As-Sirah An-Nabawiyah Ash-Shahihah #6


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ.

Alhamdulillah, segala puji hanyalah untuk Allahu Rabbul ‘Alamin, Rabb semesta alam. Dialah yang memiliki nama-nama yang husna dan sifat-sifat yang mulia, dan dari-Nya lah semata seluruh nikmat dan juga karunia. Selawat dan salam semoga senantiasa Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan kepada Nabi kita Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, keluarga beliau, para sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai akhir zaman.

Para jemaah sekalian yang dimuliakan oleh Allah. Masih kita bersama kitab السِّيرَةُ النَّبَوِيَّةُ الصَّحِيحَةُ yang ditulis oleh Dr. Akram Dhiya Al-Umari. Kita masih pada pembahasan bagaimana keadaan kota Makkah sebelum diutusnya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menjadi seorang nabi dan juga rasul.


Penyimpangan dalam Ibadah dan Adat

Penulis menyebutkan bagaimana orang-orang jahiliah telah mengubah syariat Allah عَزَّ وَجَلَّ, termasuk di antaranya adalah masalah haji. Ka’bah yang sebelumnya bersih dari berhala, mereka penuhi dengan berhala dan mereka melakukan tawaf telanjang di sekitarnya jika tidak memiliki pakaian dari kaum Quraisy.

Di antara kebiasaan mereka saat itu adalah:

  • وَكَانُوا لَا يَسْلَؤُونَ وَلَا يَأْقِطُونَ وَلَا يَرْتَبِطُونَ عَنْزًا وَلَا بَقَرَةً (Mereka tidak menguliti daging, tidak membuat susu kering, dan tidak menambatkan kambing betina serta sapi betina).
  • وَلَا يَغْزِلُونَ صُوفًا وَلَا وَبَرًا (Mereka tidak memintal wol dan juga tidak memintal serat).
  • وَلَا يَدْخُلُونَ بَيْتًا مِنْ شَعَرٍ وَلَا مَدَرٍ (Dan mereka tidak memasuki rumah yang terbuat dari bulu—seperti kemah—atau rumah yang terbuat dari tanah).
  • وَإِنَّمَا يَكْتَنُّونَ بِالْقِبَابِ الْحُمْرِ فِي الْأَشْهُرِ الْحُرُمِ (Dan yang mereka lakukan adalah membuat kubah-kubah berwarna merah dan tinggal di sana selama bulan-bulan haram: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab).

Semua ini adalah keyakinan dan syariat baru yang mereka buat-buat sendiri, tidak pernah ada dalam ajaran Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam. Sayangnya, hal ini menjadi sunnah bagi kaum musyrikin. Mereka mengharamkan sesuatu yang mubah, sama seperti sebagian kepercayaan mistis hari ini yang melarang hal-hal tertentu tanpa dalil, seperti larangan memakai baju warna tertentu di pantai.

Orang-orang musyrikin Quraisy juga mewajibkan orang Arab selain mereka untuk meninggalkan bekal dan pakaian yang dibawa dari “tanah halal” (luar Makkah) ketika mereka masuk ke “tanah haram” (Makkah). Pakaian tersebut harus diganti dengan pakaian dari tanah haram, baik dengan cara membeli, meminjam, atau diberi. فَإِنْ وَجَدُوا ذَلِكَ فَفِيهَا، وَإِلَّا طَافُوا بِالْبَيْتِ عُرَاةً (Jika mereka mendapatkan pakaian pengganti, maka mereka memakainya, jika tidak, mereka harus tawaf dalam keadaan telanjang).

Aturan ini juga berlaku bagi para wanita. Namun, dibedakan bagi mereka, di mana mereka tawaf menggunakan pakaian khusus فِي دِرْعٍ مُفَرَّجِ الْقَوَائِمِ وَالْمَآخِرِ (baju tanpa jahitan yang bagian kaki dan belakangnya terbuka). وَهَكَذَا ابْتَدَعُوا وَشَرَعُوا مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ (Demikianlah mereka membuat bid’ah dan mensyariatkan sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah). Padahal, hanya Allah yang berhak membuat syariat, bahkan para nabi hanya bertugas menyampaikan.

Ironisnya, mereka mengklaim bahwa mereka berada di atas syariat Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam, padahal praktik mereka sudah sangat menyimpang.


Penyimpangan dalam Akidah

Keyakinan mereka tentang Allah juga penuh dengan kekurangan dan penyimpangan. Mereka menyimpang dalam nama dan sifat Allah.

  1. Mengingkari sebagian nama dan sifat Allah, seperti mengingkari nama Ar-Rahman.
  2. Menamakan Allah dengan nama-nama yang tidak ada dalilnya, padahal nama-nama Allah bersifat tauqifiyah (berdasarkan dalil).
  3. Menisbahkan kekurangan kepada Allah, seperti menisbahkan anak dan kebutuhan. فَزَعَمُوا أَنَّ الْمَلَائِكَةَ بَنَاتُ اللهِ (Mereka meyakini bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah). وَجَعَلُوا الْجِنَّ شُرَكَاءَ لَهُ سُبْحَانَهُ (Dan mereka meyakini bahwa jin adalah sekutu bagi Allah). Padahal mereka sendiri membenci anak perempuan.
  4. Mengingkari takdir dan berhujah dengan takdir untuk membenarkan kesyirikan mereka. Mereka berkata: لَوْ شَاءَ اللهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ (“Seandainya Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak akan berbuat syirik, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun”).
  5. Mengingkari hari kebangkitan. وَأَقْسَمُوا بِاللهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَا يَبْعَثُ اللهُ مَنْ يَمُوتُ (Dan mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa Allah tidak akan membangkitkan orang yang telah mati). Oleh karena itu, ibadah mereka kepada berhala bukan untuk tujuan akhirat, melainkan untuk mewujudkan keinginan duniawi, seperti menambah harta atau menolak mudarat.
  6. Menyandarkan kematian kepada waktu (Dahr), bukan kepada Allah. Mereka mengatakan: وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ (“Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain waktu'”).

Adapun dalam ibadah, mereka mengurangi dan menambahinya sesuai hawa nafsu.

  • Mengurangi haji dengan tidak wukuf di Arafah. Kaum Quraisy dan sekutunya hanya wukuf di Muzdalifah, sementara bangsa Arab lainnya di Arafah. Islam kemudian datang dan memerintahkan semua jamaah haji untuk wukuf di Arafah.
  • Menambah-nambahi ibadah dengan bersiul dan bertepuk tangan di Masjidil Haram saat tawaf. Allah berfirman: وَمَا كَانَتْ صَلَاتُهُمْ عِنْدَ الْبَيْتِ إِلَّا مُكَاءً وَتَصْدِيَةً (“Salat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepukan tangan”).
  • Menyembelih untuk berhala di atas batu-batu sesembahan (nusub).
  • Bersumpah dengan selain Allah, seperti اللَّاتِ وَالْعُزَّى (Latta dan Uzza).
  • Menyandarkan turunnya hujan kepada bintang (اسْتِسْقَاؤُهُمْ بِالْأَنْوَاءِ).
  • Berlindung kepada jin ketika merasa takut. وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا (Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rasa takut).

Mereka juga memiliki akhlak dan adat yang buruk, yang kemudian dihancurkan oleh Islam, seperti:

  • Bangga dengan harta dan kedudukan (الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ).
  • Mencela nasab orang lain (الطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ).
  • Meratapi mayit (النِّيَاحَةُ).
  • Meremehkan orang miskin dan lemah.
  • Percaya pada ramalan nasib dengan burung dan garis di tanah, serta perdukunan.

Sesi Tanya Jawab

Pertanyaan: Apa saja keyakinan jahiliah terkait akidah tentang Allah?

Jawaban: Mereka menganggap Allah punya anak (malaikat adalah anak perempuan Allah) dan Allah memiliki kebutuhan (hajah) atau butuh kepada sekutu. Ini dibantah dalam Surat Al-Ikhlas: قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ (Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu’).

Pertanyaan: Bagaimana keyakinan mereka tentang takdir?

Jawaban: Mereka mengingkari takdir dan menjadikannya sebagai alasan untuk berbuat syirik. Mereka mengatakan, “Seandainya Allah menghendaki, kami tidak akan berbuat syirik.”

Pertanyaan: Apa tujuan mereka beribadah kepada berhala?

Jawaban: Tujuan mereka murni duniawi. Mereka beribadah untuk meminta kelancaran rezeki, penglarisan, jodoh, dan kemenangan, bukan karena mengharap balasan di akhirat, sebab mereka tidak meyakini adanya hari kebangkitan.

Pertanyaan: Ketika mereka mengatakan هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا (“mereka ini adalah pemberi syafaat bagi kami”), apakah yang dimaksud syafaat akhirat?

Jawaban: Bukan. Yang mereka maksud adalah syafaat di dunia. Karena mereka tidak percaya akhirat, mereka meminta berhala-berhala itu menjadi perantara untuk memintakan hajat duniawi mereka kepada Allah, seperti rezeki dan kemudahan urusan.


Demikian, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufik, hidayah, dan istikamah untuk kita semuanya.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.


1

#Prolog

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ’anhu. Dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu secara langsung dengan melenyapkan ilmu itu dari manusia. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mencabut nyawa para ulama. Sehingga apabila Allah tidak menyisakan orang berilmu lagi, orang-orang pun mengangkat para pemimpin yang bodoh. Mereka pun ditanya dan berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.’” (HR. Bukhari)

Sumber: https://muslim.or.id/93486-malapetaka-akhir-zaman.html
Copyright © 2025 muslim.or.id