Daurah Aqidah #2: Ushul As-Sunnah (Sesi- 2) – Dr. Firanda Andirija, MA
Sejarah dan Pembahasan Ilmu Akidah

Topik: Sejarah dan Pembahasan Ilmu Akidah
(Kajian Kitab Ushulus Sunnah – Pertemuan 1, Sesi 2)
بسم الله الرحمن الرحيم
الْحَمْدُ لِلَّهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ
Pembahasan berikutnya kita bahas tentang sejarah ilmu akidah.
Sejarah ilmu akidah tentunya diawali dengan wasiat Nabi ﷺ untuk berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan hadis.
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ ﷺ
“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara. Jika kalian berpegang teguh dengannya, kalian tidak akan sesat selamanya: Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.”
Maka ketika Nabi wafat, hal ini mengharuskan adanya pembukuan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Al-Qur’an di masa sahabat telah dibukukan. Kemudian hadis mulai dibukukan di zaman Tabi’in atas perintah Umar bin Abdul Aziz. Dan akhirnya Az-Zuhri (Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdillah Az-Zuhri) yang dikenal sebagai Tabi’in pertama yang mulai mengumpulkan dan menulis hadis-hadis Nabi ﷺ. Az-Zuhri wafat tahun 124 Hijriah.
Sehingga, di dalam Al-Qur’an banyak perkara akidah, dan juga dalam hadis-hadis Nabi banyak perkara akidah. Akidah harus dijaga sebagai bentuk agar umat tidak tersesat, serta sebagai bentuk menjalankan wasiat Nabi untuk berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Di antaranya adalah Al-Qur’an dan Sunnah terkait masalah akidah, bahkan itu yang paling pokok.
1. Faktor Pemicu Kodifikasi (Pembukuan) Ilmu Akidah
Faktor kodifikasi ilmu akidah menjadi semakin penting ketika muncul banyak perpecahan dan bidah.
- Khawarij: Muncul di zaman Ali bin Abi Thalib ketika terjadi perselisihan antara Ali dengan Muawiyah. Maka muncullah Khawarij dari kelompok Ali, kemudian menyempal (keluar) sekitar 12.000 orang. Kemudian didakwahi oleh Ibnu Abbas, kembali 4.000 orang, sisanya diperangi oleh Ali bin Abi Thalib. Khawarij adalah firqah yang pertama muncul.
- Syiah: Syiah ini benihnya dari Abdullah bin Saba’ yang sudah muncul sejak zaman Utsman bin Affan sebagai provokator. Akhirnya lama-lama dia membentuk pemikiran mengkultuskan Ali bin Abi Thalib. Di zaman Ali bin Abi Thalib ada yang mengatakan Ali adalah Tuhan. Maka Ali pun membakar mereka. Dikasih waktu untuk tobat, mereka tidak bertobat, akhirnya dibakarlah mereka. Akhirnya diingkari oleh Ibnu Abbas. Ibnu Abbas menyetujui mereka dibunuh karena mereka murtad (menganggap Ali sebagai Tuhan), tapi cara membunuh dengan dibakar tidak disetujui oleh Ibnu Abbas رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا. Jadi muncul di zaman Ali ada Khawarij dan benih-benih Syiah (belum Syiah seperti sekarang, tapi benihnya).
- Qadariyah: Muncul di zaman Ibnu Umar, tokohnya bernama Ma’bad Al-Juhani.
- Muktazilah: Muncul di zaman Tabi’in, Hasan Al-Bashri (wafat 110 H). Muridnya, Wasil bin Atha’, menyempal dari majelis Hasan Al-Bashri. Ketika Hasan Al-Bashri ditanya tentang bagaimana nasib pelaku dosa besar, sebelum beliau menjawab, muridnya (Wasil) nyeletuk menjawab dengan akidah Muktazilah: bahwasanya pelaku dosa besar tidak kafir dan tidak mukmin, tapi di antara keduanya (Manzilah baina Manzilatain). Akhirnya dia pun menyempal dari majelis Hasan, jadilah disebut Muktazilah.
- Jahmiyah: Menolak sifat-sifat Allah. Dimulai dari Ja’ad bin Dirham, kemudian diwariskan ilmunya oleh Jahm bin Shafwan (wafat 128 H). Ini masih awal-awal, masih abad kedua Hijriah.
- Mujassimah: Muncul pengikut Karramiyah, tokohnya Muhammad bin Karram As-Sijistani (wafat 255 H).
- Tersebarnya Syiah: Setelah itu muncul Al-Imamiyah dan Zaidiyah. Al-Imamiyah terbagi dua: Itsna ‘Asyariyah (yang terkenal sekarang seperti di Iran, Lebanon) dan Ismailiyah. Mereka berselisih pada imam ketujuh. Dari Ismailiyah muncul Qaramithah yang terkenal sadis, yang pernah membunuh para jemaah haji dan mencuri Hajar Aswad. Kemudian juga terkenal Daulah Fatimiyah (Daulah Ubaidiyah) yang berkuasa di Mesir hampir 250 tahun, yang juga di situ menyebarkan Syiah dan mencela para sahabat.
- Penerjemahan Filsafat: Muncul juga di zaman Dinasti Abbasiyah, di masa Khalifah Al-Ma’mun, pemikiran-pemikiran falasifah yang mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Masuklah pemikiran Aristo, Plato, yang kemudian berlanjut mempengaruhi masalah akidah.
Sehingga bertumpuk-tumpuklah bidah. Di zaman para aimmah, di antaranya di zaman yang kencang-kencangnya adalah zaman Imam Ahmad. Tatkala Al-Ma’mun menjadikan Ahmad bin Abi Duad (tokoh Muktazilah) sebagai penasihat spiritualnya atau menteri agamanya. Sehingga keputusan Khalifah Al-Ma’mun memaksa orang-orang untuk mengatakan Al-Qur’an itu makhluk. Jika tidak, akan dibunuh. Para ulama dipaksa, dan rata-rata ulama ikut mengatakan Al-Qur’an makhluk karena terpaksa. Imam Ahmad tidak, Imam Ahmad bertahan sampai dia disiksa dan dicambuk.
Maka hal-hal inilah yang kemudian mengharuskan akidah Islamiyah harus diselamatkan. Maka mau tidak mau muncullah tulisan-tulisan. Dimulai—kalau tidak salah—dengan tulisan bantahan-bantahan.
Faktor lain yang mewajibkan ilmu akidah dikodifikasikan adalah interaksi kaum muslimin dengan penganut agama lain (Majusi, Nasrani, Yahudi). Interaksi ini punya pengaruh. Kalau tidak dijelaskan akidah yang benar, maka orang mungkin terpengaruh dengan pemikiran Yahudi, Nasrani, Majusi, Hindu, atau Buddha. Karena kaum muslimin berinteraksi dengan orang-orang India, belum lagi aliran-aliran aneh di India seperti Sumaniyah dan lainnya yang datang ke negeri Islam.
Lihatlah bagaimana pengaruhnya interaksi Bani Israil dengan suku Qibti (kaumnya Firaun). Bani Israil di zaman Firaun diperbudak sejak zaman Nabi Yusuf عَلَيْهِ السَّلاَمُ meninggal dunia. Padahal asalnya mereka bertauhid. Namun saking lamanya berinteraksi dengan suku Qibti (Ahli Syirik), akhirnya mereka terpengaruh. Sampai ketika mereka sudah selamat dari kejaran Firaun, mereka mengatakan:
يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ
“Hai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).”
Mereka minta dibikinkan patung oleh Nabi Musa. Nabi Musa heran. Subhanallah. Kenapa? Karena terlalu lama berinteraksi dengan orang non-muslim dan posisi sebagai bawahan/budak. Namanya interaksi akhirnya mempengaruhi.
Maka perlu diberikan akidah yang benar agar tidak mudah terpengaruh, sebagaimana kita misalnya di Indonesia, dulu ada agama-agama sebelum Islam (Hindu, Buddha). Masih ada pengaruh-pengaruh dalam kehidupan sehari-hari, masalah khurafat, pamali, tradisi, yang kalau ditelusuri ternyata dari agama lain. Maka harus dibuat akidah yang benar agar memurnikan akidah tersebut dari hal-hal yang bukan dari Islam (ma anzalallahu biha min sulthan).
Jadi, ada empat sebab utama penulisan ilmu akidah:
- Wasiat Nabi untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah.
- Munculnya banyak bidah dan perpecahan (Khawarij, Syiah, dll).
- Interaksi kaum muslimin dengan non-muslim.
- Diterjemahkannya buku-buku filsafat.
2. Tahapan Penulisan Kitab Akidah
Tahap Pertama: Tersebar dalam Kitab Hadis dan Tafsir
Awalnya akidah tersebar dalam kitab-kitab hadis dan Al-Qur’an, namun tidak ditulis secara spesifik. Sama seperti ilmu fikih dan ushul fikih yang awalnya menyatu. Seiring berjalannya waktu, mulailah dituliskan secara spesifik.
Tahap Kedua: Bab Tertentu dalam Kitab Hadis
Dalam buku-buku hadis mulai ada pembahasan spesifik terhadap ilmu akidah.
- Sahih Bukhari: Ada Kitab Al-Iman, Kitab At-Tauhid wa Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah, Kitab Khabarul Ahad (membantah yang menolak hadis ahad dalam akidah). Imam Bukhari membantah Murjiah dan Muktazilah dalam kitabnya.
- Sunan Abi Daud: Ada kitab As-Sunnah di dalamnya yang membahas akidah.
Tahap Ketiga: Kitab Bantahan (Kutub Ar-Rudud)
Ulama menulis buku spesifik untuk membantah dalam bentuk matan atau bantahan langsung.
- Al-Fiqhul Akbar (dinisbahkan kepada Imam Abu Hanifah, wafat 150 H).
- Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah wan Zanadiqah (Imam Ahmad, wafat 241 H).
- Khalqu Af’alil Ibad (Imam Bukhari, wafat 256 H).
- Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah (Utsman bin Said Ad-Darimi, wafat 280 H).
- Al-Iman (Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, wafat 224 H).
- Al-Haidah wal I’tidzar (Abdul Aziz Al-Kinani, wafat 240 H).
Tahap Keempat: Kitab dengan Nama “As-Sunnah”
Muncul kitab-kitab yang mengumpulkan mayoritas pembahasan akidah dengan nama As-Sunnah. Kenapa “Sunnah”?
- Definisi Sunnah menurut Ahli Hadis: Segala yang disandarkan kepada Nabi (ucapan, perbuatan, takrir, sifat).
- Definisi Sunnah menurut Fuqaha: Perkara yang jika dikerjakan dapat pahala, ditinggalkan tidak berdosa (rugi).
- Definisi Sunnah menurut Ulama Akidah: Sunnah adalah lawan dari Bidah.
Maka mereka menamakan buku akidah dengan “As-Sunnah” untuk menunjukkan Rabbaniyatul Masdar, bahwa akidah kita berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah, bukan akidah karangan atau khayalan. Ini untuk membedakan dengan Jahmiyah, Muktazilah, dll. Syaikh Abdul Karim Al-Khudhair atau Syaikh Abdul Karim bin Barjas mengatakan jumlahnya lebih dari 250 kitab dengan nama As-Sunnah.
Berikut daftar sebagian kitab berjudul As-Sunnah (Ini masuk ujian ya, harus dicatat):
- Risalah fi As-Sunnah – Abdurrahman bin Qasim (murid Imam Malik, wafat 191 H).
- As-Sunnah – Abdurrahman bin Mahdi (wafat 198 H).
- As-Sunnah wal Jamaah – Harb bin Ismail Al-Kirmani (wafat 280 H – koreksi dari audio: Al-Waqidi wafat 207 H, mungkin yang dimaksud Al-Waqidi atau ulama lain, tapi Harb Al-Kirmani punya kitab ini).
- As-Sunnah – Asad bin Musa (Asadus Sunnah, wafat 212 H).
- Ushulus Sunnah – Al-Humaidi (wafat 219 H).
- As-Sunnah wal Jamaah – Muhammad bin Salam Al-Bikandi (wafat 225 H).
- As-Sunnah – Abu Bakar Abdullah bin Muhammad Al-Absi (wafat 235 H).
- Ushulus Sunnah – Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H) – Kitab yang akan kita bahas. Sanad kitab ini sahih disebutkan oleh Syaikh Muhammad Khalifah At-Tamimi.
- As-Sunnah – Abu Ja’far Ahmad bin Al-Mu’adz (wafat 245 H).
- As-Sunnah – Atsram (wafat roughly 250s H).
- As-Sunnah – Abdul Wahab Al-Warraq (wafat 251 H).
- As-Sunnah wa Ar-Raddu ‘ala Ahlil Ahwa – Khusyaisy bin Ashram (wafat 253 H).
- As-Sunnah – Sahnun bin Said At-Tanukhi (Imam Maliki, wafat 256 H).
- Ushulus Sunnah wa I’tiqad – Muhammad bin Yahya Az-Zuhli (gurunya Bukhari, wafat 258 H).
- As-Sunnah – Abu Mas’ud Ahmad bin Furat (wafat 258 H).
- Ushulus Sunnah – Abu Zur’ah Ar-Razi (wafat 264 H).
- Syarhus Sunnah – Al-Muzani (murid Syafi’i, wafat 264 H).
- As-Sunnah – Hanbal bin Ishaq (wafat 273 H).
- As-Sunnah – Abu Daud As-Sijistani (wafat 275 H).
- As-Sunnah – Ibnu Abi Ashim (wafat 287 H).
- As-Sunnah – Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (wafat 290 H) – Kitab tebal membantah Jahmiyah.
- As-Sunnah – Al-Marwazi (wafat 294 H).
- As-Sunnah – Al-Khallal (wafat 311 H).
- Sharihus Sunnah – Ibnu Jarir At-Thabari (wafat 310 H).
- Syarhus Sunnah – Al-Barbahari (wafat 329 H).
- Al-Ibanah As-Sughra – Ibnu Bathah (wafat 387 H).
- Ushulus Sunnah – Ibnu Abi Zamanin (wafat 399 H).Dan masih banyak lagi.
Tahap Kelima: Kitab dengan Nama Lain
Selain “As-Sunnah”, ada nama-nama lain yang digunakan:
- Asy-Syariah: Contoh Asy-Syariah karya Al-Ajurri (wafat 360 H), Al-Ibanah ‘an Syariati Firqatin Najiyah karya Ibnu Bathah.
- Ushuluddin / Ushulud Diyanah: Contoh Al-Ibanah ‘an Ushulid Diyanah karya Abul Hasan Al-Asy’ari (saat beliau menuju akidah Ahlussunnah).
- Al-I’tiqad: Contoh Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah karya Al-Lalaka’i (wafat 418 H), I’tiqad Al-Bukhari, I’tiqad Sufyan Ats-Tsauri.
- At-Tauhid: Contoh Kitab At-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah (Imamul Aimmah, wafat 311 H), At-Tauhid karya Ibnu Mandah (wafat 395 H).
- Al-Fiqhul Akbar: Dinisbahkan kepada Abu Hanifah.
- Al-Aqidah: Istilah ulama belakangan. Contoh Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Al-Aqidah Al-Hamawiyah (Ibnu Taimiyah), Al-Aqidah At-Thahawiyah.
3. Metode Penulisan Kitab Akidah
Buku-buku tadi kebanyakan bersanad. Kita bangga akidah kita bersanad, bukan cuma fikih. Jangan sibuk sorban bersanad, siwak bersanad, minum kopi bersanad, tapi akidahnya tidak bersanad.
Setelah itu muncul buku akidah dengan bentuk lain (tanpa sanad):
- Bentuk Matan (Pernyataan): Lum’atul I’tiqad (Ibnu Qudamah), Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Ushulus Sunnah (Imam Ahmad juga matan).
- Bentuk Nazam (Syair): Al-Kafiyah Asy-Syafiyah (Nuniyah Ibnu Qayyim), Ad-Durrah Al-Mudhiyah (As-Saffarini), Sullamul Wushul (Hafizh Hakami). Ada buku Al-Manzumat Al-Aqadiyyah yang mengumpulkan nazam-nazam ini.
- Bentuk Syarah (Penjelasan): Buku-buku Ibnu Taimiyah (Dar’u Ta’arudh, Minhajus Sunnah, Al-Jawab As-Shahih). Ibnu Taimiyah membantah semua firqah (Yahudi, Nasrani, Syiah, Filsafat, Logika/Mantiq). Beliau ditanya kenapa fokus bantah akidah? Beliau jawab: “Kalau akidah salah, bahaya, menghancurkan agama. Kalau fikih salah, perkaranya lebih ringan selama tidak menyelisihi ijma’.”
- Kitab Maqalat (Doktrin Firqah): Kitab yang mencantumkan keyakinan Ahlussunnah dan firqah lain. Contoh: Maqalatul Islamiyyin karya Abul Hasan Al-Asy’ari. Ini sumber otentik mengenali Muktazilah karena beliau mantan pakar Muktazilah. Ada juga Al-Milal wan Nihal (Asy-Syahrastani), Al-Farqu Bainal Firaq (Al-Baghdadi).
- Kitab Spesifik Masalah Tertentu: Contoh Risalah As-Sijzi tentang Huruf dan Suara (membuktikan Allah berbicara dengan suara), Ahwalul Qubur, dll.
4. Peta Pembahasan Ilmu Akidah
Apa saja yang dibahas dalam ilmu akidah? Ini petanya:
A. Pembahasan Inti (Masalah Iman)
- Rukun Iman: Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, Takdir.
- Masailul Iman (Pengembangan):
- Hakikat Iman (definisi).
- Iman dan Islam (perbedaannya).
- Al-Asma wal Ahkam (Hukum pelaku dosa besar, apakah kafir atau fasik?).
- Maratibul Iman (Tingkatan iman, Ihsan).
- Istitsna fil Iman (Hukum mengucapkan “Saya mukmin insyaallah”).
- Nawaqidul Iman (Pembatal keimanan).
B. Pembahasan Al-I’tisham bis Sunnah (Berpegang pada Sunnah)
- Ittiba’us Sunnah (Mengikuti Sunnah).
- Tarqul Bid’ah (Meninggalkan Bidah).
- Kamalus Syariah (Kesempurnaan syariat).
- Huququn Nabi (Hak-hak Nabi).
- Manhajul Istidlal (Metode pengambilan dalil).
- Ciri-ciri Firqatun Najiyah.
C. Pembahasan Mengenali Kesesatan (Untuk Dijauhi)
- Al-Firaq (Firqah-firqah): Syiah, Khawarij, Muktazilah, Murjiah, Jahmiyah, Asyairah, Maturidiyah, dll.
- Al-Madzahib Al-Fikriyah Al-Muashirah (Aliran Pemikiran Modern): Rasionalisme, Liberalisme, Sekularisme, Pluralisme, Ateisme, Komunisme, Nasionalisme Fanatik (Qaumiyah), Al-Qur’aniyyun (Inkar Sunnah), dll.
- Al-Adyan (Perbandingan Agama):
- Samawiyah: Yahudi dan Nasrani (yang sudah menyimpang).
- Wadh’iyyah (Buatan Manusia): Hindu, Buddha, Majusi, Konghucu, Shinto, dll.
Pentingnya poin C adalah seperti kata penyair: “Aku mengenali keburukan bukan untuk melakukannya, tapi untuk menjauhinya. Siapa yang tidak tahu keburukan, dia akan terperosok ke dalamnya.” Kita perlu dai-dai yang pakar di bidang ini (Kristologi, aliran kepercayaan) untuk mendakwa mereka dengan hikmah.
D. Pembahasan Penyempurna (Takmilah)
Hal-hal ini dimasukkan ke buku akidah karena ada latar belakang penyimpangan firqah lain:
- Keutamaan Sahabat: Untuk membantah Syiah yang mengkafirkan sahabat. Sahabat adalah sanad agama kita.
- Ahlul Bait: Untuk membantah Syiah (Ghulaw/berlebihan) dan Nawashib (pembenci).
- Majaz: Membantah takwil sifat Allah.
- Al-Imamah wal Jamaah (Kepemimpinan): Membantah Syiah (yang menjadikan Imamah rukun iman) dan Khawarij (yang memberontak).
- Karamah Wali: Membantah yang mengingkari (Muktazilah) dan yang berlebihan (Sufi ekstrem).
- Jin & Sihir.
- Al-Mashu ‘alal Khuffain (Mengusap Sepatu): Ini aslinya masalah fikih, tapi masuk akidah karena Syiah dan Khawarij menolak hadis mutawatir tentang ini. Menerima hadis mutawatir adalah masalah akidah.
Penutup:
Inilah gambaran luasnya ilmu akidah. Alhamdulillah kita sudah menyelesaikan mukadimah ini.
Insyaallah pertemuan berikutnya kita akan membahas khusus tentang Biografi Imam Ahmad bin Hanbal. Siapa beliau? Bagaimana hebatnya sosok Imam Ahlussunnah yang sampai Abul Hasan Al-Asy’ari pun mengaku berakidah Imam Ahmad?
Demikian.
Wabillahi taufiq wal hidayah.
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

