Memahami Takdir dan Membersihkan Hati dari Syubhat (Syarah Hadis Ibnu Dailami)
Mutiara Hikmah dari Hadits Ibnu Dailami
MEMAHAMI HAKIKAT TAKDIR DAN MEMBERSIHKAN HATI DARI SYUBHAT
(Syarah Hadis Ibnu Dailami)
Mukadimah
Segala puji bagi Allah atas segala taufik dan nikmat-Nya. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah ﷺ.
Pembahasan kita kali ini berpusat pada sebuah hadis agung yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, yang mengisahkan kegelisahan seorang Tabi’in bernama Ibnu Dailami (putra dari sahabat Nabi, Fairuz Ad-Dailami) mengenai konsep takdir.
1. Kegelisahan Ibnu Dailami dan Pentingnya Bertanya pada Ahlinya
Ibnu Dailami rahimahullah pernah merasakan ganjalan (syubhat) di dalam hatinya mengenai takdir Allah. Ia berkata: “Aku khawatir keraguan ini akan merusak agama dan keyakinanku.”
Hal ini menunjukkan betapa para Salaf sangat menjaga kesehatan iman mereka. Ketika ada keraguan, mereka tidak membiarkannya, melainkan segera mencari obatnya. Ibnu Dailami kemudian mendatangi Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat Nabi yang berilmu.
Pelajaran penting di sini adalah: Jika memiliki keraguan dalam agama, bertanyalah kepada ulama yang mumpuni (ahlul ilmi), bukan kepada teman atau orang awam. Sebagaimana sakit fisik dibawa ke dokter, penyakit syubhat harus dibawa ke ahli ilmu.
Ibnu Dailami berkata kepada Ubay bin Ka’ab: “Wahai Abal Munzir, ada ganjalan di hatiku tentang takdir. Sampaikanlah sebuah hadis dari Rasulullah ﷺ, semoga Allah menghilangkan keraguan ini dariku.”
2. Jawaban Para Sahabat (Inti Akidah Takdir)
Ubay bin Ka’ab memberikan jawaban yang sangat mendalam. Menariknya, ketika Ibnu Dailami masih merasa belum puas dan mendatangi sahabat lain—yakni Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah Ibnul Yaman, dan Zaid bin Tsabit—keempat sahabat mulia ini memberikan jawaban yang sama persis. Ini membuktikan bahwa pemahaman mereka bersumber dari satu mata air, yaitu Rasulullah ﷺ.
Berikut adalah empat poin inti jawaban mereka:
A. Keadilan Allah (Allah Tidak Zalim)
“Seandainya Allah menyiksa seluruh penduduk langit dan bumi-Nya, maka Allah menyiksa mereka tanpa berbuat zalim sedikit pun kepada mereka.”
Bagaimana memahaminya? Mengapa jika orang saleh atau malaikat diazab, Allah tidak dianggap zalim?
Jawabannya adalah karena kita semua berhutang budi kepada Allah yang tidak akan pernah lunas. Nikmat Allah (mata, akal, kesehatan, iman) terlalu banyak untuk bisa kita syukuri satu per satu. Bahkan, untuk melakukan ibadah sebagai bentuk syukur pun, kita membutuhkan nikmat baru dari Allah (nikmat sempat, nikmat sehat, dll).
Seandainya Allah menagih “bayaran” atas nikmat-Nya secara hitung-hitungan matematis, ibadah kita tidak akan cukup melunasinya. Maka, jika Allah mengazab, itu adalah keadilan-Nya atas hak-Nya yang belum terpenuhi sempurna.
B. Rahmat Allah Lebih Utama dari Amal
“Dan seandainya Allah merahmati mereka, maka rahmat-Nya jauh lebih baik bagi mereka daripada amal-amal mereka.”
Amal saleh kita terbatas (misalnya hanya 60 tahun hidup), sedangkan balasan surga itu abadi. Surga bukan sekadar “upah” kerja, melainkan karunia Rahmat Allah. Jika kita hanya mengandalkan amal tanpa Rahmat Allah, kita tidak akan selamat. Rahmat Allah memberikan balasan yang berlipat ganda (1 berbanding 10 hingga 700 kali lipat) dan kenikmatan yang sempurna tanpa cacat, berbeda dengan kenikmatan dunia yang penuh syarat.
C. Iman kepada Takdir sebagai Syarat Diterimanya Amal
“Seandainya engkau memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu engkau infakkan di jalan Allah, Allah tidak akan menerimanya darimu sampai engkau beriman kepada takdir.”
Sebesar apapun amal kebaikan, jika pondasi akidahnya rapuh—terutama dalam rukun iman keenam ini—maka amal tersebut tertolak.
D. Definisi dan Konsekuensi Iman pada Takdir
“Engkau harus meyakini bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tidak akan pernah meleset darimu, dan apa yang ditakdirkan meleset darimu tidak akan pernah menimpamu.”
“Jika engkau mati di atas keyakinan selain ini, engkau akan masuk neraka.”
Ini adalah peringatan keras. Kita harus meyakini bahwa segala sesuatu berjalan sesuai kehendak Allah. Tidak boleh ada protes, “Kenapa aku? Kenapa bukan dia?” Semua ada hikmahnya, dan kematian tanpa membawa akidah ini berujung pada neraka.
3. Menjawab Keraguan: Takdir dan Ikhtiar (Masalah Futur)
Seringkali muncul pertanyaan: “Jika semua sudah ditakdirkan, untuk apa kita beramal? Kenapa saya futur (lemah iman) padahal sudah ngaji?”
Perlu dipahami bahwa takdir Allah itu berjalan beriringan dengan sebab-akibat.
- Kita tidak tahu takdir kita: Tidak ada yang tahu apakah di Lauhul Mahfuz dia tertulis sebagai penghuni surga atau neraka. Karena kita tidak tahu (“bocorannya” tidak ada), maka kita tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan.
- Takdir mencakup sebab: Allah tidak hanya menakdirkan hasil (misal: Fulan masuk surga), tapi Allah juga menakdirkan sebabnya (Fulan beramal saleh, beriman, dan istiqamah). Tidak ada orang yang tiba-tiba masuk surga tanpa sebab iman dan amal, dan tidak ada yang masuk neraka tanpa sebab kekufuran dan dosa.
- Ancaman Su’ul Khatimah: Hadis tentang orang yang beramal saleh lalu di akhir hayatnya beramal buruk (Su’ul Khatimah) adalah peringatan agar kita tidak terlena. Kita diperintahkan untuk istiqamah sampai mati.“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)
4. Konsep Doa dan Perubahan Takdir
Apakah doa bisa mengubah takdir?
Ulama membagi takdir menjadi dua:
- Takdir Mubram: Takdir yang sudah final di Lauhul Mahfuz dan dalam ilmu Allah yang azali. Ini tidak berubah.
- Takdir Muallaq: Takdir yang tertulis di catatan malaikat. Ini bisa berubah dengan doa atau silaturahmi. Namun, perubahan ini pun sejatinya sudah diketahui Allah dan tercatat di Lauhul Mahfuz.Contoh: Di catatan malaikat tertulis umur Fulan 60 tahun. Karena Fulan berdoa dan silaturahmi, Allah perintahkan malaikat mengubahnya menjadi 70 tahun. Perubahan ini (dari 60 ke 70 karena doa) sudah tercatat di ilmu Allah yang azali (Ummul Kitab).
Penutup
Kesimpulannya, akidah mengenai takdir adalah pondasi yang tidak boleh ditawar. Kita wajib meyakini keadilan Allah, berharap pada Rahmat-Nya, dan terus berikhtiar (beramal) karena kita tidak tahu ujung nasib kita. Jangan memahami dalil secara parsial (sepotong-sepotong), seperti hanya mengandalkan hadis tentang keutamaan La ilaha illallah lalu meremehkan dosa dan kewajiban syariat lainnya. Islam harus dipahami secara utuh (kaffah) dari sumber yang terpercaya.
Wallahu Ta’ala A’lam.



