Shahih Jami’ As-Shagir: Urgensi dan Hakikat Silaturahmi
Kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga serta persatuan hati adalah anugerah Allah, bukan semata karena harta. Manusia tidak mampu menyatukan hati kecuali dengan izin Allah.

RINGKASAN MATERI KAJIAN
1. Urgensi dan Hakikat Silaturahmi (Hadis No. 108)
Kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga serta persatuan hati adalah anugerah Allah, bukan semata karena harta. Manusia tidak mampu menyatukan hati kecuali dengan izin Allah.
- Dalil Penyatuan Hati (QS. Al-Anfal: 63): لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ (“Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.”)
- Perintah Menyambung Rahim: Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: اتَّقُوا اللَّهَ وَصِلُوا أَرْحَامَكُمْ (“Bertakwalah kamu kepada Allah dan sambunglah hubungan rahimmu.”)
- Definisi Wasil (Penyambung Silaturahmi Sejati): Silaturahmi bukan sekadar aksi balas budi (mukafi). Wasil adalah orang yang tetap berbuat baik dan menyambung hubungan meskipun kerabatnya memutus hubungan atau bersikap buruk padanya. لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا (“Orang yang menyambung silaturahmi bukanlah orang yang membalas kebaikan, tetapi orang yang apabila diputus hubungan rahimnya, ia menyambungnya.”)
- Ancaman Memutus Silaturahmi: Memutus silaturahmi termasuk dosa besar yang mengundang laknat Allah dan tempat yang buruk di akhirat (Neraka), sebagaimana tercantum dalam QS. Ar-Ra’d: 25.
2. Lima Wasiat Jaminan Surga (Hadis No. 109)
Rasulullah memberikan lima pesan pokok yang jika diamalkan akan menjamin seseorang masuk surga.
- Dalil Hadis: اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ، وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ، وَصُومُوا شَهْرَكُمْ، وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ طَيِّبَةً بِهَا أَنْفُسُكُمْ، وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ (“Bertakwalah kepada Allah Rabb kalian, peliharalah salat lima waktu kalian, puasalah di bulan kalian (Ramadan), tunaikan zakat harta kalian dengan jiwa yang rida (senang hati), dan taatilah pemimpin kalian, niscaya kalian masuk surga Rabb kalian.”)
- Catatan Penting tentang Harta: Harta yang sejati adalah yang dimakan (habis), dipakai (usang), atau disedekahkan (kekal). Sedekah terbaik adalah saat sehat dan merasa sayang terhadap harta (syahih), bukan saat sekarat (wasiat dibatasi maksimal 1/3 harta).
3. Larangan Mengganggu Ketertiban Umum / Sebab Laknat (Hadis No. 110, 112, 113)
Islam sangat menjaga kebersihan dan kenyamanan publik. Rasulullah melarang keras buang hajat di tempat-tempat yang dibutuhkan orang banyak karena dapat mengundang laknat (caci maki) manusia.
- Tempat yang Dilarang untuk Buang Hajat:
- Mawarid: Sumber air atau tempat pengambilan air.
- Qari’ah ath-Thariq: Tengah jalan atau tempat orang lalu lalang.
- Adh-Dhill: Tempat berteduh/bernaung orang.
- Naq’i Ma’: Genangan air (tempat berendam/cuci).
- Dalil: اتَّقُوا الْمَلاعِنَ الثَّلاثَةَ: الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ، وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ، وَالظِّلِّ (“Waspadalah terhadap tiga hal yang membawa laknat: buang hajat di sumber air, di tengah jalan, dan di tempat berteduh.”)
4. Ikhtiar Menghindari Penyakit Menular (Hadis No. 111)
Menjelaskan keseimbangan antara tawakal (aqidah) dan ikhtiar (usaha) dalam menghadapi penyakit.
- Dalil: فِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ (“Larilah dari orang yang terkena kusta (penyakit menular) sebagaimana engkau lari dari singa.”)
- Penjelasan: Penyakit tidak menular dengan sendirinya (tanpa izin Allah), membantah keyakinan Jahiliah (La ‘adwa). Namun, syariat memerintahkan kita untuk menjauhi sebab-sebab penyakit sebagai bentuk ikhtiar dan penjagaan diri.
5. Menjaga Diri dari Neraka dengan Sedekah (Hadis No. 114 & 115)
Jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Sedekah dapat memadamkan dosa dan menjauhkan diri dari neraka.
- Dalil: اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ (“Jagalah diri kalian dari api neraka sekalipun hanya dengan (sedekah) separuh kurma. Barang siapa yang tidak mendapatkannya, maka dengan kata-kata yang baik.”)
Materi Kajian Lengkap : Awas Memutus Silaturahmi
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ
Ikhwah sekalian kaum muslimin dan muslimat pemirsa Rodja TV, pendengar Radio Rodja, dan seluruh kaum muslimin di mana pun antum berada yang turut mengikuti pengajian malam hari ini. Semoga Allah عَزَّ وَجَلَّ melimpahkan kepada kita kebahagiaan, kenikmatan yang hakiki dunia akhirat.
Kita melihat bahwa konsep kebahagiaan itu sederhana, tidak harus berharga mahal, tidak harus sukses menjadi seorang saudagar. Dan orang yang kalau dipandang semua masyarakat sepakat pengin mereka seperti itu. Tetapi ternyata kebahagiaan itu Allah yang kasih. Dan orang yang kelihatan miskin, menderita, sengsara, atau sederhana ternyata bisa mendapatkan kebahagiaan dan itu mungkin dirasa iri oleh sebagian orang yang mereka bisa dikatakan sukses.
Iya, kerukunan, kedekatan, keharmonisan rumah tangga menjadi impian banyak orang yang mungkin karena kesibukan dan justru karena kebahagiaan materi. Cita-cita duniawi sehingga terkadang membuat orang justru semakin jauh. Seolah-olah rumah ini hampa ketika terjadi kompetisi, mencari harta, kesuksesan, karier, sampai akhirnya seorang ibu jauh dari anaknya, seorang saudara jauh dari kandungnya. Seolah-olah mereka disibukkan dengan kepadatan darurat yang akhirnya bertemu dengan keluarga sendiri tidak sempat.
Saya pernah melihat dan pernah hadir di sebuah pertemuan keluarga di kota besar yang hadir dari level kalau kita bilang buyut, artinya ayah atau ibu dari kakek. Kemudian ada generasi di bawahnya, ada generasi di bawahnya, dan ada generasi di bawahnya yang dikatakan cicit. Harmonis, ramai semarak. Acara bukan lebaran, acara yang memang mereka ingin ngumpul bareng saja, dikemas dengan makan, kumpul di satu tempat dan memang mereka mengkhususkan waktu. Kelihatan sekali bahagia dan memang anak dari penyelenggara ini pun sudah banyak yang pensiun karena memang sudah tua dan alangkah riuhnya, alangkah indahnya dan bahagia sekali ketemu “Gimana sehat? Oh, itu iya meang ya. Kayak beginilah orang tua.” Terus kemudian mereka ketemu sama sepupu, sepupu dua kali atau sepupu yang lebih jauh dari itu. Kemudian bertanya kabar bagaimana kegiatan harian dan seterusnya.
Kita lihat ini barangkali sudah super jarang di sebagian keluarga. Bahkan sebagian keluarga memiliki rangkaian hubungan yang kalau distrukturkan, dibagankan tidak terlalu jauh. Ternyata kakek dia adik kakak dengan kakek yang sini. Kemudian ini bahkan paman tetapi tidak bisa. Sudah ketemu tidak bisa. Wallahu a’lam. Sudah masing-masing orang punya ujian berbeda. Lalu dia seolah mencari pembenaran atau berusaha menghibur diri, “Kayaknya saya tidak bisa. Mungkin ini menjadi takdir Ilahi. Saya tidak bisa bertemu sama sekali dengan kerabat saya.” Saya tidak bertemu sekali dua kali. Apalagi ini belum kalau kita berbicara tentang masalah warisan atau dulu tidak adil dalam menerima perlakuan atau yang seterusnya.
Tetapi ini sekedar orang yang punya keluarga tapi tidak sempat untuk bertemu, tidak memiliki waktu untuk berbagi dan seterusnya. Berat sekali. Apalagi ketika sampai terjadi kesensitivitas, sampai ada orang tidak enak untuk datang, sungkan, canggung, atau bahkan suuzan. “Ini kenapa sering datang?” Sebagian orang sampai mengatakan kepada orang lain, “Kamu jangan dekat-dekat itu nanti bahaya.” Ada apa bahaya ini saudara?
Maka kita baru tahu dan harus menerima kenyataan bahwa keharmonisan dan persatuan hati itu semua urusan Allah. Allah menyatakan:
لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
“Kalau seandainya kamu sumbangkan kekayaanmu untuk menyatukan hati semua orang agar bisa saling mencinta, kamu tidak akan bisa, gagal kamu untuk membuat hati semua sepakat dan satu warna, gak bisa. Tetapi Allah yang akan menyatukan hati-hati itu.”
Sehingga ketika kita ingin kompak, ingin kompromi dan teratur, ingin berdekatan dan tidak saling tanafur (dalam bahasa Arab artinya saling mengingkari, menyingkuri, orang Jawa bilang itu artinya tidak akrab ya, tidak bisa harmonis). Agar tidak terjadi yang seperti itu, maka kita mencari rida Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Kita buat Allah rida sehingga Allah yang akan mendekatkan hati ini. Dan sebaik-baik rumah tangga yang diwarnai dengan ketaatan kepada Allah dan mencari ridanya. Dan sejelek-jelek orang ketika justru ingin memperlihatkan keharmonisan yang dipertontonkan justru yang menjadi murka Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.
Hadis 108: Perintah Menyambung Silaturahmi
Baik, hadis pertama singkat. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan ini hadis yang ke-108 ya. Disebutkan oleh Ibnu Asakir dari hadis Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللهُ عَنْهُ dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani. Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
اتَّقُوا اللَّهَ وَصِلُوا أَرْحَامَكُمْ
“Bertakwalah kamu kepada Allah, dan sambunglah hubungan rahimmu.”
Ini kata sudah menjadi baku bahkan menjadi sebuah kamus Indonesia. Kebiasaan yang kita juga turun-temurun dan menjadi sebuah kosakata formal atau tidak formal. Ketika ada orang ingin mengunjungi sampai mereka menggunakan istilah “saya pengin silaturahmi”. Di dalam bahasa Arab silah artinya hubungan, Ar-Rahim artinya rahim. Sehingga kata-kata silaturahim adalah menyambung hubungan kekerabatan. Bukan orang yang menjadi rekan kerja, teman sejawat atau relasi bisnis. Kemudian mereka akan ngopi lalu dikatakan silaturahmi. Akan tetapi silaturahim merupakan sebuah aktivitas antar keluarga.
Dan dikatakan bahwa sempat para ulama berbeda pendapat. Siapakah orang yang dikatakan dzawul arham?
وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ
“Masing-masing kerabat yang menjadi rahim. Kerabat yang dihubungkan dengan masalah rahim ini masing-masing di antara mereka tidak sama hubungannya. Sebagian lebih dekat, lebih pantas diprioritaskan untuk diperhatikan daripada yang lain.”
Ini dalam Al-Qur’an dikatakan demikian. Siapa mereka? Sebagian ulama mengatakan kullu rahimin mahram. Yang dikatakan ulul arham, kerabat yang harus disambung, dijaga kekerabatan dan hubungan mereka adalah orang yang mahram. Yang ada hubungan dengan kita dengan kemahraman. Ada yang mengatakan setiap mereka yang mewarisi. Dan kita tahu bahwa warisan itu sudah ditetapkan dalam syariat; pertama orang-orang terdekat seperti saudari, kumpulan saudara, saudara kandung dan seayah, kemudian paman, kemudian orang tua, anak, bahkan saudara seibu dan seterusnya. Nah, sebagian mereka agak jauh, akan tetapi masuk dalam kategori rahim atau arham (mewarisi).
Sebagian ulama mengatakan tidak mesti yang mewarisi mereka adalah hubungan kerabat yang ada kaitannya karena ada nasab. Sehingga umum tidak hanya yang mewarisi, bahkan yang tidak mewarisi, tapi masih ada hubungan nasabnya meskipun jauh, maka mereka termasuk orang yang berhak diperhatikan interaksi yang masif dan lebih banyak. Ini namanya silaturahim ya. Yang kedua tentunya semakin dekat semakin perlu ditambah.
Para ulama mengatakan ini yang penting:
لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
(Dalam Sahih Bukhari disebutkan) “Orang yang dikatakan menyambung silaturahmi bukan orang yang membalas sebuah kunjungan dengan kunjungan yang lain. Akan tetapi orang yang bisa dikatakan menyambung silaturahim adalah apabila engkau putus hubungan dengan dia, dia tetap datang untuk menyambung.”
Ini namanya nyambung. Kalau orang dikunjungi kemudian, “Wah, yang sana sudah ngunjungin kita, kita belum ngunjungin lama. Ayo harus kita bela-belain waktunya untuk mengunjungi balas.” Ini namanya orang karena ingin mempertahankan kepentingan atau mempertahankan kewajaran. Tetapi yang dikatakan orang menyambung hubungan kekerabatan adalah orang yang sempat diputus, tidak dianggap, tapi dia berusaha mencari dan mengakurkan. Ini mahal.
Selain seseorang mengunjungi, apalagi ngalah. Kata kita orang kita mengatakan mengalah, merendah. Apalagi jika seandainya status yang ngunjungin tidak lebih baik dari pandangan dunia. Karena lebih miskin, karena tidak lebih terhormat, status sosialnya biasa aja, lalu datang. Minimal orang yang punya rumah mengatakan, “Ya, pantas dia datang ke tempat ana karena ana yang lebih kaya.” Atau “Itu kenapa ya datang ke sini mau apa?” Subhanallah. Dalam keadaan seperti itu ada orang yang mengatakan, “Saya tidak peduli. Saya tetap ingin menyambung sebuah ibadah ini.”
Dan Allah sudah katakan:
وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ
“Orang-orang yang menyambung hubungan yang memang Allah perintahkan untuk disambung. Mereka takut kepada Rabbnya dan mereka khawatir akan perhitungan yang susah.”
Lalu Allah puji mereka:
أُولَٰئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ
“Mereka nanti pada hari kiamat akan mendapatkan tempat yang luar biasa (surga maksudnya).”
Tapi sebaliknya:
وَالَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ
“Dan orang-orang yang suka mengkhianati janji dan mereka memutus hubungan yang Allah padahal perintahkan untuk disambung hubungan itu dan mereka ngerusak entah ngerusak hubungan, ngerusak suasana, ngerusak dunia dan seterusnya. Merekalah orang yang pantas menerima laknat dan akan mendapat tempat yang paling jelek.”
Sehingga Adz-Dzahabi رَحِمَهُ اللهُ mengategorikan memutus silaturahmi termasuk dosa besar. Allah ancam di neraka. Kemudian Allah berikan kata-kata laknat untuk orang yang tidak menyambung atau bahkan memutuskan hubungan kekerabatan. Maka perkaranya tidak mudah. Tadi kita katakan ada sebagian orang sampai merasa terazab, tersiksa dia dengan masalah keluarga, kerabat. Dan tidak jarang orang seperti ini melihat ada orang harmonis, kangen, iri, bahkan seolah dia mengatakan, “Kayaknya kalau di keluarga ana mustahil.” “Ya sudah gitu sudah gitu. Kalau ditanya kenapa memang kenapa siapa nyalah tuh? Hm. Gak kayaknya sudah beda.”
Ada orang yang memang sampai orang lain pun tidak habis pikir “ini kan keluarga, ini kan saudara, ini kan ini kan”. Tapi kenapa kok bisa begitu? Sampai seperti musuh bahkan lebih parah dari musuh. Nah, ini ujian dari Allah dan ada caranya memang raih apa yang menjadi keridaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Tadi kita sebutkan ayatnya Allah yang akan menyatukan itu. Dan ini kebahagiaan yang hakiki. Kita sebutkan bahwa sebagaimana orang yang memutus silaturahim akan diancam, dilaknat. Maka orang yang menyambung, ngalah datang ke rumahnya, “ya gak apa-apa saya memang seperti ini”, sudah.
Dan di zaman Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ada sebagian sahabat bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي
“Ya Rasul, aku punya keluarga, aku berusaha nyambung dengan mereka, tapi mereka kayak acuh, mutus, kayak enggak mau tahu.”
أَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ
“Aku sampai mikirkan mereka, mereka cuek sama aku.”
Kata Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, “Inta…” Kalau kamu betul-betul seperti yang kamu ceritakan, فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ, kamu seperti nyuapin mereka dengan debu atau apa namanya? pasir yang panas karena mereka tahu mereka dalam keadaan salah. Kemudian mereka pun malu sebenarnya dan kadang-kadang tersiksa “ini kenapa datang ke saya? Saya enggak bisa untuk balas datang ke dia”. Ya, salah siapa? Kalau ada orang yang memang tidak mampu karena ada uzur, gak ada masalah. Itu semua dimaklumi, enggak ada masalah itu. Tapi masalahnya kadang-kadang ada orang yang gengsi, kaku, dan tidak mau merubah prinsip atau mungkin merasa dia terhina kalau dia yang datang.
Ya, yang jelas Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ perintahkan untuk menyambung silaturahim. Karena memang menjaga hubungan ini merupakan sebuah ajaran yang mulia di dalam syariat kita. Dan memang menyambung silaturahmi itu tidak murni dalam bentuk kunjungan. Ya, kalau kita memahami dan yang kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari biasanya orang bilang, “Saya mau silaturahim.” Apa maksudnya? Mau datang gitu. Dan memang sebenarnya menjaga hubungan itu diwakili, dicerminkan dengan kunjungan memang. Apalagi ketika seorang datang berkunjung dengan keluarganya kemudian memang seperti bukan acara formal bertamu, akan tetapi santai, tenang, bercengkerama, bahkan istirahat, sempat tidur di situ. Orang melihatnya tenang, teduh. Akur banget gitu. Tetapi tidak mesti seperti itu juga. Karena menyambung ini bisa diartikan dengan al-birr, melakukan kebaikan, bertanya kabar, bersedekah, membantu.
Bahkan intinya dua: الْإِحْسَانُ وَعَدَمُ الْأَذَى. Bagaimana berbuat baik dan menjaga agar tidak menyakiti. Itu intinya. Ini yang dijelaskan oleh para syurah tentang hadis ini. Kalaupun seandainya tidak bisa datang karena terbatas dengan jarak atau dengan kesibukan, maka setidaknya masih ada komunikasi di zaman sekarang. Tidak kurang-kurangnya grup keluarga sampai kebanyakan itu ya sampai grup bercabang-cabang. Ada grup ini nanti mecah lagi. Ada grup ini ada pecah lagi grup ini. Ada yang grup besar, ada yang grup ini. Tapi kalau seandainya hatinya masih hampa, apa manfaatnya itu? Dan memang ini tidak bisa mewakili keharmonisan tepat. Tapi setidaknya seorang berusaha agar keteduhan ini didapat. Dan tenang sekali ketika seorang di tengah keluarganya akur, dia akan mendapatkan sebuah ketenangan yang dia bisa buktikan.
Ya, ini hadis yang pertama. Dan kita ingat ada seorang Yahudi yang masuk Islam. Beliau bernama Abdullah Ibnu Salam رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. Beliau ingat di antara pesan awal yang dia dengar dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. “Ayyuhannas…” Beliau mengatakan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ di awal-awal Islam yang aku dengar dan aku ketemu beliau nasihatnya adalah:
أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
“Wahai sekalian manusia, tebarkan salam, dan berikan makanan (gampang untuk ngasih orang, usahakan selalu ngasih orang makanan, bantuan, santunan, atau bantuanlah yang semacamnya begitu), kemudian sambunglah hubungan kekerabatan, dan berusahalah salat malam ketika orang-orang tertidur, kamu akan masuk surga dengan keselamatan.”
Di sini ada catatannya وَصِلُوا الْأَرْحَامَ (berusahalah untuk menyambung hubungan kekerabatan). Dan subhanallah kalau kita baca di antara kebiasaan orang Arab Jahiliah, ternyata mereka suka untuk memutus silaturahim. Ya, semoga Allah hindarkan kita dari yang seperti itu.
Hadis 109: Lima Pesan Nabi
Baik, hadis yang kedua nomor 109 diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Hab ini Ibnu Hibban, Kaf artinya Al-Hakim. Dari sahabat Abu Umamah رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. Dan dalam Musnad Imam Ahmad pun ini disebutkan hadisnya Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:
اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ، وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ، وَصُومُوا شَهْرَكُمْ، وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ طَيِّبَةً بِهَا أَنْفُسُكُمْ، وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ
“Bertakwalah kepada Allah Rabb kalian, peliharalah salat lima waktu kalian, puasalah di bulan kalian (Ramadan), tunaikan zakat harta kalian dengan jiwa yang rida (senang hati), dan taatilah pemimpin kalian, niscaya kalian masuk surga Rabb kalian.”
Nah, ini ada empat pesan dari Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ selain ketakwaan. Karena memang hadis yang seperti kita sebutkan kemarin ini berkaitan dengan pesan-pesan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Bertakwalah kalian kepada Allah. Jadikan ada perisai dan tameng agar kalian tidak dihukum oleh Allah عَزَّ وَجَلَّ. Di antaranya dikatakan صَلُّوا خَمْسَكُمْ, peliharalah salat fardu lima waktu.
Dan ini pesan ini sebenarnya disampaikan oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ketika Haji Wada’, haji perpisahan dan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ akan wafat. Diceritakan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bahkan mengawali dengan khotbahnya:
إِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَلَا أُمَّةَ بَعْدَكُمْ
“Ketahuilah bahwa setelah ini tidak ada seorang nabi setelah aku. Dan kalian adalah umat nabi terakhir.”
Karena tidak ada nabi lagi. Tidak ada nabi lagi. Maka umat nabi yang menjadi pengikut Nabi ya sudah umat Rasul صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Dan memang Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً (aku diutus bukan untuk kabilahku, bangsaku, atau kaumku saja, tetapi untuk semua orang, semuanya sampai akhir zaman). Maka kata Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, ini pegangi pesanku ya, ingat-ingat wasiatku. Yang pertama صَلُّوا خَمْسَكُمْ. Jangan sampai ketinggalan, lupa, apalagi meremehkan. Salat lima waktu. وَصُومُوا شَهْرَكُمْ. Dan jangan tinggalkan pula puasa. Ramadan.
Semoga Allah عَزَّ وَجَلَّ memberikan kekuatan kita untuk mendapatkan bulan Ramadan di tahun ini. Dan semoga bulan itu akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ya. Dan orang yang panjang umur kemudian sehat dan dia tahu kewajiban Ramadan, dia akan melaksanakan itu. Mau tidak mau dia akan melaksanakan ibadah rutinitas tahunan itu. Akan tetapi bagaimana agar ibadah itu tidak hanya bernuansa rutinitas, akan tetapi ada sebuah kesempatan kompetisi yang kita tunggu dan kita sudah jauh-jauh hari mempersiapkannya agar salat malam kita, agar sedekah dan puasa kita, baca Al-Qur’an dan doa kita bisa maksimal dan akan mendapatkan jawaban dari Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Artinya ini pesan صُومُوا شَهْرَكُمْ. Puasalah dan manfaatkan ibadah di bulan itu.
وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ طَيِّبَةً بِهَا أَنْفُسُكُمْ. Dan tunaikan zakat yang menjadi hak Allah. Diwajibkan kepada kalian di harta yang Allah titipkan. Bukan punya kita, tapi Allah yang kasih untuk diujikan kepada kita. Apa kita tunaikan hak Allah atau tidak. Kalau sudah mencapai target minimal kekayaan seseorang, mencapai nisab istilah fikihnya, kemudian batas minimal kekayaan itu bertahan selama 1 tahun yang dikenal dengan al-haul ya 1 tahun, maka seorang wajib untuk menunaikan zakat. Nisab plus haul, batas minimal kekayaan seseorang. Kapan orang dikatakan kaya? Minimalnya seberapa? Dia punya nisab 85 gram emas, ada kisaran Rp200 juta. Itu orang kalau punya uang 200 juta kemudian tidak dipakai karena ditabung terus-menerus sampai 1 tahun maka dia sudah wajib untuk membayar zakat. Termasuk ketika ada orang panen padi berhektar-hektar dia punya, maka ada zakatnya itu.
Kemudian disebutkan pula ketika kita mengeluarkan bukan dalam keadaan dongkol, tapi طَيِّبَةً بِهَا أَنْفُسُكُمْ, hati kalian rida ketika mengeluarkan ini akan aku jadikan betul-betul hartaku. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan:
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِي مَالِي… وَلَيْسَ لَكَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
“Manusia berkata ‘hartaku, hartaku’. Dan tidaklah bagimu dari hartamu kecuali apa yang kamu makan lalu habis, atau yang kamu pakai lalu usang, atau yang kamu sedekahkan lalu kamu kekalkan.”
Hakikat kekayaan dia itu, rezeki dia itu cuman tiga. Yang pertama yang dia makan yang sampai habis tuh kenyang, kemudian makanannya juga habis, bermanfaat atau tidak gitu. Yang kedua adalah pakaian yang dia pakai itu hakikat rezeki dia. Kelihatan ini karena dia punya uang dibeli bajunya atau mungkin dikasih orang baju lalu dia pakai dan dia manfaatkan. Maka itu hakikat jatah rezeki dia. Kemudian yang dia sedekahkan kepada Allah itu yang akan bisa dia bawa dan menjadi persiapan menghadap Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Nah, ini yang akan tersisa, yang akan bisa diharapkan lebih banyak.
Kalau pakaian kemudian usang, ya sudah dibuang. Mungkin jadi gombal dulu atau mungkin kebuang atau mungkin apa. Makanan habis-habis sudah selesai. Terkadang orang kaya ketika membuat jamuan semua meja dipenuhin. Apakah bisa dia makan semua yang ada di depan mejanya? Enggak bisa. Maka rezeki dia ya sudah seukuran makan yang dia pakai. Nah, kalau dia pengin uang yang dia manfaatkan itu seperti tertabung dan betul-betul milik dia sampai hari kiamat, maka perlu dia sedekahkan. Kata Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Agar betul-betul itu bisa dibawa pergi seperti orang yang kerja di luar negeri. Dia orang Indonesia asli tapi dia ada kontrak kemudian gajinya pakai mata uang asing sehingga lebih besar.
Baik dia di sana mikir “saya ini tinggal sebagai seorang pendatang, sebagai seorang pekerja. Satu saat nanti saya akan pulang.” Maka bagaimana hasil dari kerja saya di sini ini bisa saya kirim entah bikin rumah di tanah air, di kampung halaman atau dia ngirim keluarga yang ditinggalkan atau dipakai untuk membantu ini dan seterusnya. Dia akan bahagia ketika gaji dia kalaupun tidak 100% paling tidak 80% dia bisa manfaatkan untuk ditabung dibawa ke rumah kampung halaman. Tapi kalau ada orang kerja kemudian dia foya-foya untuk membeli barang-barang yang seperti orang pribumi, beli mobil yang mewah, bahkan berusaha bikin rumah. Padahal dia enggak pengin mati di sana. Dia hanya pengin mencari uang. Kalau sudah cukup, maka dia akan pulang ke kampung halaman. Lalu orang bijak dia tidak akan habiskan duit di situ karena dia akan tinggalkan itu. Dia akan berupaya bagaimana kerja sampai menjauh dari keluarga hasilnya bisa kelihatan. Dikirim transfer ketika pulang rumah sudah jadi, keluarga tenang dan seterusnya. Itu hanya contoh kecil.
Ketika seorang ngerti akan kembali ke akhirat, maka dari titipan Allah ini seberapa yang dia siapkan untuk dia betulan. Lalu ada orang ketika akan mati, dia mengatakan, “Nanti kalau saya mati, pokoknya rumah ini dikasih ke panti asuhan, mobil itu diwakafkan, nanti kasih anak miskin itu sekian juta dan seterusnya.” Ya, para ulama justru mengatakan orang kalau sudah sakit keras dan diambang kematian kata-katanya terhadap hartanya akan dihukumi seperti wasiat. Bukan warisan, tapi wasiat. Karena dia ngomong sudah di bagian akhir dan seperti orang yang mau meninggal. Sehingga yang diomongkan itu menjadi wasiat. Wasiat pun di dalam syariat tidak boleh lebih dari sepertiga. Kalau sudah mau mati aja, “tolong ini berikan ini, ini berikan ini, berikan ini”. Kenapa enggak kemarin ketika masih segar gitu?
Maka Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah ditanya, أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ “Sedekah apa yang paling afdal?” Maka beliau mengatakan:
أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى
“Kamu bersedekah dalam keadaan sehat dan masih pelit, karena kamu pun masih takut miskin dan berharap kaya.”
Kata-kata ini bukan dimiliki oleh orang-orang yang betul-betul enggak punya dan sederhana atau pas-pasan. Enggak. Orang yang sudah sukses, proyeknya bisa nutupin istilah orang tujuh turunan masih enggak usah makan enggak makan dari hasil proyek itu saja. Atau bahkan ada orang ngemis dan dia sudah sampai berhasil memiliki enam bangunan gedung dari hasil ngemis. Nah, wallahu a’lam kalau tidak salah sampai enam gedung atau satu gedung tapi tinggi sekali beberapa lantai hasil itu. Ini salah satu contoh pekerjaan. Tapi bukan itu poinnya. Ketika sebagian orang mengatakan kalau saya berhenti kerja meskipun sekarang sudah ada rumah, ada kendaraan dan mungkin ada uang yang diterima dalam bentuk keuntungan dan semacamnya. Tapi ternyata dia akan berpikir, “Ya, kalau ini kita untung terus. Kalau seandainya nanti tahu-tahu bangkrut, bagaimana? Kalau tahu-tahu miskin dan kekayaan saya harus mau tidak mau aku lepas satu persatu.”
Orang mikirnya begitu. Orang akhirnya dia khawatir. Khawatir akan jatuh miskin. Maka kalau sedekah dalam keadaan masih begitu, ah ini sedekahnya hebat sekali. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ. Ketika kamu dalam keadaan sehat dan masih pelit, kamu takut miskin. Ya, kalau orang sudah mau mati atau tua, ah dia enggak takut miskin. Ah, sudah miskin, miskin enggak miskin saya akan dikubur kamar utama saya, mobil koleksi saya, harta yang berjibun di rekening-rekening itu enggak bakal dibawa ke kuburan. Maka daripada mangkrak sekarang saya pengin wasiatkan ke sini, saya ke sini sini dari kemarin ngapain?
Kalau sudah akan dalam kondisi sakaratul maut, sakit keras sampai dihukumi sebagai wasiat, maka tidak boleh lebih dari sepertiga kekayaannya. Karena ahli waris lebih berhak untuk memanfaatkan kekayaan itu. Kalau mau sedekah, nah sekarang mumpung masih ada kesempatan. Baik. Ini maksudnya ketika seorang bisa menunaikan zakat sedekah طَيِّبَةً بِهَا أَنْفُسُكُمْ dalam keadaan rida, lapang dada dan dia tidak keberatan apalagi sampai menyesal.
وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ. Dan selalu taati pemerintah kalian, pemerintah muslim. Apalagi ketika memerintahkan kepada sebuah undang-undang peraturan yang ingin menghasilkan maslahat bersama. Maka seorang muslim mendapatkan tuntutan dalam syariat untuk taat. Selama perintah itu tidak bernuansa maksiat, maka kita memiliki kewajiban untuk mentaati dan menunaikan semua perintah yang tidak ada kaitannya dengan maksiat.
Ya Allah menyatakan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ
“Taati Allah, taati Rasul dan taati pemerintah kalian.”
Maka para ulama mengatakan perintah itu ketika ada salahnya maka yang kita jauhi adalah kesalahannya. Akan tetapi perintah yang mubah atau perintah yang apalagi sunah bahkan wajib maka kita perlu merealisasikan demi kemaslahatan dan perintah syariat. Kemudian Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ, kalian akan masuk surga yang dijanjikan oleh Rabb kalian.
Hadis 110, 112, 113: Larangan Membuang Hajat Sembarangan
Baik. Kemudian hadis berikutnya ini ada tiga riwayat atau tiga redaksi dan tiga hadis. Kita akan sebutkan sekaligus ya. Hadis yang ke-110. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan:
اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ
“Awas waspadai dari dua hal yang bisa mengundang laknat.”
Ini nomor 110 ya. Hati-hati dari dua hal yang bisa mengundang laknat. Itu artinya اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ. Dalam riwayat Sahih Muslim kalau tidak salah atau Sahih Bukhari dikatakan اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ. Waspadai dua yang bisa betul-betul membuat orang laknat kamu. Apa itu?
الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ
“Orang yang buang hajat di tempat lewatnya orang (orang lain punya jalan eh dikotorin dengan najisnya dia) atau di tempat berteduh mereka.”
Entah berteduh di kebun, di taman, di bawah pohon, apalagi di emperan rumah. Tahu-tahu ada orang buang hajat di situ. Ini betul-betul mendatangkan laknat. Siapa ini? Begini. Terkadang kita bilang ini apa adanya ya realita ya. Jangankan kotoran manusia, kotoran kucing saja. Tetangga akan mengatakan “ini kucingnya si fulan ya kan”. Istilahnya orang nyangkanya ini kayaknya perilaku fulan yang pengin mainan kucing, memelihara kucing, tapi tidak mau tanggung jawab dengan kotorannya sehingga seringkali mengganggu tetangganya. Nanti kalau kucingnya disabet atau diapain, dilempar atau diapa, marah-marahnya kayak salah satu keluarganya aja dilecehkan.
Nah, kita katakan berusahalah untuk tidak saling menyakiti. Ya, kita tidak benarkan ketika ada orang yang menyiksa hewan. Apalagi kalau hewan peliharaan tetangga ya. Tetapi masalahnya ketika kotoran kucing aja bisa membuat orang mencak-mencak, ngamuk dan seperti sumpah serapah. Maka kalau kotoran manusia bagaimana? Disebutkan oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dalam hadis ini, hati-hati jangan sampai kamu melanggar dua hal yang mendatangkan laknat ini. Yaitu buang hajat di tempat lewatnya orang atau di tempat berteduh mereka.
Baik, ini hadis ke-110. Kemudian hadis yang kedua di 112 ini intinya sama. Hadis yang ke-112. Disebutkan dalam Abu Daud, Sunan Abi Daud. Kemudian Ha ini Ibnu Majah. Kemudian yang ketiga Kaf itu Al-Hakim. Kemudian Ha Qof itu Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Ya, disebutkan dari sahabat Muadz bin Jabal رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan:
اتَّقُوا الْمَلاعِنَ الثَّلاثَةَ: الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ، وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ، وَالظِّلِّ
“Waspadai dari tiga tempat laknat: buang hajat di sumber air (mawarid), di tengah jalan (qariah ath-thariq), dan di tempat berteduh (adh-dhill).”
Kalau tadi dua ini sekarang tiga. Tiga penyebab laknat ya. Yang pertama الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ. Buang hajat di tempat air manusia. Entah itu sumber atau sungai. Ya, jangan macam-macam di situ. Apalagi ketika sungai ini dipakai warga untuk cuci baju. Tahu-tahu ada kiriman set ini siapa ini buang hajat di sini? Kenapa tidak ke sana? Misalkan di kampung itu biasanya punya kesepakatan kalau mau buang hajat jangan di atas tapi turun ke bawah karena di sana sudah menjadi tempat kesepakatan. Nanti tidak akan ganggu orang yang nyuci baju di tengah. Tapi kalau buang hajat-tahu naik dulu ke sana. Kemudian nanti dilewatin gitu. Ada orang lagi nyuci, ada orang mandi. Bahkan jengkel banget ketika ada yang melakukan seperti itu. Padahal sudah ada kesepakatan dan seterusnya. Maka ini termasuk salah satu yang mendatangkan laknat ya. Salah satu yang mendatangkan laknat ketika seorang membuang kotorannya di tempat-tempat yang diandalkan manusia dari air, sumber, dan sungai bahkan sumur. Kalau ada orang buang hajat di sumur, wah na’udzubillah ini kenapa tidak pakai perasaan atau bahkan orang ini nantang gitu. Ini bisa dilaknat. Ketika orang enggak ngerti siapa pelakunya, dia lihat tahu-tahu loh kok ada kotoran begini, dia akan melaknat langsung. “Ini mudah-mudahan ya yang ngerjakan enggak bisa lagi dia buang hajat gitu.”
Nah, ini hati-hati kata Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Yang kedua, وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ. Qariah itu artinya bisa diartikan bagian tengah atau bagian inti yang biasanya orang kalau lewat akan milih wilayah itu ya tempat itu. Ini namanya qariatut thariq. Hati-hati juga jangan dipakai untuk buang hajat. Di tengah-tengah ada orang buang hajat di situ. Orang lihat langsung melaknat itu. “Ini siapa yang bikin kayak gini?” Begitu.
Kemudian yang ketiga, وَالظِّلِّ. Tempat berteduhnya orang lagi capek kemudian siang-siang pengin istirahat kemudian duduk-duduk bahkan mungkin gelar karpet tahu-tahu ada kotoran najisnya. Larangan itu karena najis, karena bau, karena menjijikkan. Ya, ada orang jalan pagi sengaja biar jantungnya kuat tidak pakai sandal. Seringkali marah karena nginjak ludah orang. Padahal ludah orang juga bukan yang kuning, tetapi yang putih tipis. Tapi karena ini tempat sudah disediakan untuk pejalan kaki, bahkan untuk olahraga, kok ada orang yang ngeludah di situ. Ini kalau ludah, kalau kotoran orang bagaimana?
Maka ini termasuk salah satu yang diperingatkan keras oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Awas hati-hati tiga hal yang dapat mendatangkan laknat. Ini juga diulang lagi oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan disebutkan dalam hadis yang ke-113. Ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari sahabat Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan اتَّقُوا الْمَلاعِنَ. 113 dikatakan hati-hati kalian dari sebab atau tiga sebab laknat أَنْ يَقْعُدَ أَحَدُكُمْ فِي ظِلٍّ يُسْتَظَلُّ فِيهِ (salah seorang di antara kalian duduk di tempat yang biasa dipakai untuk berteduh orang-orang ini maksudnya duduk maksudnya adalah buang hajat seperti yang ditafsirkan dalam hadis-hadis sebelumnya) أَوْ فِي طَرِيقٍ atau di tengah jalan أَوْ فِي نَقْعِ مَاءٍ atau di tempat air tergenang.
Air tergenang biasanya dipakai untuk bilas atau untuk pemandangan atau untuk mendinginkan kaki, cuci muka dan seterusnya ketika misalkan ada sumber dan di bawah pohon kemudian ada batu besarnya lalu muncul mata air dan orang sering datang ke situ untuk cuci muka, wudu dan seterusnya. Tahu-tahu ada orang buang hajat di situ. Dilaknat itu benar. Orang lihatnya langsung nyumpahin dan tidak rida bahkan doakan jelek. Maka di dalam syariat yang seperti ini termasuk yang dilarang, ditegur keras. Ya, ditegur keras hati-hati. Dan ini untuk maslahat semuanya ya.
Maka larangan ini berlaku untuk setiap yang bisa melukai, mengotori, najisin dan menjijikkan dengan hal-hal yang disebutkan dalam hadis ini. Yang kedua, ini menunjukkan lawannya ada perintah dalam syariat untuk membahagiakan kaum muslimin, tidak menyakiti mereka, membahagiakan mereka. Bagaimana justru ketika seorang bisa membantu membersihkan, memperhatikan keindahan, bahkan berusaha untuk berkompetisi dalam berkhidmah, memberikan layanan kepada kaum muslimin lainnya. Ini luar biasa sekali. Bukan hanya tidak mengotori, tapi dia berusaha untuk membersihkan yang ada. Ini bagus sekali.
Baik. Ini tiga hadis yang maknanya sama ya. Artinya ini ada ancaman dan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan orang yang buang hajat di tempat istirahat orang ini rata-rata akan mendatangkan kemarahan dan sumpah serapah dan laknat dari orang yang mendapatkan kotoran itu.
Hadis 111: Menghindari Penyakit Menular
Baik, kembali ke hadis 111. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dalam hadis Abu Hurairah diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam At-Tarikh. Beliau mengatakan:
اتَّقُوا الْمَجْذُومَ كَمَا يُتَّقَى الْأَسَدُ
“Hindari, jauhi, waspadalah dari orang yang kena penyakit kulit (kusta/lepra) sebagaimana singa harus dihindari.”
Kalau diterjemahkan itu majzum atau orang yang kena penyakit juzam itu adalah orang yang kulitnya terluka bahkan bisa mohon maaf ini sampai tangan, kaki, badan menjadi tidak sempurna bentuknya entah karena luka, entah karena membengkok atau karena apa. Sampai orang mengatakan juzam itu artinya seperti lepra atau kusta. Baik. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan hindari dan waspadai orang yang berpenyakitan kulit seperti ini karena khawatirnya menular. Ya. Kemudian كَمَا يُتَّقَى الْأَسَدُ. Sebagaimana sinya harus dihindari, dijauhi jangan sampai dekat-dekat dicaplok nanti.
Nah, hadis ini sahih. Bahkan maknanya ada dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ… وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ
“Tidak ada penyakit menular, tidak ada thiyarah, tidak ada hamah, dan tidak ada safar… dan larilah dari orang yang terkena kusta sebagaimana engkau lari dari singa.”
Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan enggak ada itu penyakit menular. Maksudnya bagaimana? Orang Arab Jahiliah dulu mengatakan bahwa sebagian penyakit ini membuat orang kualat sehingga bisa berpindah-pindah dengan sendirinya. Penyakit itu bisa dengan sendirinya tanpa ditakdirkan Allah akan ngenain ini. Nanti pindah ngenain ini nanti pindah ngenain ini. Ini tradisi dan keyakinan Jahiliah. Mereka nyangka bahwa penyakit itu bisa berpindah dengan sendirinya menular dan berbahaya. Ah, ini dibantah oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Enggak ada penyakit menular itu.
Tapi maksudnya penyakit menular tidak ada itu dengan keyakinan Jahiliah yang bisa berpindah dengan keinginan penyakit. Itu enggak. Itu semua tidak lepas dari ketentuan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Maka Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kemudian mengatakan وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ فِرَارَكَ مِنَ الْأَسَدِ. Larilah, kaburlah, selamatkan dirimu dari orang yang kena penyakit lepra atau kusta itu. Jangan dekat-dekatin sebagaimana kamu menjauh dari orang yang atau dari seekor singa.
Berarti di sini ada penekanan ya, ada penekanan untuk mencari upaya. Semua Allah yang tentukan. Kesembuhan, pemeliharaan agar tidak kena sakit, atau jangan sampai gampang ketularan. Maka di antara upayanya kita menjaga kebersihan, tidak dekat dengan yang kotor, apalagi orang yang sakit kalau penyakit itu akhirnya menular gitu. Dan ini tidak masalah. Maka Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sampai mengatakan, “Kalau ada yang kayak gini kamu pergi jangan sampai ketularan.” Dan ini tidak menafikan tauhid dan keyakinan seorang kepada Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Karena Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang memberikan peringatan. Hati-hati dengan orang yang kena penyakit menular. Jangan sampai keyakinan Jahiliah yang mana apa meyakini penyakit itu bisa menular sendirinya nanti akan menjangkit orang-orang lagi. Ya, itu semua karena Allah. Itu semua sudah Allah tentukan. Akan tetapi ada sebab-musababnya. Kenapa orang hati-hati di jalan? Ya agar tidak jatuh. Kalau jatuh kecelakaan bisa mati, ya mematikan takdir Allah betul. Akan tetapi semua ada sebabnya. Maka dalam hadis ini ada perintah untuk menjaga diri termasuk dari melaksanakan segala upaya.
Hadis 114 & 115: Menjaga Diri dari Neraka
Baik. Yang berikutnya hadis 114 dan hadis 115 yang ini memiliki makna yang sama sekaligus dua hadis ini menjadi penutup kajian malam hari ini. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan dalam hadis yang masyhur sekali ini. Hadis ini terkenal banget ya. Ini dalam hadis yang ke-114 disebutkan Qaf. Qaf itu artinya Sahih Bukhari dan Muslim. Nun An-Nasai. Hadis ini diriwayatkan oleh sahabat Adi Ibnu Hatim. Kemudian Ha Mim Imam Ahmad meriwayatkan dari Aisyah رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ini At-Thabrani fi Al-Mu’jam Al-Awsath, Adh-Dhiya Al-Maqdisi dalam kitab Al-Mukhtarah (Al-Ahadits Al-Mukhtarah) dari Anas bin Malik رَضِيَ اللهُ عَنْهُ. Kemudian ada riwayat Al-Bazzar yang diriwayatkan oleh Nu’man bin Basyir dan Abu Hurairah. Kemudian Thab At-Thabrani dari Ibnu Abbas dan dari Abu Umamah.
Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan:
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
“Selamatkan diri kalian dari api neraka sekalipun hanya dengan menggunakan separuh kurma.”
Nah, بِشِقِّ تَمْرَةٍ maksudnya bukan biji kurma afwan, tapi kurma yang dibelah gitu. Kurma yang karena sedikitnya akhirnya dibagi dua. Kalau ini bisa disedekahkan karena memang dapatnya cuma segitu ya sudah kasihkan. Karena memang itu ada manfaatnya juga. Bukan berarti tidak ada manfaatnya orang ketika memang memiliki harta yang terbatas lalu dia sedekah. Maka Allah عَزَّ وَجَلَّ tetap akan berikan pahala.
Dan tidak boleh seorang meremehkan sebuah kebaikan karena yang menjadi inti penilaian bukan nominal atau jumlah. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Jangan kamu remehkan kebaikan sekecil apa pun. Lakukan sekalipun engkau harus atau tidak mampu untuk memberikan sumbangan berupa uang, materi, tapi setidaknya engkau bertemu dalam keadaan muka berseri.”
Ini sudah menjadi sedekah.
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ
“Kata Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, senyummu di depan muka saudaramu adalah sedekah.”
Dan hadis yang kedua maknanya sama.
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
“Kalian jauhi neraka meskipun hanya dengan menggunakan sobekan kurma, kalau ternyata kalian tidak mendapatkan apa namanya bahan untuk sedekah minimal engkau mengucapkan kata-kata yang baik.”
Dan kata-kata baik itu juga merupakan sebuah sedekah tersendiri. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan:
وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
“Kata-kata yang baik itu adalah sedekah.”
Maka ketika seseorang ingin melakukan kebaikan, jangan sampai berkecil hati atau minder untuk melakukan kebaikan. Karena Allah عَزَّ وَجَلَّ akan melihat keikhlasan. Ketika seorang melakukan sedekah, salat, baca Quran, gak banyak tidak apa-apa. Tapi kalau dia ingin merutinkan, membiasakan, bahkan ikhlas sekali, maka Allah akan besarkan pahala seseorang itu. Dalam hadis yang sahih, Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ menyatakan:
وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ
“Dan sedekah itu bisa meredupkan atau mematikan kesalahan, dosa. Sebagaimana api itu bisa mematikan eh afwan air bisa mematikan api.”
Maka sedekah ini akan membersihkan ya sedekah ini akan membersihkan kesalahan dosa. Maka Allah عَزَّ وَجَلَّ katakan:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ
“Ambil, tunaikan zakat-zakat dari kaum muslimin itu agar zakat itu bisa membersihkan harta mereka.”
Baik. Maka di dalam hadis ini ada pesan yang sama hadis 114 dan 115 agar kita menjauhi neraka kemudian beramal sebaik mungkin dan semaksimal mungkin untuk menjauhkan diri dari api neraka sekalipun amal itu kelihatannya remeh ya. Dan Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ pernah dinukil kebiasaan ibadah beliau itu ringan tetapi bisa dilakukan continue terus-menerus dan ini akan lebih baik dalam urusan sedekah maupun dalam urusan ibadah ketika seorang memiliki kebiasaan tidak berat tidak banyak akan tetapi dia bisa menjaga rutinitasnya maka ini merupakan hal yang ideal. Baik ini yang dapat kita pelajari semoga bermanfaat. Kurang lebihnya mohon maaf. وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Sesi Tanya Jawab
Pembawa Acara: Na’am Ustaz Jazakumullah khairan barakallahu fikum atas materi yang telah disampaikan Ustaz di malam hari ini tentang “Awas Memutus Silaturahmi”. Ikhwatul Islam أَعَزَّكُمُ اللهُ وَإِيَّاكُمْ. Telah kita simak bersama kajian kita di malam hari ini. Dan untuk selanjutnya kita akan membuka sesi interaktif soal jawab dalam rangka memperdalam materi yang telah disampaikan oleh beliau. Dan kepada Anda semuanya bagi Anda yang bertanya bisa bertanya secara langsung di 021-8236543. Untuk Anda yang bertanya melalui telepon lokal ataupun Anda bisa kirimkan pertanyaan Anda melalui chat WA di 021-8236543. Kita angkat yang pertama melalui telepon terlebih dahulu ya. Silakan bagi Anda yang telah terhubung. Ya. Silakan.
Penanya 1 (Rudi – Surabaya): Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dengan Rudi di Surabaya.
Pembawa Acara: Baik Pak Rudi. Silakan Pak.
Penanya 1: Assalamualaikum Pak Ustaz. Ee yang ingin saya tanyakan begini, Pak Ustaz. Kalau misalnya ada orang yang mau meninggal itu berwasiat, wasiatnya itu jangan dekat-dekat sama si fulan gitu misalnya karena dipercaya fulan ini yang dulu membuat hidupnya susah dan yang membuat dia sampai akhirnya menderita sakit. Pak Ustaz itu gimana?
Pembawa Acara: Baik cukup Pak Rudi Pak ya. Baik terima kasih Pak pertanyaannya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Dan kepada Ustaz kami persilakan untuk menjawab. Silakan, Ustaz.
Ustaz: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik. Wasiat tidak boleh ditunaikan kecuali jika seandainya tidak bertentangan dengan syariat. Ketika wasiat untuk bersedekah memberikan harta lebih dari sepertiga, maka tidak boleh ditunaikan. Kecuali kalau ahli waris rida. Kemudian wasiat yang isinya maksiat. “Nanti kalau saya mati tolong jangan dimandikan, tapi dikasih parfum saja.” Padahal dia orang muslim kemudian harus disalatkan nantinya dan seterusnya. Maka wasiat yang menyelisihi syariat pun demikian, tidak boleh ditunaikan. Termasuk ketika orang mengatakan “nanti proses pemakaman saya harus sesuai dengan begini dan begitu” yang tidak sesuai dengan syariat Islam, maka ini pun juga tidak boleh dikerjakan.
Termasuk ketika seorang mengatakan, “Kamu jangan melakukan hubungan atau berinteraksi atau dekat dengan fulan dan fulan.” Nah, kalau seandainya yang dipesankan itu adalah benih permusuhan murni, maka ya ini tidak boleh dilaksanakan. Tetapi kalau seandainya wallahu a’lam pesannya bukan untuk memutus hubungan tetapi untuk waspada dan hati-hati. Karena misalkan ada alibi atau semacam sinyal atau bukti. “Bahkan kayaknya orang ini sering mencuri. Kalau datang di rapat, datang di pertemuan keluarga atau bahkan pengajian kok mesti barang-barang hilang.” Dan ternyata terbukti orang ini ngambil tapi mau negur enggak enak. Mau diumumkan juga nanti ngerusak nama baik dan seterusnya sudah waspada sendiri. Lalu ketika tahu hati-hati orang ini mencuri. Entah dia ketika mau meninggal sehingga menjadi wasiat atau sebelum meninggal tapi ini menjadi tahdzir namanya peringatan.
Nah, wallahu a’lam. Kalau memang seandainya terbukti dan untuk kewaspadaan, wallahu a’lam tidak apa-apa. Tapi khawatirnya ketika misalkan yang tadi sering disebutkan di antara contohnya “ini yang sering membuat saya sengsara”, maksudnya disihir. Ah. Dia dapat dari mana berita bahwa yang nyihir adalah fulan? Enggak tahu. Kayaknya lihat mimpi itu terus yang datang ke mimpinya. Nah, ini enggak menjadi dalil ya. Tidak mesti menjadi dalil. Kan bisa jadi khawatirnya pihak dari setan akan mengadu domba antara dia dengan saudaranya. Wallahu a’lam bish-shawab. Jadi intinya kalau memang ada indikasi yang kelihatan orang gelagatnya, akhlaknya, interaksinya tidak baik, maka wallahu a’lam boleh-boleh saja kalau kita memberikan pesan untuk lebih waspada. Wallahu a’lam bish-shawab.
Pembawa Acara: Na’am Ustaz. Jazakumullah khairan. Barakallahu fikum atas jawaban yang telah diberikan Ustaz. Dan kita akan angkat kembali pertanyaan berikutnya di 021-8236543. Kita angkat kembali melalui telepon yang telah terhubung. Kami persilakan kepada Anda yang telah terhubung ya. Silakan. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Penanya 2 (Abu Khalid – Depok): Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Dengan Abu Khalid di Depok. Jazakallah khairan Ustaz. Ilmu yang disampaikan.
Ustaz: Barakallahu fikum.
Penanya 2: Semoga Allah memberkahi Ustaz dan guru-guru Ustaz dan kita semua kaum muslimin. Amin. Terkait silaturahim, Ustaz. Kalau ada dua saudara yang bertengkar kemudian tidak mau bertegur sapa gitu, upaya islah sudah dilakukan tapi mereka masing-masing kekeh dengan pendirian masing-masing. Ustaz ya mohon nasihat Ustaz untuk menghadapi saudara yang seperti ini, Ustaz. Jazakallahu khairan, Ustaz.
Pembawa Acara: Baik. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih Abu Khalid atas pertanyaannya dan kepada Ustaz kami persilakan untuk menjawab. Silakan Ustaz.
Ustaz: Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Iya. Yang pertama didoakan. Yang pertama didoakan karena memang Allah yang ngatur untuk membuat orang menjadi akur atau bermusuhan. Yang kedua, dicarikan upaya dengan mendamaikan sekalipun harus membayar. Bahkan dalam hadis yang sahih, kalaupun ada orang yang sampai menggelontorkan uang banyak dalam rangka mendamaikan dua kubu dan pihak yang berseteru, maka dia boleh untuk mengambil uang zakat. Dia membayar uang banyak dalam rangka mendamaikan dua kubu yang bersatu. Maka ketika dia sudah keluar uang banyak, dia boleh untuk mengambil uang zakat. Kalaupun dia minta pun dari Baitul Mal, kalau seandainya ada pun, wallahu a’lam boleh. Karena memang dia berhak untuk menerima ganti dari uang yang disumbangkan dalam rangka mendamaikan dua orang yang berselisih paham tadi.
Yang ketiga, ketika seorang ingin mendamaikan bahkan dengan berbohong tidak apa-apa.
لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَنْمِي خَيْرًا أَوْ يَقُولُ خَيْرًا
“Tidak dikatakan pendusta orang yang berusaha untuk mendamaikan dua orang (ya).”
Ketika ada orang tidak akur datang ke sini “Antum dapat salam dari fulan, katanya minta maaf dan antum orang yang lebih lapang dada.” Dia ngaku kesalahannya datang ke orang satunya lagi ngomong gitu lagi. Nah ini bohong. Tetapi bohongnya ada manfaatnya. Maka tidak apa-apa ketika seorang memang tujuannya adalah untuk mendamaikan. Ah, intinya ketika melihat saudara yang seperti itu ya, selain diingatkan dengan cara yang paling bijak dan masalah teknis biasanya orang dekat lebih paham. Dipilih waktunya, kata-katanya, dan dari mana bisa orang ini dimasukin seperti itu. Nah, ini dinasehatin sambil mengingatkan, sambil mendoakan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Pembawa Acara: Na’am Ustaz. Jazakumullah khairan. Barakallahu fikum atas jawaban yang telah diberikan, Ustaz. Dan kita akan angkat pertanyaan berikutnya. Dan kali ini kita akan angkat pertanyaan melalui pesan singkat yang sudah masuk di 021-8236543. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustaz, izin bertanya, apakah boleh jika kita bersilaturahmi dengan adik yang telah berbeda keyakinan karena dia sudah menikah dengan orang yang di luar agama Islam? Ustaz, barakallah fik, Ustaz. Silakan, Ustaz. Bagaimana? Boleh atau tidak? Baik, Ustaz. Apakah diperbolehkan kita bersilaturahmi kepada adik kita yang sudah berbeda keyakinan, berbeda agama disebabkan karena dia menikah dengan seorang yang di luar agama Islam, Ustaz. Silakan, Ustaz.
Ustaz: Iya. Wallahu a’lam boleh saja. Karena bersilaturahim tidak dikhususkan untuk orang-orang yang satu agama. Boleh-boleh saja. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ datang bahkan bukan silaturahmi tapi mengunjungi seorang anak Yahudi yang sakit didatangi oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Kemudian pamannya Abu Thalib kafir didatangi oleh Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ tidak apa-apa ya. Bahkan ketika kunjungan itu akan mendatangkan maslahat ini, maka lebih dianjurkan lagi datang sebagai keluarga dan hak yang masih dipertahankan karena hubungan nasab. Maka semoga dari sisi itu Allah عَزَّ وَجَلَّ menyadarkan kembali, menyadarkan kembali sehingga tertarik dengan agama yang hanif, yang murni, jernih, dan indah. Nah, datang ke sana dengan perilaku yang sopan, dengan perlakuan yang membahagiakan, maka orang pun akan simpati seperti itu. Jadi intinya boleh, boleh jangankan seperti itu. Bahkan ada orang yang mengunjungi keluarganya karena ada yang meninggal misalkan kemudian keluarganya yang meninggal didatangi tidak apa-apa ya. Tidak apa-apa. Wallahu a’lam bish-shawab.
Pembawa Acara: Na’am Ustaz Jazakumullah khairan. Barakallahu fikum atas jawaban yang telah diberikan Ustaz. Dan kita akan angkat satu pertanyaan terakhir dengan telepon 021-8236543. Kami persilakan kepada Anda yang telah terhubung untuk bertanya ya. Silakan ya silakan. Baik kita tunggu kembali kepada Anda semuanya Ikhwatul Islam. أَعَزَّكُمُ اللهُ وَإِيَّاكُمْ. Kita akan angkat pertanyaan berikutnya, Ustaz. Melalui chat WA kembali, Ustaz yang sudah masuk. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ustaz. Semoga Ustaz selalu dalam lindungan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Satu pertanyaan dari Ana, jika kita selalu menghubungi saudara kandung, saudara kandung kita, tapi mereka acuh saja dengan kita. Karena sejak orang tua kita meninggal, maka hidup adik beradik ini jarang berjumpa tapi tidak ada berseteru. Hanya kita merasa tidak merasa tak diacuhkan saja. Jadi malas untuk menghubungi karena rasanya tak di, karena rasanya merasa diacuhkan. Bagaimana dengan sikap begini? Apakah saran dari Ustaz? Syukran. Jazakumullah khairan. Barakallahu fikum. Silakan Ustaz.
Ustaz: Baik. Di dalam pepatah Arab mengatakan:
جُبِلَتِ الْقُلُوبُ عَلَى حُبِّ مَنْ أَحْسَنَ إِلَيْهَا
“Seseorang secara naluri dan fitrah kewajaran, dia akan cinta kepada orang yang berbuat baik apalagi berjasa kepada dia.”
Pernah nyekolahkan, maka orang ini akan hormat sekali. Pernah membantu orang ini akan hormat atau berbuat sopan, santun, akhirnya dia simpati dan nyaman untuk datang ke orang itu. Itu adalah yang wajar. Tapi sebaliknya ketika seseorang diacuhin bahkan kalau datang tidak selamat dari semprotannya atau ketika berinteraksi dan kerja sama selalu merasa dikecewakan dan seterusnya. Maka orang ketika menjauh ini dari sisi kewajaran adalah hal yang masuk akal. Tetapi dalam syariat tadi kita sebutkan لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا. Ya, orang yang menyambung silaturahmi itu bukan orang yang membalas kebaikan dengan kebaikan serupa, kunjungan dengan kunjungan yang sama, akan tetapi orang yang bisa tetap mempertahankan nilai baik Islam ketika dia diboikot, tidak diperhatikan bahkan dikucilkan.
Maka ini berat sekali. Tetapi manfaatnya besar ketika kita diacuhin tapi kita cuek aja datangin enggak nyapa melengos. Salamin. Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan:
أَوَ لَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟
“Mau enggak aku beritahu kalian kalau kalian lakukan ini, kalian akan merasakan sifat yang saling mencintai. Apa itu?”
أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Tebarkan salam di antara kalian.”
Nah, ini bisa dilakukan upaya ya ketika ada keluarga yang tidak mempedulikan datang. Assalamualaikum. Siapa tahu Allah buka hatinya dengan ucapan salam itu. Wallahu a’lam bish-shawab.
Penutup
Pembawa Acara: Na’am Ustaz Jazakumullah khairan barakallahu fikum atas jawaban yang telah diberikan Ustaz. Dan pertanyaan melalui chat adalah pertanyaan terakhir di perjumpaan kita malam hari ini Ustaz. Dan sebelum kita akhiri perjumpaan yang penuh dengan faedah yang telah kita simak bersama kami meminta kepada Ustaz untuk menyampaikan ikhtitam. Silakan Ustaz.
Ustaz: Baik, kaum muslimin, pemirsa Rodja TV dan seluruh kaum muslimin yang mengikuti pengajian malam hari ini. Kita ini banyak kekurangan dan kita berupaya untuk mencari peluang. Mana ada yang bisa kita kerjakan, kita tidak ingin menyia-nyiakan. Ada amal saleh, kita berusaha untuk amalkan semampu kita. Ketika ada larangan, kita berusaha untuk menghindari sebisa mungkin. Dan semoga Allah عَزَّ وَجَلَّ memberikan bimbingan dan kekuatan untuk itu. Maka sekarang kita banyak belajar, kita mengenal dan lebih akrab menyelami hadis Nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ agar kita bisa mendapat peluang-peluang yang kita pelajari itu. Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga bermanfaat.
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Pembawa Acara: Ustaz Jazakumullah khairan barakallahu fik atas kesempatan di malam hari Ustaz yang telah kita simak bersama kajian penuh faedah yang telah Antum sampaikan Ustaz dan kami ucapkan terima kasih banyak atas waktu yang telah Antum berikan dan juga materi yang telah Antum sampaikan serta jawaban-jawaban yang telah Antum paparkan untuk kita semuanya. Kami ucapkan terima kasih banyak. Jazakumullah khairan barakallahu fikum. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjaga Antum di sana serta keluarga Antum dan juga semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى meluaskan kean bagi Antum sehingga semakin banyak faedah ilmu yang dapat kami ambil dari perjumpaan bersama Antum insyaallah Allahumma Aamin.
Dan juga kami mengucapkan terima kasih banyak untuk rekan-rekan kami teknisi serta rekan-rekan kami yang berada di STDI Jember atas kerja samanya bisa menghadirkan kajian ini di tengah-tengah kalangan kaum muslimin. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memudahkan kembali bagi kita untuk bisa kembali menghadirkan kajian ini di tengah-tengah kalangan kaum muslimin. Dan untuk Anda semuanya Ikhwatul Islam أَعَزَّكُمُ اللهُ وَإِيَّاكُمْ yang telah bersama kami dari awal hingga akhir dalam perjumpaan malam hari ini. Kami ucapkan terima kasih banyak atas kebersamaan Anda. Jazakumullah khairan barakallahu fikum. Nantikan kembali kajian beliau untuk kita simak kelanjutan dari pembahasan kitab Sahih Jamius Shaghir yang insyaallah kita akan simak kembali pada hari Kamis yang akan datang. Akhir kalam kami mohon undur diri dan mohon maaf atas segala kekurangan yang kami hadirkan dalam penyajian acara ini. Dan untuk kita semuanya semoga Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan keberkahan kepada kita dan memudahkan bagi kita mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan. Billahi taufik wal hidayah.



