Antum Sebagai Apa ?

JUDUL KAJIAN: ANTUM/KAMU SEBAGAI APA?
PEMATERI: USTADZ DR. SYAFIQ RIZA BASALAMAH, M.A.
[Pembukaan dan Wakaf Masjid]
Ba’da, ana dengar masjid ini sedang punya proyek pembebasan lahan. Ya, terkadang kita itu bingung mau disalurkan ke mana rezeki yang Allah berikan kepada kita. Lihatlah proyek-proyek yang indah itu, jangan diberikan kepada orang lain.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mau membangun Masjid Nabawi saat beliau hijrah sampai ke kota Madinah, beliau mengatakan, “Di tempat ini kita akan bangun masjid.” Beliau bertanya, “Punya siapa tanah ini?” Dijawab, “Oh, punya fulan dan fulan.”
Ada dua anak yatim. Dikatakan, “Coba berapa harganya?” Kata mereka, “Kami tidak memintanya kecuali kepada Allah Azza wa Jalla.” Dikasih gratis kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apakah Rasulullah menerima? Kita kan paling senang kalau dikasih gratis. Tidak, kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ثَامِنُونِي
“Tsaminuni (hargai/sebutkan harganya kepadaku), berapa harganya?”
Akhirnya deal, Nabi membayar tanah itu, tidak diserahkan kepada fulan atau fulan. Oleh karena itu, sampai hari ini setiap orang yang shalat di Masjid Nabawi, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat pahalanya. Itu wakafnya Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oke, setelah itu akan ada perluasan, perluasan, perluasan. Tapi wakaf pertama itu tetap milik Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[Tema: Kamu Sebagai Apa?]
Jamaah rahimakumullah, apa tema kita hari ini? Tunggu dulu ana tanya yang depan ana nih. Antum sebagai apa? Masyaallah. Kasih hadiah buat antum, tafadhol. Barakallahu fikum.
Ahibbati fillah, tujuan Allah menciptakan semua manusia itu satu, tidak ada yang berbeda. Allah Azza wa Jalla mengatakan:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
(Tidaklah Aku ciptakan bangsa jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku). [QS. Adh-Dhariyat: 56]
Allah sudah tegaskan:
مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ
(Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan). [QS. Adh-Dhariyat: 57]
Kita melihat ya, kadang kala ada sesajen-sesajen yang diberikan. Allah enggak minta loh.
Terus kurban, Ustaz? Allah sebutkan:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا
(Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah).
Terus yang sampai kepada Allah apa?
وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
(Tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai-Nya). [QS. Al-Hajj: 37]
Ketakwaan dari hamba-Nya lah yang sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
(Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh). [QS. Adh-Dhariyat: 58]
[Ujian yang Berbeda-beda Sesuai Peran]
Jamaah rahimakumullah, kalau tujuannya satu, tapi ternyata ujian yang Allah berikan kepada setiap manusia berbeda-beda. Di sinilah muncul pertanyaan: “Kamu sebagai apa?” Apa sih ujian yang Allah berikan kepada antum?
Ada yang jadi Presiden, ujian enggak? Jadi presiden itu ujian, Jamaah. Bayangkan Umar bin Khattab radhiyallahu ta’ala ‘anhu. Tatkala kekuasaan negeri Islam itu sudah sampai ke Persia, Irak, dan Iran sana, Umar itu sampai cemas terhadap dirinya sendiri. Dia pernah mengatakan, “Aku takut ditanya sama Allah kalau ada seekor bighal (campuran kuda dan keledai) yang terpeleset di tepian sungai Efrat sana. Aku takut ditanya sama Allah kenapa engkau enggak benerin jalannya?” Itu binatang, Jamaah. Artinya ujian menjadi seorang pemimpin berat sekali.
Tapi ada yang di bawahnya presiden. Mungkin Gubernur, di bawahnya Walikota, Bupati. Kemudian Kecamatan, Kelurahan. Habis Kelurahan langsung RW di sini. Habis RW, RT. Apa kita ini, Jamaah?
Nah, antum yang menjadi kepala rumah tangga. Ujiannya beda-beda. Ada yang punya istri shalihah sehingga dia enggak repot-repot, tapi dia juga diuji (apakah bersyukur). Ada yang istrinya masyaallah, kalau ngobrol tetangga tiga rumah sebelah dengar. Nah, itu ujiannya antum, bagaimana menyikapinya.
Ada yang sebagai anak, ada yang sebagai bapak, ada yang sebagai mertua. Betapa banyak mertua yang kesal sama menantunya, padahal menantunya juga kesal sama mertuanya. Ada orang tua yang kesal sama anaknya, padahal anak juga kesal sama bapak ibunya. Sebagian ibu mengatakan, “Ya Allah, kalau bisa saya masukkan lagi, saya masukkan lagi itu anak, Ustaz.” Padahal sang anak juga mengatakan, “Andai kata aku bisa milih, aku enggak akan milih ibu seperti itu.”
Ahibbati fillah, yang terbaik di antara semuanya adalah yang menerima kondisinya dan menjalankan tugasnya dengan baik dan sempurna.
Engkau yang menjadi bapak, ibu, anak, engkau punya kewajiban berbakti. Yang menjadi suami, engkau punya kewajiban memberikan nafkah. Yang menjadi istri, surga dan nerakamu siapa? Suamimu. Karena ada istri-istri yang sibuk mencari surga di kajian-kajian di masjid. Emak-emak dengerin ya. Sibuk kajian sono, kajian sini. Padahal surganya ibu-ibu di mana? Di rumahnya.
Kata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
انْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
(Perhatikan di mana posisimu terhadap suamimu, karena sesungguhnya dia adalah surgamu atau nerakamu).
Betapa sering seorang wanita ketika dikasih nasihat untuk berbakti kepada suaminya, dijelaskan tentang hak-hak suaminya, apa kata perempuan itu? “Suami yang seperti apa dulu, Ustaz?” Jadi dia memang enggak mau melaksanakan tugasnya. Padahal itu ujianmu. Mendapatkan suami yang tidak sesuai dengan harapanmu, itu ujianmu. Tapi engkau sebagai apa? Engkau sebagai istri, engkau tahu dengan posisimu.
Ada yang punya atasan tidak menyenangkan tapi dia anak buah. Apa yang bisa dia lakukan? Ya, sami’na wa atha’na (dengar dan taat) selama bukan maksiat. Sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan akan ada pemimpin yang mementingkan diri sendiri (atsarah). Mereka menuntut hak tapi tidak memberikan hak rakyat. Para sahabat bertanya, “Apa perintahmu kepada kami ya Rasulullah?”
Jawab Nabi:
أَدُّوا الَّذِي عَلَيْكُمْ، وَسَلُوا اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ
(Tunaikan kewajiban kalian, dan mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian).
Jangan nuntut sama mereka. Kalau istri banyak nuntut sama suami, rumah tangga berantakan. Kerjakan tugasmu, hakmu minta sama Allah.
[Peran Istri: Belajar dari Khadijah]
Yang kenal sama kita kalau bicara “kamu sebagai apa”, orang yang tahu kita sebagai apa itu istri kita, pasangan hidup kita.
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari gua Hira, kondisi beliau gemetar, cemas, khawatir. Masuk ke rumahnya disambut oleh Khadijah. Nabi mengatakan:
زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي
(Selimuti aku, selimuti aku).
Diselimuti sama Khadijah. Lihat ya, istri yang shalihah adalah istri yang dapat memberikan keamanan kepada suaminya. Jadi suami masuk rumah, masuk ke tempat yang paling aman di dunia ini. Tapi sekarang, kadang kala suami masuk rumah, rumahnya menjadi tempat paling menakutkan. “Aduh, ketemu lagi sama dia.” Kenapa? Karena terlalu banyaknya pertanyaan-pertanyaan dari istri.
Coba istri pertanyaannya tidak lagi menginterogasi suami: “Dari mana? Ada apa? Kenapa cemberut? Punya masalah apa? Emangnya aku punya salah apa?” Pertanyaan-pertanyaan ini membuat suami pusing. Tapi ketika apa yang diminta suami diberikan, yang dia tawarkan kepada suaminya adalah semua yang menyenangkan. “Bang, kepingin apa? Aku pijit, Bang, ya?”
Siapa yang tadi malam ditawari mijit sama istrinya? Ana kasih hadiah. Masyaallah. Tafadhol kasih hadiah antum. Bayangkan satu masjid cuma satu yang ditawari mijet.
Setelah Nabi tenang, beliau bercerita. Seseorang yang mendapatkan ketenangan dia akan cerita. Khadijah mendengarkan tanpa memutus. Setelah selesai cerita, Khadijah mengatakan:
كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا
(Sekali-kali tidak, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya).
Kenapa Khadijah berani bersaksi begitu? Dia tahu suaminya.
إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ
(Sesungguhnya engkau menyambung silaturahim, jujur dalam ucapan, membawa beban orang lain, membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong dalam kebenaran/musibah).
Antum seperti apa? Kita itu perlu mengenali diri kita.
[Ambisi Dunia vs Akhirat]
Ahibbati fillah, Imam Bukhari dalam sahihnya menyebutkan tentang ambisi. Apa yang aku cari? Apakah semua yang ada di masjid ini yang dicari akhirat?
Ketika perang Uhud, para sahabat insyaallah mencari akhirat. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ta’ala anhu awalnya mengira semua yang ikut perang Uhud itu mencari akhirat. Tapi ternyata setelah perang, Allah menurunkan ayat:
مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ
(Sebagian kalian ada yang menginginkan dunia, dan sebagian kalian ada yang menginginkan akhirat). [QS. Ali Imran: 152]
Jadi jangan berpikir semua yang di masjid ambisinya akhirat. Boleh jadi ambisinya dunia. Antum pernah lihat CCTV orang ke masjid ngambil kotak amal? Atau sujud, tas temannya diambil?
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ
(Celaka hamba dinar, hamba dirham, hamba pakaian).
Ada orang yang hidupnya hanya fokus mengumpulkan harta, budaknya model/fashion.
إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ
(Kalau dikasih dia ridha, kalau enggak dikasih dia marah).
تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ
(Celaka dia dan tersungkur, dan apabila dia terkena duri semoga tidak bisa dicabut).
Lalu Nabi memuji orang yang seperti apa?
طُوبَى لِعَبْدٍ آخِذٍ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
(Beruntunglah seorang hamba yang dia memegang tali kendali kudanya berjuang di jalan Allah).
أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةٍ قَدَمَاهُ
(Rambutnya kusut, kakinya berdebu).
إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ
(Kalau dia ditaruh di bagian penjagaan, dia jaga. Kalau dia ditaruh di bagian belakang mengurusi logistik, dia lakukan).
إِنْ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ
(Orang ini kalau minta izin sama atasannya enggak dikasih izin [karena posisinya hina]. Kalau dia memberikan syafaat tidak diterima).
Tapi ini orang surga tempatnya, Jamaah. Kenapa? Karena dia ikhlas lillahi ta’ala. “Aku enggak peduli aku mau diletakkan di mana.”
Kalau bicara hari ini, mungkin orang ini bagian parkir yang antum marah-marahin. “Apa parkirnya sebelah sini?” Dia enggak dipedulikan, enggak pernah muncul di kamera. Mungkin kerjanya bersih-bersih toilet. Pokoknya di posisi mana pun dia terima. Tapi surga tempatnya.
Sebagian kita tidak mau posisi yang tidak tampil. Maunya di depan kamera jadi MC. Kalau disuruh ngurus parkir, “Afwan ana sakit.”
[Kisah Ketulusan Para Sahabat]
Lihat Khalid bin Walid. Ketika perang Mu’tah, dia tidak menjadi pemimpin awal. Dia jadi prajurit biasa. Padahal sebelum masuk Islam dia panglima perang.
Perang Mu’tah itu tahun berapa? Tahun 8 Hijriyah. Nabi menetapkan 3 komandan: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, Abdullah bin Rawahah. Khalid tidak disebut namanya. Tapi Khalid ikhlas. Ketika ketiga panglima tewas, barulah Khalid mengambil alih dan menyelamatkan pasukan. Keikhlasanlah yang mengangkat dia.
Lihat Perempuan Hitam Pembersih Masjid. Dia meninggal malam hari, dikuburkan sahabat tanpa memberitahu Nabi karena dianggap remeh. Nabi bertanya, “Mana dia?” Sahabat bilang, “Sudah meninggal.” Nabi marah:
أَفَلَا كُنْتُمْ آذَنْتُمُونِي؟ دُلُّونِي عَلَى قَبْرِهَا
(Kenapa kalian enggak kasih tahu aku? Tunjukkan kepadaku di mana kuburannya).
Nabi menshalatinya di kuburan. Ada peran-peran yang kita anggap remeh tapi besar di sisi Allah.
Lihat Usaid bin Khudhair. Dia bukan imam masjid. Dia baca Quran di rumahnya tengah malam, malaikat turun mendengarkan bacaannya. Kuda berputar-putar, ada cahaya lampu turun.
Lihat Sa’ad bin Mu’adz. Ketika dia meninggal dunia, Arsy Allah bergetar. Padahal dia masuk Islam lewat Mus’ab bin Umair. Awalnya dia mau mengusir Mus’ab, tapi setelah mendengar Islam, dia masuk Islam. Lalu dia mengajak satu kabilahnya masuk Islam semua.
Kira-kira kalau antum meninggal dunia, apa yang bergetar? Boleh jadi istri antum enggak mengucapkan innalillah. Boleh jadi tetangga malah bersyukur, “Alhamdulillah orang jahat itu meninggal.”
[Sesi Intermezzo: Pijat Punggung](Ustadz meminta jamaah berdiri dan saling memijat punggung saudaranya untuk mencairkan suasana dan membangun ukhuwah).
[Kisah Nu’man bin Muqrin]
Umar bin Khattab mengirim An-Nu’man bin Muqrin Al-Muzani. Umar mau kasih jabatan, Nu’man bilang, “Kalau tugasnya cuma ngumpulin pajak/harta, aku enggak mau. Tapi kalau tugas perang, aku mau.”
Dia berangkat perang. Sebelum perang dia berdoa:
اللَّهُمَّ ارْزُقِ النُّعْمَانَ الشَّهَادَةَ بِنَصْرِ الْمُسْلِمِينَ وَافْتَحْ عَلَيْهِمْ
(Ya Allah, berikan kepada Nu’man hari ini mati syahid, dan berikan kepada kaum muslimin kemenangan).
Nu’man minta mati syahid, tapi umat Islam dikasih kemenangan. Dan benar, dia syahid. Ketika berita sampai ke Umar, Umar bertanya siapa saja yang mati syahid. Disebutkan fulan, fulan, Nu’man. Lalu pembawa berita bilang, “Dan banyak lagi yang meninggal yang engkau enggak kenal wahai Amirul Mukminin.”
Apa kata Umar sambil menangis? “Apa yang membahayakan mereka kalau Umar enggak kenal sama mereka?”
وَلَكِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَعْلَمُهُمْ
(Tapi Allah Azza wa Jalla kenal sama mereka).
Demi Allah, Jamaah, ana enggak kenal dengan banyak orang di sini. Tapi yang terpenting bagaimana Allah kenal sama antum. Enggak usah mikirin follower, enggak usah mikirin dikenal orang.
[Amal Kecil yang Mengantar ke Surga]
Ingat cerita pelacur yang memberi minum anjing? Dia melihat anjing menjilat tanah karena haus. Tidak ada kamera yang merekam. Dia turun ke sumur, ambil air dengan sepatunya, gigit sepatunya, naik, kasih minum anjing. Allah ampuni dosanya dan masukkan ke surga. Jangan remehkan amal kebajikan sekecil apapun.
Nabi juga cerita tentang laki-laki:
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ
(Ketika ada seorang laki-laki berjalan di jalan, dia menemukan ranting berduri, lalu dia menyingkirkannya).
فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ
(Maka Allah berterima kasih padanya dan mengampuninya).
Jadi, Allah menciptakan kita untuk mengabdi. Ujian kita beda-beda. Ada yang jadi Ustaz, tugasnya ceramah. Antum bukan Ustaz? Nabi bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
(Sampaikan dariku walau satu ayat).
Antum datang kajian, sampaikan ke tetangga, ke kawan kerja yang enggak shalat.
لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
(Jika Allah memberi hidayah kepada satu orang lewat perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah/harta termahal).
Ada kisah orang Arab yang menghafal hadits:
كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
(Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dicintai oleh Ar-Rahman: Subhanallah wabihamdihi, Subhanallahil adzim).
Dia sampaikan ke siapa saja. Ke penjaga toko, ke sopir bus. Sampai dia sakit, masuk ambulans, dia sampaikan hadits itu ke dokter sebelum meninggal dunia. Husnul khotimah. Ingat kata Nabi:
وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
(Sesungguhnya amal itu tergantung penutupnya).
[Sesi Tanya Jawab]
Pertanyaan 1:
“Ustaz, ana kepala keluarga, terkadang ana selalu diterpa masalah ekonomi. Menyebabkan sesak dan takut. Tapi setelah dilewati selalu mudah dilalui. Wajarkah perasaan ini dan bagaimana cara menghilangkannya?”
Jawaban:
Perasaan takut itu ujian. Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
(Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar). [QS. Al-Baqarah: 155]
Seharusnya rasa takut itu mengantarkan kepada Allah. Orang yang tidak takut biasanya merasa aman dan kurang mendekat pada Allah. Bertawakallah dengan sebenar-benarnya tawakal. Nabi bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ
(Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung).
Jangan hanya fokus pada sebab duniawi (gaji, bos). Kalau antum di-PHK, ingat Allah yang kasih rezeki, bukan bos. Banyakin istighfar. Nabi saja istighfar 100 kali sekali duduk. Bantu orang lain, doakan orang lain, maka malaikat akan mendoakan antum: “Amin, walaka bimitslin” (Amin, dan bagimu juga semisal itu).
Pertanyaan 2:
“Anak perempuan sudah remaja, sulit dinasihati, nada keras, suka membentak orang tua dan menunda shalat. Mohon nasihat.”
Jawaban:
Allah berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
(Perintahkan keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah (ekstra sabar) dalam mengerjakannya). [QS. Ta-Ha: 132]
Lihat ke belakang, apakah dulu kita sudah membiasakan dia shalat sejak usia 7 tahun? Apakah kita menanamkan cinta atau hanya ancaman neraka? Kalau anak sudah remaja, jangan pakai perintah keras lagi, tapi memohon/merayu. Sentuh dia, “Nak, sudah masuk waktu shalat.” Kalau dia nolak, tinggal dulu, nanti balik lagi. Jangan teriak-teriak.
Orang tua perbanyak istighfar. Istri perbaiki hubungan dengan suami. Kadang anak durhaka karena istri durhaka pada suami. Al-jazau min jinsil amal. Doakan anak saat dia tidur. Sentuh hatinya. Hidayah di tangan Allah, tugas kita berusaha seperti Nabi Nuh kepada anaknya.
[Kuis untuk Ibu-ibu](Ustadz memberikan pertanyaan tentang 3 Panglima Perang Mu’tah, Sahabat yang Arsy bergetar saat wafat, Duta Islam pertama ke Madinah, dll. Hadiah diberikan).
Pertanyaan 3:
“Paman istri ana Nasrani. Mengundang ziarah kubur kakek nenek istri tanggal 25 Desember. Bagaimana hukumnya?”
Jawaban:
Ziarah kubur ke non-muslim boleh untuk mengingat kematian (bukan mendoakan). Tapi kalau ajakannya tanggal 25 Desember (hari raya mereka), sampaikan dengan baik: “Kayaknya tanggal 25 enggak bisa, mungkin setelah atau sebelum itu.” Hindari waktu perayaan mereka. Ziarah kubur tidak ada waktu khusus, bisa kapan saja.
Pertanyaan 4:
“Bagaimana cara bertaubat dari dosa memakai uang donasi bencana alam? Sekarang kondisi kekurangan, takut dosa terbawa mati.”
Jawaban:
Berkaitan dengan harta, Nabi bersabda fitnah umat ini adalah harta (Al-Mal).
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
(Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta). [QS. Al-‘Adiyat: 8]
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
(Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan). [QS. Al-Fajr: 20]
Hati-hati pegang uang umat/masjid/donasi. Memakan harta orang lain/bencana itu seperti memakan api neraka.
Cara taubat: Harus dikembalikan. Kalau tidak punya uang sekarang, niatkan untuk melunasi. Cicil sedikit-sedikit. Misal puasa Senin-Kamis, uang makannya disisihkan buat bayar. Salurkan ke korban bencana lain jika korban yang dulu sudah tidak ada/tidak ketemu. Yang penting berusaha melunasi.
Pertanyaan 5:
“Suami banyak drama. Kalau ana mau ke kajian dilarang. Kalau di rumah enggak ada kerjaan. Apakah ana melanggar kalau tetap pergi kajian?”
Jawaban:
Istri wajib taat suami. Menuntut ilmu itu ada yang wajib (fardhu ain) dan sunnah.
Kalau ilmunya wajib (misal cara shalat yang benar karena belum bisa), dan suami melarang, boleh melanggar untuk belajar.
Tapi kalau kajian umum/tambahan ilmu (sunnah), tidak boleh melanggar suami.
Zaman sekarang ilmu bisa didapat lewat streaming/online. Dengarkan kajian sambil pijit suami, sambil melayani suami. Jadikan ilmu itu membuat antum lebih taat pada suami, bukan malah membangkang.
Dandan yang cantik buat suami, layani dia. Jangan merasa lebih utama menuntut ilmu sunnah daripada kewajiban taat suami.
[Penutup]
Jamaah, sepertinya itu pertanyaan terakhir. Ana bahagia bisa sampai ke sini. Semoga lahan masjid segera lunas. 400 meter, per centi Rp 40.000. Antum mungkin cuma bisa bantu 1 centi, tapi Allah ganti dengan surga yang luas.
Mohon maaf atas segala kekurangan.
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
(Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, aku meminta ampun dan bertaubat kepada-Mu).
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.



