Kajian Kitab at-Tauhid-Bab2: Keutamaan Tauhid dan Dosa-dosa yang Digugurkan Karenanya
Keutamaan Tauhid dan Dosa-dosa yang Digugurkan Karenanya

(Babu Fadli at-Tauhidi wa Ma Yukaffiru minadz Dzunub)
Kitab: Kitab at-Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Mukadimah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ.
Segala puji hanyalah untuk Allah Rabbul ‘Alamin yang telah memudahkan pertemuan kita pada sore hari ini, melanjutkan pembahasan كِتَابُ التَّوْحِيْدِ (Kitab at-Tauhid) yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman at-Tamimi rahimahullah, seorang ulama yang meninggal dunia pada tahun 1206 Hijriah. Insya Allah pada sore kali ini, pertemuan yang kedua, kita masuk pada bab yang kedua yang berjudul: بَابُ فَضْلِ التَّوْحِيْدِ وَمَا يُكَفِّرُ مِنَ الذُّنُوْبِ (Bab Keutamaan Tauhid dan Dosa-dosa yang Digugurkan Karenanya).
Bismillah, Alhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du. Allahummaghfirli syaikhina wa liwalidayhi wa lilmuslimin, amin.
Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata di dalam Kitab at-Tauhid:
بَابُ فَضْلِ التَّوْحِيْدِ وَمَا يُكَفِّرُ مِنَ الذُّنُوْبِ
Para ikhwah dan juga para akhwat rahimani wa rahimakumullah.
Pada pertemuan sebelumnya kita telah mengetahui bersama tentang kewajiban bertauhid, dan bahwasanya dalil-dalil menunjukkan wajib bagi masing-masing manusia untuk mentauhidkan Allah.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Kecuali untuk mentauhidkan Aku. Ini menunjukkan tentang kewajiban bertauhid. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan tentang dakwah para nabi dan juga para rasul, dan masing-masing mereka berkata, berucap, menyeru kaumnya:
أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Hendaklah kalian menyembah Allah dan menjauhi thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)
Artinya adalah bertauhid, menyembah Allah saja, menjauhi segala sesuatu yang disembah selain Allah. Menunjukkan bahwasanya tauhid ini bukan pilihan bagi seorang manusia; boleh dia bertauhid boleh tidak, boleh dia beriman boleh tidak. Ini adalah kewajiban bagi seluruh manusia yang menganggap dirinya adalah insan (manusia), keturunan Nabi Adam, masuk dalam firman Allah: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan juga manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah menjadikan di dalam tauhid ini ada keutamaan-keutamaan. Allah menjadikan tauhid—yang merupakan kewajiban masing-masing dari kita—di sana ada keutamaan, keistimewaan, kelebihan, ganjaran, yang dengannya seorang yang bertauhid mendapatkan kebaikan di dunia maupun di akhirat. Maka beliau menyebutkan di dalam bab ini: بَابُ فَضْلِ التَّوْحِيْدِ وَمَا يُكَفِّرُ مِنَ الذُّنُوْبِ (Bab tentang keutamaan tauhid dan apa yang dihapus dengan sebab tauhid tersebut berupa dosa-dosa).
Supaya kita istiqamah di atas tauhid, supaya kita bersemangat untuk mempelajari tauhid, supaya kita berhati-hati dari segala sesuatu yang bertentangan dengan tauhid, penting seseorang mengetahui apa sebenarnya keistimewaan-keistimewaan, keutamaan-keutamaan orang yang bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau menyebutkan di sini satu di antara keutamaan tauhid tersebut, yang itu seandainya didapatkan oleh orang yang bertauhid, sudah merupakan kemenangan yang besar. Beliau menyebutkan keutamaan tauhid dan bahwasanya tauhid ini bisa menghapuskan dosa. Disebutkan secara khusus bahwasanya tauhid adalah sebab diampuninya dosa karena dia adalah keutamaan yang besar. Seandainya seorang yang bertauhid tidak memiliki keutamaan kecuali diampuni dosanya, maka ini sudah kebaikan yang besar bagi orang yang bertauhid tersebut. Beliau akan mendatangkan di sini dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang menjelaskan tentang keutamaan tauhid.
Dalil Pertama: Surah Al-An’am Ayat 82
Beliau rahimahullah berkata: Dan firman Allah Ta’ala:
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)
Beliau menyebutkan satu ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, maka merekalah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”
Sebelumnya di dalam surat ini, yaitu surat Al-An’am, Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang dakwahnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang mendakwahi kaumnya, menyuruh mereka untuk bertauhid, meninggalkan sesembahan-sesembahan selain Allah. Maka disebutkan di sini keutamaan orang yang bertauhid dan tidak mencampuri tauhidnya dengan kesyirikan, maka mereka akan mendapatkan keutamaan yang besar: keamanan dan juga petunjuk.
الَّذِينَ آمَنُوا (Orang-orang yang beriman): Dan di antara sifat orang yang beriman adalah beriman kepada Allah, dan di antara bentuk iman kepada Allah adalah mengesakan Allah di dalam ibadah. Meyakini bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah di dunia ini, di alam semesta ini. Akhirnya keyakinan tersebut dia praktikkan di dalam kehidupan dia sehari-hari; dia tidak serahkan ibadah kecuali hanya kepada Allah. Ini adalah sifat orang yang beriman kepada Allah.
وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ (Dan dia tidak mencampuri keimanannya dengan kezaliman): Yang dimaksud dengan kezaliman di sini disebutkan di dalam ayat yang lain. Ketika Luqman menasihati putranya—dan dia adalah Luqman al-Hakim, disifati sebagai seorang yang bijaksana—termasuk di antaranya adalah ketika memberikan wejangan, mentarbiah putra dan juga keturunannya, nasihat beliau yang pertama adalah:
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)
Wahai anakku—sebelum beliau memberikan nasihat-nasihat yang lain—ini adalah termasuk hikmah beliau dan kebijaksanaan beliau karena mengetahui tentang pentingnya tauhid, dan bahwasanya tauhid ini yang paling inti dan yang paling utama di dalam agama kita. “Wahai anakku janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan Allah adalah kezaliman yang sangat besar.”
Kenapa? Karena zalim adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Sebaliknya, adil adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Dan tidak ada kezaliman yang lebih besar daripada seorang makhluk yang dia menyadari, mengetahui bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang menciptakan dia dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada, memberikan rezeki semenjak dia berada di dalam perut ibunya, membesarkan, memelihara, memberikan berbagai fasilitas, dan tidak ada di sana nikmat kecuali berasal dari Allah Rabbul ‘Alamin; kemudian setelah itu dia bersyukur dan menyembah kepada selain Allah Azza w1a Jalla.
Seandainya kita memiliki seseorang yang kita berikan, kita bantu, kita tolong, kemudian orang tersebut justru berterima kasihnya kepada orang lain yang tidak memberikan pertolongan kepada dia, maka kita sebagai manusia akan mengatakan ini adalah orang yang tidak beradab. Ditolong oleh si A, tetapi dia justru berterima kasih kepada si B. Ini di antara makhluk, dan itu adalah sebuah kezaliman. Lalu bagaimana dengan seorang makhluk, seorang hamba, yang seluruh nikmat dari awal sampai akhir tidak terkecuali itu berasal dari Allah Rabbul ‘Alamin, kemudian dia bersujud untuk selain Allah, bertawakal kepada selain Allah, bernazar untuk selain Allah, berdoa kepada selain Allah? Bukan mereka yang memberikan kenikmatan dan bukan mereka yang mengabulkan doa.
Orang yang menyekutukan Allah, dia telah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dan orang yang bertauhid, dia telah meletakkan sesuatu pada tempatnya, menjadikan Allah sebagai satu-satunya Dzat yang disembah; berarti dia adalah orang yang adil. Adapun seorang yang musyrik, maka dia telah melakukan kezaliman, dan itu adalah kezaliman yang paling besar yang dilakukan oleh seorang makhluk yang lemah kepada Allah Rabbul ‘Alamin. إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ.
Ini menafsirkan ayat ini: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman.”
Orang yang beriman, bertauhid, dan dia tidak mencampuri tauhid dia dengan kesyirikan (hanya menyembah kepada Allah saja, tidak dicampuri dengan ibadah kepada selain Allah sedikitpun), maka merekalah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.
Para ikhwah sekalian dan juga para akhwat, keutamaan tauhid di dalam ayat ini adalah bahwa orang yang bertauhid dia akan mendapatkan dua perkara:
- Mendapatkan Keamanan (Al-Amnu):Keamanan di sini ada yang mengatakan keamanan di akhirat, dan ada yang mengatakan lebih luas daripada itu: keamanan di dunia dan juga di akhirat. Karena orang yang bertauhid, bertawakal hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meyakini bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang mendatangkan manfaat, menghindarkan mudarat, maka dia akan tenang hidupnya. Dia akan merasa aman, tidak takut kepada manusia, tahu bahwasanya manusia seperti dia (makhluk), bukan di tangan mereka manfaat dan bukan di tangan mereka mudarat. Maka dia pun menghadapi seluruh perkara masalah bergantung hanya kepada Allah Rabbul ‘Alamin. Allah berikan keamanan di dalam hatinya, dan ini dirasakan oleh orang-orang yang bertauhid; dalam keadaan dia senang merasa aman, dan dalam keadaan susah pun dia merasa aman.Di akhirat, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga akan memberikan keamanan kepada orang-orang yang bertauhid. Bagaimana tidak? Seorang yang bertauhid selama di dunia dia merasa telah melaksanakan tugasnya sebagai seorang manusia yang diciptakan oleh Allah untuk bertauhid kepada-Nya. Ketika dia kembali kepada Allah di hari kiamat, bertemu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah menciptakan dia, yang telah mewajibkan dia untuk bertauhid, dan Alhamdulillah Allah Subhanahu wa Ta’ala mematikan dia di atas tauhid, maka dia pun akan diberikan keamanan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, diberikan ketenangan ketika bertemu dengan Allah Rabbul ‘Alamin.Mulai sejak dia masuk ke dalam alam kubur ditanya: مَنْ رَبُّكَ (Siapa Rabb-mu?), maka dengan lantangnya—tentunya dengan izin Allah—dia mengatakan: رَبِّيَ اللَّهُ (Rabb-ku adalah Allah), karena selama ini di dunia dia tidak menyembah kepada selain Allah. Ketika dia dibangkitkan di Padang Mahsyar, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan keamanan, ketenangan kepada orang-orang yang bertauhid, di saat orang-orang kafir, orang-orang musyrik—karena mereka merasa ternyata benar apa yang dikabarkan oleh para rasul dan ternyata dahulu mereka di dunia melakukan kesalahan yang besar, melakukan kesyirikan, kufur kepada para rasul—akhirnya mereka pun datang di hari kiamat dalam keadaan takut, dalam keadaan terhina.Tentunya masing-masing dari kita ingin mendapatkan keutamaan tersebut. Dan semakin besar tauhid yang dimiliki oleh seseorang, maka dia akan semakin besar mendapatkan bagian dari rasa aman tersebut. Karena tauhid antara seseorang dengan yang lain bertingkat-tingkat. Tentunya para nabi, para siddiqin, para syuhada, orang-orang yang saleh, mereka memiliki tingkat tauhid yang tinggi, maka semakin besar keamanan yang akan mereka rasakan.
- Mendapatkan Petunjuk (Al-Muhtadun):وَهُمْ مُهْتَدُونَ (Dan mereka adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk). Petunjuk di dunia maupun di akhirat. Ketika seseorang mengenal tauhid, maka dia telah mendapatkan petunjuk. Adapun seseorang yang meskipun secara zahir kelihatan dia adalah orang yang berpegang dengan agama, tapi kalau dia tidak paham tauhid, tidak mengenal tauhid, tidak mengamalkan tauhid, maka dia belum mendapatkan petunjuk. Dan dari tauhid nanti akan berkembang petunjuk-petunjuk tersebut; dari tauhid akhirnya dia mau berpegang teguh dengan sunnah, dari tauhid akhirnya dia menjaga berbagai ketaatan dan juga amal saleh. Maka seseorang hendaklah mengoreksi dirinya sendiri, apakah dia sudah mengenal tauhid? Apakah dia sudah mengamalkan tauhid? Karena inilah petunjuk yang sebenarnya.Dalam Al-Qur’an ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan tentang Nabi Isa ‘alaihis salam:إِنَّ اللَّهَ هُوَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ”Sesungguhnya Allah Dialah Rabb-ku dan juga Rabb kalian, maka hendaklah kalian menyembah kepada-Nya. Inilah jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf: 64)Jikalau kita ingin mengetahui syiar dari jalan yang lurus—yang setiap hari kita berdoa kepada Allah di dalam salatnya: اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (Tunjukilah kami ya Allah jalan yang lurus)—maka syiar dari jalan yang lurus adalah tauhid. Orang yang mendapatkan petunjuk kepada tauhid, maka dia telah mendapatkan petunjuk kepada syiar dari jalan yang lurus tersebut. Sebaliknya, bagaimanapun keadaan seseorang, ketika dia tidak bertauhid, mungkin punya semangat dalam beramal, berinfak, tapi kalau dia bukan orang yang bertauhid, maka dia belum mendapatkan petunjuk.Dan merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk, termasuk di akhirat mendapatkan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga mendapatkan kenikmatan kubur, dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjawab pertanyaan, mendapatkan petunjuk ketika ditanya, dihisab dengan berbagai pertanyaan, dan akhirnya mendapatkan petunjuk untuk masuk ke dalam surga-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesuai dengan kadar tauhid yang dia miliki, maka semakin besar petunjuk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada orang tersebut.
Ini adalah keutamaan yang pertama yang disebutkan di dalam ayat yang ada dalam surat Al-An’am: bahwasanya orang yang bertauhid maka dia akan mendapatkan keamanan dan juga petunjuk di dunia maupun di akhirat.
Dalil Kedua: Hadis Ubadah bin Shamit
Kemudian setelahnya beliau mendatangkan hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang menunjukkan tentang keutamaan tauhid.
Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ، وَالْجَنَّةَ حَقٌّ وَالنَّارَ حَقٌّ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ
“Barang siapa yang bersyahadat Lailahaillallah (bersaksi)…”
Dan yang namanya bersaksi itu harus mengetahui ilmunya, memahami, dan dia sampaikan kepada orang lain, bersumpah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.
“…Wahdahu la syarika lah (Maha Esa Dia, tidak ada sekutu bagi-Nya).”
“Wa anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh (dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan juga Rasul-Nya).”
Beliau diutus kepada kita dan beliau adalah seorang hamba di antara hamba-hamba Allah; menyembah kepada Allah sebagaimana kita juga menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Wa anna ‘Isa ‘abdullahi wa rasuluh (dan bersaksi bahwasanya Isa ibnu Maryam juga hamba Allah dan juga rasul-Nya).”
“Wa kalimatuhu alqaha ila Maryam wa ruhun minhu (dan dia adalah kalimat Allah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tiup di dalam diri Maryam, dan roh yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala).”
Artinya meyakini bahwasanya dia adalah makhluk di antara makhluk-makhluk Allah, dan bahwasanya dia terjadi dengan kalimat Allah—yaitu Allah mengatakan كُنْ (Jadilah), maka jadilah Isa ibnu Maryam meskipun dia tidak memiliki seorang ayah, terjadi dengan kalimat Allah. Dia meyakini bahwasanya Isa adalah عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ (Hamba Allah dan Rasul-Nya), bukan seorang tuhan atau anak tuhan.
“Wal jannata haqqun wannara haqqun (dan dia beriman dengan hari akhir, beriman bahwasanya di sana ada surga, surga adalah benar/hak, dan meyakini bahwasanya neraka adalah benar adanya).”
Berarti di sini ada kandungan beriman kepada Allah, beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beriman bahwasanya Isa adalah hamba Allah dan juga rasul-Nya, dan beriman dengan surga dan juga neraka.
Apa ganjarannya?
أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ (Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memasukkan orang tersebut ke dalam surga).
Tapi syaratnya harus terpenuhi. Dan di antara syaratnya, dan yang paling utama disebutkan yang pertama di sini adalah bersyahadat لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, bersaksi meyakini bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Kalau tidak ada syarat ini, maka tidak mungkin dia masuk ke dalam surga-Nya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Surga yang tentunya masing-masing dari kita beriman kepadanya, dan masing-masing dari kita ingin kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di akhirat dan masuk ke dalam surga yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, di dalamnya ada berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan tidak pernah terbetik di dalam dada-dada manusia. Betapa banyak mata-mata manusia dan betapa banyak kenikmatan yang mereka lihat, maka di dalam surga Allah sediakan kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata. Kalau dia tidak melihat, mungkin dia pernah mendengar di sana ada sebuah kenikmatan yang belum pernah dia lihat, maka di dalam surga Allah sediakan kenikmatan yang belum pernah didengar oleh telinga-telinga manusia dari awal sampai akhir. Dan seandainya masing-masing dari kita membayangkan di dalam hatinya kenikmatan yang belum pernah dia lihat, belum pernah dia dengar—dan silakan masing-masing membayangkan di dalam hatinya—maka ketahuilah nikmat yang ada di dalam surga belum pernah terbetik di dalam dada-dada manusia.
Tentunya nikmat yang seperti ini menjadikan seorang yang beriman rindu dan bersemangat untuk mendapatkannya. Dan kalau sudah masuk ke dalam surga, kekal selamanya di sana, tidak akan keluar dari surga tersebut. خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا (Kekal selamanya di sana). 10.000 tahun, 20.000 tahun, itu adalah waktu yang sangat panjang, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan mereka kekal selamanya di sana, tidak ada putusnya, tidak ada di sana akhir dari kenikmatan tersebut. Siapa di antara kita yang tidak menginginkan kenikmatan tersebut? Kenikmatan yang secara kualitas lebih baik tentunya daripada kenikmatan dunia, dan dia adalah kenikmatan yang lebih kekal.
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (Dan akhirat itu adalah lebih baik dan juga lebih kekal).
Untuk siapa Allah sediakan? Untuk orang yang bertauhid.
مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa yang mengatakan Lailahaillallah maka dia akan masuk ke dalam surga.”
Tidak mungkin masuk ke dalam surga kecuali orang yang bertauhid. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengancam:
إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya barang siapa yang menyekutukan Allah (berbuat zalim dengan kezaliman yang besar), maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengharamkan atasnya surga, dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma’idah: 72)
أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ (Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memasukkan dia ke dalam surga).
Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan hidayah kepada kita dengan tauhid ini, sehingga di dalam hati kita masing-masing berkeyakinan—meskipun kita tidak pernah melihat Allah—tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan keutamaan dan juga karunia kepada kita semuanya, dijadikan kita mengenal tauhid, meyakini bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Alhamdulillah, dengan kekurangan yang ada di dalam diri kita masing-masing, kita tidak menyembah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Meskipun dikasih uang sebesar apapun, diiming-imingi jabatan harta sebanyak apapun, kalau disuruh untuk hanya mengucapkan satu kalimat yang isinya adalah berdoa kepada selain Allah, kita tidak akan melakukan yang demikian.
Tentunya ini adalah kenikmatan yang besar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita, dan ini adalah syarat untuk masuk ke dalam surga.
عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ
“Apapun amalannya…” (Sesuai dengan apa yang dia miliki dari amal).
Keadaan amalan orang tersebut—dan maksudnya adalah—meskipun dia adalah orang yang berdosa, dia melakukan berbagai dosa yang kecil maupun yang besar, akan tetapi dia tidak melakukan kesyirikan, ibadah semuanya hanya dia serahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, maka dia punya modal untuk masuk ke dalam surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala. عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ, apapun amalan yang dia lakukan, selama dia adalah orang yang bertauhid, mengesakan Allah, tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka ini sudah menjadi modal bagi dia untuk bisa masuk surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sehingga sebagian sahabat ada di antara mereka yang dalam keadaan sakit, kemudian di sampingnya ada putranya atau orang lain, dan mengabarkan kepada orang yang ada di sekitarnya bahwasanya yang paling diharapkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika bertemu dengan Allah adalah bahwasanya “Aku tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun”. Meskipun dari sisi amalan sangat kurang, dari sisi dosa terlalu banyak dosa yang dilakukan, tapi ketika dia melihat Alhamdulillah bukan orang yang menyekutukan Allah, maka ini menjadi harapan tersendiri, harapan besar tersendiri bagi dia untuk bisa selamat di hari kiamat.
Hadis ini dikeluarkan oleh Bukhari dan juga Muslim, dan menunjukkan satu di antara keutamaan tauhid, yaitu merupakan modal bagi seseorang untuk masuk ke dalam surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Masuk ke dalam surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disebutkan dalam hadis Ubadah itu ada dua:
- Ada masuk surga dari awal (tanpa diazab).
- Atau yang kedua adalah akhirnya nanti dia akan masuk surga meskipun sebelumnya diazab terlebih dahulu di dalam neraka.
Jadi orang yang bertauhid, kalau dia menyempurnakan tauhidnya, maka dia akan masuk ke dalam surga langsung, tidak dihisab dan juga tidak diazab (sebagaimana nanti akan datang bab khusus tentang masalah ini). Tapi ada di antara seorang yang bertauhid yang dia tidak langsung masuk ke dalam surga karena sebab dosa besar yang dia lakukan, meninggal dalam keadaan belum bertobat kepada Allah; akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila berkehendak, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memasukkan dia terlebih dahulu ke dalam neraka, dan kalau Allah menghendaki maka Allah akan mengampuni. Tapi yang jelas dua-duanya tempat kembalinya di mana? Di dalam surga. Kalau dia memiliki tauhid, maka tempat kembalinya adalah surga.
Dalil Ketiga: Hadis Itban
Hadis yang setelahnya: Dan di dalam Sahih Bukhari dan juga Muslim dari hadis Itban radhiyallahu ‘anhu:
فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
“Maka sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan atas neraka orang yang mengatakan Lailahaillallah mencari dengan ucapan tadi wajah Allah.”
Apa keutamaan tauhid yang disebutkan di dalam hadis ini? Orang yang bertauhid maka akan diharamkan masuk ke dalam neraka.
فَإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ (Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan atas neraka…). Orang yang mengatakan Lailahaillallah, orang yang bertauhid.
Dan maksud dari diharamkan dari neraka: Kalau surga adalah negeri kenikmatan, maka neraka adalah sebaliknya, itu adalah negeri azab. Yang azab di dalamnya jangan kita bayangkan seperti azab yang ada di dunia ini. Api yang ada di dunia hanyalah satu di antara 70 bagian api yang ada di akhirat. Belum pedihnya dari sisi yang lain. Yang disebutkan di dalam hadis, bahwasanya orang yang paling ringan azabnya di neraka adalah orang yang dipakaikan sendal dari neraka kemudian mendidih atau meledak apa yang ada di dalam kepalanya, dan dia adalah orang yang paling ringan azabnya di dalam neraka. Dan akan didatangkan kelak seorang yang paling banyak mendapatkan kenikmatan di dunia kemudian dicelupkan sekali celup di dalam neraka, dan ketika ditanya: “Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan sebelumnya?”, dia mengatakan: “Tidak, demi Allah aku belum pernah merasakan kenikmatan sedikitpun.” Dan dia adalah orang yang paling banyak mendapatkan kenikmatan di dunia ini. Ini menunjukkan tentang pedihnya neraka.
Maka keutamaan tauhid adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengharamkan atasnya neraka. Dan diharamkan di sini juga ada dua:
- Diharamkan sama sekali masuk ke dalam neraka, dan ini tentunya adalah untuk orang yang sempurna tauhidnya. Semakin dia menyempurnakan tauhid, sehingga dia mendapatkan kesempurnaan tauhid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan haramkan dia masuk ke dalam neraka.
- Dan yang kedua adalah diharamkan dari kekekalan di dalam neraka. Di saat orang-orang kafir, orang-orang yang musyrik, orang-orang yang munafik mereka kekal di dalam neraka, orang yang bertauhid tadi meskipun dia datang kepada Allah dalam keadaan membawa dosa, maka dia tidak akan dikekalkan di dalam neraka. Suatu saat dia akan dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, entah itu dengan syafaat seorang nabi, atau syafaat malaikat, atau syafaat orang yang beriman, atau rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang mendapatkan syafaat tersebut? Hanya orang-orang yang bertauhid saja. Meskipun imannya kecil, meskipun tauhidnya kecil, tapi dia memiliki tauhid, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan mengekalkan dia di dalam neraka.
Tapi di sini disebutkan syaratnya:
يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
“Dia mengucapkan Lailahaillallah dan mencari dengan ucapan tersebut wajah Allah.”
Ingin melihat Allah di dalam surga, karena tidak mungkin melihat wajah Allah kecuali apabila dia mengucapkan Lailahaillallah, sehingga dia pun mengucapkan Lailahaillallah dengan tujuan meninggal sebagai seorang muslim, dimasukkan ke dalam surga, dan melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syaratnya harus ikhlas. Bagaimana bisa ikhlas? Harus mengetahui makna dari Lailahaillallah. Dia mengetahui maknanya, baru setelah itu dia bisa mengucapkan dengan lapang dada menerima apa yang dikandung oleh ucapan Lailahaillallah.
Tentunya ini adalah menunjukkan tentang keutamaan tauhid.
Dalil Keempat: Hadis Abu Sa’id Al-Khudri
Kemudian beliau mendatangkan hadis Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
Musa ‘alaihis salam berkata—Musa Kalimullah ‘alaihis salam—:
يَا رَبِّ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَذْكُرُكَ وَأَدْعُوكَ بِهِ
“Ya Rabb, ajarkan kepadaku sesuatu yang aku mengingat-Mu dengan sesuatu tersebut dan berdoa kepada-Mu dengan sesuatu tersebut.”
Meminta kepada Allah diajarkan sebuah zikir yang dengannya dia mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dengannya dia beribadah kepada Allah.
Allah mengatakan:
قُلْ يَا مُوسَى لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Katakan wahai Musa: Lailahaillallah.”
Ini adalah zikir yang dengannya engkau mengingat-Ku, yang dengannya engkau beribadah kepada-Ku.
Nabi Musa ‘alaihis salam berkata:
يَا رَبِّ، كُلُّ عِبَادِكَ يَقُولُونَ هَذَا
“Ya Allah, sesungguhnya seluruh hamba-hamba-Mu mengatakan ucapan ini.”
Dari semenjak hamba yang pertama, Nabi Adam ‘alaihis salam, dan seluruh hamba Allah yang datang setelahnya mereka mengatakan Lailahaillallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah). “Kullu ‘ibadika yaqulun,” seluruh hamba-hamba-Mu mengatakan yang demikian. Beliau ingin sesuatu yang beda dengan yang lain.
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
يَا مُوسَى، لَوْ أَنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِي وَالْأَرَضِينَ السَّبْعَ فِي كِفَّةٍ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فِي كِفَّةٍ، مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Wahai Musa, seandainya langit yang tujuh dan penduduk yang ada di langit yang tujuh selain Aku (para malaikat yang jumlahnya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah), dan bumi yang tujuh, semuanya berada dalam satu kiffah (satu piring timbangan), kemudian di dalam piring timbangan yang lain ditaruh kalimat Lailahaillallah…”
Dan antum lihat bagaimana perbandingan antara keduanya: langit yang tujuh beserta penduduknya (kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan seluruh bumi yang tujuh berada dalam satu piring timbangan, kemudian ditaruh di sana kalimat Lailahaillallah dalam piring timbangan yang lain.
مَالَتْ بِهِنَّ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (Niscaya kalimat Lailahaillallah itu akan mengalahkan piring timbangan yang lain).
Piring timbangan yang di situ ditaruh kalimat Lailahaillallah akan lebih berat daripada piring timbangan yang di situ ada langit yang tujuh, bumi yang tujuh, dan seluruh penduduknya kecuali Allah Rabbul ‘Alamin.
Ini menunjukkan tentang keutamaan mengucapkan Lailahaillallah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan itu adalah كَلِمَةُ التَّوْحِيْدِ. Ini adalah kalimat tauhid yang dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa yang ucapan terakhir ketika dia meninggal dunia adalah Lailahaillallah, maka dia akan masuk ke dalam surga.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya dan juga Al-Hakim di dalam Al-Mustadrak dan disahihkan oleh beliau.
Dalil Kelima: Hadis Anas bin Malik
Kemudian beliau mendatangkan hadis yang terakhir. Dan di dalam Sunan At-Tirmidzi dan hadis ini dihasankan oleh beliau, dari Anas yaitu bin Malik, pelayan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau mengatakan: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا ابْنَ آدَمَ، لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ bī شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Allah Ta’ala berfirman (ini adalah Hadis Qudsi): Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku (yaitu di hari kiamat) dengan dosa sepenuh bumi…” (Menunjukkan tentang banyaknya dosa yang dia lakukan).
“…Kemudian engkau bertemu dengan-Ku (di hari kiamat, berhadapan dengan Allah, bertemu dengan Allah) dalam keadaan engkau tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun…”
Jadi kalau dilihat dosa sepenuh bumi yang dilakukan, tidak ada satupun di situ dosa syirik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bersih dari dosa syirik. Apa ganjarannya?
لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً (Aku akan mendatangkan ampunan sepenuh bumi juga).
Menunjukkan bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa orang tersebut dengan sebab dia datang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat dalam keadaan tidak membawa dosa syirik. Artinya dia bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tentunya ini adalah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman, bagi orang-orang yang bertauhid. Dan setiap orang yang menginginkan diampuni dosanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, jalan yang paling utama, jalan keluarnya adalah dengan mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan kita mengikuti was-was dari setan yang mengatakan: “Kamu penuh dengan dosa, maka kamu harus menjadikan di sana wasilah (perantara) antara dirimu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala supaya dosamu terampuni. Hendaklah engkau mendekatkan diri kepada wali, mendekatkan diri kepada nabi, melakukan ibadah kepada orang-orang saleh tersebut dengan tujuan supaya orang saleh tersebut meminta kepada Allah supaya dosamu diampuni.”
Ini jalan setan, itu bukan jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Justru cara untuk mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan bertauhid, mengesakan Allah di dalam ibadah, bukan menyekutukan Allah dengan wali atau nabi atau orang yang saleh. Sekali lagi, hadis yang disebutkan oleh beliau yang terakhir di dalam bab ini menunjukkan tentang keutamaan tauhid, bahwasanya tauhid ini adalah sebab seseorang mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Faedah-Faedah (Masail)
Kemudian beliau membawakan beberapa faedah yang bisa kita ambil dari ayat dan juga hadis di atas:
- Luasnya Karunia Allah: Luasnya karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang bertauhid meskipun dia banyak dosanya, maka itu menjadi sebab dia dimasukkan ke dalam surga dan diharamkan dari neraka.
- Banyaknya Ganjaran Tauhid: Banyaknya ganjaran tauhid di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tadi disebutkan bahwasanya seandainya langit yang tujuh dan penduduknya (itu para malaikat) dan bumi yang tujuh ditaruh di satu piring timbangan, dan kalimat Lailahaillallah dalam timbangan yang lain, maka akan lebih berat kalimat Lailahaillallah.
- Penggugur Dosa: Bahwasanya tauhid ini menjadi sebab diampuninya dosa.
- Tafsir Al-An’am ayat 82: Tafsir dari ayat yang ada dalam surat Al-An’am yaitu firman Allah: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman…” Dan bahwasanya orang yang bertauhid mendapatkan keamanan dan juga petunjuk. Sesuai dengan kadar tauhid maka akan semakin besar keamanan dan juga petunjuk yang akan dia dapatkan.
- Perhatian pada Hadis Ubadah: Memperhatikan lima perkara yang disebutkan dalam hadis Ubadah: مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, disebutkan akan masuk ke dalam surga. Dan syarat yang pertama adalah bersyahadat Lailahaillallah, menunjukkan bahwasanya mentauhidkan Allah adalah syarat masuk ke dalam surganya Allah.
- Memahami Lailahaillallah: Apabila engkau menggabungkan antara hadis ini dengan hadis Itban dan apa yang ada setelahnya, jelas bagimu makna dari ucapan Lailahaillallah, dan juga jelas bagimu kesalahan orang-orang yang tertipu. Siapa yang dimaksud dengan orang-orang tertipu di sini? Orang yang mengatakan Lailahaillallah dan meyakini bahwasanya cukup dengan mengatakan Lailahaillallah maka dia akan selamat, padahal dia tidak mempraktikkan dan tidak mengamalkan konsekuensi dari kalimat Lailahaillallah. Dia mengatakan Lailahaillallah dan mungkin ratusan kali atau ribuan kali dalam sehari dia mengatakan Lailahaillallah, tapi dia tidak memahami maknanya, akhirnya terjerumus ke dalam sesuatu yang bertentangan dengan kalimat Lailahaillallah. Tadi disebutkan يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ, dia mengatakan Lailahaillallah dalam keadaan ingin wajah Allah, yaitu ikhlas dalam mengucapkan Lailahaillallah bukan karena dunia. Dan orang tidak bisa ikhlas dalam mengatakan Lailahaillallah kecuali ketika dia memahami maknanya.
- Pentingnya Ikhlas: Mengingatkan tentang syarat yang ada di dalam hadis Itban; syarat untuk mendapatkan keutamaan tauhid yaitu ikhlas dalam mengucapkan kalimat tauhid.
- Para Nabi Pun Butuh Peringatan: Bahwasanya para nabi, mereka pun perlu untuk mendapatkan tanbih (untuk diingatkan kembali) tentang keutamaan Lailahaillallah. Disebutkan dalam hadis tadi bahwasanya Musa ‘alaihis salam diingatkan oleh Allah, disebutkan kepada beliau tentang keutamaan Lailahaillallah. Itu para nabi atau seorang nabi, lalu bagaimana dengan kita? Tentunya kita lebih butuh untuk diingatkan terus tentang kalimat Lailahaillallah, tentang keutamaan tauhid.
- Beratnya Timbangan Tauhid: Peringatan tentang bagaimana keutamaan tauhid ini dia lebih berat daripada seluruh makhluk, padahal banyak orang yang mengucapkannya yang ringan timbangannya. Artinya dengan dia datang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan dia mengucapkan Lailahaillallah, ini menjadi modal bagi dia untuk memiliki timbangan yang berat di hari kiamat. Sebagaimana disebutkan dalam حَدِيْثُ الْبِطَاقَة (hadis bithaqah/kartu), didatangkan seseorang yang dia memiliki banyak dosa, 99 sijil (kitab yang besar) yang isinya adalah dosa-dosa dia, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mendatangkan kartu yang bertuliskan Lailahaillallah, dan ternyata kartu tersebut jauh lebih berat daripada 99 kitab besar yang isinya adalah dosa. Ini tentunya menjadikan kita sebagai seorang muslim yang telah mengenal tauhid memiliki raja’ (harapan) yang besar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki timbangan amal yang berat di hari kiamat dengan kalimat ini. Ini kalau seseorang meninggal dalam keadaan bertauhid, menjadikan kita tentunya semakin berhati-hati. Tidak ada di antara kita yang bisa menjamin meninggal dalam keadaan bertauhid, khususnya dengan banyaknya fitnah, banyaknya syubhat, dan ini menjadikan seseorang semakin dia semangat untuk mempelajari tauhid dan menjaga tauhidnya.
- Bumi Itu Tujuh Lapis: Di antara faedah yang bisa diambil di sini ada dalil bahwa bumi ini jumlahnya ada tujuh sebagaimana langit juga ada tujuh.
- Penduduk Langit: Bahwasanya langit itu memiliki penduduk, dan yang dimaksud dengan penduduk di sini adalah para malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Penetapan Sifat Allah: Penetapan sifat-sifat bagi Allah, khilafan lil Asy’ariyah (menyelisihi apa yang berada di atasnya Al-Asya’irah), karena mereka mengingkari sebagian sifat seperti sifat wajah, kemudian sifat istiwa, dan mereka mentakwil. Maka hadis yang tadi disebutkan menunjukkan bahwasanya Allah Ta’ala memiliki wajah sesuai dengan keagungan-Nya, sesuai dengan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Meninggalkan Syirik: Apabila engkau mengetahui hadis Anas dan mengetahui bahwasanya ucapan beliau di dalam hadis Itban: “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengatakan Lailahaillallah mencarinya wajah Allah”, bahwasanya meninggalkan kesyirikan itu bukan hanya ucapan dengan lisan saja, tapi harus dengan praktik dalam kehidupan sehari-hari, dia benar-benar tidak menyerahkan sedikit ibadah kepada selain Allah.
- Sifat Nabi Muhammad & Isa: Kita perhatikan penggabungan antara sifat penghambaan dan juga sebagai seorang rasul, sifat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada Nabi Isa dan juga Nabi Muhammad. Beliau berdua adalah hamba Allah dan juga rasul-Nya. Hamba Allah artinya tidak disembah karena dia adalah hamba, yang namanya hamba yang menyembah. Kalau ada orang yang menyembah Nabi Isa maka ini adalah kesalahan yang besar. Kalau ada yang menyembah kepada Nabi Muhammad maka ini adalah kesalahan yang besar dan dia menyelisihi ucapannya sendiri karena dia mengatakan أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ (bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah), harusnya jangan disembah, tapi meyakini bahwasanya beliau adalah hamba yang menyembah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. وَرَسُولُهُ (Dan beliau adalah seorang rasul) yang diutus, sehingga tidak boleh dihinakan, tidak boleh didustakan. Dan di sini ada sikap pertengahan dalam meyakini Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan juga Nabi Isa. Beliau adalah seorang hamba Allah, tidak boleh kita mendudukkan dia sebagai sesembahan; dan beliau adalah seorang Rasulullah, maka tidak boleh kita menghinakan beliau dan juga mendustakan beliau.
- Kekhususan Nabi Isa: Mengetahui tentang kekhususan Nabi Isa ‘alaihis salam bahwasanya beliau adalah kalimat Allah, dan maksud dari kalimat Allah terjadi dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala كُنْ (Jadilah) maka jadilah beliau meskipun beliau tidak memiliki seorang ayah.
- Roh dari Allah: Mengenal bahwasanya beliau adalah roh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan roh tersebut.
- Iman Surga & Neraka: Mengetahui tentang keutamaan beriman dengan surga dan juga neraka sebagaimana disebutkan dalam hadis Ubadah.
- Makna “Ala Ma Kana Minal ‘Amal”: Makna dari sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ (apapun amalannya), dan yang dimaksud adalah betapapun atau bagaimanapun besar dosa yang dia lakukan, maka kalau dia bertauhid ada modal untuk masuk ke dalam surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Adanya Mizan: Mengenal bahwasanya mizan (timbangan) di hari kiamat ini memiliki dua piring timbangan, dan ini adalah timbangan yang sangat besar, tidak mengetahui tentang besarnya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Penetapan Wajah Allah: Mengenal penyebutan wajah, yaitu wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan bahwasanya di antara sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah الْوَجْه (Al-Wajah). Tentunya sesuai dengan keagungan-Nya, tidak sama dengan wajah yang dimiliki oleh makhluk.
Demikian yang bisa kita sampaikan, Wallahu Ta’ala A’lam.
Sesi Tanya Jawab
Pertanyaan:
Bismillah. Izin bertanya Ustaz. Sebelum mengenal sunnah, saya pernah belajar ilmu dan juga pernah meminta kepada selain Allah (meminta tolong sama teman) untuk menjaga rumah saya yang sering kecurian dengan cara memanggil jin. Namun saya sadar kalau itu adalah perbuatan dosa paling besar alias syirik, langsung saya hentikan. Apakah perbuatan dosa yang saya lakukan akan diampuni oleh Allah? Dan amalan apa yang harus saya lakukan untuk menebus dosa tersebut? Mohon nasihatnya, syukran Barakallah fikum. Karena sampai sekarang saya merasa sangat berdosa, takut Allah tidak mengampuni dosa besar saya. Apakah dosa tersebut diampuni atau tidak?
Jawaban:
Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang mengabarkan, Dialah yang mengatakan:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Az-Zumar: 53)
Katakanlah wahai hamba-hamba-Ku, janganlah kalian berputus asa dari rahmat-Ku, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Makna جَمِيعًا adalah semuanya; dosa yang kecil maupun dosa yang besar, bahkan termasuk di antaranya adalah dosa syirik. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni dosa semuanya, إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).
Maka seorang muslim, bagaimanapun dosa yang pernah dia lakukan—bahkan termasuk di antaranya adalah syirik—seandainya dia terperosok ke dalamnya kemudian dia kembali kepada Allah, bertobat kepada Allah, dan terpenuhi tiga syarat:
- Menyesal.
- Kemudian dia tinggalkan; kalau masih ada di sana sisa-sisa dari kesyirikan tersebut maka dia buang.
- Kemudian dia berjanji di masa yang akan datang untuk tidak melakukan perbuatan tersebut kembali.
Maka tobatnya terpenuhi syarat-syaratnya dan mendapatkan ampunan dan juga tobat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
“Orang yang bertobat dari sebuah dosa itu seperti orang yang tidak punya dosa.”
Yang penting seseorang terpenuhi syarat tadi, dan itu adalah sesuatu yang sangat mudah: menyesal di dalam hati (dan apa yang disebutkan oleh penanya kita bisa mengetahui bagaimana penyesalan beliau), kemudian yang kedua dia tinggalkan sisa-sisa dari kesyirikan-kesyirikan tersebut, kemudian yang ketiga adalah berjanji untuk tidak melakukan itu di masa yang akan datang. Tidak ada yang lain, dan itu adalah kemudahan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada umat ini.
Cara untuk bertobat berbeda dengan umat-umat yang terdahulu, di mana dahulu mereka ketika bertobat kepada Allah ini memiliki ritual-ritual yang berat. Lihat bagaimana umatnya Nabi Musa ‘alaihis salam ketika mereka terjerumus ke dalam penyembahan kepada berhala, maka tobat mereka saat itu adalah masing-masing dari mereka membawa senjata, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan gelap, dan masing-masing dari mereka harus menggerakkan senjata tersebut dalam keadaan gelap tersebut, dan ada di antara mereka yang terbunuh dan ada di antara mereka yang masih hidup. Itu cara untuk mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu cara umat yang terdahulu.
Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan. التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ. Dan tentunya apa yang dilakukan sekarang ini, berusaha untuk belajar tauhid, mengetahui tentang macam-macam kesyirikan, ini di antara usaha seseorang untuk mendapatkan kebaikan dan mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Barakallah fikum. Itulah yang bisa kita sampaikan dan sampai bertemu kembali insya Allah pada kesempatan yang akan datang.
صَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ


