DaurohDauroh Ushul As-Sunnah

Ringkasan Daurah Syar’iyyah Ke 5 – Sesi ke 3

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil alamin, wasalatu wassalamu ala asyrafil ambiya’i wal mursalin, nabiyina Muhammadin wa ala alihi wasohbihi ajmain, waman tabi’ahum biihsanin ila yaumiddin. Amma ba’du.

Allahumma alimna ma yanfa’una wanfa’na bima ‘allamtana wazidna ilma. Allahumma faqqihna fiddin wa alimna ta’wil. Allahumma inna nas’alukal huda wat tuqa wal ‘afafa wal ghina.

Amma ba’du, Ikhwatal iman, kaum muslimin dan muslimat, para pemirsa dan juga para pendengar di mana saja antum berada. Semoga senantiasa dalam lindungan Allah Azza wa Jalla, bertambah keberkahan di bulan Syakban ini. Kemudian semoga Allah Azza wa Jalla memuliakan kita semua untuk bersua dengan bulan Ramadan. Allahumma amin.

Ikhwatal iman, kaum muslimin dan muslimat, para pemirsa, para pendengar yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pada kesempatan yang mulia ini, sebagaimana yang disampaikan tadi bahwa kita akan memberikan atau menyampaikan ringkasan pembahasan tentang akidah Ahli Sunah Wal Jamaah yang disadur dari kitab Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu ta’ala. Materi ini disampaikan oleh Syekh Dr. Muhammad Hisyam At-Thahiri pada sesi yang ketiga, tentang Al-Qur’an, tentang juga ar-rukyah (melihat Allah Azza wa Jalla) pada hari kiamat, begitu juga tentang Al-Mizan dan juga Al-Haudh (telaga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Dan tentunya kita mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada panitia yang telah menyusun acara Daurah Syariah yang sangat bermanfaat untuk para asatizah dan tentunya kita semua adalah thulabul ilmi (para penuntut ilmu). Oleh karena itu, sungguh sangat banyak manfaat dan faedah ilmiah yang kita dapatkan dalam kajian tentang akidah ini.

Satu hal yang menjadi catatan saya pribadi, bahwa kitab ini dulu juga pernah saya baca sendiri dan juga mendengar daurah sebagian para ulama. Tapi Subhanallah, ternyata begitu ilmu terus dikaji, bermuzakarah lagi, berbagai hal ilmu yang sungguh faedah ilmiah yang selalu kita dapatkan dalam majelis ilmu. Siapapun kita, apapun level keilmuan kita—meskipun sudah mungkin begitu panjang perjalanan dalam thalibul ilmi—tapi yang namanya ilmu selalu memberikan kebaikan dan faedah. Ada sesuatu yang terus baru, menambah keimanan kita, keilmuan kita. Jadi daurah sungguh sangat bermanfaat sekali. Nah, kita juga ingin berbagi manfaat bagi kaum muslimin, para pemirsa, para pendengar di mana saja berada.

Pembahasan pada sesi yang ketiga—majelis asal beliau—menjelaskan atau kita membaca tentang akidah Ahli Sunah yang berkaitan dengan Al-Qur’an. Kesimpulan yang disampaikan oleh Fadilatus Syekh Muhammad Hisyam Thahiri bahwa Al-Qur’anul Karim, sebagaimana perkataan Imam Ahmad bin Hambal: “Al-Qur’an kalamullah wa laisa bi makhluq.”

Jadi akidah Ahli Sunah Wal Jamaah tentang Al-Qur’an adalah bahwa Al-Qur’an itu Kalamullah. Allah yang berbicara langsung dengan Al-Qur’anul Karim. Al-Qur’an tersebut, atau Al-Qur’an yang kita baca yang 30 juz tersebut, didengar oleh Jibril. Didengar langsung oleh Jibril dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian Jibril menyampaikan apa yang didengar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Qur’an adalah salah satu dari sifat Allah Azza wa Jalla. Karena Al-Qur’an kalamuh, Al-Qur’an kalamullah, dan kalamullah Azza wa Jalla adalah salah satu dari sifat Allah Azza wa Jalla. Karena kalam (perkataan/berbicara) merupakan sifat yang sempurna. Manusia mengetahui bahwa orang yang berbicara tentu lebih sempurna dari orang yang bisu, tidak bisa berbicara. Nah, jika hal ini adalah sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia, maka Allah Azza wa Jalla Sang Pencipta tentu lebih utama memiliki sifat kesempurnaan dan seluruh sifat-sifat yang lain yang tentunya sifat kemuliaan dan kesempurnaan. Karena kalamullah adalah sifat Allah, maka tentunya Al-Qur’an bukanlah makhluk.

Pembahasan tentang Al-Qur’anul Karim, tentang kalamullah, dan juga tentang sifat istiwa, ini pembahasan akidah yang banyak terdapat di dalamnya perselisihan. Tentunya perselisihan tersebut muncul dari ahlul bid’ah wal ahwa. Adapun Ahli Sunah Wal Jamaah, akidah mereka dalam hal ini sangat jelas sekali sesuai dengan Al-Qur’an dan hadis: bahwa Al-Qur’an kalamullah dan itu bukan makhluk.

Adapun sekte-sekte yang lain, berbagai pendapat yang kontradiksi, berbagai pendapat yang mengandung kebatilan, kesesatan, dan penyimpangan yang bertentangan dengan apa yang dijelaskan oleh Allah dan yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam Al-Qur’an:

“Wa in ahadun minal musyrikina istajaraka fa ajirhu hatta yasma’a kalamallah.”

(Bila salah seorang dari orang musyrikin memohon perlindungan kepada kalian, maka lindungi dia sampai dia itu mendengar kalamullah).

Yaitu Al-Qur’an yang diturunkan pada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Al-Qur’an adalah kalamullah. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara, dan pembicaraan itu merupakan sifat yang ada pada Zat Allah Subhanahu wa Ta’ala, pada diri Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tidak satupun dari sifat yang ada pada diri Allah itu makhluk. Karena Allah adalah Khaliq (Sang Pencipta), maka semua sifat-Nya tentu juga mengikuti eksistensi dan keberadaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu juga bukan makhluk.

Makanya Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah menjelaskan: “Wal Qur’anu laisa bi makhluq.” Al-Qur’an tersebut bukan makhluk. Karena konsekuensi dari pernyataan dari sekte Jahmiyah—yang mengatakan bahwa Quran itu makhluk—maka ini tentu konsekuensi yang sangat bertentangan dengan akidah kaum muslimin.

Bila Al-Qur’an makhluk, kita mendapatkan dalam Al-Qur’an perkataan Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Innani Anallah” (Sesungguhnya Aku ini adalah Allah). Mungkinkah makhluk yang mengatakan “Innani Anallah”? Jika mereka mengatakan bahwa yang berbicara dengan Musa—orang-orang Jahmiyah ahlul kalam mengatakan yang berbicara langsung dengan Musa itu pohon—mungkinkah pohon mengatakan kepada Musa: “Inni Ana Rabbuka fakhla’ na’laika” (Aku adalah Rabbmu, maka lepaskanlah terompahmu/sandalmu). “Innaka bil wadil muqaddas” (Sesungguhnya engkau di lembah yang suci).

Kemudian kita mendapatkan dalam Al-Qur’an bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan nama-Nya, menyebutkan sifat-Nya. Jika Al-Qur’an makhluk, berarti semua hal itu konsekuensinya adalah makhluk. Jika Al-Qur’an makhluk, maka tidak ada perbedaan, tidak ada keistimewaan Al-Qur’an dibandingkan dengan perkataan manusia yang lain. Makhluk bisa salah, bisa benar, bisa dikoreksi, bisa dikritisi. Jadi konsekuensi-konsekuensi yang batil begitu banyak sekali yang muncul dari pernyataan bahwa Al-Qur’an itu makhluk.

Maka jika dikatakan Al-Qur’an itu adalah kalamullah, Allah yang berbicara dan didengar oleh Jibril. Kemudian Jibril menyampaikan Al-Qur’an tersebut kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu kata Imam Ahmad bin Hambal: “Wala yad’u an yaqulal Qur’an laisa bi makhluq.” Jangan sampai seseorang merasa tidak percaya diri (tidak pede) mengatakan bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk. Jangan sampai seorang ragu mengatakan Al-Qur’an itu bukan makhluk.

Dan ini bantahan kepada sekte Jahmiyah yang tentunya fitnah yang muncul dari pernyataan “Quran kalamullah dan bukan makhluk” itu terjadi zaman Imam Ahmad bin Hambal, dikenal dengan fitnah khalqil Quran. Di mana Al-Ma’mun dan dua orang khalifah setelah beliau itu memaksa kaum muslimin untuk menyatakan bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk. Maka Imam Ahmad dan para ulama yang lain tetap istiqamah memperjuangkan kebenaran sampai mereka disiksa, dipenjara, bahkan ada ulama yang dibunuh. Tetap beliau mengatakan bahwa Al-Qur’an kalamullah bukan makhluk.

Kemudian beliau menjelaskan: “Fainna kalam laisa bi bainin minhu.” Karena perkataan Allah itu adalah sesuatu yang tidak terpisah dari diri Allah. Karena Al-Qur’an—atau kalamullah Azza wa Jalla—dari sisi asal perkataan tersebut, bahwa sifat tersebut senantiasa menyertai diri Allah Azza wa Jalla. Ada pada diri Allah Azza wa Jalla. Maka tidak terpisah dari Allah Azza wa Jalla sebagaimana sifat-sifat yang lain. Ilmu Allah, kehendak Allah, kekuasaan Allah, keagungan Allah, pendengaran Allah, penglihatan Allah, itu semua ada pada diri Allah. Tidak terpisah. Bagian dari sifat-sifat yang senantiasa menyertai diri Allah Azza wa Jalla.

“Wa laisa minhu syai’un makhluq.” Tidak satupun yang ada pada diri Allah itu makhluk. Di antara sifat yang ada pada diri Allah adalah kalam, dan di antara kalamullah adalah Al-Qur’an. Karena Allah berbicara—akidah Ahli Sunah menjelaskan—Allah berbicara dengan bahasa apa saja yang Allah kehendaki, dengan siapa saja yang Allah kehendaki, kapan saja. Dan bagaimana Allah berbicara itu semua adalah kembali kepada kehendak Allah Azza wa Jalla.

Maka Allah berbicara kepada Adam. Allah berbicara kepada Nuh. Allah berbicara kepada Ibrahim. Allah berbicara kepada Musa (wa kallamallahu Musa taklima). Dan juga Allah berkata kepada Isa: “A’anta qulta linnasittakhiduni wa ummiya ilahaini min dunillah?” (Wahai Isa, apakah engkau yang mengatakan kepada manusia jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua ilah selain Allah?). Dan Isa mengatakan: “Subhanaka” (Maha Suci Engkau ya Allah), tidak mungkin aku mengatakan hal itu.

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berbicara langsung kepada Nabi di waktu Nabi diangkat untuk Mikraj, untuk menjemput kewajiban salat. Dan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar perkataan Allah Azza wa Jalla, dan beliau turun naik kurang lebih dua atau tiga atau empat kali ketemu dengan Musa kemudian naik lagi minta dispensasi agar dikurangi dari 50 waktu menjadi lima waktu sehari semalam.

Jadi kalamullah Azza wa Jalla adalah sifat kemuliaan, kesempurnaan bagi Allah Azza wa Jalla. Dan Allah berbicara kapan saja, di mana saja, dengan bahasa apa saja. Taurat diturunkan dengan bahasa Ibrani, Injil dengan Suryani, Al-Qur’an dengan bahasa Arab. Maka Allah berbicara dengan bahasa apa saja. Oleh karena itu, karena sifat kalam itu sifat kesempurnaan, Allah berbicara dari sisi asal perkataan selalu ada pada diri Allah, tidak terpisah dari diri Allah. Tapi dari sisi satuan kalam-Nya, perkataan Allah yang muncul satu demi satu, ya tentunya adalah sifat yang berkaitan dengan kehendak Allah. Tatkala Allah menghendaki, Dia berbicara. Tatkala orang yang menciptakan, Allah berbicara “Innama amruhu idza arada syaian an yaqula lahu kun fayakun.” Apabila perintah Allah itu, keputusan Allah itu apabila menghendaki sesuatu untuk menciptakan sesuatu, maka Allah mengatakan “Kun” (jadilah), maka akan terjadi.

Nah, ini akidah Ahli Sunah tentang Sifatul Kalam. Kemudian kata beliau, jangan sampai dalam hal ini seorang menghabiskan waktu untuk berdebat atau berdiskusi, memperdebatkan tentang hal ini. Karena sudah jelas, tidak perlu diperdebatkan lagi. Bahwa akidah Ahli Sunah, akidah kaum muslimin yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengatakan bahwa Al-Qur’an kalamullah. Allah memiliki sifat kalam. Allah berbicara selama dunia ini masih ada untuk menciptakan, sungguh nanti di akhirat juga akan dijelaskan oleh beliau, tidak satupun dari kita kemudian akan dipanggil oleh Allah, kemudian akan diajak bicara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ikhwatal iman, kemudian juga jangan sampai juga kita tertipu dengan pernyataan sebagian yang berusaha untuk menyembunyikan syubhat mereka di bawah atau di dalam kalimat yang multi-penafsiran. Maka kata beliau: “Waman qala bi lafzhihi…” Barang siapa yang mengatakan Al-Qur’an bi lafzhi (dengan lafaz/ucapan) wa ghairihi (dan selainnya makhluk)… Begitu juga seorang yang ragu (waman waqafa fihi), seorang yang ragu apakah Quran ini makhluk atau kalamullah. Dia tidak memilih keputusan atau pernyataan keyakinan yang pasti. Ragu. Bisa jadi makhluk, bisa jadi kalamullah. Sehingga dia tidak mengatakan “La adri makhluqun am laisa bi makhluq” (Aku tidak tahu apakah itu makhluk atau tidak makhluk). Maka yang demikian itu kata beliau adalah shahibu bid’ah. Bukan akidah Ahli Sunah, bukan Ahli Sunah.

Kenapa? Karena perkataan Allah kalamullah, Al-Qur’an kalamullah jelas, tidak perlu ragu. Allah yang telah mengatakan hal itu. Allah berbicara, di antara perkataan-Nya adalah Al-Qur’an.

Tidak boleh kita mengatakan “ucapan saya, bacaan saya tentang Al-Qur’an adalah makhluk.” Ini multi-penafsiran. Apa maksud “bacaan” di sini?

  1. Bisa jadi yang dimaksud adalah yang dibaca, yang tertulis di lembaran mushaf. Apakah itu makhluk? Jelas tidak. Itu kalamullah.
  2. Tapi kalau yang dimaksud lafzh yaitu suara, suara yang keluar dari mulutku, itu suara saya yang membaca, ucapan saya, maka jelas itulah makhluk. Karena ucapan manusia tentu juga makhluk, sebagaimana manusia itu makhluk.

Nah, tatkala orang-orang Jahmiyah di zaman Imam Ahmad berusaha menyembunyikan syubhat mereka tentang Al-Qur’an ini, maka mereka menggunakan kalimat-kalimat yang global seperti itu, yang multi-penafsiran. Maka ini tidak boleh. Maka dikatakan Imam Ahmad: “Man qala lafzhi bil Qur’an makhluq fahuwa Jahmi.” (Barang siapa yang mengatakan ‘ucapanku dengan Al-Qur’an/bacaanku terhadap Al-Qur’an itu adalah makhluk’, ini pernyataan orang Jahmiyah). Mereka ingin menyembunyikan syubhat mereka dalam ungkapan-ungkapan yang global seperti itu. Adapun Ahli Sunah secara nyata mengatakan Al-Qur’an kalamullah ghairu makhluq.

Sesungguhnya pernyataan ghairu makhluq tidak muncul di zaman para sahabat, tabiin, dan yang lainnya. Kenapa? Mereka telah mengetahui Al-Qur’an kalamullah. Kalamullah sifat-Nya jelas tidak makhluk. Tapi kenapa muncul istilah ghairu makhluq? Karena tatkala muncul sekte Jahmiyah yang mengingkari sifat kalam bagi Allah Azza wa Jalla dan yang mengatakan Al-Qur’an itu bukan kalamullah tapi itu makhluk. Maka para ulama Ahli Sunah dalam hal ini—dalam barisan terdepan Imam Ahmad bin Hambal dan ulama yang lainnya—dengan tegas nyata mengatakan bahwa Al-Qur’an kalamullah ghairu makhluq. Al-Qur’an itu kalamullah bukan makhluk.

Thibhul iman, kaum muslimin, para pemirsa dan juga para pendengar rahimakumullah. Maka kata Imam Ahmad, barang siapa yang ragu mengatakan Al-Qur’an kalamullah bukan makhluk, ini adalah orang yang telah terkontaminasi dengan pemikiran ahlul bid’ah.

Kemudian di antara hal yang disampaikan dalam majelis yang ketiga, ya tentang iman kepada Ar-Rukyah (Rukyatullah Yaumal Qiyamah). Meyakini bahwa orang-orang yang beriman, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan dilihat oleh orang-orang yang beriman pada Yaumul Qiyamah. Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabbuna Tabaraka wa Ta’ala, Zat yang Maha Mulia, yang Maha Agung, akan dilihat oleh ahlul iman yaumal kiamah, terkhusus di dalam surga. Nas’alullahal karim an yarzuqana an-nazhara ila wajhihil karim.

Dan ini merupakan kenikmatan yang terbesar di dalam surga atau kenikmatan yang paling mulia dalam surga. Dan itulah tambahan nikmat yang Allah berikan kepada mereka. Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan oleh Allah Azza wa Jalla, dalam hadis bahkan hadisnya hadis yang mutawatir. Maka kata Imam Ahmad bin Hambal: “Al imanu bir-rukyah yaumal qiyamah.” Mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dilihat pada hari kiamat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan dalam Al-Qur’an:

“Lilladzina ahsanul husna wa ziyadah.”

(Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, bagi mereka Husna yaitu surga, wa Ziyadah dan tambahan nikmat dalam surga). Yaitu melihat kepada Wajah Allah yang Mulia. Begitu yang ditafsirkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu juga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bagaimana kondisi orang-orang beriman. Wajah mereka ceria, berseri-seri, bercahaya. Kenapa? Karena melihat pada wajah Allah.

“Wujuhun yaumaidzin nadhirah, ila rabbiha nazhirah.”

(Wajah ahlul iman pada hari itu, pada hari kiamat nadhirah—ceria, berseri-seri, bersih putih, bercahaya. Kenapa? Ila rabbiha nazhirah—melihat kepada wajah Allah).

Jadi nazar (melihat) dinisbatkan kepada wajah, kemudian ditambah dengan kalimat huruf jar atau yata’adda bi ila (penyambungnya huruf ila). Maka ini tidak diragukan lagi bahwa maksudnya melihat dengan mata. Melihat dengan mata kepala, bukan artinya nazar itu menunggu. Karena di sini dinisbatkan kepada wajah (wujuhun yaumaidzin—wajah pada hari itu) nadhirah, melihat kepada apa? Ila rabbiha.

Jemaah sekalian rahimakumullah, ikhwatal iman. Kemudian di dalam hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan—hadis mutawatir, hadisnya sahih, Imam Ahmad (meriwayatkan) hadis-hadis shihah—di antaranya hadis yang dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Innakum satarauna rabbakum yaumal qiyamah ‘ayanan kama tarauna asy-syams.”

(Sesungguhnya kalian nanti akan melihat Rabb kalian ‘ayanan—langsung dengan mata kepala kalian—sebagaimana kalian melihat siang hari matahari).

Tidak ada yang berdesak-desakan. Di mana saja seorang yang bila datang terbit matahari, mereka akan melihat di belahan bumi mana saja di bumi Allah yang tatkala itu terbit matahari. Tapi sekarang ini kita melihat di mana saja. Nah, begitulah nanti pada hari kiamat fil jannah. Di mana saja ahlul jannah berada dalam surga, mereka akan melihat Allah Azza wa Jalla. Tidak ada yang berdesak-desakan dalam melihat Allah Azza wa Jalla.

Adapun di dunia, apakah mungkin Allah dilihat? Mungkin, tapi wajah kita atau kita tidak mampu untuk melakukan hal itu. Lihat bagaimana Musa Alaihissalam tatkala memohon kepada Allah Azza wa Jalla: “Rabbi arini anzhur ilaik” (Ya Allah, perlihatkan Diri-Mu agar aku melihat langsung kepada-Mu). Maka Allah perintahkan ya Musa untuk melihat kepada gunung yang kokoh, yang kuat.

Begitu Allah menjelma (tajalla Rabbuhu lil jabal). Disebutkan di dalam sebagian riwayat Ibnu Abbas menjelaskan, “tajalla Rabbuhu lil jabal” itu hanya disingkap yaitu lubang cahaya Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan seukuran lubang jarum. Berapa kecilnya? Sehingga dari lubang jarum tersebut, sekecil itu ukuran lubang tersebut, muncul cahaya Diri Allah. Dan kita mengetahui dalam hadis yang sahih bahwa tabir yang menutup wajah Allah itulah Nar atau Nurun. Jika tabir itu disingkap oleh Allah, maka cahaya wajah Allah akan membakar semua makhluk ini. Makanya secuil, secercah dari nur (cahaya) dari diri Allah tersebut menjelma dan tampak di gunung tadi, maka menjadikan gunung itu hancur luluh, berantakan.

Nah, bagaimana dengan bila Allah menyingkap wajah-Nya secara keseluruhannya? Allahu Akbar, Allahul Azhim Al-Kabir. Tidak akan mungkin (kita mampu). Jadi mungkin (dilihat), tapi tidak mampu kita melihat di dunia ini. Adapun di akhirat, karena kondisi telah berbeda. Allah berikan kekuatan, kemuliaan. Karena tidak ada lagi yang (seperti) di dunia, di akhirat semuanya kenikmatan di dalam surga. Maka diberikan kekuatan kepada mata mereka untuk melihat langsung pada Allah Azza wa Jalla. Dan ini suatu yang diyakini oleh Ahli Sunah Wal Jamaah. Jangan sampai ada keraguan dalam diri kita, karena khawatir kita: barang siapa yang mengingkari suatu kemuliaan, dia akan terhalang mendapatkan kemuliaan itu.

Kemudian juga pembahasan yang disampaikan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam—dijelaskan oleh Imam Ahmad bin Hambal—yaitu melihat Rabb-Nya. Bagaimana melihat-Nya? Apakah langsung apa melihat dalam mimpinya?

Yang jelas, kesimpulan yang kita dapatkan dari penjelasan Syekh adalah yang utama dalam hal ini kita mengatakan Rasul melihat Rabb-Nya. Bagaimana? Tidak perlu ditanya bagaimana. Apakah langsung dengan kedua mata kepalanya atau melihat dengan cara yang lain? Yang jelas terdapat perbedaan bagaimana Rasul melihat Allah, tapi tidak ada perbedaan bahwa Rasul melihat Allah. Tapi bagaimana, kapan, apakah langsung? Jadi harus dibedakan antara keyakinan kita bahwa Rasul diberi kemuliaan untuk melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu bagaimana melihat-Nya? Ini yang terdapat perbedaan di kalangan para ulama.

Tapi yang jelas sebagaimana kata Imam Ahmad, bahwa tentang Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah Azza wa Jalla ini adalah terdapat dalam nukilan yang sahih dari Ibnu Abbas. Riwayat dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma. Maka kata beliau, kita mengimani hadis tersebut ala zahirihi (sebagaimana zahirnya/teksnya), yaitu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah Azza wa Jalla. Bagaimana cara Rasul melihat Allah? Ini yang terdapat perbedaan. Tapi yang jelas tatkala Nabi ditanya: “Hal ra-aita rabbak?” Beliau menjawab “Nurun anna arahu” (Ada cahaya yang begitu terang, bagaimana saya akan melihat-Nya?). Dalam riwayat ada “Inni arahu” (Sungguh saya melihat-Nya).

Maka tadi perbedaan kalangan para ulama apakah langsung melihat dengan kedua mata kepalanya. Tapi yang jelas mereka sepakat bahwa kita meyakini Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemuliaan kepada nabi-Nya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimana? Ya ini yang dalam hal ini kita menyukupkan dengan sesuai dengan redaksi dari riwayat yang dinukilkan dalam permasalahan ini.

Kemudian Ikhwatal iman, oleh karena itu kata Imam Ahmad: “Wal kalamu fihi bid’ah.” Artinya pembahasan tentang mendiskusikan, memperdebatkan tentang hal ini, ini sesuatu yang bukanlah sesuai dengan sunah. Suatu pernyataan yang beda karena ahlul kalam yang memperdebatkan tentang hal itu. Adapun Ahli Sunah, mereka mengimani sebagaimana zahir dari riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Allah Azza wa Jalla. Maka kata Imam Ahmad: “Wa la yunadhiru fihi ahadan.” Jangan memperdebatkan, mengajak atau berdiskusi dengan seseorang tentang atau dalam memperdebatkan tentang hal itu.

Kemudian Ikhwatal iman, di antara pembahasan yang dalam majelis yang ketiga tentang akidah Ahli Sunah adalah bahwa mengimani tentang Al-Mizan, bahwa timbangan di akhirat. Dan itu adalah timbangan yang hakiki. Bahwa ada dua neraca timbangan (kiri dan kanan), dan di situ akan ditimbang. Di antara yang ditimbang di situ adalah:

  1. Amalan manusia.
  2. Manusia itu sendiri (pelakunya).
  3. Catatan lembaran (catatan kebaikan dan kejelekan mereka).

Itu akan ditimbang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Wal waznu yaumaidzinil haq.” Mizan (timbangan) pada hari itu adalah benar.

Barang siapa yang berat timbangan kebaikannya, dia orang yang beruntung. Barang siapa yang ringan timbangan kebaikannya (lebih berat kejahatannya), orang yang merugi. Dan semua tidak ada yang luput. Semua tertulis dalam catatan malaikat. Jadi shuhuful amal (lembaran catatan amal). Timbangan yang ditimbang itu ada tiga ya:

Yang pertama adalah lembaran catatan amalan, ditulis sama malaikat (Kiraman Katibin). Tidak satupun yang keluar/terlontar dari mulut seorang kecuali akan ditulis. Amalan seorang ya’lamuna ma taf’alun (mengetahui apa yang kalian lakukan) itu ditulis. Itu akan ditimbang. Itu akan tampak keadilan Allah Azza wa Jalla, hikmah Allah Azza wa Jalla. Mana yang lebih berat timbangan kebaikannya atau kejelekannya.

Seorang dalam pandangan manusia orang yang biasa-biasa saja, tapi ternyata dia memiliki amalan di sisi Allah yang tidak diketahui kecuali Allah Rabbul Alamin. Maka ditimbang, maka di situ akan tampak dan terlihat apakah kebaikan yang tersembunyi dilakukan itu lebih berat dari kejahatan yang pernah dilakukan.

Nah, kemudian juga yang akan ditimbang adalah manusia itu sendiri, pelaku itu akan ditimbang. Dalam hadis disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa nanti datang seorang yang gemuk, yang besar pada hari kiamat. Kemudian sama sekali di sisi Allah tidak ada bobotnya sama sekali. Tidak ada timbangannya sama sekali. Sampai pun seukuran berat sayap lalat. Lalat ya, berapalah ukuran atau beratnya sayap lalat? Nah, ada orang nanti yaumul qiyamah orang yang gemuk besar, tapi ditimbang sama sekali tidak ada timbangannya, tidak ada bobotnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Allah mengatakan dalam Quran: “Fala nuqimu lahum yaumal qiyamati wazna” (Kami tidak akan memberikan timbangan kepada mereka pada hari kiamat).

Bahkan sebaliknya, seorang yang mungkin fisiknya kurus, kecil, pendek, tapi ternyata dia akan ditimbang lebih berat timbangannya dari Bukit Uhud. Dan ini sebagaimana dijelaskan dalam kisah Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu. Suatu ketika Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu memanjat sebatang pohon, pohon arak yang digunakan untuk siwak itu. Angin datang menyingkap kedua betis Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu anhu. Tersingkap. Ternyata para sahabat melihat betapa kurusnya kedua betis Abdullah Ibnu Mas’ud Radhiallahu anhu. Mereka tersenyum. Rasul melihat, “Mimma tadhakun?” (Kenapa kalian tertawa?). Ini mereka bukan berolok-olok dengan Ibnu Mas’ud, tapi aneh gitu ya, ternyata Ibnu Mas’ud itu kedua betisnya sangat kurus.

Apa kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam?

“Walladzi nafsi biyadih, lahuma atsqalu fil mizan min Uhud.”

(Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kedua betis Abdullah Ibnu Mas’ud itu di akhirat nanti dalam timbangan lebih berat dari Bukit Uhud).

Allahu Akbar. Subhanallah. Lihat bagaimana iman yang ada dalam dada beliau, keyakinan dalam hati beliau. Kaki yang melangkah mendatangi majelis-majelis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mendengar langsung lebih dari puluhan ayat Al-Qur’an yang didengar langsung dari mulut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk ulama yang pakar tafsir dari ulama para sahabat, dan orang yang sangat tegas menyikapi perbuatan-perbuatan bidah dan membantah perbuatan bidah. Maka itulah yang membuat kedua betis yang kurus tadi menjadi lebih berat di timbangan akhirat daripada Bukit Uhud.

Bagaimana dengan iman kita? Jadi di sini satu pelajaran yang juga perlu kita garis bawahi, yang perlu kita catat baik-baik. Ternyata kemuliaan di sisi Allah itu bukan karena penampilan fisik seorang. Nilai seseorang bukan karena penampilan kecantikan, kegantengan, tidak. Bukan penampilan, bukan karena kendaraan mewah yang ditunggangi, bukan karena istana yang ditempati, bukan fasilitas yang wah serba luks dan mewah semua. Bukan itu. Bukan karena dunia. Tapi karena iman yang tertancap, iman yang terpatri di hati, anggota badan (jawarih) yang digunakan dalam ketaatan kepada Allah. Bahwa kedua betis Abdullah bin Mas’ud adalah dua betis yang melangkah bersama Nabi untuk berjuang menegakkan Islam, membela Nabi, mendatangi Masjid Nabawi, mencari halaqatul ilm (majelis-majelis ilmu). Ini pelajaran terpenting dari yang disampaikan.

Kemudian di antara hal yang dijelaskan juga dalam majelis yang ketiga tersebut adalah bahwa ini ada kaitan dengan bahwa Allah berbicara. Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala nanti di akhirat akan berbicara kepada hamba-Nya, kepada manusia. Akan ditanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan diperlihatkan kepada mereka: “Ini perbuatanmu, ini amalanmu, jam sekian pada hari ini, pada tempat ini,” dan seterusnya. Maka seorang hamba akan mengakui hal itu. Iya.

“Yukallimuhu rabbuhu laisa bainahu wa bainahu turjuman.”

(Rabb-nya berbicara kepadanya, tidak ada penterjemah di antaranya).

Langsung Allah berbicara, hamba memahami perkataan Allah dan mengakui tentang kesalahannya. Ya setelah itu tergantung kepada Allah. Mau dimaafkan, ya maaf, dimaafkan oleh Allah (ghafartu laka—di dunia Saya tutup kejahatan itu, di sekarang Saya maafkan). Jika Allah ingin mengazab, ya kembali kepada Allah. Tapi yang jelas, sudahkah kita siap berhadapan dengan Allah nanti? Ditanya oleh Allah, si Fulan, yukallimu rabbu langsung, tidak ada penterjemah, langsung. Sudahkah kita bisa menjawab? Ingat, setiap pertanyaan sudah ada jawaban. Sudah bisa menyiapkan jawaban dari sekarang? Ayo mari kita berlomba dalam kebaikan, meninggalkan kejahatan, karena semua tercatat, akan diminta pertanggungjawaban nanti. Nah, ini kita yakini.

Kemudian yang terakhir dalam majelis yang ketiga tersebut adalah mengimani bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan nabi-Nya di akhirat kelak, bahwa ada telaga, Haudhun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan Haudh ini, telaga yang penuh dengan air yang disebutkan. Dan bentuk telaga itu 4 persegi, bukan bundar ya, 4 persegi (murabba). Panjangnya dan luasnya (yaitu lebarnya) sama. Dan disebutkan “thuluhu masiratu syahr”, ini sebagai pendekatan saja, bukan ukuran yang pas seperti itu tidak. Panjangnya itu dan luasnya itu sama, sepanjang 1 bulan perjalanan. Perjalanan biasa 1 bulan ya, bukan dengan pesawat. 1 bulan perjalanan itu berapa kilo, berapa mil gitu ya. Nah, itu sebagai Rasul memberikan penjelasan pendekatan kepada kita.

Kemudian bagaimana sifat Haudh tersebut?

  • Airnya putih, lebih putih dari susu.
  • Manis, lebih manis dari madu. Allahu Akbar.
  • Aromanya lebih harum dari kasturi. Allahu Akbar.

Lebih putih dari susu, lebih manis dari madu. Kemudian Subhanallah, “man syariba minhu syarbatan lam yazhma’ ba’dahu abada.” Barang siapa yang mendapatkan kemuliaan minum satu teguk saja, maka dia tidak akan merasakan dahaga selama-lamanya. Dan setiap nabi memiliki Haudh. Tapi Haudhun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terbesar dan yang paling banyak didatangi. Oleh karena umat beliau paling banyak, manusia kehausan di Padang Mahsyar pada hari kiamat. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan nabi-Nya dan memuliakan umatnya.

Akan tetapi satu hal yang harus kita waspadai. Kemudian cangkir-cangkir untuk digunakan untuk meminum dari telaga tersebut jumlahnya seperti jumlah bintang-bintang ada di langit. Allahu Akbar.

Ya, ada juga mengatakan apakah Haudh ini sama dengan Kautsar, sungai Kautsar? Ya, ada perbedaan. Ada yang mengatakan Haudhul Kautsar. Tapi yang jelas, Ikhwatal iman, Kautsar dalam Al-Qur’an disebutkan secara nyata: “Inna a’thaina kal kautsar”. Adapun Haudh terdapat dalam hadis. Dijelaskan dalam hadis, air yang ada di Haudh tersebut—yang lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, aromanya lebih harum dari kasturi—itu dialirkan. Air tersebut bersumber dari Kautsar, sungai yang ada di (surga) Kautsar tersebut.

Ya Allah. Menjadi pertanyaan yang terakhir, mungkinkah kita bisa mendapatkan kemuliaan itu? Ya biiznillah. Maka kata Nabi: “Ishbiru hatta talqauni”. Sabar kalian dalam menjalani hidup ini. Banyak rintangan, banyak hambatan, banyak kesesatan. Maka sabar, istiqamah di atas sunah Nabi. Karena ini orang yang akan dimuliakan oleh Allah untuk mendapatkan Haudh tersebut.

Adapun orang-orang yang zalim, penguasa yang merubah-rubah aturan Allah dan Rasul-Nya, orang-orang munafikin, fasikin yang hanya berpura-pura dalam penampilan baik tapi ternyata hatinya bobrok. Atau para pelaku bidah yang suka membuat bidah, merubah-rubah aturan agama Allah dan Rasul-Nya. Lebih senang pada bidah—agama jelas sudah sempurna, lebih senang yang bidah-bidah, yang khurafat. Ini orang yang akan terhalang mendapat telaga tadi atau dimuliakan mendapatkan kemuliaan di akhirat kelak.

Oleh karena itu, mari terus introspeksi diri. Apakah iman kita itu iman ahlul iman atau ada dalam hati kita kemunafikan? Hati-hati. Kemudian bersungguh-sungguh melaksanakan sunah Nabi. Enggak usah buat bidah-bidaah. Enggak ada manfaatnya. Enggak ada yang baik dari bidah tersebut. Semuanya dhalalah. Kata Nabi, jangan tertipu dengan pernyataan ada “bidah hasanah”. Enggak ada baiknya. Yang sudah baik jalan sunah Nabi masih banyak yang belum kita bisa lakukan. Kenapa kok mencari yang jelek, yang sesat? Maka kata Nabi: “Kullu bid’atin dhalalah.”

Maka nanti dalam sebuah hadis disebutkan, datang dari umat beliau ingin (mendatangi) telaga. Begitu mendekati, menghampiri telaga tersebut, diusir. Nabi mengatakan, “Itu umatku, umati!” (Dikatakan): “Innaka la tadri ma ahdatsu ba’dak.” Engkau enggak tahu Muhammad apa yang telah mereka rubah-rubah, mereka tambah-tambah dalam agama ini.

Maka saya peringatkan dari pribadi kita semua yang mendengar pernyataan ini. Wahai yang masih doyan pada bidah, tinggalkan jika Anda ingin mendapatkan kemuliaan untuk meminum dari telaga Nabi yang mulia Alaihis salatu wassalam, yang barang siapa dimuliakan meminum dari telaga itu tidak akan merasakan kehausan selama-lamanya.

Itulah kesimpulan dari majelis yang ketiga yang bisa disampaikan. Mudah-mudahan yang sedikit ini bermanfaat dan memotivasi kita kembali untuk terus belajar akidah sebagai bekal kehidupan kita dalam mengarungi perjalanan hidup yang berliku-liku dalam rangka beribadah kepada Allah. Dan semoga kita selalu istiqamah di atas akidah Ahli Sunah Wal Jamaah sampai akhir hayat kita. Allahumma amin. Demikian. Wallahu a’lam.

Ustaz Dr. Muhammad Nur Ihsan:

Ya, Ikhwatal iman, kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah. Pesan ana bagi kita semua, tidak terasa lagi Ramadan semakin dekat. Kurang lebih ya kurang… Hari sekarang tanggal berapa Ustaz? Syakban… Syakban mungkin sudah 17 mungkin atau 18 ya. Artinya kurang lebih 11 hari atau 12 hari kurang lebih Ramadan akan datang.

Apa yang telah kita persiapkan dari sisi hati dan jiwa kita, keilmuan kita, amal ibadah kita? Ini tiga poin penting. Maka persiapkan diri.

  1. Perbaiki hati, bertobat kepada Allah Azza wa Jalla, banyak istigfar.
  2. Kemudian ilmu. Bagaimana fikih tentang ibadah, tentang puasa, tentang Ramadan, Qiyamul Lail, tarawih, itu dibekali diri dengan ilmu.
  3. Yang ketiga, amalan kita dibiasakan. Salat wajib jangan ditunda-tunda, di awal waktu, laki-laki berjamaah. Qiraatul Quran diperbanyak, zikir, sedekah.

Karena itu amalan semua yang akan dilakukan dan amalan yang lain. Maka dibiasakan dari sekarang ya. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi kita di bulan, di penghujung bulan Syakban ini dan diberi kemuliaan untuk bersua dengan Ramadan dalam keadaan sehat walafiat.

Allahumma sallimna ila Ramadan, wa sallim lana Ramadan, wa tasallamhu minna mutaqabbala. Allahumma amin.

Demikian.

Wa shallallahu wa sallama ‘ala nabiyina Muhammad wa ala alihi wasahbihi wa sallam. Walhamdulillahi rabbil alamin. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Related Articles

Back to top button