semuanya, tetapi karena membela agama, mereka siap untuk mengerjakan itu. Sampai ada sebagian sahabat diberi julukan أهل الهجرتين, orang yang melaksanakan dua hijrah, ketika hijrah ke Kota Madinah mereka ikut dan sebelumnya telah memulai dengan hijrah ke daerah Habasyah. Abu Musa al-Asy’ari رضي الله عنه bergabung dengan kafilah Ja’far ibn Abi Thalib رضي الله عنهم أجمعين untuk sama-sama berpindah ke kota Madinah.

Abu Musa cerita, “Aku bersama para sahabatku, kami waktu sampai datang ke Kota Madinah tinggal di daerah Baqi’ Buthan.” Ini disebutkan dalam beberapa referensi, tempatnya di sekitaran Masjid Quba. Kalau ada yang membayangkan sekarang di Masjid Nabawi ke arah kiblat menuju ke arah selatan, kita berjalan ada kisaran sekitar 2 km kita menuju ke Masjid Quba. Nah, di sekitar sana ada daerah namanya Wadi Buthan. Abu Musa al-Asy’ari رضي الله عنه dengan para sahabatnya tinggal di sana. Beliau mengatakan, “Dan Nabi صلى الله عليه وسلم di Madinah, di Masjid Nabawi,” berarti ada jarak. Tetapi karena semangatnya mereka untuk belajar, beliau cerita, “Dan ketika kami berjarak tinggal di sekitar Masjid Quba dan Nabi صلى الله عليه وسلم di Masjid Nabawi, selalu ada di antara kami beberapa orang yang gantian untuk salat Isya bersama Nabi صلى الله عليه وسلم.” Ini jaraknya jauh sekali. Zaman sekarang saja kalau ada orang mau menggunakan kendaraan roda empat butuh waktu. Ini zaman dulu belum ada, kalaupun menggunakan keledai atau unta lama, tapi mereka selalu giliran untuk mengikuti salat Nabi صلى الله عليه وسلم, salat isya malam. Dan sebelumnya mereka mengkaji bersama Nabi صلى الله عليه وسلم kalau pas ada pengajian, kalau tidak pokoknya mereka berangkat dan gantian untuk melaksanakan salat Isya.

“Di satu hari itu, kebetulan aku dan para sahabatku yang dapat giliran untuk berangkat ke Masjid Nabawi, dan kebetulan Nabi صلى الله عليه وسلم punya beberapa kegiatan, punya urusan yang harus diselesaikan.” Dalam riwayat At-Thabarani, kata Al-Munawi dalam فيض القدير, dikatakan bahwa urusan yang sedang diselesaikan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم adalah mempersiapkan pasukan yang akan diutus. Karena sibuknya, akhirnya beliau terlambat. Maka beliau terlambat salatnya, tidak segera menuju ke masjid sampai malam ini larut. Sampai malam ini mulai terang dengan cahaya bulan. Ada makna yang disebutkan juga oleh para ulama ahli hadis, maksudnya malam ini sampai di pertengahannya, artinya sudah lewat. Sebagaimana dalam hadis Aisyah رضي الله عنها dalam Sahih Muslim dikatakan, “حَتَّى ذَهَبَ عَامَّةُ اللَّيْلِ,” “Sebagian besar malam lewat.”

Maka Nabi صلى الله عليه وسلم kemudian keluar memimpin salat Isya, kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم berkhotbah. Beliau menyampaikan kepada para sahabatnya yang ikut salat, di antaranya Abu Musa dan para sahabatnya رضي الله عنهم, dikatakan, “Tenang, tidak usah tergesa-gesa.” Nah, lalu disebutkanlah hadis ini, “أَبْشِرُوا,” “Bergembiralah kalian.” Disebutkan, “إِنَّ مِنْ نِعْمَةِ اللَّهِ عَلَيْكُمْ أَنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ يُصَلِّي هَذِهِ السَّاعَةَ غَيْرَكُمْ.” “Sesungguhnya nikmat Allah yang diberikan kepada kalian itu, malam ini tidak ada orang yang salat di malam hari ini bersama kalian kecuali kalian saja, tidak ada.” Dan ini kesempurnaan, keistimewaan, dan kelebihan yang diberikan Allah kepada mereka.

Kita bayangkan kalau seandainya ada pembagian makanan di masjid, kebetulan yang dapat bagian itu hanyalah orang-orang yang hadir di masjid dan tidak ada yang hadir kecuali beberapa orang itu, kira-kira bagaimana bahagianya mereka? Sayangnya, orang itu hanya menimbang keuntungan dengan nominal dunia, dan Nabi صلى الله عليه وسلم paham itu. Sehingga ketika Rasul صلى الله عليه وسلم dalam Sahih Bukhari dan Muslim beliau menyebutkan tentang ancaman orang yang tidak salat berjamaah, beliau mengatakan, “Demi Allah yang jiwaku berada di tangannya, aku itu ingin sekali menyuruh orang siapkan kayu bakar, menyuruh satu orang untuk mengimami salat, kemudian aku berangkat bersama beberapa sahabat untuk membakar rumah orang-orang yang tidak salat berjamaah. Demi Allah yang jiwaku berada di tangannya, seandainya salah satu dari kaum muslimin paham dia kalau salat di masjid akan dapat daging—zaman dulu susah sekali orang makan—sehingga kata Nabi صلى الله عليه وسلم, seandainya di masjid itu ada pembagian daging, tulang kemudian banyak dagingnya dibagi di situ atau ada kukunya kambing, bagian kaki itu ada beberapa dagingnya di situ, sedikit sekali dia hanya cuma dapat itu saja tetapi dia tahu bahwa itu ada makanan yang susah didapat waktu itu, kata Nabi صلى الله عليه وسلم, mereka akan berduyun-duyun salat Isya kalau seandainya mereka tahu setelah itu ada makan bersama.”

Ini wajar, naluri orang yang menghitung enaknya itu dari nominal manfaat duniawi. Kita tahu seandainya ada sebuah pengajian, anggota pengajian yang rajin dapat sarung, senang, bahagia sekali. Ketika ada pembagian apalagi yang lebih dari itu, orang akan berduyun-duyun sekali. Banyak kita lihat seperti itu, menunjukkan memang penilaian orang untuk mendapatkan keenakan dalam balasan pengajian atau hadir ke masjid itu masih sering terwarnai itu. Nabi صلى الله عليه وسلم sampai memberikan itu, tetapi beliau ingin agar para sahabat dan juga umatnya tidak terus terbelenggu dengan hanya sekedar urusan dunia saja. Maka Nabi صلى الله عليه وسلم mengiming-imingi para sahabat, “Ketika para sahabat yang lain sudah pada tidur, kalian masih menunggu salat.” Kita bayangkan menunggu salat sampai malam. Dalam hadis yang sahih dikatakan, “Sesungguhnya seorang di antara kalian selama masih menunggu salat fardu setelahnya, dia dihitung seperti dalam keadaan salat. Menunggu magrib sampai isya, dia seolah-olah sedang salat terus pahalanya.”

Baik, dalam hadis yang lain, hadis yang sama ini dalam riwayat Anas bin Malik رضي الله عنه, Nabi صلى الله عليه وسلم menyatakan, “Sungguh, orang-orang semuanya sudah salat Isya tadi kemudian mereka tidur, dan sungguh kalian ini masih dihitung salat selama kalian menunggu salat,” apalagi sampai pertengahan malam. Pertengahan malam itu dihitung dari awalnya sejak terbenam matahari sampai terbit fajar besok. Nah, ini satu malam, dihitung setengahnya berarti ada kisaran kalau di jam kita ini kisaran jam 10.30. Dalam hadis Aisyah رضي الله عنها, Nabi صلى الله عليه وسلم kemudian mengatakan, “إِنَّهَا لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي.” “Sesungguhnya inilah waktu yang ideal kalau saja aku tidak khawatir akan memberatkan umatku.” Berarti mana yang lebih istimewa, salat di awal waktu atau salat di akhir waktu? Kalau salat Isya, kita berbicara tentang salat Isya yang memang waktunya panjang. Al-Imam An-Nawawi رحمه الله beliau mengatakan bahwa waktu salat Isya yang afdal adalah diakhirkan untuk orang yang tidak keberatan. Adapun orang yang khawatir justru ketiduran, kelewatan waktunya, maka yang afdal adalah melaksanakan salat di awal waktu. Meskipun kalau dia mampu di akhir waktu afdal, jelas. Dan ini kata Imam An-Nawawi رحمه الله merupakan mazhabnya ahlul hadis, mazhabnya kebanyakan ulama karena hadis ini. Tetapi catatannya tentu mengakhirkan salat ini perlu diiringi dengan salat jamaah. Kalau ada orang mengatakan, “Saya ingin mendapatkan salat Isya di akhir waktu yang paling ideal, tapi setelah itu dia tinggalkan salat berjamaah bersama kaum muslimin,” ini salah.

Nabi صلى الله عليه وسلم melihat kalau seandainya para sahabat sudah berkumpul di masjid banyak, maka beliau segera melaksanakan. Tapi kalau melihat para sahabat kok masih agak terlambat, maka beliau tidak segera untuk memimpin salat Isya, ditunda. Nah, ini menunjukkan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم tidak menjadikan kebiasaan salat Isya terlambat, tapi kalaupun beliau terlambat, itu juga tidak mengapa.

Ini menunjukkan bahwa yang pertama salatnya ideal di waktu itu. Yang kedua, orang yang salat bersama Nabi صلى الله عليه وسلم adalah orang yang istimewa. Mereka menunggu salat, dicatat sebagai orang yang salat sampai salat bersama Nabi صلى الله عليه وسلم. Maka sampai Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan, “أَبْشِرُوا.” “Bergembiralah kalian.” Berarti kita bayangkan ini, kalau Nabi صلى الله عليه وسلم menjadikan orang yang salat bersama beliau malam itu mendapat nikmat yang tidak didapatkan oleh orang-orang yang tidak salat malam itu bersama beliau. Mereka sudah salat, karena Nabi صلى الله عليه وسلم dalam riwayat mengatakan, “Sesungguhnya kebanyakan orang sudah salat lalu mereka sekarang tidur, nah kalian belum, kalian bersama aku sekarang.” Maka ini adalah nikmat Allah yang diberikan hanya khusus untuk kalian, yang lain tidak dapat. Lalu kita bayangkan bagaimana orang yang tidak salat sama sekali, ruginya bagaimana itu? Betul-betul tidak dapat nikmat Allah sama sekali. Bersyukur kita ini, bersyukur ketika masih terpanggil ketika harus melaksanakan salat.

Pada saat kalau kita katakan mayoritas orang tidak terpanggil, coba sekali-kali kita bikin semacam penelitian, tidak perlu membahas tentang orang yang tidak muslim, orang muslim ya, yang salat dan yang tidak salat. Mungkin mereka salat di rumah. Tetapi sekarang kita lihat dengan mata kepala, ada masjid, depannya ada tempat parkir, ada tempat belanja, mana yang lebih ramai itu antara masjid dengan sana? Kalau seandainya kita katakan ini adalah mayoritas muslim, ketika azan masih banyak yang ke sana kemari, lebih ramai di jalan daripada di masjid. Kita berharap, kita punya bayangan bahwa orang Islam ini, yang menjadi sifat mayoritas, ketika azan berkumandang betul-betul tempat lain menjadi sepi karena salat semuanya, luar biasa itu. Maka kita bersyukur kepada Allah, salat itu mahal, apalagi bisa berjamaah, apalagi bisa sabar untuk menjaga kedisiplinan salat berjamaah.

Apa kata Abu Musa al-Asy’ari رضي الله عنه ketika Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan itu? “فَرَجَعْنَا وَفَرِحْنَا بِمَا سَمِعْنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم.” “Kami pulang dalam keadaan bahagia sekali dengan hadis yang kami dengar dari Nabi صلى الله عليه وسلم malam itu.” Kita bayangkan mereka tinggal daerah Quba, jauh, jalan itu dari Masjid Nabawi, tapi mereka pulang dalam keadaan bahagia sekali. Ternyata kita dapat yang tidak didapat oleh orang-orang lain. Inilah kehidupan para sahabat, nikmatnya itu. Mereka betul-betul merasakan nikmat dan bahagia sekali dengan salat bersama Nabi صلى الله عليه وسلم dan setiap mereka mendengar hadis. Semoga kita bisa meneladani mereka, memperbaiki agama kita, ibadah kita, salat kita. Dan kita ingin hati ini jangan hanya dunia saja, “untung itu kalau dapat dunia, orang rugi kalau tidak punya dunia.” Sehingga sebagian orang mengatakan, “Saya sudah punya rumah, punya mobil, pekerjaan, gaji lancar, duit banyak,” tidak salatnya atau salat secukupnya. Ya, memang betul-betul uang itu bisa membuat orang sombong, lupa.

Baik, ini hadis pertama. Kemudian hadis yang kedua juga masih sama, hadis tentang kabar gembira dari Nabi صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh Jubair Ibnu Mut’im رضي الله عنه. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “أَبْشِرُوا فَإِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ طَرَفُهُ بِيَدِ اللَّهِ وَطَرَفُهُ بِأَيْدِيكُمْ، فَتَمَسَّكُوا بِهِ فَإِنَّكُمْ لَنْ تَهْلِكُوا وَلَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا.” “Berbahagialah kalian karena sesungguhnya Al-Qur’an ini ujungnya di tangan Allah, maksudnya di langit, kemudian ujung satunya ada di tangan kalian. Maka pegangilah Al-Qur’an ini, kalian tidak akan binasa, tidak akan hancur, dan tidak akan tersesat selama kalian berpegang dengan Al-Qur’an.”

Dalam hadis ini, Nabi صلى الله عليه وسلم mengatakan, “أَبْشِرُوا، أَبْشِرُوا.” “Bergembiralah kalian, ini ada kabar gembira.” “أَلَسْتُمْ تَشْهَدُونَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ؟” “Bukankah kalian mempersaksikan bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah utusan-Nya?” Mereka mengatakan, “نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ.” “Iya, ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya Al-Qur’an ini merupakan sebab,” sabab itu artinya adalah tali Allah. “Ujungnya yang satu pada Allah, ujung yang satu pada kalian.” Artinya kalian nyambung dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Al-Munawi رحمه الله dalam فيض القدير mengatakan artinya ini adalah sebab atau tali yang akan mengantarkan kalian kepada ridha Allah, yang akan membimbing kalian kepada jalan kebenaran yang Allah kehendaki. Dan kita sering mendengar firman Allah Subhanahu wa ta’ala, “وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا.” “Berpeganglah kalian dengan tali Allah Subhanahu wa ta’ala.” Ibnu Katsir رحمه الله menukil perkataan ulama banyak, di antaranya Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه: “Al-Qur’an adalah tali Allah yang sangat kuat.”

Di sini seorang ulama yang bernama At-Thibi رحمه الله dalam syarah Misykatul Mashabih, beliau menyebutkan tentang kewajiban orang berpegang dengan Al-Qur’an. Kalau ada orang yang sombong tidak mau beramal dengan Al-Qur’an, bisa kafir dia. Barang siapa yang meninggalkan beramal satu ayat atau satu kalimat dalam Al-Qur’an, padahal dia wajib untuk mengerjakan itu, atau dia tinggalkan membaca Al-Qur’an sama sekali تَكَبُّرًا, karena sombong, dia bisa kufur. Akan tetapi, barang siapa yang tidak bisa membaca atau tidak mau beramal karena dia lemah atau karena malas, tapi dia tetap mengatakan, “Al-Qur’an ini harus dihormati, Al-Qur’an ini harus diamalkan,” cuma dia tidak mampu untuk mengerjakan karena malas dia atau karena memang dia tidak mampu, maka dia tidak berdosa, karena dia masih meyakini Al-Qur’an ini yang benar, yang agung, tetapi dia merugi, tidak dapat keistimewaan orang yang beramal dengan Al-Qur’an.

Maka dalam hadis ini disebutkan tentang kewajiban seseorang beramal dengan Al-Qur’an. Dan orang yang bisa beramal dengan Al-Qur’an maka beruntung dia, pegangan dengan tali Allah Subhanahu wa ta’ala yang bisa nyambung kepada Allah. Orang yang ingin betul-betul selamat, sukses, dan dia mulia menjadi seorang pengikut Nabi صلى الله عليه وسلم sejati, ahlussunnah wal jamaah sejati, pegang Al-Qur’an. Kalaupun hadis yang sahih disebutkan tanpa menggunakan وَسُنَّتِي, ya كِتَابَ اللَّهِ, maka orang yang berpegang dengan Al-Qur’an pasti akan berpegang dengan hadis Nabi صلى الله عليه وسلم, tidak mungkin tidak. Ahlul Qur’an, orang yang beramal dengan isinya, mau mempelajari, mau membaca, mendalami, dan intinya adalah beramal dengan isinya. Jangan hanya sombong dan bangga dengan membaca, tidak mengerti sama sekali isinya, lalu dia bangga sekali dikatakan, “Saya adalah seorang qari.” Sementara beramal dengan isinya saja nol. Hati-hati, itu dulu sekali Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah mengatakan, “Al-Qur’an diturunkan untuk diamalkan, sementara orang-orang hanya menjadikan baca saja sebagai amal, lupa bahwa ada tujuan lain, yaitu beramal dengan isinya.” Nabi صلى الله عليه وسلم pernah disebutkan oleh Aisyah رضي الله عنها, para tabi’in bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, kabarkan kepada kami bagaimana akhlak Nabi صلى الله عليه وسلم.” Kata Aisyah رضي الله عنها, “Tidakkah kalian baca Al-Qur’an? كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ.” “Akhlak Nabi صلى الله عليه وسلم adalah Al-Qur’an.” Kita bayangkan orang ketika mempelajari Islam, pelajari Al-Qur’an, maka dia bisa menjadi karakter dan pribadi yang ideal.

Hadis yang ketiga, Nabi صلى الله عليه وسلم memberikan kabar gembira bahkan memberikan kabar gembira kepada orang-orang di belakang kita. Hadis yang disebutkan oleh Abu Musa al-Asy’ari رضي الله عنه, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “أَبْشِرُوا وَبَشِّرُوا مَنْ وَرَاءَكُمْ.” “Bergembiralah dan berilah kabar gembira pula semua orang yang kalian kenal.” “أَنَّهُ مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ صَادِقًا بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ.” “Barang siapa yang mengucapkan lailahaillallah, mempersaksikan bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, shodiqan biha, jujur, serius ketika mengucapkan dan mempersaksikan itu, maka dia akan masuk surga.”

Dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan bahwa Abu Musa رضي الله عنه mengatakan, “Aku mendatangi Nabi صلى الله عليه وسلم bersama beberapa orang dari kabilahku, maka kata Nabi صلى الله عليه وسلم hadis ini.” Artinya jujur itu dia sungguh-sungguh serius mengucapkan dan siap untuk menanggung semua konsekuensinya, maka dia masuk surga. Apa yang diceritakan oleh Abu Musa al-Asy’ari? Beliau mengatakan, “Kita keluar, kita bubar dari majelis Nabi صلى الله عليه وسلم, kita ingin sampaikan kepada orang-orang tentang hadis ini. Eh, kita ketemu Umar di jalan, maka kita sampaikan hadis tadi.” Maka kata Umar رضي الله عنه, “Masa kayak begitu?” Akhirnya kita diajak balik menemui Rasul صلى الله عليه وسلم lagi. Maka Umar mengatakan, “Ya Rasulullah, antum tadi bilang begini, kalau benar begitu orang-orang akan santai sekali, ‘Yang penting saya mengucapkan lailahaillallah, pasti masuk surga,’ malas mereka beramal.” Dalam hadis ini dikatakan Nabi صلى الله عليه وسلم kemudian diam.

Dalam riwayat yang lain dalam Sahih Bukhari dan Muslim, ada seorang sahabat yang bernama Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه, naik keledai bersama Nabi صلى الله عليه وسلم. Kemudian dikatakan, “Ya Mu’adz,” kata Mu’adz, “لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ.” “Siap, ya Rasul.” Nabi صلى الله عليه وسلم sengaja menggunakan kata itu biar orang siap untuk mendengar. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyatakan, “أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟” “Kamu tahu tidak apa kira-kira hak yang harus ditunaikan oleh hamba Allah kepada Allah, dan apa kira-kira hak yang harus ditunaikan Allah kepada hamba-Nya?” Maka kata Mu’adz, “اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ.” “Allah saja yang tahu dan Rasul-Nya.” Maka kata Nabi صلى الله عليه وسلم, hak yang harus ditunaikan oleh hamba-Nya adalah mereka mentauhidkan, mengesakan, memurnikan semua bentuk ibadah hanya kepada Allah, tidak disekutukan, tidak disyirikkan. Ini hak Allah yang kita harus dan wajib menunaikan. Kemudian hak yang dimiliki hamba-Nya yang akan diberikan Allah kepada mereka, Allah tidak akan mengingkari, Allah akan pasti kasih. Allah tidak bakal mengkekalkan, menyiksa orang yang tidak menyekutukan Allah Subhanahu wa ta’ala. Mu’adz mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah aku beritahu saja orang-orang ini, enak sekali ini?” Kata Nabi صلى الله عليه وسلم, “لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا.” “Jangan kamu beritahu mereka karena mereka akan berpangku tangan, malas-malasan beribadah.”

Ini menunjukkan bahwa tauhid ini merupakan salah satu pesan dalam syariat yang sangat mahal. Kalau kita bisa kerjakan, aman. Tetapi yang sederhana ini harus dipahami maknanya, biar yang sederhana ini tidak gagal. Karena banyak orang gagal paham, gagal bertauhid ketika mereka campur adukkan tauhidnya dengan kesyirikan. Apa sebabnya? Karena tidak mengerti. Orang yang tidak mengerti, tidak mau bertanya, dan tidak mau mengerti, ini yang repot. Maka dulu sahabat Hudzaifah ibn Yaman رضي الله عنه mengatakan para sahabat banyak yang bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم tentang kebaikan, “Kalau aku sebaliknya, aku bertanya tentang kejelekan, aku khawatir yang jelek ini akan kena aku.” Orang Arab mengatakan, “Aku tahu kejelekan bukan untuk dikerjakan tetapi untuk dihindari, karena banyak orang yang tidak mengerti sebuah kejelekan, dilakukan.” Nah, sekarang orang tidak belajar kesyirikan itu apa saja, maka dia melakukan kesyirikan sampai tauhidnya gagal.

Dulu orang Arab Jahiliyah mereka paham konsekuensi لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, mengatakan ini harus menghilangkan semua kebiasaan, tradisi, kebudayaan mereka yang bertentangan dengan tauhid. Lalu mereka mengatakan, “أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا؟” “Apakah Tuhan yang banyak, sudah terlanjur kita pasang di sekitar Ka’bah, kita tinggal hanya jadi satu saja ibadah kita?” Mereka tidak mau mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ karena mereka tahu konsekuensinya, mereka tidak boleh lagi untuk beribadah kepada selain Allah. Nah, kita ini bersyukur kepada Allah, mudah untuk mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, dilahirkan dalam keadaan muslim, maka tinggal kita mendalami jangan sampai kita melaksanakan kesalahan yang bisa membatalkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ itu.

Baik, ini merupakan kabar gembira dari Nabi صلى الله عليه وسلم. Orang yang mentauhidkan Allah, maka dia akan mendapatkan balasan dari Allah Subhanahu wa ta’ala dimasukkan ke surga. Dan hadisnya banyak, seperti “مَنْ كَانَ آخِرَ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ.” “Siapa yang bisa mengucapkan lailahaillallah di akhir ucapannya, masuk surga dia.” Mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ tidak gampang, dan apalagi ketika seorang sakaratul maut, yang akan dominan untuk menuntun orang itu bukan orang-orang di sekitar tetapi amalnya. Setelah orang meninggal, orang sangat berharap ada syafaat karena dia tidak bisa beramal sendiri. Syafaat dari siapa? Dari banyak orang yang mendoakan dia, anak-anak yang saleh, kemudian orang-orang yang pernah dia kasih bantuan lalu ingat dan dia doakan, dan seterusnya, termasuk syafaat Rasul صلى الله عليه وسلم. Apa syaratnya? Mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, tauhid. Dalam Sahih Bukhari dan Muslim, Abu Hurairah رضي الله عنه bertanya, “Ya Rasul, siapa orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu pada hari kiamat?” Apa kata Nabi صلى الله عليه وسلم? “Aku berharap tidak ada yang bertanya kepadaku tentang pembahasan ini satu orang pun sebelum kamu, karena aku betul-betul melihat semangatmu dalam mempelajari hadis. Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku nanti pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ betul-betul murni dari hatinya, ikhlas.” Inilah orang yang jujur, gigih, dan serius mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, dipelajari apa pantangan-pantangannya, dia harus tahu artinya, dia siap untuk tunduk kepada syariatnya, dia harus siap untuk hormat, takzim, mengagungkan syariat Allah.

Baik, kita tambahkan dua hadis secara singkat insyaallah. Hadis yang ke-36 merupakan kabar gembira juga dari Nabi صلى الله عليه وسلم. Dalam hadis Abdullah bin Amr, Nabi صلى الله عليه وسلم menyatakan, “أَبْشِرُوا، هَذَا رَبُّكُمْ قَدْ فَتَحَ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ.” “Bergembiralah kalian, ini Rabb kalian telah membuka pintu dari sekian pintu-pintu langit, bahkan membanggakan kalian di depan para malaikat-Nya.” Kenapa? Karena ada orang mau ibadah. Allah mengatakan kepada malaikat-malaikat-Nya membanggakan hamba-hamba-Nya, “Lihat kepada hamba-hamba-Ku di sana, mereka sudah menyelesaikan satu kewajiban yaitu salat fardu dan mereka masih menunggu salat fardu lainnya.” سبحان الله, ini hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah dan sanadnya sahih. Ini menunjukkan keistimewaan orang yang tertarik untuk melaksanakan salat fardu dan masih menunggu salat fardu yang lain. Tadi kita sebutkan orang ketika menunggu salat fardu di masjid tidak keluar, dia masih dicatat sebagai orang yang salat. Kalau seandainya ada orang keluar ke rumahnya dulu, tapi dia punya niatan, “Nanti salat Isya saya balik, saya mau salat lagi,” apalagi kalau seandainya dia sampai menunggu-nunggu, “Saya sudah enak sekali merasakan nikmatnya salat, saya tunggu kapan azan lagi.”

Dan ada pula hadis yang sering kita dengar tentang orang yang akan mendapatkan tempat khusus pada hari kiamat, dikasih naungan Allah. Di antaranya tujuh golongan, satunya dari mereka وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ, orang yang selalu hatinya tertambat di masjid. Para ulama mengartikan itu bukan orang yang marbot masjid, pengurus DKM masjid, tapi orang yang selalu kangen dan rindu hatinya ingin melaksanakan ibadah kepada Allah, biarpun dia keluar dari masjid, dia ingin kembali untuk melaksanakan ibadah kepada Allah lagi.

Kemudian hadis terakhir masih kabar gembira, hadis yang sahih diriwayatkan oleh Ummul ‘Ala’. Nabi صلى الله عليه وسلم menyatakan, “أَبْشِرِي يَا أُمَّ الْعَلَاءِ.” “Bergembiralah wahai Ummul ‘Ala’.” Ummul ‘Ala’ ini adalah bibi dari sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم yang bernama Hakim ibnu Hizam رضي الله عنهم أجمعين. Beliau pernah sakit, dalam riwayat lain dikatakan sakitnya demam sampai seperti orang yang tidak sadar. Nah, maka dalam sebuah riwayat sampai dikatakan Ummul ‘Ala’ ini sampai melaknat karena ada sebuah nama untuk penyakit itu, maka ketika Nabi صلى الله عليه وسلم datang, Ummul ‘Ala’ ini melaknat, tapi Nabi mengatakan, “Jangan kamu laknat dia karena itu adalah sebuah bentuk kesabaran.” Nah, ini kisahnya Ummul ‘Ala’ ini lagi sakit demam sekali, Nabi صلى الله عليه وسلم datang lalu menyatakan, “أَبْشِرِي يَا أُمَّ الْعَلَاءِ، فَإِنَّ مَرَضَ الْمُسْلِمِ يُذْهِبُ اللَّهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْهِبُ النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ.” “Selamat wahai Ummul ‘Ala’, sakitnya seorang muslim bisa menggugurkan kesalahan dan dosa-dosanya sebagaimana api bisa menghilangkan atau bisa membersihkan kotoran yang ada pada besi, karat-karatnya itu hilang.”

Demikianlah ketika seorang diuji oleh Allah, ini adalah ujian, dan Allah عز وجل membersihkan kesalahan atau dosa seseorang tergantung macam-macamnya. Ada orang yang beribadah kepada Allah dan ibadah ini akan menjadi penghapus dosa. Allah menyatakan, “إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ.” “Kebaikan-kebaikan ini dapat menghapuskan keburukan-keburukan.” Tetapi demikian pula ketika seorang diuji oleh Allah, dikasih sakit, bingung, sedih, galau. Para ulama mengatakan sedih itu kepikiran dan berat rasa di hati karena ada sebuah kasus yang lewat, galau karena kasus yang masih ada di depan belum terjadi tapi dia sudah memikirkan dari sekarang. Dan dua-duanya dapat menggugurkan dosa. Dalam Sahih Muslim disebutkan, “Tidaklah seorang muslim diuji oleh Allah dengan rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, rasa galau, atau disakiti orang, sampai dia tertusuk duri sekalipun melainkan Allah subhanahu wa ta’ala akan menghapuskan dosa seseorang.” Sehingga ujian yang menimpa seseorang ini merupakan cara Allah untuk membersihkan. Tapi tidak boleh seorang merasa, “Wah, kayaknya dosa saya banyak, mending saya diuji terus oleh Allah biar saya semakin bersih,” tidak boleh, karena orang tidak mengerti ketika diuji apakah dia sabar atau tidak. Kalau seandainya dia meratap, kemudian dia menolak, bahkan dia menjelekkan Allah, dia tidak bersyukur, nah ini bahaya. Maka tidak boleh ada orang minta kepada Allah ujian, tetapi minta kepada Allah agar diselamatkan, minta agar disehatkan.

Suatu saat dalam hadis Anas, Nabi صلى الله عليه وسلم mengunjungi seseorang, ternyata orang itu sakit parah sekali dan tidak sembuh-sembuh. Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bertanya, “Jangan-jangan kamu pernah berdoa sesuatu.” “Iya, ya Rasul, aku dulu pernah mengatakan, ‘Ya Allah, apa yang akan Engkau jadikan hukumanku di akhirat, segerakan sekarang di dunia.'” Maka kata Nabi صلى الله عليه وسلم, “Tidak bakal kamu kuat kayak begitu.” “وَلَكِنْ قُلِ: اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.” Kata Nabi صلى الله عليه وسلم, “Jangan kamu doa seperti itu, kamu tidak bakal mampu. Kamu berdoa saja, ‘Ya Allah, berikan aku kebaikan di dunia, berikan aku kebaikan di akhirat dan selamatkan aku dari api neraka.'” Ini menunjukkan bahwa orang ketika punya perasaan, punya niat baik, tidak cukup, sampai doa saja kadang salah dia. Maka ibadah ini tidak hanya sekedar bermodal perasaan atau semangat, tetapi kita perlu mencari arahan Nabi صلى الله عليه وسلم agar doa kita aman, ibadah kita lurus, dan semoga kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang kita baca pada malam hari ini. والله أعلم بالصواب. صلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. والحمد لله رب العالمين.

“Apa yang dapat membatalkan tauhid atau keimanan?”

“Baik. Yang bisa membatalkan keimanan adalah syirik. Allah menyatakan, “إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ.” ‘Allah عز وجل tidak akan mengampuni orang-orang yang melakukan kesyirikan, tapi Allah akan mengampuni dosa selain kesyirikan sebesar apapun.’ Maka ahlussunnah wal jamaah mengatakan bahwa pelaku dosa besar selama dia tidak menghalalkan, tapi dia melakukan dosa besar itu karena hawa nafsunya, maka dia masih ada harapan diampuni oleh Allah عز وجل. Kemudian dalam Al-Qur’an juga dikatakan, “وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ.” ‘Telah diwahyukan kepada engkau Muhammad dan juga para nabi sebelum kamu, apabila engkau melakukan kesyirikan maka amal-amalmu semua akan gugur.’ Artinya kesyirikan ini yang akan membuat orang gagal dari keimanannya.

Sehingga ketika dia sudah mengikrarkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, kata Nabi صلى الله عليه وسلم, maka kalau ada orang sudah mengikrarkan dua kalimat syahadat, maka darah mereka telah terjaga, tidak boleh diganggu, harus dihormati karena dia adalah orang beriman, dan harta mereka juga wajib dijaga kecuali بِحَقِّ الْإِسْلَامِ, kalau mereka melanggar ketentuan Islam. Apa ketentuan Islam? Semua yang sudah digariskan dan menjadi syariat. Kalau seandainya ada orang tahu-tahu murtad, maka dia telah melanggar لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ. Kalau ada orang membunuh, padahal orang ketika mengikrarkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, darahnya harus dijaga di dalam syariat Islam, akan tetapi dia membunuh orang, maka dalam syariat Islam dia boleh untuk diqisas, dibunuh, meskipun pelaksana dan eksekutornya adalah pemerintah yang berwenang. Artinya orang wajib untuk mengikuti apa yang sudah dia ikrarkan. Dulu para sahabat ketika mereka mengikrarkan dua kalimat syahadat, mereka siap untuk membela Rasul صلى الله عليه وسلم dan syariatnya. Nah, demikian pula kita sebagai kaum muslimin, siap kita untuk melaksanakan Islam, mempelajari agama, tidak boleh melakukan tradisi-tradisi jahiliyah. Kemudian yang bisa menjerumuskan orang ke dalam pantangan-pantangan ibadah: berdoa kepada selain Allah, nazar untuk selain Allah, minta agar dihilangkan penyakit kepada selain Allah. Adapun orang berusaha datang ke dokter, minum obat, dan menjaga agar kesehatan ini bisa dilestarikan, maka ini bukan merupakan kesyirikan, tapi ini usaha untuk menyempurnakan tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala. والله أعلم بالصواب.

“Bagaimana dengan orang yang ketika hidup berbuat riya, baik sengaja ataupun tidak? Apakah termasuk golongan yang akan disiksa? Dan apakah orang-orang yang telah meninggal saat ini sudah berada di surga atau di neraka?”

“Baik. Yang pertama membicarakan tentang surga atau neraka, orang ini mendapat husnul khatimah atau su’ul khatimah, ini adalah perkara gaib, hanya Allah yang tahu, dan kita tidak ingin membicarakan sesuatu kecuali yang sudah ada dalilnya dengan tegas. Kalau tidak, maka kita serahkan kepada Allah. Keluarga kita syahid atau tidak, husnul khatimah atau tidak, kita tidak bisa pastikan, tetapi kita berharap. Dan ketika ada orang yang melakukan maksiat, kita juga tidak bisa pastikan apakah dia su’ul khatimah. Sehingga pembicaraan apakah orang itu sudah masuk surga atau belum, nah ini merupakan hak prerogatif Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena ada beberapa dalil yang menunjukkan beberapa orang sudah masuk surga, artinya dia sudah dirasakan oleh Allah, diberikan kemuliaan seperti orang yang mati syahid misalkan, sampai arwah mereka bergelantungan di kebun-kebun surga. Seperti ayahnya Jabir, Abdullah bin Amr bin Haram, dia sudah merasakan enaknya sekali yang disebutkan dalam Al-Qur’an, “وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ.” ‘Jangan kamu sangka orang yang dibunuh di jalan Allah itu mereka mati, bukan, tapi mereka hidup di sisi Allah mendapatkan kenikmatan-kenikmatan.’ Dia syahid, dia minta kepada Allah, ‘Aku ingin dikembalikan ke dunia biar aku merasakan nikmatnya syahid itu.’ ‘Tidak boleh,’ kata Allah, ‘sudah apa yang sudah Aku tentukan, orang sudah mati, mati sudah.’ Tetapi akhirnya ia mengatakan, ‘Aku ingin disampaikan kepada orang-orang yang masih hidup bahwa aku enak sekali.’ Maka diturunkan firman Allah itu. Nah, ini yang seperti tegas bahwa sang sahabat mati syahid kemudian mendapatkan kenikmatan di alam barzakh.

Kemudian orang yang riya, para ulama mengatakan ini termasuk bagian syirik kecil. Perbedaan syirik kecil dan syirik besar: syirik kecil kalau dilakukan maka dia akan menghapus pahala amal yang tercampur dengan riya. Syirik besar menghapus semua amal yang dia kerjakan. Pokoknya dia melakukan kesyirikan ini repot, bisa menghancurkan semua imannya. Sementara orang yang melakukan amal saleh seperti sedekah lalu dia riya, maka yang rusak adalah sedekahnya, salatnya aman. Riya juga bertingkat-tingkat. Ada orang yang dia dari awal memang betul-betul riya, nah ini hancur semua amalnya. Tapi ada orang yang dia berusaha untuk mengalahkan riya itu, dia lawan dan dia berusaha untuk tetap beramal. Bukan berarti, ‘Oh saya takut riya,’ akhirnya tidak mau beramal, tidak. Maka insyaallah dia mendapatkan pahala. Kemudian kalau seandainya amal yang dia kerjakan ini dipengaruhi oleh riya dan dibiarkan, nah para ulama mengatakan ini akan bisa merusak amal itu. Tapi kalau seandainya dia memulai ibadahnya tanpa riya, di tengah-tengah dia mulai terjangkit perasaan riya, dia mengerti itu tapi dia tidak perangi, dia tidak lawan, biarkan, dinikmati saja, nah ini apakah akan rusak semua amalnya atau tidak? Ini sebagian ulama memberikan perincian. Kalau amal yang dikerjakan itu adalah satu bagian yang tidak terpisah-pisah, maka amalnya bisa rusak barengan, contohnya salat. Rakaat pertama dan kedua aman, rakaat ketiga dan keempat dia merasa nyaman dilihat orang, akhirnya dia riya, maka salat dari rakaat pertama ikut rusak. Berbeda dengan kalau seandainya amal yang dikerjakan ini terpisah-pisah, contohnya seperti sedekah. Sedekah subuh tidak ada yang lihat, ikhlas dia. Sedekah zuhur tidak ada yang lihat, ikhlas dia. Sedekah asar dilihat orang, maka dia bangga dan senang sekali dan dia menikmati bahwa dia dilihat orang itu senang dia, nah yang rusak itu yang asar saja, subuh sama zuhur aman. Nah, ini sebagian ulama memberikan rincian seperti itu. Tetapi secara detail apakah orang yang pernah kena riya pasti akan hancur semua amalnya, kita tidak bisa pastikan, akan tetapi kita khawatir riya itu akan membuat kita rusak, amal kita akan terganggu sehingga kita berusaha untuk memperbaiki itu semua. والله أعلم بالصواب.

Sebelum kita akhiri perjumpaan, kami meminta kepada Ustaz menyampaikan ikhtitam.

“Baik. Al-Imam Asy-Syafi’i رحمه الله juga mengatakan, ‘Ahlul hadis pada setiap saat, setiap generasi, bagaikan para sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم di generasi itu.’ Artinya beliau juga mengatakan dalam kesempatan berbeda, ‘Kalau aku melihat ada orang yang belajar hadis, ahli hadis, ulama hadis, maka aku seperti melihat seorang sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم yang hidup di zaman ini.’ Maka ini merupakan sebuah rekomendasi atau kedudukan yang dinilai oleh para ulama untuk orang yang siap untuk berjuang mempelajari peninggalan Nabi صلى الله عليه وسلم. Kita ingin mendapatkan bagian dan jatah dari kehormatan itu. Semoga kita dibimbing Allah, diberikan kemudahan untuk selalu mengikat semua amal ibadah kita dengan hadis Nabi صلى الله عليه وسلم. والله أعلم بالصواب. سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك. والحمد لله رب العالمين.”


1

#Prolog

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ’anhu. Dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu secara langsung dengan melenyapkan ilmu itu dari manusia. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mencabut nyawa para ulama. Sehingga apabila Allah tidak menyisakan orang berilmu lagi, orang-orang pun mengangkat para pemimpin yang bodoh. Mereka pun ditanya dan berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.’” (HR. Bukhari)

Sumber: https://muslim.or.id/93486-malapetaka-akhir-zaman.html
Copyright © 2025 muslim.or.id