Daurah Aqidah #1: Ushul Sunnah (Sesi-1) – Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA
ukadimah Ilmu Akidah & Keistimewaan Akidah Ahlussunnah
Topik: Mukadimah Ilmu Akidah & Keistimewaan Akidah Ahlussunnah
(Kajian Kitab Ushulus Sunnah – Pertemuan 1)
بسم الله الرحمن الرحيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ
Hadirin dan hadirat yang dirahmati Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.
Insyaallah pada pertemuan kali ini kita akan belajar dari kitab أُصُولُ السُّنَّةِ (Ushulus Sunnah) karya Al-Imam Ahmad bin Hanbal رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى. Beliau adalah salah satu dari imam Ahlussunnah yang menjadi parameter untuk mengenali akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Mengapa? Karena Imam Ahmad hidup di masa ujian yang sangat berat (mihnah), di mana Ahlul Bid’ah berkuasa pada zaman Khilafah Al-Abbasiyah. Beliau disiksa melewati masa beberapa khalifah, namun beliau tetap tegar dan akhirnya diselamatkan oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Karena perjuangan itulah beliau bertemu dan berhadapan dengan berbagai tokoh Ahlul Bid’ah, yang akhirnya melatarbelakangi penulisan kitab Ushulus Sunnah.
Secara sederhana, buku Ushulus Sunnah ini sangat penting. Imam Ahmad menjelaskan akidah Ahlussunnah wal Jamaah dengan mengisyaratkan perbedaannya dengan akidah Ahlul Bid’ah. Ini mirip seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ketika menulis Al-Aqidah Al-Wasathiyah; beliau memilih lafal-lafal yang menjelaskan akidah Ahlussunnah sambil menyindir atau mengisyaratkan akidah Ahlul Bid’ah yang menyimpang.
Maka, jika kita ingin mengetahui akidah Ahlussunnah yang benar, kita langsung baca bukunya Al-Imam Ahmad رَحِمَهُ اللهُ. Beliau punya dua buku yang terkenal dalam bab ini:
- أُصُولُ السُّنَّةِ (Ushulus Sunnah).
- الرَّدُّ عَلَى الْجَهْمِيَّةِ وَالزَّنَادِقَةِ (Ar-Raddu ‘alal Jahmiyyah wazanadiqah – Bantahan terhadap Jahmiyyah dan kaum Zindiq).
Pembahasan beliau yang detail ini mungkin tidak kita temukan pada imam-imam yang lain. Meskipun Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Syafi’i juga mendapatkan ujian, namun ujian mereka bukan spesifik terkait pemaksaan akidah seperti yang dialami oleh Imam Ahmad (yaitu dipaksa mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk). Imam Ahmad disiksa, dicambuk, dan dipenjara karena membela akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Inilah parameter akidah Ahlussunnah: apa yang ditarihkan (dicatat) oleh Imam Ahmad dalam kitabnya.
Kajian pada kesempatan kali ini, saya belum masuk pada pembahasan inti kitab. Kita ada dua mukadimah:
- Mukadimah Pertama: Tentang mengenali ilmu akidah (apa itu ilmu akidah, urgensinya, dan karakteristiknya). Ini yang akan kita bahas sekarang.
- Mukadimah Kedua (Pertemuan berikutnya): Khusus membahas biografi Imam Ahmad. Bagaimana zuhud beliau, ibadah beliau, takwa beliau, dan ujian berat yang beliau hadapi.
Baru pada pertemuan ketiga—jika kita masih hidup, insyaallah—kita akan masuk membahas teks Ushulus Sunnah. Tadi pagi saya membaca buku tentang biografi Imam Ahmad, luar biasa. Ini sebagai pemicu bagi kita untuk lebih ikhlas dan cambuk bagi kita yang mungkin masih banyak memikirkan dunia daripada akhirat.
Jadi kajian kita ini berat ya. Kalau yang tidak mau berat-berat, pulang saja sekarang (tertawa). Jadi sabar ya. Insyaallah tidak berat-berat banget, cuma butuh serius. Saya ingin kita mengaji dengan bertambahnya ilmu, bukan sekadar wawasan. Kalau wawasan, alhamdulillah teman-teman sudah banyak. Tapi ini mengaji lebih serius, nanti mungkin ada ujiannya. Sehingga ketika mengaji, benar-benar ada yang kita pahami.
Menuntut ilmu adalah ibadah kepada Allah, apalagi ilmu tentang akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Saking agungnya ilmu, Nabi ﷺ bersabda:
وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ
“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu karena rida dengan apa yang dilakukan oleh penuntut ilmu.”
Ada dua tafsiran mengenai hadis ini:
- Malaikat ketika terbang, lantas melihat ada penuntut ilmu sedang berjalan, dia turun meletakkan sayapnya sebagai bentuk penghormatan.
- Malaikat meletakkan sayapnya untuk diinjak (sebagai hamparan) oleh penuntut ilmu karena sukanya mereka terhadap perbuatan tersebut.
Antum semua sekarang dalam kondisi menuntut ilmu. Hadirkan dalam diri antum bahwa “Saya sedang beribadah dalam belajar akidah untuk bisa wafat dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah.” Jadi butuh keseriusan dan butuh berpikir.
MUKADIMAH ILMU AKIDAH
Ada beberapa poin yang akan kita bahas:
1. Akidah yang Benar Adalah Sesuai Fitrah
Allah berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 30:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Apa itu fitrah? Fitrah kalau bahasa sederhananya adalah seperti “file” yang Allah pasang dari sananya kepada seorang manusia. Contoh, seorang lelaki kok bisa suka sama wanita? Itu fitrah. Tidak usah diajari pun, ketika dia melihat lawan jenis, dia akan suka. Sebaliknya, mungkin dia punya kakak perempuan cantik atau adik perempuan cantik, dia tidak tertarik. Kenapa? Karena fitrah mengajarkan dia “itu bukan buat dia.”
Hewan juga punya fitrah (insting).
رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَىٰ كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَىٰ
“Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk (hidayah/insting).” (QS. Thaha: 50).
Fitrah adalah sesuatu yang dipasang atau diciptakan Allah pada makhluk dan sudah dari sananya, tanpa diajari pun dia tahu.
Demikian juga fitrah untuk bertauhid. Secara umum manusia kalau tidak diberi syubhat atau tidak dirubah fitrahnya, dia akan menolak kesyirikan. Misalnya disuruh menyembah sapi. Hatinya akan bertanya, “Gimana saya menyembah sapi? Sapi itu hewan, gimana saya sembah?” Fitrah dia tidak terima. “Bagaimana saya harus menyembah manusia atau patung?” Karena ada “file” dalam dirinya yang menolak hal tersebut.
Seperti juga fitrah bahwa Tuhan itu ada. Buktinya, ketika kita mengajari anak kita “Tuhan itu ada,” kita tidak perlu susah-susah menjelaskan bukti-bukti filosofis. Secara sederhana dia langsung terima. Kenapa? Karena ada file sebelumnya yang sudah Allah pasang, yaitu kecenderungan untuk bertauhid. Seandainya manusia dibiarkan tanpa ada yang mempengaruhi, dia akan cenderung kepada tauhid.
Agama Allah adalah agama yang sesuai dengan fitrah, agama yang mudah. Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 172:
أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami).”
Tentu kita semua tidak ingat secara sadar bahwa Allah pernah mengambil janji ini pada roh kita. Tetapi kata para ulama, di antara efeknya adalah adanya bekas (atsar) fitrah tersebut, yaitu kecenderungan kita mengakui memiliki Rabb dan mentauhidkan-Nya.
Dalam hadis Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Tidak ada seorang anak yang lahir kecuali dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
Hadis ini menunjukkan fitrah bisa berubah karena faktor lingkungan (orang tua) atau setan. Allah berfirman dalam Hadis Qudsi:
خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ
“Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku seluruhnya dalam keadaan hunafa (lurus/condong ke tauhid). Kemudian setan mendatangi mereka lalu menggelincirkan mereka dari agama mereka.”
Jadi, fitrah ini kalau kita dalam kondisi terdesak, dia akan muncul. Terkadang fitrah ini tidak bisa ditolak oleh ateis sekalipun. Ateis dalam kondisi terdesak (misal pesawat mau jatuh), dia pasti mencari Tuhan. Fitrahnya mulai jalan lagi. Meskipun sehari-harinya dia mengaku Tuhan tidak ada, tapi saat terdesak, file itu muncul kembali.
Namun, fitrah bisa berubah atau tertutup karena pengaruh setan, lingkungan, atau fanatisme. Yahudi misalnya, sebenarnya mudah masuk Islam karena fitrah mereka tahu kenabian, tapi ada fanatik kabilah/bangsa. Nasrani juga mudah masuk Islam karena fitrah menolak konsep Trinitas (“Tuhan ada tiga”).
Saya pernah bertemu orang Cina yang masuk Islam saat iktikaf. Saya tanya, “Kenapa masuk Islam?” Dia jawab: “Saya sempat mikir, Ustaz. Kalau Tuhan ada tiga, ada masalah di dunia, mereka diskusi dulu kapan selesainya? Baru masalah tidak habis-habis. Akhirnya saya rasa tidak logis.” Fitrah dia tidak jalan dengan konsep itu. “Tuhan tiga, duduk ngobrol, diskusi… yang repot siapa? Masalah tidak habis-habis.”
Jadi, akidah yang benar pasti sesuai dengan fitrah. Maksudnya, bukan berarti bayi lahir langsung paham Ushulus Sunnah, tidak. Tapi lahir dengan “file” yang condong kepada tauhid, sehingga mudah diajari kebenaran (salamat al-qalb wa qabuluhu lil haq). Fitrah pasti menolak kebatilan, kecuali ada penghalang.
Saya pernah cerita ada kawan yang temannya masuk Islam. Dulunya dia penyembah berhala. Suatu hari dia menyetop bus di depan pabrik pembuatan patung Tuhan. Bus belum datang, dia melihat proses pembuatan Tuhan. Tukang buat Tuhan itu kurang ajar; ada Tuhan setengah jadi, dia duduki, dia injak-injak saat memahat. Teman ini mikir, “Meskipun belum jadi, jangan kurang ajar begitu.” Akhirnya dia berpikir ulang, “Kenapa saya menyembah Tuhan yang dipahat, diduduki, dan diinjak oleh manusia?” Secara fitrah susah diterima.
Kesimpulannya: Akidah yang benar (Islam) itu bagaikan cahaya matahari dengan mata. Jika tidak ada hijab (penghalang), mata akan langsung bisa melihat cahaya matahari.
2. Definisi Akidah
Secara Bahasa:
Kata akidah berasal dari Al-‘Aqdu (الْعَقْدُ) yang maknanya:
- الرَّبْطُ (ikatan).
- التَّوَثُّقُ (dikuatkan/dikokohkan).
- الشَّدُّ بِقُوَّةٍ (diikat dengan kuat).
- الْيَقِينُ (yakin/pasti).
Jadi akidah itu maknanya sesuatu yang mantap, kuat, kokoh. Tidak dikatakan akidah pada perkara yang masih diragukan.
Secara Istilah:
الْإِيمَانُ الْجَازِمُ الَّذِي لَا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ شَكٌّ لَدَى مُعْتَقِدِهِ
“Iman yang mantap/pasti, yang tidak dihinggapi oleh keraguan sedikit pun pada sisi orang yang meyakininya.”
Akidah itu ada yang benar, ada yang salah (batil). Orang Islam yakin dengan akidahnya, orang Nasrani yakin dengan akidahnya, orang Yahudi yakin dengan akidahnya. Masing-masing punya akidah. Tapi secara bahasa, akidah adalah keyakinan yang mantap terlepas benar atau salah. Istilah “ilmu akidah” ini muncul belakangan. Di zaman Nabi tidak ada istilah “ilmu akidah”, yang ada istilah Al-Iman, As-Sunnah.
3. Nama-Nama Ilmu Akidah
Nama-nama yang Syar’i/Benar:
- الْفِقْهُ الْأَكْبَرُ (Al-Fiqhul Akbar – Fikih Besar), untuk membedakan dengan fikih amalan (Al-Fiqhul Asghar).
- أُصُولُ الدِّينِ (Ushuluddin).
- السُّنَّةُ (As-Sunnah).
- التَّوْحِيدُ (At-Tauhid).
- الشَّرِيعَةُ (Asy-Syariah).
- الْإِيمَانُ (Al-Iman).
Nama-nama yang Tidak Tepat:
- الْفَلْسَفَةُ (Filsafat).
- عِلْمُ الْكَلَامِ (Ilmu Kalam).
- الإيديولوجيا (Ideologi).
- Istilah-istilah ini tidak tepat dan mengandung makna yang bermasalah.
4. Urgensi Ilmu Akidah
Ilmu akidah adalah pondasi dari ilmu syariat. Jika kita tinjau ilmu syariat, kita bisa bagi dua:
- أُصُولُ الدِّينِ (Pokok agama/Akidah).
- الْأَحْكَامُ الْعَمَلِيَّةُ / الْفُرُوعُ (Hukum amalan/Fikih).
Pentingnya akidah terlihat dari:
- Asas Dakwah Para Nabi.Semua Nabi, dari Nuh sampai Muhammad ﷺ, menyerukan tauhid. Nabi Nuh عَلَيْهِ السَّلاَمُ berdakwah ratusan tahun fokus pada tauhid.يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ”Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” (QS. Al-A’raf: 59).Nabi bersabda: “Para nabi itu ibarat saudara sebapak lain ibu. Bapaknya satu (tauhid/akidah), ibunya berbeda-beda (syariat/fikih).”
- Syarat Diterimanya Amal.Kalau akidah tidak benar (syirik), amal tidak diterima.
- Sebab Bahagia Dunia dan Akhirat.Orang yang akidahnya mantap akan tenang hidupnya, tidak bimbang. Imam Ahmad meski miskin dan disiksa, beliau bahagia dan tegar.
- Syarat Memperoleh Kekuasaan (Tamkin).Allah berjanji dalam Surah An-Nur ayat 55 akan memberikan kekuasaan di bumi bagi mereka yang beriman dan beramal saleh, dengan syarat: يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ bِي شَيْئًا (Mereka menyembah-Ku dan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun).Lihat bagaimana Amr bin Ash menaklukkan Mesir (kekuasaan Romawi) hanya dengan 4.000 pasukan. Lihat bagaimana Raja Abdul Aziz mendirikan Kerajaan Arab Saudi ketiga hanya dengan sekitar 40 orang pasukan awalnya, karena tauhid.
- Memerdekakan Akal dari Syubhat dan Khurafat.Orang tanpa akidah benar mudah dibohongi. Percaya ada gentong air yang tembus ke zamzam, percaya ada lorong tembus ke Makkah. Saya pernah lihat di suatu masjid ada gentong berlumut, orang berebut airnya katanya tembus ke Makkah. Ini proyek berapa ribu kilometer pipanya?Ada juga yang mengaku baru turun dari Sidratul Muntaha. Nabi saja Jibril mundur, ini dia sama teman-temannya naik (tertawa). Tapi kalau punya akidah benar, akal terlindungi dari hal yang tidak logis dan khurafat.
- Pondasi Amal Saleh.Akidah yang benar membuat seseorang semangat dan khusyuk beramal. Contoh: Keyakinan akan melihat wajah Allah di akhirat dikaitkan Nabi dengan menjaga salat Subuh dan Asar.Keyakinan akan hisab dikaitkan dengan perintah bersedekah (“Jagalah dirimu dari neraka walau dengan separuh kurma”).Nabi bersabda: “Tidak akan berkumpul sifat pelit dan iman dalam hati seorang hamba selamanya.” Kalau imannya kuat, pelitnya mengecil. Kalau pelitnya besar, imannya mengecil.
KEISTIMEWAAN AKIDAH ISLAM (AHLUSSUNNAH)
Apa bedanya akidah Islam dengan akidah lainnya?
1. Rabbaniyah al-Masdar (Bersumber dari Allah / Tauqifiyah)
Akidah Islam berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah, bukan hasil karangan, mimpi, atau khayalan. Akidah bicara masalah gaib (Tuhan, Malaikat, Akhirat). Siapa yang lebih tahu tentang Allah? Allah sendiri atau kita? Tentu Allah. Maka kita butuh informasi dari Allah (wahyu).
Kita tidak bisa menerka-nerka detail malaikat Munkar dan Nakir pakai akal. Akidah Islam bukan akidah mimpi (“Saya mimpi ketemu Tuhan begini”), bukan akidah pengalaman (“Saya minta ke kuburan dikabulkan, berarti boleh”), bukan akidah khayalan (seperti filsafat).
2. Asy-Syumul (Komprehensif/Lengkap)
Akidah Islam mencakup segala aspek dan tahapan:
- Mulai dari janin (takdir ditetapkan), kehidupan dunia (aturan hidup), alam barzakh (fitnah kubur, nikmat/azab), hari kiamat (kebangkitan, hisab, mizan), sampai surga dan neraka.
- Lengkap rukun imannya: Iman kepada Allah (Rububiyah, Uluhiyah, Asma wa Sifat), Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, Takdir.
- Sangat detail. Mana ada agama membahas takdir sedetail Islam? (Allah mengilmui, mencatat, menghendaki, menciptakan).
3. At-Takamul (Saling Melengkapi & Tidak Kontradiksi)
Antara satu rukun iman dengan yang lain saling berkaitan.
- Imam Ahmad berkata: الْقَدَرُ قُدْرَةُ اللهِ (Al-Qadaru Qudratullah – Takdir adalah kekuasaan Allah).Jika Anda ragu takdir, Anda ragu kekuasaan Allah. Kalau terjadi sesuatu di luar skenario Allah, berarti Allah tidak Maha Kuasa (lemah/salah prediksi). Bagi manusia, salah prediksi itu biasa. Bikin rumah, di tengah jalan istri minta ubah desain. “Mas, ini kurang bagus, rubah.” (tertawa). Kalau punya uang ya rubah, kalau tidak, istrinya yang dirubah—eh bercanda. Tapi Allah Maha Kuasa, konsep-Nya tidak mungkin meleset.
- Masalah Allah di atas langit (Al-‘Uluw). Kalau kita tolak Allah di atas, akan banyak kontradiksi. Malaikat turun dari mana? Al-Qur’an turun dari mana? Nabi Isra Mi’raj naik ke mana ketemu siapa? Kalau akidah benar, semua dalil klop, tidak bertabrakan.
4. Al-Wasatiyah (Moderat/Tengah-tengah)
Akidah Islam berada di tengah-tengah (tawazun):
- Antara Agama Lain:
- Yahudi mencela Nabi (Nuh dibilang pemabuk, Sulaiman dibilang musyrik, Harun bikin patung sapi). Nasrani menuhankan Nabi (Isa anak Tuhan). Islam di tengah: Nabi adalah manusia mulia utusan Allah, bukan Tuhan dan maksum dalam penyampaian wahyu.
- Yahudi kaku (tidak ada nasikh mansukh). Nasrani merubah hukum seenaknya (pendeta menghalalkan yang haram). Islam di tengah (syariat hak Allah, ada nasikh mansukh di zaman Nabi, tapi final setelah Nabi wafat).
- Materialis (dunia saja) vs Rahbaniyah (akhirat saja, tidak nikah). Islam menggabungkan keduanya (pejabat/pengusaha bisa bertakwa).
- Antara Firqah Sesat:
- Dalam bab takdir: Ahlussunnah di tengah antara Qadariyah dan Jabariyah.
- Dalam bab pelaku dosa besar: Di tengah antara Khawarij (mengkafirkan) dan Murji’ah (menganggap dosa tidak merusak iman).
- Dalam bab Sahabat: Di tengah antara Syiah (mengkafirkan sahabat) dan Nawashib (membenci Ahli Bait).
5. Ats-Tsabat war Rusukh (Kokoh & Permanen)
Akidah Islam berlaku untuk setiap zaman dan tempat (shaleh likulli zaman wa makan).
- Tidak menerima ijtihad: Akidah bukan perkara ijtihad. Kalau ada dalil diyakini, kalau tidak ada ya tidak.
- Tidak ada pengembangan (Tathwir): Tidak ada istilah akidah dulu versi 1.0 sekarang versi 2.0.
- Tidak menerima pembaharuan (Tajdid): Istilah tajdid dalam akidah yang diusung kaum liberal (misal: semua agama masuk surga) adalah batil.
- Bukan hasil muktamar: Akidah tidak ditentukan oleh voting khalifah atau konsili pendeta (seperti sejarah Kristen yang merevisi konsep ketuhanan lewat muktamar/konsili). Akidah Islam sudah final dari Allah dan Rasul-Nya.
Demikian mukadimah ini. Insyaallah kita lanjutkan pada pertemuan kedua membahas biografi Imam Ahmad bin Hanbal.
وَبِاللهِ التَّوْفِيقُ، وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ



